:: CHAPTER 3 ::
"KYAAAA….!!!"
Byakuya berlari ke arah sumber suara. Jantungnya berdegup sangat kencang, ia sangat takut akan terjadi sesuatu pada Rukia. Ia sangat takut akan kehilangannya.
"Rukia…Pergilah. Kau mencintai Kurosaki, dan dia juga mencintaimu. Tak sepantasnya aku menjadi tembok kisah cinta kalian."
Kata-kata itu terngiang di kepala Byakuya, membuatnya menyesal dengan apa yang ia katakan pada Rukia. Sesungguhnya, ia hanya tak ingin Rukia menderita jika bersamanya, bukan karena ia membenci Rukia. Di sisi lain, ia tak ingin berpisah dengan Rukia, namun ia selalu menyangkal perasaannya sendiri. Sekarang, ia benar-benar menyesal atas kata-katanya tadi. Langkah kakinya semakin cepat, tak sabaran, iapun langsung menshunpo ke tempat Rukia tadi.
Dilihatnya di sana, Rukia terduduk sambil mengusap-usap keningnya yang mengeluarkan sedikit darah. Wajahnya tampak kesakitan. Byakuya berjalan mendekatinya, nafasnya masih terengah-engah karena berlari barusan. "Rukia…" Panggilnya. Rukia langsung menatap kehadiran Byakuya dengan kagetnya.
"Ah! Nii-sama!" Rukia pun berdiri, darah dari kepalanya menetes. "Maafkan aku! Aku sudah membuat keributan tengah malam begini…" Katanya sambil membungkuk. Byakuya berjalan mendekatinya. Mengangkat wajahnya dan mengusap darah yang menetes dari keningnya. Rukia menepis tangan Byakuya yang mengusap keningnya.
"Ah, ini nii-sama, tadi aku memanjat pohon dan aku terjatuh, lalu…AH!"
Rukia merasakan sepasang tangan yang hangat mendekap dirinya. Ia mendengar detak jantung yang tidak beraturan. Nafas panas yang terengah-engah menggelitik kupingnya. "Nii-sama!" Rukia berusaha melepaskan dirinya dari tangan Byakuya. Namun Byakuya malah memeluknya lebih erat lagi, membuat sekujur tubuh Rukia menempel pada Byakuya.
"Jangan pergi…" Bisik Byakuya.
Rukia yang mendengar permintaan Byakuya barusan, menjadi bingung. Belum lama, ia menyuruh Rukia pergi, sekarang ia malah memintanya untuk tetap berada di sini. Di sisi lain di hatinya, ia merasa sangat bahagia karena Byakuya menginginkannya tetap di sini dan memeluknya.
Suara burung-burung yang berkicau, sinar mentari pagi yang hangat, dan angin yang berhembus sepoi-sepoi, membelai lembut wajah mungil Rukia yang masih terlelap tidur. Matanya mulai membuka perlahan dan ia menguap sedikit. Ia memberdirikan tubuhnya dan berjalan menuju kamar mandi. Ia melepaskan yukata tidurnya dan mencelupkan dirinya ke dalam bak mandi seraya membasuh wajah dan seluruh tubuhnya.
"Mmm…Nyamannya…" Gurau Rukia dalam hati. Tiba-tiba wajahnya memerah. "Ah! Bodohnya aku semalam…!" Teriaknya. Ternyata, Rukia sedang mengingat kejadian semalam dengan kakanya.
"Jangan pergi…" Bisik Byakuya.
Rukia yang terlalu senang mendengar kata-kata itu akhirnya memeluk Byakuya dengan erat juga. "Tidak nii-sama…Aku tidak akan pergi…Kaulah satu-satunya keluarga yang ku miliki." Ujar Rukia sambil merilekskan kepalanya di dada bidang Byakuya.
Tiba-tiba…
"Byakuya-sama…Rukia-sama…?" Panggil seorang pelayan wanita yang TAK SENGAJA melihat adegan mesra mereka berdua. "Ah?!" Teriak si pelayan tersebut. Serentak, Byakuya dan Rukia melepaskan kedua tangan mereka dari tubuh yang mereka peluk tadi. Wajah Rukia benar-benar memerah.
"Ma…Maafkan saya…Su..Sudah mengganggu!" Kata pelayan itu sambil menundukkan kepala dan pergi begitu saja.
Wajah Rukia benar-benar merah karena sudah kepergok dan ia baru sadar kalau ia tadi MEMELUK ERAT kakaknya. Rukia yang tak mendengar respon apapun dari Byakuya sejak dipergoki tadi akhirnya melirik sedikit ke arah wajah Byakuya. Terlihatlah semburat merah di pipi Byakuya.
"Ehem!" Byakuya berdehem. "Rukia…Kembalilah ke kamarmu."
Rukia kemudian melihat Byakuya berjalan meninggalkannya. Rukia membuang nafas panjang dan kembali ke kamarnya dengan wajah yang ditekuk, untuk menyembunyikan merah di wajahnya yang tak mampu hilang.
