Bagian Tiga
Si Cantik Clara dan malaikat maut
Sungmin merasa usahanya untuk membantu Clara, selama seminggu ini, tidak membuahkan hasil. Sungmin benar-benar putus asa. Sungmin sudah bertemu dengan si adik pembunuh dan membuat hipotesa bodoh tentang si adik: dia sama sekali tidak lebih cantik dari Clara. Kalau Sungmin tidak salah nama si adik adalah Tiara. Mereka datang ke makam Clara kemarin dan mantan calon suami Clara menangis selama beberapa menit disana. Sungmin bahkan sengaja bolos kuliah hari itu hanya demi melihat Tiara dan er—Frans. Ya, Fransicus, suami Tiara.
"Selamat siang, Clara-ku sayang. Apa kabar? Apa kau bisa melihatku sekarang?" Frans berkata sambil mengusap air matanya. Sungmin sedikit tersentuh mendengarnya. Dari situ Sungmin bahkan bisa merasakan betapa besar cinta Frans kepada Clara. Sungmin mentap kesal pada Tiara. "Dasar perempuan penggoda." kata Sungmin ketus. Sungmin bahkan hampir berlari dari persembunyiannya, di balik pohon beringin besar, dan menjambak Tiara kalau Clara tidak memperingatinya. Bayangkan saja! Tiara tersenyum sinis di belakang Frans yang sedang berlutut sambil menangis. Si perempuan tidak tahu diri itu bahkan berkata "Maaf kak, tapi aku yang mendapatkannya. Aku hamil. Aku sudah menjadi isterinya dan sayangnya kau... sudah… mati." lalu berlari menyusul suaminya yang sudah berada di dalam mobil. Demi apa pun yang ada di dunia ini! Sungmin ingin sekali mencakar wajah perempuan itu!
Parahnya lagi saat Sungmin menoleh ke arah Clara, sosok itu sedang menatap punggung adiknya sedih. Sedih, ya. Itu murni kesedihan. Itu tatapan kasihan pada Tiara. Clara yang baik.
"Bagaimana bisa sih kau punya adik seperti dia?" Sungmin sengaja menghina Tiara lagi untuk mencairkan suasana. Oh.. tidak. Apakah Sungmin sedah berbaik hati dan memikirkan perasaan orang mati sekarang? Mengerikan.
Clara mentap Sungmin sambil sedikit tersenyum. Darah yang terus mengalir dari matanya sedikit merusak senyumnya namun Sungmin senang Clara bisa tersenyum. Ih… menyebalkan sekali sudah mati dan wajahnya penuh darah tapi tetap saja cantik.
"Oh... ayolah Clara. Kita pasti bisa melakukannya!" Sungmin tersenyum lagi.
Sungmin tahu ini tidak akan mudah. Angel bahkan sekarang tidak yakin dengan semuanya. Si adik tidak tahu diri itu harus di penjara! Dan… apa tadi dia bilang? Sayangnya kau sudah mati? Hahaha. Lucu sekali. Baiklah. Sungmin akan menujukan bahwa kematian bukanlah akhirnya. Bagaimana pun bangkai jika disembunyikan akan tercium baunya. Sungmin tersenyum puas.
"Clara… recana pertama, kita buat dia merasa bersalah dan dihantui. Unutk pekerjaan ini, aku akan sangat mengandalkanmu!" Sungmin berkata penuh semangat.
.
Matahari sudah tenggelam sejak beberapa jam yang lalu. Sungmin sedang sibuk mencari makam Clara. Sungmin merasa sangat bodoh. Dia 'kan sudah sering kesini!
Sungmin menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan kesal. "Dimana sih? Kenapa aku jadi lupa begini…" Sungmin terus mengerutu sampai dia melihat sesosok tinggi dengan jubah hitam yang panjang sedang berjongkok di depan sebuah makam. "Clara! Itu makam Clara!" Sungmin berteriak dalam hatinya. Apakah sosok itu manusia? Atau hantu? Atau… apa? Sungmin berdiri sekitar lima sampai enam meter dari makam Clara dan berniat untuk bersembunyi.
"Hihihhihi..." Sungmin mendongak ke atas pohon beringin besar tempatnya besembunyi dengan garang.
"Ssshhh… hantu penunggu pohon! Jangan berisik" bisik Sungmin Angel.
Sungmin kembali memfokuskan dirinya pada sosok tinggi dengan jubah hitam itu. Dimana Clara saat sedang dibutuhkan sih?
Sosok itu berdiri dan sebuah kilatan cahaya tiba-tiba menyilaukan mata Sungmin. Sungmin mengernyit sebentar lalu melolot. Parang! Sosok itu membawa sebuah parang yang terlihat sangat tajam! Astaga! Dia juga membawa cangkul. Sungmin bergedik ngeri. Jangan-jangan…. Pencuri mayat!
