Chapter 4

Disclaimer Fujimaki Tadatoshi

Kuroko No Basuke Fanfiction

Fanfik ini adalah fanfik pertama saya (^_^,,)jadi, mohon bimbingannya Terima kasih yang sudah menfollow,memfavorit (^3^)dan mereview (^-^)

Langsung saja, kembali ke fanfikkkk

.

.

Setelah makan siang selesai Himuropun keluar memanggil mereka, namun hanya Kasamatsu senpai saja yang belum datang.

Kise tentu saja khawatir, ia hendak menjemput sang pacar. Namun, Himuro bilang kalau Kuroko sudah menemuinya sekarang jadi, Kise mengurungkan niatnya .

.

.

Ueghhh ueghhhhh ugeeeehhhhh!

Terdengar suara seseorang sedang memuntahkan isi perutnya

Tok tok tok

"Kasamatsu-san? apa anda baik baik saja?" ucap Kuroko mengetuk pintu kamar mandi.

"Aghh ya, Sebentar Kuroko aku ke sana" ucap Kasamatsu, menyalakan air washtaffel kamar mandi

Pintu di buka perlahan, lalu munculah orang yang tak jauh berbeda tingginya dengan Kuroko, wajah yang dulu tegas tanpa tergoyahkan kini sedikit pucat dengan keringat yang masih mengalir.

"Ano? Kasamatsu-san apakah anda baik-baik saja?" ucap Kuroko tampak khawatir.

"Ah ya sebentar" Kuroko yang masih mematung di tengah ruangan, melihat Kasamatsu merogoh tas. Lalu mengeluarkan beberapa butir obat sakit kepala, mual dan obat tidur. Ia meminum 3 pil langsung bahkan sebelum makan.

Bagaimana Kuroko bisa mengetahui semua obat-obatan yang tadi diminum? Karena ia juga memilikinya.

"Ayo" ucap Kasamatsu mulai menyadarkan Kuroko dari lamunan.

Merekapun sampai di ruang makan, Kise sedikit terkejut dengan pacarnya yang tampak sangat pucat?

Apa karena ia tadi mengabaikannya?

Tapi ia sedang mengambek?

Bukankah itu hal biasa?

Semua sudah duduk rapih di bangkunya masing-masing, Kuroko sangat senang saat itu.

Kenapa?

Karena Akashi-kun berjanji akan membelikan vanilla sake kesukaannya, bila di dalam menu makan siang kali ini, ada sop tofu yang telah Akashi minta.

.

.

Semua makan dengan lahap, sore hari merekapun melakukan pertandingan seperti pagi. Namun Kise tidak main lama, hanya 5-10 menit.

Ia yang sedari siang ingin berbicara dengan sang pacar selalu tak menemukan waktu yang tepat. Sedangkan wajah sang pacar sudah semakin pucat.

.
.

Kali ini yang memasak adalah tim yang menang karena itu Akashi, Himuro, Kagami di bantu Kuroko memasak. Walau Kuroko hanya bisa memotong saja

Hari sudah semakin sore dan makan malam telah selesai, semua masih melakukan aktifitas masing-masing

Sedang Kuroko masih dengan anteng meminum vanilla sake yang telah di belikan oleh Akashi tadi dan ada 2 lagi di kulkas

"Akashi-kun arigato" ucap Kuroko masih meminum vanilla sake yang sangat di rindukannya

"Hah ya" ia tahu bahwa Kuroko Tetsuya berterima kasih padanya, tidak lain hanya karena minuman yang telah ia berikan itu

"Tapi ingat jangan meminumnya terus menerus"

"Emp" ucap Kuroko menyanggupi keinginan Akashi

Ditempat Kasamatsu

tiba tiba terdengar suara ketukan pintu

Tok tok tok

"Siapa?"

"..." Namun tak ada jawaban

"Kise" ucap Kasamatsu membuka pintu dan di dapati kekasihnya yang muram seharian ini tengah berdiri di depan ruangannya, tanpa berucap sepatah katapun

"Hahhh~ masuklah" ucap Kasamatsu tak mau ambil pusing

Kisepun masuk ke kamar namun, yang ia dapati pertama adalah meja yang penuh dengan buku pelajaran serta obat-obatan

buku pelajaran?

tentu saja karena Kasamatsu Yukio sudah kelas 3 SMA Kaijo tentu saja ia harus belajar untuk ujian kelulusan dan ujian masuk kuliah, tapi ia masih mau menyempatkan waktu menemani sang pacar memenuhi undangan, sang teman pacarnya

kisepun mulai tak enak hati

"Ka-samatsu-senpai ano-ssu" Kise mulai duduk di pinggir Kasur menghadap meja belajar sedang Kasamatsu yang mulai duduk kembali, membelakangi Kise

"Bagaimana dengan kakimu, apa sudah baikan?" ucap Kasamatsu masih fokus dengan buku-buku contoh soal ujian, di depannya namun sungguh ia bertanya dengan serius dan khawatir

"Ah emp. senpai~" ucap Kise mulai memberanikan diri

"Apa?"

