Disclaimer: ARGHHHH!!! Ini kali terakhir aku nulis discalimer!!!

Update cepet, ya? MWAHAHAHAHAHA!!! (Ketawa maniak ALA Hui Na di SLCD) Hohoho... bener-bener seneng banget bisa nulis update secepat ini...

EHM! Apa diantara kalian ada yang tahu tentang legendanya Phoenix? Feng dan Huang itu? Wkwkwkwk... sebagian besar legendanya emang kayak yang ada di Prolog. Untuk sebagai bumbu-bumbu aja aku bikin tambahan... XD Sebenarnya ceritanya itu bener, Huang diculik sama manusia (dan nggak ada hubungannya sama setan apapun) trus Feng berusaha menyelamatkan Huang. Nah, di tengah jalan Feng itu dihalangi manusia2 itu, terus sama si Feng, manusia2 itu dibakar semua (karena itulah kita tahu Phoenix sebagai burung api). Sementara di ceritaku ada lagi Gerbang Maut, lah... setan, lah... hehehe... nggak apa... biar seru... BTW, sebenarnya pake bahasa inggris lebih keren, karena waktu aku bikin pertama itu rancangannya bahasa inggris, terus Gerbang Maut itu bahasa inggrisnya 'Gates of Annihilation'. Tuh, lebih keren, kan? Kayaknya bahasa kita emang kurang keren dibanding bahasanya bule...

silvermoonarisato: WADOOOOHHHH!!! Suka sih nggak apa, bu... tapi jangan ngancem, donk... hehehehe... (Wew... sudah kangen sama ketawa maniak... XD) Tenang aja... update bakal setiap hari RABU dan MINGGU. Kalo lupa... ya tolong ingatkan aku via FB... BTW, SSTI itu aku sudah nggak sabar baca (dan ngakak) lho...

IXA Cross: Hmmm... sebenarnya masalah fury mode, itu yang masih aku pikirkan. Yang pasti, Lu Xun bisa (dan emang kayaknya Lu Xun jadi satu2nya yang bisa nge-fury mode kecuali kalo aku kepikiran menjadikan Zhao Yun sebagai dragon...) Terus, kalo masalah orang lain kejam sama Lu Xun... Wew... itu sih sebenarnya membingungkan banget banget... dan tentu saja bukan karena kesannya seperti minta disiksa *kesambar petir gara2 bohong...* Ehm, sebenarnya begini... menurutku sih Lu Xun itu kadang tampangnya terlalu baik, terlalu gimana getu... bingung jelasinnya. Nah, biasanya kan kalo ada character dengan model kayak getu, kan dia dibuat jadi super baik banget karena dikejamin orang lain demi melindungi orang lainnya lagi... getu... kayak di cerita-cerita hero getu... ^-^

Mocca-Marocchi: Wew... maaf...maaf... tapi emang ceritaku yang kali ini rada multi genre. Sebagian besar emang Romance n Drama, tapi juga sarat tragedy... Apalagi yang bagian awal-awal ini... maaf... chapter berikutnya nggak bakal se-tragedy ini kok... Hohoho... memang Wei sangat menyebalkan! *juga digebukin fans-nya Wei*. Masalah warna mata Yangmei, sebenanrnya nggak ada satupun orang di dunia yang punya mata silver kayaknya... XD... hahaha... emang ada sesuatu yang disembunyikan di balik itu

Help bagi yang nggak tahu: Tian itu sebutan orang China buat Tuhan

Selamat membaca!


"Tidak ada hasil..."

Cao Cao mendesah sambil memandang bocah yang sekarang tergeletak tak berdaya di tanah. Tubuhnya dipenuhi sayatan-sayatan pisau, setiap sayatan mengeluarkan darah sehingga bocah itu terlihat seperti bermandikan darahnya sendiri. Wajah kekanakannya yang lembut itu kotor oleh debu, keringat, dan air matanya sendiri. Nafasnya tidak beraturan.

