Title : That Idol is Mine
Length : Chaptered
Main Pair : Sehun x Luhan (GS)
Genre : Romance, Drama
Sebelumnya...
Luhan ternganga. Tak ada sepatah katapun yang keluar meski mulutnya terbuka.
"Ini benar – benar mengganggu kenyamanan Xi Luhan seonsaengnim, saya rasa Anda tidak perlu datang ke rumah sakit hingga tiga hari ke depan. Namun jika dalam tiga hari para wartawan itu masih mengganggu, saya tidak bisa berkata apa – apa lagi. Dengan terpaksa saya harus menskors Anda"
Great Xi Luhan! Nerakamu dimulai dari sekarang!
Chapter 3
.
.
.
Sehun masih menumpukan kepalanya pada stir. Sudah satu jam ia menunggu, namun Luhan tak kunjung memperlihatkan batang hidungnya. 'Mungkin karena masih jam kerja' pikir Sehun berusaha menenangkan hatinya. Ia kembali mengangkat kepala kemudian meraih smartphonenya yang berada di atas dashboard, masih belum ada tanda – tanda kabar dari Luhan. Pikiran buruk mulai menghantui Sehun, pikiran Luhan sedang dihujat habis – habisan benar – benar membuatnya takut.
Kedipan berkali – kali di layar smartphonenya kembali menyadarkan Sehun dari lamunan singkatnya. Sehun hampir saja melonjak senang karena mengira Luhan yang menelepon. Tapi senyumannya menghilang saat melihat nama penelepon,
Kim Manager
Sehun melempar ponselnya ke bangku penumpang yang berada di sampingnya. Tak lama kemudian layar ponsel itu padam, tak sampai lima menit, layar itu kembali menyala, bukan panggilan, namun pesan masuk.
From : Kim Manager
Aku sudah membiarkanmu di luar selama satu jam, sekarang kembalilah. Aku tidak memberi pilihan, ini perintah.
Sehun menghela napas dalam satu hentakan keras, kemudian menyalakan mesin mobil.
.
.
.
Luhan melangkah terseret menuju ruangan staf, namun kerumunan orang di depan ruangan itu menghentikan langkahnya. Ia memilih berbalik menuju tangga darurat. Ia duduk di tangga kemudian bersandar pada dinding. Kata – kata direktur kembali berputar – putar di kepalanya.
'Sekarang lebih baik anda menyudahi pekerjaan hari ini. Dan ingat pesan saya, tiga hari'
Tangan kurusnya merogoh saku jas dan mengeluarkan ponsel yang sudah ia abaikan sejak tadi. Mengusap layarnya dan...
12 panggilan tak terjawab
5 pesan masuk
Hampir semua panggilan berasal dari Sehun, selain itu berasal dari Shin Ae dan... Ibunya! 'Astaga!' luhan membatin. Apa kabar ini sudah sampai pada Ibunya?
Luhan hendak mencari kontak ibunya, namun gerakan jarinya terhenti, 'lebih baik aku melihat pesan dulu' pikirnya sebelum menyentuh ikon pesan.
Form : Jagiya~
Honey, kau ada di mana? Di rumah sakit?
From : Jagiya~
Honey, gwaenchana?
From : Jagiya~
Aku ada di belakang rumah sakit
From : Jagiya~
Angkat
From : Jagiya~
Aku harus pergi sekarang, telepon aku saat mau pulang, arachi?
Luhan mendesah lega, setidaknya Sehun tidak membiarkannya ketakutan. Luhan kemudian mengetik balasan untuk pesan Sehun,
To : Jagiya~
Aku pulang cepat hari ini, tak perlu mengantar, aku bisa menjaga diri, keokjeonghajima.
.
.
.
Dengan segala usaha Luhan bisa mendapatkan tasnya plus ancaman dari Shin Ae yang membantu mengantarkan tasnya ke tangga darurat, 'Eonni berhutang penjelasan'.
Perjalanan pulang kali ini benar – benar mendebarkan, Luhan seperti pencuri di siang bolong yang berusaha kabur dari rumah yang baru saja di rampoknya. Berlebihan memang, tapi bisa dikatakan seperti itu.
