No Tittle

.

.

.

Chap 04

.

.

.

^_^ Happy Reading ^_^

.

.

.

"Nunna! Apa kau tahu ada dua hal yang paling menyakitkan dari sebuah perasaan bernama cinta?"

"Apa?"

"Pertama, bila kita mencintai seseorang namun orang itu tak mencintai kita."

"Yang kedua?"

"Bila kita mencintai seseorang namun kita tak berani mengatakannya. Kau mungkin bisa menyimpan semua perasaan itu dan mengatakan dengan tegas pada semua orang kalau kau tak memiliki perasaan apapun pada Chanyeol hyung kecuali sayangmu sebagai sahabat. Tapi tahukah kau nunna, semakin keras kau menyangkalnya, semakin besar rasa itu tumbuh di hatimu."

Baekhyun kembali menangis. Mengingat percakapannya di dini hari saat Sehun mengantarnya ke bandara satu bulan yang lalu, membuat bulir-bulir airmatanya jatuh membasahi kedua pipi putihnya.

Tak ada yang salah dari apa yang di katakan Sehun padanya. Dua hal itu benar dan sesuai dengan kenyataan yang di jalaninya. Sakit yang dia rasakan ternyata tak main-main saat dia menyadari perasaan cintanya terhadap Chanyeol telah tumbuh dengan sangat besar.

Jika mengingat kejadian satu bulan yang lalu, Baekhyun sempat akan berbalik dan berlari keluar dari bandara, berlari kembali dalam pelukan Chanyeol. Namun, akal sehatnya tak mengijinkannya melakukan hal itu. Baekhyun sadar posisinya saat itu, dia sudah berjanji pada Jongin untuk pergi dari Chanyeol, dan dia memegang janji itu. Dia pergi meninggalkan tempat ternyaman sepanjang perjalanan hidupnya. Cinta, sayang, kebahagiaan, semua dia tinggal di negara bernama Korea Selatan.

Baekhyun semakin merapatkan pelukannya pada kedua lututnya, tangisnya tak terbendung lagi. Sehun benar, dia tak baik-baik saja. Satu bulan terakhir, meski di kelilingi keluarga yang mencintai dan menyayanginya, hatinya tetap terasa hampa. Dia merasa asing dengan semua yang ada di sekitarnya saat ini. Tak ada Chanyeol, yang setiap dia merengek, pria itu pasti mengabulkan permintaannya. Tak ada Sehun yang kapan pun dia butuh teman, pria itu akan ada untuknya. Tak ada Jongdae, yang meski sedih karena penolakan, namun suasana hatinya akan berubah setiap kali mereka masuk ke ruang karaoke. Tak ada Jongin yang walau kadang dingin tapi dia tahu pria itu juga menyayanginya. Tak ada Kyungsoo...

Grep

Baekhyun tak perlu menoleh untuk tahu siapa yang mendekap dirinya dari belakang. Satu bulan ini, yang sering melakukan hal itu adalah kakak perempuannya. Gadis yang usianya terpaut dua tahun darinya itu akan memeluknya sepanjang dia tergugu dalam tangisnya, lalu Luhan juga akan menghiburnya. Meski tak bisa mengurangi beban yang di rasakannya, setidaknya pelukan Luhan mampu menghangatkan hatinya yang mulai membeku.

"Kalau seperti ini terus, kau bisa sakit Baek-ah." Lirih Luhan.

Baekhyun benar-benar berantakan. Dia lebih banyak menghabiskan waktunya untuk melamun, menangis dan tidur. Bahkan untuk makan pun, kadang Luhan atau ibunya yang menyuapinya. Dia, untuk saat ini tak ingin melakukan apapun kecuali menangis.

"Aku tahu, ada beban berat di hatimu. Berbagilah dengan kami Baek-ah, kami keluargamu, orang yang tulus menyayangimu. Kau tahu... melihatmu seperti ini, kami berpikir mungkin memang lebih baik kau tetap tinggal di Korea."

Baekhyun terisak semakin keras.