"Kemarikan anak itu." Dengan satu perintah, Xiahou Dun menyeret Lu Yi, kemudian membawanya ke hadapan Cao Cao. Ia memandang kepada bocah yang sekarang begitu lemah setelah melalui penyiksaan. Namun yang ada dalam pikirannya hanyalah bagaimana cara mendapat kekuatan Feng itu. Ia harus mendapatkannya, tak peduli bagaimanapun caranya.

Lu Yi menahan sakit di sekujur tubuhnya dengan menggigit kuat-kuat bibirnya. Ia tidak berani berteriak kesakitan karena takut kalau ia melakukannya, hukuman yang ia dapat akan jauh lebih menyakitkan. Saat ini ia tidak lagi berani memandang ke arah orangtuanya, terutama ibunya yang sedari tadi menjerit ngeri melihat buah hatinya sendiri disakiti demikian. Tiba-tiba pergelangan tangannya yang sudah penuh luka sayat itu ditarik kuat-kuat. Cao Cao menyeretnya ke api unggun yang berkobar-kobar itu, kemudian memasukkan tangan Lu Yi ke api yang menyala-nyala. Saat itu juga panasnya api merah itu membuatnya menarik tangannya kuat-kuat, namun cengkraman penguasa Wei itu begitu kuat menahannya.

"Panas! Panas!" Ia berseru kesakitan. "Tolong! Lepaskan aku! Lepaskan aku!"

Jeritan itu tak lagi didengarkan. Saat Cao Cao melihatnya, ia begitu terkejut. Meskipun api itu menyiksanya dengan panasnya, api itu tidak membakar tangannya. "Anak ini benar-benar punya kekuatan Feng." Ia bergumam dalam ketakjubannya. Saat akhirnya ia menarik tangan anak itu dari kobaran api unggun dan diamatinya, tak terlihat ada sedikitpun luka bakar. Hanya tangannya saja yang menjadi begitu panas, panasnya seperti pedang yang baru saja keluar dari pembakaran setelah ditempa.

Xiahou Dun berjalan mendekati Cao Cao. Dengan senyum simpulnya itu ia berkata. "Sepupu, mungkin kekuatannya akan bangkit kalau ia semakin dekat dengan api. Bukankah Phoenix adalah burung api?" Xiahou Dun, yang ternyata adalah sepupu dari Cao Cao, melanjutkan. "Jika ia memang benar punya kekuatan Feng, maka tak mungkin ia akan mati karena api. Tetapi jika bukan, tidak perlu kita takut hanya karena membunuh seorang anak kecil biasa."

"Kau benar." Cao Cao mengangguk setuju.

Segera sesudah itu, seorang prajurit membawa seember besar minyak, kemudian menyiramkannya ke api unggun itu sehingga kobaran api tersebut melahap sebagian besar pekarangan perkemahan Wei tersebut. Lidah-lidah api menyala-nyala keatas, sampai menggapai langit. Dengan kedua tangan dan kakinya masih terikat, Lu Yi didorong ke kobaran api itu. Tubuhnya jatuh dan bersentuhan langsung dengan kayu dan arang yang dipakai untuk membakarnya. Panas itu begitu menyiksanya, dan ketika matanya terbuka, ia hanya melihat di depan, belakang, kiri, dan kanannya adalah api yang siap menghanguskannya. Ia menjerit kesakitan dan meronta untuk melepaskan dirinya, tetapi tali itu tidak dapat membuatnya bergerak untuk menjauh dari api itu.

Saat itulah ia mendengar jeritan ibunya sekali lagi, yang kali ini disadarinya merupakan jeritan yang sanggup menulikan langit. "LU YIIII!!!! ANAKKU!!!!" Wanita itu memegang kepalanya dengan kedua belah tangannya. Rambutnya yang rapi itu kini sudah acak-acakan. Melihat hal ini, sang ayah hanya bisa ikut berseru menangisi anakknya.

