.
.
.
Boku no Hero Academia not mine
Warning : AU, OOC a lot, Typos, Fem!Izuku,
.
.
.
MINE by Cyancosmic
Dedicated to OFA TODODEKU
Shouto:
Derap langkah kaki mungil yang terdengar di koridor membuatku menggerakkan kepala dan menoleh. Bunyi langkahnya yang bergemuruh membuat beberapa pria di belakangku harus menyingkir untuk memberinya jalan. Berdasarkan pengalaman, tidak memberi jalan pada si monster kecil yang menghampiriku sama saja dengan mengundang bencana mendekat dan mereka tidak ingin itu terjadi.
"Papa," kata monster kecil itu sambil berlari dengan penuh semangat. Tangannya terentang lebar ketika ia menghambur ke pelukanku. Aku pun mengusap-usap rambut hijau ikalnya yang tertiup angin, merapikannya sembari memberikan senyum terbaikku padanya. Melihatnya, monster kecilku itu akan mengikuti sikapku dan memperlihatkan deretan giginya yang tak lengkap. "Papa, kenapa lama sekali? Ayo kita ke tempat Mama! Ayo cepat!"
Kuangkat tubuh mungil putraku itu dan kupeluk dia di antara kedua tanganku. Senyumnya melebar setiap kali aku melakukannya sementara dengan bersemangat ia menggerakkan kedua tangannya, memintaku agar memenuhi permintaannya. Mau tak mau, aku pun akhirnya berkata, "Baiklah, baiklah, tapi kita mampir ke toko bunga dulu, ya?"
"Toko bunga?" Ia berkata sembari memiringkan kepalanya. Putraku yang baru berusia lima tahun itu mengerjapkan mata kelabunya dan kembali berkata, "Mau apa kita ke toko bunga, Papa?"
Aku mengangkat alis sementara kami berdua berjalan meninggalkan bangunan tempat anakku bersekolah. Menanggapi pertanyaannya aku pun berkata, "Untuk Mama. Mama 'kan sangat suka bunga."
Manik kelabunya berbinar mendengar apa yang kuucapkan. Mulutnya membentuk huruf O dan ia pun berkata, "Benar, ayo beli yang banyak, Papa! Kita beli yang banyak untuk Mama."
"Tentu, monster kecil," jawabku sambil mencubit hidungnya saking gemasnya sementara ia tertawa. Dengan bersemangat, Shizuku pun kembali berceloteh, menceritakan hari yang ia lalui di kelasnya. Caranya bercerita membuatku mengangguk-angguk berusaha mengerti cerita patah-patah yang diucapkannya. Sikapnya yang demikian sepertinya turunan dari Izuku karena aku sendiri tidak mungkin bersikap seperti ini di depan ayahku yang kaku.
Melihatku hanya mengangguk-angguk saja, ia pun menghentikan ceritanya dan berkata, "Papa tidak mendengarkan cerita Shizuku!"
"Dengar, kok!" Aku menjawab, protes terhadap tuduhannya. "Kata siapa Papa tidak dengar?"
"Coba ceritakan!" Pintanya manja. "Ayo, ulangi cerita Shizuku!"
Kualiihkan pandanganku darinya dan aku berkata, "Shizuku…"
"Tuh 'kan!" Ia menunjukku sementara manik kelabunya melebar. "Nanti Shizuku adukan pada Mama! Shizuku adukan!"
Aku tertawa mendengar ancamannya. Kupeluk kembali putraku dan kusentuhkan kembali jemariku ke pipinya dengan gemas. Harus kuakui aku bukan tipe yang menyukai anak kecil, tapi bertemu dengan Shizuku sepertinya mengubah pandanganku. Kukira aku akan menjadi ayah yang kaku seperti ayahku, tapi bahkan Iida saja mengakui bahwa perangaiku telah berubah semenjak bertemu dengannya.
Pernah suatu kali Iida mengatakan bahwa memiliki anak akan mengubah imageku dan ia menyarankanku untuk tidak menunjukkan keakrabanku dengan Shizuku di depan bawahan. Aku mencoba mempertimbangkan sarannya dan bersikap demikian pada putra tunggalku itu. Hasilnya, tak sampai satu hari aku sudah menyerah berpura-pura dan kembali meladeni semua permintaannya. Ketika melihatnya menggembungkan pipi atau melihat bulir-bulir airmata mengalir jatuh di pipinya, aku langsung menyesal. Sungguh! Terkutuklah gen imut dan manja pada tubuh anakku itu!
Tahu bahwa aku sendiri tak berkutik di hadapan anakku membuat Iida memikirkan strategi lain. Ia menyarankan agar aku tdak menemui Shizuku selama beberapa hari yang akhirnya membuat putraku itu menangis keras karena tidak dapat bertemu dan jatuh sakit. Mulai saat itu, aku pun mengabaikan semua nasehatnya dan membiarkan Shizuku mendatangiku sesuka hatinya. Aku jauh lebih panik saat melihat putraku terbaring tak berdaya dibandingkan melihat para bawahan yang meremehkanku.
"Papa," panggil Shizuku sembari menyentuhkan tangannya di wajahku, "ayo ke toko bunga! Ayo cepat! Shizuku mau segera bertemu Mama."
