Hei...
Kenapa manusia selalu hidup dengan bersembunyi di balik kebohongan yang mereka buat?
Kenapa orang-orang itu begitu mudahnya mengatakan suatu dusta tanpa peduli pada perasaan manusia lainnya?
Kenapa...
Kenapa aku harus hidup dalam kebohongan semu yang diciptakan dunia ini?
Mana yang benar?
Kepalsuan yang dibuat mereka, atau dunia di balik tirai salju sana?
Inazuma Eleven © Level 5
Death Chorus, Side Stories
By The Fallen Kuriboh
Hidden Truth
(Ichirouta's Past)
Ichirouta's POV
Salju pertama tahun ini relah turun rupanya. Momentum itu menarik perhatianku. Maka kututup buku sihir yang kubaca, kemudian aku berjalan ke beranda kuil, menatap butiran-butiran salju yang melarikan diri dari genggaman awan di langit sana.
Salju itu memang indah. Turun perlahan dan menutupi seluruh benda di muka bumi. Membuat segala warna yang ada terhapus berganti putih. Menciptakan sebuah ilusi pemandangan yang sempurna. Seolah ingin membohongi seluruh mata yang melihatnya.
Kuulurkan tanganku untuk menggapai butiran salju, yang meleleh ketika ia menyentuh tangan hangatku. Sama saja, salju itu tak ada bedanya dengan seluruh manusia di dunia ini. Luarnya terlihat indah, namun ia tak lebih dari pencipta dusta dan kebohongan semata. Bila tersentuh sedikit saja, ia akan hancur. Oleh karena itu...
Manusia selalu menciptakan kebohongan untuk menutupi kelemahan dirinya.
"Nona...! Anda harus segera ke ruang upacara!" Kutolehkan kepalaku, untuk memandang salah satu pelayanku yang menginterupsi. Ia bicara dengan kalem, lalu bebalik dan berjalan dengan anggun ketika ia selesai menyampaikan beritanya padaku.
Lagi-lagi upacara.
Aku menghela napas panjang, kemudian mengganti pakaianku dengan sebuah furisode yang indah nan berkilau. Aku ta mengerti, mengapa para wanita sangat menyukai pakaian dengan warna pink dan corak keemasan yang aneh begini? Sudahlah, lagipula tak ada gunanya aku menggerutu di dalam hati.
Kupakai furisode itu, lalu merapikannya di depan sebuah cermin besar. Kulihat baik-baik pantulan wajah di cermin berukiran emas itu. Sosok manis berambut turquoise panjang yang terurai telah berdiri di seberang sana. Kusentuh kaca itu, membuat tanganku dan tangan dari sang gadis yang merupakan pantulan diriku itu menyatu.
"Sampai kapan kebohongan ini akan terus berlanjut...?"
Kuhela napas panjang, entah ini sudah yang keberapa kalinya hari ini. Sayanganya aku tiada bosan-bosannya untuk menghela napas atas nasibku yang harus hidup di dunia yang penuh kebohongan ini. Kalian tahu, aku benci kebohongan! Begitu besarnya rasa benciku pada hal itu sehingga aku tak bisa menyukai manusia, karena mereka selalu penuh akan dusta. Namun di satu sisi aku...
Aku sendiri juga telah berbohong. Ah, tidak. Tepatnya aku dipaksa untuk berbohong.
Aku berjalan ke ruang upacara. Didampingi oleh beberapa pengawal yang sebenarnya tak perlu mendampingiku sampai seketat ini. Yah, mengingat aku adalah miko di kuil ini sebenarnya memang wajar bila aku selalu dijaga dengan ketat. Toh aku memang orang yang sangat penting di daerah tempatku tinggal ini.
Aku dibimbing menuju sebuah altar. Tentu saja aku sangat familiar dengan tempat ini. Di sinilah kami mengadakan berbagai macam upacara, si mana aku harus selalu hadir pada tiap upacara yang bila dihitung ada sekitar tiga ratus upacara dalam setahun. Apa aku muak? Jelas sekali aku muak dengan keadaan seperti ini! Ditambah lagi...
Huh, manusia-manusia pendusta itu datang ke tempat ini. Berbondong-bondong dan rela berdiri di tengah salju hanya untuk menyaksika upacara pemberkahan salju pertama di tahun ini. Bodoh kan, mereka? Namun kurasa ada baiknya bila aku segera menyelesaikan upacara ini, lalu orang-orang itu bisa meninggalkan tempat ini dengan segera.