Bocah kecil itu tahu bahwa ia tidak boleh menyerah maupun meminta pertolongan dari siapapun, karena yang ia lakukan ini adalah demi kedua orangtua dan kota tempat tinggalnya. Namun, kobaran api itu begitu luar biasa menyakitinya, bahkan jauh melebihi sayatan pisau yang tadi ia terima. Tak kuat lagi menghadapinya, ia berteriak pada ayah dan ibunya, seperti anak terhilang yang menyerukan nama orangtuanya. "AYAH! IBU! Aku tidak kuat lagi! Bawa aku pergi!"

Kedua orangtua itu tersentak dan memandang putra tunggalnya itu. Dengan kedua tangan terikat yang terulur, anak itu seperti berusaha menggapai mereka. Ia tetap menyerukan hal yang sama berulang-ulang, bahwa ia sudah menyerah dan tidak bisa menahan sakit itu lagi. Pada saat itulah kedua orangtua itu sadar. Mereka tak boleh lebih berlama-lama disini. Berada di tempat itu membuat seolah-olah mereka masih menantikan Lu Yi, dan masih ada harapan bagi anak yang tidak mengerti apa-apa itu untuk dapat kembali pada pelukan kedua orangtuanya. Tak hanya itu, melihat anak mereka diperlakukan sekejam itu bisa menyebabkan mereka sendiri semakin kehilangan kendali atas diri sendiri.

"Ayah! Ibu! Tolong aku! Kumohon!"

Tapi, yang ia terima bukanlah uluran tangan kedua orangtuanya yang akan menariknya keluar dari api itu, melainkan hanya tatapan kosong dari mereka. Kemudian keduanya berpaling dan berjalan, bukan ke arahnya tetapi menjauhinya. Tahulah Lu Yi bahwa kedua orangtuanya sudah menyerahkannya sepenuhnya pada orang-orang yang menyiksanya itu. Padahal, sekaranglah saat-saat dimana ia paling membutuhkan keduanya. Ia merasa begitu sendiri, merasa hilang dari orangtuanya. Kedua orang yang begitu disayanginya itu pergi meninggalkannya, semakin jauh dari pandangannya.

"Jangan pergi! Kembalilah!" Ia berseru sekuat tenaga, tetapi hati kedua orangtua itu seperti telah disihir menjadi batu hingga tidak dapat merespon jeritan anaknya.

Para prajurit Wei, termasuk Cao Cao dan kedua jendral yang adalah sepupunya itu hanya bisa tertegun menyaksikannya. Hanya ada dua perasaan yang timbul dalam hati mereka. Penyesalan yang mendalam. Anak itu seperti dibuang oleh orangtuanya, dan dalam jeritan itu mereka bisa mendengar kesakitan akibat dikhianati yang begitu mendalam.

Perasaan yang lain adalah takjub. Api itu terus-menerus membakarnya, tetapi tidak sedikitpun mencacati tubuhnya. Mungkin api itu tidak membakarnya, api itu hanya menarikan suatu tarian dengan lengkuh-lengkuh indah seperti mengiringi sebuah lagu kesedihan. Kesedihan karena harus menyiksa anak yang tak tahu apa-apa, yang bahkan adalah seorang yang memiliki kekuatan Phoenix. Biasanya api akan melahap apapun yang masuk dalamnya, tetapi kali ini berbeda. Daripada melahap, lidah-lidah api itu tidak terlihat seperti melahapnya, melainkan seperti menjilati tubuhnya yang penuh luka sayatan, meskipun api-api itupun tentulah sadar bahwa keberadaan mereka justru hanya akan menyakiti bocah itu lebih lagi.

Dengan habisnya seluruh kekuatannya, akhirnya Lu Yi menjatuhkan tangannya. Ia menutup matanya, menyerahkan dirinya pada nasib apapun yang akan menimpanya. Tenggorokkannya sudah begitu sakit memaggil-manggil kedua orantuanya, tetapi lebih sait lagi hatinya yang sama sekali tidak mendapat balasan mereka. Air mata yang mengalir dari kedua mata emasnya itu segera habis dijilat api.

