DARE DESUKA? PART 4

Author : Nakajima Hikari

Genre : Romance, Comedy, Mystery

Cast : Yamada Ryosuke, Arioka Daiki, Inoo Kei, Nakajima Yuto, Chinen Yuri, Yabu Kota

[Author's POV]

Yoo minna, numpang lewat yak.. Kira-kira ada yang tau Yabu jadi apa di sini? Wkwk *yasudahlah abaikan saya* yoosh… selamat membaca ;)b *gajelas bet sumpah*

[Chinen's POV]

Ohayou minna… ogenki desuka? Waah pagi ini cerah sekali yah? Aahh akhirnya aku bebas! Tak ada lagi sekolah, tak ada lagi yang namanya tugas, pr, dan lain lain. Yeey! Hehehe, duh. Ahh ngomong-ngomong nee-chan kemana yak? Tumben, biasanya dia paling ribut kalau aku bangun jam segini. Sekarang udah jam 10 masalahnya hehehe. Yasudahlah, mungkin aku sebaiknya aku turun dan mengeceknya.

Saat aku turun… aneh. Kok tak ada orang ya? Aneh, tak biasanya nee-chan pergi tanpa membangunkanku dulu. Yasudahlah, berarti hari ini aku bisa sebebasnya di rumah. Hahaha. Ngomong-ngomong aku lapar nih, ada makanan tidak ya? Daripada aku nanya mulu mending aku cek ke dapur langsung hihi.

Saat aku beranjak ke dapur aku melihat sebuah kertas di atas meja. Apa itu? Aku pun mengambil kertas itu dan melihat apa isinya. Ternyata sebuah surat dari kakakku. Tumben dia membuat surat seperti ini ckck.

"Dear my otouto, Chinen. Gomen, nee-chan harus berangkat duluan karena sesuatu. Kalau kami lapar ada mie instan di lemari atas atau telur di kulkas. Yaah, sesukamu lah. Kalau kau tak mau silahkan beli saja di supermarket. Oke? Nee-chan akan kembali mungkin tengah malam nanti. Ok, see you bye bye pendek. Hehehe~"

Apa ini maksudnya? Huuh dasar nee-chan! Huh, perutku berbunyi lagi. Sudahlah, aku ingin makan! Aku lapaarrr…

Aah aku jadi teringat kembali dengan Yuto. Apa dia baik-baik saja? Bagaimana dengan Yama-chan? Entah mengapa dari dulu Yuto dan Yama-chan tak pernah akur. Aku sebagai sahabat mereka turut sedih. Hiks…

Ngomong-ngomong aku benar-benar jadi khawatir. Sebaiknya kutelpon saja mereka? Lumayan, rumahku sedang kosong, bagaimana kalau aku mengajak mereka untuk ke rumahku? Aah ide yang bagus! Hehehe. Sudah sudah, kutelpon saja mereka. Hmmm,siapa ya yang kira-kira harus kutelpon duluan? Aah Yuti saja. Hehe. Baiklah, aku pun mulai mencari kontak Yuto dan menekan tombol hijau untuk menelponnya. Tuuutt…. Tuuuut…. Aah nyambung! Ayolah Yuto, angkatlah! Aaah… akhirnya…

"Hola? Moshi moshi? Yuto-kun Ohayou gozaimasu!" sapaku dengan semangat.

"Ah.. ohayou... ada apa, Chii?"

"Hmm… begini. Di rumahku sedang tak ada orang, maukah kau menemaniku? Kita bisa nonton bareng dan bermain seperti biasa. Bagaimana?"

"Hmmm… ide bagus. Baiklah, aku siap-siap dulu kalau begitu. Aku akan ke rumahmu setengah jam lagi, bagaimana?"

