Sometimes Someone

by Megumi Kei

RevRep:

Zanpaku nee: Karena Ichigo bukan tipe yg polos dicerita ini, makanya dia bakalan lebih agresif =)) *plak* Yep! Bya-kun pasti dimunculin karena idemu itu bikin saya gatel2 pengen nulis. Tapi, kemunculannya disesuaikan dengan kondisi seperti yg di a/n yg saya jabarin dibawah ya :)

Kazugami Saichi Hakuraichi: Trims udah menyempatkan diri untuk mereview, say! Love ya! XD *hug eret*

katskrom: Saran diterima dengan senang hati! XD Tapi dengan kondisi Renji n Rukia sebenarnya bukan pasangan :))" ByaIchi doakan aja bakalan ada. Coba cek a/n yg ada dibawah untuk lebih jelasnya mengenai fic ini ya! :D

Disclaimer:

I don't own Bleach, it's Kubo Tite. I used it just for fun...

Words Count:

2.232 —tidak termasuk a/n


Fifth, Sixth, and Final Phase


Mati.

Habislah sudah.

Renji mengerang. Orang terakhir yang ia inginkan berkunjung ke apartemennya saat ini adalah gadis mungil yang tengah melemparkan tatapan membunuh padanya. Kuchiki Rukia. Gadis terhormat dari keluarga darah biru Kuchiki. Ia tidak ingat pernah membuat janji dengan sang gadis untuk bertemu malam-malam begini, jadi ia yakin kehadiran Rukia saat ini didepan pintu apartemennya berkaitan erat dengan pemuda bersurai oranye yang tengah terlelap dengan nyaman diatas ranjangnya.

"Apa yang kau inginkan, Kuchiki?"

Kuchiki.

Semenjak Renji mengetahui reaksi yang diberikan Rukia padanya saat ia memberi-tahukan sang gadis jika dirinya adalah gay, ia tidak pernah sekalipun memanggil nama kecil gadis itu lagi. Ia bahkan tidak bergeming ketika kedua iris keunguan Rukia nampak mengeras mendengarnya, sebelum kemudian menatapnya dengan tatapan tajam.

"Aku kesini bukan untuk berurusan denganmu, Abarai. Minggir."

Ichigo sampai saat ini masih belum tahu, kalau terjadi perang dingin diantara kedua sahabatnya. Jika tidak ada Ichigo, baik Renji maupun Rukia akan saling melemparkan tantrum satu sama lain. Mereka hanya tidak ingin melukai perasaan Ichigo, sehingga terus menyembunyikannya selama ini.

Geraman yang dikeluarkan Renji sempat membuat bulu kuduk sang putri Kuchiki meremang, namun ia tetap kuat dalam pendiriannya, "Asal kau tahu, ini rumahku. Apa pun yang terjadi didalamnya akan menjadi urusanku."

"Oh, for Heaven sakes, Abarai," Rukia mendesis, merasakan kemarahan mulai menggerogoti pita suaranya, "Aku tahu dari Isshin-jiisan kalau Ichigo ada disini. Sekarang, biarkan aku bertemu dengannya!" Sepenuh tenaga ia mendorong Renji hingga memberikan ruang untuknya masuk kedalam apartemen. Namun, apa yang ia lihat membuat nafasnya tercekat.

Ichigo.

Berdiri diambang pintu, rambut oranye yang jauh lebih berantakan dari sebelumnya, tanpa pakaian, dan hanya ditutupi oleh celana boxer bermotif tribal yang ia yakini sebagai milik Renji—karena memang hanya pemuda bersurai merah itu yang memiliki obsesi terhadap tribal.

"Rukia? Apa yang kau lakukan disini?"

Suara serak seperti mau habis karena berteriak, membuat keringat dingin menuruni tengkuk sang putri Kuchiki.

Ia gemetar.

XXX

Dikatakan ia terkejut melihat kedatangan Rukia, sebenarnya tidak juga. Karena bukanlah suatu keanehan jika seorang teman mendatangi teman lainnya, walaupun waktu sudah larut. Yang ia bingung, gadis itu berpakaian sangat rapih. Seperti yang hendak ke pesta pernikahan, atau...

Oh, shit.

