To: Rin

From: Kaito

Subject: Ticket

Jadi bagaimana? Apa kau akan datang ke pertandinganku nanti?

Rin menatap layar ponselnya yang menampakan pesan singkat dari teman birunya. Sejujurnya dia sama sekali tidak tahu harus menjawab apa, haruskah dia datang atau tidak? Helaan nafas Rin sekarang mungkin jawabannya. Mungkin tidak ada salahnya untuk sekedar refreshing di weekendnya kali ini dengan menonton pertandingan basket.

To: Kaito

From: Rin

Subject: Re Ticket

Ya, Ya, Ya...

Kau menang. Aku akan ke pertandinganmu...

.

.

Rated: M

Genre: Romance, Hurt/Comfort

Vocaloid © Yamaha Corp and Crypton Future Media.

Pair: Len x Rin (slight Len x Miku and Kaito x Rin)

Warning: Typo, EYD yang buruk, Ide pasaran, Incest, Lime or Lemon (Jika memadai dan kalau bisa) dll

By © Go Minami Asuka Bi

Np:

"..." = Bicara

"..." = Rasa kuat antar saudara

18+ (anak kecil tolong skip, walau ini lime)

RnR Please...

.

.

.

Rasanya seperti kencan.

Rin menatap pantulan dirinya di cermin saat pemikirannya kini tengah berpikir keras dengan pakaian- pakaian yang ia coba sejak tadi. Padahal dirinya hanya akan pergi untuk melihat pertandingan basket, tapi memilih satu baju saja dia tidak bisa. Ini terasa seperti dia akan pergi kencan. Tidak, Tidak! Rin menggelengkan kepalanya saat kata 'kencan' melintas di otaknya. Dia hanya ingin terlihat rapih saja, tapi pakaian yang ia punya tak lebih dari baju- baju ala laki-laki atau bisa di bilang, tomboy. Biasanya di saat seperti ini Lenlah yang mendandaninya.

"..."

Kenapa di saat seperti ini orang itu harus terlintas di pikirannya? Lupakan. Rin menyambar satu pakaian bewarna orange dan jeans biru tua lalu ia pun segera memakainya. Tak perduli bagaimana dengan penampilannya nanti yang penting ia datang ke pertandingan dengan menggunakan pakaian, bukan dengan telanjang. Sebuah jaket orange bermotif bintang- bintang dan tas ransel sekolah pun menjadi tambahan fashion tidak jelasnya. Sangat jelas, Rin memang bukan ahli dalam bermode dan dia tak perduli dengan itu.

Ceklek! Tap!

Baru satu langkah ia keluar dari kamar, langkahnya sudah terhenti ketika pemuda blonde lewat di hadapannya. Tak hanya lewat, Len pun ikut berhenti melangkah saat pintu kamar yang ia lewati terbuka. Dalam diam ia pun memperhatikan penampilan tomboy Rin dari atas sampai bawah. Biasanya ia yang mendandani gadis itu setiap pergi kemana pun tapi sekarang dia hanya bisa berkomentar dalam hati atas fashion Rin saat ini.

"Kau mau pergi kemana?"

"Bukan urusanmu."

Rin berjalan melewati Len tanpa memandang pemuda itu hingga sebuah tangan menghentikan gerakan kakinya. Ia pun menengok ke arah pemilik tangan tersebut dengan pandangan tak suka. Apa maunya? Ini sudah terlambat karena memilih pakaian, sekarang ia malah di tahan dengan orang yang paling ingin ia hindari beberapa waktu ini. Rin menghentakkan tangannya agar genggaman tangan Len terlepas.

"Semarah apapun dirimu kepadaku.-" Len menatap Rin dengan pandangan serius. "Aku tetaplah saudaramu. Jadi, telpon aku jika terjadi sesuatu padamu."

"Hmm? Apa peduliku? Bukankah kau yang mengatakan untuk mengurus urusan masing- masing? Sekarang, apa yang terjadi pada otakmu itu, huh?" Kata Rin dengan nada mengejek.