Sekali lagi aku menyanggupi permintaannya dan membawanya masuk ke dalam mobil. Kami berkendara selama setengah jam sebelum akhirnya mobil berhenti di sebuah toko bunga yang merupakan langgananku. Begitu kami tiba di sana, Shizuku melepaskan diri dari pelukanku dan lari masuk ke dalam toko mendahuluiku. Aku sampai harus mengejarnya karena khawatir ia akan terjatuh dan melukai dirinya sendiri.
"Bunga! Bunga!" Ia berteriak dengan penuh semangat saat berada di dalam toko. Pemiliknya, Asui-san, tersenyum lebar melihat tingkah anakku dan membiarkannya berlarian mengelilingi semua bunga yang ada. Ketika ia menemukan bunga yang ia inginkan, Shizuku pun menunjuknya dan kembali berteriak lantang. "Ini, Papa! Ini bunganya! Ini bunga kesukaan Mama."
Kuhampiri Shizuku dan kuusap rambut hijaunya saat ia berhasil menemukan bunga merah yang selalu kuberikan untuk ibunya. Bunga dengan kelopak merah cantik memikat yang selalu bertengger di kamar ibunya sejak beberapa tahun yang lalu. Salah satu tangkainya ditarik dari pot dan diserahkannya padaku. "Bunga!"
Di belakangnya, Asui tertawa melihat tingkah putraku itu. Ia berjongkok menyamakan tinggi dengan putraku dan berkata, "Apa kabar, Shizuku-chan?"
Shizuku menggerakkan kepalanya dan menoleh pada gadis berambut hitam dengan manik hitam yang lebar itu. Ia mengenal si pemilik toko bunga karena sudah sering berkunjung ke sana. Bahkan ia menghampiri gadis itu dan dengan gayanya yang sok dewasa, monster kecilku itu berkata, "Asui, Asui, Shizuku mau bunga! Berikan semuanya, ya?"
"Semua?" Asui berkata sambil menatapku. "Untuk apa Shizuku-chan?"
Ia menghampiri Asui dan membisikkan sesuatu di telinga gadis itu dengan ekspresi serius. Walaupun kukatakan berbisik, sebenarnya ia hanya menutupi telinga Asui saja. Suaranya sendiri dapat kudengar dengan jelas seperti biasa. "Untuk Mama! Tapi Shizuku mau dibungkus yang cantik, ya, Asui? Yang kemarin tidak cantik."
Yang ia maksud adalah bunga berwarna putih yang kubawa saat mengunjungi seseorang. Tentu saja aku tidak mengatakan padanya bahwa bunga itu untuk salah seorang klien yang meninggal karena tidak bisa melunasi pembayaran. Shizuku terlalu polos untuk mengerti hal-hal semacam itu.
Untungnya Asui mengerti. Ia pun membalas Shizuku dan berbisik dengan ekspresi serius di wajahnya. "Baiklah, Shizuku-chan. Tapi bilang pada Papa, harganya mahal. Oke?"
Wajah putraku itu terlihat setuju dan ia berkata, "Oke."
Mereka mengaitkan kelingking pertanda setuju. Setelahnya Shizuku pun berlari kembali dan menggerakkan tangannya memintaku menunduk. Aku pun memenuhi permintaannya dan berjongkok untuk menyamai tingginya dengan tinggiku. Ketika aku melakukannya, tangan Shizuku menutup salah satu telingaku dan ia berkata, "Beres, Papa. Bunganya pasti cantik."
"Oh, ya?" Aku pura-pura bertanya dengan raut wajah khawatir. "Apa Shizuku yakin? Bagaimana kalau Mama tidak suka?"
Shizuku menatapku dan mendadak kekhawatiran memenuhi wajahnya. Dahinya berkerut sementara ia berlari kembali menghampiri Asui. Lalu ia kembali berbisik keras, "Asui, Asui, dibungkusnya harus sangat cantik. Kalau tidak cantik, Mama tidak suka."
Seolah tengah menerima misi yang sangat penting, Asui pun menanggapinya dengan berkata, "Aku mengerti, Shizuku-chan. Serahkan saja padaku!"
Jemari mereka kembali bertaut dan setelahnya Shizuku kembali berlari padaku. Ia kembali berbisik dan mengatakan padaku untuk tidak khawatir, ia yakin bunganya akan sangat cantik. Bahkan ia berani menjaminnya yang membuatku semakin ingin mengerjainya. Putraku benar-benar manis.
Sementara putraku dan Asui berkomplot membuatkan rangkaian bunga yang cantik, di belakangku Iida berjalan menghampiriku. Ia masih tetap tidak setuju dengan sikapku yang begitu memanjakan Shizuku. Baginya, ini sama saja dengan menunjukkan kelemahan Grup Endeavor ke seluruh dunia. Para mafia yang sebelumnya takut pada kami mungkin akan mengambil kesempatan ini dan menjadikan Shizuku sebagai kelemahan terbesarku.
"Grup Shigaraki mengatakan ingin bertemu denganmu," ucapnya sambil mendekat padaku. "Kau sebaiknya menemuinya kali ini. Mereka sepertinya hendak membahas hal mendesak."
"Terserah," jawabku padanya, "atur saja jadwalnya."
Iida pun membuka iPadnya dan berkata, "Besok, jam enam sore."
Aku menghela napas. "Aku tidak bisa. Kau tahu sendiri bahwa aku harus menemani Shizuku, bukan? Pada jam seperti itu dia sangat rewel."