Luhan keluar dari lift dan berjalan gontai menuju pintu apartemennya sambil sesekali melihat sekitar.
"Oh, igeo mweoya?"
Sebuah kotak kado yang dibungkus rapi terletak di depan pintu apartemen Luhan. Tanpa pikiran buruk sedikitpun Luhan mengambil kotak kado tersebut yang memang ditujukan untuknya. Terlihat dari kartu yang diselipkan diantara pita kado itu. Luhan membawanya masuk tanpa curiga dan meletakkan kado tersebut diatas meja ruang tengah.
.
.
.
Sehun mengacak – acak tasnya, mengeluarkan semua barang – barang dari semua kantong, mulai dari kantong terbesar hingga kantong terkecil.
"Mwoya? Aku ingat sekali meletakkannya disini" gumam Sehun pada dirinya sendiri.
Sehun meraba saku celananya, mengeluarkan semua isinya, kemudian berputar – putar disekitar tempat duduknya seperti mencari sesuatu.
"Ya! Tidak bisakah kau diam?" bentak Baekhyun yang baru saja masuk ke dorm mereka. Pasalnya sejak menyelesaikan schedule terakhir mereka hari ini Sehun sibuk mengacak – acak tasnya sejak berada di dalam van tadi.
"H-hyung! Kau melihat ponselku?" tanya Sehun sambil meremas rambutnya frustasi.
Sayangnya tidak ada yang menjawab pertanyaan Sehun. Semua member benar – benar dalam keadaan sangat – sangat lelah dan langsung masuk ke kamar masing – masing.
.
.
.
Luhan keluar dari kamar sambil mengeringkan rambutnya, ia berjalan menuju dapur dan mengambil cemilan beserta minuman dari dalam kulkas dan membawanya ke ruang tengah.
Saat akan mengambil remote televisi yang berada di atas meja pandangan matanya terhenti pada kotak kado yang ia letakkan diatas meja tadi. Karena penasaran Luhanpun membukanya.
'ini bukan ulang tahunku' kata – kata itu terlintas dipikiran Luhan sejenak namun segera ia abaikan.
Kotak kado pun dibuka, dan Luhan hanya bisa mematung melihatnya. Tidak ada teriakan atau pergerakan berlebihan yang ditunjukkan gadis ini.
Kotak itu berisi bangkai kelinci kecil dengan bulu putihnya yang diwarnai bercak – bercak darah. Kemudian ada kertas putih yang terlipat di dekat kaki kelinci. Luhan mengambil kertas itu dan membukanya, bahkan tulisan pada kertas itu dibuat dengan darah,
"Bersiaplah diperlakukan seperti ini jika kau masih mendekat pada oppa"
Tanpa harus bertanya lebih lanjut Luhan sangat mengerti dengan situasi yang ia hadapi saat ini. Ya, ia pernah melihat hal – hal seperti ini di drama – drama yang ia tonton. Luhan mendengus pelan kemudian memasukkan kembali surat teror itu ke dalam kotak 'kado' yang ia terima dan meletakkan kotak itu didekat pintu masuk.
'Besok pagi aku akan membuangnya' pikir Luhan dalam hati.
Baru saja ia hendak berbalik kembali ke ruang tengah bel apartemen berbunyi. Luhan langsung menghentikan langkahnya dan menyalakan intercom. Nihil. Tak ada siapapun.
'Lagi – lagi teror' pikir Luhan
'Sepertinya mulai besok hidupku tidak akan tenang'
.
.
~oo0oo~
.
.
Brak!
"Kau sebut ini laporan?!"
Dan kertas – kertas entah apa isinya itu pun beterbangan di udara. Luhan hanya memperhatikan kertas – kertas itu terjatuh ke lantai kemudian memungutnya satu persatu.
"Buatlah dioagnosa yang lebih masuk akal Xi Luhan!"
Luhan tak menjawab sepatah katapun, setelah mengumpulkan laporannya yang berserakan ia hanya menunduk sekilas –memberi hormat dan langsung meninggalkan ruangan Kepala Departemennya itu.