"Dengar, Kaito memanglah pemuda yang baik tapi bukan berarti teman- temannya pun sama dengannya."

"Apa maksudmu? Kau mau mengejek Kaito, huh?!"

"Aku tidak mengejeknya! Aku hanya memperingatkanmu, Rin. Aku lebih mengenal Kaito di banding dirimu."

"Dan aku yakin Kaito bukanlah orang brengsek sepertimu."

Tanpa memperdulikan apa balasan perkataannya Rin pun berbalik dan berlalu pergi meninggalkan Len yang terdiam menatapnya.

.

.

.

11.45

Rin melirik jam tangan yang melekat di tangan kanannya seraya terus berlari ke arah gedung tempat pertandingan Kaito berlagsung. Sudah sejak tadi mulutnya mengumpat segala hal atas apa yang ia lalui sebelum sampai sini. Benar- benar menyita waktunya yang cukup berharga, menyebalkan.

Kakinya semakin kencang berlari ketika matanya melihat pintu gedung yang di tuju, semoga tidak terlambat. Tepat saat Rin membuka pintu, suara peluit terdengar nyaring dalam ruang tersebut dan di ikuti dengan sorak soray para penonton yang menandakan berakhirnya pertandingan hari ini. Dia benar- benar telambat.

Dengan perlahan Rin mendekat ke arah lapangan tempat pemuda biru yang dibuat janji olehnya tengah bersorak ria seraya saling berpelukan dengan teman setimnya. Tak berapa lama, mata ocean blue milik Kaito menangkap sosok Rin yang tak jauh dari tempat ia berdiri hingga pemuda itu pun mendekatinya dengan senyum kemenangan yang dirinya miliki.

"Kau kemana saja? Aku menunggumu sejak tadi.-" Kata Kaito pada Rin tanpa menghilangkan senyumnya. "Kau lihat, kami menang!"

"Maaf, tadi aku terjebak macet sampai harus berlari ke tempat ini. Kau tau, jarak dari sana hingga ke tempat ini memerlukan waktu setidaknya setengah jam." Jawab Rin. "Dan selamat untuk kemenanganmu." Sambungnya.

"Yah, aku bisa melihat sejauh mana perjuanganmu datang ketempat ini dari pakaian kusutmu itu."

"Dan aku juga bisa tau sejauh apa perjuanganmu memenangkan pertiandingan hari ini dari bau keringatmu." Rin menjepit hidungnya seraya menyeringai kecil untuk menggoda Kaito yang mendapat respon dengusan sebal dari pemuda biru di hadapannya.

"Ini bau kemenangan."

"Jika semua kemenangan berbau seperti ini, maka aku takkan pernah mengincar kemenangan."

Kaito memutar bola matanya malas saat menanggapi kata- kata Rin. Gadis dihadapannya ini benar- benar ratu dalam berdebat. "Baiklah, baiklah... Kau menang." Kaito mengacak- acak rambut Rin gemas.

"Hentikan." Kata Rin seraya menyingkirkan tangan Kaito dari kepalanya. "Aku bukan anak kecil."

"Baiklah, Nona." Goda Kaito yang mendapatkan sebuah mimik wajah sebal dari Rin.

"Aku akan mandi dan berganti pakaian. Kita akan pergi merayakan kemenanganku setelahnya. Jadi, tunggu disini, ok?"

Rin menggangguk menanggapi perkataan Kaito sebelum pemuda biru itu pergi meninggalkannya sendiri. Sebuah helaan nafas pun mengiringi langkah Rin saat dirinya mendudukan diri pada kursi penonton. Sepertinya menunggu di dalam lebih baik di bandingkan harus mencari kursi diluar sana yang terasa cukup menyengat kepalanya. Ia harap Kaito membelikan sebuah es krim atas kerja kerasnya berlari hingga tempat ini.

Beberapa menit berlalu yang entah mengapa terasa cukup lama bagi Rin hingga seorang pemuda berambut pink mendekatinya. Rin memperhatikan pemuda di hadapannya dalam diam. Ada masalah apa hingga pemuda itu mendatanginya? Tanya Rin dalam hati. Jujur saja, ia tak mengenal mereka walau pemuda itu memakai seragam basket yang sama dengan Kaito.

