Disclaimers: Idem
Chapter 4
Sasuke menggonta-ganti channel telivisi yang sedang dia lihat, tidak ada satupun acara telivisi yang membuatnya tertarik. Pikirannya masih berkecamuk memikirkan Hinata meski dia sudah memantabkan dalam hati, tapi bayangan akan Hinata masih saya melekat di otaknya.
"Apa kau sudah tahu kalau upacara pernikahan Akai Ito akan dilakukan 3 hari lagi?" Tanya ibunya seraya duduk disamping Sasuke dan merebut remote tv yang Sasuke pegang.
"Itu bukan urusanku." Jawab Sasuke seraya menyandarkan kepalanya ke kursi sofa yang dia duduki.
"Jangan seperti itu Sasuke. Penyatuan ini adalah demi kebaikan banyak pihak setelah sekian lama kita menolak dan begitu banyak masalah antara kita dan Namikaze, setidaknya ini adalah awal yang baik." Kata ibunya.
'Seandainya saja ibu tahu kejadian siang ini di sekolah, ibu pasti akan panik.' Kata Sasuke dalam hati.
"Bagaimana kalau kau ikut dengan ibu membeli perlengkapan pernikahan daripada kau bosan dirumah?" Tanya Mikoto
Belum Sasuke menjawab, terdengar suara deru mobil berhenti di depan rumahnya. Sesaat muncul sosok ayahnya dengan raut wajah yang tidak seperti biasanya tenang.
"Sasuke bisakah kita bicara?" Kata Ayahnya
Ketiganya berkumpul di ruang keluarga dimana Fugaku dan Mikoto duduk berseberangan dengan Sasuke.
"Apa kau tahu klan kita akan melangsungkan upacara Akai Ito?" Tanya Fugaku
Sasuke mengangguk
"Apa kau tahu juga kalau penyatuan ini sangat penting setelah sekian lama?"
Sasuke mengangguk lagi
"Lalu bisakah kau jelaskan pada kami tentang kejadian hari ini di sekolah?"
"Apa yang ingin ayah ketahui?Kalau ayah sudah mendapat informasi itu seharusnya ayah sudah tahu bagaimana kejadiannya. Ayah tidak perlu khawatir soal itu, tidak akan terjadi apa-apa karena kejadian hari ini."
"Baiklah, ayah percaya padamu. Tapi katakan dengan jujur, apakah kau merasakan detakan jantungmu berbeda saat kau ada bersamanya?"
"Tunggu dulu, ada apa Fugaku?"
"Sasuke belum menceritakannya padamu?"
Mikoto menggeleng dan Sasuke pun juga sepertinya tidak ingin mengatakan sesuatu tentang kejadian hari ini di sekolahnya.
"Gadis Hyuuga yang sudah menjalani ritual Akai Ito dengan putra Minato mengatakan kalau putra kita ini adalah takdir Akai Ito nya."
Mikoto tidak bisa menyembunyikan keterkejutanya.
"Sekarang jawab pertanyaan ayah, Sasuke."
"Aku akui jantungku jadi tidak berdetak dengan normal saat dia ada didekatku dan aku harus menghabiskan hariku di ruang kesehatan karenanya. Tapi, apakah itu takdir Akai Ito atau bukan aku tidak peduli karena tidak mungkin aku akan bertemu dengan takdir Akai ito ku di saat jantungku sendiri sudah tidak berdetak.
Jantung yang aku punya sekarang ini bahkan bukan punyaku tapi punya orang lain. Mungkin saja orang yang mendonorkan jantungnya padaku adalah takdir Hinata. Lagipula aku tidak percaya akan takdir semacam itu."
Fugaku terdiam, begitu pula dengan Mikoto.
"Tapi.." Fugaku menghentikan Mikoto untuk berkata lagi.
"Baiklah ayah pegang perkataanmu Sasuke."
"Apakah pembicaraan ini selesai?Bu, bukankah kau akan mengajakku keluar?."
...
Sesampainya di sebuah toko penjual pernak-pernik pernikahan, Sasuke dan ibunya tengah sibuk memilih pernak-pernik yang cocok untuk acara sakral itu. Mungkin lebih tepatnya ibunya yang sangat antusias sedangkan Sasuke hanya bisa menekuk wajah tampannya itu. Bosan.
"Katakan pada ibu, menurutmu warna apa yang cocok untuk mempelainya?" Tanya Mikoto
"Terserah ibu saja, aku tidak peduli." Jawab Sasuke
"Kenapa jawabanmu ketus begitu." Kata Mikoto seraya menggelengkan kepalanya.
