ooOoo
Karena Hidup itu terkadang merupakan Skenario yang Konyol
Disclaimer : Gintama By Sorachi Hideaki a.k.a Gorilla-Sensei. Story By Me
Warning : OOC, Rated T, AU, Typo.
ooOoo
Chapter 4. Ketika Drama Romantis Harus berakhir dengan Laga pedang.
Ah, satu lagi pagi yang indah di akhir musim gugur. Walaupun, suasana pagi ini cukup dingin, hal itu tak membuat semangat para Penghuni SMA Gintama mengendur. Apalagi ini adalah hari yang paling mereka nantikan, Festival Musim Gugur. Seperti tahun-tahun sebelumnya, para Siswa dan Siswi mendekorasi Sekolah mereka dengan berbagai hal berbau musim gugur, contohnya saja hiasan labu, stand dengan tema coklat, jalanan yang dihiasi dengan bunga-bunga khas musim gugur dan jalan-jalan yang sengaja di beri tumpukan daun yang berwarna kecoklatan.
Semuanya menyambut festival ini dengan suka cita. Ya, semuanya, kecuali para manusia yang tengah bernasib ntah itu apes atau beruntung untuk melakukan pertunjukan drama malam nanti. Pertunjukan drama merupakan salah satu main events dari festival ini. Berbeda dengan tahun sebelumnya, dimana tiap kelas menampilkan drama kelas mereka masing-masing, tahun ini sang Kouchou, Terada Ayano, atau lebih sering di sapa 'Otose-Sensei', memerintahkan untuk melakukan drama kolaborasi antarangkatan dengan alibi mempersingkat waktu demi menyelamatkan kas sekolah. Alasan sebenernya sih dia terlalu malas mengikuti rentetan acara dari pagi hingga malam. Dia butuh 'Bocan' guna menjaga wajahnya tetap cantik.
Dan di sini lah para manusia yang bernasib apes itu berkumpul.
-Gedung Audiotorium-
"Tes ... Tes ... Oke, action. Dahulu kala, di sebuah hutan yang paling dalam, dalam, dalam, pokoknya di kedalaman hutan yang terdalam, terdapat sebuah istana besar dengan aura yang mencekam. Istana tersebut di huni oleh sepasang kakek dan nenek" Suara dari sosok cantik yang sayangnya adalah seorang pria menggema di auditorium. Di dalam gedung tersebut telah berkumpul berbagai jenis surai manusia dengan warna yang berbeda.
"CUUUUUT!" teriak pria ubanan dengan megaphone di tangannya.
"Salah naskah, Woy!" lanjutnya nggak nyante.
"eh? Iya kah? Ups, sorry bro! Woles ... woles ..." pria cantik tadi berkata dengan nada tanpa dosa.
"Woles ... woles, serius woy!" semburnya dihiasi dengan hujan lokal.
Menghela napas sejenak, pria cantik tadi kembali mengulang narasinya dengan naskah yang berbeda, "ha'i ... ha'i, maaf pemirsa mari kita ulangi sekali lagi. Ehm ... Dahulu Kala di sebuah negeri antaberantah, tinggalah seekor gorri- eh? Oy, Gintoki, ku rasa ada yang tidak beres dengan kumpulan naskah ini."
"eh? Eh! Serius zura!" Gintoki-Pria ubanan tadi- melebarkan kedua matanya dan dengan segera berjalan mendekati pria cantik yang bernama Zura itu.
"Zura zanai, Katsura-sensei da!" Zura mengeluarkan slogan andalannya demi memperbaiki namanya yang selalu salah.
"Persetan cuk! Woy, Siapa yang memberikan nih naskah lucknut!" seru Gintoki sambil melayangkan kertas tak berdosa itu di udara seraya memandang satu persatu manusia yang ada di sana.
Dan dengan serentak mereka semua menjawab, "Sadist no Ouji, Sensei!"
Gintoki menatap Sang pangeran Sadist dengan tampang kusut.
'Demi Dewa Jashin yang selalu dipuja oleh karakter anime tetangga, tak bisakah hidupku berjalan mulus satu hari saja.' batinnya mulai ikutan gila.