"Kami sangat bahagia saat kau memberitahu kami akan tinggal dengan kami disini, tapi melihatmu seperti ini, yang sejak kedatanganmu sama sekali tak ada raut bahagia di wajahmu, kami berpikir, betapa kami sangat egois karena pernah memaksamu tinggal dengan kami disini. Baekkie... sebagai keluarga, tak ada yang lebih membuat kami bahagia selain melihatmu bahagia sayang."

Baekhyun memutar tubuhnya, menatap sang kakak dengan mata basahnya.

Luhan mencoba tersenyum, lalu dengan lembut dia mengusap lelehan airmata yang membasahi kedua pipi adik kesayangannya itu.

"Aku saudaramu sayang, berbagilah denganku."

Maka dengan diiringi isakan, Baekhyun menceritakan semua yang dialaminya selama beberapa bulan terakhir ini. Mulai dari ultimatum orang tua mereka, yang menyatakan akan menjodohkannya dengan taipan dari China kalau dia tak kunjung memperkenalkan kekasihnya, lalu paksaan dari orang tua mereka yang ingin dia tinggal bersama di Amerika, kemudian kenekadannya yang meminta Chanyeol berpura-pura menjadi kekasihnya dan pada akhirnya pernikahan itu terjadi.

Masih dengan isakannya, Baekhyun bercerita betapa dia merasakan beban berat itu setelah menikah dengan Chanyeol. Betapa dia merasa sangat bersalah pada Kyungsoo karena telah merenggut kebahagiaan gadis itu. Lalu...

"Yang tidak kusadari, aku mencintainya eonni, aku sangat mencintainya hingga... hiks... hiks... rasanya aku tak bisa bernafas dengan benar setelah aku meninggalkannya. Aku..."

Luhan menarik tubuh kecil Baekhyun, memeluknya dengan begitu erat. Airmatanya ikut luruh setelah mendengar semua itu.

Pada saat itulah, Hankyung dan Heechul yang sejak tadi menguping di balik pintu kamar Baekhyun yang sedikit terbuka, masuk ke dalam kamar itu dan ikut memeluk Baekhyun yang semakin keras menangis.

"Mianhae Baekhyunie, mianhae." Lirih Heechul yang hatinya tak kalah hancur dari Baekhyun.

Disadari atau tidak, duka yang dirasakan Baekhyun saat ini, semua berawal dari mereka yang terus memaksa Baekhyun meninggalkan Korea.

Baekhyun menangis semakin keras. Luhan dan Heechul semakin erat memeluk tubuh mungil itu.

"Seharusnya, dari awal aku mendengarkan kalian. Tinggal disini dengan kalian tanpa perlu melakukan sandiwara itu, seharusnya... hiks... hiks... hiks..."

Heechul yang memeluk Baekhyun dari belakang, tak kuasa membendung airmatanya, tangisnya tak kalah keras dari putrinya. Gadis kecilnya yang dulu sangat periang, yang murah senyum dan selalu jadi moodbooster di tengah keluarga mereka, saat ini tengah mengalami hal yang sungguh tak pernah dia bayangkan sebelumnya.

Meski sempat curiga dengan hubungan Chanyeol dan Baekhyun di awal, namun Heechul mengabaikan apa yang di rasakannya itu. Dia yakin Baekhyun bahagia dengan teman yang diakuinya sebagai kekasihnya itu, tapi kenyataannya...

"Eomma meminta maaf untuk semua yang kau alami ini sayang, eomma...hiks... hiks..."

"Bukan salah eomma. Semua yang terjadi salahku eomma, semua tanggungjawabku."

Tak ada yang bisa Hankyung lakukan kecuali memeluk ketiga bidadari dalam hidupnya itu. Pria yang usianya sekitar lima puluh tahun itu turut larut dalam tangis ketiga wanitanya itu.

"Melihatmu seperti ini, appa merasa gagal menjadi seorang kepala keluarga Baekhyunie. Seharusnya appa bisa melindungimu, tapi kenyataannya appa justru semakin menjerumuskanmu dalam lubang ketidakbahagiaan. Maafkan appa sayang."