"Mereka hanya anak kecil bu, usia mereka baru 7 tahun. Mereka tidak akan memikirkan warna apa yang cocok dan tidak. Kalau mereka disuruh memilih, mereka akan lebih memilih belajar daripada harus memikirkan upacara bodoh itu. Orang tua memang tidak masuk akal." Kata Sasuke kesal
"Hei!ibu juga tidak menyetujui dengan upacara itu, tapi ibu tidak bisa berbuat apa-apa karena tugas ini sudah diserahkan pada ibu tanpa persetujuan dari ibu lebih dulu. Kalau disuruh memilih, ibu tidak akan mau melakukan ini semua. Ibu juga tidak menyangka para tetua akan menerima pinangan dari Namikaze itu." Kata Mikoto membela diri.
"Aku malas membahasnya bu dan aku tidak mau aku harus bertengkar dengan ibu karena masalah ini. Apakah sudah selesai?" tanya Sasuke
"Kalau kau bosan, kau bisa tunggu ibu di luar. Setelah ini, ibu akan membayarnya ke kasir dan kita bisa segera pergi. Bagaimana kalau setelah ini kita makan es krim?" Kata Mikoto lembut.
"Terserah ibu saja." Kata Sasuke seraya melangkahkan kakinya keluar toko.
Sasuke menghirup udara sore yang terasa segar di paru-parunya. Berada di dalam toko dan harus beradu pendapat dengan ibunya membuatnya merasa sesak. Dilihatnya ibunya yang masih menunggu kasir menghitung belanjaanya seraya tersenyum ketika mereka saling bertatapan dan perasaan bersalah karena secara tidak langsung Sasuke menyudutkan ibunya tentang ritual konyol itu.
Seketika jantungnya berdebar kencang, debaran aneh dan sama saat orang yang tidak ingin dia pikirkan sedang berada tidak jauh darinya. Lama kelamaan debaran itu semakin kencang.
'Semoga bukan dia.' Doanya dalam hati
Entah bagaimana tubuhnya mengetahui bahwa orang itu tengah berdiri di belakangnya dengan jarak yang tidak terlalu jauh dari tempatnya berdiri dan ketika dia balikkan tubuhnya, disana dia mendapati Hinata tengah berdiri dengan nafas yang tersengal sedang menatapnya seraya tersenyum.
Sebuah senyuman yang Sasuke tidak sangka begitu manis dan hanya kepadanya senyuman itu ditujukan, sejenak Sasuke merasa bangga dan yang terpenting dia merasa bahagia. Hanya karena sebuah senyuman, dia menjadi lupa akan apa yang sudah dia ucapkan pada ayahnya.
XXX
Hinata bangun lebih awal dari biasanya. Pagi buta dia sudah sibuk di dapur, menyiapkan sekotak bento untuk Sasuke. Setelah kejadian sore itu, Hinata semakin yakin bahwa Sasuke adalah ujung Akai Ito nya.
Jemari Hinata dengan lincah menari-nari di atas kotak bento itu seraya menghias isinya sedemikian rupa. Nasi yang dibungkus dengan nori dia buat seperti lambang Uchiha, 2 tempura udang dan tak ketinggalan tofu teriyaki dengan potongan ayam kecil-kecil sebagai pemanisnya. Merasa puas dengan hasilnya, Hinata dengan segera menutupnya dan memasukkannya ke dalam tas kertas berwarna coklat dengan hiasan bunga berwarna merah.
Disambarnya tas sekolahnya yang tergeletak di kursi ruang tamu seraya berkata 'Aku berangkat' pada orang rumah yang kala itu masih tertidur nyenyak. Langkah kakinya pagi itu terasa ringan dengan senyum yang tak pernah lepas dari wajahnya yang manis sambil melihat jam yang melingkar ditangannya.
Hinata berdiri di depan gerbang sekolah, dilongoknya ke arah dalam sekolah belum ada siswa satu pun yang terlihat.
'Sepertinya aku terlalu pagi.' Gumamnya dalam hati.
Setelah 1 jam berdiri, teman-teman sekolahnya sudah mulai berdatangan tak terkecuali Sasuke.
Hinata yang mengetahui kedatangan Sasuke jantungnya berdebar-debar tidak karuan, lalu dilihatnya sekelilingnya dan ketika merasa cukup aman untuk memberikan bento yang dia bawa, Hinata menghampiri Sasuke yang sedang berjalan ke arahnya. Bisa Hinata lihat ekspresi terkejut di wajah Sasuke yang tampan.