Gintoki berjalan mendekati Sougo dan berhenti tepat di depan pemuda shota-sadist itu.
"So-Sofa-Kun, Kau tau kalau nanti malam adalah hari pertunjukan kita kan? Kan? Kan?" ujar tepat di muka si Sadist.
Sougo memundurkan sedikit kepalanya guna menghindari hal-hal yang tak diinginkan sekaligus melindungi wajah gantengnya dari cipratan hujan lokal Sang Sensei.
Dengan nada datar khasnya, pemuda kawai dengan tingkah yang bikin kowai itu menjawab, "Sougo desu, sensei. Bukan salahku juga sensei. aku hanya membawa naskah yang di berikan oleh otose-Kouchou, Sensei." Pemuda itu menunjuk ke belakang, ke gedung utama tempat dimana ruang Kepala Sekolah berada.
Mendengar jawaban datar dari pemuda imut yang sialannya adalah pacar dari anak angkatnya, Gintoki meremas kertas tak berdosa itu seraya berteriak, "Ano, Kuso Baba yarou!"
Pria tampan nan badass itu merutuki titah Otose yang menyuruhnya menjadi penanggung jawab drama ini bersama Katsura.
Dan itu lah sedikit gambaran bagaimana mereka melewati latihan dadakan mereka di pagi yang cerah dengan cuaca dingin di akhir musim Gugur yang indah ini.
-0-
-Kabukicho, 19.00-
Kamui berjalan memasuki gedung Audiotorium tempat adiknya akan melakukan pertunjukan drama dengan tampang kusut. Di samping pemuda itu turut serta seorang perempuan bersurai pasir dengan iris crimson yang menawan. Mereka berdua nampak kompak. Sang perempuan mengenakan dress selutut berwarna maroon dengan legging hitam yang menutup kaki jenjangnya sementara sang pemuda mengenakan kemeja dengan warna senada dengan jeans berwarna sama juga.
"Wajahmu jelek sekali, Bakamui." Kata gadis itu seraya mengamati wajah Kamui.
"Diamlah, Sadist Onna. Moodku sedang jelek saat ini. Awas saja kalau saudara kembar sadist-mu itu berani melakukan sesuatu yang iya iya terhadap adikku." Geramnya seraya meremukan poster tak berdosa yang ada di genggaman tangannya.
"Dasar Siscon!" cibir Souko-Gadis itu- serasa membaca poster Drama yang ada di tangannya.
"Vermillion Princess and Sadistic prince, kah? Aku tak sabar melihat mereka." Gumannya dengan senyum manis terpatri di wajahnya.
Mereka berdua akhirnya memilih tempat di barisan depan tepat di sebelah Kiri kedua orang tua Kamui dan Kagura yang sudah duluan datang. Tampang ayah dan anak itu tak jauh berbeda. Pria yang tak memiliki rambut itu tengah meremukan poster tak berdosa yang ada di tangannya.
"Kalian berdua berlebihan." Suara lembut namun tegas dari wanita bersurai vermillion yang duduk di sebelah pria botak itu mengalihkan atensi dua manusia itu.
"Tapi, Haha-ue/Kouka!" ayah dan anak itu protes secara bersamaan.
"benar, Kouka ba-san. Bakamui memang lebay." Timpal Souko yang di balas dengan deathglare berhiaskan senyuman manis dari kamui.
"Apa yang kau katakan, Sadist Onna." Ucapnya dengan nada dingin.
"Aku be-,"
"Are, Kalian sudah sampai duluan ternyata." Potong suara manis yang berasal dari gadis bersurai senada Souko.
"Onee-chan! Syukurlah kau sudah sampai. Ayo, duduk sini Mitsu-Nee." Souko berujar riang ketika melihat kakak kesayangannya juga telah tiba di Audiotorium di ikuti oleh Hijikata Toshirou, di belakangnya.
Mitsuba mengambil tempat di sebelah Souko dengan Hijikata di sampingnya. Sebelum mereka duduk, kedua orang tersebut memberikan salam sapa kepada Kamui dan kedua orang tuanya.
