Haaai…!
MOHON MAAF LAHIR BATIN YA!
Wah setelah vacuum sebentar, akhirnya Yume balik lagi dengan chapter 4.
Yah rencana awal mau buat two shot kok jadinya kayak gini ya?
Euhm, gimana pendapat readers soal ketulalitan saia yang gak bisa mastiin cerita ini bakalan jadi berapa chapter?
Yang pasti gak bakalan saia jadiin 10 chapter koq. Mudah-mudahan cepat selesai.
Ah, Yume hampir lupa, saia mau nanya apakah kalian tetap suka dengan fic ini?
Mudah-mudahan suka sih!*kemplanged*
Ah, reviewsnya saya jawab dibawah saja ya?
WARNING :
Shou-ai, miss typo
Author newbi
This is it!
Naruto by Masashi Kishimoto
The Differences by YumeYume-chan
CHAPTER 4
The Problem
Sasuke masih tidur dengan lelap di kamar apartemen Naruto saat ponselnya terus berbunyi. Dengan malas ia pun menjawab teleponnya.
"Halo,"
"Sasuke, kau dimana?" teriak Obito yang merupakan paman sekaligus manajernya.
"Ada apa?" Tanya Sasuke yang kaget dengan teriakan pamannya itu.
"Cepat nyalakan televisi dan lihat berita tentang dirimu," kata Obito lagi.
Dengan malas-malasan Sasuke pun bangkit dan pergi menyalakan televisi. Naruto masih berkutat di dapur dengan masakannya.
Saat melihat berita tentang dirinya Sasuke sukses membulatkan matanya. Berita yang tampaknya sedang dibahas hampir diseluruh infotainment yang menyatakan dirinya adalah seorang gay.
Dalam berita itu tampak Sasuke yang sedang menggenggam tangan Naruto. Meskipun wajah mereka berdua tidak begitu jelas, Sasuke sangat yakin foto itu diambil kemarin.
Prang!
Sasuke mungkin terkejut saat melihat berita yang ada di televisi, tetapi ia lebih terkejut lagi saat menyadari Naruto juga menonton berita tersebut.
"Ah! Maaf. Biar aku bereskan dulu. Kau cuci muka saja nanti aku siapkan sarapan," kata Naruto lalu ia pun segera ke dapur mengambil lap.
Sasuke pun segera ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Setelah selesai mandi dan berganti baju ia pun menemui Naruto yang sedang duduk di meja di depan televisi. Televisi sudah dimatikan dan Naruto tampak sibuk menata piring untuk Sasuke.
"Aku memang sangat terkejut saat melihat berita tadi. Tapi mau bagaimana lagi? semua orang juga pasti berpikir begitu jika melihat dua orang pemuda bergandengan tangan, iya kan Sasuke?" ucap Naruto lalu mulai menikmati sarapannya.
"Hn, lalu kau inginnya bagaimana Naruto?" Tanya Sasuke dengan penekanan pada nama Naruto. Selama ini mereka jarang memanggil dengan nama asli mereka. Biasanya mereka saling memanggil dengan panggilan 'sayang' mereka. Dan bila sudah mengucap nama asli berarti ada masalah serius yang akan mereka bahas.
"Lakukan saja konferensi pers dan katakan bahwa semuanya tidak benar," jawab Naruto.
"Kau ingin mengingkari hubungan kita?" Tanya Sasuke dengan nada menahan emosi.
"Aku tidak bilang begitu kan?" jawab Naruto.
"Tadi kau sendiri yang bilang untuk mengatakan pada pers bahwa semuanya tidak benar," sahut Sasuke dingin, ia menghentikan acara makannya dan menatap Naruto dengan tajam.
Naruto bukannya tidak sadar atas tatapan marah Sasuke. Ia sangat sadar, namun ia lebih memilih meneruskan makannya.
"Makanlah dulu Sasuke, nanti kita bahas masalah ini," ucap Naruto tenang.