Ekspresi lelah tercermin dengan jelas di wajah Iida dan ia berkata, "Shouto, aku sudah lelah memperingatkanmu soal 'ini'. Kau tidak bisa mengabaikan tugasmu hanya karena putramu. Aku tahu kau sudah berkeluarga, tapi…"
Pandangan mataku cukup untuk membuat Iida menghentikan ucapannya. Sembari menelan ludah, sekretarisku itu akhirnya memfokuskan kembali pandangan pada iPadnya. Jemarinya menggeser layar dan selama beberapa saat ia tidak berbicara. Ia baru membuka mulutnya kembali setelah beberapa detik kemudian.
"Jam sepuluh malam," ucap Iida akhirnya. "Dia sudah tidur, 'kan?"
Aku tak menjawab kali, kubiarkan Iida mengartikan sendiri. Pria itu mengetikkan sesuatu di iPadnya sebelum kembali berkata, "Seharusnya aku mencegahmu saat kau bilang ingin mengambil gadis itu. Lihat akibatnya sekarang!"
"Tutup mulutmu, Iida!" Aku berkata dengan nada mengancam. "Aku tidak suka mendengar kau menjelekkan istriku."
Iida tak mengatakan apa pun lagi. Ia tetap diam setelahnya dan mengetik lewat iPadnya. Memang hubungan kami sedikit jelek sejak Izuku tinggal di rumahku, tapi belakangan ini semakin parah. Bukan hanya sindiran saja yang diucapkannya, sekarang ini Iida bahkan cerewet sekali dan mengatakan padaku bahwa kehidupan mafia seharusnya tidak seperti ini.
Ia bilang, seharusnya aku mencontoh sikap ayahku. Baginya ayahku adalah sosok Godfather yang ideal, berbeda denganku. Ayahku tidak pernah terikat pada satu wanita, bahkan ibuku pun hanya salah satu bidak yang ia gunakan untuk menghasilkan keturunan yang berkualitas. Bagi Iida, keterikatan adalah hal yang membuat seseorang lemah dan ia tidak ingin pihak lawan memanfaatkan kelemahan itu.
Sayangnya aku tidak setuju dengannya. Pihak lawan mungkin bisa memanfaatkan kelemahanku, tapi itu bila mereka bisa mendapatkannya. Coba saja manfaatkan kelemahanku dan bisa kuyakinkan bahwa mereka akan lebih memilih mati dibanding berurusan denganku.
"Papa! Papa!" Shizuku kembali berkata sambil menarik-narik celana panjang berwarna putih yang kukenakan. "Sudah selesai! Ayo kita ke tempat Mama!"
Pandanganku tertuju padanya dan mengikuti telunjuknya. Kulihat Asui tengah bersusah payah membawakan rangkaian bunga merah itu di pelukannya. Ia sudah merangkainya sedemikian rupa, menjadikannya begitu sedap dipandang. Melihatnya aku pun tersenyum pada gadis itu dan berkata, "Terima kasih, Asui-san."
"Sama-sama, Todoroki-san," ia berkata sambil tersenyum. "Sampaikan salamku pada istrimu!"
Aku mengangguk sementara kubiarkan salah satu bawahanku membawakan bunganya. Kugandeng tangan Shizuku dan aku pun berpamitan padanya. Shizuku sendiri menggerakkan tangannya pada Asui dan berkata, "Dagh, Asui! Sampai ketemu lagi!"
Asui hanya tersenyum dan mengucapkan hal yang sama pada putraku. Ia masih memandangi kami hingga menghilang di balik mobil. Ketika itu barulah ia berbalik dan masuk kembali ke tokonya sementara di dalam mobil kupandangi buket bunga yang telah diletakkan bawahanku. Bunga yang benar-benar cantik.
"Papa," ucap Shizuku sambil menyentuhkan tangannya di bahuku, "Mama suka 'kan? Mama suka bunganya 'kan?"
Kuanggukkan kepalaku dan berkata, "Tentu, Shizuku. Mama akan suka bunganya."
Shizuku pun tersenyum lebar mendengar ucapanku. Setelahnya ia berbalik dan duduk di atas pangkuanku. Selama ia melakukannya, ia terus berceloteh tentang bagaimana ia akan menunjukkannya pada sang Ibu sementara aku menanggapinya seadanya. Walaupun begitu, ia tetap seantusias biasa dan terus bercerita sepanjang perjalanan. Aku benar-benar salut pada energinya yang seolah tak ada habisnya. Monster kecilku benar-benar luar biasa.
Berkat celotehan Shizuku, perjalanan yang biasanya memakan waktu satu jam terasa begitu singkat. Mobil pun akhirnya berhenti di tempat yang kami tuju dan sebelum aku bisa melarangnya, Shizuku sudah membuka pintu mobil. Lagi-lagi ia menghambur begitu saja sehingga aku harus mengejarnya. Sungguh! Usiaku baru tiga puluh, tapi entah kenapa rasanya staminaku tidak sebanding dengan energi anak kecil berusia lima tahun itu.
"Shizuku!" Aku memanggilnya sehingga monster kecilku berhenti berlari. Ia pun menoleh ke arahku dan menungguku hingga menghampirinya. "Kau bisa terjatuh nanti," tegurku begitu sudah mencapainya, "ibumu bisa marah padaku kalau kau menangis lagi."
Kepalanya digelengkan kuat-kuat dan ia pun menggandeng jemariku. Langkahnya lebih perlahan kali ini membuatku dapat mengambil napas. Sembari melangkah, ia pun berkata, "Mama tidak akan marah. Mama itu baik."