Bertepatan dengan kehadiran kedua orang tadi sebuah suara yang ntah berasal dari mana memenuhi ruangan tersebut.
"Tes ... tes ... Soundcheck, Ok." Bunyi suara tersebut membuat para pengunjung di sana hening dan atensi mereka terfokus ke panggung.
Setelah suara tersebut, mendadak lampu ruangan itu mati dan tirai besar panggung tersebut terbuka, menampilkan sosok Gintoki dengan setelan jas senada dengan rambutnya tengah berdiri di sana dengan sorotan cahaya.
"Selamat datang para penonton sekalian. Terima kasih karena kalian telah hadir di sini untuk menyaksikan Drama persembahan SMA Gintama dalam rangka festival akhir musim gugur ini. Sekarang marilah kita saksikan bersama drama 'Vermillion Princess and Sadistic prince' persembahan dari kami untuk anda semua." Gintoki membacakan kata sambutan yang di akhiri dengan tepuk tangan para penonton dan tirai yang kembali tertutup.
"Ehm, Dahulu Kala, di Sebuah desa kecil di Kerajaan Kabukicho hiduplah seorang gadis bersurai unik yang bernama Kaguya. Kaguya merupakan putri bangsawan terkenal di sana. Dia hidup bersama ayahnya sebab, ibunya sudah lama meninggal. Kaguya merupakan gadis manis nan enerjik, dengan sifat penyayang dan err, sedikit tsundere."
Tirai panggung tersebut kembali terbuka dan tengah menyorot tubuh mungil Kagura yang di balut dress panjang berwarna merah muda berlatarkan sebuah rumah megah dengan hiasan seperti taman kecil. Kagura terlihat tengah menari dengan gerak memutar dan senyum ceria di wajahnya.
"Papi ... Papi ... Lihat, ada seekor kelinci manis sekali." Serunya menyeret sosok Shinpachi yang tengah mengenakan setelan baju ala bangsawan zaman dulu.
Kagura mengelus bagian rambut afro dari Saito Simaru yang tengah berkostum ala kelinci raksasa.
Krekk
Bunyi pergesekan antar ruas tulang tangan terdengar dari arah bangku penonton. Walaupun samar, hal itu mampu membuat sang kelinci mengeluarkan keringat dingin.
'cepatlah adegan ini berakhir.' batinnya.
"Papi lihat, lucukan?" kagura tersenyum cerah.
"Iya anakku, kelinci itu lucu sekali." Shinpachi berakting layaknya seorang ayah yang melihat putrinya baru beranjak dewasa dengan wajah sendu yang di buat-buat.
"Ada Apa Papi? Papi terlihat sedih." Tanya Kagura dengan ekspresi menyendu.
"Ah, tidak anakku. Papi hanya sedang berpikir. Tapi, Papi hanya takut kau tak akan menyetujuinya nanti" Shinpachi memasang wajah sok sedihnya.
"Katakan saja Papi." Kagura berujar seraya menggenggam kedua tangan shinpachi.
Krekk
Dan bunyi yang sama kembali terdengar tetapi kali ini dari balik panggung.
Shinpachi meneguk ludahnya.
"Papi hanya ingin punya Istri lagi." Ucapnya dengan suara seperti berbisik tetapi masih mampu di dengar oleh para penonton.
Kagura membulatkan kedua matanya dengan suara sedih dia berkata, "Tak apa Papi. Asal papi Bahagia, Kaguya juga bahagia." Kagura kini memandang Shinpachi dengan senyuman sendu. Membuat para penonton disana ikut terhanyut dalam aktingnya dan bersamaan dengan itu tirai kembali tertutup.
.
.
"Seminggu kemudian Papi Kaguya menikah dengan salah satu Janda desa tersebut. Pada awalnya sang Ibu tiri berlaku baik. Tetapi, seminggu kemudian, Papi Kaguya meninggal karena keracunan jamur beracun yang dia temukan di pinggir hutan dan kini Kaguya tinggal bersama ibu tirinya yang Jahat. Tanpa siapa pun tau, ibu tiri Kaguya adalah salah satu penyihir."
