Part 1: Sharing Event

.

Pukul 11:00 AM

.

Pagi menjelang siang, Sang surya telah naik membubung tinggi di angkasa. Cuaca di sekitar gedung SMA Otonokizaka juga menjadi semakin terik apalagi musim ini adalah musim panas. Jadi, tidak ada pilihan bagi mereka bertiga saat ini selain berteduh ke tempat yang lebih sejuk. Bersama dengan kedua tubuh yang tergeletak lemah di hadapan mereka maka ketiga gadis itu saling bergotong royong memindahkan Umi dan Eli yang telah pingsan menuju tempat peristirahatan.

Ada dua pilihan bagi mereka untuk berteduh, outdoor dan indoor. Berteduh di Indoor berarti memasuki gedung dan ruangan kelas kembali namun setelah menyadari bahwa berteduh di bawah reruntuhan atap gedung sekolah sepertinya bukanlah pilihan yang bijaksana apalagi dengan ancaman runtuhnya gedung maka mereka pada akhirnya memutuskan untuk beristirahat di outdoor, di bawah pohon besar yang berada di tengah halaman sekolah. Pohon besar ini cukup familiar bagi para murid Otonokizaka karena sering digunakan sebagai tempat hang out atau tempat beristirahat pada waktu makan siang.

Sementara itu pada tubuh Kotori kini telah kembali normal, sayap misterius yang ada di balik punggungnya itu secara misterius telah menghilang dengan sendirinya. Meskipun ada banyak keraguan di dalam hati Kotori tentang insiden yang terjadi pada hari ini namun dia memutuskan untuk mengesampingkan hal itu dan lebih memusatkan perhatiannya untuk menyelamatkan kedua temannya yang sedang pingsan di dalam pelukannya sekarang. Dibantu oleh Maki dan Rin, mereka bertiga secara gotong-royong mengangkat tubuh Eli dan Umi secara bergantian di bawah pohon rindang tersebut.

"Mari kita beristirahat disini sekarang." kata Kotori sambil mengusap keringatnya. Bulir-bulir peluh keringat mereka nampak mengalir deras membasahi seifuku yang sudah lusuh dan kecoklatan karena debu dan tanah yang menempel di sekitar blazer dan rok mereka. Kedua adik kelasnya juga nampak kehilangan tujuan setelah peristiwa ini, mereka bingung dengan keadaan yang harus mereka lakukan setelah ini, semuanya terlihat begitu mencekam apalagi tidak ada satupun yang menolong mereka. Aneh?

Dan keadaan inilah yang membuat Kotori berpikir keras agar bisa memecah suasana dan pada akhirnya dia memberanikan diri untuk membuka suara dan memulai sebuah diskusi.

"Kalau begitu, bagaimana kalau kita saling berbagi cerita mengenai insiden barusan?"

Tidak ada jawaban di antara mereka.

Suasana hening dan canggung terasa kental di tempat itu, keadaan yang bisa dimaklumi karena mereka sudah terlalu lelah dengan segala hal yang telah terjadi pada hari ini. Hanya saja, keadaan ini memang terlalu hening, begitu sunyi hingga membuat Maki yang biasanya pendiam dan tidak mau diganggu menjadi risih dan berinisiatif untuk angkat suara memecahkan suasana tersebut.

"Ahh, Moo... Ya sudahlah! Mau bagaimana lagi?!"

"Lagipula tidak ada hal lainnya lagi yang bisa kita lakukan sekarang, kan?." jawab Maki mendengus kesal. Rin juga ikut mengangguk lemah setelah menatap Maki.

"B-Baiklah, biar aku yang memulainya. ehehehe..." sambut Kotori sedikit gugup harus memulainya dari mana.

"Hal terakhir yang aku ingat sebelum aku pingsan adalah pagi itu aku sedang berada berjalan di koridor menuju ke kelasku. Namun tidak lama setelah itu, aku melihat ada kabut hitam mengarah ke dalam gedung sekolah."

"Kabut itu bergerak semakin cepat dan mengelilingi seluruh gedung sekolah, aku tidak terlalu bisa melihat keadaan di luar gedung namun samar-samar aku melihat ada benda yang sangat terang dari angkasa menghujam atap gedung dan menghembusan angin kencang yang menghantam dan memecahkan seluruh kaca jendela di lantai itu. aku pikir itu adalah batu meteor"

"Jadi, aku cuma bisa merunduk karena ketakutan dengan kejadian barusan lalu aku merasakan ada guncangan yang begitu hebat disertai suara ledakan keras dari lantai atas yang membuatku terpental ke bawah lantai dengan keras lalu setelah itu aku tidak ingat apa-apa lagi." terang Kotori menceritakan pengalamannya.

Kedua adik kelas itu saling berpandangan seperti hendak menyuruh salah seorang dari mereka untuk memulai gilirannya namun Rin ternyata berkehendak lain, dialah yang terlebih dahulu mengangkat tangannya.

"Giliranku, nyaa!," seru Rin dengan semangat mengangkat tangannya sembari terus memandang Maki yang duduk di sebelahnya, dia mulai menceritakan pengalaman versinya.

"Waktu itu Aku dan Maki, kita berdua sedang berada di dalam kelas untuk mengikuti pelajaran jam ke-2. Tiba-tiba aku melihat ada asap hitam yang tebal dari arah jendela menuju ke arah kelas, nyaa! Asap itu masuk ke dalam kelas dan membuat kita semua sulit bernafas, nyaa! Rin melihat guru dan teman lainnya juga terlihat saling mencekik leher mereka terlihat sangat menderita seperti orang kehabisan nafas, nyaa!"

"Jadi waktu itu aku segera menggenggam tangan Maki untuk segera keluar dari kelas sebelum kita juga mati kehabisan nafas. Dan kemudian Rin mendengar ada ledakan keras yang membuat aku terpental dan terpisah dari Maki, nyaa. Setelah itu aku tidak ingat apa-apa lagi, nyaa.", kata Rin menyelesaikan ceritanya dengan suara akhir pelan.

Kedua orang itu sudah selesai menceritakan pengalamannya. Kini tibalah giliran Maki untuk bercerita. Raut muka cemberut terpasang di wajahnya karena merasa risih terus diperhatikan oleh Rin dengan senyum-senyum tanpa arti memandang ke arahnya.

"Ummm, Aku hanya ingat, tanganku begitu sakit dipegang oleh dia..!", teriak Maki memulai ceritanya. Dia melakukan itu sambil memandang kesal ke arah Rin namun gadis kucing itu seolah tidak tahu atau tidak mau tahu maksud teriakan Maki malah menanggapinya dengan senyuman lebar.

"Tidak banyak yang bisa aku ingat selain kondisi kelas pada saat itu benar-benar sangat kacau, aku melihat bahwa perlahan-lahan bayangan hitam itu memenuhi seisi kelas dan menyelimuti orang-orang yang ada sana, mereka..." Kata Maki yang tiba-tiba menghentikan ceritanya dengan wajah tertunduk lesu.

"ADA APA?!" tanya kedua orang itu dengan wajah penasaran.

"Unn..." (geleng kepala) jawab Maki dengan suara datar. "B-Bukan apa-apa...",

Maki menahan perkataan di ujung lidahnya tepat sesaat kedua gadis itu menjadi begitu penasaran menoleh ke arahnya dalam-dalam. Sebenarnya Maki ingin melanjutkan perkataannya bahwa ["Mereka telah berubah menjadi monster"] akan tetapi dia sendiri menyangsikan apakah kejadian itu benar-benar terjadi. Jadi, dia membatalkan niatnya untuk melanjutkan perkataan tersebut..

"Aku hanya mengingat bahwa tidak lama setelah terjadi ledakan kemudian muncul sebuah lubang besar aneh di dinding kelas. Aku melihat teman-teman kita lalu melompat masuk ke dalam lubang tersebut. Saat itu aku sempat terpisah dari Rin, ada suatu dorongan yang membuatku tergerak untuk mendekati lubang tersebut namun tiba-tiba ada sebuah cahaya aneh yang menghujam perutku dan mendorongku keluar dari ruang kelas dan kemudian aku terjatuh dan tidak ingat apa-apa lagi setelah itu." Kata Maki menutup ceritanya tanpa menyinggung cerita tentang teman-teman mereka yang telah berubah menjadi monster. dia juga benar-benar melupakan sosok Rin yang telah menyelamatkannya.