"Ayah... ibu... kenapa pergi?"

--

Sun Ce menggebarak meja di depannya itu. Memang seharusnya ia tidak boleh emosi mendengar tuturan kata dari gubernur itu. Tetapi ia hanya menyesal, kenapa ia baru mendengar tragedi itu sekarang. "Bagaimana hal itu bisa terjadi?!" Tanyanya kesal. "Sudah terjadi empat tahun yang lalu, tetapi kenapa tak seorangpun menyampaikannya? Apa semua orang disini tidak lagi peduli? Dan anda..." Ia mengernyitkan dahinya. "... saya masih tidak mengerti mengapa anda bilang Lu Yi itu seorang anak pembawa sial, bahkan anak setan. Jika ia sampai bersedia mengorbankan nyawanya sendiri demi kehidupan penduduk di kotanya, bukankan itu adalah sebuah kebaikan? Bagaimana bisa anda mengartikan itu sebagai kesialan?"

Lu Kang hanya bisa tersenyum pahit. "Anda belum mendengarkan sepenuhnya, tetapi saya rasa tidak ada gunanya kita membicarakan anak itu. Jika anda mengambil anak itu, saya yakin hanya akan mendatangkan malapetaka saja bagi anda. Itu sebabnya ia kusembunyikan dari dunia luar, supaya tidak ada orang yang tahu bahwa seorang anak dengan kekuatan Feng ada di Lu Jiang. Aku tidak ingin Lu Jiang nantinya akan dihancurkan seperti Wu Jun." Jelasnya panjang-lebar.

"Bagaimana bisa Wu Jun dihancurkan?" Tanya Sun Ce penasaran. "Bukankah mereka sudah mendapatkan Lu Yi? Mengapa harus menghancurkan Wu Jun?"

"Anda belum tahu lanjutannya." Jawab gubernur itu. "Tetapi sebaiknya anda tidak tahu, karena tidak mungkin anak itu adalah jodoh yang tepat untuk putri kecil."

"Sepertinya anda harus tahu..." Ia memaksa. "... mimpiku ini pasti berhubungan dengan anak itu. Bukankah sudah kukatakan bahwa bocah yang kulihat dalam mimpiku itu sedang berada bersama putriku di atas punggung seekor burung Phoenix? Jika memang bocah itu punya kekuatan Feng, akan semakin bagus. Bukankah itu berarti mimpiku memang berhubungan? Saya harap anda bersedia melanjutkan ceritanya."

Mendengar paksaan ini, Lu Kang hanya bisa menghela nafas. Akhirnya ia pun melanjutkan kembali.

--

"Gubernur! Gubernur!"

Sayup-sayup Lu Yi dapat mendengar suara penduduk-penduduk dari kota Wu Jun yang menghampiri ayahnya di depan perkemahan Wei. Matanya kembali terbuka lebar. Ada apa mereka semua datang kemari? Jika sampai terjadi sesuatu dengan mereka, maka semuanya akan sia-sia. Seperti mendapatkan kekuatan baru, ia berusaha mempertajam pendengarannya. Pada saat yang sama para prajurit Wei telah siap siaga, mengarahkan tombak mereka kepada para penduduk itu.

Seorang penduduk berkata padanya. "Gubernur, kami sudah mendengar ceritanya! Bagaimana mungkin anda bisa menyerahkan Lu Yi pada mereka? Seharusnya anda tidak diam-diam meninggalkan kota. Seharusnya kita langsung mengangkat senjata dan berperang melawan Wei, sekaligus melindungi Lu Yi!"