Ada yang bertanya tentang alasanku benci pada manusia? Oh, tidak. Sebenarnya aku bahkan tak membenci mereka. Toh tak ada gunanya menyalahkan mereka karena sifat alami yang meamng sudah dimiliki manusia sejak mereka lahir, berbohong. Hanya saja aku tak suka bila kebohongan itu harus melibatkanku. Seperti saat ini.
Tahukah kalian, apa rahasia sekaligus kebohongan terbesarku?
"Nona, upacaranya telah usai. Mari kita kembali ke kamar anda." Ah, interupsi. Aku sampai tak sadar bahwa upacara bodoh ini telah usai.
Tanpa menunggu reaksi lebih lanjut dariku, pelayan sok cantik itu segera memanduku untuk kembali ke kandang— ah, maksudku kamar.
"Selamat beristirahat, nona..."
Pintu telah tertutup sepenuhnya. Tak ada siapa-siapa dalam ruangan ini. Kulepas furisode upacara yang sangat merepotkan itu. Kusingkirkan hiasan rambutku dari kepala, berusaha untuk tak mengusutkan rambutku. Kemudian aku berkaca. Masih sosok yang sama seperti tadi. Hanya saja semua pakaian dan hiasan itu telah sirna dari tubuhku. Terpantul sosok pemuda berambut turquoise yang rambutnya terurai bebas, bertelanjang dada.
Pemuda? Ya, tentu saja. Inilah kebohongan terbesarku:
Aku adalahh laki-laki!
Dan ada yang bertanya mengapa aku bisa menjadi miko dan mereka memanggilku nona? Oh tentu saja itu semua bukan keinginanku! Aku adalah anak dari sang miko terdahulu, itu artinya aku akan menjadi penerus pekerjaannya. Sayangnya waktu itu ibuku melahirkan anak lelaki. Dan sialnya lagi ia meninggal tak lama setelah melahirkanku. Dan voila! Di sinilah aku, terpaksa menyamar menjadi wanita demi melanjutkan pekerjaan konyol ibuku!
Yah, paling tidak orang-orang di kuil ini memberikan pelayanan dan menghormatiku secara penuh. Tinggal di sini cukup nyaman, tapi tetap saja aku tak bisa benar-benar menerima keadaan ini. Masa aku harus terus menyamar jadi wanita sampai mati nanti?
Ah, kenapa manusia itu harus selalu berbohong bila ingin hidup?
"Apakah aku bisa keluar dari sini?" Kulurkan tanganku, menjangkau rembulan yang tersamarkan oleh butiran salju. Pekerjaanku adalah seorang miko, yang mengabulkan harapan dan mendoakan kebahagiaan umatnya.
Tapi kenapa?
Kenapa aku tak bisa mewujudkan kebebasan hidupku dari belenggu kemunafikan ini?
"Kuharap—"
'DUAAARR!'
Suara ledakan? Apa yang terjadi?
"Nona, kuil kita diserang Aliea Terst! Ayo kabur dari sini sebelum tempat ini benar-benar meledak!" Mendengar berita itu aku terlonjak. Segera kupakai pakaian seadanya, lalu segera beranjak keluar kamar ini—
"KYAAA!"
Untuk menyaksikan salah seorang pelayanku yang terbelah dua dan terbakar jasadnya. Ia menjerit kesakitan meski tubuhnya terbakar dalam kobaran api. Aku panik, antara kematian yang tiba-tiba itu dan juga pada lantai koridor yang mulai ikut hangus. Tak ada pilihan, aku seegra berlari meninggalkan pelayan naas tersebut.
"Tunggu." Sampai akhirnya sebuah tangan mencengkram lenganku.
Aku membalikkan badanku dengan rasa takut. Ternyata anak yang normal, usianya terlihat sama merah dengan sebuah tulip di atasnya, dan matanya kuning seperti mata seekor kucing.
Ia menyeringai. Tidak, ia pasti orang yang membunuh pelayan tadi! Aku harus lari!
"Kau juga harus mati terbakar." Dari sebelah tangannya keluar kobaran api. Lalu tangan itu ia dekatkan padaku. Ia akan membakarku!
"Tidak... HENTIKAN!"
Seketika itu pula muncul sebuah rune asing di antara kami berdua. Kemudian rune itu mengeluarkan cahaya yang sangat menyilaukan. Dan ketika cahaya itu terbias, aku menyadari bahwa aku berhasil selamat dari maut.
Sosok pengguna api di hadapanku itu berhenti bergerak. Apa yang baru saja kulakukan? Tadi itu, jangan-jangan...
