Jika mendengar nama Choi Hansol, hal pertama yang muncul di kepala semua orang adalah, preman. Tentu saja. Hampir semua orang berpikiran demikian, tak terkecuali Boo Seungkwan. Gadis itu sebenarnya sudah mengenal siapa Choi Hansol. Walaupun tidak mengenal secara pribadi, karena Seungkwan hanya tahu Hansol lewat mulut-mulut yang membicarakan pemuda blasteran itu. Reputasinya yang tak cukup bagus, membuatnya cepat menjadi omongan. Sementara wajahnya yang tak serupa wajah orang Asia, memudahkannya untuk di kenali.

Hansol sendiri tahu bagaimana orang-orang menilainya, apa saja yang mereka bicarakan tentangnya, semua Hansol tahu. Reputasinya di sekolah sama sekali tidak menarik untuk diceritakan, kecuali dibagian ia menjadi idola karena wajahnya yang tampan dan tentu saja latar belakang keluarganya. Jika kita mengenal bagaimana seorang Choi Hansol lebih dalam, sebenarnya pemuda itu tak seburuk yang orang-orang bicarakan. Hanya keenam sabahat baiknya yang tahu bagaimana pribadi asli seorang Choi Hansol. Dan tentu saja, dari keenam orang itu, Choi Seungcheol adalah yang paling tahu dan paham bagaimana Hansol, karena Seungcheol sudah mengenal Hansol sejak masih bayi. Dan Hansol sendiri punya alasan logis kenapa ia bisa menjadi Hansol yang dingin, kasar, dan senang berkelahi.

Choi Hansol adalah anak tunggal, ia tak punya adik ataupun kakak. Ayahnya seorang CEO perusahaan kontraktor terkenal di Korea, sementara Ibunya adalah seorang designer perhiasaan yang sukses dan karyanya juga sudah tembus ke pasaran internasional. Memiliki orangtua yang keduanya bekerja tentu saja membuat kebutuhan material Hansol terpenuhi, bahkan bisa dibilang melimpah. Tapi di luar kebutuhan material, Hansol sama sekali tidak bisa merasakannya. Karena kedua orangtuanya bekerja, otomatis waktu mereka benar-benar sibuk dan tak punya sedikitpun waktu luang, bahkan hanya untuk makan di satu meja yang sama.

Sejak kecil Hansol sudah sering di tinggal oleh orangtuanya ke luar negeri untuk urusan bisnis. Biasanya mereka akan pergi satu sampai dua minggu, atau kadang bisa sampai sebulan. Dan selama kedua orangtuanya tak ada di rumah, Hansol akan di asuh oleh kepala maid, seorang wanita paruh baya yang murah senyum dan ramah pada semua orang. Hansol biasa memanggilnya bibi Kang. Segala keperluan Hansol akan di urus oleh bibi Kang, dan karena itu lah Hansol terbiasa bersama bibi Kang. Tapi semenjak Hansol beranjak besar, bibi Kang tak lagi bekerja di rumah keluarga Choi. Alasannya karena ia harus mengurus suaminya yang sakit di desa.

Dan sepeninggal bibi Kang, Hansol pun mulai membiasakan dirinya untuk mengurus dirinya sendiri. Dari sini lah pribadi Hansol yang baru terbentuk. Hansol mulai menjadi orang yang dingin, kasar, temperamental, dan pendiam. Ia mulai suka membuat ulah di sekolah sebagai pelariannya, dan sejak itu ia suka berkelahi. Terhitung sejak ia lulus sekolah dasar, tak ada satu pun orang yang mau menjadi temannya, sampai ketika Hansol di tingkat dua junior high school, salah satu siswa di kelasnya mendekati Hansol lebih dulu, mencoba berteman. Awalnya Hansol menolak karena ia merasa nyaman dengan dirinya sendiri. Tapi anak itu tak menyerah. Anak itu mulai menyebalkan dengan mengekori Hansol kemana-mana, sampai akhirnya anak itu membantu Hansol ketika Hansol di ganggu oleh anak sekolah lain. Walaupun harus mendapat beberapa luka lebam di wajah, tapi keduanya tak masalah. Sejak itu mereka berteman. Dan jika kalian ingin tahu siapa anak menyebalkan itu, dia adalah Kim Mingyu.