"Apa kau Kagamine Rin?"

"Iya."

"Aku Yuuma. Aku datang kesini karna Kaito menyuruhku memanggilmu."

"Kaito?" Rin menatap pemuda yang memperkenalkan nama dengan Yuuma itu dengan bingung. "Dimana Kaito? Bukankah dia yang menyuruhku menunggu disini. Kenapa sekarang dia menyuruhmu untuk memanggilku?" sambung Rin.

"Entahlah, sepertinya ia ingin membahas sesuatu yang penting berdua denganmu."

"Begitukah? Lalu, dimana dia sekarang?" Tanya Rin.

"Ikutlah denganku, aku akan membawamu ke tempat Kaito."

.

.

.

Sebrengsek- brengseknya seseorang tapi ia tetap takkan membiarkan saudaranya masuk ke dalam kawanan singa bukan? Yah, itu yang di lakukan Len sekarang. Sejak Rin pergi ke tempat pertandingan, sebuah perasaan tidak enak terus mengganggunya. Sejujurnya ia ingin menghiraukan perasaan tersebut tapi bagaimana jika perasaan itu benar adanya? Dia takkan bisa menunjukkan wajahnya lagi di hadapan Rin jika terjadi sesuatu pada sang adik. Maka dari itu disinilah ia berdiri di depan sebuah bangunan olahraga lebih tepatnya tempat pertandingan basket yang berlangsung hari ini.

Len menatap gedung olahraga yang mulai terlihat lebih sepi dari sebelumnya karena pertandingan telah selesai sejak 15 menit yang lalu. Sepertinya dia telat datang ke pertandingan, tapi siapa yang perduli. Toh, dia datang ketempat ini hanya untuk mencari sang adik, bukan datang melihat pertandingan basket yang berlangsung.

Pemuda blonde itu mulai melangkah masuk ke dalam gedung olahraga untuk mencari sang adik yang kemungkinan ada di dalam sana. Namun, sesampainya ia di dalam, Len sama sekali tak menemukan sang adik. Ia hanya melihat gedung kosong tanpa ada siapa pun di dalamnya. Dimana adiknya saat ini?.

DUAK! DUAK! DUAK!

Suara hantaman terdengar oleh Len membuatnya terkejut. Ia pikir itu hanya sebuah suara tukang yang tengah memperbaiki gedung tapi, ia sama sekali belum mendengar adanya renovasi di tempat ini. Semakin Len memikirkan suara tersebut, suara itu pun tetap tidak mau berhenti hingga akhirnya rasa penasaran membuatnya mencari asal suara tadi. Len kembali melangkahkan kakinya tapi kali ini untuk mencari asal suara tersebut. Len menelusuri gedung tersebut hingga sebuah pintu yang ia tahu adalah sebagai ruang ganti membuatnya yakin. Ya, dia yakin tempat itulah asal suara tadi karena hanya disana suaranya semakin kencang terdengar.

Tok... Tok... Tok...

Len mengetuk pintu pintu di hadapannya dengan wajah penasaran. Jujur ia ingin tahu apakah ada orang di dalam sana atau tidak dan tepat setelah ketukan Len yang ketiga, sebuah suara kembali terdengar dari dalam sana namun ini bukanlah sebuah hantaman seperti tadi tapi sebuah suara pemuda.

"Buka! Buka pintunya, br*ngsek!"

Len mengenal suara itu. Ya, dia tau siapa yang ada di dalam sana. "Kaito?"

"Len?"

"Apa yang kau lakukan disana, BaKaito? Kau mengunci dirimu sendiri dan kehilangan kuncinya?"

"Itu tidak lucu, Len! Cepat buka pintunya!"

"He? Kau memerintahku? Apa keuntunganku jika melepasmu, hmm?" Len melipat kedua tangannya menanggapi perkataan temannya yang tengah kesusahan di dalam sana.