Di sisi lain, Sasuke tidak percaya bahwa Hinata berjalan ke arahnya dan Sasuke sama sekali tidak mengerti apa yang sedang Hinata pikirkan saat ini.
"Aku buatkan bento untukmu." Kata Hinata seraya menyerahkan tas kertas itu.
Hinata mendongakkan kepalanya karena orang yang di depannya hanya terdiam. Hinata tidak bisa membaca ekspresi Sasuke yang masih terdiam dan sedang menatapnya. Dengan segera, diraihnya tangan Sasuke dan memberikan tas kertas itu pada Sasuke lalu Hinata pun meninggalkan Sasuke yang masih terdiam.
Perasaan bahagia menjalar keseluruh tubuhnya. Senyum yang tidak pernah terlepas dari bibir mungilnya dan rona merah di pipinya menjadi saksi kebahagiaan Hinata pagi itu. Sekali lagi dia merasa lebih yakin dari sebelumnya bahwa perasaannya tidak bertepuk sebelah tangan dan Hinata pasti akan memperjuangkannya.
...
Sasuke yang masih terdiam, mengamati punggung Hinata lekat-lekat. 'Gadis aneh. Kenapa dia masih saja mendekatiku?Apa mungkin Naruto tidak menasehati istrinya ini?Atau jangan-jangan kata-kataku kemarin tidak berpengaruh padanya?' Katanya dalam hati.
Sasuke ingin sekali memanggil Hinata dan mengembalikan bento yang Hinata berikan untuknya namun hatinya tidak tega harus menolak pemberian dari Hinata karena sebelum hatinya merasa tidak tega, otaknya sudah membayangkan pipi chubby Hinata yang dihiasi air mata kesedihan dan entah kenapa Sasuke tidak ingin hal itu terjadi. Karena melihat rona merah di pipi Hinata cukup membuatnya bahagia meski jantungnya berdebar dengan kencang, meski otaknya menjerit apa yang dia lakukan saat ini adalah kesalahan dan meski hatinya berkata sebaliknya.
'Benarkah kau adalah ujung Akai Ito ku?Apakah keyakinanmu benar Hinata?' Kata Sasuke dalam hati.
Hari itu Suigetsu datang menjemput sahabatnya yang saat itu membawa sebuah tas kertas coklat padahal pagi sebelumnya dia tidak membawa apapun kecuali tas sekolahnya dan karena hari ini Sasuke berniat untuk menginap dirumahnya, Suigetsu akan mencari jawaban atas pertanyaan yang bermunculan di otaknya itu.
Sasuke merebahkan tubuhnya di kasur Suigetsu dimana pemiliknya sedang menyiapkan beberapa minuman dingin dan beberapa makanan ringan yang sudah dia beli sebelum menjemput sahabatnya itu.
"Kau bolos lagi hari ini?"
"Hmm. Katakan padaku sejak kapan kau membawa tas coklat itu?seingatku tadi pagi kau tidak menenteng apapun?"
"Hinata membawakanku bekal sekotak bento dan aku rasa perkataanku padanya kemarin hanya dia anggap kentut saja."
"Lalu apa kau memakannya?Sepertinya isinya sudah kosong. Jangan-jangan kau membuang isinya ya?Kalau kau tidak mau seharusnya kau berikan saja itu padaku"
Sasuke melempar bantal yang sedang dia peluk ke arah Suigetsu yang sedang asyik membuka lembar demi lembar majalah dewasa yang baru dia beli hari ini juga.
"Kau tidak bosan lihat majalah yang isinya hanya wanita-wanita berpose sok seksi dan cenderung menjijikkan begitu?"
"Kalau untuk orang aneh sepertimu memang seperti itu Sasuke karena yang ada di matamu hanyalah si Hyuuga itu."
Komentar Suigetsu yang menurutnya cerdas membuat dia dihadiahi jitakan keras di kepalanya.
" .ow. Kau sudah gila apa." Suigetsu membelalak. "Apa yang sedang kau pikirkan?"
"Aku tidak tahu."
Suigetsu hanya menggelengkan kepalanya seraya masih sibuk membolak-balik majalah itu dan sesekali mengelus kepalanya yang sakit dijitak.
"Lalu bagaimana perasaanmu padanya?"
"Aku tidak tahu."