Sejak berteman dengan Mingyu, Hansol mulai membuka dirinya sedikit demi sedikit, mulai mempercayai orang-orang dan membiarkan orang lain tahu tentang dirinya. Dan dari sana Hansol bisa mengenal Lee Seokmin, Kwon Soonyoung, dan Lee Chan.

Lalu ketika Hansol naik ke tingkat tiga, ia harus ikut dengan keluarganya yang pindah ke New York. Salah satu anak perusahaan Ayahnya mengalami krisis dan Ayahnya harus turun tangan menyelesaikannya. Ibunya tak masalah dengan kepindahan mereka ke New York, bahkan wanita itu amat sangat senang karena ia bisa sekaligus memperluas pasaran merk perhiasannya di Amerika Serikat. Tapi kedua orangtuanya sama sekali tak mengerti perasaan Hansol yang sedih karena tiba-tiba harus berpisah dengan teman-teman barunya. Dan Hansol membenci itu.

Setelah setahun berada di New York, Hansol menolak mentah-mental tawaran orangtuanya untuk melanjutkan sekolahnya disana. Hansol dengan tegas menginginkan dirinya kembali ke Korea, bertemu lagi dengan teman-temannya. Awalnya Ayahnya sempat marah, tapi Hansol keras kepala, dan akhirnya keinginannya di penuhi. Hansol kembali ke Korea dan masuk ke sekolah dimana teman-temannya berada sebagai murid pindahan. Dan Hansol benar-benar bahagia bisa bertemu lagi dengan teman-temannya, bahkan di hari pertamanya masuk, ia sudah mendapatkan teman baru, Wen Junhui. Lalu satu lagi hal mengejutkan, sepupunya yang sering ia jadikan tempat berkeluh-kesah, Choi Seungcheol, ternyata bersekolah di tempat yang sama.

Sebenarnya kalau boleh memilih, Hansol tak mau menjadi dirinya yang sekarang. Ia ingin seperti orang lain, tapi apa daya? Ia sudah begini, jadi nikmati saja, bukan?

~oOo~

Hansol duduk di salah satu kursi penonton di pinggir lapangan basket setelah menyelesaikan hukuman sialan yang diberikan oleh guru sejarahnya. Ia melonggarkan dasi yang melingkar di kerah bajunya lalu membuka dua kancing kemeja sekolahnya. Peluh turun dari puncak kepalanya hingga menetes jatuh ke sepatu putihnya. Ketika ia melirik ke samping, Hansol tak sengaja melihat sebotol air minum di letakkan begitu saja diatas kursi tak jauh dari tempat Hansol duduk.

Hansol bangkit dan berpindah tempat duduk. Ia meraih botol air minum itu dan memandanginya sebentar, kemudian meminumnya tanpa izin, bahkan tanpa mau tahu siapa pemiliknya.

"Oh? K-kau sudah selesai?"

Hansol yang tengah minum, menoleh kearah suara. Dan sebuah kebetulan, itu adalah Boo Seungkwan. Kebetulan, karena sejak tadi Hansol memikirkan Seungkwan, memikirkan bagaimana 'menyiksa' Seungkwan lebih dari apa yang ia rasakan sekarang.

"Kenapa? Kau suka melihatku di hukum?" Tanya Hansol.

Seungkwan tersentak lalu menggeleng cepat. Ia berjalan perlahan menghampiri Hansol, tapi Hansol dengan cepat menghentikan langkah gadis itu, membuat Seungkwan langsung berhenti.

"Jangan mendekat." Kata Hansol.

"A-aku ingin bicara denganmu." Kata Seungkwan.

"Bicara dari sana, aku akan mendengarkan." Balas Hansol.

Seungkwan menghela nafas panjang. Ia paham kalau sekarang Hansol semakin tak menyukainya karena masalah ini. Padahal masalah kaki terkilir itu belum selesai, ia sudah membuat masalah lagi.

Eh? Tunggu sebentar.

Kaki terkilir?

OH! Seungkwan lupa kalau kaki Hansol belum sembuh!

