Haloo... =v=)/

Tumben saya muncul cepet /gapenting /dibuang

.

.


Sebelumnya:

.

"J-JANGAN BUNUH A-YA!" teriak C-ta sebisanya.

"Hm.. Coba kita lihat apa mau teman-mu yang satu ini. Nee, A-ya… Bagaimana kalau kau pilih sekarang?"

Mata A-ya melebar. Begitu pula C-ta.

Bahkan mereka tahu apa yang akan dikatakan Kokkuri-san setelahnya.

.

"Pilih C-ta yang mati dan kau kembali menjadi manusia? Atau kau yang mati dan C-ta selamat, hm?"

.

"A-YA JANGAN!"

.

.

~To Save You, That's All~

Genre : Romance, Mystery, Angst, Friendship (just a little, maybe?)

Shuuen no Shiori (c) Suzumu

To Save You, That's All (c) Yuki Utari

WARNING : SHOUNEN-AI, BL (BOYS LOVE)

Pairing : C-ta x A-ya (CA)

.

.

HAPPY READING, MINNA-SAN~

.

.


To Save You, That's All - Chapter 3

.

"A-YAAAAAAA!" jerit C-ta sekencang-kencangnya.

"Berisik tau!"

Mata C-ta yang sudah melebar langsung mengikuti arah suara yang datang dan tersentak melihat sosok di depannya.

"B-B-ko…?" Tapi, kemudian pikiran C-ta langsung berputar cepat. Ia langsung melompat mundur menjauhi gadis berambut coklat sebahu itu. Matanya memandangi sosok B-ko was-was."K-Kokkuri-san…?!"

Sambil menggaruk kepalanya, gadis itu menghela napas. "Aku D-ne, bodoh."

Tatapan C-ta melunak. C-ta yang tadinya sudah siap tempur (pasang kuda-kuda dan tangan mengepal), kini hanya berdiri melongo. "Eh? D-ne…?"

"Ya. Kupikir kau mengenaliku walaupun sekarang dalam sosok B-ko," dengus D-ne meremehkan.

"Jelas-jelas kau terlalu mirip B-ko untuk di panggil D-ne, mana ku tahu kau B-ko atau D-ne," balas C-ta sinis.

D-ne memasang wajah bingung. "Lalu tadi sebelumnya kenapa kau bisa memanggilku D-ne?"

"Dari gerak-gerikmu saat ketakutan. Kalau B-ko mungkin akan terduduk di tanah karena kakinya lemas akibat ketakutan. Tapi, kau hanya terpaku, bahkan siap berlari. Tidak seperti B-ko," jelas C-ta.

"Hm… Kau mengenali B-ko sejauh itu ya…"nada suara D-ne berubah seperti sedang menggoda C-ta.

C-ta berdecak kesal. "Bodoh! Dia menempel mulu pada A-ya bagaimana aku tidak tahu!"

Senyum jahil D-ne berubah jadi senyum masam. "Menempel pada A-ya ya… Huh!"

C-ta tidak menyahut ucapan D-ne. Peduli amat. Ia hanya berjalan lalu duduk di bangku dan mengambil boneka kelinci A-ya yang tergeletak di tanah.

Huh! Yang tadi mimpi ya…?

Dipeluknya boneka kelinci itu erat-erat. Pikirannya berkeliaran kemana-mana.

Tapi… Yang tadi terasa terlalu nyata untuk sekadar mimpi. Rasanya menakutkan… Batin C-ta sambil memejamkan mata, ingin segera melupakan mimpi tadi.

"Nee, C-ta…"

"Apa?" tanggap C-ta cuek. Ia lebih peduli pada bagaimana ia bisa mendapatkan info tentang cara mengembalikan A-ya daripada mengobrol dengan D-ne.

"Apa maksud perkataanmu sebelumnya?"

"Perkataan yang mana?"

"'kau puas' dan menamparku. Apa maksdumu, aku tidak paham sama sekali."

Mata C-ta menatap D-ne dengan pandangan marah.

Hah? Masih tidak paham…?!

C-ta berusaha kuat menahan tangannya agar tidak menampar D-ne sekali lagi.

Dia pura-pura tidak tahu atau bagaimana?! Rutuk C-ta kesal dalam hati. "Kau bodoh atau apa?!"

"Ha?" D-ne kontan menoleh pada C-ta. Bingung? Tentu saja. Lagi-lagi C-ta bergumam tidak jelas seperti itu. "Aku tidak mengerti, C-ta. Tolong bicara yang jelas!"