"Gomen ne, Rukia... Aku lupa kalau hari ini ulang tahun Byakuya." Pikirannya belakangan ini memang tidak fokus, tidak heran jika ia melupakan satu atau dua hal. Tapi, kalau sampai melupakan hari yang penting bagi gadis mungil itu, tentu saja ia merasa sangat bersalah. Apalagi Rukia saat ini hanya diam, tapi kelihatannya gadis itu akan meledak kapan pun. Satu hal yang paling ia takuti, adalah jika Rukia mengamuk.

"Ano... Ru—"

"Apa yang kau lakukan disini, Ichigo?"

Terdiam, Ichigo menatap kearah Rukia. Suara yang dikeluarkan putri Kuchiki itu menandakan kalau ia sedang tidak main-main saat ini. Dan entah mengapa, perasaannya mengatakan kalau hal itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan dirinya yang lupa mengenai ulang tahun kakak dari sang gadis.

"Maafkan aku, Rukia. Bagaimana kalau besok—"

Dan kata-katanya lagi-lagi dipotong oleh sang gadis, kali ini dengan suara yang mendesis. "Kutanyakan sekali lagi. Apa. Yang. Kau. Lakukan. Di sini. I-chi-go?" Penekanan demi penekanan yang gadis itu berikan membuat Ichigo terperangah. Ia tidak tahu harus berkata bagaimana karena Rukia kelihatannya marah sekali.

Dan tidak mungkin ia mengatakan yang sebenarnya mengenai apa yang baru saja ia lakukan bersama Renji.

Sepasang iris madu Ichigo beralih sesaat menatap kearah sang pemuda bersurai merah yang kini masih berdiri diambang pintu masuk. Bisa ia lihat emosi yang tidak ia mengerti maknanya berkelebat dalam sepasang iris gelap sang pemuda. Ichigo mengerutkan alis. Ia tidak mengerti mengapa Rukia begitu marah. Yang ia tahu, ketidak-mengertiannya itu akan berbalik padanya dengan cara yang sangat tidak enak jika Rukia sampai benar-benar meledak.

Yang ia takutkan, kemarahan gadis itu adalah karena ia menangkap sesuatu terjadi diantara dirinya dan Renji.

Yang bisa ia lakukan, hanya berpura-pura tidak tahu, "Err... Mengerjakan tugas sama-sama. Kau tahu? Mengenai tugas yang diberikan oleh Urahara-sensei kemarin ini...?" Ichigo bukanlah seseorang yang pandai berbohong, tapi sungguh ia berharap alasan yang ia keluarkan bisa lebih baik daripada ini.

"... Begitu?" Tersenyum penuh kecurigaan, Rukia melangkah mendekati Ichigo dan menarik karet boxer yang pemuda bersurai oranye itu tengah kenakan, "Mengerjakan tugas sama-sama dan kau memutuskan untuk mengenakan boxer milik Renji setelah ia menanggalkan pakaianmu demi... tugas?" Ichigo tersentak kecil mendengar nada suara menusuk yang Rukia layangkan padanya. Merasa puas dengan reaksi sang pemuda, Rukia melanjutkan, "Hmm, Coba kutebak... Jalanmu saat ini pasti agak pincang," Perlahan, gadis itu menggerakkan jemarinya ke tubuh atas sang pemuda. Kedua iris keunguannya semakin terlihat mengeras ketika menyadari suhu tubuh Ichigo, "And you must smelled like sex because of your assignment?" Dengan sengaja Rukia menarik wajah Ichigo hingga kedua mata mereka bisa saling berhadapan, "Haruskah begitu, Ichigo?"

Rukia tahu.

Dan dari reaksi gadis itu saat ini, tidak akan berbuah bagus jika Ichigo mengiyakan.

Fuck. Inilah alasan mengapa dirinya tidak mau mengiyakan seksualitasnya sendiri beberapa waktu lalu. Karena ia tahu, kenyataan akan menampar keras wajahnya. Ichigo hanya menunduk, tidak berani ia menatap kedua iris keunguan Rukia seolah pandangan yang ia terima akan sanggup membunuhnya. Karena Rukia marah. Karena Rukia kecewa. Karena Rukia...

Sakit.

Bisa ia lihat rasa sakit sang gadis dikedua bola matanya. Dan ia tidak bodoh untuk tidak bisa menebak, bahwa dirinyalah yang menyebabkannya.

"... Maaf..."

Kurang.