Menurut, Sasuke kembali melanjutkan sarapannya yang tertunda. Setelah selesai makan, Naruto segera mencuci piring dan hal itu membuat Sasuke seperti kebakaran rambut (Author: mau bilang kebakaran jenggot, Sasuke kan gak punya jenggot. Jadi rambut aja ya?) melihat sikap Naruto.
Setelah selesai mencuci piring ia lalu duduk di hadapan Sasuke dan menatap Sasuke dengan pasti,"apa kau sudah mencerna kata-kataku tadi?" tanyanya pada Sasuke.
"Apa maksudmu?" Tanya Sasuke tidak mengerti.
"Dengar Sasuke, baik kau dan aku sejak awal mengerti bahwa hubungan kita ini adalah hubungan yang sulit untuk diterima oleh masyarakat luas. Jadi sudah sewajarnya bila mereka sangat heboh saat ini. aku mencintaimu Sasuke, namun aku tidak bisa membiarkan karirmu hancur karena hubungan ini," jawab Naruto.
Sedikit demi sedikit Sasuke mulai paham apa yang dimaksud oleh Naruto. Namun ia tetap tidak ingin berpisah dari kekasihnya itu. Mungkin hubungan mereka salah di mata orang lain namun mereka merasa hubungan yang mereka jalani adalah benar. Dan jika seandainya pendapat mereka dipertemukan dengan pendapat orang banyak sudah pasti tidak akan ada penyelesaian karena masing-masing pihak akan mempertahankan pendapat mereka. Lalu, jika hal ini terjadi apa yang harus mereka lakukan?
"Baiklah, aku akan melakukan konferensi pers," kata Sasuke pada akhirnya, "namun aku tetap tidak ingin berpisah denganmu."
"Ya, aku mengerti," jawab Naruto.
Pembicaraan selesai dan Naruto memutuskan untuk mandi. Setelah merapikan seragamnya ia pun siap utnuk berangkat ke sekolah.
"Teme, aku berangkat ya?" pamitnya pada sang teme.
'Greb'
Tanpa menjawab ucapan Naruto, ia langsung memeluk dobenya.
"Sasuke, ada apa?" Tanya Naruto bingung dengan sikap Sasuke.
"Kau tidak akan meninggalkanku," kata Sasuke. Ia semakin mengeratkan pelukannya pada pemuda blonde tersebut.
"Hm, tidak akan kok," sahut Naruto, "tapi sekarang aku harus ke sekolah."
"Tidak, kau harus menemaniku seharian di sini," kata Sasuke. dan ia pun menarik Naruto masuk ke kamar.
Trrt…..trrt…..trrt….
"Halo?" kata Naruto.
"Hei bocah! Kenapa kau tidak masuk sekolah hah!" seru seorang wanita yang sukses membangunkan Naruto dalam sekejap.
"Baa-chan! Aww," seru Naruto dari seberang telepon.
"Hei bocah, kau tidak apa-apa kan? Apa kau sakit?" seru Tsunade yang kaget mendengar suara Naruto.
"Ah tidak. Tadi a….aku sedikit pusing mungkin karena kelelahan bekerja," jawab Naruto berbohong.
"Baiklah, aku akan kesana. Kau tunggu saja-"
"Jangan!" seru Naruto. Memotong kata-kata Tsunade.
"Kenapa?" tanya Tsunade heran.
"A…anu, ka…apartemenku sedang berantakan. Iya!" jawab Naruto dengan kegugupan tingkat tinggi. Ia tidak biasa berbohong pada Tsunade.
"Oh, jadi begitu. Tapi sayang sekali, aku sudah di tangga menuju apartemenmu," kata Tsunade dengan santainya.
"Apa?" seruan Naruto hanya dibalas nada telepon yang ditutup.
"Teme!" seru Naruto memanggil Sasuke.
"Ada apa dobe? Aku sedang menjemur kasur tahu!" sungut Sasuke.