Seungkwan menatap Hansol dan kakinya bergantian. Kemudian dengan langkah pelan Seungkwan mendekati Hansol, menghiraukan larangan Hansol untuk tidak mendekat.

"Hansol-ssi," panggil Seungkwan.

"Kau!" Seru Hansol ketika mendapati Seungkwan berdiri di hadapannya. "Aku sudah bilang untuk tidak mendekatiku! Kau tuli atau bagaimana, hah?!"

"Ma-maaf." Kata Seungkwan sambil menundukkan kepalanya.

"Kau memang sudah seharusnya meminta maaf." Kata Hansol.

"Kakimu pasti sakit lagi."

"Ini nyeri kalau kau mau tahu." Balas Hansol dengan ketus.

"Maafkan aku."

Hansol menatap Seungkwan yang tengah menundukkan kepalanya dalam. Kemudian ia menghela nafas panjang.

"Sudahlah." Balas Hansol.

Seungkwan mengangkat kepalanya dan menatap Hansol,

"A-apa ada yang bisa kulakukan untuk menebusnya?" Tanya Seungkwan.

"Menebusnya?"

"I-iya ma-maksudnya a-apa ada yang bisa kulakukan untuk menebus kesalahanku?" Tanya Seungkwan lagi.

Hansol menaikkan alisnya sebelah, masih sambil menatap Seungkwan.

"Aku akan memikirkannya." Kata Hansol. "Sekarang bantu aku."

Hansol mengulurkan kedua tangannya kearah Seungkwan. Kakinya sudah mati rasa dan lagi kakinya yang terkilir sekarang terasa sangat nyeri, ia sama sekali tidak bisa berdiri sendiri.

Seungkwan meraih kedua tangan Hansol yang diulurkan padanya dan memegangnya erat sambil menarik Hansol untuk bangkit dari posisi duduk. Seungkwan kemudian melingkarkan tangan Hansol untuk berpegangan pada sebelah pundaknya, sementara sebelah tangannya melingkar sempurna di pinggang Hansol, menahan bobot tubuh pemuda yang lebih besar darinya itu. Lalu keduanya berjalan meninggalkan lapangan basket dengan Hansol yang berjalan terpincang.

~oOo~

Seperti apa yang sudah Seungkwan prediksi, ia pasti akan mendapat tatapan benci dari para sahabat Hansol karena sudah membuat Choi Hansol kesakitan untuk yang kedua kalinya. Dan yang tampak paling membenci Seungkwan adalah Kim Mingyu, sahabat Hansol yang sering mengekori Hansol kemana-mana seperti anak anjing dan juga salah satu orang yang paling dekat dengan Hansol setelah Choi Seungcheol, sepupu Hansol.

"Sekarang masalah apa yang kau perbuat nona Boo Seungkwan?" Tanya Mingyu dengan nada sarkas.

Seungkwan menunduk, tidak mampu menatap mata Mingyu yang menatapnya tajam. Ia takut jujur saja.

"Mau kuceritakan?" Itu Soonyoung, orang yang menjadi saksi dimana Hansol mendapat hukuman dari guru sejarah karena Seungkwan.

Kemudian tanpa di minta, Kwon Soonyoung mulai menceritakan awal kejadian kenapa Hansol bisa kembali berakhir di ruang kesehatan. Hansol tak menyela atau menyuruh Soonyoung untuk berhenti, ia hanya menyimak sahabatnya bicara, sementara Seungkwan semakin menundukkan kepalanya seiring Soonyoung bercerita.

"Maaf." Kata Seungkwan ketika Soonyoung selesai.

Semua mata langsung menatap Seungkwan yang masih menunduk. Ada rasa bersalah juga takut dalam diri Seungkwan. Seumur hidupnya ia tak pernah berada dalam situasi seperti ini, dan ini baru pertama kali. Ia menyesal sudah terlibat dengan Hansol dan teman-temannya.

"Kau sudah mengatakan itu berulang kali, aku sudah bosan." Kata Hansol.

Seungkwan bungkam. Ia memang terus menerus mengatakan 'maaf' pada Hansol, entah sudah berapa kali, Seungkwan sendiri tak menghitung.