"Maaf-ssu" ucapan Kise sukses membuat Kasamatsu membalikan tubuhnya

"Mengapa kau minta maaf, Kise?" Tegas sang pacar

"Habis, senpai sedang sibuk-sibuk dengan ujian-ssu, tapi aku malah meminta senpai menemaniku dengan acara seperti ini-ssu. Senpai sampai meminum obat-obat seperti ini. Ma-maaf-ssu"

BUKKKK

"Aghhhhh, senpaiiii~" ucap Kise merasakan dirinya di tendang kuat. sampai tubuhnya sudah tersungkur ke tengah kasur

"Kiseee! aku yang mau menemani, mengapa kau yang repot. mau ku tendang!"

"Mo~ senpai sudah menendangku-ssu!" Rengek Kise merasakan punggungnya sangat nyeri

Kasamatsu yang mulai berjongkok di depan Kise yang tengah tersungkur berkata dengan sangat lembut

"Kau itu dari dulu suka menahan semuanya sendiri, bukan? Sekarang sudah ada aku, jadi tak perlu sungkan untuk merepotkanku" ucapnya menyentuh pipi Kise

Bukan karena tangan hangat itu menyentuh pipi

Bukan karena posisinya yang tengah berada di depan Kise

Bukan karena tatapan hangat yang tengah di berikannya

Tapi, karena kalimat yang tadi di lontarkannya

Mampu membuat seluruh tembok pertahannyan sang pacar

Mampu meluluhkan seluruh macam topeng yang dimiliki

Mampu membuang semua keistimewaannya

Mampu menelanjanginya dengan tatapan bahwa

Ia hanya Kise Ryota

Bukan Kise yang super model

Bukan Kise yang bercita-cita menjadi pilot

Bukan juga, Kise yang merupakan anggota KISEDAI

Hanya Kise Ryota siswa SMA Teiko yang kini

Menjalin hubungan dengannya

"Senpaiiiii~" Rengeknya langsung memeluk sang pacar

"OIIII, Ahoooooo nanti kakimu terkilir lagi. Aku juga harus meneruskan belajarku"

"Padahal tadi senpai menendangku, bukan terkilir lagi tapi, patah jadi dua ini badan-ssu" Gerutu Kise berbisik

"HAHHH~" Tampaknya sang pacarpun masih bisa mendengarnya

"Ahhhh bukan apa-apa-ssu. Kasamatsu-senpai mau kubantu?"

"Hah?"

"Gini-gini, aku urutan ke 7 se SMA Teiko-ssu" mencoba duduk di kasur seperti pertama kali ia datang

"Nanti saja. Sekarang kau istirahat. nanti kalau aku membutuhkan bantuanmu AKU AKAN MEMBELAHMU MENJADI DUA. baru membangunkanmu"
ucap Kasamatsu masih fokus dengan buku di depan nya

"Kasamatsu-senpaiiiii hidoiii-ssuuuu"

"Sudah kau tidurlahhh"

"Senpai juga-ssu!" ucap Kise tiba-tiba ia menarik baju Kasamatsu hingga, Kasamatsu terjatuh di kasur bersebelahan dengannya

"OIII KISEEE! APA YANG KAU LAKUKAN!" ucap Kasamatsu mencoba bangun dari pelukan maut, sang pacar

"Ehhh~ senpai juga butuh istirahat bukan-ssu" ucap Kise merendahkan Suaranya, dengan tangan masih memeluk sang pacar. Masih mencoba untuk bangun

Kasamatsu pun mengalah, memang ada benarnya apa yang di ucapkan sang model yang kini telah menjadi kekasihnya.

Beberapa waktu ini ia sudah kurang istirahat, sangat terlihat dari wajah lelahnya yang selalu ia coba tutupi .

.

.