Setelah selesai mandi, Rukia mengenakan hakama berwarna hitamnya dan lambang wakil kapten divisi 13 di tangan kirinya. Sejak 50 tahun yang lalu, Rukia telah di angkat menjadi wakil kapten divisinya, walaupun Ukitake-taichou harus berjuang mati-matian bernegosiasi dengan Byakuya dan pada akhirnya Rukia diizinkan dengan satu syarat, setiap misi yang di dapatkan oleh Rukia harus dilaporkan terlebih dahulu pada Byakuya dan mendapat persetujuan darinya.
Rukia keluar dari kamarnya dan menuju ruang makan seperti hari-hari normalnya, ia makan bersama Byakuya.
"Tunggu?! Berarti pagi ini aku bertemu nii-sama?!" Bisik Rukia pada dirinya sendiri. Tiba-tiba ada seorang pelayan wanita yang mendatanginya. "Rukia-sama, Byakuya-sama sudah menunggu anda di ruang makan. Harap anda cepat menemui beliau." Ujarnya sambil menundukkan kepalanya.
"Baiklah. Aku akan segera ke sana." Kata Rukia sambil tersenyum. Pelayan itupun berjalan mendampingi Rukia ke ruang makan. Terihatlah, wajah Rukia yang sedikit memerah dan bingung untuk menatap Byakuya nantinya. Apakah ia akan marah atau menjauhinya? Itulah yang paling Rukia takutkan.
Sesampainya di ruang makan, ia melihat sosok Byakuya yang memandangnya dengan pandangan…NORMAL??!! Tidak ada satupun gerak gerik yang menampakkan bahwa Byakuya marah ataupun ingin menjauhinya karena kejadian semalam. Rukia menggeret kursi dan mendudukinya. Seperti biasa, ia selalu duduk di depan Byakuya.
Para pelayan pun mengantarkan segelas teh hangat dan sup miso ke hadapan Byakuya dan Rukia. Rukia yang masih salah tingkah, hanya menatapi makanan tersebut. "Itadakimasu." Ucap Byakuya sambil menatap Rukia tajam. Rukia yang tersadar karena ditatap akhirnya berkata, "Ah!...Itadakimasu.". Merekapun memakan hidangan yang tersedia di meja.
"Rukia…" Panggil Byakuya.
DEG! Apa nii-sama akan memarahiku karena kejadian semalam? Uh…Bodohnya kau Rukia…Kenapa bisa-bisanya kau terlena oleh kehangatannya…? Gawaaat…Aku harus bagaimana?
"Kuchiki Rukia." Suara Byakuya semakin berat. Membuat Rukia semakin terpojok.
"Ah…Maafkan aku nii-sama. Aku tadi melamun. Ada apa?" Kata Rukia dengan gugupnya. Byakuya hanya memandangnya curiga. "Rukia pagi ini sangat berbeda…" Ujarnya dalam hati.
"Begini…Soal permintaan para tetua. Jika kau memang tidak bersedia, katakan saja. Aku yang akan urus semuanya." Kata Byakuya sambil memasukkan makanan ke dalam mulutnya. "Tapi kalau kau memang bersedia…ehm!" Byakuya melegakan tenggorokannya sedikit. "Menikah denganku, maka pernikahan akan dilaksanakan satu minggu lagi." Katanya dengan suara tenang tapi menggambarkan sedikit rasa gugup.
Rukia hanya terdiam mendengarkan perkataan Byakuya. Ia bingung harus menjawab apa. "Jawabanmu akan kami tunggu nanti malam." Kata Byakuya sambil meninggalkan meja makan. Rukia masih termenung di atas kursi. Apa yang harus ia jawab? Hatinya masih sangat mencintai Ichigo, namun di lain pihak, ia juga ingin bersama…Byakuya. Bukan karena rasa balas budi, namun karena…
Chariot330 : Selesai juga chapter 3. Mulai sekarang saya apdet ni cerita secepat yang saya bisa deh…Bagi yang minta chapternya di perpanjang…Gomen, saya memang membuat cerita kali ini yang bersifat santai, jadi nggak panjang-panjang banget, oleh karena itu, saya berjanji bakal apdet secepat yang saya bisa! Terimakasih atas semua review yang telah anda berikan. Ini balasan buat yang annonim :
Ariana Kuchiki :
Kenapa pendek sekali? *hiksu
Kan diriku penasaran.
Bagaimana nasib otousan-ku sang orang ganteng itu?? *dikasi death glare ama byaku-sama
Tapi rukia-nee lebi cocok ama ichi-nii!
huaa!
Penasaran!
Cepetan!
Apdee~t!
Ditunggu~!
*treak-treak pake toa
Chariot330 : *tutup kuping* Udah di apdet Ariana-san! Hnn…Memang Rukia lebih cocok ma Ichigo tapi di cerita ini saya membuat pairing yang baru. Biar fandom bleach Indonesia ini lebih berwarna. (Apaan sih? Gag nyambung). Nggak sih, sebenarnya di mata saya, kayaknya kalo Rukia di pair-kan sama Byakuya tuh lucu banget. Gara-gara Byakuya overprotective, akhirnya kecantol deh ma Rukia.
Tolong Review-nya!! Boleh kritik yang pedes banget, asal nggak ngeflame ya!
Tekan tombol ijo-ijo di bawah ini!