Kutekan tombol lift sementara aku merenungkan perkataannya. "Baik?"
"Sangat." Ia berkata dengan bersemangat. Beberapa orang turut memasuki lift yang kami naiki sebelum pintu tertutup. Melihat lift sangat padat, Shizuku pun mendekat ke arahku dan memeluk tanganku. Ia sedikit panik bila berada di ruang tertutup yang banyak orang. Bahkan semangat dan energinya yang begitu membuncah tahu-tahu lenyap entah ke mana meninggalkan anak kecil yang merapat padaku karena ketakutan. "Uh, Papa!"
Kuangkat putraku itu dan kupeluk dia. Putraku itu menyandarkan kepalanya pada bahuku sementara kedua tangan mungilnya memeluk leherku. Ia memejamkan mata dan terus melakukannya hingga lift terbuka di lantai yang kutuju. Begitu kami sudah berada di koridor, barulah ia mengangkat kepalanya dan menatap ke depan.
"Bunganya," teriak Shizuku tiba-tiba. "Papa tidak lupa bunganya 'kan?"
Di belakangku, para bawahan yang setia berjalan sembari membawakan bunga yang kupesan sebelumnya. Begitu melihatnya Shizuku pun kembali bernapas lega. Ia menatapku salah satu bawahanku dan berkata, "Biar Shizuku yang bawa!"
"Tidak," jawabku tegas. "Nanti Shizuku jatuh."
"Tidak apa-apa," balasnya ngotot. "Shizuku mau bawa."
"Boleh," ucapku akhirnya, "kalau Shizuku bisa membawanya tanpa menggunakan tangan, boleh."
Matanya mengerjap menatapku. Kepalanya dimiringkan yang membuatnya mirip dengan ibunya saat melakukannya. "Bagaimana caranya, Papa?"
"Entahlah," jawabku asal. "Papa juga tidak bisa, makanya Papa minta tolong orang lain."
Ia menatapku dan sekali lagi kedua tangan mungilnya memelukku. Lalu ia pun berbisik dan berkata, "Papa takut jatuh, ya?"
Kutatap putraku itu dan kedua manik kelabunya balas menatapku dengan tatapan ingin tahu nan polos. Sikapnya membuatku kembali menyentuhkan jemariku dan mencubit hidungnya hingga Shizuku mengaduh pelan. Dia ini…
Kakiku berhenti melangkah ketika kami tiba di sebuah pintu. Saat aku berdiri di hadapannya, pintu pun bergeser dan menampilkan interior ruangan yang dihiasi dengan nuansa tradisional. Di dalamnya, terdapat sebuah ranjang tidur sederhana untuk satu orang dan di samping ranjangnya terpajang bunga yang sama dengan yang kubawa. Bawahanku segera mengganti bunga yang sebelumnya dengan bunga baru yang dibawa sementara Shizuku berlari mendekat pada ranjang.
"Mama!" Ia berkata sambil berusaha menggapai ranjang. Dengan lincahnya ia memanjat undakan yang sengaja diletakkan di samping ranjang dan menaikinya dengan hati-hati. Untuk membantunya, aku pun mengangkat tubuhnya dan meletakkan putraku di atas ranjang. "Mama! Mama!"
Di atas ranjang, wanita yang memiliki warna rambut yang sama dengannya terbaring dengan mata terpejam. Napasnya masih berhembus teratur sementara di sampingnya terdapat mesin yang berbunyi untuk menunjukkan detak jantungnya. Wajahnya terlihat begitu damai walaupun masker oksigen menutupinya sebagian.
"Mama, bangun Mama!" Shizuku berkata sambil mengguncang-guncang tubuhnya. Tangan mungilnya diletakkan di atas tangan wanita itu sementara bibirnya tak henti-hentinya berkata, "Lihat! Shizuku bawa bunga! Bunga yang cantik, untuk Mama!"
Tak ada jawaban untuk perkataan Shizuku, namun putraku bukanlah orang yang mudah menyerah. Ia tak peduli sekalipun sang Ibu tak membuka matanya dan terus saja bercerita. Seperti yang sudah ia lakukan di depanku, kali ini ia terus berceloteh di depan sang Ibu. Ceritanya hanya itu-itu saja sebetulnya, tapi melihatnya menceritakan dengan penuh semangat, mau tidak mau aku pun kembali menikmatinya.
Selama hampir setengah jam kubiarkan Shizuku bercerita. Biasanya putraku itu akan terus berceloteh hingga aku menghentikannya, namun kali ini ia sedikit berbeda. Dalam setengah jam, putraku telah berhenti bersuara sehingga aku pun mengerutkan dahi karenanya. Kudekati putraku itu dan menanyakan penyebabnya.
"Kenapa Mama tidak bangun-bangun juga, Papa?" Ia bertanya ketika aku mendekat dan mengulurkan tangan padanya. "Papa bilang Shizuku mahir membangunkan orang, tapi kenapa Mama tidak bangun-bangun?"
"Shizuku mahir kok," jawabku sambil memeluknya. "Buktinya Papa selalu bangun setiap Shizuku datang."
Shizuku terdiam saat mendengar ucapanku. Manik kelabunya menatap sang Ibu dan ia berkata, "Tapi, Mama tidak pernah bangun setiap kali Shizuku datang. Apakah Mama benci Shizuku? Apakah karena bunga yang dibawa Shizuku tidak cantik makanya Mama tidak mau bangun?"