Maaf saja tidak akan pernah cukup untuk mengobati rasa sakit yang dirasakan oleh Rukia. Dan gemetar yang ia rasakan terjadi pada kedua tangan yang menggenggam wajahnya itu—Kami-sama... Ia merasa menjadi orang paling jahat yang pernah ada. Yang paling kejam. Karena ia tahu saat ini Rukia pasti mengira—

"Apa ini alasan kau tidak langsung memberikan jawaban ketika aku menyatakan perasaanku padamu?"

"BUKAN!" Panik melanda, karena Ichigo sudah menduga itulah yang sang gadis pikirkan. "Bukan itu, Rukia! Saat itu aku—" Rukia mengangkat tangannya sehingga ia terpaksa menghentikan kata-katanya yang seharusnya berisi penjelasan, agar Rukia tidak salah paham dan semakin sakit, agar dirinya tidak menjadi orang brengsek yang menggantungkan perasaan seorang gadis hanya karena tidak bisa mengakui dirinya sendiri.

Karena alasan yang sebenarnya...

"RUKIA!"

Ichigo tahu saat Rukia berlari darinya, tidak melihat lagi kebelakang dan hanya terus berlari tanpa mempedulikan panggilan yang ia berikan, ia kehilangan satu sahabat yang sangat ia sayangi.

XOXOXO

"Achooo!"

Merinding akan udara dingin yang mulai menusuk tulang, ia naikkan posisi syal yang melingkari lehernya sebelum masuk ke dalam sebuah supermarket 24 jam dengan secarik kertas ditangan kirinya. Udara menjadi semakin dingin ketika tanggalan waktu pada bulan November sudah mulai habis. Desember hanya tinggal beberapa langkah kedepan, dan salju dipastikan turun sehingga membuatnya diharuskan segera membeli kotatsu yang jauh lebih hangat, mengingat yang dirumahnya saat ini sudah sering ngadat.

Tapi sebelumnya, ia harus membeli bahan-bahan untuk makan malam nanti. Dan ia menuju area bawang bombay terlebih dahulu karena tempat itu yang paling dekat dengannya saat ini.

Ketika tengah memilih-milih bawang yang kondisinya baik, mau tidak mau pikiran Ichigo sedikit melayang ke malam yang baginya mengubah keseluruhan hidupnya. Sudah sebulan berlalu semenjak saat itu, dan berapa kali pun ia mencoba mendekati Rukia, gadis bersurai raven itu selalu langsung menjauh tanpa melirikkan pandangan sedikit pun kearahnya. Seolah ia tidak ada.

Dan ia tidak pernah bisa menyalahkan reaksi sang gadis.

Karena ia sadar betul, sikap Rukia yang menjadi dingin itu adalah karena kesalahannya sendiri. Seandainya ia bisa lebih tegas dan tidak menggantungkan perasaan Rukia, ia masih bisa berharap hal ini tidak akan terjadi.

Walau Renji mengatakan, menggantungkan atau tidak, sikap Rukia akan sama saja.

Sudah ia duga, memang ada sesuatu yang terjadi diantara keduanya yang selama ini tidak ia ketahui, dan nampaknya beralasan sama dengan apa yang terjadi antara dirinya dan Rukia.

Ichigo menghela nafas, menahan rasa sakit yang ia rasakan dihatinya setiap kali ia berpikir mengenai Rukia. Ia benar-benar menyesal, dan bingung harus bagaimana lagi agar Rukia mau mendengarkan kata-katanya. Ia terlalu terlarut dalam pikirannya sendiri sehingga ia tidak sadar tengah memutar-mutarkan bawang bombay ditangannya sampai bawang itu terjatuh, "Oh." Bawang itu menggelinding, dan ketika ia membungkuk untuk mengambilnya, seseorang sudah mengambilnya terlebih dahulu.

"Ah, terima kasih,"

Ia berharap tidak mendongak dan menatap wajah orang yang membantunya itu. Karena saat ini sepasang iris madunya berhadapan langsung dengan sepasang iris biru yang berusaha ia hilangkan dari ingatannya selama ini.

Grimmjow.

Berdiri dihadapannya dengan tubuhnya yang tegap dan lebih tinggi darinya. Menatap kearahnya dengan kedua alis yang terangkat, dan kata-kata yang ia keluarkan selanjutnya seolah mampu membuat jantung Ichigo berhenti saat itu juga, "Hm? Kau si Strawberry yang menjadi langganan Las Noches itu kan?"