"Berdoa saja kakiku tidak semakin parah." Sambung Hansol. "Karena semakin kakiku parah, maka akan semakin lama aku sembuh, dan semakin lama juga kau akan berurusan denganku."

Seungkwan tahu. Sangat tahu. Bahkan hal itu sudah terpikirkan oleh Seungkwan sebelum pemuda itu mengatakannya.

Tak lama kemudian, pintu ruang kesehatan terbuka, lalu masuk seorang perawat wanita yang biasa memeriksa para siswa-siswi yang sakit, namanya perawat Jung. Perawat Jung menghampiri ranjang tempat Hansol berbaring lalu berdecak.

"Kau yang dua hari lalu kakinya terkilir itu, kan?" tanya perawat Jung pada Hansol.

Hansol mengangguk.

"Kenapa lagi? Kakimu yang satunya terkilir juga?"

"Dia lari keliling lapangan basket dengan kakinya yang belum sembuh, sekarang kakinya nyeri." Itu Seungcheol yang menjawab.

"Di hukum?" Perawat Jung menahan tawanya sambil memeriksa kaki Hansol.

"Tidak terlalu parah." Kata perawat Jung ketika selesai memeriksa kaki Hansol. "Kau bisa sembuh dengan cepat kalau tak buat ulah apa-apa."

Hansol memalingkan wajah, "Bukan mauku begini." Kata Hansol ketus.

"Ini bisa sembuh dengan sendirinya, tapi memakan waktu cukup lama. Jika kau ingin cepat sembuh, kau bisa datang ke rumah sakit dan memeriksakannya ke dokter." Jelas perawat Jung.

"A-apa parah?" Seungkwan yang sejak perawat Jung masuk terus diam, mulai membuka suaranya untuk bertanya.

Perawat Jung mengalihkan matanya dari Hansol ke Seungkwan kemudian tersenyum.

"Tidak terlalu. Tapi anak ini memang tidak boleh banyak bergerak karena kakinya akan sulit sembuh jika dia banyak bergerak." Jelas perawat Jung, menjawab pertanyaan Seungkwan.

Seungkwan menghela nafas berat ketika mendengar jawaban perawat Jung.

"Kau tampak khawatir." Kata perawat Jung. "Kau kekasihnya?"

Baik Seungkwan atau Hansol langsung mendelik kearah perawat Jung, kemudian keduanya menggeleng bersamaan.

"Di-dia bukan kekasihku." Kata Seungkwan.

"Aku tak sudi menjadikannya kekasihku." Kata Hansol.

Perawat Jung terkekeh pelan melihat reaksi keduanya. Lalu setelah memberikan sedikit nasihat pada Hansol, perawat Jung kembali keluar dari ruang kesehatan untuk memberikan waktu pada Hansol dan teman-temannya.

"Kau dengar apa yang dikataka perawat Jung, kan?" tiba-tiba Hansol bersuara.

Seungkwan menoleh kearah Hansol dan menatapnya sebentar sebelum menganggukkan kepalanya.

"Bagus, itu berarti kau bisa menebak apa yang harus kau lakukan."

"A-apa?" tanya Seungkwan.

"Kau harus siap sedia 24 jam kapan pun aku butuhkan. Aku tak terima alasan apapun itu dan kau juga tidak boleh membantahku."

Seungkwan menghela nafas pelan. Tiba-tiba ia terserang migrain. Lagi.

~oOo~

Seungkwan sudah tahu sejak ia mengenal siapa Choi Hansol, kalau berurusan dengannya adalah masalah. Dan ketika ia benar-benar berurusan dengan pemuda itu, hidupnya langsung berubah. Tidak berubah secara perlahan, tapi langsung berubah 180 derajat. Dan Seungkwan rasanya belum bisa membiasakan dirinya dengan perubahan tersebut, karena semuanya berjalan terlalu cepat, sampai Seungkwan pernah menganggap ini semua hanya mimpi buruk. Tapi kenyataannya tidak. Dan itu lebih buruk dari mimpi yang paling buruk sekalipun.