Tirai panggung kembali terbuka. Kini latarnya telah berubah menjadi sebuah ruangan besar dengan seekor Pandemonium tergantung di tengahnya. Di ruangan tersebut, Nobume tengah berdiri berhadapan dengan sang pandemonium dan menghadap ke arah penonton seraya berucap.
"Wahai, Pandemonium, katakan padaku siapa gadis tercantik di Negeri ini!" titahnya dengan suara datar tanpa intonasi yang khas Nobume sekali. Gadis manis bersurai biru tersebut tengah mengenakan dress gothic ala ratu penyihir di fandom cartoon tetangga.
"Gadis tercantik di Negeri ini adalah Kaguya-Sama." jawab pandemoniun.
"Tidak mungkin! Kau pasti berbohong! Anak bau kencur itu tidak mungkin mengalahkan kecantikanku!" serunya lagi dengan nada datar khasnya. Nobume sedikit mendesah lelah seraya mengutuk Sang Kepala Sekolah yang menyuruhnya memerankan karakter antagonis ini.
Di saat gadis itu mengutuk Sang Kouchou, tanpa sengaja matanya bertemu pandang dengan manik milik tunangan kesayangannya, Sasaki Isaburo, dan berkat bisikan dari sosok itu ntah kenapa Nobume yang semula nampak tak berminat menjadi semangat.
"Jawab Aku wahai, Pandemonium. Apa lebihnya gadis itu dari pada diriku?" kini Nobume mengeluarkan suara mengintimidasi yang sangat jarang dia lakukan.
"Nobume-Sama tadi mengatakan bahwa, siapa gadis paling cantik di negeri ini. Berhubung anda adalah janda maka, anda tak pantas di sebut gadis lagi Nyonya." Jawab Pandemonium itu dengan entengnya dan di hadiahi sebuah tamparan maut dari Nobume. Sang Pandemonium pun tumbang diiringi dengan suara pekikan histeris Shinpachi di balik panggung.
Para penonton memasang wajah poker face mendengar alasan absurd tapi benar dari sang Pandemonium.
"Pengawal! Cepat kemari!" teriak nobume.
Lalu, datanglah Harada dengan tampilan pengawal kerajaan menghampiri Nobume.
"Ada apa, Nyonya?" tanya Harada dengan pose bak pengawal yang mendengarkan ceramah tuannya.
"Cepat kau bawa Kaguya ke tengah hutan dan kau bunuh dia!" titah Nobume dengan seringai sadist yang memang murni dari wajahnya.
Setelah itu layar kembali tertutup dan kembali terbuka dengan latar hutan beserta Kagura dan Harada yang berada di tengah panggung.
"Pengawal-San, kenapa kau membawaku ke tempat ini?" Kagura memasang wajah heran nan imut yang membuat para penonton menjadi gemas dan Sougo yang melihatnya ingin menerkamnya. "Sayangnya ini bukan drama 'Little red Ridinghood and the Wolf'", batinnya.
"Kaguya-Sama, cepatlah pergi dari sini. Nyonya besar ingin membunuh anda. Cepatlah Nona!" seru Harada seraya mendorong tubuh Kagura masuk ke tumpukan pohon-pohon yang berperan sebagai hutan.
Dan tirai kembali tertutup.
"Di tengah ketakutannya Kaguya akhirnya berlari menjauh masuk ketengah hutan. Dia berlari ... lari ... lari dan lari hingga menemukan sebuah gubuk reyot tak layak huni di tengah hutan tersebut. Dengan keadaan putus asa, Kaguya memilih tinggal di sana dengan memperbaiki sedikit kerusakan gubuk tak berpenghuni tersebut. Kaguya hidup bahagia di tengah hutan hingga suatu hari dia bertemu dengan pengelana muda."
Tirai kembali terbuka dan menampilkan sosok Sougo yang tengah menunggai kuda yang di perankan oleh Yamazaki. Yamazaki sendiri tengah menangis meratapi nasibnya saat melihat tama yang duduk di sebelah Tsukuyo. Harga dirinya sebagai cowok ganteng kabur meninggalkan dirinya yang merana.