Sungmin menutup mulutnya yang hampir berteriak. Bisa-bisa Sungmin dibunuh kalau sampai dia berteriak atau apa. Sungmin tiba-tiba merasa hantu tanpa kepala tidak menyeramkan sama sekali. Sungmin berjongkok tepat dibelakang pohon beringin itu dan mulai menggit bibirnya gugup.
"Clara…" Sungmin mengumam pelan. Keadaannya akan buruk karena hantu penunggu pohon tidak berhenti tertawa membuat Sungmin kesal.
Tubuh Sungmin menegang saat tiba-tiba Sungmin merasakan ada sebuah tepukan di pundaknya. Sungmin menoleh dengan takut lalu berteriak sekeras yang dia bisa. Sosok tinggi dengan jubah hitam itu ada tepat di depannya!
"Huwaaaaaa….. jangan bunuh aku!" Sungmin berteriak sambil berlari secepat yang dia bisa.
.
Sungmin membanting pintu rumahnya dan menguncinya rapat-rapat. Sungmin langsung berlari ke kamarnya dan bersembunyi di balik selimut tebalnya.
"Apa itu tadi? Dia bukan pencuri mayat. Wajahnya terlihat sangat kejam. Huhuhuhuhu" Sungmin berkata sambil melirik kesekeliling kamarnya takut-takut.
"Apa jangan… jangan.. maiaikat maut? Hiiiiyy.." Sungmin bersumpah akan memarahi Clara habis-habisan setelah ini.
.
"Halo? Ibu? Ada apa?" Sungmin sedang menjawab telepon dari ibunya. Ibunya sudah tidak pulang selama dua minggu dan Sungmin heran kenapa ibunya meneleponnya sekarang.
"Ibu akan pulang nanti sore –sekitar jam lima."
"Ya? Lalu? Aku akan pulang sedikit malam, bu." Sungmin beralasan. Sejujurnya, Sungmin sedikit malas bertemu ibunya.
"Oh begitu? Tidak bisa temani ibu ya? Ibu akan pergi ke rumah seorang teman." Sungmin mengernyit. Apa-apaan ini? Ibunya pasti menrencanakan sesuatu.
"Ibu… ingin aku melakukan apa? Katakan saja secara langsung." Sungmin memutar boal matanya.
"Aku tahu kau bisa diandalkan. Sebelum jam enam kau sudah harus ada di rumah. Hati-hati ya." ibunya langsung memutus sambungan telepon. Sungmin menatap garang telepon gengamnya.
"Ibu!" Sungmin meneriaki telepon gengemanya penuh amarah walapun dia tahu ibunya tidak mungkin dengar.
.
Sungmin memasang tampang masam sepanjang perjalanan dengan ibunya. Ibunya yang menyadari hal itu hanya tersenyum kecut.
"Kau tidak suka pergi dengan ibu?" ibunya membuka pecakapan.
"Ibu pemaksa sih. Aku kan sudah ada janji." Sungmin mendengus sebal.
"Janji? Dengan siapa? Pria?" ibunya tersenyum penuh selidik.
"Tidak. Tidak mungkin ada yang mau berhubungan dengan gadis aneh sepertiku." Sungmin berkata sambil terus menatap ke luar jendela mobil. Aku 'kanada janji dengan Clara!
"Jangan begitu. Tentu saja banyak yang mau behubungan dengan anak ibu." ibunya tiba-tiba tersenyum senang dan Sungmin tahu persis senyum itu. Senyuman licik.
"Ibu.. ibu sedang merencanakan apa? Kenapa aku harus ikut?" kali ini Sungmin menatap tajam ibunya.
"Kita sampai." kata ibunya sambil tersenyum manis. Sungmin tiba-tiba merasa takut. Sungmin menatap rumah besar yang ada di depan mereka. Apa ini…
"Ibu… aku tidak mau turun sampai ibu menceritakannya." Sungmin melipat kedua tangannya di dada sambil memberi ibunya tampang penuh kemenangan. Ibunya berdiam diri untuk beberapa saat kemudian berkata "Apa kau mau bertemu dengan pria tampan yang mapan?"
.
Sungmin duduk dengan hati berdebar di ruang tamu rumah besar itu. "Ibu… aku tidak yakin akan ini semua." Sungmin berbisik pada ibunya. "Tidak. Ini kesempatan bagus. Aku bosan melihatmu sendirian terus." ibunya tersenyum. "Ibu bercanda 'kan?" Sungmin menjatuhkan kepalanya di pahanya dengan lemas.
"Kau ini kenapa? Kan hanya berkenalan." ibunya menambahkan. Angel tetap menyembunyikan wajahnya. Kesal. Sungmin sangat kesal. Kenapa sih tadi dia mau ikut masuk?
"Oh.. ya ampun! Leeteuk!" Sungmin mendengar suara seorang wanita tua memanggil nama ibunya. Sungmin mendongak dan mendapati seorang wanita cantik yang kira-kira sedang berada di usia 40.