Ucapan Hansol tempo hari di ruang kesehatan tentang ia harus siap siaga 24 jam kapan pun Hansol butuhkan bukanlah bercandaan. Pemuda blasteran itu serius dengan ucapannya, dan Seungkwan benar-benar harus siap 24 jam kapan saja Hansol butuhkan. Bahkan waktu itu Hansol segera meminta nomor telepon, serta seluruh akun media sosial Seungkwan, jadi Hansol bisa dengan mudah menghubungi Seungkwan. Dan tak hanya Hansol, tapi keenam sahabat pemuda itu juga menyimpan nomor telepon serta akun media sosial Seungkwan sebagai pegangan kalau tiba-tiba ada situasi darurat.

Seungkwan tak punya teman untuk mengadu selain Jihoon. Jadi ketika ia membuat janji dengan Jihoon untuk duduk berdua di sebuah kafe untuk berkeluh-kesah, Seungkwan benar-benar mencurahkan semuanya. Dan selama 2 jam duduk di kafe, Jihoon tak henti-hentinya mengeluarkan sumpah serapah untuk Hansol dan para sahabatnya. Tapi sumpah serapah itu sama sekali tidak berpengaruh apa-apa.

Lalu di suatu Senin pagi yang mendung, ketika Seungkwan datang lebih pagi dari biasanya, ia langsung di hadang oleh dua sabahat Hansol di koridor. Mereka Lee Seokmin dan Lee Chan.

"Ada apa?" tanya Seungkwan.

"Hansol bilang kalau ia mau makan nasi goreng kimchi untuk sarapan pagi ini, dan kau harus membelikannya." Kata Seokmin.

"Kenapa tidak dia sendiri yang mengatakannya padaku?" tanya Seungkwan lagi.

"Ponselnya rusak, dia tidak bisa menghubungimu." Jawab Chan.

Seungkwan menghela nafas panjang. Bahkan ini masih sangat pagi untuk merecoki hari Seungkwan. Untung saja Seungkwan datang satu setengah jam lebih awal dari jam masuk, ia jadi punya banyak waktu untuk membelikan pesanan bodoh Hansol.

Kemudian Seungkwan bilang kalau ia mau meletakkan tasnya di kelas lebih dulu sebelum membelikan sarapan untuk Hansol. Seokmin dan Chan mengangguk lalu pergi. Sebenarnya Seungkwan bisa saja tidak menuruti mereka, tapi ia hanya gadis yang tak berdaya. Apalagi ia melawan enam orang yang paling di puja-puja di sekolah. Seungkwan masih cukup waras untuk tidak berbuat macam-macam, jadi ia lebih memilih mengikuti alur permainan mereka ketimbang melawan. Karena Seungkwan bukanlah Jihoon.

Lalu setelah Seungkwan meletakkan tasnya di kelas, gadis itu buru-buru pergi mencari restoran yang sudah buka. Sebenarnya hal bodoh mencari restoran yang menjual nasi goreng kimchi sepagi ini, karena sudah pasti presentase keberhasilannya hanya 0,001%.

Seungkwan berkeliling daerah sekitar sekolahnya karena ia tak berani pergi lebih jauh. Ia tidak mau terlambat dan terkunci di depan sekolah. Tidak mungkin kan kalau tasnya ada di dalam kelas sementara ia berada di luar sekolah? Sama sekali tidak lucu.

Sudah 45 menit Seungkwan berputar-putar mencari, tapi tak juga dapat. Ini masih sangat pagi untuk restoran yang menjual nasi goreng kimchi membuka restorannya. Usaha terakhir Seungkwan adalah meminta bantuan teman satu-satunya, Lee Jihoon.

"Halo?" terdengar suara Jihoon di seberang.

"Jihoon-ah!" seru Seungkwan.

"Ada apa, Kwan-ah? Ini masih sangat pagi untuk meneleponku, untung aku sudah bangun."

"Bantu aku!"

"Heh? Bantu? Bantu apa?"

"Hansol..."

"Apa lagi yang dia inginkan?" tanya Jihoon dengan nada suara yang berubah menyeramkan.

"Dia bilang dia ingin makan nasi goreng kimchi untuk sarapannya, dan kau tahu, tak ada restoran yang buka jam 7 pagi kecuali restoran cepat saji."