Ia jadi merasa bahwa dirinya tengah bermimpi.

Walau kata-kata yang dikeluarkan Grimmjow saat itu adalah kata-kata yang biasa bagi orang lain, tapi bagi Ichigo merupakan sebuah bukti bahwa pria itu pada kenyataannya menyadari keberadaan dirinya.

Tapi... Strawberry?

Kening berkerut, Ichigo menyambar bawang bombay yang terulurkan padanya. Sebesar apa pun rasa sukanya pada Grimmjow, kelihatannya masih belum bisa mengalahkan rasa bencinya terhadap kata Strawberry yang dilayangkan kepadanya. Kenapa sih semua orang selalu memanggilnya seperti itu? Itu kan bukan arti namanya yang sebenarnya. Tapi—Ichigo mengerjap—ia tidak yakin kalau ia pernah memberitahukan namanya kepada Grimmjow.

Heck. Mereka kan belum pernah mengobrol satu sama lain, hanya sebatas "pesan apa" atau "makanannya akan siap 15 menit lagi". Hanya sebatas pelanggan dan pekerja saja.

Ichigo menatap bingung kearah Grimmjow, dan dibuat berdebar ketika pria bersurai biru itu menyeringai kecil. Dan kembali mengatakan hal yang membuatnya ingin langsung terbang ke surga ketujuh, "Aku tidak menyangka kalau kau menyukai makanan yang serupa dengan namamu. Apa kau kanibal?" Biasanya jika ada yang berkata begitu padanya, maka akan bisa ia pastikan rumah sakit Karakura akan mendapatkan pasien baru hari itu. Tapi, kenyataan lain yang berada dibaliknya hanya mampu membuatnya terpaku.

"... Kaien?" Ia yakin pekerja Las Noches yang tahu mengenai namanya hanya Kaien yang memang dekat dengannya.

"Hm? Ah, ya. Aku menanyakan namamu padanya."

Satu pernyataan itu sanggup meruntuhkan seluruh ketetapan yang selama ini ia buat. Mengenai dirinya yang akan melupakan Grimmjow, melupakan perasaannya pada Grimmjow, melupakan bahwa Grimmjow-lah yang membuatnya menyadari mengenai seksualitasnya.

Pernyataan yang mengatakan bahwa Grimmjow menyadari keberadaan dirinya bahkan hingga bertanya mengenainya kepada Kaien.

Tapi, Ichigo pun tidak mau sampai terlalu terlena karena ia masih belum lupa mengenai cincin yang tersemat dijari sang pria. Ia hanya ingin menikmati saat ini saja. Saat yang tidak ia sangka akan membuatnya mengobrol bersama Grimmjow sembari berbelanja. Memberikan komentar akan belanjaan masing-masing. Bersenda gurau sampai tiba saatnya mereka berjalan kearah yang berbeda ketika keluar dari supermarket.

"Aku pulang."

"Selamat datang, Ichi-nii." Seperti biasa, Yuzu selalu menyambutnya ketika ia pulang ke rumah.

Ia letakkan belanjaannya diatas counter dapur, "Semua bahan yang kau butuhkan lengkap, Yuzu. Dan kotatsunya baru akan dikirimkan nanti malam." Saat itulah ia sadari adiknya itu menatapnya sambil senyum-senyum sehingga membuatnya bertanya-tanya, "Ada apa, Yuzu?"

Yuzu menggeleng ringan, "Tidak, Ichi-nii, hanya saja kelihatannya Ichi-nii sedang senang ya?"

Ichigo tertawa kecil, "Ya. Ada hal baik yang terjadi hari ini."

Tidak masalah ia menikmati rasa senangnya dan mengesampingkan masalah lainnya saat ini kan? Biarlah ia kelihatan bodoh karena sering kali giggling seperti anak cewek SMA yang baru dinyatakan cinta oleh idamannya.

XOXOXO

Jalanan terlihat begitu ramai dan sibuk. Orang-orang berlalu lalang berpasangan atau sendirian sembari menenteng plastik belanjaan besar. Berbagai hiasan kecil bertebaran ditepian jalan, dan dihadapan toko-toko yang masih beroperasi. Di dalam salah satu toko besar terdapat sebarisan anak-anak yang menunggu giliran untuk duduk dipangkuan Santa dan mengutarakan keinginannya untuk natal tahun ini. Mereka tertawa dan nampak begitu riang saat pria berjanggut tebal dan gemuk yang mengenakan pakaian serba merah itu mengusap-usap kepala mereka.