"Benar, gubernur!" Yang lain menyahut. "Lu Yi adalah pewaris kekuatan Feng itu! Kami percaya bahwa ia adalah harapan kita sekarang untuk membawa kedamaian kembali ke China ini. Sudah beribu-ribu tahun sejak Feng terkunci dalam Gerbang Maut dan Huang hilang, semenjak itu China tidak pernah berhenti berperang. Sekarang, jika Lu Yi masih ada, jangan sampai ia dibunuh."

Untuk beberapa saat, gubernur itu tidak tahu harus berkata apa. Ia hanya diam sampai seorang lagi ikut bicara. "Kami siap jika harus bertarung mati-matian untuk melawan Wei!"

"Jangan!" Dengan segenap kekuatannya, Lu Yi berseru. "Kalian jangan kemari!"

Suaranya terlalu lemah dan jauh untuk didengar para penduduk itu. Yang ia lihat hanyalah mereka dengan senjata seadanya menyerbu perkemahan Wei. Para prajurit Wei yang menerima serangan itu segera kalang kabut bukan buatan. Di saat yang singkat itulah seorang pemuda menarik Lu Yi dari api yang menyala-nyala. Untuk sesaat, pemuda tak dikenal itu terkejut melihat tubuh bocah itu. Tubuhnya dipenuhi sayatan pisau, tetapi tak sedikitpun bekas luka bakar yang terlihat. Hanya saja, saat pemuda itu mengangkat Lu Yi ke atas kedua tangannya, ia merasakan tubuhnya begitu panas.

"Kenapa kau kemari...?" Tanya Lu Yi sambil merintih kesakitan. "Kau bisa dibunuh..."

Pemuda tak bernama tersenyum padanya. "Bagi kami, hidup mati itu sama saja, yang penting kau tidak boleh mati sebelum China melihat kedamaian." Sambil berkata begitu, ia membawa Lu Yi keluar dari perkemahan Wei, sementara para penduduk yang lain berkelahi mati-matian untuk menghambat jalannya prajurit Wei yang akan megejar mereka. Ketika Lu Yi memalingkan wajahnya untuk melihat, ternyata sudah banyak penolong-penolongnya yang terbunuh oleh pedang prajurit Wei. Dari jauh ia juga sempat melihat ayah dan ibunya yang sama sekali tak bersenjata dikepung puluhan tentara. Sesaat sesudah itu, ia melihat sebuah pedang dilayangkan ke arah mereka, kemudian terdengar sebuah jeritan.

Melihatnya, Lu Yi hanya bisa terisak pelan. Rupanya ia gagal melindungi kota tempat tinggalnya, teman-temannya, orangtuanya. "Kau tidak boleh berkata begitu..." Jawabnya. "Kenapa semua menganggap aku punya kekuatan Feng? Bahkan untuk menyelamatkan Wu Jun saja aku gagal..." Sesalnya.

Di tengah kekalutan itulah ia mendengar seruan-seruan dari prajurit Wei. "Itu mereka! Kejar!" Kemudian disusul derap-derap kaki, baik derap kaki manusia maupun derap kaki kuda.

Pemuda tak dikenal itu berlari semakin cepat, sampai keduanya memasuki hutan rimba yang lebat. Untuk beberapa saat, jejak mereka tak dapat diikuti oleh pengejar-pengejar itu. Sampai tiba-tiba, sebuah anak panah melayang, kemudian menusuk punggung pemuda itu. Lu Yi terlepas dari tangannya, dan ia roboh ke tanah.

Lu Yi segera menghampiri pemuda yang sekarat itu. Tetapi ia hanya bisa menangis melihat penyelamatnya sekarang tergeletak tak berdaya. Pemuda itu menggengam kedua tangannya, kemudian ia berkata padanya sambil menahan sakit. "Lu Yi, pergilah! Jangan sampai tertangkap! Cepat lari!"

