Disclaimer : ... *please insert the name of the author here*

DLDR

*Dont Like Dont Read*

Warning! Warning!

Slight canon, AU, OOC, OC, typo(s), gaje, abal and many more

chapter 4 : first kiss~ chu~ ( 3(' v')

Another warning! judul tidak berhubungan dengan isi cerita please gampar author-san! SEKARANG!

Author-san: NOO! *lari-lari gag jelas*

panda-chan : silahkan mem-

Author-san : Siapa lu?!

panda-chan : *evil grin* silahkan membaca~ *panda-chan membuang author-san ke laut*

Author-san: humppff umphfff blub blub blub *tenggelem*

panda-chan: *ketawa sadis* balasan lama update! nyahahahaha!

Chapter 4 *the real title* : its weird!

Sakura setengah berlari ke arah kelas, beruntung pintu gerbang tertutup tepat saat Sakura melewatinya. Sebenarnya sih lari Sakura lumayan cepat, baru saja semenit yang lalu memasuki gerbang kini dia sudah berada di depan kelasnya yang ada di lantai dua di paling ujung lagi.

Sreg

Kelas yang semula terdengar suara-suara entah apa itu seketika terdiam melihat ke arah pintu yang di buka Sakura. Sesaat sakura merasa aura yang aneh tapi segera di tepisnya saat melihat kedua sahabatnya menghampiri Sakura.

"Sakura!" sahut Rikka dan Yuka bersamaan.

"Kau membuat kami khawatir... kenapa kau tidak menghubungi kami?" cecar Rikka sambil memasang wajah cemberutnya.

"Iya! seharusnya kau menghubungi kami jika sudah bangun dan pulang... kau membuat kami khawatir!" Yuka melipat kedua tangannya di depan dada tanda marah pada Sakura.

"Ahahaha, gomen.. gomeen.. kemarin aku lupa.. dan kenapa kalian tidak membangunkanku sih? kalian meninggalkanku di ruang UKS hingga hari menjelang malam tahu!" Sakura menekuk wajahnya berpura-pura kesal dengan mereka.

"bu-" "Ohayou~" belum selesai Rikka menyelesaikan kalimatnya, suara seorang gadis terdengar dari belakang Sakura.

"O-ohayou.." seru gadis lainnya di balik gadis berambut kuning yang menyapa Sakura dan ke dua temannya.

"A-ah Ohayou~ yamanaka-san hyuuga-san.." balas Sakura dengan senyum ramah yang terpasang di wajahnya. Sedangkan kedua orang temannya memasang wajah yang sulit untuk di artikan antara senang dan takut, entah karena apa.

Yuka menarik lengan Sakura menuju bangkunya "Ki-kita menghalangi jalan di sana Saku-chan.." Katanya menjawab keheranan Sakura yang terlihat dari wajahnya saat ditarik oleh Yuka.

Tak berselang lama bel berbunyi tanda pelajaran akan segera di mulai, dan pelajaran pertama hari ini akan di ajarkan oleh Kakashi-sensei. Kegiatan belajar mengajar terjadi seperti biasanya, tanpa terasa jam istirahat pertama sudah tiba.

yah sebenarnya sih pelajaran memang berjalan seperti biasa namun selama pelajaran tidak biasanya Sakura sama sekali tidak memperhatikan pelajaran, selama pelajaran berlangsung bukannya mendengarkan apa pelajaran yang di sampaikan Kakashi-sensei Sakura malah memperhatikan wajah guru barunya itu yang terhitung tampan, sangat tampan lebih tepatnya.

"Ah..apa sih yang ku pikirkan" gumam Sakura sambil memukul kepalanya. "Tapi seandaninya saja...TIDAK! TIDAK! DASAR BODOH!" teriaknya secara tidak sadar di saat pelajaran masih berlangsung.

" Apakah menurutmu aku bodoh Haruno-san?" tanya Kakashi yang entah sejak kapan sudah berada di samping Sakura yang sedari tadi melamun. "Ehehe.. ti-tidak Sensei.. gomenasai..." Jawab Sakura sambil menundukkan wajahnya yang memerah. 'dasar Sakura bodoh,,' lanjutnya dalam hati.