C-ta meraih kerah D-ne dan mendorong gadis itu jatuh ke tanah. Tangan kirinya menahan kedua tangan D-ne yang berusaha berontak. Tangan kanannya mencengkram dagu gadis itu. "Kau pikir aku tidak tahu dengan apa yang kau lakukan pada B-ko?!" desis C-ta.

"A-Apa maksudmu…?!"

"Jangan berpura-pura tidak mengerti, D-ne. Aku tahu persis kau yang telah membunuh B-ko!" kali ini suara C-ta naik satu oktaf. Sungguh, gadis di hadapannya sungguh sangat menjijikan di matanya.

D-ne terbelalak ngeri. "Apa katamu?! AKU TIDAK MEMBUNUH B-KO!"

"JANGAN BOHONG!" bentak C-ta keras-keras. "Kalau tidak, mana mungkin Kokkuri-san mengejarmu dalam wujud B-ko! DAN KAU TIDAK MUNGKIN BERWUJUD SEPERTI B-KO!"

D-ne terdiam. Matanya terbelalak, tapi pandangannya kosong. "A-aku… aku… tidak… aku…"

C-ta melepas cengkramannya kemudian berdiri dan menyandarkan punggungnya pada tiang lampu taman. Tangannya memijat keningnya perlahan. Bisa gila ia lama-lama jika terus berada dalam keadaan seperti ini.

Kelihatannya D-ne benar-benar dikuasai setan bernama pikiran negatif manusia saat membunuh B-ko.

"Sial!" umpat C-ta. Ya, kalau saja ia juga tidak dirasuki setan itu.

.

"Bagaimana rasanya menusuk orang, hm?" C-ta mendongak kaget.

"SIAPA ITU?!" Ia berbalik ke belakang. Matanya mencari ke setiap sudut taman, tapi tidak ada seorang pun.

C-ta menarik tangan D-ne agar gadis itu berdiri. "Cepat, ada yang aneh!" Walaupun C-ta benci setengah mati pada D-ne, ia tidak bisa membiarkan seseorang mati lagi. Cukup A-ya yang ia lihat kematiannya di depan matanya.

"Sudah merasa sempurna, hm, D-ne?" kali ini D-ne yang tersentak kaget.

"S-S-S-SIAPA ITU?!"

C-ta menoleh pada D-ne yang sudah sepenuhnya sadar dari rasa syok akibat kematian B-ko. "Kau dengar juga ya…"

Kedua anak itu segera merapatkan punggung. "Kau perhatikan arah sana, dan aku sebaliknya. Paham?"

D-ne hanya mengangguk. Gadis itu menepuk kedua pipinya kencang dan bergumam, "Lupakan masa lalu!"

C-ta ikut bergumam. Tak lupa, digenggamnya boneka kelinci A-ya erat-erat. "Ya, kau benar, lupakan masa lalu—"

.

"—Sekarang hidup dan matimu yang dipertaruhkan di sini."

.

.

.

C-ta merogoh saku jaketnya. Ia ingat membawa barang-barang itu sebelum pergi tadi. "D-ne, ini…"

D-ne melirik barang yang diserahkan C-ta. "Gunting…?"

"Hm. Untuk jaga-jaga," jawab C-ta singkat. Ia sendiri pun sudah menggenggam cutter dan mengeluarkan bagian tajamnya.

"HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA!" Suara tawa yang kencang dan mengerikan menggema di taman itu. C-ta dan D-ne makin merapat dan menggenggam satu-satunya senjata yang mereka miliki.

.

WUUSSHH….

.

"!" D-ne dan C-ta dengan cepat menoleh ke belakang. Kokkuri-san, lagi-lagi dalam wujud B-ko, muncul tepat dari tengah-tengah mereka.

D-ne yang memang refleksnya cepat langsung melompat menjauh. Tapi, tidak dengan C-ta. Dorongan kuat dari Kokkuri-san mengenai tubuhnya dan ia terlempar empat meter sampai membentur lampu taman. Bahkan, tiang lampu tersebut penyok dan ikut tumbang.

"Kau…" geram D-ne sambil menatap tajam Kokkuri-san. Kali ini ia tidak takut. Tidak ada yang perlu ditakutkan untuk memperjuangkan hidupnya.

Ia harus hidup demi B-ko!

"Hoo… tinggal kau ya?" Kepala Kokkuri-san menoleh ke belakang dengan tidak wajar, seperti tidak punya sendi saja. Matanya yang lebar namun dengan pupil yang kecil menambah seram penampilannya.