Luhan meletakkan laporannya diatas meja kerja dan keluar dari ruangan, meninggalkan bisikan – bisikan rekan kerjanya.
"Ini sudah hari ketiga"
"Dia seperti mayat hidup saja"
"Aish.. membuat perasaanku tidak tenang saja"
.
.
Luhan berjalan sambil menunduk menuju atap rumah sakit. Sesekali ia menunduk minta maaf karena tanpa sengaja menyenggol perawat atau dokter lainnya.
Luhan duduk dibangku taman yang terdapat diatap rumah sakit itu, mengeluarkan antiseptik dan obat merah dari saku jas dokternya. Kemudian menaikkan dressnya sedikit sehingga lututnya yang terluka terlihat. Dengan tatapan kosong Luhan membersihkan lukanya yang sudah hampir mengering dan memberi sedikit obat merah. Ia sama sekali tidak meringis, karena toh ini bukan pertama kalinya ia menggunakan obat merah, sejak beberapa hari terakhir.
.
.
Flashback
"Semangat Xi Luhan! Hari ini akan baik – baik saja!" Luhan menyemangati dirinya sendiri sebelum bangkit dari depan meja rias.
Seperti perkataannya sebelumnya, Luhan akan membuang 'kado' yang ia terima semalam. Sambil membawa kotak 'kado' tersebut, Luhan berjalan dengan tenang keluar dari apartemennya dan masuk ke dalam lift. Tidak ada hal aneh yang terjadi, hanya kata – kata makian yang tertulis di pintu apartemennya.
Perjalanannya menuju rumah sakit tidak terlalu berat, setelah membuang 'kado' yang ia dapat semalam, Luhan hanya menerima tatapan – tatapan tidak biasa dari orang sekitarnya. Terkadang ada yang berteriak tidak percaya, tapi Luhan tidak terlalu peduli. Toh ia bisa menulikan telingannya.
Wartawan yang berada di rumah sakitpun tidak seramai kemarin. Bukan, bukan karena mereka menyerah untuk mengejar Luhan, tapi SM akan memberikan klarifikasinya hari ini, jadi mereka semua –para pencari berita sedang berkumpul di kantor SM sekarang.
"Syukurlah" Luhan mengelus dadanya saat ia berhasil masuk ke rumah sakit tanpa keributan.
"Xi Luhan seonsaengnim?"
"Ah, Ye" Luhan segera menegakkan badannya saat seseorang memanggil namanya.
"Anda dipanggil ke ruang direktur sekarang"
"Y-ye. Kamsahabnida"
.
.
Walaupun sedikit tidak tenang, Luhan berhasil melewati hari ini dengan cukup baik. Meskipun mendapat tatapan dan bisikan aneh setiap berada di dekat orang lain, tapi Luhan masih pulang dengan keadaan sehat walafiat dari rumah sakit. Ya, setidaknya hingga ia turun dari bus.
Seperti biasa, setelah turun dari bus Luhan segera berjalan menuju apartemennya. Tidak terlalu jauh, hanya beberapa meter dari halte.
"J-jogiyo..."
Luhan berbalik saat mendengar suara itu dari belakangnya dan..
Brugh!
Luhan sempat oleng, namun berhasil menyeimbangkan dirinya lagi. Entah apa yang baru saja terjadi, yang Luhan tahu, pelipisnya tiba – tiba terasa dingin dan... berdarah.
"Untung saja hanya di pelipis, bisa ditutupi dengan poni" bisik Luhan pada dirinya sendiri sambil memandang pantulan dirinya di cermin.
Xi Luhan, kau masih bisa berkata 'untung saja' sekarang?
Luhan berbaring diatas tempat tidurnya, pandangannya menerawang ke langit – langit kamar.
"Seharusnya aku sudah siap dengan semua ini, bukan?"
Kemudian Luhan meraih ponselnya dan mengusap layar benda persegi panjang itu.