~.~

"Nee... apa yang kau pikirkan tadi hingga berteriak seperti itu Saku-chan?tidak seperti biasanya...?" Tanya Yuka sambil memakan bekal makan siangnya, saat ini mereka bertiga tengah menikmati makan siangnya di atap. Biasanya sih makan di kelas tapi hari ini mereka menarik Sakura ke atap dengan dalih cuaca yang cerah.

"Bu-bukan apa-apa.." jawab Sakura dengan suara kecil dan wajah yang memerah, mengingat 'dosa' kecilnya tadi.

"Aha... Jangan bilang kau menyukai guru baru itu?" Timpal Rikka sambil menusuk-nusuk pipi Sakura yang empuk dengan Jarinya- Salah satu kebiasaan Rikka saat berada di dekat Sakura dan Yuka, terkadang menyebalkan tapi karena mereka berdua sudah terbiasa jadi mereka biarkan saja.

"TI-tidak!" Sangkal Sakura sekuat tenaga dengan wajah yang memerah semerah tomat "Su-sudahlah ayo kita selesaikan makannya... nanti bel pelajaran selanjutnya akan segera berbunyi..."

Tanpa mereka sadari sedari tadi seorang pria dengan rambut seperti buntut ay- ehem... maksud narator rambut yang tegak nan indah tengah mendengarkan percakapan mereka sambil menggenggam erat kedua tangannya, serasa ingin menghancurkan sesuatu saat itu juga. "Kuso!" namun hanyalah umpatan itu yang terdengar dan sesaaut kemudian sosok itu menghilang hanya meninggalkan putaran angin kecil di tempatnya berdiri.

"Hm?" Sakura menengok ke arah di mana tadinya Sasuke berdiri. "Ada apa Saku-chan?" Tanya kedua temannya hampir bersamaan "Tidak.. tidak apa-apa" Dan kemudian mereka kembali berbincang sambil memakan bekalnya, dengan topik yang lebih ringan tentunya agak mereka bisa menikmati obrolan sambil makan.

~0~

Langit sudah berwarna kemerah-merahan, menandakan malam sebentar lagi akan tiba. Sakura kini tengah menikmati selangkah demi selangkah jalan menuju rumahnya meski awalnya bersungut-sungut karena kakaknya tidak menjemputnya dan Sakura sudah menelepon berkali-kali tetap tidak di angkat kakaknya. Tapi lama kelamaan Sakura menikmati perjalanan pulangnya dengan damai, melewati padang rumput di pinggiran sungai, jalan-jalan yang di penuhi dengan orang, melewati pertokoan yang menjual banyak barang. Sakura merasa itu pertama kalinya dia berjalan pulang dengan santainya,"Hmm... aneh.. kalau di ingat-ingat kapan terakhir kali aku berjalan seperti ini yah?".

Brugh!

"ittai!" Sakura jatuh terduduk ke tanah, dia menabrak seseorang di depannya.

"Cih kalau jalan bisa perhatikan jalan tidak?" Seorang-ah tidak tiga orang pria tengah berdiri di depan Sakura yang jatuh terduduk tanpa berniat menolongnya, sama sekali.

"Nee... anak ini manis juga bos.. bagaimana kalau..." Bisik salah satu pria itu dengan tatapan menjijikkan ke arah Sakura. Sakura segera berdiri hendak berlari, belum sempat membalikkan badan pria yang di tabraknya menggenggam erat tangan Sakura.

"Mau kemana gadis cilik?" tanyanya dengan tatapan yang mesumnya.

"Ma-maaf telah menabrak anda,,, i-ijinkan saya pergi.." Sahutnya dengan suara lirih, takut akan kemungkinan terburuk yang terjadi pada dirinya.

"Tenanglah gadis cilik.. mari kita selesaikan ini di tempat yang sepi.." Sahut pria yang lainnya sambil berusaha mendorong Sakura ke gang sempit yang gelap.

"Ti-tidaaaak!" Teriaknya sambil memejamkan mata dan berusaha melawan.

...

...

...

...

...

'aneh...'

"Hei kau tidak apa-apa Saki-ah Sakura-chan?" Suara lembut seorang gadis memasuki telinga Sakura, perlahan Sakura membuka matanya dan melihat Ino dan Hinata tengah menatapnya dengan cemas di belakangnya tiga pria tadi sudah babak belur.

"eh.. ah.. i-iya... arigatou.." gumam Sakura yang masih bingung dengan apa yang barusan terjadi.

