"PEMBUNUHNYA bukan hanya satu orang," gumam Nara dengan mata yang tertuju pada satu titik serta otaknya yang bermain mengikuti semua petunjuk yang tidak ia sadarinya. Lalu perlahan bangkit dan menjauh dari kedua laki-laki dihadapannya.


Langkah Kaki di Koridor Sekolah


"Apa maksudmu?" heran Himchan.

"Bukankah ini sudah selesai," balas Daehyun.

"Tidak," pungkas Nara. "Ini belum selesai. Masih ada satu pembunuh yang sedang berkeliaran sekarang."

Kedua laki-laki itu hanya mematung tak membalas apapun.

"Pembunuh Namjoo berbeda dengan pembunuh Junhong," paparnya ringan.

Ini semakin membuat kedua lawan bicaranya terheran-heran. Sungguh ini adalah malam yang rumit bagi seorang Choi Nara. Ia harus memecahkan misteri ini disaat ia sebenarnya harus berduka atas kematian adik sematawayangnya dan juga sahabatnya Kim Namjoo.

"Aku melihat pelaku yang membunuh Junhong memegang pisau dengan tangan kanannya. Sedangkan, aku menemukan luka sayatan di leher Namjoo yang tersayat dari leher kanan ke kiri. Itu berarti pelakunya pengguna tangan kiri."

Keduanya kini melemparkan tatapan tajam pada Kim Himchan

"Ya! Aku baru datang dan badanku basah terkena hujan mana mungkin aku menjadi tersangkanya. Lagi pula aku penguna tangan kanan. Yang jadi permasalahannya adalah siapa yang membunuh Namjoo, kan?" seru Himchan yang terpojokkan oleh tuduhan secara tak langsung.

"Ya! Mungkin saja pembunuhnya ambidexterity," tutur Himchan cepat. "Yongguk bukan seorang ambidex..," suara Himchan terhenti seketika. Dan sedetik kemudian Himchan tertawa tiba-tiba, "Ya! Nara-ya, apa kau sudah menyadarinya?"

Nara langsung bisa menangkap maksud dari setiap kata-kata yang keluar dari mulut Kim Himchan. Perlahan membukan rahangnya untuk mengatakan sesuatu. "Oppa,.. aku.. mencurigaimu," tuduh Nara pada kekasihnya.

Jung Daehyun sebenarnya pengguna tangan kanan, tapi tangan kirinya lebih kuat dari tangan kanannya. Sehingga untuk beberapa kesempatan laki-laki itu sangat mengandalkan tangan kirinya. Ia menundukan kepalanya sambil terdiam sejenak sebelum dia akhirnya tersenyum menyeringai yang menakutkan.

"Kau benar-benar pintar, Chagi," kata Daehyun. "Soojung tidak salah memilihmu sebagai wakilnya karena kau memang berbakat dalam bidang ini. Sepertinya kau mewarisi bakat ayahmu."

"Cih! Siaal! Haah~ Yaa Tuhan kenapa aku harus terjebak dengan pembunuh berdarah dingin seperti dia," keluh Himchan.

"Sebaiknya kalian cepatlah melarikan diri karena permainan sesungguhnya akan segera di mulai," ujar Jung Daehyun.

Nara ingin menangis tapi ia sudah tidak bisa menangis lagi. Kelenjar air matanya kini mengalami kekeringan. Pikirannya benar-benar kacau. Kekasihnya adalah pembunuh Kim Namjoo. Dan pembunuh itu selama ini berada di sisinya. Bahkan dia membantu membunuh Yongguk yang menjadi tersangka pertama. Kenapa? Kenapa Jung Daehyun harus melakukan itu semua? Apa sebenarnya motif pembunuhan oleh kedua pria itu? Kenapa kedua pembunuh harus saling membunuh? Apa yang mereka cari? Apa yang mereka cari berbeda? Dia terus terheran-heran dengan semua alibi yang di tangkapnya.

"Ya! Daehyun-ah, wae? Kenapa kau lakukan ini semua? Apa yang sebenarnya ada dalam pikiranmu?" kesal Himchan seraya mencengkram seragam Daehyun.

Himchan benar-benar geram terlebih lagi ketika Jung Daehyun tidak menjawab pertanyaannya barusan dan malah hanya menyeringai. Tangan kanan Himchan sudah terkepal dan terangkat setinggi wajah juniornya itu. Daehyun hanya membalas tatapan amarah seniornya dengan sebuah tatapan tajam yang menusuk.