"Kau menyebalkan Sasuke." Suigetsu menyerah mendengar Sasuke berbicara seenaknya tapi melihat raut wajahnya yang kusut, Suigetsu merasa permasalahannya sangat rumit. Diletakkannya majalah dewasa itu dengan tidak rela dan menatap Sasuke lekat-lekat yang sedang dengan santainya tiduran di kasurnya.
"Sasuke, katakan padaku sebenarnya apa yang kau rasakan saat ini?Apakah Akai Ito yang pernah dulu kau ceritakan padaku kini sedang mengikatmu?" Tanya Suigetsu
"Aku benar-benar bingung. Sebagian dari diriku merasa Hinata adalah ujung Akai Ito ku tapi diriku yang lain mengatakan aku tidak akan mungkin meraihnya." Jawab Sasuke
"Karena jantungmu sudah mati?karena jantung yang ada di dadamu itu punya orang lain?" Kata Suigetsu seraya mengamati kemungkinan perubahan raut Sasuke dan benar, bisa Suigetsu lihat itulah alasan kenapa sahabatnya punya keraguan itu. "Aku tidak tahu sampai seperti apa mitos Akai ito yang kau dan orang-orang itu katakan karena bagiku itu hanya sebuah dongeng yang kita sendiri tidak tahu akan kebenarannya. Tapi, kalau kau memang bertemu dengan seseorang dan mencintainya bukankah itu sudah cukup?."
"Tapi masalahnya tidak hanya itu Suigetsu. Dia sudah menjalani ritual itu dengan Naruto." Kata Sasuke
"Aku juga tahu itu Sasuke, tapi pernikahan yang dilakukan saat mereka di usia 7 tahun adalah hal yang illegal, seharusnya kau lebih tahu daripada aku. Itukan alasan kenapa Klan mu menolak melakukan ritual itu. Jangan terlalu kau ambil pusing, ikuti saja kata hatimu." Kata Suigetsu seraya mengambil kembali majalah yang tergeletak di lantai.
Sasuke menimbang-nimbang saran dari Suigetsu dan memang pernikahan mereka akan dianggap sah setelah mereka melangsungkan pernikahan saat mereka berusia 25 tahun dan itu masih 8 tahun lagi tapi Sasuke tetap merasa apa yang dia rasakan dan apa yang Hinata rasakan adalah salah. Akan banyak orang yang terlibat kalau dirinya salah mengambil keputusan.
Melihat wajah Hinata pagi ini yang begitu bahagia memang membuat Sasuke merasa bahagia juga, tapi di saat bersamaan Sasuke bisa melihat wajah orang-orang sekitarnya tidak akan sama seperti apa yang Hinata punya dan Sasuke bisa membayangkan wajah penuh amarah, kekecewaan dan mungkin tangisan yang dia dapat hanya untuk membuat Hinata dan dirinya bahagia. Sasuke bukanlah orang yang egois dan karena itu dia tidak bisa membiarkan perasaannya menjauhkannya dari orang-orang yang dia cintai, khususnya ayah dan ibunya.
Sasuke beranjak dari tempat tidur Suigetsu seraya mengambil tasnya yang ada di lantai.
"Kau mau kemana?Bukankah kau mau menginap?" Tanya Suigetsu
"Aku pulang. Lain kali aku menginap dan berhentilah membolos." Kata Sasuke seraya menutup pintu kamar Suigetsu dan masih dia dengar suara Suigetsu untuk mengurus urusannya sendiri. 'Ingin rasanya aku menjadi sepertimu, bebas melakukan apapun.'
…
Malam itu ayahnya mengingatkannya lagi soal Hinata dan sepertinya kali ini para tetua sedang mengawasinya apalagi menjelang perhelatan ritual Akai Ito dengan Klan Namikaze.
"Bukankah kau mengatakan kalau Akai ito adalah hal konyol Sasuke dan tidak ingin berurusan dengan gadis Hyuuga itu?" Tanya ayahnya.
"Jadi, sekarang aku dimata-matai?Apa para tua Bangka itu tidak punya kegiatan lain selain memata-matai ku?" Kata Sasuke kesal
"Jaga ucapanmu Sasuke. Ayah tidak ingin kejadian hari ini terulang lagi. Ayah sama sekali tidak keberatan kalau kau menerima bekal ataupun hadiah dari seorang gadis asalkan dia bukan Hinata Hyuuga." Kata Ayahnya. "Ingat Sasuke, kalau sampai hal ini berlanjut kau tahu apa yang akan terjadi antara Klan kita dan Namikaze dan ayah tidak mau itu terjadi."
