Viki : Gomen, update lama. Viki harus fokus sama pelajaran sekolah. Chapter 4 sudah update!


DISCLAIMER

.

Vongola in Indonesia © Viki

Katekyo Hitman Reborn © Akira Amano

Viki hanya meminjam beberapa karakternya saja, kok!

.

.

WARNINGs : Sangat OOC, Cerita gaje, dan sangat OOT

Don't like, don't read

Like? Must review!

.

.


"Kenapa jadi begini?!" Teriak Zakuro, yang sudah bersusah payah mencari penggemar atas konsernya (?)
"Ugh, ini semua gara-gara kalian Millefiore!" Bantah Gokudera.
"Apa?! Kami tidak membuat warga marah! Kalian tuh!"
"NANI?!"
"Sudahlah, Gokudera." Kata Yamamoto.
"Jangan ikut campur, yakyuu baka!"
"Diamlah. Pertengkaran kalian tidak akan membantu kita." Selak Byakuran.
"KITA? Seharusnya kau lah yang harusnya mereka kejar!"
"Hei! Jangan begitu pada Byakuran-sama!" Kata Kikyo yang membela bos 'tercintanya' itu.
"Memangnya kenapa? Masalah buat lo? *nyiapin dinamite*"
"Tenanglah Gokudera-kun. Yang penting kita harus kabur dulu dari mereka." Kata Tsuna, yang sudah cukup kehabisan tenaga karena berlari.

Kenapa mereka berlari?
Yap. Mereka sedang dikejar gerombolan polisi dan tentara yang mengejar mereka. Soalnya, si supir (yang ada di chapter sebelumnya) memberitahukan keberadaan Vongola. Sementara Millefiore juga dikejar karena berniat jahat di istana tadi.
Ditambah lagi, sekarang ini mereka juga dikejar dengan helikopter dan tank seperti dalam game GTA, jika mendapat bintang penuh. (Viki : kebayang gak?)

"Byakuran, apa kau tidak punya cara untuk kabur?" Tanya Tsuna.
"Cara untuk kabur, eh? Hmmm..." Teringat soal ilusi, "Tori-chan, cepat kau gunakan ilusimu untuk teleport kita kembali ke markas."
"Ryoukai."

Torikabuto pun menggunakan kekuatan ilusinya, dan men-teleport mereka pergi dari TKP. Hanya saja...

"KENAPA KAMI TIDAK DIBAWA?!" Protes Ryohei.
"Dasar licik!" Sambung Gokudera.
"Hhh! Kenapa tidak melawan mereka saja?" Hibari menghentikan larinya, dan bersiap mengambil posisi.
"Jangan!" Tsuna segera buru-buru menarik Hibari. Tidak peduli kalau ia akan kena kamikorosu-nya nanti, yang jelas ia tidak mau Hibari kenapa-kenapa. #Ehem! (Hoii... ini bukan Yaoi hoi, salah paham!)

"Apa yang kau lakukan, Herbivora?!"
"Gomen, Hibari-san. Terlalu berbahaya."
"Jadi, maksudmu aku ini lemah?" Hibari siap untuk 'menggigit'.
"Benar apa yang dikatakan Tsuna, di sana terlalu berbahaya. Bahkan orang kuat sepertimu." Kata Reborn.

Mendengar itu, Hibari pun menurunkan tonfa-nya. "Terserah."

Tsuna tersenyum lega. Tapi segera memasang ekspresi panik, "Lalu, apa yang harus kita lakukan sekarang?!"