Hari sudah malam dan jam pun menunjukan pukul 7 lewat

Tiba-tiba Akashi meminta semua untuk berkumpul. Awalnya Himuro hendak membangunkan Kise dan Kasamatsu, namun Akashi mencegahnya. Ia lebih tahu kondisi mereka berdua, tidak memungkinkan untuk mengikuti rencana sang Akashi kali ini, maka akashi melewatkannya.

"Oi Akashi, untuk apa kita berkumpul nanodayo?" ucap Midorima yang sedari tadi sudah berada di ruang tengah bersama Akashi

"Eh? Shin-chan sudah ada disini?" ucap Takao datang dengan wajah, yang tampak seperti habis bangun tidur

"Takao! Kau habis dari mana saja? Bukannya aku perduli aku hanya bertanya nanodayo"

"Ehh~ Shin-chan merindukanku. Kawaiii~" Goda sang pacar

"BAKAOOOO! Aku hanya ingin kau mengembalikan lucky itemku untuk besok nanodayo" Midorima membenarkan kaca mata yang tak turun, menyembunyikan semburat merah dipipinya

"Berisik kalian. Bisakah diam" ucap Akashi yang mulai jengkel, dengan kemesraan teman se klubnya itu? kemesraan? ehhhhhh~ /(0 0)\

.
.

10 menit kemudian merekapun sudah berkumpul semua di ruang tengah Akashi, yang notabennya seperti sangat amat luasss~

"Jadi tinggal menunggu Tetsuya" ucap Akashi mengabsen satu persatu

"Aku disini. Akashi-kun"

"WAHHH, Tetsu/Kuroko!" ucap Kagami dan Aomine hampir bersamaan. Sepasang kekasih yang amat kompak bukan...hihihi (^/^)

"Kau telat Tetsuya" menatap Kuroko yang berada di belakangnya

"Sejak kapan kau disana Tetsu?" ucap Aomine mencoba tenang

"Sedari tadi. Huh~" ucap Kuroko berbohong karena jelas-jelas ia menghela napas kecil tadi, pertanda ia habis berlari

"..." Akashi yang tidak bersuara, membalikan tubuh, menghadap Kuroko dengan tatapan dwiwarna yang mengkilat sempurna. Membuat Kuroko harus menelan ludah, selangkah demi selangkah Akashi terus mendekati Kuroko semua orang yang berada di ruangan pun tak bisa melewatkan drama, yang tengah berlangsung. Sampailah jarak kuroko dan akashi tak lebih dari 5 cm

dekkkkaaatttttt sangatttt dekatttt!

"A-aka-" tiba-tiba Akashi langsung melumat bibir kuroko, dari jilatan sampai lumatan. Tubuh kuroko yang tak mampu melawan, sangkin kagetnya tak mampu berbuat apa-apa.

Kagami dan Aomine, hanya melongo di buatnya

Himuro menutup mulutnya karena malu dan terkejut,

Murasakibara tak lagi memakan snacknya,

Takao hanya bisa terkikik menahan geli melihat kuroko

Dan kacamata Midorima retak seribu...

Ciuman panas, dari jilatan hingga lumatan membuat semua yang melihat tak kalah tegang melihatnya. ciuman yang di dominasi Akashi tentunya, membuat Kuroko terbelalak,

Sudah hampir 5 menit mereka berpangutan dan kuroko pun kehabisan napas, mulai meremas baju akashi semakin keras, pertanda sang lawan di depan sudah tak sanggup lagi

Akashipun melepas ciuman panasnya, walau pada dasarnya, itu hanya ciuman sepihak. Kuroko pun tersungkur jatuh karena lemas

"Hahhh hahhh hahhhh~" ucap kuroko tak mampu lagi berdiri, ia hanya duduk bertumpu dengan lulut karena lemas

"Itu hukuman untukmu karena terlambat Tetsuya" ucap Akashi mulai menghapus saliva di sudut bibirnya

"A-Akashi-kun!" Mencoba menahan kesal walau wajahnya sudah teramat merah

"Tapi, kurasa kau harus bersyukur. Mulai sekarang aku akan mengajarimu cara berciuman yang lebihhhh dari 5 menit. Tetsuya" ucap Akashi mulai melangkah ke sofa membiarkan Kuroko yang masih terduduk lemas

'Aku aku akuuu akan membalasnyaaa!' ucap Kuroko mulai menghapus saliva di bibirnya dengan wajah datar seperti biasa, semburat merah di pipipun sudah tidak ketara lagi

"Kau tak akan bisa membalasku Tetsuya" balas Akashi terdengar jauh di sana

"Te-Tetsu kau baik-baik saja" ucap Aomine mencoba menarik Kuroko untuk segera berdiri