Tangan pemuda itu jatuh, dan saat itulah matanya tertutup. Sebelum Lu Yi punya sedikit saja waktu untuk menangisi kepergian temannya, ia sudah dapat melihat bayangan prajurit Wei yang semakin mendekat. "Itu dia! Tanggkap!" Kuda-kuda dipecut hingga berlari semakin kencang ke arahnya. Bocah yang ketakutan itu hanya bisa berlari dengan terus berpegangan pada pohon-pohon di sisi jalannya.

Ia tidak melihat sebongkah batu didepannya. Tiba-tiba saja kakinya yang telanjang itu terantuk, membuatnya jatuh. Sebuah pohon di sebelahnya digunakannya untuk bersandar, tetapi saat ia mencoba berdiri, ia merasa kakinya begitu sakit sampai ia benar-benar tergeletak tak berdaya di sebelah pohon itu. Para pengejarnya yang semakin mendekat itu tersenyum puas ketika melihatnya kini hanya bisa menunggu saatnya ia akan ditangkap.

"Kalau kau patuh dari awal, kami tidak harus mengejarmu begini susah!" Ejek seorang prajurit ketika ia turun dari kudanya.

Saat jarak mereka hanya tinggal beberapa langkah saja, kobaran api dari langit memisahkan keduanya seperti pagar, sehingga prajurit Wei itu tidak dapat mendekatinya. Lu Yi hanya bisa memandang keheranan. Rupanya ditengah saat-saat seperti ini bantuan datang dari langit. Benar juga setelah ia memandang keatas, dilihatnya seekor burung yang warnanya seperti matahari turun menembus daun-daun dari pepohonan hutan itu. Saat itulah Lu Yi bertukar pandang dengan burung besar itu, dan ia menyadari burung itu adalah burung Phoenix! Dari tampak luarnya Lu Yi tahu bahwa burung itu adalah burung yang perempuan, Huang.

Burung itu turun perlahan mendekati Lu Yi, hingga akhirnya tepat berhenti disebelahnya. Bocah itu hanya bisa mengulaskan senyum padanya. Dan burung Phoenix itu kemudian mencengkram pundaknya dengan cakarnya, dan membawanya terbang tinggi. Saat itulah Lu Yi merasa begitu lelah, namun ia juga merasa aman dan tenang. Matanya tertutup perlahan, hingga akhirnya pandangannya diselimuti kegelapan.

--

"AH!"

Lu Yi tersentak kaget. Mimpi itu lagi-lagi menghantuinya seperti hari-hari sebelumnya, membuatnya bangun dengan perasaan takut. Biasanya ia akan menemukan dirinya sendirian di hutan, dan saat itulah ia merasa tak seorangpun bisa menghiburnya.

Namun hari ini lain.

Seorang gadis kecil, mungkin hanya dua tahun lebih muda darinya, segera melepaskan rangkulannya. Dari wajahnya Lu Yi dapat dengan jelas melihat kekhawatiran. Mengapa gadis itu khawatir, ia juga tidak tahu. Dengan senyum kecil, anak perempuan itu menyapanya. "Ah! Kamu sudah bangun, ya? Bagaimana keadaanmu? Apa kamu baik-baik saja?"

Inilah pertama kalinya setelah tragedi itu Lu Yi menemukan seseorang yang mengkhawatirkannya. Namun, seolah itu telah menjadi kebiasaannya, Lu Yi mendorong tubuh gadis itu, mungkin terlalu keras. "Jangan sentuh aku!" Serunya dengan nada memohon. "Aku ini anak pembawa sial! Kalau kau dekat-dekat denganku, nanti kau pun akan celaka!" Hal itulah yang selalu didengarnya setelah kejadian itu terjadi. Mungkin itu benar, dan ia tidak ingin satu-satunya orang yang memperhatikannya juga celaka.