"Umm... Apakah kamu yakin bahwa lubang itu benar-benar ada?!" tanya Kotori mencoba memastikan ulang. "Aku tidak melihat ada lubang seperti itu di gedung kita"

"E-entahlah..." jawab gadis berambut merah tomat itu sambil menggesek bawah dagunya dengan jemari telunjuknya. Namun peristiwa yang seharusnya horror dan mencekam itu berubah ketika Rin tiba-tiba berdiri dari kursinya layaknya orang yang mendapatkan ilham sehingga mengagetkan mereka.

"Ahaa! Akhirnya Maki-chan mengaku juga kan kalau kamu juga pingsan tadi!", seru Rin secara tiba-tiba. Mendengar perkataan Rin barusan Maki hanya bisa geleng-geleng kepala karena tidak habis pikir denga kelakuan temannya tersebut.

"Rin... Tolong deh!" bentak Maki yang tidak tahan dengan tingkah Rin. "Memangnya kamu harus perduli dengan hal sepele seperti itu?!"

Maki tidak habis pikir bahkan dalam keadaan seperti ini Rin masih saja memikirkan hal yang tidak penting seperti itu. Tapi Rin seperti biasa hanya kembali tertawa terkikik melihat ekspresi Maki barusan. Dia sepertinya belum terlalu peduli dengan keadaan yang sedang terjadi saat ini, bagi Rin hal yang terpenting baginya adalah melihat ekspresi wajah Maka pada saat marah itulah suatu kesenangan tersendiri baginya. Sedangkan Kotori juga tidak bisa menahan tawa cekikik saat melihat tingkah laku mereka berdua layaknya tom and jerry.

"Aku hanya ingat ketika bangun tiba-tiba ada kartu aneh ini di dalam genggaman tanganku", kata Kotori menyela pertengkaran kedua kohai-nya.

"Maksudmu, kartu seperti ini?!" kata Maki sambil mengeluarkan sebuah kartu dari dalam kantong saku bajunya. Kartu itu memiliki ukuran dan desain yang sama dengan yang dimiliki Kotori hanya berbeda gambar dan warna saja.

"Rin, juga punya itu, nyaa!" seru Rin yang juga menunjukkan kartu misterius miliknya dari dalam kantong saku rok seragam sekolahnya.

["Heh?! Apa?! Mereka juga?! A-Apa maksud semua ini?!,"]

Kotori tidak habis pikir melihat fakta bahwa mereka bertiga secara kebetulan memiliki kartu misterius yang sama. Dia mencoba menimbang jawaban alternatif namun seluruh kejadian ini membawanya kepada suatu kesimpulan bahwa ada kuasa supernatural yang terlibat dalam kejadian ini

"J-Jadi, Maki-chan, Rin-chan, apakah kamu tahu sesuatu tentang kartu ini?" tanya Kotori kepada mereka.

"Entahlah, Aku juga belum pernah melihat kartu seperti ini sebelumnya. Mungkin ini adalah semacam kartu tarot milik Nozomi-senpai." jawab Maki.

"Aku juga baru pertama kali juga melihat kartu seperti ini, nyaa... Tapi kalian tahu tidak! Gambar orang di kartu ini imut lho!" Seru Rin menunjukkan kartu miliknya kepada mereka.

Setiap orang lalu mengeluarkan kartu yang mereka punya dan menaruhnya ke bagian tengah secara melingkar. Rincian kartu misterius itu adalah berbentuk seperti kartu remi yang memiliki gambar seorang wanita misterius yang disamarkan oleh bayangan abu-abu dan terdapat lambang huruf "R" besar di bagian ujungnya. Yang berbeda dari kartu mereka adalah pada setiap kartu terdapat gambar seorang wanita dan setiap kartu itu memiliki warna yang berbeda.

Kotori memiliki kartu berwarna Abu-abu, Rin memiliki kartu berwana Kuning, dan Maki memiliki kartu berwarna Merah. Pada saat itu mereka terus mengamati kartu yang mereka miliki namun tidak peduli seberapa keras mereka berusaha untuk mencari tahu tentang kepemilikan dan maksud dari masing-masing kartu misterius yang mereka punya tetap saja itu semua tidak membuahkan jawaban. Menyerah dengan keadaan tersebut, Mereka memutuskan untuk tidak berusaha mengangkat topik pembicaraan tersebut dan hanya bisa termenung mengingat kejadian yang baru saja terjadi hingga saat ini.

Selanjutnya setiap gadis disana hanya bisa merenung menatap ketiga kartu didepannya. Masing-masing hanya terdiam diri larut dengan pemikiran batinnya sendiri-sendiri.

["Selanjutnya, Apa yang harus kita lakukan sekarang?" gumam Kotori.]

["Nyaaaa, Kenapa hari rabu pagi yang indah ini harus kacau seperti ini?" keluh Rin, Gadis berambut oranye itu pada akhirnya bertingkah lebih tenang setelah menyadari betapa kacaunya hari ini.]

Tidak berbeda dengan kedua rekannya, Maki juga sepertinya memahami alur pemikiran kedua orang itu juga tidak habis pikir dengan kejadian hari ini namun dia juga tidak berusaha angkat suara selain duduk diam dan berpikir tenang.

["Bagaimanapun ini terlalu aneh,terlalu sepi, kenapa tidak ada satu orangpun yang menolong kita"]

["Tunggu, ini cuma perasaanku saja atau..."]

["APAKAH CUMA KITA BERTIGA SAJA YANG ADA DI SEKOLAH INI?!"]

["K-Kemana perginya anak-anak Otonokizaka yang lain?! Guru-guru lainnya?!"]

[Heh?! K-Kau bercanda kan?!"]

Dengan gusar, tiba-tiba Maki berdiri dari tempatnya berdiri dan mengarahkan pandangannya ke sekeliling sekolah. Keringat dingin mengucur deras dari tubuhnya tatkala semua hipotesa yang dia miliki ternyata menjadi kenyataan.

["Mooo... Ini gak mungkin kan?! Mana mungkin cuma kita saja "survivor" terakhir di muka bumi ini?!" pikir gadis itu panik]

Sementara itu Kotori dan Rin yang melihatnya mondar-mandir di hadapan mereka juga tampak bingung melihat tingkah laku Maki meskipun tidak mengeluarkan suaranya tapi terlihat jelas bahwa gadis itu sedang panik. Keringat dingin keluar dari pori-pori kulit tubuhnya dengan alis yang ditarik ke atas serta tingkah lakunya yang tampak menggila seperti mengacak-acak rambutnya sendiri adalah bukti bahwa Maki saat ini sedang dilanda stress!

"M.. Maki-chan, apakah ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?" tanya Kotori kepada gadis berambut merah tomat itu. Kotori sebenarnya hanya bertanya normal dan pelan namun keadaan mental Maki saat ini bagaikan sebuah pasak yang dipaksa menyangga beban yang berat melampaui kemampuannya, pasak itu masih kuat untuk bertahan namun ketika seseorang bersandar kepadanya, pasak itu mulai runtuh dan hancur, begitulah keadaan Maki saat ini, sehingga...

"TENTU SAJA! INI TERLALU ANEH..." teriak Maki dengan penuh emosi. "APAKAH KALIAN TIDAK MENYADARINYA?! HANYA KITA YANG ADA DI SEKOLAH INI!"

"HEEEEEEHHHHH...!" sahut Rin dan Kotori dengan tidak kalah kerasnya juga.

Kedua gadis itu akhirnya mulai mengalihkan fokus perhatiannya untuk mengamati keadaan di sekeliling sekolah. Benar kata Maki, Benar-benar sepi, tidak tampak ada tanda-tanda kehidupan di tempat itu. selain tidak ada manusia yang terlihat, tidak ada satupun binatang ataupun burung yang melewati tempat mereka berada. Suara sirine tanda bahaya yang biasanya dibunyikan apabila terjadi keadaan genting di kota juga tidak berbunyi, bahkan jalan raya di luar pagar sekolah yang biasanya ramai dengan lalu lintas kendaraan saat ini berubah layaknya jalan pedesaan..