~,~

"Aku benar-benar berterimakasih Hyuga-san Yamanaka-san.. bila tidak ada kalian entah apa yang terjadi padaku tadi..." Entah sudah keberapa kalinya Sakura berkata demikian kepada Ino dan Hinata, kini mereka tengah memakan kue di sebuah cafe.

"Sudahlah bukan masalah besar... lain kali bila berjalan pulang bersama dengan yang lain saja.. jangan sendirian oke?" Seru Ino sambil mengacungkan garpu makannya.

"Be-benar kata Ino-san" Lanjut Hinata yang kini tengah meminum ocha hangat miliknya.

"Bagaimana kalian bisa mengalahkan mereka? mereka memiliki badan yang jauh lebih besar dari pada kalian?" Tanya Sakura sambil mengerinyitkan dahinya menandakan dirinya sungguh penasaran.

"A-ah itu... hm..." Keringat dingin mulai mendera di pelipis Ino, sedangkan Hinata menoleh ke sana ke mari berpikir alasan apa yang cocok. Berkata kami adalah ninja tentu tidak mungkin, di dunia ini ninja tidak ada kan?.

"E-ettoo..." gumam Ino yang masih bingung bagaimana menjawab pertanyaan Sakura. Sakura kini sedang menatap kedua malaikat penolongnya ini dengan heran, dia sering merasa kedua orang ini begitu familiar... Tapi siapa? pertanyaan itu berputar setiap Sakura berkomunikasi dengan mereka.

"Ah sudahlah yang penting kalian tidak terluka karena menolongku.. Terimakasih Banyak" Senyum tulus Sakura terkembang sambil mengatakan hal itu. "Ah baiklah... sudah jam segini sebaiknya aku pulang... dan biarkan aku mentraktir kalian.. hitung-hitung membalas kebaikan kalian.." Sakura berjalan menuju kasir membayar semua makanan yang telah mereka konsumsi.

"Kalau begitu .. Sampai ketemu besok..." Sakura berpamitan untuk kembali melanjutkan perjalanannya.

...

...

...

"Apa kita perlu mengikutinya lagi Ino-san?" Hinata memulai berbicara saat Sakura sudah agak jauh.

"Tidak... sampai di sini saja... blok depan aku merasakan cakra yang aneh... Sebaiknya kita kembali ke rumah saja.." Sahut Ino yang hanya di tanggapi dengan Anggukan kepala Hinata sebagai jawabannya.

Prang!

Terdengar suara kaca pecah saat Ino dan Hinata mendekati rumah mereka, Keduanya saling bertukar pandangan dan tanpa banyak perkataan mereka bergegas masuk ke dalam rumah.

"Ada ap-" Belum selesai Hinata menyelesaikan perkataannya suara teriakan dan pemandangan piring terbang di depan matanya membuatnya terdiam.

"Teme! Tenanglah... apa yang kau lakukan?! Temee!" Terlihat Naruto tengah berusaha meredam kemarahan Sasuke yang entah karena apa. Kakashi hanya duduk di sofa sambil membaca buku mesumnya untuk kesekian kalinya.

Sasuke tengah berusaha kembali mengendalikan emosinya, entah apa yang merasukinya sehingga citra dirinya kini berubah, yang awalnya cool pendiam dan tidak menunjukkan emosi sama sekali kini menjadi pria yang emosinya meledak-ledak.

"Cih! Sial!" Sasuke menyingkirkan tangan Naruto yang memegangi dirinya dan pergi ke kamarnya , dengan membanting pintu kamarnya sekeras mungkin tanpa menghancurkannya-sepertinya kita menemukan satu hobi Sasuke yang baru.

"Naruto-kun... sebenarnya ada apa?" Tanya Hinata yang sudah bisa mengontrol sikapnya yang sempat kaget melihat pemandangan yang bisa di bilang baru ini.

"Entahlah Hinata-chan... tiba-tiba saja Sasuke mengambil semua benda pecah belah dan melemparkannya ke arah Kakashi-sensei... Haah... dasar si Teme... dia sedang aneh..." Gerutunya Sambil memeluk Hinata yang bisa di tebak mukanya sudah sangat memerah dan hampir pingsan.

"Dasar.." Hanya itu yang bisa di katakan Ino yang kini sudah berjalan ke kamarnya ingin menghilangkan debu yang menempel padanya.