"Jika kau tidak cepat melepaskanku maka Rin dalam bahaya, bodoh!"

Len terkejut mendengar bentakan kesal dari Kaito. Rin dalam bahaya? Apa maksudnya?. "Rin? Dimana Rin sekarang?!" tanya Len.

"Yuuma dan yang lain berniat untuk melakukan sesuatu terhadap Rin saat mereka tahu aku akan membawanya kesini. Aku tidak tahu apa yang mereka rencanakan, maka dari itu mereka mengurungku di tempat ini agar tidak mengagalkan rencana mereka."

Deg!

Firasat Len ternyata benar, ada ancaman besar yang menanti Rin di tempat ini. "Dimana?! Dimana, Rin?!" Ujar Len pada Kaito.

"Aku tidak tahu! Tapi cepat keluarkan aku dari tempat ini. Aku akan membantumu mencari Rin."

Tidak ada cara lain, Len membutuhkan Kaito untuk mencari Rin. "Tunggu disini, aku akan mencari cara untuk mengeluarkanmu."

.

.

.

"Benarkah Kaito menunggu didalam? Tapi aku merasa Kaito tidak ada di dalam."

"Begitulah. Jadi, masuk dan temui dia di sana."

Rin masih tetap menatap ragu pada pintu gudang di hadapannya. Sungguh, Hati kecilnya terus mengatakan bahwa Kaito tidak berada di dalam sana. Apa yang harus ia lakukan? Mengikuti panggilan Kaito atau menuruti hati kecilnya? Ia benar-benar ragu akan semua ini.

Kriet...

"Ayo masuk." Ujar Yuuma sesaat setelah membuka pintu gudang yang mendapati anggukan sebagai jawaban.

Gelap. Satu kata yang Rin tahu saat ini. Rin menengok kesana- kemari mencari sosok biru tapi ruangan gelap itu benar-benar membutakan pandangannya. Sungguh, tempat ini benar- benar gelap bahkan ia hanya bisa melihat cahaya dari balik pintu gudang yang ia masuki tadi. Apa yang di pikirkan Kaito hingga menyuruhnya datang ke tempat ini. Apa tidak ada tempat lain yang bagus dari gudang gelap dan lembab ini? Padahal di gedung olahraga pun lebih baik di bandingkan gudang.

Bruk! Ceklek!

Rin berbalik menghadap ke arah pintu yang ia masuki saat terdengar bunyi keras dari sana. Keadaan gelap tadi semakin gelap tatkala pintu yang ia masuki tertutup. Tunggu, tertutup? Rin berlari ke arah pintu dengan panik, ia pun mencari- cari knop pintu gudang. Meski sudah menemukan knop pintu namun berkali-kali Rin mencoba untuk membuka pintu tetap saja tidak mau terbuka. Apa yang terjadi sebenarnya?.

"Buka! Tolong buka pintunya! Aku mohon buka!" Rin berteriak panik saat pintu di depannya ini tetap tidak mau terbuka. Tak hanya berteriak, beberapa kali Rin menggedor pintu itu dengan keras. Seharusnya ia menuruti kata hatinya tadi.

Ctak!

Lagi- lagi ia di buat terkejut saat cahaya terang dari lampu di gudang itu menyala sehingga ia harus menyipitkan matanya. Apa lagi sekarang? Itu yang di pikiran Rin. Rin berbalik berniat untuk mencari tahu apa yang terjadi di dalam gudang ini hingga matanya menangkap beberapa pemuda di belakangnya. Siapa mereka? Rin tidak sama sekali tidak mengenal mereka hingga matanya memperhatikan seragam basket yang mereka pakai saat ini. Rin merasa ia pernah melihat pakaian yang mereka kenakan. Ah ya! Dia ingat! Itu adalah seragam basket yang sama dengan seragam Kaito dan Yuuma tadi.

"Siapa kalian?! Dan dimana Kaito?!"

"Kaito?" Rin menengok ke arah suara itu berasal. Di sampingnya terlihat Yuuma tengah menekan saklar listrik yang berjarak sekitar satu setengah meter dri tempatnya berdiri. "Kau ingin tahu dimana orang bodoh itu berada, hmm?"