"Mungkin kau benar, nyaa..." jawab Rin dengan suara pelan.

"K... Kamu benar M..Maki-chan!" respon Kotori dengan tubuh menggigil karena tidak ingin meneruskan bayangan yang sebenarnya sedang terjadi. Ada satu penjelasan masuk akal atas semua ini yaitu, ini semua adalah ulah alien yang menculik warga satu kota. Tapi pertanyaannya kalau begitu ["K-K... Kenapa cuma kita saja yang ada di tempat ini?!"] pikir Kotori dengan penuh rasa khawatir.

"Rin sekarang takut, nyaa..."

.

Ketiga gadis itu duduk semakin rapat dan saling berpelukan dengan erat satu sama lain seakan-akan tidak ingin terpisah. Namun tiba-tiba terdengar suara misterius yang menggema keras di angkasa menjawab pertanyaan mereka dengan lantang.

"Jangan takut! Ada dua jawaban untuk pertanyaan kalian itu tadi, Ya dan Tidak."

"Heehh... suara dari mana itu?!" tanya Maki terkejut menanggapi itu. Masing-masing gadis iu lalu berdiri dari tempatnya berada untuk mencari sumber asal suara tersebut,

"Kalian semua, lihat ke atas...!"

Ketiga orang itu kemudian mengarahkan pandangan mereka ke arah yang ditunjukkan Maki menuju atas gedung sekolah mereka dan mereka melihat ada sesosok gadis misterius berambut coklat pendek yang mengenakan jubah panjang berwarna hijau yang sepenuhnya tertutup layaknya jaket mantel Sherlock Holmes dengan celana panjang hitam sedang menggendong seseorang wanita.

"SETAN! ADA SETAN!" seru Rin panik sambil mengarahkan jari telunjuknya kepada sosok misterius tersebut.

"Gezz, Mana mungkin, bodoh! Setan bodoh mana yang mau keluar di siang bolong seperti ini?!" tandas Maki jengkel menanggapi Rin.

"Jadi..." teriak Maki dengan suara keras. "SIAPA KAMU?!"

"Kenapa kamu berdiri di atas sana?"

"Apakah kami pernah mengenalmu?" tanya Kotori.

"Dan siapa orang yang sedang kamu bawa itu, nyaa?!" tanya Rin menyusul.

Sebetulnya tidak ada yang aneh dari cara bertanya tersebut. Lagipula, sosok misterius yang berdiri di depan mereka pada saat ini adalah orang asing yang bukan merupakan bagian dari Sekolah Akademi Otonokizaka. Namun sepertinya cara mereka bertanya itu tidak disukai oleh orang misterius tersebut sehingga membuat dia menjadi kesal dan marah.

"Gezzz... Seperti yang diharapkan dari kaum manusia, makhluk hidup rendahan yang paling kasar! Apakah kalian ini memang tidak pernah diajarkan tentang sopan santun yah?!" maki gadis misterius itu jengkel tanpa sedikitpun tertarik untuk menjawab pertanyaan mereka.

Gadis itu lalu mengibaskan jubahnya dan merentangkan tangan kanannya ke arah mereka yang berada di bawah, seolah sedang membidikkan sesuatu ke arah mereka, tiba-tiba keluar sebuah tali yang sangat panjang dari balik lengan jubah itu, Maki dkk hanya bisa terpana heran ketika tali itu menuju ke arah mereka.

"Ehh, tunggu! Kita sedang diserang?!" bergegas Maki dkk melarikan diri di balik pohon guna menghindari serangannya.

Pada bagian ujung tali tersebut terdapat sebuah batu lancip seperti batu permata berwarna hijau. Namun alih-alih tali itu menyerang mereka, tali itu malah melaju kencang mengarah ke salah satu batang pohon tempat mereka sedang beristirahat. Dalam sepersekian detik, tali tipis yang berupa benang senar itu telah tertancap erat dan kuat. Sementara itu gadis yang berada di atas gedung juga sedang melakukan sesuatu, dia menunduk sebentar seolah sedang mengikatkan sesuatu benda. Dan kemudian terciptalah lintasan tali panjang yang merentang miring dengan kuat dari atas gedung hingga ke dasar tanah.

Tiba-tiba gadis misterius terjun meluncur dari atas sana sambil menggendong badan orang di lengan kanannya dan terjun mengarah ke tempat mereka bertiga sedang berada dengan kecepatan tinggi. Beban itu terlihat cukup berat sehingga membuat sosoknya agak kocak karena wanita pendek itu menggendong wanita dewasa yang ukuran tubuhnya jauh lebih besar darinya. Sepertinya lengan kanannya yang bergelantungan pada seutas tali di atasnya agak kesakitan.

Ajaib, bagaimanapun juga dia berhasil melakukan pendaratan secara mulus. Sosok misterius itu kini telah berada di dasar bangunan, berdiri di bawah bayangan kegelapan pohon lainnya yang berjarak sekitar 3 meter dari tempat mereka bertiga berdiri sekarang.

"Fyuh, hampir saja meleset..." gumam gadis misterius itu sambil tersenyum kecil. "Namun semuanya sudah sesuai dengan perhitunganku"

Kini Kotori dkk dapat sedikit lebih jelas melihat diri orang itu. Dia melepas tudung jaketnya dan membuat mereka bisa mengamati sosok misterius itu, dia tampak seperti seorang gadis normal yang usianya kurang lebih tidak jauh berbeda dari Rin dan Maki, memiliki rambut pendek berwarna kuning coklat, serta bola mata amber. Penampilannya kuno bagaikan seorang penyihir london minus sapu terbang.

Mereka bertiga masih sulit untuk mempercayai situasi yang baru saja sedang terjadi. Kotori bahkan tidak habis pikir bagaimana mungkin gadis itu bisa dengan mudahnya melompat dari ketinggian puncak gedung sekolah dan mendarat di dasar tanah hanya dengan bantuan seutas tali dan tanpa mengalami cidera yang serius. Saat itu sang gadis misterius itu menarik kembali tali pengait batu permata hijau yang masih menancap di batang pohon dengan sekali tarik dan kembali masuk ke dalam sebuah device kecil yang terpasang di tangan kanannya.

.

"Hei kalian, coba kalian lihat itu, bukankah itu...?" bisik Rin dengan suara pelan kepada Maki dan Kotori. Tampaknya Rin sedang menyadari sesuatu yang membuat Maki dan Kotori tertarik untuk mendengar perkataan Rin berikutnya. "Bukankah gadis itu sedang menggendong..."

.

"EHH, I... IBU KEPALA SEKOLAH!" seru Maki terkejut.

"MAMAAA...!" teriak Kotori yang tidak kalah panik.

Perlahan-lahan mereka berbalik badan memperhatikan sosok misterius dan wanita yang bersama dengan dia, sementara itu gadis misterius itu juga mulai bergerak dan berjalan mendekati mereka. Suasana tegang dan mencekam terasa sangat kuat meliputi ketiga gadis tersebut. Ketika jarak langkah antara gadis misterius dengan Kotori dkk tinggal beberapa langkah lagi, tiba-tiba gadis misterius itu memutuskan untuk berhenti berjalan dan mulai mengeluarkan suaranya,

"Tunggu, sebelum kalian mulai berceloteh lagi, ijinkan aku untuk membaringkan tubuh wanita ini disana, tanganku sudah mulai pegal untuk mengangkat ibu ini..." katanya meminta izin kepada Kotori dkk untuk membaringkan wanita tersebut disebelah kedua teman mereka yang masih pingsan di sebelah mereka.

Saat ini mereka telah yakin 100% bahwa wanita paruh baya yang berada di gendongan gadis misterius tersebut memang adalah Ibu Kepala Sekolah mereka alias Ibu Kotori. Dengan penuh perasaan was-was mereka akhirnya mengijinkan agar tubuh Ibu Kepala sekolah itu diserahkan kepada mereka.