Lidahku kelu dan aku hampir tidak bisa berkata-kata untuk menjawab pertanyaannya. Kupeluk putraku dan kukecup dahinya. Lalu aku berkata, "Mama hanya tertidur. Tidur yang terlalu lelap."
"Terlalu lelap?" Ia bertanya sembari menggerakkan kepalanya.
Aku mengangguk. "Nanti juga, Mama akan bangun."
Matanya kembali tertuju pada wanita yang terbaring di atas ranjang dengan seluruh peralatan medis terpasang di tubuhnya. Lalu ia pun berkata, "Waktu Shizuku menceritakan soal Mama, teman-teman Shizuku tertawa. Mereka bilang Mama sudah meninggal, makanya Mama takkan bangun walau dibawakan bunga secantik apa pun."
Alisku terangkat sementara kutatap Iida yang berada di belakangku. Sekretarisku itu mengerti arti tatapanku dan segera mencatatnya dalam iPad yang biasa menemaninya. Shizuku tidak perlu khawatir lagi dengan bocah-bocah yang menertawakannya itu.
Sementara itu aku pun mengusap rambut hijau Shizuku dan berkata, "Mama akan bangun. Mama 'kan suka bunga? Mama pasti akan bangun suatu hari nanti."
"Benarkah?"
Aku menganggukkan kepala dan berkata, "Selama Shizuku jadi anak baik dan patuh, pasti Mama akan bangun."
Ia menatapku ragu-ragu dan berkata, "Papa tidak bohong, 'kan?"
Sekali lagi kubalas tatapannya. Bibirku tersenyum sementara aku mengaitkan kelingkingku dengan kelingkingnya. Kusentuhkan dahiku dengan dahinya dan berkata, "Kapan Papa pernah bohong pada Shizuku?"
Putraku memutar bola matanya, berpikir. Selama beberapa detik ia melakukannya sebelum menjawab, "Tidak pernah."
Kuanggukkan kepalaku, puas mendengar jawabannya. Putraku itu pun memelukku sementara aku mengangkatnya dari atas ranjang. Kupeluk dia dan kuserahkan putraku pada pelukan Iida sembari berkata padanya, "Kalau begitu, sekarang giliran Papa yang membangunkan Mama, ya?"
Kepalanya mengangguk dan ia berkata, "Papa, ganbatte!"
Kuacungkan kepalan tanganku mendengar ucapannya. Sementara itu kuanggukkan kepalaku pada Iida yang langsung membawa Shizuku tanpa banyak bertanya. Walaupun ia tidak menyukai sikapku di depan putraku, Iida tidak pernah kasar. Ia mungkin kaku, tapi putraku tidak pernah keberatan saat bersamanya sehingga aku bisa tenang saat menitipkan Shizuku padanya.
Ketika mereka semua sudah keluar dan pintu tertutup, barulah aku duduk di kursi yang ada di samping tempat tidur. Kusandarkan punggungku pada sandaran kursi sementara kuletakkan tanganku di atas lutut. Baru setelahnya aku kembali menatap wajah wanita yang pernah mengisi hidupku itu.
"Apa kabar, Izuku?" ucapku padanya. "Bagaimana perasaanmu hari ini?"
Pertanyaanku dijawab oleh bunyi mesin yang memonitor pergerakan jantungnya. Tidak ada pergerakan berarti di sana, suara detak jantungnya tetap sama seperti sebelum-sebelumnya. Sudah lima tahun berlalu sejak saat itu tapi tetap saja tidak ada perubahan. Izuku masih terlelap layaknya putri salju yang menunggu ciuman dari sang Pangeran.
"Shizuku sudah lima tahun," lanjutku sambil menatapnya, "kau tidak bisa terus tidur seperti ini. Suatu hari ia akan mengerti dan ia akan lelah menemuimu bila kau tidak kunjung membuka mata. Kau tidak mau ia seperti itu 'kan?"
Lagi-lagi tidak ada jawaban sementara aku menatapnya kecut. Detak jantungnya tidak berubah menjadi lebih cepat sekalipun aku menyebut nama buah hati kami di setiap percakapan. Izuku tetap saja terbaring seperti ini.
"Izuku," panggilku lagi sembari mendekat dan menyentuh tangannya, "sadarlah!"
Bila menyebut nama putraku saja tidak membuatnya sadar, apalagi permohonanku. Aku tahu betul bahwa wanita ini sangat membenciku, bahkan melihat wajahku tak membuatnya segan untuk melompat. Aku masih ingat saat-saat di mana ia tertawa dengan airmata yang mengalir di wajahnya. Aku masih ingat saat ia mengatakan bahwa aku pembohong dan bagaimana ia mengulurkan tangannya ke langit dan memanggil nama suaminya. Semuanya masih begitu membekas di ingatanku seperti baru kemarin terjadi.
"Izuku!"
Tanganku mencapai tangannya sebelum ia jatuh. Sekuat tenaga kucengkeram pergelangan tangannya sementara Izuku tertunduk. Aku tahu ia masih sadar sehingga aku pun kembali berkata, "Izuku! Pegang tanganku!"
Wanita yang kupegangi tangannya itu hanya menundukkan kepala. Ia tidak bereaksi saat mendengar perkataanku. Susah payah kutarik tangannya namun tubuhnya hanya terangkat sedikit. Tidak, tubuhnya seharusnya sangat ringan, hanya saja peluh membasahi tanganku membuatku sulit mengangkatnya. Kalau wanita ini tidak menangkap tanganku, maka aku pun takkan bisa menariknya.