Yuuma berjalan perlahan kearah Rin. "Mungkin sekarang dia sedang tertidur pulas setelah berteriak- teriak di ruang kosong." Kata Yuuma dengan seringai yang terpampang di wajahnya.

"Ruang kosong?! Kalian menyekap Kaito?"

"Hey, mengapa kau memikirkan Kaito? Harusnya kau memikirkan keadaanmu saat ini." Yuuma memegang dagu Rin perlahan dan menggangkatnya agar gadis blonde itu menatap dirinya.

Duak!

"Aaargghh! Gadis sialan!" Umpat Yuuma saat Rin menendang tepat pada selangkangannya sehingga ia mundur beberapa langkah seraya memegang bagian yang tertendang tadi.

"Aku tak tahu apa yang kalian rencanakan padaku tapi jika kalian macam- macam, maka aku akan menelpon polisi!" ucap Rin yang mendapatkan tertawaan dari orang- orang disana. "Aku tidak bercanda! Aku akan menelpon polisi jika kalian tidak membebaskanku sekarang juga."

"Coba saja jika kau bisa."

.

.

.

"Bagaimana?"

Sebuah gelengan dari Kaito menjawab pertanyaan Len. "Aku bahkan sudah bertanya pada orang-orang disini tapi mereka tetap tidak mengetahuinya."

"Arrgghh! Sial!" Len mengacak- acak rambutnya kesal. Sudah hampir setengah jam mereka mencari tapi tetap tidak menemukan hasil. "Dimana kau, Rin?"

"Tolong aku."

Deg!

Kaito menatap temannya yang tiba- tiba terdiam itu dengan pandangan bingung. "Ada apa? Apa kau sakit?"

"Apa kau mendengarnya?"

"Mendengar? Mendengar apa?" Tanya Kaito yang semakin bingung. Apa yang Len dengar? Sungguh ia hanya mendengar suara keramaian di tempat ini saja.

"Kumohon tolong aku."

"Itu suara Rin! Suaranya sangat jelas"

"Kau sudah tidak waras? Tak ada suara Rin yang terdengar oleh telingaku."

"Tidak... Tidak... Ini serius! Aku mendengar suara Rin. Dia meminta pertolongan! Aku harus menolongnya."

"Tolong aku, Len."

Suara- suara itu terus menggema di otak Len. Pasti ada yang tidak beres dengan Rin, ia yakin itu. Ia harus menolong Rin tapi sebelumnya dia harus mencari saudara kembarnya itu. Dan sekarang semakin Len memikirkan dimana Rin, semakin terarah hatinya pada suatu tempat. Tempat? Ya benar! Sekarang Len tahu dimana Rin berada. Tanpa berpikir dua kali Len berlari mengikuti instingnya meninggalkan Kaito.

"He-hey! Ck! Dia ini."

.

"Kau yakin dia ada di dalam sini?"

"Aku yakin."

Kini disinilah mereka, berdiri di depan sebuah pintu gudang yang terkunci. Sejujurnya Kaito tidak yakin dengan insting Len yang pemuda blonde sebutkan saat di jalan. Tapi melihat keadaannya saat ini, ia hanya bisa percaya dengan insting Len. Semoga temannya ini tidak salah. Bukannya enggan membantu tapi jika hasilnya salah, mereka hanya menyia- nyiakan waktu di tempat ini.

"Jika kau tidak mau membantuku disini, lebih baik pergilah!" Kata Len seraya bersiap untuk mendobrak pintu di hadapannya.

"Kau selalu saja memaksaku dan bodohnya aku mau mengikuti keinginanmu." Jawab Kaito seraya menggaruk tengkuknya. "Bergeser sedikit aku akan membantumu. Ingat, kau berhutang es krim padaku"

"Aku akan menraktirmu es krim, tenang saja."

.

.

.

"Tidak! Hentikan!"