"Aomine-kun, Kagami-kun bisa duluan ada yang ku lupakan tadi" ucap Kuroko berbohong padahal, ia hanya ingin menambil vanilla shake untuk membuat Akashi kesal

"Ba-baiklah" ucap Kagami dan Aomine mulai melangkah mendekati sofa tempat berkumpul semuanya

"Tetsuya kau mau kemana"

"Ada yang kulupakan, Akashi-kun" ucap Kuroko mulai membalikkan badan

"Kutunggu 1 menit, jangan terlambat" tegas Akashi

Tentu saja Akashi, tak pernah main-main dengan perkataanya. Hukuman berarti hukuman,dan Kuroko pun tak mau di beri hukuman seperti tadi. Lalu ia berlari dan segera kembali, dengan vanilla sake yang sudah di tangan membuat salah satu alis Akashi naik. Lalu Kuroko duduk di samping takao

"Apa itu?" ucap Akashi sedikit tidak suka, dengan apa yang di bawa Kuroko. Tentu saja, karena Kuroko mengabaikan larangannya agar tidak meminum vanilla sake terus menerus

"Vanilla sake Akahi-kun tidak lihat" acuh Kuroko, masih merasa kesal dengan Akashi. Tampak jelas dengan nadanya yang dingin

"Oi Akashi, untuk apa kita kau kumpulkan di sini" ucap Aomine tak sabaran

"Hahh~ (menghela napas dengan kasar) untuk bermain ou sama game" ucap Akashi dengan seringai seram, pertanda rencana tersembunyi sudah di mulai.

.

.

Semua yang berada di ruangan mulai sedikit tertarik dengan apa yang di ucapkan Akashi

Ou sama game adalah permainan dengan tongkat atau benda yang di beri nomor serta satu benda/tongkat di beri warna pertanda ia yang menjadi ou sama(raja). Perintah raja adalah mutlak tak boleh di langgar apapun sebabnya.

"OU SAMA WA DAREEEE ?(siapakah yang menjadi rajaa?)" ucap semua orang mengambil sumpit yang di beri nomor dan warna

"Hahahah aku yang menjadi rajaaa" ucap Aomine membuat semua yang di ruangan langsung meilatnya

Aomine mencoba menebak nomor yang ada di tangan teman-temannya. Ia melihat no Akashi, hendak menyebutkan ehhhhhhh Akashi langsung mengeluarkan aura membunuh, membuat Aomine mengurungkan niatannya

"No 7 (Kagami), cium aku" ucap Aomine membuat Kagami dan semua yang ada di ruangan sangat terkejut

Kuroko membulatkan mata, melihat Kagami tiba-tiba berdiri menghampiri aomine yang masih terduduk.

Entah mengapa tiba-tiba tubuhnya panas, melihat langsung Kagami mencium orang lain, di depan matanya.

Lalu tanpa melihat adegan Kagami dan Aomine, ia hanya menutup wajahnya dengan poni mencoba menghilangkan pandangan dari mereka berdua, karena mengingatkan ciumannya dengan Akashi tadi

"Sudah cukup" tiba-tiba suara Akashi memecah keheningan

Memaksa Kagami dan Aomine menghentikan kegiatan mereka

"Nanti di lanjut oke~" bisik Aomine menempelkan bibirnya pada telinga Kagami

"A!AHOMINE!" ucap Kagami mulai menghapus saliva di bibirnya

"..." Kuroko tidak lagi memandang mereka, ia hanya meminum vanilla sake lebih cepat, hingga terkesan sedang terburu buru

"Ayo main lagi" ucap Takao mulai mengambil sumpit dan merapihkannya kembali

"OU SAMA WA DAREEEEEEE?" ucap semua menarik sumpit

"Aku menjadi raja" ucap Kuroko datar

"Lalu apa perintahmu, Tetsuya" ucap Akashi menyeringai seolah dia lah yang menjadi raja

"Hmppp selama permainan aku ingin duduk di pangkuan no 9 (Aomine)" ucap Kuroko sangat datar,sedang semua yang berada di ruangan tak kalah kaget dengan perintah Aomine tadi. Namun Aomine hanya biasa-biasa saja begitu pula dengan Kagami. Karena bagi Kuroko, Aomine seperti kakaknya sendiri begitupun sebaliknya

Namun di sisi lain, Kuroko juga ingin duduk di pangkuan aomine agar Kagami tidak berciuman lagi dengan Aomine, karena ada dia di pangkuan Aomine. Akashipun tahu itu

"Eh?" Aomine melihat Akashi, yang tengah memandanginya dengan aura hitam yang semakin mencekam membuat Aomine panas dingin

Namun Kuroko hanya asik meminum vanilla sake tanpa memusingkan kelakuan Akashi yang sedari dulu memang menyebalkan

"OU SAMA WA DAREEEEE?"