"MAMA!" teriak Kotori penuh emosi haru segera memeluk tubuhnya saat melihat mamanya sedang terbaring tidak berdaya.

"ughh...!"

Terdengar suara desahan dari wanita paruh baya itu. Setidaknya saat ini Kotori dan teman-temannya yakin bahwa Mamanya atau Ibu Kepala Sekolah mereka itu masih hidup dan hanya sekedar pingsan saja..

Rin kemudian mencoba mendekati gadis misterius tersebut sambil mengulurkan tangan mencoba untuk menjabat tangannya. Namun, gadis itu menolak untuk mengulurkan tangannya. Keadaan itu membuat Rin kecewa dan menarik tangannya kembali..

"Emmm... Jadi, kamu ini siapa?! Alien kah?!"

"Ehh...?!"

"Tadi kamu berbicara menjelek-jelekan tentang kaum manusia, seolah-olah kamu itu bukanlah manusia, nyaa! Jadi siapa kamu ini sebenarnya?! Alien?! Hantu?!, Jin?!"

Mendengar pertanyaan semacam itu dari Rin, gadis itu bukannya marah namun kini dia terlihat keheranan dan tidak tahan untuk tidak tertawa saat mendengar pertanyaan itu.

"Pfftttt... Imajinasi kamu terlalu tinggi yah. Oh iya, kamu itu masih anak SMA yah... Masih anak-anak...", katanya sambil tertawa cekikik. Mendengar perkataan tersebut Maki tidak tahan untuk tidak mengeluarkan amarahnya..

"Hei, Jangan merendahkan kami yah...!"

"Memangnya kamu bukan anak-anak! Melihat dari tampangmu saja aku kira usiamu juga tidak jauh berbeda dari aku..!" bentak Maki kepadanya. Berbeda dengan sikapnya kepada Rin, Gadis misterius itu berhenti tertawa dan memandang Maki dengan tatapan sinis, suasana mencekam terasa pekat sebagaimana kedua gadis itu saling beradu pendapat.

"Kalian tidak perlu tahu tentang siapa aku. Tentu saja aku juga adalah seorang manusia namun aku tidak sebanding dengan kalian. Tidak seperti tempat kalian ini, Aku berasal dari tempat dimana orang-orangnya tidak mengenal kejahatan dan menjunjung tinggi keadilan di tempat pertama" ujarnya menyombongkan diri "Oleh karena itu aku berbeda dengan kalian, aku terlahir dengan memegang sopan santun yang jauh lebih baik daripada kalian. Paham?!"

"Ya, ampun, aku kira dengan bergantinya tahun peradaban maka manusia akan mengerti tentang tata cara hidup dengan lebih baik namun tetap saja sifat dasar kaum manusia itu tidak pernah berubah, yah. Selalu egois, tamak dan tidak sabaran." tutupnya.

"Oooiii, kamu ini memang sengaja ngajak berantem, yah?!" teriak Maki yang kini emosinya semakin meledak hendak menamparnya.

"Maki, kendalikan emosimu..!" teriak Kotori lantang menghentikan aksi Kohai-nya tersebut.

"Maafkan kami sebelumnya, namun setidaknya kamu mempunyai nama, kan?! Boleh kami mengetahuinya?!" tanya Kotori sambil berusaha menahan emosinya dimana dia sebenarnya juga tidak tahan mendengar penghinaan itu namun dia memilih untuk berkata lembut sambil tersenyum untuk menyudahi perdebatan tanpa ujung ini. Gadis misterius itu lalu menatap diri Kotori dan menjadi luluh sehingga menyudahi pertikaiannya dengan Maki.

"Oh, kini manusia bersayap yang berbicara..."

["Manusia bersayap?!"] gumam Kotori dalam pikirannya. ["Apakah dia melihat semua kejadian barusan?!"]

"Baiklah, aku akan memperkenalkan diri sekarang. Namaku adalah Hanayo Koizumi, aku adalah Sang Keeper."

"Ehh...Kiper?! Wow, kebetulan Rin adalah seorang striker, nyaa?! Bagaimana kalau sekarang kita semua bermain bola saja sekarang, nyaa?" celoteh Rin.

"Rin, jangan bercanda!" Tegur Maki sambil menjitak kepala Rin.

"Apa maksudmu itu?! Sang Keeper?!"

"Aku adalah Keeper, seorang penjaga Love Gem, Harta legendaris dari tempat kami berasal yang mana kedua gadis bodoh disana itu mencoba untuk mencurinya." kata Hanayo sambil menunjuk ke arah Umi dan Eli yang masih terbaring pingsan.

Ketiga gadis disana benar-benar terkejut saat mendengar perkataan Hanayo. Maki yang tidak bisa percaya dengan apa yang telah didengarnya menantang Hanayo untuk membuktikan perkataannya.

"Apa Maksudmu itu?! Hey, jangan seenaknya menyebut orang lain sebagai pencuri yah! Mana buktinya?!"

Sambil mengambil nafas panjang, Hanayo kemudian kembali menatap Maki dengan tatapan dingin,

"Memang kalian ini buta yah?! Lihat, Luka-luka mereka itu! Lihat, hancurnya gedung sekolah kalian! Lalu, menghilangnya semua orang sekarang ini... Memangnya ini semua adalah ulah siapa?! Ini semua adalah hasil dari ulah mereka!"

.

"TIDAK MUNGKIN!" seru mereka serentak.

.


.

Part 2: Meeting

.

Satu Minggu Sebelumnya.

.

Hari menjelang sore di dalam Gedung Sekolah Akademi Otonikizaka namun kegaduhan di dalam kelas masih belum berakhir bahkan saat ini ada 6 gadis yang berkumpul bersama di dalam sebuah ruangan kelas yang telah kosong untuk mendiskusikan sesuatu dengan sangat super serius. Pertemuan ini melibatkan 3 murid sekolah UTX yaitu Tsubasa, Anju dan Erena atau yang lebih dikenal sebagai member idol group sekolah, A-RISE dan 3 murid sekolah akademi Otonokizaka atau lebih tepatnya para member idol group sekolah, μ's (dibaca: muse) yaitu Honoka, Umi, dan Kotori. Secara harfiah, pertemuan ini tidak ubah merupakan pertemuan dua grup idola sekolah yang sedang populer di Tokyo saat ini.

Secara umum, kedua grup ini juga dikenal luas di kalangan para fans idola karena telah bersaing secara ketat dalam kompetisi idol school, Love Live! yang sedang mereka ikuti. Namun diluar kegiatan idola mereka berenam ternyata saling berteman baik meskipun berasal dari dua sekolah yang berbeda. Oleh karena itulah tidaklah mengherankan jika kedua grup ini dikenal baik oleh masing-masing fans mereka sebagai idol grup yang saling menghormati rivalnya.

Namun bagaimanapun juga adalah sedikit mengejutkan ketika mengetahui bahwa pada tahun ini μ's berhasil mengalahkan A-RISE, juara kompetisi Love Live! pada tahun sebelumnya di babak final tingkat regional Akihabara. Artinya hanya tinggal selangkah lagi mereka akan mencapai babak final Love Live! tingkat nasional dan berpeluang besar untuk menjadi juara selanjutnya pada tahun ini sekaligus mematahkan dominasi A-RISE.

Bagi Honoka, tujuan awal grup μ's dibentuk semata-mata hanyalah sebagai sarana untuk menyelamatkan sekolahnya yang dari tahun ke tahun semakin berkurang jumlah muridnya bahkan telah direncanakan bahwa sekolah ini akan ditutup pada tahun berikutnya. Berawal dari ide bahwa grup idola sekolah adalah fenomena pop kultur yang sedang berkembang luas di Jepang maka dia memberanikan diri untuk mencetuskan ide pembentukan grup idola di sekolahnya dan bermaksud untuk mengikuti kompetisi Love Live! dengan tujuan utama untuk mempromosikan sekolah akademi Otonokizaka di seluruh jepang.