"Tsunade-baachan akan datang. Gawat, bagaimana jika dia melihatmu teme," panik Naruto, "cepat ambilkan aku baju, aku tidak mau dia melihatku begini. Bisa mati kita."
"Kau sudah pakai baju dobe!" sahut Sasuke santai.
"Eh?" bingung Naruto, "kok?"
'Aku yang memakaikannya. Tenang saja aku juga sudah membersihkan tubuhmu," Sasuke menjawab keheranan Naruto.
Pssh!
"Kau brengsek!" seru Naruto.
"Heh, kau juga menikmatinya kan?" seringai Sasuke.
"Kau-"
Brak!
"Hei bocah! Dimana kau?" teriak Tsunade setelah mendobrak pintu.
Dengan susah payah Naruto pun bangun dan menemui Tsunade.
"Aku di sini baachan," jawab Naruto. Jalannya tertatih-tatih menahan sakit.
"Naruto! Kau kenapa?" seru Iruka dari arah dapur. Rupanya ia datang bersama Tsunade dan langsung ke dapur ketika masuk tadi.
"Ah, tousan. Aku tidak apa-apa," jawab Naruto.
"Siapa?" suara Iruka yang tadinya ramah kini terdengar mengancam.
"Eh? Maksud tousan apa?" Tanya Naruto tidak mengerti.
"Ada orang lain di sini. Siapa dia?" tanyanya pada Naruto.
'Mati aku! Aku lupa, Tousan sangat protektif. Sasuke, kau pasti akan segera mati,' batin Naruto.
"Itu aku Jiisan, Tsunade-sama," kata Sasuke keluar dari kamar.
"Kau?" seru Iruka.
"Rupanya kau, Uchiha," kata Tsunade dengan nada santai seolah dia memang sudah memperkirakan hal ini.
"Err, mungkin lebih baik kalau kita duduk dulu," sela Naruto yang mulai merasakan adanya badai dari arah tousannya.
"Jadi, apa semua itu benar?" Tanya Tsunade setelah mereka duduk.
Naruto tampak gelisah, bingung harus menjawab apa.
"Itu benar, aku dan Naruto memang memiliki hubungan khusus," jawab Sasuke.
Naruto dan Iruka terkejut dengan alasan yang berbeda. Naruto terkejut karena tak menyangka jika Sasuke akan mengakui hubungan mereka berdua, sedangkan Iruka terkejut karena mendengar pengakuan Sasuke tentang hubungannya dengan Naruto. Tadinya ia berharap jika berita itu hanyalah gosip dan merupakan kesalahpahaman biasa. Ia tidak menyangka jika 'anaknya' telah berubah orientasi seksualnya.
"Dengar Uchiha-san, apa kau sadar hubungan kalian ini tidak bisa diterima oleh masyarakat luar?" Tanya Iruka setelah sadar dari keterkejutannya.
"Aku sadar. Tapi aku tidak peduli apa pendapat mereka," jawab Sasuke tegas.
"Tapi kalian berdua ini masih muda, kalian masih belum mampu berpikir secara rasional," sahut Iruka. Ia berharap agar Sasuke dan Naruto mau mengerti dan segera mengakhiri hubungan mereka.
Sasuke menarik nafas panjang lalu menghembuskannya pelan,"jiisan, aku mencintai Naruto dan Naruto pun begitu. Kami memang masih muda dan belum mampu berpikir secara rasional, tapi kami sangat paham jika hubungan ini adalah 'salah' bagi mereka yang hanya mementingkan norma. Tapi bagi kami hubungan yang 'salah' ini adalah benar dan baik aku maupun Naruto sudah siap dengan resiko yang akan merintangi jalan kami."
"Tapi Uchiha-san, aku rasa belum terlambat jika kalian mengakhirinya sekarang. Dan dengan begitu semua orang akan menganggap bahwa semua ini hanya gossip belaka," kata Iruka lagi.