Tubuh Rin menggeliat tak menentu saat tangan-tangan kasar para pemuda itu menggerayangi tubuhnya. Pakaiannya telah terbuang entah kemana dan hanya meninggalkan bra yang di angkat ke atas hingga memperlihatkan kedua payudaranya dan sebuah celana dalam yang menutupi area pribadinya. Ia terus saja berontak namun apa daya? Kedua tangan dan kakinya tengah di pegangi dengan kencang. Ia tak pernah menyangka pernah akan mendapat perlakuan seperti ini.

"Aku mohon lepaskan aku!"

Yuuma berjongkok di hadapan Rin, sebuah seringaian ia berikan pada Rin yang terus saja mencoba lepas dari tangan- tangan yang menjamahnya. Pemuda pink itu menyibak celana dalam yang Rin kenakan hingga memperlihatkan area pribadi milik gadis itu. Sesaat melihat gading berwarna merah itu berkedut dan basah, Yuuma tersenyum remeh pada Rin.

"Lepaskan, huh? Tubuhmu mengatakan sebaliknya. Munafik!"

"Tidak! Tidak mungkin tubuhku menginginkan ini! Lepaskan aku!"

Tanpa memperdulikan perkataan Rin, Yuuma membuka kedua bibir vagina Rin dengan jari telunjuk dan jari tengahnya lalu ia menjulurkan lidahnya untuk menjilat bagian dalam dari daging itu. Yuuma merasa rontaan Rin semakin menjadi tatkala ia menyentuh area pribadi gadis itu tapi ini belum cukup baginya, ia harus membuat Rin kalah dalam hal ini karena dia sudah berani menendang juniornya tadi.

"Ti-tidak! Jangan menjilatnya."

Kali ini Rin mendapat dua serangan pada tubuhnya. Sebelumnya, beberapa pemuda disana hanya bermain dengan dadanya tapi sekarang mereka pun mempermainkan bagian pribadinya. Ia benci dengan ini, ia tak mau merasakan ini, ia merasa jijik dengan perlakuan mereka tapi, tubuhnya sama sekali tak mau menurutinya. Ia terus merasakan hal yang luar biasa pada tubuhnya terlebih di bagian selangkangannya.

Rin kembali tersentak saat ia merasakan jari Yuuma kini ikut andil bermain di dalam tubuhnya. Ya, pemuda itu memasukan dua jarinya sekaligus ke dalam lubang vagina Rin hingga membuat gadis itu meringis. Ini pertama kalinya untuk Rin, pertama kalinya sesuatu memasuki dirinya dan itu terasa perih.

"Akh! Keluarkan! Aku tak mau ini! Lepaskan aku!"

"Beruntung sekali. Hari ini aku mendapatkan seorang 'gadis'. Kalau begitu aku akan mempersiapkanmu lebih baik lagi, sayang."

Tepat setelah perkataan Yuuma itu, kini kedua jari miliknya yang tengah menggesek bagian dalam Rin dengan perlahan pun berubah irama. Yuuma menggesekkan jarinya dengan cepat yang segera mendapat protes dengan Rin yang menghimpit tubuhnya dengan kedua paha gadis itu.

"Ti-Tidak! Hentikan! Aahhnn... Ahh."

"Berhenti? Bukan kah kau menikmatinya, heh?"

"Ku-kumohon hentikan ngghh..." Rin menggigit bibirnya tatkala suara desahan mulai keluar dari bibir mungilnya. Melihat aksi Rin dan Yuuma, orang-orang disana pun tertawa remeh atas pernolakan Rin yang di ikuti dengan jari Yuuma yang semakin mempercepat tempo gerakannya disana.

"He-hentikan! Aahhh... Kumohon Hentikan. Hentikan!" Teriak Rin panik tatkala ia merasakan sesuatu akan keluar dari tubuhnya.

Yuuma kembali menyeringai tatkala jarinya kini terjepit kuat di dalam Rin. Ia tahu, bahwa Rin akan segera organisme. "Sudah mau keluar, huh?"

"Tidak... Aku... Ahhnnn.!" Rin semakin mengigit bibirnya saat gelombang organisme melandanya.