"Hai… apa kabar? Ah… kenalkan ini anak ku, Sungmin." ibunya menunjuk Sungmin dengan senyuman manis. Mau tak mau Sungmin tersenyum hambar. "Oh… halo. Bibi, Ak..aku Sungmin." Sungmin berkata sambil terus memasang senyum palsunya.
"Oh… cantik sekali." wanita itu berkata membuat Sungmin sedikit malu.
"Kalian mau minum apa?" wanita itu bertanya setelah mereka duduk nyaman di sofa.
"Ah… tidak usah repot." ibunya tersenyum untuk sekian kalinya.
"Tentu saja harus repot, kalian 'kan tamu." wanita itu menyanggah sambil sedikit menepuk punggung ibunya.
.
Sungmin bosan. Benar-benar bosan. Omongan mereka benar-benar tidak nyambung. Tentu saja Sungmin masih 18 tahun! Sungmin menyesal ikut. Sungmin memutuskan untuk menatap kesekeliling rumah besar itu. Warna kuning keemasan. Terlihat sangat mewah dan… mahal. Bibi ini pasti benar-benar kaya.
"Ah… Kyuhyun bilang dia akan pulang sebentar untuk mengambil barang-barangnya yang masih tertinggal." Sungmin mendongak, dia mulai tertarik. Kyuhyun? Apa itu si pria tampan dan mapan?
"Ah... iya Kyuhyun memutuskan untuk tinggal sendiri, ya?" ibunya berkata sambil sesekali melirik Sungmin. Sungmin hampir mendengus kalau dia tidak mendengar sabuah suara yang serak.
"Ibu… aku hanya pulang sebentar untuk ambil beberapa berkas yang tertinggal… oh. Ada tamu. Maaf." Sungmin menelan ludahnya dan memberanikan diri untuk melihat asal suara itu.
Oh... Tuhan!
"Ahh…" Sungmin menjerit keras dan membuat yang lain binggung.
"Ada apa?" ibunya bertanya.
"Sungmin sayang, apa kau baik-baik saja?" bibi itu juga bertanya.
Sungmin tersenyum kaku. "Ah.. tadi.. tiba-tiba seperti ada yang mengigit kakiku." Sungmin beralasan sambil memeriksa kakinya yang baik-baik saja.
Sungmin melihat pria di depannya. Sial, pria ini benar-benar tampan! Sungmin tidak bisa berbohong.
"Oh Kyuhyun, kenalkan, ini Sungmin anak bibi Leeteuk." bibi-yang-tidak-Sungmin-ketahui-namanya-itu berkata.
"Oh.. hai, Sungmin. Kyuhyun." kata pria tampan itu sambil mengulurkan tangannya. Sungmin hanya menatap tanganya dengan bingung namun sedetik kemudian Sungmin menyambar tangannya dan berkata singkat "Sungmin."
"nah, maafkan aku, bi. Aku harus pergi. Keadaan apartemenku masih kacau." Kyuhyun berkata dengan sebuah senyuman. Sungmin lihat itu! Senyumannya tidak sampai ke matanya. Jangan-jangan pria ini adalah pria arogan? Sungmin membulatkan matanya. Hiiyyyy…
"Ah… sayang sekali."
"Aku pergi dulu , bu. Bibi dan… Sungmin?" Kyuhyun melirik Sungmin dengan sebelah matanya.
"Daah..." ibunya berkata pelan. Terdengar sekali nada kecewa disana. Oh ibu!
Sungmin menunduk lemas saat menydari bahwa ibunya benar-benar putus asa ampai mengenalkannya pada pria sesempurna itu. Sungmin memandang bahu Kyuhyun dengan sedih.
Eh... bukannya Kyuhyun tadi mengenakan jas hitam? Kenapa punggungnya terlihat putih? Apa jasnya ada dua warna?
Oh astaga!
Sungmin menutup mulutnya dan mengigit bibirnya agar dia tidak berteriak lagi. Kyuhyun… dia… ada seorang kakek tua yang sedang mengikutinya! Nathan diikuti hantu!
.
Tara. Ada Kyu-nya tuh. Kyu-nya bukan hantu kok. Sorry for typo ya. Oh iya. Ini remake ya. Tapi remake ff saya sendiri kok. Dulu beberapa tahun yg lalu(?), saya ikutan lomba nulis novel gitu. Terus ngasih ini ke sana tapi gak lolos ya udah dari pada sayang aku niat remake ke kyumin. Jadi kalo masih ada nama yg bukan Kore-korea gitu mohon dimaklumin ya. Terus Clara, Frans sama Tiara namanya gaks aya ubah. Kalo ada yg risih bilang aja ya. Saya belom nemu mana yg pas soalnya. Terus nama mamanya Sungmin jadinya Leeteuk aja deh hahaha tau kan nama mamanya Kyu siapa? Kkk~ Terima kasih sudah baca3