Honoka berpikir bahwa dengan melakukan rencananya ini maka akan semakin banyak gadis SMP yang tertarik untuk mendaftar masuk ke sekolahnya sehingga rencana penutupan sekolah Otonokizaka akan dibatalkan. Namun, bagaimanapun juga ide ini tidak berjalan mulus bahkan sempat mendapatkan pertentangan dari pihak sekolah karena dianggap bahwa kegiatan idola adalah sesuatu yang tidak ada kaitannya dengan kegiatan akademisi dan hanya buang-buang waktu saja.

Namun Honoka pantang menyerah. Tidak kehilangan akal, dia mengajak paksa kedua sahabatnya, Umi dan Kotori. Dengan susah payah Honoka membujuk mereka dan pada akhirnya mereka bertiga berjuang sendiri untuk membentuk grup unit dan mencari sponsor utama dari luar lingkungan sekolah untuk mendukung kegiatan mereka dan pada akhirnya setelah usaha tanpa kenal lelah mereka berhasil mendapatkan dukungan sponsor dari salah satu perusahaan produk sabun lokal yang cukup terkenal di daerah Kanda, Muse.

Singkat cerita, Pihak sekolah yang melihat kegigihan dan keuletan Honoka dkk untuk membentuk grup idola independen pada akhirnya dengan terpaksa harus menyerah dan mengakui usaha mereka dan meluluskan keinginan utama mereka untuk memberikan ijin resmi menjadi grup idola sekolah. Suatu perjuangan keras yang berbuah manis bagi mereka bertiga karena pada akhirnya Honoka dkk bisa mengikuti turnamen Love Live!.

Mereka bertiga memutuskan untuk menggunakan nama sponsor mereka sebagai nama grup dan berkat pengaturan ketentuan lomba yang tidak memperbolehkan nama sponsor diberikan kepada grup maka mereka pada akhirnya menyingkatnya sebagai nama μ's. Berkat partisipasi kegiatan mereka dalam melakukan promosi iklan produk sabun Muse, grup idola μ's menjadi cepat terkenal di daerah Akihabara dan itu berdampak langsung kepada popularitas mereka di ajang Love Live! hingga bisa memenangkan kompetisi regional tersebut.

Pada saat kompetisi regional Akihabara diadakan ada sekitar 5 grup idola sekolah yang bertarung ketat untuk menjadi juara wilayah. Namun bagi para fans hanya pertarungan ketat grup μ's dan A-RISE yang layak untuk dinikmati. Dan singkatnya, grup μ's berhasil keluar menjadi juara daerah Akihabara namun setelah babak final tingkat regional tersebut mereka bertiga tidak pernah berjumpa dengan member grup A-RISE lagi. Honoka menyadari bahwa kekalahan ini merupakan pukulan telak bagi A-RISE sehingga mungkin mereka masih memerlukan waktu untuk tidak menemui μ's. Oleh karena itu Honoka begitu terkejut ketika mengetahui member grup idola A-RISE datang ke sekolah mereka hanya untuk menemui mereka bertiga setelah jam pulang sekolah.

.


.

Di Ruangan Pertemuan Klub

.

"U-U-UWAAAAAA!"

"J.. JADI ITU MEMANG BENAR-BENAR ADA?! SUNGGUH?! KALIAN TIDAK SEDANG BERCANDA, KAN?!" seru Honoka terkejut dengan mimik wajah yang aneh setelah selesai mendengarkan penjelasan dari member A-RISE.

"Hehehe... Itu semua adalah benar. Memangnya untuk apa kita berbohong?!" jawab Tsubasa sambil tertawa pelan menanggapi keheranan Honoka tersebut.

"Walaupun kita ini adalah Rival di stage, tetapi minat kita tetap satu hal yang sama yaitu untuk memenangkan kompetisi Love Live!. Karena A-RISE telah kalah dalam babak ini maka kini kami bisa memberitahukan kepada kalian alasan sebenarnya mengapa kami ingin sekali untuk bisa memenangkan kompetisi pada tahun ini."

"Itu karena kami tertarik dengan trofi hadiahnya itu. Yah, Bagaimanapun juga grup kalian yang keluar menjadi pemenangnya. So, congratulation to you, Girls!", ujar Anju tersenyum mengucapkan selamat kepada mereka bertiga.

Sementara para Rival mereka sedang berdiri di seberang meja sambil mempresentasikan beberapa catatan buku dan tayangan di depan laptop yang mereka bawa, ketiga murid Otonokizaka itu hanya bisa berdecak kagum mengamati itu. Honoka dengan mulut terpongah lebar, Umi yang segera menyambar notes jurnal, dan Kotori yang berulang kali mengamati trofi yang mereka taruh di lemari kaca, melengkapi respon hari ini.

"Tidak bisa dipercaya!" pekik Umi dengan raut muka pucat "Jadi, H.. Hadiah utama dari kompetisi Love Live! yang telah kami menangkan ini adalah sebuah petunjuk harta karun!"

Bak memegang sebuah benda warisan nasional yang baru saja ditemukan, kedua tangan Umi menjadi gemetaran saat memegang plakat trofi hitam yang baru saja dia ambil dari atas meja pameran ke dalam genggaman tangannya, berulang kali dia berusaha untuk mengamat-amati sesuatu yang janggal dari trofi tersebut namun dia sama sekali tidak mendapatinya.

"Bagaimanapun juga, aku masih sulit untuk mempercayai ini semua."

"Begitu yah?!" kata Erena sambil memaparkan slide presentasi berikutnya.

"Yah, Awalnya kami juga tidak bisa percaya dengan rumor tersebut namun setelah melihat catatan jurnal penelitian lama milik UTX yang pernah dikerjakan oleh kakakku bersama dengan ayah Tsubasa maka aku sendiri tidak mungkin untuk memungkiri keberadaan harta tersebut"

"Ayahku dan Kakaknya Erena pernah terlibat dalam salah satu mega proyek penelitian barang prasejarah dan purbakala yang diprakarsai oleh sekolah akademi UTX." terang Tsubasa yang mulai angkat bicara.

"Tujuan dari proyek penelitian ini adalah untuk membuktikan keberadaan bangunan legendaris yang selama ini telah lama diceritakan dari mulut ke mulut sejak jaman nenek moyang kita."

"Huh?! L-Legenda katamu?"

"Apakah kalian pernah menonton film tentang "Kami no Idaina Tatakai no Hi" (Hari Peperangan Besar Para Dewa)?!"

"Hmm... Aku pernah melihat itu. Namun apa hubungannya?!" jawab Honoka.

"Sebenarnya cerita film itu diambil dari cerita legenda orang yunani kuno "Titanomakhia". Agar kalian tidak kebingungan aku hanya ingin menunjukkan kepada kalian tentang akhir cerita tersebut. Pada bagian akhir cerita epic tersebut dikisahkan tentang para dewa yang sengaja menjatuhkan sebuah kuil mereka ke bumi sebagai bukti kemenangan mereka."

"Dan kalian tahu bahwa kisah peperangan antar dewa yang serupa seperti ini juga tertulis dalam kisah legenda dunia lainnya seperti kisah "Mahabaratha" di India, "Hamargedon" di timur tengah, dan "Ragnarok" di Norwegia. Oleh karena itulah aku yakin bahwa bangunan kuil ini pasti benar-benar ada!

"Ayahku berhasil menuliskan beberapa essay yang menghasilkan hipotesa tentang keberadaan Kuil ini. Setelah melakukan perjalanan ke seluruh dunia, ayahku mengambil sebuah kesimpulan bahwa menurut penelitian ayahku ini petunjuk mengenai keberadaan kuil suci itu sebenarnya ada di negara Jepang. Dan itu terletak di..."

"Haaaahh... H-Hutan Kegelapan Liar!" teriak Umi secara tiba-tiba saat selesai membaca isi jurnal tersebut.

"Ya, Menurut penuturan orang desa yang tinggal di sekitar hutan itu sudah sejak lama orang tua mereka menceritakan sebuah kisah tentang keberadaan sebuah Kuil Besar di tengah hutan itu." jelas Anju.