"hihihi aku yang menjadi raja" ucap Takao enteng, lalu ia langsung menatap Midorima yang tengah membenarkan kaca matanya

"Lalu apa perintahmu Takao-kun?" tanya Kuroko datar dengan nada sama datarnya dengan wajah

"Hmp aku mau no 6 (Midorima)jawab jujur. Bila harus memilih? Siapa yang lebih penting, lucky item mu atau aku? hihihihi" pertanyaan Takao sukses memecahkan kaca mata Midorima. Untuk kesekian kalinya pecah dalam 1 hari ini. Berapa banyak cadangan kaca mata Midorima yang di bawa sebenarnya?

"K-kau nanodayo" ucap midorima sangat amat pelang hampir seperti berbisik. Namun cukup terdengar oleh Takao, dan itu cukup membuatnya terkiki kegirangan

"OU SAMA WA DAREEEEE"

Lalu tiba-tiba aura hitam menguar ke seluruh ruangan. Semua tahu bahwa raja iblis telah bangkittttt, dan akhirnya AKASHI SEIJUUURO lah muncul sebagai raja

"La-lalu apa perintahmu Akashi" ucap Midorima keringat dingin

"Hmp, aku ingin Tetsuya, menciumku lebih dari 5 menit" ucap Akashi dengan seringai iblisnya, cukup membuat Kuroko tersedak dan kaca Midorima retak sampai ke bingkai-bingkainya

"..." Kuroko masih belum beranjak dari pangkuan Aomine

"Perintah raja adalah mutlah Tetsuya"

"Boleh aku bertanya Akashi-kun?" ucap Kuroko mulai menatap Akashi

"Apa Tetsuya"

"Setiap perintah tidak boleh di tarik bukan?"

"Emp" Akashi membenarkan

.
.

Lalu Kurokopun mulai melangkah, dengan amat sangat pelan ke tempat di mana akashi duduk. Lalu ia berlulut di depan Akashi.

Akashi hanya memandang kuroko dengan seringaiannya, lalu Kuroko pun memperaktekan apa yang beberapa waktu lalu Akashi ajarkan padanya

Kuroko menjilat leher Akashi, ehhhh? bukan bibir tapi leher!

Akashi yang terkejut dengan apa yang di lakukan Kuroko. Mulai menyadarkan diri

"Apa yang kau lakukan?" tegasnya dengan mata yang masih membulat

"Mencium Akashi-kun"

"Di leher?"

"Akashi-kun tidak pernah bilang di bibir bukan, yang penting aku mencium Akashi-kun lebih dari 5 menit" ucap Kuroko membuat Akashi mengerti pertanyaan sebelumnya, yang Kuroko utarakan

Perintah Akashi yang hanya meminta Kuroko untuk menciumnya tanpa menentukan dimana Kuroko harus mencium Akashi. Berarti Kuroko mencium di leher pun sah-sah saja

"Hahah, baiklah kalau begitu lanjutkan" ucap Akashi mulai menatap Kuroko kembali dengan mata dwiwarna Akashi yang mengkilat, membuat kesan aneh pada Kuroko, gugup? terpesona? atauuuu?

Lalu Kuroko pun kembali melanjutkan kegiatannya,

Awalnya dari jilatan, kemudian mencium leher akashi dari satu tempat ke tempat lain.

Menggigit kecil, lalu di jilatnya lagi

Sampai kiss mark ke merahan terbentuk

Semakin lama semakin keras gigitan pada leher Akashi

Tangan Akashi yang sedari tadi memeluki tubuh Kuroko

Tak menghalangi kegiatan Kuroko yang masih saja menciumi

Disana sini sibuk membuat tanda kepemilikan pada leher sang Raja

"Lebih keras~, Tetsuya" desah Akashi membisikan sangat pelan, hanya mereka berdua yang mendengarnya

Membuat Kuroko semakin keras menggigit leher Akashi, sampai pada Kuroko yang membenamkan wajahnya pada dada dan bahu Akashi. Membuat semua yang ada di ruangan ikut terdiam

Melihat Kuroko Tetsuya, yang begitu polos sangat menikmati menggigit dan mencium leher seorang Akashi (0/0)

"Ada apa Tetsuya mengapa berhenti?" Akashi mulai menarik lembut surai Kuroko ke belakang, membuat Kuroko harus menengadah

"Sudah lebih dari 5 menit" ucap Kuroko mulai berdiri dan melepaskan pelukan sang Akashi

Lalu Kurokopun kembali terduduk di pangkuan Aomine

Namun, ada yang aneh dengan Kuroko setelahnya?