Roket-roket, dan meriam (?) mulai berjatuhan. Para Vongola berusaha menghindarinya, dan untung saja tidak ada yang terkena.
"Tidak bisakah kita menyerang?" Protes Hibari.
"Jangan Hibari, mereka itu orang-orang yang (kayaknya) nggak berdosa. Kau tidak boleh menyerang mereka." Jawab Ryohei, sambil meninju roket yang mendekati.
"Bos," Chrome mulai berbicara, "aku ada ide."
"Benarkah? Apa itu?" Tanya Tsuna dengan wajah 'penuh harapan'. (lebay mode-on.)
"Soal ilusi Millefiore tadi, aku ingin menggunakan ilusiku untuk mengelabui mereka." Jelas Chrome.
"Ide bagus." Kata Reborn, yang sedang duduk di pundak Yamamoto dengan santainya. #ditembak Reborn
"Tapi itu pasti akan membutuhkan kekuatan lebih, kau bisa melakukannya?"
"Akan kucoba."

Chrome menghentikan langkahnya, berbalik ke belakang, dan mengeluarkan jurus ilusinya ke arah pasukan bersenjata beserta kendaraannya itu. Chrome mencoba membuat sebuah dimensi lain, tapi kekuatannya tidak cukup untuk memasukkan semuanya. Dengan sekuat tenaga, ia mengerahkan seluruh kekuatannya.
"Awas!"
Tiba-tiba saja, sebuah roket meluncur ke arah gadis itu.
Tsuna dengan cepat sudah berubah ke Hyper Dying Will Mode-nya, dan melindungi Chrome dengan semburan api dari tangannya. (baca: sarung tangannya.)
"Daijoubu, Chrome?" Tanya Tsuna, dengan suara khas Hyper Mode-nya, membuat author dan para fangirls menjerit plus berdarah-darah.
Chrome mengangguk, "Arigatou, bos"

Chrome melanjutkan ilusinya. Dan akhirnya, ia berhasil memasukkan semua pasukan dan kendaraannya ke dimensi yang dibuatnya.
"Chrome, kalau boleh tahu, dimensi apa yang kau buat?" Tanya Tsuna (yang sudah kembali normal).
"Hanya dimensi yang kosong. Aku tidak melakukan sesuatu yang buruk pada mereka," Jawabnya, "hanya untuk menahan sementara."
"Kalau begitu, ayo cepat kita pulang!" Seru Gokudera, "sebelum ada yang mengejar lagi."
Semua mengangguk setuju. Para Vongola pun melanjutkan pelarian mereka.

"Yah, entah apa yang terjadi tapi Millefiore tidak melaksanakan rencana mereka." Kata Yamamoto.

"Yosh, kita bisa pulang ke Namimori!"

.

...KHR...

.

Tapi...

Tiba-tiba saja...

Datang suara aneh yang membuat para Vongola menghentikan langkah mereka.

"Gomen minna." Kata Tsuna.
Semua sweetdrop.
"Hahaha... Juudaime, kau lapar ternyata." Kata Gokudera.
"Nee... Reborn, kita cari makanan dulu, ya?" Tanya Tsuna dengan jurus 'puppy-eyes-nya' yang pasti tidak mempan terhadap Reborn.
"Oke, kita beli beberapa oleh-oleh sebelum pulang." Jawab Reborn, dengan nada (sangat) 'terpaksa'. #dibakar Tsuna.
"Baiklah, kita beli oleh-oleh TO THE EXTREME!"

.

.

.

Fin ~


Tsuna : "Enaknya makan apa, ya?"

Viki : "Ah, Tsuna! Bagaimana kalau makan ini *nunjukin sesuatu*. Ini namanya gudeg."

Tsuna : *mandangin bentar, trus nyobain* Hmmm... wah, ini enak."

Reborn : *muncul, nentengin keranjang berisi dodol* "Ciaossu! Kami udah nemu oleh-oleh 'ma'nyuss' nih."

Yang lain membawa berbagai makanan lainnya, seperti rendang, pempek, kue-kue, dsb. Pokoknya yang khas dari Indonesia, deh.

Reborn : "Indonesia emang negeri kuliner. Nggak nyesel kita datang ke sini."

Viki : "Makasih udah berkunjung, minna. Dan untuk para pembaca, arigatou udah ngeluangin waktu buat ngebaca, apalagi yang udah nge-review! Sampai ketemu di fanfic selanjutnya! Mata ne ~" *lambai-lambai tangan*