"Tsk! Anak ini benar – benar!" seru Luhan kesal dan melempar ponselnya saat tak menemukan satu pesanpun dari Sehun.
.
.
~oo0oo~
.
.
Sehun turun dari tempat tidur dengan perlahan, berusaha untuk tidak menimbulkan suara sedikitpun. Kemudian ia meraih jaket, topi, dan syalnya dan berjalan seperti pencuri kelluar dari dorm.
Seoul, 00.45 KST
Meskipun masih banyak kendaraan berlalu lalang, tapi sudah tidak terlihat lagi aktivitas yang berarti di pusat kota. Diantara kendaraan – kendaraan itu, seseorang tengah melajukan mobil hasil 'curiannya' menuju apartemen Luhan.
.
.
"Aish! Kembalilah besok pagi jika ingin menerorku!" gumaman Luhan sambil merapatkan selimutnya.
Namun suara bel apartemen itu tak kunjung berhenti. Dengan kesal dan langkah yang dihentak kasar Luhan turun keluar dari kamar dan menyalakan intercom.
"Nuguseyo?"
Sehun menurunkan syal yang hampir menutupi seuruh wajahnya dan klik! Pintupun terbuka.
"Ya! Apa yang kau lakukan? Ini sudah tengah mal—"
Sehun mengeratkan pelukannya saat Luhan berhenti mengoceh.
"Gwaenchanha? Kenapa mengunci apartemenmu dari dalam?"
Luhan mengangguk dalam pelukan Sehun, tidak bisa dipungkiri ia juga membutuhkan Sehun disaat seperti ini. Tiba – tiba Luhan teringat pada satu hal yang membuatnya kesal. Ia melepaskan pelukan Sehun dengan paksa dan memasang tampang cemberut.
"Ani. Angwaenchanha! Setidaknya beri aku kabar! Kenapa mematikan ponselmu, huh?" todong Luhan berupa – pura merajuk.
"A-ah.. g-geuge..." Sehun menggosok tengkuknya pelan, kemudian memandang Luhan dengan tatapan bodoh,
"Aku menghilangkannya. Hehehe"
Luhan memandang Sehun sweatdropped.
"Dasar bocah" ejek Luhan kemudian berjalan menuju dapur, dan tentu saja Sehun ikut mengekor.
"Kau ingin makan sesuatu, bocah?" tanya Luhan sambil menekankan kata – kata 'bocah' dan menatap Sehun mengejek.
Sehun duduk disalah satu kursi dan berlagak seperti berpikir. Kemudian ia menjentikkan jarinya,
"Ramyun!"
.
.
"Slurrp~ Ah~ Yeoksi.. buatan yeochin-ku memang selalu enak!" puji Sehun setelah menghabiskan semua isi mangkuknya.
Luhan hanya tersenyum sekilas dan kembali memakan ramennya. Senyuman bodoh Sehun menghilang dan berganti dengan tatapan sedih saat memandang Luhan dari samping, sejujurnya ia benar – benar merasa bersalah. Dan tanpa ia sadari tangannya terujulur mengusap kepala Luhan.
"Ah! Appo!" Luhan langsung berteriak saat tangan Sehun menyentuh lukannya.
"W-wae? Aku tidak melakukan apap—"
"Igeo mwoya?"
Luhan segera menepis tangan Sehun yang tanpa sengaja menyentuh pelipisnya yang terluka.
"A-ani... g-geunyang.. aku menabrak pintu kamar. Geurae! Aku menabrak pintu kamar tadi" jawab Luhan tanpa memandang Sehun.
Karena tak mendengar reaksi Sehun sama sekali Luhan langsung berdiri dari tempat duduknya dan memindahkan mangkuk bekas ramyun ke wastafel.
"Aku akan mencucinya, kau tunggulah di ruang tengah sebentar" ucap Luhan yang kini membelakangi Sehun, kemudian menyalakan keran air.
"Mian"
Luhan menghentikan gerakannya. Meletakkan kembali mangkuk yang tengah ia pegang dan mengeringkan tangannya, kemudian berbalik menghadap Sehun yang berdiri dibelakangnya entah sejak kapan.