"Iruka-san, kenapa tidak coba kau tanyakan apa pendapat Naruto mengenai masalah ini?" Tanya Tsunade. Ia tampak tenang-tenang saja sedari tadi. Namun meski begitu, ia mampu menangkap kegelisahan yang melekat pada wajah pemuda yang sudah dianggapnya sebagai cucu itu.
"eh?" seru Iruka dan Naruto bersamaan.
"Bukannya 'eh' tapi pendapat Naruto mengenai masalah ini. bagaimanapun juga Naruto sudah berumur 16 tahun, bahakan sebentar lagi 17 tahun. Sudah pasti ia mengerti akan resiko yang akan dia hadapi nantinya," sahut Tsunade.
"Tapi Tsunade-sama,"
"Iruka-san, aku mengerti selama ini kaulah yang merawat Naruto. Tapi jangan sampai kau lupa bahwa Naruto bukan lagi anak kecil yang harus selalu mendengar dan menuruti apa yang kau ucapkan. Ia sudah beranjak dewasa dan sudah sepatutnya jika sekarang kau memberinya kesempatan untuk bicara dan mengeluarkan pendapatnya," terang Tsunade pada Iruka.
"Lalu bagaimana denganmu Naruto?" Tanya Iruka kemuadian.
"A…..aku, a…aku ingin bersama Sasuke tousan," jawab Naruto pelan.
"Naruto," Iruka tak mampu mengucapkan apapun lagi selain mengucapkan nama anaknya. Sejujurnya ia masih belum bisa menerima hal ini. Ia tidak ingin Naruto merasakan luka di akhir kisah mereka nantinya karena ia yakin apapun alasannya hubungan mereka tidak akan pernah bisa diterima oleh masyarakat umum.
Namun melihat kesungguhan di mata anaknya itu, ia sadar Naruto pasti akan terluka jika ia tetap menghalangi hubungan mereka. Namun bagaimana dengan akhirnya nanti? Bukankah sakit di awal akan lebih baik dibandingkan merasa sakit di akhir?
"Tousan, aku tidak akan pernah menyesali keputusanku ini," sahut Naruto dengan yakin.
Iruka yang melihatnya hanya bisa menghela napas berat dan pada akhirnya ia pun berkata,"asalkan kau bahagia, Naruto."
Mendengar ucapan Iruka, Sasuke dan Naruto seolah merasakan angin dari surga yang menyejukkan hati mereka,"tapi khusus untukmu Uchiha-san aku tidak akan memaafkanmu jika kau melakukan hal yang tidak seharusnya pada Naruto," sambung Iruka yang sukses membuat Sasuke merasakan topan dari Neraka.
"Aku mengerti Jii-san," jawab Sasuke.
"Baiklah, satu masalah sudah selesai. Tinggal satu masalah lagi yang harus kita pikirkan," sela Tsunade tiba-tiba.
"Masalah?" Tanya Sasuke. Ia merasa masalah yang akan dibahas oleh kepala sekolahnya itu merupakan masalah yang sangat serius.
"Pers. Apa yang akan kau katakan pada pers mengenai masalah ini? Yang jelas kau harus menutupi hubunganmu dengan Naruto. Ini untuk kebaikan kalian berdua," kata Tsunade menjelaskan masalah yang paling penting saat ini.
"Aku dan Naruto sudah sepakat untuk itu. Aku akan melakukan konferensi pers dan mengatakan bahwa semuanya tidak benar," sahut Sasuke dengan berat hati. Sebenarnya ia tidak peduli jika harus mengungkap kebenaran hubungan mereka. Bahkan ia rela untuk melepas karirnya sebagai artis jika hal itu bisa membuatnya hidup bersama Naruto. Namun, jika dia melakukannya dampaknya akan berakibat pada keluarganya dan Sasuke tidak menginginkan hal itu terjadi.