Terdengar Jihoon mengeluarkan sumpah serapah.

"Kau tahu, Kwan? Keinginanku untuk mematahkan kedua kaki dan tangannya semakin besar. Kurasa sebentar lagi hal itu akan jadi kenyataan." Kata Jihoon.

"Jangan jadi kriminal, Ji." Balas Seungkwan. "Sekarang aku butuh nasi goreng kimchi dan aku tidak tahu harus mencari dimana."

"Aku bisa membelikannya untukmu. Aku tahu satu tempat." Jawab Jihoon.

"Se-serius, Ji? Ka-kalau begitu tolong lah. Aku akan mengganti uangmu nanti." Kata Seungkwan.

"Baiklah, aku akan membawanya ke sekolah nanti." Kata Jihoon. "Tunggu aku di depan gerbang."

"Oke!" seru Seungkwan sebelum memutus sambungan telepon dengan Jihoon.

Setelahnya Seungkwan kembali ke sekolah dengan harapan Jihoon akan membawakan pesanannya nanti. Bukan pesanannya, tapi pesanan Hansol.

Sementara itu di sekolah, Hansol, Seokmin, dan Seungcheol berdiri di depan pintu kelas Seungkwan.

"Kau sudah menyampaikan pesananku pada gadis itu?" tanya Hansol pada Seokmin.

Seokmin mengangguk, "Sudah, dan dia langsung pergi setelah meletakkan tasnya di kelas."

Hansol menyeringai, "Oke, terima kasih." Balas Hansol.

"Kau yakin akan melakukan ini?" tanya Seungcheol.

Hansol mengangguk. Kemudian pemuda blasteran itu melangkah dengan langkah pincang kearah meja Seungkwan lalu mengambil tas gadis itu yang diletakkan di kursi. Hansol membuka tas tersebut dan mengeluarkan buku milik Seungkwan, setelahnya ia kembali menutup tas tersebut dan mengembalikannya ke tempat semula.

"Ayo pergi." kata Hansol seraya berjalan melewati Seokmin dan Seungcheol.

~oOo~

Sesuai apa yang dikatakan Jihoon di telepon, gadis itu membawakan nasi goreng kimchi untuk Seungkwan. Ralat, untuk Hansol.

"Terima kasih!" seru Seungkwan dengan wajah sumringah.

"Ya, sama-sama." Balas Jihoon.

"Aku akan memberikan ini pada Hansol dulu. Kau mau ikut?"

Jihoon menggeleng, "Memangnya aku sudi bertemu dengannya?"

Seungkwan terkekeh sebentar sebelum ia pergi menuju kelas Hansol. Sebenarnya pergi ke kelas Hansol sendirian haruslah punya nyali besar karena pergi kesana dan menghadapi Hansol sama seperti memasukkan diri sendiri ke kandang singa, cari mati.

Hansol disana. Duduk di kursinya sambil mendengarkan temannya, Kwon Soonyoung yang tengah bicara entah apa. Seungkwan ingin memanggil Hansol, tapi mengingat kelas itu sudah ramai, nyali Seungkwan langsung menciut. Bukan karena takut pada Hansol, tapi lebih kearah takut pada fans-fans Hansol.

Yang pertama kali menyadari kehadiran Seungkwan adalah Soonyoung. Pemuda sipit itu menyikut pelan lengan Hansol dan dibalas Hansol dengan tatapan bertanya.

"Pesuruhmu datang." Kata Soonyoung.

Hansol melirik kearah jendela kelas dan menemukan Seungkwan berdiri di depan kelasnya. Sambil menyeringai, Hansol bangkit dari tempat duduknya dan berjalan keluar kelas, menghampiri Seungkwan.

"Mana pesananku?"

Seungkwan yang semula tengah menunduk langsung mengangkat kepalanya dan menoleh kearah suara. Itu Hansol.

"I-ini." Jawab Seungkwan seraya menyerahkan bungkusan yang ia pegang.

"Oke, sekarang kau boleh pergi." kata Hansol sebelum kembali masuk ke kelas dan meninggalkan Seungkwan yang masih berdiri disana.

