Disclaimer; Naruto © Masashi Kisimoto

"Hanya sebuah fanwork, tidak mengambil keuntungan material apa pun dalam pembuatannya."


Memoirs


"Uzumaki Naruto."

Awalnya Sasuke diam mendengar gurunya menyebut nama itu saat mengabsen. Biasanya ia bereaksi sedikit karena setidaknya pria itu sudah menganggapnya teman—tapi bagi Sasuke tidak. Ia tertawa ketir memikirkannya, yang langsung hilang ketika tak mendengar jawaban semangat yang biasa dilontar suara serak pria itu. Hening. Tidak ada suara. Dahinya mengernyit.

"Uzumaki Naruto?" Si guru mengulang. "Ada yang melihat Naruto? Di mana anak itu?"

Barulah Sasuke menoleh ke bangku tempat si pirang itu duduk. Kosong. Teman sekelas mereka tak ada satu pun yang menjawab.

"Anak itu bolos lagi?" Akhirnya guru itu berspekulasi sendiri. "Apa ada yang tahu di mana rumahnya?"

Sasuke iseng melirik teman sekelasnya, mereka serempak menggeleng.

Guru tua dengan kulit keriput dan rambutnya yang putih menua itu mendesah. Menutup buku catatan absensinya dan menggumam sendiri. Ia tampak sangat kesal. Sasuke menduga itu hanya karena wajahnya, guru itu punya wajah yang selalu terlihat tak senang. Nama guru itu adalah Hiruzen Sarutobi, beliau mengajar Sejarah khusus kelas tiga. Meskipun guru itu tak pernah neko-neko tetapi anak-anak biasa iseng menyebutnya Guru Monyet Prasejarah.

"Menurut data, Naruto tinggal di bagian selatan halte pusat kota," katanya tetiba, dari tempat duduk Sasuke merasa guru itu menatapnya agak lama. "Sasuke?"

Sasuke terlonjak meskipun ia tahu guru itu memang terlihat akan bicara padanya.

"Jarak rumahmu paling dekat dengan rumah Naruto. Keberatan untuk membantuku?"

Oh. Shit! Sasuke tidak mau, tapi kepalanya mengangguk.

Dan sekarang ia tahu bahwa ia sedang sial. Sejak awal keberuntungannya memang tidak berpihak semenjak ia bertemu dengan pirang itu. Sasuke hidup damai sekali sebelum mengenal Naruto. Bahkan ia pernah bersyukur karena anak-anak menyebutnya dingin seperti es batu—sehingga tak akan ada yang mau bicara dengan es batu. Atau terakhir ia mendengar juga Naruto menyebutnya batu prasasti.

Sesungguhnya itu menyakiti hatinya. Tapi ia tak bisa protes.

Tangga berkarat ke lantai dua dijejak Sasuke sambil mengumpat. Tempat ini tampak rapuh karena ketika ia menginjaknya, bangunan itu berderit seolah akan runtuh. Sasuke harus dua kali memastikan bahwa itu benar-benar tempat tinggal hanya karena rerumput di bawah kontrakan ini panjang seperti ilalang liar. Kenapa juga ia harus menuruti guru itu untuk mendatangi rumah Naruto dan memberinya surat peringatan?

"Di sini tertulis rumahnya bernomor 3."

Catatan kecil dari gurunya disimpan di saku, benda itu sudah lecek diremasnya sepanjang jalan.

"Satu, dua," Sasuke melirik pintu sambil melangkah. Hampir semua pintu di kontrakan tua itu tak terurus. "Huh? Kenapa tidak ada nomor tiga?"

Sasuke tak menemukan kontrakan nomor tiga. Sebaliknya ia melihat anak tangga lagi. Gila! Apa kontrakannya dan Naruto berniat membuatnya sial?

Dengan langkah berderap cepat, Sasuke lari naik ke anak tangga. Napasnya cepat. Kepala hampir meledak. Menoleh ke sana kemari, ia melangkah lagi, tak sabar lagi. Sampai di atas, tanpa sadar kakinya menginjak kulit pisang yang berbaring manis di lantai. Ia hilang keseimbangan. Tangan menggapai ember bekas cucian baju di teras balkon. Tumpah; ke mukanya.

Lalu tubuhnya jatuh di lantai besi berkarat plus basah kuyup.