"Hyung, pergilah selamatkan kekasihku sebisamu! Kajja! Kita bermain petak umpet sekarang," kata Daehyun tenang.

"Aargh~ Yaa Tuhaaaaan! Apa yang sebenarnya terjadi?!" kesal Kim Himchan pada kenyataannya seraya melepaskan cengkramannya dari seragam Daehyun.

Ketidakpercayaan terus meraung di pikiran Nara dan Himchan tapi itulah kenyataannya. Jadi sekarang aku harus menjauhi orang yang aku percayai untuk menjaga cintaku karna dia seorang pembunuh dan malah berpaling pada senior playboy yang tidak pernah benar-benar serius soal cinta? Itulah yang ada dipikiran Choi Nara saat Himchan mulai menarik tangannya untuk mengajaknya menyelamatkan diri dengan sebisa mungkin menjauh dari Jung Daehyun.

Tubuh Nara terhuyung kesamping larinya pun terbatah-batah karena matanya masih belum terlepas dari sosok laki-laki yang berdiri tak bergerak dari tempatnya, Jung Daehyun. Laki-laki itu hanya menatap lurus kedepan dan akhirnya dia menoleh kesamping untuk melihat kekasihnya itu pergi. Keempat bola mata itu saling bertemu, saling menatap tajam satu sama lain. Waktu di rasakan Nara berjalan seakan melambat bagaikan sebuah slow motion dalam sebuah film. Dinginnya malam tak bisa menandingi dinginnya tatapan Daehyun. Pemuda yang dikenalnya memang dingin, namun tak sedingin saat ini.

Akhirnya Daehyun bergerak kearah yang berlawanan dengan arah Nara dan Himchan. Dan seketika rasa takut dalam diri Choi Nara menyeruak keluar. Ia tidak ingin mati. Ia masih ingin melihat ibu dan ayahnya. Memalingkan pandangannya dan berlari sekuat tenaga bersama Himchan. Menyeiramakan langkahnya dengan seniornya. Yang hanya dipikirannya kali ini berusaha untuk keluar dari gedung sekolah dan menyelamatkan diri.

Mereka sudah berlari sejauh mungkin serta mencari pintu keluar yang mungkin terbuka. Entah berapa menit itu semua berlalu. Keduanya sudah mulai kualahan sendiri.

Menyadari wajah dan bibir pucat Nara Himchan melepaskan coat yang dikenakannya. "Pakailah jangan membuat tubuh kecilmu itu sakit! Sedikit basah memang, tapi lebih baik seperti ini daripada hanya menggunakan kemaja saja," perintah Himchan sambil memasangkan coat coklatnya pada Nara.

Himchan berusaha membuka semua pintu yang ada di sekitar mereka tapi nihil. Daehyun,.. Ah sebaiknya jangan menyebut namanya karena ini masih sulit di terima oleh Nara dan Himchan. Pelakunya benar-benar tidak ingin kelinci-kelincinya dapat dengan mudah meloloskan diri. Semua pintu di gedung sekolah sukses di handle olehnya.

"Ah, aku punya ide kita pancing saja alarm kebakaran yang ada di dapur kantin dengan api dengan begitu otomatis kita bisa memanggil pasukan pemadam kebakaran kemari dan mereka pasti bisa menolong kita," ujar Himchan lirih

Ide Himchan membuat bola mata Nara membulat sempurna, "Ide bagus. Ayo!"

Keduanya berlari menuju kantin, tapi setiap ada pintu ataupun belokan mereka memperlambat laju kaki mereka menoleh kesana kemari untuk memastikan keadaan masih aman. Kesunyian gedung sekolah teramaikan oleh suara langkah kaki mereka sungguh terdengar jelas. Lorong-lorong sekolah benar-benar menakutkan bagi mereka berdua.


Di perpustakaan seorang murid laki-laki malah tertidur pulas. Pemuda imut bersurai hitam itu mulai membuka sebelah matanya dan kemudian membuka matanya yang sebelah lagi. Ia meregangkan tubuhnya tanpa mengangkat dagunya dari atas meja.

"Aku ketiduran lagi. Aku terlalu bersemangat belajar."

Lalu Youngjae memutuskan untuk tidur lagi. Ia hanya menolehkan kepala ke arah yang berlawanan dari sebelumnya. Hah~ apa ini yang dilakukan oleh orang pintar tapi bodoh saat sedang mengantuk. Yoo Youngjae nama itulah yang tertulis di pin namanya.


"Itu dia," pekik Nara lirih

"Kita butuh sesuatu untuk memanjat."