"Sebuah kisah dimana Kuil tersebut tiba-tiba jatuh dari langit ke tengah hutan oleh karena campur tangan para Dewa. Diceritakan bahwa bangunan ini berdiri kokoh tanpa campur tangan umat manusia, benar-benar sebuah pemberian oleh para dewa. Dan orang-orang menyebut bangunan itu sebagai "Kuil Energi Kekal".

"Namun, Kuil ini terkutuk. Setiap orang yang melihat bangunan ini maka dia akan mati. Tidak ada yang tahu alasannya namun setiap orang yang tidak memiliki hati yang murni sudah pasti tidak dapat memasuki bangunan ini. Penduduk bumipun larut dalam kesedihan mereka karena setiap harinya sudah pasti ada satu orang yang mati karena tidak sengaja memandang bangunan ini sehingga Dewa mengabulkan permintaan mereka untuk melenyapkan pandangan tentang kuil ini sehingga rupa kuil ini menjadi tak kasat mata serta menghilang hingga saat ini."

"However, Menurut legenda lainnya disebutkan bahwa ada salah seorang manusia yang berhasil memasuki kuil ini dan menceritakan tentang isi kuil ini, dikatakan bahwa di dalam bangunan ini berisikan banyak sekali benda emas yang berkilauan. Kuil ini dijaga oleh seorang malaikat yang menuntunnya untuk mengelilingi tempat itu, dan dia mengetahui bahwa ada satu harta legendaris yang terletak di tengah kuil ini yang dikabarkan dapat mengabulkan permintaan apapun."

"Sebuah harta legendaris, yah?!" gumam Umi.

"Bukankah itu menarik, kan?" sela Tsubasa sembari tersenyum

"Tapi, B.. Bukankah tempat itu berbahaya. Umm, m-maksudku.. itu adalah hutan terlarang yang tidak boleh dimasuki oleh manusia, kan?!" sanggah Umi. "Bahkan pemerintah jepang juga secara resmi memberikan pengumuman untuk menutup area tersebut demi faktor keamanan masyarakat?"

"Aku pernah mendengar kabar tentang sekelompok pemuda yang melakukan tantangan uji nyali memasuki hutan tersebut namun tak seorangpun yang berhasil keluar dari hutan itu." kata Honoka. "Kabarnya, mereka tidak keluar dari hutan itu karena mereka tersesat ke dalam dunia orang mati dan berubah menjadi arwah gentayangan yang menghuni hutan tersebut. Lalu..."

"Kyaaaa... Honoka! Hentikan! Aku benci cerita seram!" jerit Kotori. Keadaan itu berhasil memecah ketegangan di tempat itu disusul ketiga murid UTX itu tertawa menanggapi canda murid Otonokizaka.

"Hahaha... HAHAHAHA!"

"However, Tentu saja kabar itu cuma cerita bohong!" kata Tsubasa yang masih terus tertawa. "Sebenarnya, cerita tentang orang hilang dan nama "Hutan Kegelapan Liar" itu semua adalah akal-akalan pemerintah kota belaka!"

"Memang benar hutan ini telah menjadi kawasan steril yang tidak boleh dimasuki oleh masyarakat umum. Namun itu semua dilakukan sebagai tindakan pencegahan mengenai kasus bunuh diri massal yang semakin sering terjadi di tempat tersebut." terang Erena. "Dan juga..."

"Mana mungkin sekolah mengirim kami bertiga untuk bisa melakukan penelitian di tempat tersebut jika rumor tersebut memang benar. Namun seperti yang kamu lihat kami baik-baik saja, kan?"

"Hmm... Kalian benar." gumam Umi.

"Ahh, Ini menarik! Baiklah kami juga mau mencari harta karun tersebut!" seru Honoka dengan lantang.

"Honoka! Tapi kita masih belum tahu tentang apa yang ada di dalam hutan tersebut?! Lagipula kita sama sekali belum pernah melakukan perjalanan ekspedisi." tentang Umi. "Trus bagaimana dengan kompetisi final kita?!"

"T.. TAPI BUKANKAH INI MENARIK?!" ujar Tsubasa dengan suara tinggi menyela perkataan Umi. "Di jaman seperti ini ternyata masih ada harta karun terpendam yang berada tepat di depan mata kita. Ahahahaha..."

Ketiga murid UTX itu saling merapat untuk mendukung perkataan Tsubasa dengan sikap tubuh yang tegak dan saling menganggukkan kepala bersama-sama.

"Dan apabila kita berhasil menemukannya maka kita akan menjadi orang terkenal di muka bumi ini!" pekik Anju dengan lugas mendukung perkataan Tsubasa.

Sebenarnya baik Honoka, Umi dan Kotori tidak sepenuhnya percaya dengan cerita mereka. Apalagi melihat gelagat aneh dari Tsubasa dkk yang begitu mencurigakan barusan namun mengingat hubungan baik yang selama ini telah mereka jalin bersama dengan grup A-RISE, tentu tidak ada alasan untuk mereka memasang rasa curiga maka dari itulah mereka mencoba untuk tidak terlalu memikirkan hal tersebut. Ketiga murid Otonokizaka itu hanya menganggukan kepala bersama juga.

Erena lalu maju membuka slide presentasi berikutnya sembari membuka suara untuk menerangkan tujuan mereka bersama selanjutnya:

"Akan tetapi yang menjadi permasalahan disini adalah keberadaan bangunan ini begitu misterius sehingga tidak mampu dilihat secara kasat mata oleh manusia biasa! Pihak UTX sebelumnya juga pernah beberapa kali melakukan pencarian melalui pencitraan foto satelit di udara, namun tetap saja tidak ada tanda bahwa keberadaan bangunan ini benar-benar ada."

"Namun ada sebuah cerita yang menyebutkan bahwa hanya orang yang berhasil mendekati dan menyentuh bangunan kuil tersebut yang bisa melihat seluruh bangunan itu. Hanya saja..."

"Kami memerlukan trofi kalian untuk mendukung penyelidikan tempat tersebut."

"Ehh... Jadi singkatnya, kedatangan kalian disini adalah untuk meminjam trofi kami itu untuk diteliti lebih lanjut?." tanya Kotori.

"I... Iya, begitulah."

"Hmm, Aneh?! Bukankah kalian juga sudah pernah mendapatkan trofi semacam ini pada tahun lalu? Sebagai pemenang Love Live! di tahun sebelumnya?" tanya Umi dengan nada serius.

"Mengenai itu, kami sebenarnya juga sudah mencoba untuk melakukan penelitian melalui trofi lama kami namun tidak berhasil menemukan apapun." jawab Tsubasa dengan peluh keringat dingin menetes di dahinya.

"Lantas, apa yang membuat kalian yakin bahwa kalian akan menemukan suatu petunjuk di trofi kami?"

"Itu karena kami telah mengetahui bahwa Trofi Love Live! pada tahun ini memiliki design yang lebih unik daripada biasanya. Pihak panita memang sudah biasa untuk membuat trofi Love Live! yang berbeda-beda dengan memakai bahan material yang berbeda-beda di setiap tahunnya."

"Dan berdasarkan informasi dari sumber terpercaya yang kami miliki, kami mengetahui bahwa ada material khusus yang digunakan untuk membuat trofi Love Live! tahun ini dan material itu berasal dari lempengan batu mulia yang terdapat di dalam batu meteor."

"BATU METEOR ?!" seru member μ's secara serentak.

"Yah, Ini adalah meteor purba yang pernah menghantam jepang sekitar 6.000 tahun yang lalu. Menurut penelitian ayahku, jatuhnya batu meteor ini memiliki ikatan kuat dengan cerita legenda kuil yang hilang tersebut."

"Batu meteor ini begitu langka keberadaannya karena hanya terpecah menjadi 2 bagian saja, salah satu bagiannya memang telah dimiliki oleh pihak UTX, namun aku tidak menyangka bahwa pihak Love Live! juga memiliki material yang sama ini! Aku yakin bahwa pecahan batu meteor ini bisa menjadi kunci penting untuk mengungkap lokasi harta karun ini!" kata Tsubasa mengakhiri penjelasannya.