"Kau… Berani-beraninya kau berwujud seperti B-ko! Jangan kau seenaknya menggabungkannya dengan wujud aslimu yang buruk! " Desis D-ne. Tangannya mengacungkan gunting mengarah ke wajah Kokkuri-san.

"Kau sendiri… bukannya sama, hm?"

D-ne tersentak.

Kokkuri-san lagi-lagi tertawa. Jarinya meraba ujung gunting yang digenggam D-ne. "Memangnya kau pikir dirimu tidak buruk?" Lalu mematahkan gunting itu.

Mendengar D-ne terkejut, Kokkuri-san kembali tertawa. "B-ko yang sempurna ya… Memangnya dirimu sempurna?"

"Diam kau!" D-ne mundur selangkah.

"Memangnya kau cocok untuk memerankan B-ko yang sempurna? HAHAHAHAHA!"

D-ne terduduk di tanah dan menutup telinganya kencang-kencang. "DIAM KAU! DIAM!"

"Bahkan, karena kau, B-ko malah jadi seperti mengeluarkan aroma busuk di balik kesempurnaanya. Kau yang membuat B-ko menjadi tidak sempurna lagi. Kau berhasil nak! Kau berhasil! HAHAHAHAHAHA!"

"DIAM! DIAM! DIAM! DIAAAAAMMM!" D-ne makin meringkuk. Ia tidak mau dengar itu lagi. Tidak mau.

Kokkuri-san mendekati D-ne dan mengangkat tinggi-tinggi pisau yang dibawanya. Lalu mengayunkannya cepat ke arah D-ne.

"LEBIH BAIK KAU MATI SAJA!"

.

JREB!

.

"Enak saja menyuruh orang mati." C-ta menarik cutternya keluar dari punggung Kokkuri-san.

"AARRGHHHH! APA YANG KAU LAKUKAN BOCAH?!" jeritan Kokkuri-san menggema di taman yang sunyi itu. Pisau yang digenggamnya jatuh ke tanah.

C-ta cepat-cepat berlari ke depan D-ne, melindungi gadis itu.

"KENAPA BISA KAU TIDAK PINGSAN ATAU MATI SEKALIAN SETELAH KULEMPAR TADI?!" Teriak Kokkuri-san. Wajahnya menunjukkan kemarahan.

"Memangnya aku selemah itu apa," balas C-ta singkat.

Darah masih menetes-netes dari kepala C-ta yang terbentur tiang. Ia sendiri sebenarnya tidak mengerti mengapa ia terlihat baik-baik saja setelah terbentur sekeras itu.

Ah, dipikirkan sekarang pun tidak penting. Yang lebih penting adalah menyingkirkan makhluk ini dari hidupnya. Selamanya.

"HAHAHAHAHAHA!" Tiba-tiba Kokkuri-san tertawa keras, bahkan lebih keras dari yang sebelumnya.

C-ta bingung. Ada yang tidak beres dengan makhluk ini, pikirnya.

"Ku akui kau tidak selemah yang kukira, C-ta…"

Alis C-ta naik. Kini ekspresi bingungnya makin tertera di wajahnya.

Kokkuri-san memandang C-ta dengan tatapan remeh "Ya, kau tidak lemah… Bahkan kau bisa dengan mudah membunuh temanmu—ah, tidak… sahabatmu…? Atau bisa kubilang sebagai tumpuan hidupmu? HAHAHAHA!"

"BERISIK!" C-ta mulai kesal. Napasnya terengah-engah karena menahan amarah.

"Hoo… Aku suka ekspresi marahmu... Sadar tidak, kau membunuh dia dengan ekspresi itu? HAHAHAHAHAHA!"

"DIAM KAU!" emosi C-ta makin memuncak. Dan Kokkuri-san makin menyeringai menikmati permainan yang ia ciptakan.


"C-ta, jangan terpancing olehnya."


C-ta tersentak kaget. Kepalanya menoleh ke sana kemari. Tidak ada siapa-siapa.

Tapi, yang barusan… suara A-ya…?

"Ya, ya, kau juga menuduhnya sebagai pengkhianat. Tanpa bukti dan hanya tebakan saja. Padahal dia menganggapmu sebagai penyelamatnya, tapi malah kau yang membunuhnya. Ironi, bukan? HAHAHAHAHAHA!"

"Sudah selesai bicaranya?"

Kokkuri-san berhenti tertawa. Pandangannya mengarah pada C-ta yang juga menatapnya dengan wajah yang tenang.

"Aku takkan meringkuk di tanah seperti D-ne, kau tahu." Dan C-ta langsung menerjang Kokkuri-san dan menusuknya wajahnya dengan cutter.