Fugaku meninggalkan Sasuke yang masih terdiam. Dalam hatinya, Sasuke mengerti dan sangat paham akan hal itu karena itulah dia sudah mengambil keputusan yang menurutnya terbaik untuk banyak orang sebelum semuanya menjadi terlambat mumpung ini hanyalah sebuah awal sebelum dirinya terlanjur jatuh dalam perasaannya sendiri.
Manusia hanya bisa berusaha dan Dia lah yang memutuskan semuanya. Sasuke boleh saja merasa bahwa perasaannya pada Hinata baru saja dia rasakan dan begitu sebaliknya Hinata padanya namun ketika Dia sudah menentukan takdir seseorang, maka kekuatan apapun di dunia ini tidak sanggup untuk melawannya.
Sasuke hanya berharap Hinata tidak membawakannya lagi bekal untuknya besok. Namun, harapan tinggal harapan karena ke esokan harinya Hinata yang berdiri di depan gerbang sekolah dengan membawa sebuah tas dengan model yang sama berjalan ke arahnya seraya menyerahkan tas itu kepadannya. Ingin sekali Sasuke menolak dan memintanya berhenti untuk melakukan hal-hal bodoh seperti itu tapi melihat Hinata yang begitu bahagia Sasuke tidak bisa menolaknya. Lagi.
…
Naruto melihat kejadian itu dari jauh. Hari ini adalah hari kedua Hinata membawakan Sasuke sekotak bento, meski Naruto sudah mengutarakan ketidak sukaannya tapi Hinata tidak bergeming dan membuat Naruto mengingat kembali kejadian kemarin saat dia menanyakan hal itu pada Hinata.
"Apa yang kau berikan untuk Sasuke?" Tanya Naruto yang membuat Hinata terkejut karena kehadiran Naruto yang tiba-tiba
"Aku hanya membuatkan sekotak bento untuknya." Kata Hinata seraya berjalan masuk ke dalam kelasnya. Namun langkahnya terhenti ketika Naruto menahan lengannya.
"Ada yang ingin aku bicarakan denganmu. Ikut aku." Kata Naruto seraya menggandeng tangan Hinata.
"Apakah tidak bisa nanti?aku ada urusan yang harus aku selesaikan." Tanya Hinata seraya berjalan mengikuti Naruto yang masih menggandeng tangannya.
"Apa yang aku bicarakan denganmu sangat penting dibandingkan dengan urusanmu. Lagipula urusanmu bukankah sudah selesai?" Kata Naruto sedikit kesal
Lalu mereka masuk ke sebuah ruangan kelas yang tidak terpakai.
"Apa maksudmu?" Tanya Hinata
"Kau sudah memberikan dia bento bukan, bukankah urusanmu hanyalah soal dia?" Kata Naruto semakin kesal.
"Katakan apa yang ingin kau bicarakan denganku." Kata Hinata tidak ingin membuat Naruto semakin kesal dengan membantah semua perkataannya.
"Aku tidak tahu takdir apa yang sedang kita berdua jalani. Aku juga tidak mengerti bagaimana takdirmu dengan dia, aku hanya ingin satu hal Hinata, berhentilah dengan semua usahamu untuk membuktikan bahwa dia adalah takdir Akai Ito mu karena takdirmu adalah denganku. Aku tidak ingin karena ke egoisanmu menyebabkan banyak orang akan menderita nantinya dan terpenting dari itu aku tidak ingin kau terluka.
Kau sangat meyakini dia adalah takdirmu yang sebenarnya, lalu bagaimana denganku. Kita sudah terikat sebuah ikatan yang tidak mungkin kau lupakan begitu saja. Apakah kau tidak pernah memikirkan bagaimana perasaanku?" Tanya Naruto
"Apakah kau tahu bagaimana sebenarnya perasaanku Naruto?Apakah kau tahu bagaimana selama 10 tahun ini ikatan yang kau katakan tadi berefek padaku?Apakah kau pernah sedikit saja mencoba mengerti bagaimana perasaanku?
Aku selama 10 tahun ini mempercayai bahwa kau adalah ujung Akai Ito ku dan tetap berusaha untuk yakin bahwa kau adalah orangnya meski dari beberapa orang yang menjalani ritual yang sama dengan kita merasakan ada getaran aneh saat mereka bersama sedangkan kita tidak. Aku selalu berharap bahwa suatu saat nanti kita akan merasakan getaran itu. Aku merasa bahagia saat kita sedang berdua meski sebenarnya tidak bisa dikatakan sedang berdua, tapi aku merasa itu cukup bagiku karena dengan melihatmu di depanku, melihatmu tersenyum, melihatmu menatapku saat kita bicara, melihatmu tertawa sudah membuatku bahagia." Kata Hinata. Air matanya tidak bisa dia bendung lagi.