Rin benci ini, dia sangat benci pada tubuhnya yang merespon perbuatan Yuuma dan menghianati akal sehatnya. Dia benci dirinya yang tidak bisa melawan apa yang para manusia kurang ajar ini lakukan padanya. Andai Len berada disini, andai Len berada disisinya, andai dia mendengar perkataan Len, mungkin sekarang dia lebih baik di banding sekarang.

Setetes air mata kini menuruni pipi chuby Rin. "Len." Panggilnya lirih.

BRAK!

"Rin!"

Mendengar suara pintu yang terbuka karna dobrakan keras membuat seluruh orang yang berada di dalam ruangan itu mengalihkan pandangan kepada dua pemuda di ambang pintu, begitu pula dengan Rin. Entah mengapa melihat Len yang menemukannya membuat air mata Rin tak berhenti mengalir karena bahagia. Dia bahagia, Len bisa mendengar penggilan kecilnya.

Len menggeram seraya mengeratkan genggamannya tatkala melihat pandangan di hadapannya. "Brengsek!"

Buagh!

Satu pukulan di layangkan oleh Len yang murka pada Yuuma. Tepat setelah pukulan tersebut, kini keributan besar terjadi di dalam gudang. Aksi baku hantam tak terelakan bagi yang melihat, tapi untunglah disana hanya ada mereka. Meski terkesan tidak seimbang dalam jumlah namun, pihak Len bisa mengimbanginya karena amukan pemuda blonde itu. Sepertinya mereka benar- benar perlu di ajari agar tidak bermain- main dengan milik seorang Kagamine Len.

.

Len mengelap darah di sudut bibirnya, menurutnya hal itu tidak terlalu sakit di bandingkan dengan apa yang mereka perbuat pada Rin. Sudah sejak tadi Yuuma dan yang lain berlari kabur dari sana, sepertinya mereka tahu takkan bisa menandingi kemurkaan Len. Len mengarahkan pandangannya pada Rin yang masih terisak dengan pakaian minimnya. Len mengigit bibirnya untuk menyalurkan emosi yang masih belum reda saat ini. Seharusnya ia datang lebih cepat! Bodoh.

Baru saja ia melangkah mencoba mendekat, kini dirinya harus terhenti kembali saat pemuda blue ocean mendahuluinya. Kaito mendahuluinya mendekati Rin untuk menolong gadis malang itu dengan menutupinya dengan jaket yang ia kenakan dan berusaha menenangkan isakkannya. Lagi- lagi ia kalah cepat, bahkan kalah cepat dengan orang bodoh seperti Kaito, rasanya ia ingin menertawai dirinya.

"Hey Rin... Rin... Kau dengar aku?! Rin!" Len kembali sadar saat mendengar ucapan panik Kaito yang kini tengah mendekap sang adik seraya menepuk- nepuk pipi Rin.

"Apa yang terjadi?!" Len berjalan cepat mendekati Kaito lalu berjongkok di hadapan mereka. "Rin... Rin..." Ucap Len seraya mengguncang bahu adiknya.

"Sepertinya dia shock."

"Lebih baik kita bawa dia ke rumah sakit untuk lebih pastinya."

"Aku akan memanggil ambulance."

TBC

Slesai!

Ampun! Ini ff makin gag jelas dah, Maaf kalau sama sekali gag menarik di scene ini. Jujur, ini pertama kalinya aku membuat cerita dengan adegan, yahhh you knowlah. Tapi aku harap kalian suka.

Jujur aku bikin deg- degan bgt terlebih ngetik d kampus, pas ada yg buka pintu kelas, rasanya jantung mau copot.

Ok. Ini cerita terakhirku sebelum hiatus.,. kemungkinan aku akan hiatus hingga bulan september atau November atau bisa jadi tahun depan baru on lagi. Yah, gimana nanti juga sih.

Sekian dari saya, maaf kalau kurang memuaskan. Dan terima kasih sudah mau baca.

Salam Hangat,

Go Minami Asuka Bi