Rupanya, gadis cilik itu tidak melarikan diri, melainkan mendekatinya lagi sambil memasang muka masam. "Kamu ini kenapa? Baru bangun sudah marah-marah!" Melihat gadis itu tidak takut atau jijik berada dekat dengannya, Lu Yi menyimpulkan bahwa gadis ini pasti bukan dari kota Lu Jiang. Mungkin seorang pendatang baru. "Pantas saja kamu bersembunyi di hutan! Kamu ini memang mirip binatang buas, ya? Tinggal di hutan, dan begitu bangun bisanya cuma marah tak karuan saja!" Ia berkacak pinggang.

"B-bukan begitu, nona." Ia mencoba menjelaskan. "Aku bukannya marah, tetapi memang aku tidak boleh dekat-dekat dengan orang lain. Nanti aku pasti hanya membawa celaka saja."

Gadis kecil itu terdiam beberapa saat, kemudian ia tertawa terbahak-bahak, membuat Lu Yi semakin keheranan. Kemudian dengan tetap tertawa ia berkata. "Nasib orang itu di tangan Tian, mana boleh kamu bilang begitu!"

Lu Yi menunduk, kemudian mendesah pelan. "Aku juga sebenarnya tidak mau percaya, tapi semua orang mengataiku begitu. Katanya aku..."

Gadis itu memotong ucapannya. "Kejam sekali!" Kemudian ia berlutut disebelah Lu Yi yang masih duduk di bawah pohon. "Siapa yang mengataimu seperti itu?! Justru mereka itulah yang main tuhan-tuhanan!" Ia medengus kesal, kemudian menatapnya dalam-dalam dengan tatapan bersemangat. "Tenang saja! Kalau kutemukan orang yang mengataimu begitu, akan kuhajar dia! Jadi, kau tidak perlu khawatir... ummm..." Ia tidak melanjutkan kata-katanya, dan Lu Yi tahu kenapa.

"Lu Yi." Ia memperkenalkan diri sambil tersenyum.

"Oh! Iya, Lu Yi!" Kemudian gadis yang kelewat semangat itu mengulang lagi kata-katanya. "Jadi, kau tidak perlu khawatir lagi, Lu Yi!" Tiba-tiba saja ia memukul kepalanya sendiri. "Ah! Maaf, aku lupa memperkenalkan diri! Namaku Yangmei, atau lengkapnya Sun Yangmei! Tapi biasanya aku dipanggilku Meimei! Oh iya! Nama Yangmei itu dari buah yangmei itu, lho! Kamu tahu, kan? Buah yang mirip strawberry, tapi hanya tumbuh di kerajaan Wu ini saja!"

Lu Yi mengangguk sekali. "Senang berkenalan denganmu, nona." Katanya sambil membungkukkan kepalanya sedikit. Manisnya... ia berkata dalam hati. Gadis di hadapannya itu memang begitu manis, sama seperti namanya. Barulah saat ini ia menyadari. Gadis ini memiliki suatu ciri-ciri yang sangat beda dari orang kebanyakan. Rambut panjangnya seluruhnya berwarna perak, mengkilat tertimpa cahaya matahari, sama juga seperti warna matanya.

Gadis itu tertawa kecil. "Wah, baru kali ini aku dipanggil nona!"

"Memang selama ini kamu dipanggil apa?" Tanyanya.

Yangmei menempatkan satu jari di depan bibirnya. "Biasanya orang-orang memanggilku 'putri kecil'. Tapi, aku tidak suka panggilan itu." Kemudian ia tersenyum lebar pada Lu Yi. "Aku jauh lebih suka dipanggil nona! Tapi aku lebih suka lagi kalau kamu mau memanggilku Meimei saja!"

Astaga... Bocah itu baru menyadarinya. Di depannya itu ternyata putri dari Wu! Pantaslah nama keluarganya 'Sun'. Segeralah Lu Yi memohon maaf. "Maaf, putri! Saya berlaku tidak sopan!" Ia membungkukkan badannya dalam-dalam. Melihat ini, Yangmei bukannya senang, malah sebaliknya wajahnya berubah cemberut.