"Izuku," panggilku sekali lagi, berharap agar ia mendengar suaraku sementara aku menanti bala bantuan dari para bawahanku, "Izuku, pikirkan Shizuku! Pikirkan bagaimana dia akan sendirian tanpamu."
Kepala wanita itu terangkat saat mendengar ucapanku dan seketika itu juga aku bernapas lega. Aku tahu bahwa ia sangat mencintai anaknya, anak kami, karena aku telah melihatnya dari rekaman CCTV di rumah sakit. Aku tahu bahwa ia menyayanginya dan tidak ingin meninggalkannya. Aku tahu itu. Aku bisa melihatnya dari caranya memeluk putraku dan bagaimana ia memandanginya seolah putranya merupakan harta yang sangat berharga. Aku tahu itu.
"Shizuku…," panggilnya tanpa melakukan apa pun. Manik hijau di matanya memancarkan rasa rindu namun ia berkata, "Maaf."
Mataku melebar mendengar permintaan maafnya. Aku tidak mengerti. Bukankah ia baru saja bertemu dengan putranya dan tak ingin melepaskannya? Kenapa sekarang ia jadi seperti ini?
"Aku… tidak berguna," ujarnya sambil menatapku, "aku… bukan Ibu yang baik untukmu."
"Izu…"
"Aku… hanya wanita yang bodoh," lanjutnya dengan airmata mengalir di pipinya, "selama ini aku percaya bahwa suamiku masih bisa hidup kembali."
"Izuku, itu…"
"Aku tak pernah tahu bahwa aku justru tengah memasangkan tali kekang padanya," ujarnya dengan airmata membasahi wajahnya, "membuatnya tertahan di dunia ini, tersiksa dengan semua alat di seluruh tubuhnya. Aku… benar-benar tidak berguna."
"Siapa…," gumamku di sela-sela nyeri saat aku berusaha menahannya agar tetap bertahan di pinggir atap, "siapa yang mengatakan itu padamu? Itu tidak benar."
"Itu benar!" Ia membalasnya dengan berteriak padaku. "Itu benar, selama ini kau berbohong padaku."
Aku tidak mampu menjawab. Dalam hati aku bersumpah akan mencari orang yang menyampaikan hal ini padanya dan membalasnya ribuan kali lipat. Lihat sekarang perbuatannya!
"Padahal aku percaya padamu," ucapnya sambil menangis, "padahal aku mengira ia benar-benar akan sadar kembali…"
"Izuku…"
"Aku bahkan menahan semuanya saat bersamamu," teriaknya padaku, "tapi kenapa… kenapa ia tidak hidup kembali? Kenapa mujizat tidak terjadi padaku?"
Lagi-lagi aku hanya bungkam. Di sela-sela sakit dan ngilu pada tanganku, aku memnutar otak, berusaha untuk menjawabnya. Sebelumnya aku bisa meyakinkannya, kali ini pun aku akan membuatnya percaya padaku.
"Tidak… Katsuki masih hidup," ucapku akhirnya. "Kau sendiri tahu, kau mendengar detak jantungnya."
Ia menggelengkan kepala dan saat itu tangannya merosot beberapa sentimeter dari cengkeramanku. Ini membuatku menggertakkan gigi sambil mengernyitkan rasa sakit. Di saat seperti ini otakku malah berhenti berputar dan hanya bisa menatapnya, berharap ia takkan bertindak bodoh dengan melepaskan tanganku.
"Kau berbohong," ia berkata dengan suara gemetar, "kau berbohong padaku."
Sekali lagi aku menatapnya dan kugertakkan bibirku. Otakku tidak mampu memikirkan kebohongan lain untuk kuucapkan. Tak punya pilihan akhirnya aku pun berkata, "Ya, aku memang berbohong. Selama ini aku membohongimu."
Kepalanya terangkat dan manik hijaunya melebar saat mendengar ucapanku. Semua bujuk rayuku tak mempan sehingga aku pun tak punya pilihan selain mengatakan kebenaran. Tak pernah kusangka bahwa ia akan lebih memerhatikannya dibanding semua dusta yang kuucapkan.
"Sebelumnya aku tak pernah berpikir untuk memilikimu," ucapku akhirnya, "tapi kau memanggil namaku dan memohon padaku walau di pikiranmu hanya ada orang itu. Kau memintaku untuk menyelamatkannya, kau menangis dan memohon hingga membuatku tak punya pilihan lain."
Manik hijaunya menatapku tidak percaya. Mulutnya terbuka, namun ia tak mengatakan apa-apa. Sikapnya yang hanya diam membuatku menggertakkan gigi. Aku tidak mau mengakuinya namun ia tidak memberiku pilihan. Kedua manik heteroku bertemu dengan manik hijaunya dan sekali ini aku berkata, "Aku mencintaimu."
Wanita di tanganku itu masih menatapku, kentara sekali bahwa ia terkejut dengan pernyataan yang kuungkapkan. Ia mencoba mengucapkan sesuatu namun sekali lagi tangannya merosot dari cengkeramanku. Kini hanya tinggal jemarinya yang berhasil kuraih.
"Kau… bohong…"
Kugelengkan kepalaku, "Aku tidak bohong."
"Bohong…," teriaknya lagi sambil menatapku, "itu bohong…"
"Izuku…"
"Kau...," ucapnya sambil mengalirkan airmata, "harus berbohong."