Baekhyun mendongak, menatap ayahnya dengan matanya basahnya. Dia kemudian menggenggam dengan erat kedua tangan ayahnya.

"Semua salahku appa. Jangan merasa bersalah atas apa yang kualami saat ini." Baekhyun masih meneteskan airmatanya dengan cukup deras.

Hankyung semakin erat memeluk putri cantiknya. Dia tak sanggup melihat putri yang teramat sangat disayanginya itu kini terlihat begitu terluka.

Dalam hati dia tak habis menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang menimpa putrinya saat ini. Kalau saja dia dan istrinya tak memaksa Baekhyun ikut pindah ke Amerika dengan mengeluarkan berbagai ancaman, mungkin saat ini Baekhyun mengunjungi mereka dengan senyum cerahnya. Tapi saat ini, hari-hari Baekhyun di negara adi daya ini terlihat murung dan sedih, Baekhyun juga sangat cengeng untuk beberapa hal yang mengingatkannya akan Korea.

.

.

.

Hal yang tak jauh berbeda juga terjadi di belahan bumi lain, di sebuah negara bernama Korea.

Kalau ada yang mengatakan Chanyeol baik-baik saja sepeninggal Baekhyun, pendapat itu hanya keluar dari mulut sosok yang meninggalkannya itu. Kenyataannya, kepergian Baekhyun menyisakan duka berkepanjangan bagi pria tinggi bernama Park Chanyeol itu.

Pagi itu, sebulan yang lalu, dia bangun dengan senyum lebar. Dia berpikir Baekhyun tengah menunggunya di dapur, seperti biasanya di setiap harinya selama dia menikah dengan Baekhyun.

Dia mandi, berganti pakaian lalu pergi ke dapur dengan senyum lebarnya. Tapi sekitar tiga menit kemudian, senyumnya memudar saat dia menyadari satu hal. Sebuah amplop coklat menyambutnya di meja dapur. Amplop yang membuatnya merasakan bumi yang di pijaknya berputar cepat hingga membuatnya pusing dan kemudian terduduk di kursi.

Cerai!

Kata itu sempat terlintas di pikirannya. Dia pikir semua akan menjadi sangat mudah ketika hal itu terjadi, tapi melihat isi amplop itu, perasaannya benar-benar seperti diaduk-aduk. Apalagi setelah membaca surat yang di tinggalkan Baekhyun untuknya. Chanyeol merasakan dunianya runtuh, tujuan hidupnya yang semula terlihat terang tiba-tiba gelap dan untuk beberapa saat, Chanyeol hanya diam tanpa mampu melakukan apapun.

To : My beloved friend, my dearest, my love and my other half

Saat kau membaca surat ini, aku mungkin sudah jauh darimu.

Kalau boleh jujur, berat rasanya melakukan semua ini di saat aku sudah benar-benar

tahu bagimana perasaanku padamu, Chanyeol-ah.

Hal pertama yang ingin ku sampaikan

Maaf!

Maaf karena telah melukaimu dan juga Kyungie. Kalian pantas bahagia. Seharusnya hal

Itulah yang ku lakukan sejak dulu. Melihatmu tersenyum bahagia dengan wanita yang

Kau cintai dengan segenap perasaanmu.

Chanyeol-ah!

Aku sudah menandatangani surat cerainya, kau hanya perlu membubuhkan tanda

tanganmu diatas namamu, maka kita akan resmi bercerai. Jangan cari aku, jangan

pernah merasa bersalah padaku, kerena semua yang terjadi adalah kesalahanku.

Yang kedua...

Untukmu yang tanpa kusadari sudah menempati relung hatiku. Sepanjang waktu yang

kita habiskan bersama, aku hanya memiliki satu gambaran perasaanku, aku bahagia.

Kau tahu, bagiku, kau bukan hanya sahabat terbaikku, kau adalah saudaraku. Kau

adalah orang yang membuatku tak memiliki alasan untuk meninggalkan negara ini.

Aku sangat menyayangimu Chanyeol-ah.

Yang ketiga...