Wajahnya terus tertunduk, poninya tak mau pergi dan terus menutupi wajah

Tanpa suara hanya mengikuti alur permainan

.

.

Di sisi Kuroko

Saat ia kembali duduk di pengkuan Aomine Ia melihat jelas kiss mark yang telah ia buat, pada leher sang Akashi Seijuuro Tampak jelas warna merah ke unguan, bentuk giginya tercetak jelas pada leher sang Akashi dan ada beberapa yang sedikit mengeluarkan darah.

Tapi mengapa melihat Akashi dengan begitu banyak kiss mark yang ia buat .

Jantungnya berdetak sangat cepat, bukan lagi karena Kagami tapi karena

Akashi?

Mengapa?

Wajahnya memanas?

sama seperti dulu,

Jantungnya tak mau diam?

sama seperti dulu,

Kepalnya tak mau berhenti memilirkan Akashi?

sama seperti dulu,

Saat ia masih menyukai Kagami?

Apa kini ia sudah menyukai akashi?

.

Tapi bila Akashi hanya di jadikan pelariannya, tanpa di sadari bagaimana?

.

Lalu setelah permainan selesai.

Semua melakukan aktifitas masing-masing, ada yang sedang bermain sogi (Akashi dan Midorima), ada yang sedang menonton TV, ada yang sedang di dapur (Himuro dan Murasakibara, Aomine dan Kagami) sedangkan Kuroko kembali ke kamarnya. Karena merasa lelah ia hendak segera tertidur

Namun sayang, wajahnya yang panas masih tak mau hilang, kepalanya terus dipenuhi oleh Akashi dan matanya yang berat memaksa ia terus segera menemukan kasur

BRUKKKK

Terdengar hantaman cukup keras, membuat semua terkejut Akashi yang paling cepat merespon. Sedangkan yang lain, masih bertanya-tanya suara apa itu?

Akashi berlari untuk mendatangi ruangan pertama. Ia mulai semakin mempercepat larinya sampai ia tersadar, pintu ruangan itu terbuka setengah

"Tet-" belum sempat ia berkeliling ke dalam ruangan

Ia sudah menemukan tubuh Kuroko yang tersungkur di depan kasur tanpa sempat menyentuh Kasur

"Tetsuya!" ucap Akashi menggema ke seluruh ruangan, membuat semua segera berlari mendatangi ruangan Kuroko

"Ak-kashi-kun? Ba-" ucap Kuroko tersadar tubuhnya sudah berada dalam pelukang sang Akashi

"Jangan bicara dulu. Sepertinya kau demam" ucap Akashi mulai mengangkat tubuh Kuroko

'Ringan? Ringan sekali, untuk ukuran siswa SMA' ucap Akashi dalam hati

"Oi Akashi ada apa? Eh?" Midorima datang paling awal di susul dengan yang lain

Tepat setelah Akashi meletakkan tubuh Kuroko di kasur

"Tetsuya demam, Shintaro. Kau ambil obat di dapur dan Tatsuya-san bisa buatkan air hangat. Daiki, Taiga pecahkan es untuk mengompres Tetsuya" perintah Akashi dan mereka semua langsung bergegas

"Ehhh~ Kuro-chin baik-baik saja? Apa masih sakit? Ini ku berikan maibo rasa vanilla, tapi satu ajah ya~" ucap Murasakibara cukup terdengar oleh Kuroko

"Hanya pusing, terima kasih Murasakibara-kun" ucap Kuroko mulai menaikan selimutnya di bantu oleh Takao. Sedang Akashi masih setia menemani di sisi Kuroko tanpa bersuara

.

.