"SIALAN!" Kokkuri-san mengamuk mendapati wajahnya yang tertusuk. Walaupun Kokkuri-san tidak bisa dibunuh, tetap saja rasa sakit akibat tusukan itu terasa jelas.

Baru C-ta akan menyerangnya lagi, Kokkuri-san berteriak memperingati C-ta, "BODOH SEKALI KAU! PADAHAL KALAU KAU SELAMATKAN GADIS ITU, A-YA AKAN MENGHILANG SELAMANYA!"

C-ta membeku di tempat. Matanya terbelalak. Napasnya terhenti.

A—apa…? Menghilang selamanya…?

"Jangan bercanda! Memangnya aku percaya padamu!" C-ta mencoba untuk tidak terpancing perkataan Kokkuri-san.

"Bercanda katamu? Memangnya kau tahu alasan sebenarnya A-ya berkata padamu untuk menolong D-ne?"

Mata C-ta kembali melebar. Jujur, ia masih tidak tahu alasannya dan hal itu juga yang ingin ia tanyakan pada A-ya.

"Memangnya kau tahu kenapa A-ya yang sudah mati bisa ada di sini?"

Mata C-ta makin melebar. Tangannya mulai gemetar, ah tidak, seluruh tubuhnya mulai gemetar.

"Memangnya kau tahu kenapa kau mendapatkan mimpi tadi?"

.

BRUK!

.

C-ta jatuh berlutut ke tanah dan napasnya mulai tidak teratur. Mimpi tadi… Kenapa dia bisa tahu tentang mimpi itu…?!

"Biar kujawab semuanya! Pertama, mengapa A-ya ada disini? Karena dia ingin menyelamatkanmu dan tentu saja itu menjawab pertanyaan yang kedua, kenapa ia menyuruhmu menyelamatkan D-ne. A-ya ingin kalian berdua selamat. Jawaban yang mudah seharusnya."

C-ta hanya terdiam. Tapi, itu memang terasa seperti A-ya. A-ya yang terlihat cuek, tapi sebetulnya tidak.

"Lalu, mengapa kau mendapatkan mimpi tadi."

C-ta tercekat. Ia penasaran sekaligus takut. Kenapa A-ya harus mati…?

"Salah satu dari kalian harus mati karena kau menyelamatkan gadis itu, tentu saja. itu juga mudah. HAHAHAHAHAHA!"

C-ta memukulkan tinjunya ke tanah. "TAPI KENAPA?!"

"Itu perjanjian yang kubuat dengan A-ya. Ia kuberi kesempatan untuk menyelamatkan kalian dan aku hanya memakan dua jiwa. Karena B-ko sudah mati, yang ada sekarang hanya dua pilihan. D-ne mati, atau A-ya yang kembali mati."

"BOHONG! KAU AKAN TETAP MEMBUNUH KAMI SEMUA WALAUPUN D-NE MATI!"

Kokkuri-san menyeringai. "Bohong? Aku berbohong? Kau tahu, aku tak pernah mengatakan kebohongan atau mengingkari janji. Kalian lah manusia yang mengacaukannya. Dan sekali lagi akan ku lihat bagaimana kau akan mengacaukannya."

C-ta terpenjat. Kini ia bimbang.

Apa yang harus dia lakukan? Bagaimana kalo makhluk ini berkata hal yang sebenarnya? Tapi bagaimana kalau ia berbohong?

.

"Bunuh gadis ini dan A-ya kembali menjadi manusia…

Atau kau selamatkan D-ne lalu A-ya akan mati untuk kedua kalinya…

Hm… Atau kau boleh membunuh dirimu sendiri…"

.

.

.

"A-ya, maafkan aku…"

.

.

.

.

.


#Note Note Author#

.

Yeaay… bisa apdet lagi, banzaaiii…. *tebar bunga* /dibungkem

*lagi-lagi masang trollface* nyahahahaha… maksud omongan C-ta apaan hayoo… /ngacir

Ah ya, soal kokkuri-san… sebenernya saya ga tau kokkuri-san itu bisa makan jiwa atau engga. Yang saya tau, Kokkuri-san itu semacam jelangkungnya orang jepang. Udah, itu doang. Tapi, saya bikin gitu aja biar seru (mana seru!) (U.U)

Dan sekali lagi, makasih buat yang udah baca, review, fave, ataupun follow fict ini…. Aku cinta kaliaaann \(*w*)/ /cukupnak

yak, sampai jumpa di chapter depaaann…. =v=)/))