Aku tak sempat pamit pada orang-orang yang dekat dengan kita. Tolong sampaikan

ucapan selamat tinggalku pada Kyu eonni, Changmin oppa, Jongdae, Jongin dan juga

Kyungsoo. Aku menyayangi kalian semua. Aku harap, suatu saat ketika kita kembali di

pertemukan, kita sudah hidup bahagia dengan hidup kita masing-masing.

Yang terakhir...

Aku tak lagi ada disisimu, tak lagi bisa mengetuk kamarmu, tak juga bisa membuatkan

sarapan untukmu, mulai sekarang bangunlah lebih pagi, kau harus makan nasi, jangan

sering makan mie atau junk food. Itu tak baik untuk kesehatanmu.

Terimakasih sudah menjadi bagian terindah dalam hidupku Chanyeol-ah. Terimakasih

sudah memiliki niat tulus untuk mengajakku mengelilingi benua biru. Mendengarnya

saja aku bahagia, apalagi bila aku bisa melakukannya denganmu. Namun aku sadar,

hidup yang kujalani, tak selamanya sesuai dengan keinginanku. Aku harus bisa

melepaskan orang-orang yang seharusnya bahagia tanpa aku.

Sekali lagi, maaf atas sikap egoisku. Aku pergi, semoga kau selalu bahagia dalam

lindungan Tuhan.

Your wifey

Tan Baekhyun 3

Setelah satu bulan berlalu, keadaan Chanyeol semakin memprihatinkan.

Dia bangun lebih pagi dari biasanya, sarapan nasi dan beberapa lauk yang dibuatnya lalu pergi kerja dan pulang lewat tengah malam di setiap harinya.

Chanyeol bukan tak berusaha mencari Baekhyun, satu minggu setelah hari Baekhyun pergi, setiap hari yang dia lakukan hanya berkeliling Seoul. Mendatangi tempat-tempat yang sering mereka kunjungi bersama, berharap kalau-kalau Baekhyun ada di salah satu tempat itu. Tapi, usahanya sama sekali tak membuahkan hasil, Baekhyun benar-benar meninggalkannya. Tak ada jejak tersisa dari perempuan yang baru sekarang dia sadari ternyata adalah perempuan yang paling dia cintai.

Chanyeol juga sudah menanyakan perihal kepergian Baekhyun pada Sehun, karena dari yang dia ketahui, selain padanya, Baekhyun sering sekali berbagi cerita dengan Sehun. Tak salah dia mendatangi Sehun, karena kenyataannya sahabatnya itu tahu kemana Baekhyun pergi. Tapi, tak banyak informasi yang dia dapat dari Sehun, pria tinggi pegawai salah satu perusahaa retail terbesar di Korea itu hanya mengatakan Baekhyun pergi ke rumah orangtuanya di Amerika.

Pertanyaan selanjutnya tentang ke Amerika mana Baekhyun, tak di jawab Sehun.

Kalau soal itu, Chanyeol sudah menduga demikian. Yang menjadi pertanyaannya, Amerika luas, Kanada, California, Los Angeles atau New York, semua bagian dari Amerika.

Sehun sama sekali tak membantunya setelah itu, bahkan pria itu dengan lantang menghardiknya saat dia sedikit memaksa untuk memberitahu keberadaan Baekhyun padanya.

"Kalaupun aku tahu dia dimana, di Amerika bagian mana, aku tak akan pernah memberitahumu."

"Aku ingin bertemu dengannya Sehun-ah."

"Untuk apa? Untuk mengatakan padanya kalau hubungan kalian sudah berakhir? Dia sudah memberi penegasan padamu, dia mengambil keputusan tepat. Ketika kau tak mampu memutuskan sesuatu untuk masa depan kalian, dia yang memilih mundur seperti komitmen awal. Jangan egois, kau berharap bersama Baekhyun sedang di dalam hatimu masih ada wanita lain yang tinggal disana. Tanya pada hatimu, siapa yang dipilihnya untuk menghabiskan hidup bersamamu."

"Sehun-ah."