Naruto terdiam tidak bisa berkata apa-apa.
"Selama 10 tahun ini aku bahkan tidak tahu bagaimana sebenarnya perasaanmu padaku. Kau tidak pernah menunjukkan bagaimana perasaanmu padaku lalu bagaimana aku bisa menngerti perasaanmu karena disaat bersamaan kau tidak nyaman dekat denganku, di saat bersamaan kau menganggapku tidak ada. Ikatan yang kita punya hanyalah sebuah ikatan adat bahwa kita sudah menikah sedangkan ikatan batin diantara kita tidak pernah ada.
Apakah kau tahu saat aku merasakan getaran itu untuk pertama kalinya, aku masih berfikir dan berharap bahwa kau adalah orangnya dan ketika aku sudah menemukan jawabannya kekecewaan itu menghantuiku karena 10 tahun bukanlah waktu yang sedikit.
Aku tahu apa yang aku lakukan akan membuat banyak orang menderita mungkin juga diriku sendiri, aku akui aku egois tapi aku tidak bisa menerima ke egoisan orang lain setelah sekian lama aku menurutinya. Andaikan saja kau sedikit saja memberiku perasaanmu padaku, aku rela meski aku harus hidup dengan ke egoisan orang lain." Kata Hinata seraya meninggalkan Naruto di ruang kelas itu sendiri. Diam.
Penyesalan hanya bisa Naruto rasakan saat ini. Dia terlambat menyadari perasaannya sendiri dan di saat seperti itu dia mengingat sebuah ungkapan 'saat kau kehilangan orang yang kau cintai maka saat itulah kau menyadari bahwa kau sangat tergantung padanya'. Mengingat itu Naruto hanya bisa tersenyum kecut.
Dikeluarkannya ponsel dari saku celananya dan memencet beberapa kalimat dan mengirimkan pesan untuk Hinata agar tidak melupakan ritual Akai Ito antara Namikaze dan Uchiha besok.
…
Bel berbunyi dengan ranying, menghentikan segala aktifitas yang ada di sekolah itu termasuk dengan Sasuke. Hari ini adalah hari kedua dia menerima sekotak bento dari Hinata dan karena hal itu seharian dia tidak bisa menerima pelajaran apapun masuk ke dalam otaknya.
Pembicaraannya dengan ayahnya semalam masih sangat segar di ingatannya begitu juga dengan saran dari Suigetsu. Namun, setelah pembicaraannya dengan ayahnya Sasuke sudah memutuskan untuk menghentikan semuanya sebelum semuanya terlambat. Sasuke tidak ingin Hinata akan lebih sedih atau bahkan menderita karena hal ini. Terkadang Sasuke berharap seandainya keluarganya dan keluarga lain yang mempercayai Akai Ito bukanlah keluarga yang mempercayai mitos Akai ito maka semuanya tidak akan serumit ini dan bila seandainya Klan Namikaze tidak melakukan ritual itu dan menerima bahwa takdir jodoh adalah kuasa Tuhan maka semuanya akan menjadi mudah. Hanya saja semuanya tinggalah seandainya.
Di ambilnya tas sekolahnya dan segera menuju kelas Hinata dan Sasuke dapat merasakan bahwa Hinata masih berada dalam kelas. Ketika Sasuke mendekat dan melihat Hinata, disana tatapan mereka beradu. Hinata tahu bahwa dirinya sedang mencarinya dan debaran itu kembali muncul.
"Hinata bisakah kita bicara?" Tanya Sasuke.
Hinata mengangguk dan segera membereskan peralatan sekolahnya lalu mengikuti Sasuke yang menuju ke arah atap sekolah.
Di atap gedung sekolah, Sasuke menatap Hinata yang terlihat malu karena semburat rona di pipinya terlihat manis di mata Sasuke.
'Hentikan Sasuke. Apa yang kau pikirkan?'
"Aku ingin kau mendengarku kali ini, aku minta kau tidak bertanya atau memotong apapun yang nantinya aku katakan. Apa kau bisa melakukannya?" Tanya Sasuke
"Apakah ini karena masalah aku membawakanmu bekal?Apakah aku salah?" Tanya Hinata panik
"Apa kau mendengar apa yang aku katakan barusan?Aku ingin kau mendengarkanku saja. Kalau apa yang aku minta terlalu berat untukmu, kita selesaikan pembicaraan ini sekarang juga." Kata Sasuke
Hinata menggeleng.