Sihir?
Oke, lebih baik pikirkan hal itu nanti. Aku harus segera keluar dari tempat ini dan bersembunyi di tempat yang aman.
"Wah, wah. Ternyata masih ada tikus yang masih hidup. Haruya memang payah."
Aku terkesiap ketika di hadapanku muncul sosok lain yang kontras dengan si tulip tadi. Rambutnya putih keabu-abuan, dan matanya sayu dengan warna hijau toska.
"Hmm... Time Magic, Stop. Tak kurasa kau bisa menggunakan jurus Time Mage." Bocah itu berjalan mendekati si tulip yang kuyakini sebagai rekannya.
"Sebagai hadiahnya, kau kuijinkan untuk kabur." Sosok itu tersenyum tipis, memandangku seolah aku ini hanya makhluk rendahan.
"Countdown start..."
"Tiga... Dua..."
Ah sudahlah. Yang penting aku harus LARIII!
Tanpa banyak pikir panjang lagi, aku berlari kencang keluar kuil. Kemudian menyingkir sejauh-jauhnya dari tempat itu. Tanpa menyadari sedikit pun bahwa banyak mayat tak bernyawa yang tertidur abadi sepanjang jalanku.
"Hosh... Hosh..." Aku menarik napas dengan susah payah. Berlari dengan menggunakan yukata memang menyulitkan dan membuang tenaga. Setelah semenit aku mengatur napas, kutolehkan kepalaku ke belakang tempat kuilku berada. Hanya untuk mendengar sebuah dentuman luar biasa...
'BLAARR!'
Pupil di mata coklat maduku membesar, seiring dengan kelopak mata yang melebar. Baru saja aku melihat sebuah ledakan di depan mataku, ledakan yang luar biasa besar. Ledakan itu membawa kobaran api yang membuat seluruh area kuil terbakar. Tak ada yang bersisa kecuali kumpulan api yang berkobar. Api itu dengan cepatnya menyebar, membakar habis seluruh kuil dan hutan dalam kuncup bunga yang masih belum mekar dan menghanguskan pohon sampai ke akar-akar.
Aku terpana. Tak habis pikir akan kekuatan yang mampu membumi hanguskan tempat tinggalku ini. Terkejut, namun tiada hal lain yang mengganjal di hatiku. Tidak rasa sedih maupun marah. Hanya merasa... lega.
Aku lega, mungkin karena akhirnya aku tidak harus lagi melihat kebohongan .
Paling tidak akhirnya aku bisa lepas dari belenggu kehidupan ini...
"My, my, sepertinya kita terlambat." Tiba-tiba muncul seorang gadis cilik dari belakangku. Ia terlihat seusia denganku, dengan pakaian ala penyihir serba hitam yang ia kenakan. Rambut coklat mudanya terurai bebas, di balik topi penyihir yang ia kenakan di kepala. Matanya yang berwarna senada dengan rambutnya itu melirik padaku.
"Paling tidak ada satu orang yang selamat. Nee, Natsumi-chan?" Kemudian muncul lagi seorang pria berambut biru di samping sang gadis cilik. Terlihat seperti pria dengan usia tak kurang dari 25 tahun, tapi tak lebih dari 30 tahun.
"Lalu, apa kita bunuh saja anak ini?" tanya gadis itu dengan wajah tanpa ekspresi. Aku menelan ludah. Ah, inilah yang namanya 'Barhasil keluar dari mulut singa tapi malah terjatuh ke lubang buaya'.
"Jangan, lebih baik kita membawanya ke Death Chorus saja." usul sang pria biru sambil tersenyum ramah padaku.
"Bagaimana, apa kau mau bergabung dengan kami, Kazemaru Ichirouta?"
Tanpa adanya keraguan hati, di hari itu aku...
Telah menjadi salah satu anggota dalam organisasi Death Chorus.
To be Continued
A/N: Ah, maaf nggak bisa ngetik panjang-panjang. Entah kenapa feel saia untuk fic ini dan Tasteless Heart jadi hilang sama sekali. Ugh, dan ceritanya jadi tidak tersampaikan dengan baik kayaknya. Saia mohon maaf yang sebesar-besarnya! Entah kanapa feel saia sekarang banyak jalan ke Shaman King. HoroRen is awesome you know! (plak!)
Oke, segala bentuk flame saia terima. Saia akui ini memang bukan tulisan terbaik saia, namun paling tidak saia suka InaIre dan saia ingin menulis fic.