"Ah, aku lelah sekali. Sebaiknya aku istirahat di gubuk jelek ini." Sougo berujar dengan wajah dan nada datar seraya turun dari punggung Yamazaki dan berjalan menuju gubuk reyot tersebut.
Sougo membuka pintu gubuk tersebut tanpa permisi dan kini layar tertutup dan dengan cepat kembali terbuka menampilkan suasana ala gubuk tua. Di dalam gubuk tersebut Kagura tengah berakting pura-pura tidur di atas dipan.
Sougo berjalan ke arah Kagura dan memasang wajah lembut ketika tangan kanannya memainkan helaian surai vermillion milik Kagura.
"Cantik." Gumannya yang ntah itu sesuai skenario atau tidak karena jujur saja Sougo baru membaca naskahnya saat dia akan tampil tadi.
Merasa ada yang menyentuhnya, Kagura berakting seperti orang kaget dan bergerak duduk dari posisi tidurnya.
"Siapa kau?" tanyanya.
"Perkenalkan namaku adalah Souji dan kau siapa namamu?" Sougo bertanya seraya mengecup surai vermillion kagura. Hal itu membuat wajah Kagura memerah dan kedua orang di bangku penonton jadi naik darah serta diiringin jeritan 'Kyaa' dari fans mereka.
"Ka-Kaguya." Kagura tergagap sehingga melupakan dialog yang seharusnya.
"Nama yang cantik. Nah, cantik bagaimana jika kau menikah denganku dan hidup mewah daripada tinggal di gubuk seperti ini." Sougo mulai mendekatkan wajahnya ke Kagura, membuat gadis itu menganga karena yang di ucapkan Sougo tadi tidak tercantum di naskah.
"Apa yang kau katakan, Sadist. Itu tak ada di naskah, baka." Bisik Kagura.
"Ayolah, China. Improvisasi saja. Jujurnya aku lupa dialogku." Balas Sougo dengan nada berbisik juga.
Kagura memandang horror wajah kekasih shotanya itu.
"Nah, Bagaimana Hime? Mau kah kau menikah denganku?" tanyanya lagi dengan wajah yang semakin mendekat. Satu fakta lagi, adegan yang Sougo ingat hanyalah adegan di mana dia akan mencium Kagura di ending tapi, dia tak tau sebelumnya dia harus apa.
Wajah Kagura semakin memerah saat Sougo semakin mendekat ke arahnya. Tinggal beberapa senti lagi bibir mereka akan bertemu dengan diiringi suara seruan menggoda dari para penonton.
Aktivitas itu terhenti tak kala sebuah suara berteriak dari balik panggung.
"MATTE!" seru seorang pemuda dan dua pria dewasa di sampingnya. Ntah sejak kapan Kamui-pemuda tersebut- berserta Gintoki dan Kankou mengenakan pakaian seperti pengawal kerajaan dengan membawa pedang di tangan mereka.
Sougo menyeringai seraya menarik Kagura ke dalam pelukannya.
"Eh, Sambutan yang luar biasa dari keluarga si China ternyata. Baiklah aku akan menghadapi kalian." Ujarnya seraya menarik keluar pedangnya yang tersampir di pinggang kirinya.
Dan adegan selanjutnya adalah adegan laga pertarungan pedang-pedangan antara Sougo dengan Calon ipar dan mantunya.
Walaupun, satu lawan tiga dan Kagura ada dalam dekapannya, Sougo nampak bisa mengimbangi para pria beringas yang tak terima anak-adik mereka yang mereka kira masih polos ternodai. Ya, Kagura memang polos akan tetapi mereka tidak tau kalau gadis kesayangan mereka itu, bibirnya sudah ternodai oleh bibir seksi pangeran sadist berulang kali.
.
.
Harusnya tidak begini.
Ya, seharusnya ini semua tidak terjadi.