"Sejak usiaku 7 tahun aku di diagnosa oleh dokter bahwa jantungku ini tidak sehat dan kemungkinan besar akan menjalani transplantasi jantung. Saat itu, aku berharap aku bisa bertemu dengan takdir Akai Ito ku sebelum jantungku di angkat dari tubuhku dan digantikan dengan orang lain karena aku ingin merasakan debaran itu. Tapi, aku harus menjalani operasi itu di saat usiaku 16 tahun dan sejak saat itu sampai sekarang aku masih tergantung dengan obat-obatan untuk menjaga tidak terjadi penolakan dengan jantungku yang baru atau kemungkinan adanya infeksi setelah operasi. Ya, tahun lalu jantungku di angkat dan diganti dengan jantung milik orang lain yang aku sendiri tidak tahu kepunyaan siapa. Sejak saat itu aku tidak percaya aku masih terhubung dengan ujung Akai Ito ku.
Lalu, kau datang. Pertama kali aku merasakan debaran itu adalah dihari dimana kita bertemu di tengah jalan menuju kelas, saat itu aku tidak tahu siapa yang kau tunggu di tengah jalan dan ketika debaran itu menjadi sangat kuat adalah saat pertama kali aku melihatmu menangis di depan lampu penyeberangan. Aku yakin kau masih mengingat akan hal itu." Kata Sasuke seraya memandang Hinata yang terlihat bahagia, rona merah itu menjadi semakin terlihat jelas.
"Jujur aku katakan padamu, saat itu aku bingung apakah mungkin aku bisa merasakan itu lagi?atau kah mungkin pemilik jantung ini adalah jodohmu yang sebenarnya?. Di lain sisi aku merasa aku punya harapan bahwa aku akan menemukan ujung Akai Ito ku dan di sisi lain aku terlalu memaksakan harapan itu karena aku tahu jantung ini bukanlah milikku.
Kau adalah gadis yang baik Hinata dan dari keluarga yang baik juga. Apa yang kau lakukan untukku 2 hari ini aku ucapkan terimakasih tapi aku tidak bisa membiarkan hal ini terus terjadi dan membuatmu salah paham atas tindakanku. Ingatlah Hinata kau adalah seorang istri dan tidak pantas untukmu kalau kau bersikap seperti ini. Aku harap kau hentikan semua ini karena tidak akan merubah apapun."
Hinata terdiam mencerna tiap kata-kata yang Sasuke katakan, meski kata yang Sasuke lontarkan terdengar biasa tapi tidak bagi Hinata.
"Aku tahu apa yang aku lakukan tidak terlalu berarti untukmu. Aku tahu apa yang aku lakukan adalah salah tapi aku hanya ingin bahagia dan tidak menyesal di kemudian hari karena aku menikah dengan orang yang salah. Pernikahanku dengan Naruto hanyalah sebatas pernikahan secara adat, karena itulah aku masih punya kesempatan untuk meraih takdirku." Kata Hinata
"Takdir yang kau bicarakan sudah terbentuk antara kau dan Naruto. Janganlah berpikir hanya tentangmu Hinata, berpikirlah tentang keluargamu, tentang keluarga Naruto dan tentang keluarga lain yang terlibat dengan semua ini. Berhentilah sekarang Hinata sebelum semuanya menjadi runyam dan akan menjadi sulit di masa yang akan datang." Kata Sasuke seraya beranjak pergi namun terhenti saat Hinata mulai bicara lagi.
"Bukankah kau merasakan apa yang aku rasakan?Apakah itu tidak cukup?Bukankah kau sendiri yang bilang bahwa setelah selama ini kau akhirnya merasakan jantungmu akhirnya merasakan debaran itu?" Tanya Hinata yang terdengar putus asa.
"Apa yang aku rasakan mungkin hanyalah sebuah kebingungan semata dan aku sudah putuskan untuk tidak terlibat dengan takdir apapun dan dengan siapapun. Aku harap kita tidak perlu saling sapa dan anggap saja kita tidak saling kenal." Mungkin dengan begitu Hinata akan berhenti untuk membuat dirinya sendiri terluka nantinya. Mungkin perkataannya terlalu menyakitkan tapi ini adalah jalan yang terbaik untuknya dan Hinata mumpung semuanya belum terlambat.