Dahiku berkerut, tidak mengerti arti ucapannya.
"Kalau tidak," ujarnya diiringi dengan airmata yang tak henti-hentinya jatuh sementara tangannya gemetar, "aku akan mengkhianati Kacchan."
"Izu…"
Aku ingin menanyakan apa maksudnya, namun kesempatan itu tak datang padaku. Cengkeraman jemarinya mengendur dan akhirnya terlepas dari genggamanku. Dengan ngeri kupandangi tubuhnya yang semakin menjauh ditarik oleh gravitasi. Hingga akhirnya aku mendengar bunyi tubrukan yang keras sementara di bawah pekikan nyaring terdengar.
Tanganku masih terulur, masih berusaha menggapainya. Aku ingin menanyainya, aku ingin tahu maksud perkataan terakhirnya. Aku tidak ingin melepaskannya begitu saja, bukankah dia adalah milikku? Kenapa ia semudah itu pergi dariku?
"Shouto…"
Iida mendatangiku tak lama kemudian. Ia terengah-engah sama sepertiku sementara di belakangnya para bawahanku juga sama. Mereka semua sudah berlari, namun kedatangan mereka terlalu terlambat. Sangat terlambat.
Aku tidak mengucapkan apa-apa sehingga Iida menghampiriku. Ia meletakkan satu tangannya di pundakku sementara aku masih menatap ke bawah, memandangi tubuhnya yang berada jauh di bawah sana, bertubrukan dengan atap sebuah mobil. Aku ingin berteriak, namun tidak ada suara yang keluar dari mulutku.
Izuku. Izuku yang kucintai sudah tak ada. Milikku satu-satunya…
"Shouto," guncang Iida akhirnya. "Shouto, dengarkan aku!"
Kutepis tangannya dan aku menatapnya gusar. Pemuda itu pun harus menjauh ketika melihat tatapanku. Ia menundukkan kepalanya dan menarik napas, tidak ingin memancing amarahku. Ketika aku sudah mengalihkan tatapan darinya barulah ia berkata, "Bakugou Katsuki meninggal. Baru saja."
Kepalaku bergerak dan kutatap bawahanku itu. Aku tidak mengerti bagaimana pemuda itu bisa meninggal bersamaan tepat saat Izuku terjatuh. Apa ini hanya kebetulan?
"Mati lampu," ia berkata sambil menggelengkan kepala, "semua peralatan mati dan parahnya genset tidak berfungsi."
Bibirku berusaha mengeluarkan tawa namun aku malah menitikkan airmata. Kusentuhkan tanganku pada kedua mataku dan menutupinya dengan suara tawa. Lalu aku berkata, "Doamu terkabul, eh?"
Iida tidak mengatakan apa pun. Ia hanya menunduk sembari menatap perkerasan lantai atap. Ia membiarkanku mencengkeram railing atap erat-erat, memunggunginya dan tertawa keras. Bahuku bergetar saat melakukannya sementara airmata mengalir di pipiku. Aku tidak tahu bahwa kehilangan seseorang bisa begini memengaruhiku.
Aku mencintainya. Aku tidak bisa memungkirinya. Ia membuatku memutuskan hal-hal yang tidak biasa dan membuatku memimpikan hal-hal sederhana. Aku ingin memberinya status dan kedudukan, ingin menjadikannya sebagai istriku, mendambakan membentuk keluarga bersamanya dikelilingi putra dan putri yang manis. Tapi semuanya kandas begitu saja.
Ketika aku tengah memikirkannya, suara dering telepon mengganggu acara berkabungku. Sedikit jengkel, aku pun menggerakkan kepala dan menatap kesal pada orang yang tidak mematikan dering teleponnya itu. Betapa tidak terkejutnya aku ketika melihat Iida tersentak dan mengeluarkan handphone dari saku jasnya.
Walau sudah kutatap kesal, Iida hanya mengangkat satu tangannya padaku. Tanpa banyak bicara, ia pun menekan tombol 'Jawab' di layarnya dan menempelkan ponsel ke telinga. Aku memerhatikannya saat ia menjawab telepon dan menunggu hingga ia selesai berbicara. Biasanya aku tidak tertarik, tapi melihat perubahan ekspresi wajahnya mau tidak mau aku pun terus memasang mata.
Pemuda itu pun akhirnya menjauhkan ponselnya dari telinga. Kepalanya perlahan-lahan bergerak menatapku dan matanya menunjukkan ekspresi terkejut. Ia tergagap saat berkata, "M-mereka… mereka bilang…"
Apa yang ingin ia ucapkan sebenarnya? Kenapa ia harus terbata-bata seperti itu?
"G-gadis itu… masih bernapas," ucapnya sambil menunjuk ke arahku dengan jari gemetar, "mereka… tengah berupaya mengembalikannya dari kondisi kritis."
Kedua manik dwiwarnaku melebar mendengar ucapannya. Tanpa banyak bicara, aku langsung bergerak dari tepian atap dan berlari menuju pintu. Aku tidak lagi memikirkan apa yang para bawahanku katakan, pikiranku sudah terlalu penuh. Aku hanya tahu berlari dan terus berlari, dengan satu harapan.
Izuku masih hidup. Ia masih hidup. Ia belum kembali pada Katsuki. Ia… masih milikku.
Selamanya.