Gadis bersurai vermillion itu menatap ngeri serta prihatin terhadap dirinya sendiri. Kenapa dia harus berada di situasi absurd seperti ini? Mereka sedang bermain drama bukan? Harusnya ini menjadi drama lovey-dovey, bukannya acara pertarungan 'pedang-pedangan' antara trio absurd dan pangeran Sadist yang sedari tadi tetap memeluk pinggangnya erat. Dan juga apa-apaan dengan Backsound "Woaah," dari para penonton itu.
Ini drama fantasi-romantis bukan?
Tak ada yang bilang bahwa ini akan jadi drama action?
Dan, lagi kenapa para penonton malah ikut taruhan?
Oke, kesabaran gadis itu habis. Badannya turut sakit karena sedari tadi ikut terombang-ambing dalam pelukan Sougo.
Dengan kekesalan yang memuncak gadis itu berteriak, "WOY! KENAPA NIH DRAMA FANTASI-ROMANTIS JADI ACARA PEDANG-PEDANGAN DENGAN PEDANG KALIAN, SIALAN!"
Dan seketika bumi hening.
Keempat pria yang tengah ribut itu juga ikut terdiam. Bahkan, Katsura Kotaro yang menjadi narator pun ikut terdiam dan suara jangkrik pun tak terdengar.
Di tengah keheningan mereka, Nobume muncul membawa botol yang katanya adalah racun untuk drama mereka. Setelah membisikan sesuatu ke Kagura dan di balas anggukan gadis tersebut. Kagura meminum cairan dari botol tersebut dan mendadak perutnya mulas. Kagura memegangi perutnya dan membuat ke empat pria tersebut kaget terutama Sougo.
"China! Ada apa?" Sougo panik, di tahu gadisnya itu sedang tidak berakting.
"Apa yang kau berikan kepadanya, Mukuro?" tanya Gintoki.
"Gawat, aku salah membawa properti! Ini Yakult milik Takasugi yang sudah di fermentasi lagi." Jawab Nobume datar.
Mereka semua memandang Nobume tengan tampang Jawdrop bercampur sweatdrop.
Tanpa ba-bi-bu lagi, Sougo segera mengangkat tubuh Kagura ke depan dadanya, meloncat menuruni panggung dan berlari secepat yang ia bisa ke area parkir kendaraan, mengambil mobilnya lalu membawa gadisnya ke rumah sakit.
Aksi Sougo tadi membuat para penonton berdecak kagum dan masih ber-Jawdrop ria, serta meninggalkan ketika pria di depan panggung tersebut dengan ekspresi bodoh.
"Ehm." Suara Katsura kembali terdengar menggema dalam Audiotorium tersebut, membuat para penonton kembali ke alam sadar mereka.
"Ya, dan akhirnya Sang Pangeran yang tak di restui itu membawa kabur Sang Putri dan mereka berdua hidup bahagia selamanya. Medetashi ... Medetashi ..."
Dengan berakhirnya narasi dari Katsura tadi, tirai panggung kembali tertutup diiringi dengan suara tepuk tangan para penonton dengan bermacam ekspresi yang tak dapat di jelaskan dengan kata-kata.
"MEDETASHI TTE JYANEE DAROU!" teriak ketiga pria tadi di balik tirai.
Sungguh sebuah pertunjukan yang luar biasa absurd dan dengan sukses membuat Otose, Sang Kepala Sekolah, turut ikut jantungan.
-Fin-
sebelumnya Author ingin mengucapkan terima Kasih kepada
Sasha TsunDo-S yang selalu memberikan review ke Author di fic ini.
Makasih, Sasha-Chan ^^ reviewnya sangat membuat author semangat.
Author juga ingin mengucapkan terima kasih kepada:
firufiru, Natsuki Yani, Hanya orang, adejunizaf17, Hatsune Lizy, masih suka kamu,
Guest, Ellena Weasley, Tora , dan Keras kehidupan
yang telah memberikan reviesnya kepada Author di fic Author yang lain.
Terima Kasih Minna, Review kalian membuat Author senang.
dan juga terima kasih kepada semua yang sedah mem-fav, follow serta membaca fics karya Author.
Semoga kalian terhibur dengan karya Authornya^^
Kritik dan saran selalu Author terima dengan senang hati baik via kolom review maupun PM ^^