"Belajarlah untuk tegas. Kalau kau ingin Baekhyun, tinggalkan Kyungsoo. Kalau ingin Kyungsoo, jangan pernah lagi mencari dimana Baekhyun."

Chanyeol merasakan pukulan telak melalui kalimat Sehun itu. Benar, dia harus tegas. Saat dia mengharapkan Baekhyun, dia tak seharusnya menyimpan Kyungsoo di hatinya, begitu pun sebaliknya.

Dan setelah hampir sebulan menghindar dari orang-orang dekatnya, malam ini Chanyeol memutuskan menemui Kyungsoo.

Disinilah mereka berdua berada, dilanda kebisuan hampir tiga puluh menit di tepi sungai Han.

"Aku mencintainya Kyungie-ya."

Kalimat pertama yang keluar dari bibir Chanyeol, tak membuat Kyungsoo terkejut.

Dari sekian banyak waktu yang mereka lalui bersama, inilah hal yang paling di tunggu Kyungsoo. Ketika Chanyeol mengakui perasaannya pada wanita yang selama ini selalu membuatnya iri. Tan Baekhyun, sudah sejak lama wanita itu menghuni hati Chanyeol, hanya saja pria itu terlambat menilai hatinya sendiri.

"Satu bulan dia tak lagi bersamaku, aku merasakan hidupku kosong. Tujuan hidupku tak seterang dulu saat dia masih bersamaku. Aku sempat berpikir, aku akan baik-baik saja ketika nantinya kami memutuskan berpisah karena aku memilih bersamamu, tapi kenyataannya... dadaku sesak setiap kali kakiku menginjak rumah. Dia, bayangan dia selalu hadir, sosoknya yang kuharapkan menyambut kedatanganku selalu menjelma. Aku tak tahu apa yang akan ku lakukan setelah ini, tapi aku tahu apa yang harus ku lakukan saat ini. Kyungie-ya! Mari kita akhiri hubungan ini."

Kyungsoo menunduk lalu tersenyum tipis, senyuman yang menyimpan begitu banyak luka tentunya. Dia sudah menyangka, hal ini akan terjadi cepat atau lambat, langkah besar yang diambil Baekhyun ternyata mampu mempengaruhi Chanyeol. Tentunya akan sangat berbeda jika dia yang melakukannya, Chanyeol akan memberinya ruang untuk menyendiri sedang pada Baekhyun, pria itu tak pernah membiarkan hatinya kosong tanpa Baekhyun.

"Maaf tak bisa menepati janji untuk selalu membahagiakanmu, Kyungie-ya." Lirih Chanyeol sembari menatap Kyungsoo yang duduk di sampingnya. Pada saat yang sama, Kyugsoo juga tengah menatap Chanyeol.

"Aku menyadari hal ini akan terjadi cepat atau lambat." Chanyeol terlihat sedikit terkejut dengan pernyataan Kyungsoo. "Kau akan meninggalkanku dan memilihnya untuk mendampingimu. Dulu... hal ini merupakan ketakutan tersendiri untukku. Saat kau memilih dia untuk membantumu menyelesaikan pekerjaanmu, saat kau memilih dia untuk menemanimu pergi melihat pertandingan sepak bola dari tim kebanggaanmu, saat terlalu banyak waktu yang kau habiskan dengannya dibandingkan denganku. Aku iri, iya... tapi kemudian aku mulai menyadari satu hal, bahwa yang kau simpan dihatimu sejak dulu adalah dia, bukan aku. Kau mengatakan bahwa kau mencintaiku, kenyataannya yang tersimpan dihatimu bukan aku oppa. Lalu kemudian aku tahu, kau mungkin menyukaiku, hatimu berdebar karena aku, tapi tak ada yang bisa mengantikan dia di hatimu karena dari awal, dia yang kau butuhkan untuk mendampingimu, bukan aku." lanjut Kyungsoo panjang.

"Kyungie-ya."

"Apakah bagimu perlu waktu lama untuk menyadari hal itu, sedangkan dari awal aku tahu bahwa kau memiliki perasaan lain padanya?"