Setelah Hansol kembali masuk ke kelas, Seungkwan pun pergi, kembali ke kelasnya.

Bel masuk berbunyi bertepatan dengan Seungkwan yang kembali ke kelasnya. Untung saja ia datang tepat waktu karena kalau ia terlambat, ia bisa tidak boleh mengikuti pelajaran. Guru sejarah mereka memang terkenal garang, membuat hampir semua siswa enggan mencari masalah. Bahkan siswa yang suka buat ulah pun, tak sudi membuat masalah di pelajaran sejarah karena guru mereka memang menyeramkan.

5 menit setelah Seungkwan kembali ke kelas, Jang seonsaengnim, guru sejarahnya, masuk ke kelas, dengan wajah datar dan tatapan tajam yang seperti siap membunuh siapa saja yang membuatnya marah.

"Ketua kelas, kumpulkan tugas minggu lalu dan letakkan di depan." Suruh Jang seonsaengnim.

Min Yoongi, selaku ketua kelas, langsung bangkit dari kursinya dan berkeliling mengumpulkan tugas siswa-siswi di kelas. Ketika Yoongi sampai di meja Seungkwan dan Jihoon, ia menatap tajam Seungkwan yang tampak panik merogoh isi tasnya. Perasaan Yoongi sudah tak enak ketika ia melihat wajah Seungkwan yang panik dan pucat.

"Jangan bilang kau tak membawa tugasmu, Boo Seungkwan." Kata Yoongi dengan berbisik, tak mau Jang seonsaengnim mendengar.

"A-aku membawanya. Aku yakin." Kata Seungkwan. "Ta-tapi sekarang bukuku menghilang."

"Jangan bercanda." Balas Yoongi.

"Aku serius."

Yoongi menghela nafas, "Kau tahu kan kau akan dapat masalah kalau tugasmu tak ada di tangannya?"

Seungkwan tak menjawab, tapi ia tahu. Sangat paham bahkan. Ia tahu kalau ia berada dalam masalah jika ia tak segera menyerahkan tugas sejarah yang sudah ia buat semalam suntuk minggu lalu.

"Min Yoongi!" Jang seonsaengnim berseru, membuat si ketua kelas menoleh pada guru tersebut.

"Cepat kumpulkan tugasnya! Saya tidak akan memulai pelajaran kalau tugas-tugas itu tak ada di depan sekarang!"

Yoongi menghela nafas. Ia melirik Seungkwan, "Kali ini aku tidak bisa membantumu, Boo Seungkwan." Katanya seraya pergi ke meja guru dan meletakkan buku tugas milik para siswa yang ada di tangannya.

Jang seonsaengnim mengecek satu per satu buku yang ada di meja guru. Merasa ada yang kurang, ia langsung mengangkat kepalannya dan menatap ke seluruh penjuru kelas dengan tatapan tajam, dan matanya berhenti pada satu meja.

"Boo Seungkwan." Panggil Jang seonsaengnim.

"I-iya." Seungkwan berdiri dari kursinya.

"Bukumu tidak ada di depan."

"Ma-maaf, ta-tapi buku saya ti-tidak ada."

"Tidak ada? Kau tidak membawa tugasmu?"

Seungkwan menelan ludah sebelum menjawab, "Sa-saya membawanya, tapi se-sekarang bu-buku itu hilang."

Jang seonsaengnim menghela nafas, "Kau tahu hukumanmu jika kau tak menyerahkan tugasmu, kan?"

Seungkwan mengangguk patah-patah. Ia tahu hukumannya, karena Jang seonsaengnim tidak pernah memberikan hukuman lain selain itu. Keliling lapangan basket outdoor.

"10 kali putaran lapangan basket. Sekarang!"

~oOo~

Hansol tertawa melihat sosok gadis yang tengah berlari pelan mengelilingi lapangan basket outdoor sekolahnya. Ketara sekali kalau gadis itu sangat kelelahan, apalagi matahari hari ini bersinar cukup cerah. Jika kalian bertanya kenapa Hansol bisa berada di lapangan basket di jam pelajaran, jawabannya karena guru yang seharusnya mengajar kelasnya tidak datang, membuat kelasnya mendapatkan jam kosong.