"Baiklah. Arigatou, Yuto-kun. Kutunggu kau hehehe." Aku pun menuutup flip handphoneku. Aah bagaimana dengan Yama-chan? Apa aku mengajaknya juga? Hmm, tak salah jika kucoba. Baiklah kutelpon saja dia. Semoga dia sudah baikan supaya aku bisa mengajaknya kemarin. Yup! Nomor sudah kutekan, tombol hijau sudah kutekan…

Aaa… boku ni wa kimi ni shika miserarenai kao ga aru…

Kudengar nada tunggu dari sana. Waah tak kusangka Yama-chan menyukai lagu itu juga ckck. Setelah sekian lama menunggu, rupanya telponnya tak diangkat. Huuh, ada apa ini? Baiklah kucoba menelponnya sekali lagi.

Saat kuhubungi lagi… aah diangkat! Tapi…

"Aah… Moshi moshi, Inoo desu. Aku kakaknya Yamada. Ini siapa?" terdengar suara seorang laki-laki dari ujung sana yang mengatakan dirinya adalah kakakknya Yama-chan.

"Ohayou gozaimasu. Ano, Chinen Yuri desu. Ne, apa Yama-channya sedang sibuk?" tanyaku sopan.

"Hahaha, gomenne, Chinen Yuri-san. Yama-chan masih istirahat. Oh ya, kau kemarin yang membantu mengantar Yama-chan ke UKS bukan? Doumo arigatou ne, Chinen-kun. Sampaikan salamku juga untuk temanmu si Nakajima-san. Aku turut berhutang budi pada kalian berdua."

"Ahh… tak apa-apa Inoo-san. Baiklah, sampaikan salamku juga untuk Yama-chan. Semoga ia cepat sembuh. Arigatou gozaimasu."

"Hai hai… douitashimashite, Chinen-kun." Aku pun menutup flip handphoneku lagi. Yaah sayang sekali, kupikir Yama-chan sudah sembuh. Yasudahlah kuharap dia benar-benar cepat sembuh.

Yoshh… baiklah sebaiknya aku mandi. Yuto akan datang dalam 30 menit lagi. Jaa ne minna~

[Yuto's POV]

Haahh… tumben Chinen memanggilku jam segini. Mungkin karena kami sudah tak mengalami lagi masa-masa sekolah yang menyenangkan itu. Haah, aku kangen dengan masa-masa itu. Masa-masa SMA yang sangat menyenangkan. Aku rindu dengan Akira…

"HUWAAAAH!" teriakku dengan keras. Kututupi wajahku yang mulai memerah. Ngapain aku masih mengingatnya lagi? Oh Tuhan, aku harus bagaimana? Aku masih terus mengingatnya. Akira… apa kau baik-baik saja di alam sana? Akankah aku dapat bertemu denganmu suatu saat. Tidak. Itu pertanyaan yang bodoh. Huuh… sudah sudah. Aku harus segera ke rumah Chinen. Dia sedang menungguku di sana. Terima kasih Chinen. Kau memang teman terbaik di dunia ini.

Sesampainya aku di rumah Chinen…

"Ohayou, Yuto-kun. Eh silahkan masuk." Sambut Chinen dengan riang seperti biasa.

"Konnichiwa. Sekarang sudah siang, Chinen." Jawabku ringan.

"Eh eh? Sou ka? Gomen aku keasikan mandi sampai-sampai aku tak melihat jam." Ya, memang kulihat Chinen masih menggantungkan handuk di lehernya dan rambutnya juga masih sedikit basah.

"Ya ampun. Berapa lama kau di dalam kamar mandi haah?"

"Hmmm… paling sekitar 25 menit? Hahaha." Ya ampun… mengapa si kodomo ini mandi selama itu? Jadi selama aku di perjalanan dia mandi? Ya ampun… seperti cewek saja!

"Hmmm… ngomong-ngomong, kemana kakakmu, Chii?"