"Ouch." Sasuke merintih karena pinggangnya sakit dan kakinya ngilu.

Angka 3 pada sebuah pintu kayu jelek mengoloknya.

"NARUTO!"

Pintu berderit terbuka.

"Apa?"

Sasuke mendongak karena suara itu. Lalu wajahnya merah. Ingin bangun tapi ngilu. "KAU—"

"Astaga!" Naruto sudah di dekatnya sebelum Sasuke sempat menyalak. "Kau tidak apa-apa?"

Sasuke tidak menyia-nyiakan uluran tangan yang diberikan tangan tan yang menonjolkan otot itu, meskipin faktanya ia gengsi—dan malu. Ia juga menbiarkan tangan lain yang memegang pinggangnya terasa kokoh dan kuat. Ia ditarik berdiri. Mendesis karena pinggangnya ngilu. Tapi sepertinya Naruto tak mendengarnya karena ia cepat-cepat menggeret Sasuke masuk dalam rumah yang ... kumuh?

Ew.

"Rumahku agak berantakan, jadi—"

Naruto diam melihat Sasuke menganga. Saat mulutnya terbuka seperti itu entah kenapa Sasuke terlihat lucu dan imut.

"Maklum saja, ya." Naruto nyengir.

Urat-urat di dahi Sasuke bermunculan. Tidak pernah ia melihat hal semengerikan ini di depan wajahnya. Botol kaleng bekas yang tak terhitung jumlahnya, sterofoam makan cepat saji, baju berserakan, celana dalam nangkring di kusen jendela terbuka, sampah kertas, genangan air di lantai yang mengering berwarna merah jambu (apa itu?), dan ini benar-benar membuatnya sangat marah.

"Minggir!" Tangan Sasuke mendorong dada Naruto yang telanjang dan berkeringat.

Huh?

"KENAPA KAU TIDAK PAKAI BAJU?!"

Usaha Sasuke mendorong sekuat tenaga membuatnya terjatuh karena sepertinya kaki yang ngilu membuatnya belum siap untuk berdiri sendiri.

Dan ia terjatuh di atas kaleng-kaleng yang berserak di lantai.

Naruto meringis. Cepat-cepat mengangkat tubuh Sasuke dan menariknya ke dekat kasur tipisnya. Tangannya dengan cekatan menggeser semua pakaian di sana dan mendudukkan tubuh Sasuke. Saat itu Sasuke terlalu shock untuk protes. Ia terdiam seumpama nyawanya hilang dimakan iblis dan ia menjadi alien.

Tapi tiba-tiba ia bersin.

Naruto langsung bergerak mengambil handuk, juga bajunya yang bersih di jemuran dan air putih.

Sasuke menatapnya kesal.

"Maafkan aku," kata Naruto sambil senyum kering. Ia melihat sesuatu yang basah dalam genggaman Sasuke. "Apa itu?"

"Surat."

Naruto ingin bertanya surat apa, tapi ia tidak tega melihat Sasuke menggigil. Diambilnya handuk dan bajunya lagi, menyuruh Sasuke untuk berganti.

Awalnya Sasuke diam. Tubuhnya menggigil menanggalkan harga dirinya. Ia masuk ke ruangan lain yang ditunjukkan Naruto. Sasuke berpikir pasti di dalamnya akan sama saja, tapi ia salah. Ruangan itu bersih. Memang tidak besar, ia hanya melihat lemari kaca berisi foto-foto dan meja kecil di pojok ruangan yang membuatnya membeku.

Di meja itu bersandar dua foto hitam putih yang bingkainya dikalungi sebuah rangkaian bunga.

Seorang lelaki dan wanita.

Sasuke mengepalkan tangan. Mengganti baju di ruangan lain yang tadi sempat diberitahukan. Sebuah kamar mandi. Ia keluar beberapa saat kemudian dan menemui Naruto yang tengah menyingkirkan sampah-sampah di ruangan.

"Aku—"

"Datanglah ke sekolah besok."

"Huh?" Naruto kaget. Lalu mengangguk. "Maaf."

Sasuke melempar surat dari gurunya ke lantai dan menatap Naruto seolah-olah ingin memukul. Tapi kemudian ia membuang mukanya.

Tak pamit. Ia pergi. Ia mengalah.

Dan ia menandai kesialan hari ini sebagai peringatan bahwa ia ... punya orang tua yang masih lengkap.


tbc ...