~v ~

"Tadaimaaa~" ucap Sakura saat memasuki Rumah, dan kesan pertama setelah memasuki rumahnya adalah 'aneh'. Biasanya ibunya akan ke pintu depan dan menyambutnya, dan lagi hari sudah malam tapi lampu di dalam rumahnya masih padam.

"Kaa-chan.. nii-chan.." Panggil Sakura sambil berjalan menuju ruang makan, mengingat ini saatnya jam makan. Saat menyalakan lampu ruang makan betapa Kagetnya Sakura melihat seseorang bertopeng tengah duduk di meja.

"Tou-san.." Wajah ceria Sakura terpancar jelas, tapi entah kenapa badan Sakura tidak bergerak memeluk Ayahnya seperti yang dia ingat. Sakura hanya bergerak ke dekat ayahnya dan duduk di dekatnya. Ibu dan Kakaknya tengah tersenyum sambil melihat Sakura dan Tousan tengah berbincang-bincang, tapi jika Kalian amati dengan jelas tergambar ketakutan di mata Ibu dan Kakaknya.

"Kaachan? niichan? Ayo sini duduk,, aku sudah lapar.."

Dan setelah mereka berdua duduk di meja makan, acara makan malampun di mulai.

"Nee... Sakura.. besok kau ku antar ke sekolah ya?" Kini Tou-san dan Sakura masih berada di ruang makan, Sakura tengah mencuci piring dan Tousan membaca entah gulungan apa - ingin Sakura bertanya apa yang di bacanya tapi di urungkannya.

"Tidak perlu tou-san... Tou-san pasti capek... di rumah saja Sakura bisa berangkat sendiri" Sakura melepas apron yang di gunakan agar cipratan airnya tidak mengenai bajunya. "Nah Sakura naik dulu ya Tou-san... Sakura capek... setelah mandi Sakura akan tidur.. Oyasuminasai... Tou-san..." Sakura berjalan ke atas setelah mendengar Sahutan 'oyasumi dari ayahnya'.

Setelah Selesai mandi Sakura membaringkan badannya di tempat tidur sambil memandangi atap rumahnya.

"Sungguh aneh... seingatku aku akan memeluk Tou-san.. tapi tadi..." Sakura memandangi kedua tangannya yang sempat gemetar meski sesaat, saat dirinya mendapati ayahnya di rumah... "Apakah hanya perasaanku saja ya... Tou-san kan orang baik... dia begitu menyayangiku kan..?" gumamnya lirih sambil menutup kedua matanya dengan tangannya dan tanpa di sadarinya Sakura sudah terbang ke dunia mimpi.

"Hmm... jutsuku sudah mulai melemah sepertinya... dan mereka sudah mulai aktif rupanya... besok saja ku perbarui jutsu pada Sakura, Cakraku habis memperbarui Jutsu yang ku pasang di daerah sini" Gumam Tobi sambil membaca gulungan berisi jutsu-jutsu unik di seluruh dunia (a/n : ini karangan author jangan protes oke :v)

"AHahahahahaahahahahahaha!" Tawa sadis menggelegar di seluruh Rumah, membuat Konan dan Sasori bergidik ngeri dan segera mengunci pintu kamar masing-masing .

TBC

~o~~.~~,~~v~

a/n:

Benar-benar maaf... *dogeza*

Author tak bertanggung jawab membiarkan teronggok setahun... Masalah Kampus buat stress... di tambah laptop masuk bengkel dan data hilang, modem juga bikin emosi.. sempet di biarin dlu ini fic dengan sengaja *di gantung* cuman pas mood eeeeeeeeeeeh! password lupa .-. kesalahan Author pelupa ya gini.. kalau gag nyatet bisa lupa T_T

Maaf ga bisa bales Satu-satu... bagi yang nunggu moga ini menghibur.. chapter 5 ini di kerjakan juga... di usahain banyak XD yang ini ga banyak.. ini fict lambat banget... jadi maaf ya kalau kurang berkenan.. kemampuan author hanya segini,.. .-. mohon maaf klu kurang memuaskan...

Dan kalau chapter yg ini terkesan terburu-buru di selesein - yah emang bener.. nulisnya cuman semalam dan lagi cuman dikit... tai yg chapter 5 di usahain panjang deh DX

Maaf dan terimakasih XD

dan mohon reviewnya yah,,, .-.