"Kalau begitu kenapa kalian tidak tanyakan langsung saja pada pihak panitia?" tanya Kotori heran.

"Kami sudah melakukannya namun mereka mengatakan bahwa pembuatan trofi ini dilakukan secara khusus oleh seorang donatur misterius. Jadi, tidak ada yang tahu siapa identitas sebenarnya dari orang yang memiliki pecahan batu tersebut." jawab Anju.

"Hmmmm..." ketiga member μ's mendehem bersama-sama.

"Jadi, apa yang harus kami lakukan sekarang?" tanya Honoka kepada Tsubasa.

.

Belum sempat Tsubasa hendak menjawabnya tiba-tiba mereka berenam dikejutkan dengan kehadiran seorang wanita paruh baya yang datang untuk menyela pertemuan mereka. Wanita ini memiliki tubuh yang mirip seperti Kotori atau bisa dikatakan wanita ini sejatinya adalah refleksi diri Kotori versi dewasa di masa depan.

"Kalian akan berangkat melakukan ekspedisi pencarian ini bersama dengan sekolah UTX!" seru sang wanita karir itu dengan suara menggelegar. Dia adalah...

"Ibu Kepala Sekolah...!"

"Mama...!".

Mrs. Minami adalah Ibu Kepala Sekolah Akademi Otonokizaka dan juga merupakan Ibu kandung dari Kotori itu memberikan gestur tangan ke bawah kepada para muridnya untuk tetap tenang dan mempersilahkan mereka untuk duduk kembali. Sang guru itu memasuki kelas pertemuan itu dengan tenang dan segera menyelinap ke tengah murid UTX yang ada di depan meja. Dia lalu membuka suaranya:.

"Ya, Baru saja Bapak Kepala Sekolah UTX telah menghubungiku secara pribadi untuk menawarkan proyek kerjasama antar sekolah tentang ekspedisi pencarian harta karun ini"

"Sebetulnya aku juga tidak yakin jika harta karun itu benar-benar ada.." gumamnya pelan sembari memalingkan wajahnya namun dia melanjutkan perkataanya sambil tersenyum. "Aku pikir bahwa proyek ini adalah kesempatan yang bagus untuk mempererat hubungan antara sekolah akademi Otonokizaka dan UTX."

"Yosh, Kalau begitu ini sudah ditentukan, yah?!" kata Honoka bersemangat. "Err, Jadi bagaimana caranya kita bisa menemukan harta karun tersebut?! Hehehe..."

Kotori dan Umi hanya bisa geleng-geleng melihat tingkah laku gadis berambut coklat ginger itu menggaruk punggung leher belakangnya. Tsubasa kemudian mulai berdiri dari kursinya dan mempresentasikan idenya untuk menemukan bangunan kuno itu.

"Seperti yang aku katakan sebelumnya bahwa lokasi kuil itu ada di tengah hutan ini dan berdasarkan catatan jurnal Ayahku bahwa cara terbaik untuk menemukan tempat itu adalah dengan mengikuti petunjuk arah dari rasi bintang Musai, rasi bintang yang sama yang tergambar di trofi Love Live! kalian di tahun ini. Legenda mengatakan bahwa letak bangunan itu jatuh dari langit asalnya di rasi bintang tersebut. Itu artinya, jika kita terus mengikuti arah rasi ini maka kita pasti akan bisa menemukannya."

"Namun yang menjadi masalah adalah letak rasi bintang ini jarang sekali terlihat oleh manusia. Tapi berkat hasil penelitian ayahku maka kami telah berhasil menciptakan sebuah device pelacak untuk membantu pencarian ini, Kami menamakan alat ini 4-RIS3. Ini adalah generasi keempat dari RIS3 yang telah dikembangkan menurut pemetaan GPS dan denah pproyeksi satelit menggunakan sistem otak-pintar Tree Diagram yang dimiliki oleh Kota Akademi"

"Namun masalahnya adalah device ini hanya efektif digunakan untuk melacak bangunan tersebut apabila kami bisa mendapatkan material batu inti dari meteor itu. Material inti batu meteor itulah yang tidak dimiliki oleh UTX namun kami yakin jika alat ini pasti bisa bekerja dengan salah satu manik-manik bintang dari trofi kalian. Kami menduga manik-manik bintang itu pasti pecahan dari batu mulia atau lebih tepatnya inti batu meteor."

"Seperti ini?!"

Honoka yang telah memegang trofi tersebut dan dengan sibuk tangannya telah berhasil menjungkit salah satu manik dari bintang tersebut hingga lepas. Sementara dia menunjukkan ekspresi wajah lega namun itu tidak berlaku bagi Umi dan Kotori yang hanya bisa melototkan mata dan memasang mulut menganga akibat dirinya dan pihak A-RISE serta Mrs. Minami hanya bisa memasang muka tersenyum kecut, mereka bingung harus merasa senang atau prihatin karena ulahnya itu.

"I-Iya..." sang A-RISE menganggukkan kepala namun hal berbeda diekspresikan oleh pihak Otonokizaka.

"A... APAAAA?!" teriak Kotori dan Umi secara serempak.

"HONOKA!" bentak Umi. "Aku tidak percaya bahwa kamu tega merusak trofi ini!"

"Tidak apa-apa Umi-chan, setelah ini berakhir aku akan memasangkannya kembali... hehehe..." rayu Honoka kepada Umi dengan sikap manjanya. "Atau kita bisa menggantinya dengan permen milikku ini."

Tentu saja sang putri memiliki nama "laut" itu tidak akan pernah bisa menyukai ide kedua Honoka. Dia hanya bisa memegang dahi yang telah berkerut semakin ke dalam itu.

"Nah, kalau begitu kenapa tidak kita coba saja sekarang?" saran Honoka lalu Tsubasa yang menganggukan kepala juga telah menerima potongan manik kristal itu dan memasangkan pecahan batu meteor tersebut kepada alat 4-RIS3 milik mereka dan alat itu menyala.

.

["Humm..."] alat itu mulai berbunyi seiring tampak tulisan [ON!] pada layar device tersebut. ["Humm..."] untuk kedua kalinya alat itu bernada, kali ini ditunjukkan sistem sensor yang mendata material batu tersebut dan memang teruji keabsahan batu itu. ["Humm..."] kali ini perangkat itu telah terhubung dengan satelit dan terdengarlah suara ["Device Active!]

[Memulai proses pencarian sekarang!]

Sekitar lima menit mereka menunggu, saat itu layar di laptop Anju yang terpasang dengan device tersebut juga mendata lokasi sekitar hutan terlarang, layar itu bagaikan proyeksi peta 4 dimensi yang sedang memindai lokasi seluruh hutan itu namun bagaimanapun juga, ada sejumlah titik abu-abu yang tidak dapat dilihat oleh citra satelit. Ini memang aneh namun keadaan semacam ini memang sudah dapat diduga. Tempat ini memang misterius.

[Lokasi Target ditemukan!"]

Alat itu selesai melakukan pencarian dan secara ajaib alat itu berhasil bekerja dengan sempurna. Seluruh gadis UTX tampak menitikkan air mata karena mengetahui usaha mereka bekerja dan seluruh hasil penelitian mereka itu bukanlah omong kosong! Bangunan ini ada, benar-benar ada! Seluruh usaha Ayah Tsubasa dan Kakak Anju yang selama ini diceomoh oleh peneliti purbakala lainnya terbukti benar. Kini tugas mereka adalah menunjukkan kepada dunia bahwa merekalah yang salah! Lokasi harta itu telah ditemukan pada sore hari itu.

"Walaupun ini penuh dengan spekulasi namun sepertinya ini menarik, yah?." komentar Mrs. Minami tersenyum sembari memukul pundak murid UTX pelan.

"Baiklah kalau begitu, kami sudah merencanakan bahwa ekspedisi bersama ini akan dilakukan pada akhir pekan ini. Aku harap kalian bisa mempersiapkan diri kalian hingga hari itu tiba" kata Tsubasa.