"Jadi kalian sudah membicarakannya yah? Baiklah kalau begitu, aku rasa semuanya sudah beres. Aku harus pulang sekarang," kata Tsunade setelah mendengar jawaban Sasuke."Ah, satu pesanku pada kalian berdua. Kehidupan kalian sudah berubah, sebaiknya hati-hati. Kalian mengerti maksudku kan?" kata Tsunade dan ia pun keluar dari ruangan itu.
Keheningan menguasai apartemen Naruto setelah kepergian Tsunade. Semuanya tampak tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Hingga Iruka memecahkan keheningan tersebut,"Aku juga harus pulang. Baik-baiklah di rumah Naruto dan anda Uchiha-san kapan anda akan pulang?" Tanya Iruka dengan nada dingin.
"Aku akan pulang secepatnya Jii-san. Aku rasa bila hari mulai gelap," jawab Sasuke.
"Baiklah, aku pergi Naruto," kata Iruka dan ia pun meninggalkan apartemen tersebut.
Setelah kepergian Iruka, Sasuke dan Naruto pun dapat menghela napas lega.
"Ah, tadi kupikir kau akan habis dibantai tousan," ucap Naruto.
"Heh, tousanmu itu memperlakukanmu seperti anak gadis saja," kata Sasuke.
"Jangan sembarangan ya? Aku sudah bilang aku ini cowok teme!" sungut Naruto kesal karena disamakan dengan anak gadis.
"Sikap jii-san membuatmu terlihat seperti perempuan dobe," kata Sasuke santai.
"Grrr, teme! Jangan membuatku marah ya?" seru Naruto.
"Aku tahu kau itu cowok dobe! Makanya kulakukan berapa kali pun kau tidak akan hamil!" balas Sasuke yang tampaknya tidak ada hubungannya dengan yang dimaksudkan Naruto.
Sontak wajah Naruto pun memerah karena kalimat Sasuke. "Mati kau teme!" seru Naruto dan terdengarlah suara bak-buk dan sedikit rintihan dari apartemen itu.
Uchiha Sasuke keluar dari apartemen Naruto menjelang tengah malam. Ia harus segera bersiap-siap untuk melakukan konferensi pers dan membantah berita yang beredar meskipun berita itu benar. Ia tetap harus membantahnya dengan berat hati demi kelangsungan hubungannya dengan dobenya juga demi karir dan keluarganya.
'Dasar paparazzi sialan!' umpat Sasuke dalam hati.
"Sasuke apa kau sudah siap?" Tanya Obito, manajernya.
"Hn."
"Baiklah, ayo keluar," ajak Obito.
Saat mereka keluar cahaya blitz dari kamera para wartawan yang berusaha mengambil gambar mereka pun memenuhi salah satu ruang hotel yang mereka booking untuk melakukan konferensi pers.
Ya, hari ini Uchiha Sasuke akan melakukan konferensi pers untuk membantah semua berita yang beredar mengenai hubungannya dengan seorang pemuda.
"Uchiha-san apakah kabar yang beredar mengenai orientasi seksualmu benar adanya?"
"Uchiha-san apa pendapatmu mengenai berita yang beredar saat ini?"
"Tidakkah anda marah mengenai berita tersebut? Apakah anda berniat untuk menuntut orang yang menyebarkan berita tersebut? Uchiha-san?"
Berbagai pertanyaan dari para wartawan terus saja menghujani Uchiha Sasuke. mereka menuntut penjelasan mengenai berita tersebut. Namun Sasuke tampaknya tidak begitu peduli pada mereka. Terbukti dengan wajahnya yang tetap tanpa ekspresi.
"Saya harap anda semua tenang. Tujuan kami mengadakan konferensi pers saat ini adalah untuk mengklarifikasi berita yang beredar saat ini. jadi tolong simpan pertanyaan anda sebentar," kata Obito mengambil alih keadaan.
Setelah semuanya tenang, Obito pun meminta Sasuke untuk menjelaskan berita tersebut.