SETELAH SEMUA BERKUMPUL KEMBALI

"Minum obat dulu" ucap Akashi mulai menopang tubuh Kuroko, membuat Kuroko bersandar pada dada bidang Akashi dan Kuroko pun menyadarinya. Ia meminum obat nya tanpa protes seperti biasa

Lalu kembali tertidur

"Kalian kembalilah" 2 kata yang mempu membubarkan para maniak bola basket di depannya dan Akashi mulai mengelus surai baby blue Kuroko, memudahkannya untuk terlelap

Akashi yang sedikit menyalahkan dirinya. Mungkin karena dirinya juga Kuroko sakit. Sepertinya dirinya sudah kelewat batas untuk kali ini. Bila besok Kuroko masih demam ia akan membawa kuroko kerumah sakit

"Tetsuya, apa sekarang kau membenciku?" gumam Akashi masih asik dengan surai baby blue Kuroko, memandang lekat wajah sang pujaan hati yang tengah terlelap

"Empp" jawab Kuroko sedikit menggeleng, menidakkan pertanyaan Akashi. mendapat jawaban, Akashi sangat terkejut, ternyata Kuroko belum juga terlelap

"Akashi-kun bisakah temani aku sampai aku terlelap" bisik Kuroko masih dengan mata terpejam

"Hmp tentu" ucap Akashi mulai merangkul tubuh Kuroko

"Aku mencitaimu Tetsuya" ucap Akashi membisikan Kuroko dengan sangat pelan

"Aku juga~" Jawaban singkat hampir seperti gumaman, membuat Akashi tak kalah terkejutnya. Entah mau berapa kali, Kuroko selalu mengejutkannya.
Senyum tulus yang sangat jarang ia perlihatkan, tercetak jelas saat Akashi memandang wajah tidur Kuroko

.

.

Besoknya, saat Kuroko terbangun ia melihat Akashi masih memeluknya, wajah merah padam pun mulai ketara jelas. Walau ekspresinya masih datar seperti biasa. Namun matanya jelas-jelas menggambarkan keterkejutan

Tanpa sengaja ia melihat leher Akashi yang terekspos jelas

Memperlihatkan kiss mark yang kemarin dirinya sendiri buat

Entahlah, apa kini ia sedang malu karena melihat tanda yang ia buat Sendiri, atau dia merasa bersalah. Karena, telah melukai seseorang yang belakangan ini membuat jantungnya tak mau berhenti

Karena itu, ia pun mulai bangkit melepaskan pelukan sang Akashi lalu pergi. Pergi? Kemana?

.

.

Ternyata Kuroko mengambil P3K di dapur, mengingat semalam.

Ia baru sadar bahwa kamarnya berserakan barang-barang, seperti kain basah, baskom dengan air dan beberapa bungkus obat-obatan

'Apa semalam aku demam?' gumamnya dalam hati

'Eh? Apa Akashi-kun mengompresku semalaman?' Lanjutnya mulai memperhatikan Akashi dengan baju yang tampak sedikit berantakan,
rambut yang tak serapih biasanya dan posisi tidur yang Kuroko yakin sangat tidak nyaman, wajah kuroko pun menjadi semakin merah

'Ahhhh? Apakah panasku belum turun?' gumamnya dalam hati menunduk menutupi wajahnya yang tengah memerah padam dengan poni

'Lalu mengapa hanya memikirkan Akashi-kun saja wajahku mulai terasa panas. Akhhh' entah mengapa gumamannya sendiri membuatnya kesal

.

.

Waktu sudah menunjukan pukul 7 pagi

Akashipun terbangun dengan tanpa Kuroko Tetsuya di pelukannya. Membuatnya sedikit panik, namun saat ia hendak mencari Kuroko tanpa sadar ia melihat cermin dan tampak leher jenjangnya sudah terbalut perban dengan rapih dan ia yakin hanya kuroko lah yang berani menyentuhnya tanpa ijin.

Lalu iapun bisa sedikit tenang, setidaknya ia rasa demam Kuroko sudah turun, kalau tidak bagaimana Kuroko bisa membalut perbannya sedemikian rapihnya.

di lapangan basket, Kagami dan Aomine sedang memulai permainan One To One, lalu Kuroko berdiri di samping lapangan dengan wajah yang sulit di artikan

"Oh, Kuroko kah?" ucap Kagami mulai menghentikan permainannya

"Ohayo Kagami-kun, Ohayo Aomine-kun"

"OOO Tetsu, bagaimana ke adaanmu? Sudah baikan?" ucap Aomine di menyusul Kagami, yang sudah berada di samping lapangan

"Emp, berkat semuanya" ucap Kuroko dengan nada yang flatttt abisss

"Oiya, Kagami-kun bisa kah kita bicara sebentar" ucap Kuroko yang menatap Kagami

"Oh ya tentu" ucap Kagami memandang Aomine, seolah meminta ijin dan Aomine pun hanya mengangguk. Pertanda di ijinkan

.