…
Hinata terdiam meski Sasuke sudah tidak berada di depannya lagi. Perasaan Sasuke padanya hanyalah sebuah kebingungan?dan dirinya harus berpura-pura tidak kenal dan tidak tidak perlu saling sapa?Apakah tindakannya ini terlalu berlebihan?. Bukankah dirinya hanya ingin bahagia?Tidak bisakah orang-orang itu mengerti?. Pertanyaan demi pertanyaan bermunculan di pikiran Hinata yang kacau.
Sore itu, dia langkahkan kakinya dengan gontai. Air mata yang mengalir hanyalah tinggal sebuah bekas yang menyisakan kesedihan bahkan dia tidak menyadari bahwa dirinya sudah berada di depan pintu masuk rumahnya yang terbuka. Di dalam sana Neji yang sedang duduk dengan laptop di pangkuannya menatapnya dengan mata yang membulat. Apakah kesedihannya terlihat?Apakah wajahnya terlihat menyedihkan?Mungkinkah Neji tahu tentang penolakan Sasuke?.
Neji menghampiri Hinata yang hanya menatapnya tanpa bisa melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah.
"Hina-chan apa yang terjadi?" Tanya Neji.
Pertanyaan Neji menyadarkan Hinata bahwa sepupunya itu tahu bahwa usahanya mengejar takdirnya telah gagal dan yang bisa dia lakukan hanyalah menangis dalam pelukan Neji.
"Aku tidak bisa membuatnya percaya bahwa aku adalah ujung Akai Ito nya meski pada kenyataannya dia juga punya perasaan yang sama dengan ku Neji-nii. Apa yang aku lakukan selama ini hanyalah permulaan untuk bisa lebih dekat dengannya tapi kenapa dia menolakku ketika dia merasakan debaran yang sama denganku?" Kata Hinata lirih seraya terisak.
Neji hanya bisa terdiam. Diajaknya Hinata ke kamarnya dan membiarkan dia istirahat dan mungkin saat bangun nanti otaknya bisa berpikir dengan jernih. Setelah memastikan Hinata tertidur, Neji menghela nafas yang sedari tadi dia tahan. Dengan kejadian ini, ada perasaan lega karena sesuai dengan janji yang Hinata katakan padanya bahwa dia akan berhenti dengan segala macam takdir yang membingungkan ini tapi dia tidak bisa memungkiri melihat Hinata yang patah hati membuat hatinya juga terasa sakit.
XXX
Hiashi Hyuuga punya firasat buruk saat ponselnya bergetar dan di layar ponsel tertera nama Minato Namikaze.
"Hyuuga-san, aku berharap keputusanku untuk menyatukan Klan kita tidak hanya digunakan untuk kepentingan bisnis semata. Aku berharapa kau lebih menjaga putrimu itu karena aku tidak ingin karena ulahnya Klan Namikaze menjadi buruk." Kata Minato tanpa basa-basi atau sekedar mengucap halo
Hiashi yang tidak tahu arah pembicaraan Minato hanya bisa bertanya balik pada Minato yang terdengar menahan amarahnya.
"Apa maksudmu Namikaze-san?" Tanya Hiashi
"Sebaiknya kau tanyakan langsung pada Neji, keponakan yang kau banggakan itu karena dia tahu apa yang sedang aku bicarakan saat ini Hyuuga-san. Aku tidak mentolerir segala kekacauan dikemudian hari karena kau tidak bisa mengajari putrimu bersikap semestinya di luar rumah." Kata Minato seraya memutus sambungan telponnya.
Hiashi merasa ini bukanlah hal baik dan dia harus segera mencari tahu karena beberapa hari ini Neji terdengar sedikit aneh. Saat dirinya menelpon sepertinya Neji sedang menyembunyikan sesuatu yang besar dan Hiashi tahu betul hanya Hinata yang bisa membuat Neji melakukan itu semua.
Tbc…
Xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
A/n 1: Bagi saya chapter ini sangat susah untuk ditulis dan saya tidak puas dengan hasilnya (Gomen), tapi saya harus tetap update untuk kalian2 yang sudah menunggu. Saya harap kalian tidak kecewa dan masih tertarik dengan cerita ini.
A/n 2: Apabila ada penulisan yang tidak benar dan tidak sesuai dengan EYD, kesalahan murni pada saya. Seperti sebelumnya, saya tidak menjanjikan update kilat jadi kalau kalian masih tertarik dengan fict ini saya mohon bersabarlah.
A/N 3: Trims untuk semua review, follower dan favorite cerita gaje ini, kalian sangat berarti.
So, mind to RnR?
Arigatou ^^