"Baiklah anak-anak berdasarkan kesepakatan antara saya dan kepala sekolah kalian. Aku hanya memberi ijin perjalanan ini selama satu minggu saja, tidak bisa lebih! Apapun hasil yang kalian dapatkan disana kalian harus kembali lagi ke sekolah ini saat hari senin berikutnya. Jika kalian tidak berhasil melakukan itu maka pihak sekolah akan mulai memanggil bantuan pencarian orang hilang dari pihak SAR."

"Ingat, tujuan utama dari ekspedisi ini selain dari menemukan bangunan tetapi juga penerapan ilmu belajar jadi kalian juga harus mencatat berbagai hal yang dapat kalian temui disana sebagai sumbangan ilmu pengetahuan baru bagi sekolah kita."

"Heh, jadi kegiatan ini pada akhirnya tak ubahnya kegiatan darma wisata, dong?!" cibir Honoka yang diiringi tawa oleh para penghuni kelas itu.

"Baiklah, karena saat ini hari sudah menjadi semakin sore maka aku meminta kalian semua untuk pulang ke rumah kalian masing-masing sekarang. Jangan lupa untuk meminta ijin kepada orang tua kalian secara resmi. Jadi tolong tuliskan surat ijin dan segera kumpulkan itu ke ruangan saya besok pagi." perintah dari Ibu Kepala Sekolah.

"Haik..." jawab mereka serentak.

Setelah itu Ibu Kepala Sekolah masih melanjutkan perkataannya namun kali ini dia menatap putrinya dengan tatapan mata yang tajam dan suara tegas.

"Oleh karena itulah, untuk kamu Kotori... Aku melarangmu untuk mengikuti ekspedisi ini."

"Hehh, Kenapa mama? Ini tidak adil!" protes Kotori terkejut dengan keputusan ibunya.

"Hmm, Tentu saja ini adil! Ibu lebih tahu yang terbaik untuk dirimu, Kotori!" jawab sang ibu.

"Bagaimana mungkin aku bisa melepasmu untuk mengikuti petualangan berbahaya ini sementara kamu masih sakit?! Ini bukanlah acara piknik sekolah yang dilakukan untuk bersenang-senang saja. Lagipula dengan kondisi fisikmu yang sekarang ini masih tidak memungkinkan untuk berpergian jauh" terang sang Mrs. Minami memberi pengertian kepada anaknya.

Seluruh gadis disana saling bertatap-tatapan, terutama murid UTX yang tidak mengerti arah pembicaraan ini.

"Aku heran kenapa kamu selalu ingin memaksakan diri, sih? Apakah kamu tidak ingat dengan kejadian di final turnamen Love Live! kemarin? Kamu tidak sadarkan diri setelah pertunjukkan berakhir sehingga harus segera dibawa ke rumah sakit dan dirawat di sana selama satu minggu penuh."

"Kini, kamu baru saja keluar dari rumah sakit. Tubuhmu saat ini masih dalam masa pemulihan. Jadi wajar kan?! Tentu saja aku melarangmu untuk ikut bersama mereka. Apakah kamu ingin menjadi beban untuk teman-temanmu?!"

Dengan kepala tertunduk Kotori menyesali keadaan tubuhnya yang masih lemah. Badannya gemetar saat mengetahui dirinya tidak boleh mengikuti ekspedisi kali ini. Namun sesaat sebelum air matanya mengalir tiba-tiba dia merasakan rangkulan hangat dari gadis penjual manisan Homura tersebut.

"Ibumu benar, Kotori-chan..." ujar sahabatnya itu sambil tersenyum manis.

"H.. Honoka?!" pekik Kotori menatap Honoka seperti tidak percaya dengan apa yang telah didengarnya.

"Saat ini kamu sebaiknya tidak usah mengikuti ekspedisi ini. Lebih baik kamu fokus kepada pemulihan kesehatanmu saja, Kotori-chan.", kata Honoka sambil tersenyum lebar.

"Tenang saja, kami pasti akan pulang dengan selamat sambil membawa harta itu! Hehehe..."

"Baiklah, aku mengerti..." kata Kotori dengan suara pelan, dia menyerah dengan ego-nya. Walaupun itu bertentangan dengan kata hatinya namun karena itu adalah perkataan Honoka sendiri maka tidak ada yang bisa dia lakukan untuk menolaknya.

"Yosh, Jika kita berhasil membawa pulang harta itu maka Sekolah Akademi Otonokizaka akan mendapat publikasi liputan berita yang lebih besar dan lebih luas dan dengan begitu maka sekolah kita akan menjadi terkenal dan pada akhirnya akan semakin banyak murid baru yang mendaftar ke sekolah ini!" seru Honoka dengan suara lantang. "Dengan begitu sekolah ini tidak akan jadi di tutup yah kan, Mrs. Minami?"

Dengan berat hati Mrs. Minami juga turut mengiyakan perkataan Honoka barusan. Sementara itu Kotori dan Umi kembali hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah laku Honoka. Namun bagaimanapun juga mereka tidak bisa memungkiri maksud pernyataan Honoka tersebut.

"Meskipun cara pandangmu itu berlebihan, tetapi aku pikir cara ini jauh lebih efektif daripada dengan memenangkan turnamen Love Live!" komentar Umi.

"Tapi turnamen Love Live! itu juga penting, Umi-chan!" seru Honoka membantah pernyataan gadis berambut biru gelap tersebut.

"Yah, yah, yah... Terseralah! Aku sedang tidak ingin berdebat denganmu sekarang!" kata Umi dengan suara datar sambil membalikkan badannya.

.

Kesepakatan telah resmi dibuat dan tidak ada pembicaraan yang harus dilakukan, sepertinya ini adalah saat yang tepat untuk pulang ke rumah. Namun belum sempat mereka mengambil tas mereka tiba-tiba masuklah seorang gadis berambut pirang yang ikut nimbrung ke dalam ruangan tersebut

"Kalau begitu, Ibu Kepala Sekolah ijinkan aku untuk menemani kedua adik kelasku ini!."

Sebuah suara yang begitu mendadak itu membuat gempar seisi kelas pertemuan karena muncul wajah baru. Tidak tanggung-tanggung dia bahkan menyatakan diri bermaksud untuk mengikutinya.

"E.. Eli-senpai?!" seru mereka bertiga secara kompak.

"Sebagai ketua OSIS Otonokizaka, Aku tidak mungkin bisa menyetujui gagasan ini bahwa mereka berlima akan melakukan ekspedisi ini sendirian tanpa mendapat pendampingan penjagaan dari orang dewasa." ucap Eli membenarkan pernyataannya.

"Sendirian? Kami berlima kok?!" protes Honoka secara frontal terhadap sang Senpai.

"Orang dewasa? Bukankah dirimu sendiri juga masih anak-anak?!." bantah Eli sambil menarik alis kirinya ke atas.

"Tapi kan..."

"Berisik! Karena itulah Mrs. Minami, aku harus ikut di ekspedisi ini, memangnya apa yang bisa diharapkan dari anak-anak umur 15 tahun seperti mereka ini. Ini bukanlah acara piknik, tidak mungkin tidak ada bahaya di dalam perjalanan ke hutan itu." lanjut Eli menolak mentah-mentah perkataan Honoka yang belum terucapkan.

"Baiklah, Ayase Eli. Kamu juga boleh bergabung dengan mereka. Kalau begitu tolong jaga adik-adik kelasmu ini yah." kata Ibu Kepala Sekolah memberikan persetujuannya agar Eli bisa ikut.

"Ya sudahlah, bukankah semakin banyak orang itu semakin baik..." kata Umi yyang tidak mempermasalahkan hal tersebut.

.


.

.

Pada saat itu telah diputuskan secara resmi bahwa ketiga murid Otonokizaka tersebut akan mengikuti perjalan ke dalam hutan terlarang bersama-sama.

Meskipun mereka tidak tahu tentang hal apa saja yang akan mereka hadapi di dalam hutan tersebut namun mereka, murid Otonokizaka tetap menyetujui persyaratan tersebut dengan senang hati.

Namun, entah mengapa keadaan tersebut tampaknya tidak mendapatkan sambutan yang baik dari para murid UTX.

Apakah ekspedisi ini akan berlangsung dengan baik?

.

-Part 2: End-