Soonyoung yang menemani Hansol duduk di salah satu kursi penonton melirik Hansol sesekali yang masih tertawa.

"Kau benar-benar balas dendam." Kata Soonyoung.

"Ini setimpal, kau tahu." Kata Hansol. "Dia membuatku di hukum, dan aku juga membuatnya di hukum."

"Bukankah ini agak keterlaluan? Dia tidak sengaja meninggalkan bukumu di rumahnya, tapi kau sengaja mengambil bukunya agar dia di hukum."

Hansol menoleh kearah Soonyoung dan menatapnya tajam, "Kau membelanya?"

"Bukan begitu, Sol-ah. Hanya saja, dia itu perempuan." Balas Soonyoung.

Hansol tak membalas perkataan Soonyoung. Ia lebih memilih memperhatikan Boo Seungkwan yang tengah berlari berkeliling lapangan basket yang luas itu, tanpa sekali pun menghiraukan Soonyoung di sampingnya.

Seungkwan baru menyelesaikan hukumannya ketika bel pergantian pelajaran berbunyi. Ia berjalan dengan langkah gontai ke salah satu kursi penonton di pinggir lapangan dan duduk disana. Matahari bersinar terlalu cerah hari ini, membuat kadar lelah dalam diri Seungkwan lebih cepat datang. Peluh turun sedikit demi sedikit dari puncak kepalanya, menuju leher. Bahkan ada yang sampai menetes ke sepatunya. Kemeja seragam dan rambutnya juga sudah basah karena keringat. Tapi dibandingkan itu semua, rasa pening yang menyerang kepalanya terasa menyiksa. Seungkwan menyesal sudah melewatkan sarapannya demi datang pagi ke sekolah karena ia tidak mau terlambat untuk ketiga kalinya. Ia bahkan sampai tak datang ke toko bunga Ibunya karena ia memilih pergi ke sekolah lebih awal.

Ia menarik nafas panjang sebelum membawa kepalanya menunduk hingga menyentuh lutut, berusaha meringankan pening yang menyerang kepalanya. Tapi semakin lama rasa pening itu semakin terasa. Ia rasa ia perlu membaringkan diri di ruang kesehatan. Ia tak sanggup untuk kembali ke kelas dan mengikuti pelajaran.

Dengan sisa tenanga yang masih ada, Seungkwan bangkit dari kursi yang ia duduki lalu berjalan keluar dari lapangan. Ia merutuki jarak ruang kesehatan dan lapangan basket yang cukup jauh, sementara kepalanya sama sekali tidak bisa berkompromi sama sekali. Rasa pening di kepalanya semakin lama semakin terasa menyiksa, dan ketika ia tengah berjalan di koridor, Seungkwan tak tahan lagi. Ia langsung jatuh berlutut, lalu kesadarannya hilang begitu saja.

-TBC-

Author's Note(s) :

1. Haihai~akhirnya update juga. Oh ya, abis chapter ini aku bakalan lama update lagi, kenapa? Soalnya tugas kuliahnya numpuk kayak dosa:( Maaf ya

2. Hayo itu yang kemaren pada emosi sama Hansol, kayaknya bakalan tambah emosi ya :) sabar kawan-kawan, dia tak sejahat yang kalian pikirkan :)

3. Karakter Soonyoung disini aku bikin dia lebih baik dari Hansol, dengan lebih punya rasa kasian sama perempuan. Kalo sama laki sih kayaknya enggak deh. Soonyoung aku bikin dia agak baik karena kalo ngebayangin muka dia tuh sulit untuk jadi berandalan kayak Hansol wkwk. Tapi kadang dia juga nyebelin juga sih.

4. Soal Mingyu, dia bukannya gak suka Seungkwan, dia cuma gak suka temen baiknya(baca: Hansol) sakit karena Seungkwan, makanya dia jutek banget sama Seungkwan. Tapi kalo Seungkwan gak ngapa-ngapain dia baik kok(oke gak baik juga sih, biasa aja).

Semoga kalian suka ya sama chapter ini:) Seperti biasa, jangan lupa tinggalkan review buat author:)

Sayang kalian semua:) Thankseu~~