"Aku baik – baik saja, sungguh! Jangan terlalu mendramatisir keadaan Se—"
Sehun mengulum bibir Luhan dengan lembut dan penuh perasaan. Kedua tangannya memeluk Luhan erat, seolah melindungi Luhan dari terjangan badai.
Sehun melepaskan tautan mereka perlahan, masih dengan jarak yang sangat dekat ia berbisik,
"Appeujima"
.
.
.
Seperti hari sebelumnya, Luhan menghadapi segala macam teror. Untuk berangkat ke rumah sakit ia butuh usaha keras, apalagi saat pulang seperti sekarang. Sambil melirik ke kanan dan ke kiri Luhan bejalan menunduk. Menyembunyikan wajah seakan sudah menjadi kebiasaannya sekarang. Luhan berdiri di pinggir jalan, hari ini ia memutuskan untuk pulang dengan taksi. Tentu saja karena Xi Luhan bukan orang yang bodoh. Ia tidak mau kejadian kemarin saat turun dari bus terulang kembali. Tapi sayangnya, kepintaran Luhan belum dapat menghalangi niat jahat sasaeng fans Sehun, karena sebuah mobil dengan kecepatan tinggi tengah melaju ke arahnya saat ini.
Luhan memandang bingung beberapa orang diseberang jalan yang melambai – lambai tidak jelas kearahnya, tapi agaknya dewi fortuna masih setia berkeliaran disekitar gadis China ini. Karena mobil yang tadinya hendak menabraknya justu menabrak pembatas jalan, yang tepat berada satu meter didepan Luhan.
Luhan? Ia hanya mematung sambil memegangi dadanya. Ia hampir saja mati konyol disini.
Flashback end
.
.
.
Sejak saat itu, tak ada hari tenang untuk Xi Luhan, selalu ada saja kejutan yang menantinya setiap hari. Bahkan terkadang ia menunggu kejutan apa yang akan ia dapat, seperti hari ini. Saat akan memulai hari – hari suramnya, Luhan disenggol dengan sengaja hingga ia jatuh, sialnya ia menggunakan high heels hari ini. Lutut kanannya terluka dan pergelangan kakinya terkilir. Miris sekali kau Xi Luhan!
"Gwaenchanha.. na gwaenchanha.."
Luhan mengambil tasnya yang tergeletak di tanah kemudian berdiri sambil membersihkan bagian belakang roknya. Kalian bertanya kenapa tidak ada yang membantu? Ayolah.. semua orang tahu jawabannya.
"Tsk! Harusnya aku tidak memakai rok hari ini"
Dan hari itu pun berlalu seperti hari – hari sebelumnya. Ya, tepat seperti hari – hari sebelumnya, tanpa ada seseorang bernama Oh Sehun didalamnya. Kalan bertanya dimana ia? Entahlah, hanya Tuhan dan orang – orang di gedung SM Building yang tahu.
~oo0oo~
"Hhh..."
Untuk kesekian kalinya Luhan menghela napas saat membaca artikel mengenai 'skandal'nya bersama Sehun. Dan tanpa ia sadari, ketika artikel yang menyebutkan bahwa SM membantah jika Sehun dan dirinya memiliki hubungan spesial muncul di layar ponselnya, Luhan menahan napas. Ia tahu akan ada artikel seperti ini, Sehun sudah memberitahunya sebelum SM mengadakan konferensi pers beberapa hari lalu. Tapi tetap saja, dada wanita China ini berdesir ketika membaca kata 'teman', bahkan bukan 'teman baik', hanya 'teman'.
"Hah~ ayolah Xi Luhan! Sejak kapan kau menjadi dramaqueen seperti ini?" ejeknya pada dirinya sendiri.
Luhan meletakkan ponselnya di meja nakas, kemudian menarik selimut hingga menutupi dada,
"Selamat malam Oh Sehun, semoga harimu menyenangkan" bisik Luhan sambil memandang langit – langit kamarnya, dan kemudian kedua manik itu perlahan tertutup, membawa Luhan ke alam mimpi.
To be Continue~