"Kau menyadari hal itu sejak awal? Tapi kenapa kau menerimaku saat aku menyatakan perasaanku padamu?"

"Karena aku mencintaimu. Karena aku berpikir kalau aku menerimamu dan menunjukkan semua cintaku padamu kau akan bisa melupakannya. Kenyataannya aku salah, kau tak sama sekali dijauhkan darinya oleh Tuhan, bahkan saat kita sudah memulai hubungan, aku tetap bukan yang pertama yang kau utamakan."

Chanyeol merasa bersalah atas pernyataan Kyungsoo. Dia yang bodoh dalam hal ini, dia yang tak menyadari perasaannya, bahkan orang lain bisa melihat besarnya rasa cinta yang di rasakannya untuk Baekhyun. Sedangkan dia tidak sama sekali.

Dia menyukai Kyungsoo, dia anggap perasaannya itu adalah perasaan cinta. Namun sekarang dia tahu dan menyadari, bahwa apa yang dirasakannya saat itu hanya sebatas perasaan suka dan mungkin sedikit kagum.

"Mianhae Kyungie-ya." Lirih Chanyeol penuh sesal.

Sekali lagi, Kyungsoo tersenyum kecil lalu tertunduk. Hatinya sakit, sangat sakit. Dengan permintaan maaf itu, baginya Chanyeol seolah menegaskan bahwa apa yang mereka jalani selama ini adalah sebuah kesalahan.

"Aku benar-benar tak pernah tingga di hatimu selama ini oppa."

Chanyeol mengalihkan tatapannya pada Kyungsoo. Sambil melihat Kyungsoo, Chanyeol memikirkan dengan keras apa maksud tersirat dari ucapan gadis itu tadi.

"Aku ada, tapi aku tak benar-benar ada di sana. Hanya Baekhyun yang tinggal disana, sedangkan aku hanyalah tamu yang bisa kapanpun pergi, bahkan kalau pun aku tak ingin pergi, kau pasti akan mengusirku keluar dari sana."

Ucapan Kyungsoo benar-benar membuat hati Chanyeol tertusuk ribuan jarum. Begitu jahatkah dirinya pada gadis yang di kencaninya tiga tahun terakhir ini?

Tentu saja jawabannya iya, siapa yang paling tersakiti dari serangkaian kejadian ini? Kyungsoo, dia yang menawarkan cinta pada gadis itu, namun dia pula yang meminta gadis itu untuk pergi.

Chanyeol menarik panjang nafasnya.

"Kalau kau meminta hal ini satu tahun yang lalu, mungkin aku akan dengan egois menjawab 'Shirreo!'." Kyungsoo membuang nafasnya berat. "Satu tahun terakhir ini aku mulai belajar memahami, bahwa mencintai tak harus memiliki. Aku ingin egois dengan mengatakan kau harus tetap tinggal di sisiku, tapi untuk apa hal itu aku lakukan kalau nantinya kau tak bahagia bersamaku."

"Kyungie." Desah Chanyeol lirih.

"Oppa! Maaf kalau aku pernah jahat pada kalian, maaf kalau karena aku, kau harus berpisah dengan Baekhyun. Aku setuju dengan permintaan kalian, aku menunggu dan aku diam, semata karena aku ingin kalian sadar bahwa ada cinta yang sangat besar di hati kalian untuk satu sama lain. Aku jahat karena seolah-olah aku membiarkan hal itu terjadi. Maaf oppa, aku hanya ingin kalian tahu betapa aku sakit karena harus kehilangan orang yang kucintai, yang aku rasakan, aku ingin kalian juga merasakannya. Hanya sedikit, hanya sedikit saja." Kyungsoo sudah berurai airmata, dadanya begitu sesak mengatakan semua itu. Dia tidak dalam keadaan baik-baik saja saat ini. Dia sakit, sangat sakit, sama rasanya seperti kesakitan yang di rasakan Baekhyun maupun Chanyeol saat ini.

Tangis Kyungsoo terdengar sangat pilu, dan Chanyeol tak tahu harus berbuat apalagi selain memeluk kuat gadis itu.