Ichigo tersenyum melihatnya. Dan senyuman diwajahnya semakin melebar saat ia melihat giliran yuzu lah yang sekarang berada dihadapan Santa. Tidak seperti tahun-tahun lalu dimana adik kecilnya itu masih bisa duduk dipangkuan Santa, Yuzu yang sekarang ini sudah semakin besar hanya memilih untuk berdiri dihadapannya dan mengutarakan keinginannya bersamaan dengan kembarannya, Karin.

Mereka tahu kalau Santa itu sebenarnya tidak ada.

Mereka sengaja melakukan hal itu agar ayahnya yang bodoh dan tengah menangis haru sembari memegang kamera dslr ditangannya itu akan benar-benar mewujudkan permintaan keduanya. Yuzu menginginkan set peralatan masak dan makan yang baru, dan Karin menginginkan bola serta sepatu sepak bola yang baru.

Ia yakin nanti malam dirinya akan ditarik-tarik oleh sang ayah untuk mengitari area perbelanjaan.

"Yuzu dan Karin benar-benar cerdik, eh?" Renji terkekeh-kekeh disebelahnya dengan pandangan yang terus mengarah kepada barisan anak-anak yang ada didepannya.

"Yeah. Mereka belajar untuk 'percaya kepada Santa' setelah beberapa tahun lalu mereka hanya mendapatkan angpao saat Natal." Jawab Ichigo tidak kalah gelinya. Kekehannya perlahan berhenti, "Hei, Renji." Ia tidak langsung melanjutkan kata-katanya dan menunggu hingga perhatian pemuda disebelahnya itu tertuju penuh kepadanya. "Kurasa... aku tidak akan pernah bisa melupakan dia." Senyum simpul mengembang diwajahnya, menandakan keputusannya yang bulat.

Apa pun konsekuensinya.

"Tapi, bukan berarti aku juga akan stuck seperti ini terus."

Renji yang tadi hanya mendengarkan, kini ikut tersenyum bersama Ichigo. Senyumnya menjadi semakin lebar saat mendengar gerutuan yang keluar dari mulut Ichigo ketika ia mengacak-acak surai oranyenya, "Kurasa aku hanya bisa mensupportmu dari belakang."

"Terima kasih, Renji."

Tujuh fase ia rasakan berjalan dan memberikan pengaruh besar dalam hidupnya pada tahun ini. Mulai dari sebuah pertemuan yang kemudian memberikan kesadaran padanya. Menikmati saat-saat ia memandang orang yang tidak pernah mau keluar dari pikirannya bahkan hingga menimbulkan kecurigaan dari orang terdekat, kenyataan lain yang membuatnya mengambil keputusan besar walau kemudian pada akhirnya runtuh juga, kehilangan, dan pertemuan yang kedua yang berlanjut kepada ketetapan yang ia rasakan kini.

Ichigo akan terus mencintai Grimmjow—entah sampai kapan. Tapi, ia tidak akan mengganggu kehidupan pribadi sang pria yang nampaknya damai. Walau hanya memandang dan terus berjalan kedepan, rasanya tidak akan merugikan dirinya.

Yang penting ia tidak menipu diri sendiri lagi.

Iya kan?


END


Yep. Bener. End. Sometimes Someone cuma sampai di sini karena memang fic ini dibuat untuk memenuhi challenge 7 Phase of Life, jadi kalau dibuat lebih panjang lagi, bakalan ngga nyambung sama challenge-nya. Saya putuskan untuk menghentikan fic ini sampai di sini. Tapi, karena semenjak awal fic ini hanya berupa "PREQUEL", jadi pastinya bakalan ada lanjutannya. Lagipula, ide yang dilancarkan oleh beberapa reviewer cukup menggelitik keinginan saya untuk menulis lanjutannya. Hanya saja, saya perlu memastikan dulu kalau cerita ini pantas untuk dilanjutkan ke sequel atau malah berhenti cukup sampai sini karena ceritanya payah :)

Terima kasih sudah membaca dan review kalau berkenan! :D