"Ha? Onee-chan? Dia sedang pergi. Entahlah kemana, yang jelas dia akan pulang tengah malam. Mungkin urusan kantornya. Yasudahlah, lupakan. Aku sedang ingin bebas darinya hari ini sehari saja. Hahaha. Ayo kita main! Tunggu… ngomong-ngomong kau sudah makan? Aku lapar nih. Bagaimana kalau kita mencari makan di luar?"

"Hah? Oh yasudahlah." Jawabku singkat.

"Yeeeyy! Kau memang baik Yuti! Baiklah tunggu di sini. Aku akan ganti baju dulu sebentar."

"Baiklah. Tapi GPL ya?" si Chinen yang hendak akan pergi tiba-tiba saja berbalik dan berkata…

"GPL?" dengan alis terangkat dan bola mata yang diusahakan sebulat-bulat mungkin.

"Ga pake lama. Sudah sana cepetan kalau kau memang lapar."

"Oh… hohoho. Dapat dari mana kau istilah itu? Baiklah, ittekimasu!"

Baiklah, kurasa aku akan menunggunya di sini. Setelah seperempat jam berlalu akhirnya dia turun. Ya ampun… aku hampir saja tertidur di sofa ini karena kecapean menunggunya! Dia itu cewek apa cowok sih?

"Hehe. Gomen terlambat. Baiklah ayo berangkat!" dia melompat-lompat seakan-akan tak punya dosa. Dasar anak kecil ini.

[Yamada's POV]

Huaaaahhhmm… di mana aku sekarang? Kulihat di sekelilingku, ahh ternyata ini di kamarku. Dengan pelan-pelan aku mencoba untuk duduk di tempat tidurku. Kepalaku masih terasa pusing tapi tak separah kemarin. Tokk tokk… kudengar suara pintu kamarku yang diketuk. Aku pun berkata "masuk." dan tampak dari balik pintu masuklah seorang sosok.

"Hooi bagaimana keadaanmu Yama-chan?" kata kak Daiki.

"Yaah lumayanlah. Sudah agak mendingan." Jawabku dengan suara yang terdengar lirih.

"Aaah sou da ne? Oh ya, ada kabar baik. Nee-chan sudah pulang. Dia menunggumu di bawah jika kau sudah bisa berjalan." Kata kak Daiki dengan sedikit khawatir.

"… HEEEEE? NEE-CHAN PULANG?" tanpa sadar aku berteriak sampai nee-chan mendengarnya dari bawah.

"Ada apa Yama-chan? Daijoubu ka?" teriak nee-chan dari bawah.

"Nee… nee…. NEE-CHAAAAAAANNN!" dengan segera aku melompat dari kasur dan hendak berlari ke bawah. Saat itu aku tak memikirkan kak Daiki yang masih berdiri terheran-heran melihatku, namun…

Brukk…

"AAAAUUUCCH! SAKIT TAU!" teriakku pada kak Daiki.

"Hey, pelan-pelan saja. Kau baru saja terbangun dari tidurmu yang lelap itu." Kata kak Daiki sambil mengepalkan tangannya dengan kuat. Sye… syeremm….

"Aahh ahh… ba… baiklah kak… Arigatou…" dengan pelan-pelan kuberanjak menuruni tangga satu per satu. Huuuh, sakit di kepalaku masih terasa saat kak Daiki tadi menggepakku. Hiks…

Saat aku sampai di bawah…

"Nee-cha—" omonganku terputus saat melihat sosok pria di samping kakakku.

"Ahh… konnichiwa Yamada-chan. Watashi wa Yabu Kota desu. Aku suami dari kakakmu. Yoroshiku."

Kulihat dia merangkul nee-chanku. Oh Tuhan… apakah ini mimpi? Kuharap ini adalah mimpi! Tidak mungkin! Tidak mungkin! Aku tak mungkin bertemu dengannya lagi! Tidak! Aku tak mau bertemu dengannya lagi! Aku benci ini! Aku benci! Aaaa…

To be continued...