Bukan Kyungsoo yang jahat, tapi dia yang tak bisa tegas pada hatinya, pada dirinya dan pada orang yang selama ini ada di sekitarnya.

"Aku yang bersalah Kyungie-ya, aku yang jahat pada kalian."

"Berjanjilah padaku kau akan membawanya kembali kesini oppa. Kau akan mencarinya dan kalian harus bahagia." Ujar Kyungsoo di sela isakan sedihnya.

Chanyeol melonggarkan pelukannya, dia kemudian menatap Kyungsoo.

"Kau harus bahagia bersamanya." Ulang Kyungsoo sekali lagi.

"Bagaimana denganmu?"

"Jangan khawatirkan aku. Meski butuh waktu lama, aku pasti bisa memahami semua keadaan ini. Aku tak ingin egois demi kebahagiaanku."

"Kau gadis yang baik Kyungie-ya. Suatu saat kau pasti akan bertemu dengan orang baik yang benar-benar mencintaimu. Kau harus bahagia."

Kyungsoo menatap Chanyeol, lalu tatapannya beralih pada sosok lain yang berdiri cukup jauh dari keduanya. Sosok itu yang mengantarnya ke tempat ini, yang selalu ada untuknya, yang selalu memeluknya, yang rela melakukan apapun untuk kebahagiaannya termasuk mengusir Baekhyun dari kehidupan mereka. Kim Jongin, sahabat yang sangat mencintainya, yang merelakan dirinya terluka untuk kebahagiaannya. Setelah semua yang di lakukan Jongin padanya, sudah selayaknya dia memberi imbalan mahal untuk hal itu. Kyungsoo menempatkan Chanyeol di dasar hatinya, menyimpannya dan menguncinya disana lalu untuk Jongin, dia akan mulai belajar mencintai pria itu. Itu janjinya.

"Aku tahu. Kau pasti akan sangat menyesal karena sudah membuangku."

Chanyeol mengerutkan dahinya.

Kyungsoo tertawa lebar. "Pergilah oppa! Kau harus mencari Baekhyunie dan membawanya kembali diantara kita. Aku merelakanmu, aku mendoakan kebahagiaanmu."

Chanyeol menatap Kyungsoo dengan tatapan keheranan.

"Yang tahu kemana dan dimana Baekhyun saat ini hanyalah Sehunie, jadi ada baiknya kau bersikap lebih baik padanya."

Chanyeol tersenyum tipis. Kyungsoo benar, hanya Sehun dan Tuhan yang tahu kemana dan dimana Baekhyun saat ini. Dia sudah meminta pada Sehun untuk memberitahunya, namun sahabatnya itu bergeming di tempatnya. Sehun memilih menutup mulutnya entah sampai kapan. Hal yang paling menusuk hatinya saat dia meminta Sehun memberitahunya keberadaan Baekhyun adalah ketika pria itu hanya meliriknya, lalu memiringkan bibirnya dan berujar lirih 'untuk apa kau ingin bertemu dengannya lagi, untuk menyakitinya? Semua sudah cukup. Dia bahagia dengan orang yang tepat.'

Orang yang tepat. Apakah disini dia bukan orang yang tepat? Yang pantas membahagiakan Baekhyun dengan segala yang di milikinya saat ini.

"Aku tak tahu sampai kapan Sehun akan memilih untuk diam. Hmm... aku akan berusaha membuatnya mengatakan dimana Baekhyun saat ini."

"Semoga berhasil oppa. Aku pergi dulu." Kyungsoo beranjak dari duduknya.

"Kyungsoo-ah!"

Kyungsoo menghentikan langkahnya dan menatap Chanyeol.

"Jonginie... dia pria yang baik."

Kyungsoo tersenyum kecil, lalu mengangguk dan pergi dari hadapan Chanyeol.

Sepeninggal Kyungsoo, Chanyeol menatap langit malam kota Seoul, yang tampak indah dengan taburan bintang-bintang.

"Baekhyunie! Naeun jeongmal bogoshippo."

.

.

.