Mataku mengerjap ketika mengingat kejadian yang baru saja terjadi itu. Sejak hari itu, tidak terasa sudah lima tahun aku menungguinya seperti ini. Memegangi tangannya menunggunya membuka mata. Kupanggil namanya dan kubawa serta nama anakku di setiap perbincangan kami. Kuharap suatu saat ia akan membuka matanya.
Dokter bilang mereka sudah berusaha semampu mungkin menyelamatkannya. Mereka menggunakan teknologi terbaik, menjaganya agar tetap hidup, namun mereka tetap tidak bisa melangkahi Tuhan. Menurut mereka, hanya keajaiban semata yang dapat membuatnya sadar kembali.
Aku pun tertawa mendengarnya. Lebih dari lima tahun yang lalu, aku mendengar seorang Dokter memvonis hal yang sama namun pemuda itu akhirnya pergi lebih dulu. Tuhan tidak menyelamatkannya. Tuhan tidak mendengar doamu, Izuku. Ia tidak pernah mendengar doamu, doakulah yang dikabulkannya.
Aku berdoa agar kau tak menjadi miliknya. Kau tak boleh menjadi miliknya. Aku tak akan membiarkannya. Untuk itu apapun akan kulakukan asal kau tak menyusulnya, sekalipun itu berarti merantaimu di dunia ini dan tidak bisa melihatmu membuka mata. Aku tak keberatan. Selamanya seperti ini lebih baik untukku dibanding harus merelakanmu pergi.
Izuku… kau adalah milikku. Selamanya milikku.
Kusentuhkan jemariku pada punggung tangannya dan aku pun tersenyum. Kukecup tangannya dan kembali memandangi wajah tidurnya yang damai. Seperti hari-hari biasanya, aku pun menunggu di sampingnya, menemaninya hingga waktu berkunjungku habis, hingga saat di mana perawat mengingatkanku bahwa pertemuan kami telah berakhir. Saat itu barulah aku menarik kembali tanganku dan berbalik darinya.
Kali ini pun sama. Seperti sebelumnya perawat datang dan mengingatkanku bahwa waktu berkunjungku telah usai. Sebetulnya bisa saja aku membantahnya namun aku tetap mengingatkan diriku sendiri, bahwa hidupku masih berjalan dan aku tak bisa menungguinya selamanya. Karena itu aku pun mengangkat diriku dari tempat duduk dan mulai berjalan.
Baru saja aku menggeser kursi, setangkai bunga yang dirangkai Asui tahu-tahu saja jatuh dari potnya. Melihatnya, aku pun berjongkok dan mengambilnya dari karpet. Aku memandanginya sejenak sebelum kutempatkan kembali bunga itu di tempatnya.
Red salvia, bunga yang hanya mekar di pegunungan. Waktu aku berkunjung ke toko bunga dan hendak memilihkan bunga untuknya, Asui memberikanku bunga ini. Ia mungkin tidak tahu bagaimana kami bertemu tapi bunga yang ia pilihkan sangat sesuai untuknya. Ia bilang, dalam bahasa bunga, Red Salvia berarti selamanya milikku. Sejak saat itu, aku pun selalu mengirimkan bunga ini untuknya, untuk mengingatkannya bahwa dirinya adalah milikku.
Tapi kugelengkan kepalaku dan kuletakkan kembali bunga itu di tempatnya. Samar-samar aku tahu bahwa Izuku tidak pernah menjadi milikku. Izuku sudah memilih tempatnya dan tempat itu bukan di sisiku. Mungkin sudah seharusnya aku belajar merelakannya.
Aku pun berbalik dan kembali berjalan menuju pintu. Kusentuhkan tangan pada pegangan di pintu dan baru saja hendak kugeser ketika aku mendengar suara yang membuatku tak pernah belajar merelakannya. Padaku, suara itu berkata,
"Shou…to?"
.
.
.
A/N:
Hooraayyyyy! Selesai! Wow! Saya sendiri nggak percaya. SELESAI. END. TAMAT. YAY! Finally ceritanya end, gimana? Kalian suka? Saya sengaja buat end yang nggak jelas, tapi so far menurut saya ini happy ending yang saya sendiri nggak nyangka karena saya pengennya buat mereka sad end ato tragedy.
Tapi, thank you untuk semua pihak yang sudah membaca ff ini, dan terutama pada Shirocchin yang uda menggagas event ini. Saya sendiri menikmati ceritanya, menikmati membuat cerita lebih dari biasanya dan wow… saya Cuma bisa bilang thank u, bener-bener thank u….
Berhubung ini ceritanya sedikit ngebut saya buatnya, saya cuman bisa kasih salam untuk :
Hikaru Rikou : wow, thank u uda sempetin baca chapter 3, ini sedikit bonus chapter 4 buat kamu :P dan btw, chapter 3 baper, tapi saya nitikkin airmatanya di sini, di chapter 4, huhuhu, bagaimana denganmu Hikacchi?
Kacchan meninggal, dan mungkin itu jalan terbaik buat dia, tapi… Izuku… ehem, silakan kamu tebak sendiri :P
Aniway for all of you, thank you for all the like and favorite, hope you guys like it dan berhubung ini uda chapter terakhir, selama kalian punya akun ff, saya masih bisa reply langsung review kalian, tapi buat guest, mohon maaf sedalam-dalamnya, saya nggak bisa bales T_T
Thank you sekali lagi dan …. PLUS ULTRAAA!
Hidup #OFATODODEKU!