Setelah meraka berada di halaman belakang

"Oh Kuroko, kau ingin bicara apa?" ucap Kagami mulai memecah kesunyian

"..." namun Kuroko masih belum berbicara, ia tak tahu harus mulai dari mana

"Oiya selamat ya" ucap kagami dengan senyum polosnya

"Eh?" Kuroko tak mengerti mengapa Kagami memberinya ucapan selamatpun hanya memiringkan kepalanya

"Eh? Bukankah kau sudah berpacaran dengan Akashi?" ucapan Kagami sungguh sangat membuat Kuroko terkejut

"Eh?"

"Ehhh? jangan, ehhh doang? Benar apa enggak" ucap Kagami mulai protes dengan respon Kuroko yang hanya mengatakan dengan kepala bingung seperti itu

"Habis aku tidak berpacaran dengan Akashi-kun" ucap Kuroko dengan nada datar, seperti sedang membicarakan hal biasa

"Eh?"

"Jujur, dulu aku menyukai Kagami-kun-"

"EH? EHHHHHH" teriak Kagami mulai membuat Kuroko sedikit kesal

"Dulu!Kagami-kun. Responmu sangat menyebalkan" ucap Kuroko dengan wajah yang sedikit di tekukan

"Oiya tadi kau bilang dulu bukan? Lalu siapa yang sekarang kau sukai?" ucap Kagami seolah sudah memiliki jawaban

"Akashi? Jadi sekarang kau menyukai Akashi?" ucap Kagami membuat Kuroko sedikit terkejut dengan jawaban nya keluar dari mulut kagami, yang dapat di bilang super tidak peka

"Aku tidak menyukai Akashi-kun" ucap Kuroko berbohong. Iapun sedikit terkejut dengan jawaban yang ia berikan

"A-akashi?" ucap Kagami dengan wajah seperti sedang terkejut dan ketakutan di saat yang bersamaan

"Ka-kagami-k-"

"Tetsuya, ikut aku" Perintah Akashi, dengan nada teramat dingin. Membuat kuroko langsung membalikan tubuhnya melihat Akashi sedang berdiri tepat di belakangnya, namun ada yang tampak berbeda dengannya mata dwiwarna akashi kini tampak dingin. Wajahnya tak lagi menampakkan keistimewaan untuk Kuroko.

Sama seperti dulu, saat pertama kali ia berlatih sangat keras dulu dan Kuroko sadar akan apa yang selanjutnya terjadi.

Akashi dan Kuroko pergi meninggalkan Kagami seorang diri

Entah mengapa setelah itu mereka berdua tak pernah berbicara sekalipun, Sampai di terima kabar bahwa...

.
.

Akashi akan pidah sekolah ke luar negeri.

Eh? lalu siapa yang menjadi kapten basket di SMA Teiko?

Mengapa sangat mendadak?

Semenjak Kuroko berbicara dengan Kagami waktu itu.

Akashi tak pernah berbicara dengan kuroko?

Apa Akashi mendengar ucapan Kuroko waktu itu?

"Oi, Tetsu apa kau dengar Akashi minggu ini akan pindah sekolah" ucap Aomine mendekati Kuroko, yang sedang duduk di bangku samping lapangan

"Ehh?" pantas saja, belakangan ini Kuroko jarang meilhat akashi di lapangan.

Tetapi kenapa tiba-tiba bukan kah sebentar lagi akan ada pertandingan?

Apa karena ucapannya waktu itu?

"Oi Tetsu jangan melamunnn" ucap Aomine tersinggung karena di cuekin

"Ah? Maaf Aomine-kun" Lalu tanpa terduga orang yang di tunggu-tunggu pun menapakan diri di lapangan.

Namun Akashi tidak berpakaian basket,ia masih memakai seragam sekolah. Wajahnya menatap lurus pada pelatih,namun kuroko menatap Akashi tanpa berkedip. Setelah Akashi bertemu pelatih ia pun menemui Midorima seperti memberikan sesuatu, menu latihan kedepan?

Lalu tanpa sadar kaki Kuroko melangkah mendekati mereka

"Aka-" Belum selesai berbicara, Akashi sudah melewati Kuroko, mengabaikan keberadaannya, seolah memang kuroko tidak ada? Eh?

Walau keberadaan kuroko memang tipis, namun akashi selalu bisa menemukannya, tetapi kali ini sudah dapat di pastikan Akashi mengabaikannya, membuat Kuroko mematung tanpa berbalik mengejar Akashi sampai pada Akashi hilang di balik pintu.

"Akashi-kun?"

TBC