"Kamu ini bagaimana, sih! Aku kan sudah bilang kamu panggil aku Meimei saja! Malah akhirnya kamu memanggil aku putri!" Ia memonyongkan bibirnya. "Dasar kamu memang payah!"

"Baik... baik..." Lu Yi akhirnya menyerah. "Meimei..."

"Nah, begitu lebih baik!" Yangmei mengangguk. Tatapan mata mereka bertemu saat itu juga, dan dengan tiba-tiba sekali, Yangmei menunjuk ke arah mata Lu Yi, hampir saja mencungkil matanya. "Lu Yi, matamu indah sekali! Warnanya emas!" pujinya penuh kekaguman. "Aku juga mau punya mata seperti matamu!"

Lu Yi tertawa kecil. "Matamu juga indah, Meimei. Bukankah matamu berwarna perak? Itu malah lebih indah." Yangmei kemudian melihat senyum bocah di depannya mulai menghilang sedikit demi sedikit. Wajahnya berubah begitu sedih. "Kamu tidak tahu, gara-gara mata emasku inilah orang-orang memanggilku 'anak setan', 'anak pembawa sial'..." Ia memeluk kakinya lebih rapat.

"Kenapa begitu?" Yangmei bertanya simpati. "Bukannya mata emas itu bagus sekali? Kenapa mereka mengataimu begitu?" Ia bertanya penasaran. Saat Lu Yi membalasnya dengan tatapan ragu-ragu, ia merengek. "Ceritakan padaku, ya?".

Meskipun awalnya Lu Yi tidak yakin, akhirnya ia memenuhi keinginan gadis cilik itu. Dibawah pohon itulah ia mulai meceritakan mimpinya, yang juga adalah masa lalu yang dilewatinya.


Aduh... dasar aku ini emang author paling kejam sama character2nya... Wew... tenang aja... setelah ini nggak bakal ada tragedy lagi, kok... malah isinya cuma seneng-seneng doank... Tapi setelah chapter 20 ke atas, tragedynya mulai balik lagi... hehehe... *rada spoiler dikit deh...*

BTW, mungkin ada yang bingung kenapa di sini Lu Xun manggil ortunya pake 'ayah' n 'ibu' sementara Yangmei pake 'papa' n 'mama'. Benernya sih kagak ada bedanya, cuma dalam bahasa China itu, manggil papa yang lebih sopan itu 'Die (爹)' dan mama itu 'Niang (娘)', itu buat rakyat biasa. Sementara kalau untuk memanggil kaisar sebagai ayah, bisa pake 'Fu Wang (父王)' atau 'Huang a ma' (皇阿玛) (Eh, huang di sini artinya kaisar, nggak sama dengan Huang-kuning '黃' (ini sama kayak marganya Huang Gai sama Huang Zhong). Dan juga nggak sama kayak Huang phoenix yang cewe 凰). Kalo manggil permaisuri aku nggak tahu... XD. Nah, maksudnya Yangmei manggil pake 'papa' 'mama' itu kan nggak sopan banget, apalagi kalo Yangmei itu kan putri, padahal Lu Xun aja tahu cara manggil ortu yang bener... getu...

Trus, juga bagi yang nggak tahu membayangkan tentang Lu Xun pas waktu dilempar ke api itu gini: Biasanya kalo orang kena bakar atau apapun yang panas kan kulitnya bakal melepuh trus keluar luka bakarnya, kan? Sudah getu, rasanya puuuuuaaaaaaaanas buanget! (aku tahu soalnya aku pernah nggak sengaja bakar jariku pas maen-maen pake lighter... BTW, aku emang kemana-mana selalu bawa lighter, lho... hehehe... nggak penting...) Nah, pas Lu Xun dilempar ke api itu, emang dia ngerasa kepanasan, tapi badannya nggak kenapa-kenapa, maksudnya nggak melepuh getu...

Kalo masih ada yang nggak jelas, silahkan ditanyakan memalui review... ^-^

Hari RABU jadwal update lagi! Don't forget, yawww!