"Tidak ada penjelasan. Ada pertanyaan?" kata Sasuke dengan tampang datarnya dan sukses membuat Obito sweatdrop.
"Yah, baiklah silahkan yang ingin bertanya," kata Obito sambil mengelap sweatnya yang drop.
Semua wartawan pun mengangkat tangannya dengan antusias seperti seorang pelajar yang ingin bertanya saat pelajaran favoritnya berlangsung."Ya, silahkan," kata Obito menyilahkan wartawan tersebut.
"Uchiha-san, apakah foto tersebut benar-benar anda?" tanyanya.
"Ya, itu aku," jawab Sasuke singkat yang sukses membuat Obito yang sedang minum tersedak saking terkejutnya. Begitu pula dengan para wartawan lain yang langsung heboh mendengar jawaban Sasuke.
"Uhuk, uhuk, ehem! Baiklah silahkan penanya berikutnya," kata Obito, lagi-lagi berusaha mengendalikan keadaan.
"Jika yang di dalam foto itu benar-benar anda, apakah berita yang beredar juga benar? Apa pendapat anda mengenai hal ini?" Tanya seorang wartawan lagi.
"Seperti yang aku katakan sebelumnya, yang di dalam foto itu memang aku. Tetapi aku sama sekali tidak mengakui kebenaran berita itu," jawab Sasuke singkat dan tidak jelas.
"Uchiha-san, tolong anda jelaskan siapa pemuda yang bersama anda saat itu dan apa hubungannya dengan anda?"
"Seorang teman."
"Siapa namanya? Dari mana dia?" serbu wartawan lain
"Bukan urusan kalian."
"Bagaimana anda mengenalnya Uchiha-san?"
"Bukan urusan kalian,"
"Mengapa anda bergandengan tangan dengannya Uchiha-san? Bukankah hal ini aneh? Dua orang pemuda bergandengan tangan?"
"Hanya iseng. Bergandengan tangan adalah hal yang lumrah. Atau hal remeh semacam itu pun kalian tidak tahu?" balas Sasuke dengan cueknya. Tidak peduli pada wajah para wartawan yang memerah menahan kesal karena jawabannya yang singkat.
"Uchiha-san, apakah anda sadar anda terkesan menutup-nutupi hubungan anda dengannya? Bahkan anda kelihatannya sangat melindungi pemuda itu? Jika anda tidak menjelaskan lebih pada kami, maka berita tersebut akan dianggap benar dan anda akan dicap sebagai sorang gay. Tidakkah anda khawatir akan hal tersebut? Bagaimana dengan keluarga anda? Karir anda? Dan bagaimana dengan pemuda tersebut?" Tanya seorang wanita berambut merah muda panjang.
Mendengar runtutan pertanyaan dari wanita tersebut Sasuke tetap tidak terpengaruh, ia tetap memasang tampang datarnya.
"Aku tidak perlu menutupi apapun tentang diriku. Bukankah kalian wartawan yang selalu mendapatkan berita yang akurat? Lalu selama aku berkarir apa saja yang kalian dapatkan? Atau kalian sudah kehabisan berita tentangku sehingga membuat gossip tidak penting seperti ini? Tentang pemuda itu, aku memang melindunginya. Dia adalah seorang teman yang memandangku sebagai seorang manusia dan bukan 'objek'. Orang seperti dia hanya ada sedikit dari segelintir orang di dunia ini," jawab Sasuke yang membuat para wartawan terdiam. Kata-kata Sasuke benar-benar menusuk mereka.
"Kalau anda mengatakan tidak peduli, mengapa anda melakukan konferensi pers ini?" Tanya wanita berambut pink itu lagi, nampaknya ia tidak mau menyerah begitu saja.
"Tadinya aku juga tidak mau. Aku tidak peduli pada pencari 'objek', hanya saja 'dia' memaksaku yang mengakibatkan kami harus saling bertukar kepalan tangan," jawab Sasuke.