Nee, mari balas review terlebih dahulu:
Ichi: Karena aku jadi tokoh utama kali ini, maka aku akan membalas review kalian.
Shuuya+Yuuto: Kami juga ikut.
Me: Semua chara yang sudah tampil boleh ikut balas kok.
Ichi: ...
Me: Oke, pertama dari Aya no 'Kami Korosu. Auh, ceritanya dibilang bagus! (melayang ke langit tingkat tujuh)
Ichi: Alasan mengapa aku bisa jadi 'nona' telah dijelaskan di chapter ini. Alasannya cacat ya?
Me: Oh, just shut up your mouth! Arigato, Aya-chan...! XD
Shuuya: Kemudian dari Nisca31tm-emerald. Benar, aku adalah Tuan Shuuya dan kata-kataku adalah MUTLAK! Muahahaha!
Yuuto: Ah, memag seluruh chara di fic ini dibuat penuh rahasia. Tapi aku setuju, rahasia Shuuya terlalu banyak.
Me: Karena kalau gitu jatuhnya bakal lebih menarik! XD Eh, Yuuto... kamu dibilang manis tuh! XD
Yuuto: ... (blushing)
Me: Augh, maaf saia updatenya lama. Arigato! ^^
Ichi: Lalu review dari Aurica Nestmile. Sepertinya dia sampai keselek karena baca chap kemarin.
Yuuto: Harusnya aku tak mau manggil Shuuya dengan sebutan 'Nii-chan', tapi karena tuntutan peran, jadi... (pundung)
Ichi: Ufufu, tenang, aku tidak dijadikan cewek kok di fic ini.
Me: Iya, tapi jadi bencong. (ditendang Ichi)
Ichi: Jangan hiraukan curcolan sang author dan terima kasih atas reviewnya. ^^
Yuuto: Yang ini dari Fanesha Neshia-san. Ugh (blushing). Kami nempel itu karena tuntutan peran! TUNTUTAN PERAN!
Me: Aww, Yuuto-chan esmosi
Shuuya: Aku-baik-bangeeeet! (joged2 gaje)
Me: Ah, sepertinya Shuuya mulai gila. Oke, arigato reviewnya! X3
Ichi: Kemudian review dari Kuroka. Katanya uke!Shuuya itu menarik! Dan aku setuju! XD
Shuuya: (twitch!)
Me: Shuuya, jangan emosi jiwa. Ingat, ini tuntutan peran.
Shuuya: DARI TADI TUNTUTAN-TUNTUTAN MULU!
Me: Urgh, saia dibentak Shuuya.
Yuuto: Arigato for your review... ^^
Yuuto: Kalau yang dari AniFreakZ ini bilang kalau Shuuya imut.
Shuuya: AKU INI TIDAK IMUT, TAPI AKU INI KEREN! KEREEEN!
Me: Gawat, Shuuya mulai ngamuk! 0_0
Ichi: Arigato reviewnya— woi! Cepat hentikan amukan Shuuya!
Me: (masih megangin Shuuya) Kemudian dari Aishiro KyuHyung-ppie. Ah, iya. Sayang sekali. Kata yang menjuri, ficnya ga nyambung ama genre. Muahahaha! (plak!)
Ichi: Yea, akulah sang miko imitasi! XDD (plak!)
Yuuto: Woi! Jangan ngegalau, ayo bantu menghentikan Shuuya!
Me: Eh...?
Yuuto: Hee?
Ichi: Hee?
Shuuya: HAAAH!
Me: Ah, anu... soal pacar sih, itu... Kucing saia? (plak!)
Shuuya: Yea, itu orang yang biasa dia panggil Neko-kun atau apalah itu. Yang pasti aku jauh lebih keren dari dia.
Me: Cukup. Nee, arigato reviewnya! XD
Ichi: Terakhir, dai Hikary Tsubaki!
Me: Yoroshiku, Hika-san! XDD Aups, Ichi masih jadi cowok kok. Sebenarnya mulanya mau saia jadiin cewek, tapi nggak jadi. (plak!) Dan alasan mengapa sikap dia girly begitu adalah karena... pengaruh lingkungan? (plak!)
Shuuya: Ah, kisah tentang tragedi berapi itu akan diceritakan kedepannya nanti.
Natsumi: Suatu saat nanti juga ada bagianku kok. Authornya sudah memikirkan plot ceritanya.
Me: Whoa! Lady Natsumi muncul tiba-tiba! Kay, arigato reveiwnya! XD
Nee, mari kita akhiri.
Last dimension will come
The Fallen Kuriboh