"Akan aku ambilkan kursi dari kantin."

"Jamkkan!"

"Wae?"

"Hati-hati!"

Nara hanya tersenyum penuh pikiran. Lalu, pergi untuk mengambil sebuah kursi di kantin dan kembali dengan cepat. Himchan menerima kursi yang di sodorkan kepadanya dan meletakkannya di bawah alarm tepat. Tiba-tiba lampu mati seketika. Mereka mulai melihat kesekeliling. Mereka menggidik ketakutan. Deruan napas tak karuan menyeruak dari hidung masing-masing. Dengan buru-buru Himchan merogoh saku celananya untuk mengambil sesuatu.

"Aku rasa aku membawa pemantik di sekitar sini."

Mendengar itu Nara juga ikut membantu mencarikannya di dalam saku coat Himchan yang dikenakannya. Di saat-saat seperti ini pemikiran orang terkadang akan bisa singkron meski salah satu tak perlu mengatakan dengan jelas maksudnya. Dan benar pemantik itu ada di saku coat Himchan. Karena aksi pencariannya barusan Nara merasa melihat sesuatu yang terjatuh tak jauh darinya, tapi yang lebih penting sekarang adalah memberikan pemantik itu. Setelah memberikan pemantik itu ia baru menengok apa yang terjatuh tadi. Nara berjongkok dan mulai meraba lantai dingin dapur karena matanya masih belum bisa menyesuaikan dengan kegelapan. Ketemu. Gadis itu memungut benda berwarna hitam itu dari lantai. Hitam. Mungkin karena benda itu sangat gelap di ruangan yang gelap. Perlahan matanya mulai bisa menyesuaikan dengan kegelapan. Anting. Ya, benda itu adalah anting. Tapi yang jadi masalahnya adalah anting itu terlihat sangat familiar dimatanya. Pikirannya kini bermain kembali. Otaknya mulai menguras semua memorinya.

"Noona, aku pergi dulu."

"Ya! Noona, Andwe!"

"Noona, mian."

"Noona, nan museowo."

"Junhong-ah?" gumam Nara.

Tiba-tiba dia teringat dengan adiknya. Anting itu memang mirip sekali dengan anting yang sering dipakai Choi Junghong. Lalu kenapa anting itu bisa ada disana? Ah tidak lebih tepatnya kenapa anting itu bisa menempel di coat Himchan Sunbae-nim? Dia berpikir keras. Kepalanya sedikit menengadah ke arah sepatu Himchan. Sepatunya bersih. Ia teringat kata-kata Himchan.

"Ya! Aku baru datang dan badanku basah terkena hujan mana mungkin aku menjadi tersangkanya…"

Nara menggidik ketakutan matanya terbuka lebar-lebar. Gadis itu masih belum beranjak dari posisi jongkoknya. Dia kini benar-benar merasa dirinya begitu bodoh sampai-sampai dia harus terjebak dan tidak bisa memihak siapa yang benar.

"Ah susah sekali ini masih terlalu jauh," keluh Himchan.

"Sunbae-nim?"

Himchan hanya berdehem ringan.

"Kenapa lengan kanan coatmu tidak basah?"

Himchan hanya berdehem tak menggubris.

"Bagaimana bisa kau berlari dibawah hujan dengan menyisakan bagian kering dibajumu?"

Himchan terdiam. Aksinya memancing alarm kebakaran terhenti. Pemuda itu kini mencerna maksud dari pertanyaan juniornya yang kritis.

"Apa kau benar-benar datang dari luar atau.."

"Atau sebenarnya tidak pernah keluar meninggalkan gedung ini."

To Be Continued..


KET:

nan museowo = aku takut


maaf ya baru aku update~ sebenernya aku punya masalah sama ceritanya, setelah aku baca ulang eh malah tangan keasikan nambah-nambahin cerita alhasil FF agak berubah dari cerita sebelumnya. itulah kenapa pcyismine-ssi tanya padahal nih FF udah nyampek 9 chapter, emang udah aku update sampek 9 chapter DULUNYA tapi aku hapus lagi karna ada perubahan disana-sini, bagi yang nunggu2 banget sampek aku PHPin bertahun2 dari 2014 dan sekarang udah taun 2017 (dari tahunnya udah 3 tahun tapi kalo dari bulannya 2 tahun lebih sekian) maaf ya reader-ssi~~~~ FF nya selesai kok cuma tingga nunggu aku update satu persatu ajin hehehe, mohon di review yaw readerku yang aku sayang hohoho