'Rupanya itu asal muasal memar di wajahnya? Baru kali ini ada yang berani mengusik wajah seorang Uchiha,' batin Obito.
"Lalu bagaimana dengan orang yang menyebarkan berita tersebut? Apakah anda akan mencari orang tersebut dan menuntutnya?"
"Che, apa kalian sadar dengan pertanyaan itu? Jika aku menuntut 'orang' yang menyebarkan berita tersebut maka seketika itu pula penjara akan penuh dengan 'orang' itu," kata Sasuke.
Mendengar pernyataan Sasuke, para wartawan pun bungkam seketika. Tidak ada yang berani mengeluarkan suara. Seolah-olah, sedikit saja suara yang mereka keluarkan akan membangunkan monster yang sedang tidur.
"Baik, saya rasa cukup sekian klarifikasi dari kami. Kami harap setelah ini berita yang kurang menyenangkan itu dapat dihentikan dengan jawaban yang diberikan oleh Uchiha Sasuke. terima kasih," kata Obito menyelesaikan sesi konferensi pers tersebut lalu mereka pun meninggalkan ruangan tersebut yang masih dihuni oleh para wartawan yang bungkam dengan wajah merah dan ekspresi marah, malu, dan takut yang bercampur menjadi satu.
Sasuke membanting tubuhnya di atas sofa setibanya ia di mansion Uchiha. Ia tidak peduli pada tatapan pelayannya yang khawatir padanya.
"Sasuke, kau itu benar-benar pandai membuat sensasi," kata Obito.
"Aku sama sekali tidak berniat untuk itu," sahut Sasuke cuek.
"Yah, tapi kau hebat Sasuke. meskipun baru berumur 17 tahun kau mampu membungkam para wartawan itu," puji Obito tulus.
'Itu karena aku sudah berjanji pada seseorang untuk mempertahankan karirku,' batin Sasuke tanpa menjawab Obito.
'Plok! Plok! Plok!'
Sontak Sasuke segera berdiri saat seseorang bertepuk tangan entah untuk siapa dengan gaya sok elegan. Suara itu datangnya dari arah tangga yang menghubungkan lantai satu dengan lantai dua. Wajah orang itu tidak jelas, hanya siluetnya saja yang tampaknya sedang menuruni anak tangga satu per satu.
"Siapa?" tanya Sasuke datar.
"Apa kau sudah melupakanku, Sasuke-kun?"
"Kau?" suara Sasuke tertahan melihat siapa orang yang berani memasuki mansion Uchiha seenaknya.
To Be Continue
Nah, siapakah orang itu?
Author juga gak tahu!
(lempared)
Yah kita tunggu next chapter aja!
Btw, readers puas gak ma chapter yang satu ini?
Don't forget to review yah?
And time to reply reviews…!
sasunaru's lover : Iya, do'anya manjur banget. Nanti kalau aku kurang sehat minta dido'ain ama Hima aja kali ya?^^a
Mudah-mudahan chapter ini memuaskan ya?
Michiru No Akasuna " Wah, berantem ma mama? Jangan sering-sering ya? Udah minta maaf belum? Kan abis puasa and lebaran? Mohon maaf dan lahir batin juga ya?^^v
Kiroikiru no Mikazuki Chizuka: Hahahahahaha! Kurang panjang ya? Maaf deh, tapi kepala saia jangan digigit atuh, ntar gak bisa mikir deh. chapter yang ini udah panjang belum?
Makasih buat sarannya ya? Kalau menemukan kesalahan lagi jangan sungkan beritahu saia, karena saia masih baru di sini.
Ah, MANA LANJUTAN FIC SEME VS UKE DAN FIC SNOW, ITU LHO YANG DIKIRANYA NARUTO ITU CEWEK, TAPI TERNYATA COWOK? ZUKA SENDIRI MASIH NGUTANG BEBERAPA FIC KAN?
MANA FICNYA YA? *nagih utang fic pake clurit*