Tiga bulan kemudian

Luhan POV

"Morning gendut sayang!" sapaku pada adikku yang semakin hari semakin terlihat bulat dan sangat menggemaskan. Bukan tubuhnya yang bulat, tapi pipinya. Lihatlah, kedua pipinya semakin berisi. Setelah menyapanya seperti itu, aku mengusap lembut perutnya yang semakin membuncit.

Tan Baekhyun di nyatakan hamil sejak tiga bulan yang lalu, bulan ini usia kehamilannya memasuki angka empat. Aku bahagia, kami semua bahagia. Hmm... setidaknya, kehadiran sosok mungil di rahimnya memberikan oase di tengah kepiluan hatinya.

Pasca meluapkan perasaannya tiga bulan yang lalu, keesokan paginya aku menemukan Baekhyun tak sadarkan diri dengan keadaan demam tinggi.

Kami panik dan langsung melarikan dia ke rumah sakit. Di sana, kami mendapat kabar baru bahwa si kecil yang sangat kami sayangi itu tengah mengandung. Usia kehamilannya masih sangat muda dan cukup rentan. Kalau tak di jaga dengan baik, maka bisa saja dia kehilangan buah cintanya dari pria yang menikahinya itu.

Baekhyunku, dia menangis mendengar hal itu. Entah itu tangisan kesedihan atau tangis kebahagiaan, namun yang ku lihat setelah itu, dia menjadi semakin baik. Perlahan senyumnya kembali lebar. Setiap kali dia bersedih, dia memegang perutnya, seolah meminta bantuan pada calon anaknya untuk selalu menguatkannya.

Aku pernah patah hati, tapi aku tak pernah seterpuruk Baekhyun ketika melalui hal itu.

"Eomma! Dia selalu mengataiku gendut." Rengeknya pada ibu yang sudah membesarkanku dan melahirkannya, Kim Heechul. Wanita yang ku sayangi selayaknya ibuku sendiri itu hanya tersenyum, lalu mengusap lembut pipi Baekhyun.

"Eonnimu hanya bercanda Baekhyunie. Dia mengatakan apa yang jelas terlihat olehnya, kau memang terlihat lebih berisi."

"Tapi aku tidak gendut."

Kami, ibu dan aku hanya tertawa kecil. Dia memang tak mau kalau di panggil seperti itu, karena menurutnya dirinya tidak gendut meski sejak hamil berat badannya naik lebih dari lima kilo. Ehm... tidak gendut, hanya sedikit besar saja. Ahahhahahha...

Merasa kami tertawakan, dia memanyunkan bibirnya. Itu pertanda dia semakin kesal dengan kami.

Aku menyukai ekspresinya yang seperti itu, karena itu semakin membuatnya terlihat sangat menggemaskan.

Hmm...

Rasanya sudah sangat lama tak melihatnya berekspresi seperti ini. Terakhir kali aku melihatnya melakukan hal itu adalah saat kami berpisah di Bandara Incheon beberapa tahun yang lalu.

Baekhyun memang memutuskan melanjutkan pendidikannya di Korea dengan alasan, darah yang mengalir di tubuhnya sebagian milik Korea, jadi dia ingin merasakan hidup di negara perempuan yang sudah melahirkannya.

Tak ada yang dapat kami lakukan saat itu. Baekhyun cukup keras kepala untuk segala sesuatu yang sangat diinginkannya. Termasuk ketika dia ingin tinggal di Korea. Meski sendiri dan sempat merasa sedih karena kami tinggalkan, nyatanya itu tak berlangsung lama. Dia bahagia, bahkan terlalu bahagia hidup di sekitar teman-teman yang menyayanginya.

Aku menatapnya dari meja makan. Dia di dapur tengah sibuk membantu Mama memasak, kegiatan pagi dan sore yang rutin dia lakukan di tiga bulan terakhir ini.

Hmm...

Tentang patah hati yang menderanya, dia memang sudah bisa kembali tertawa, tapi sering sekali aku melihat matanya yang menunjukkan kesedihan yang sama. Aku tahu, yang dijalaninya saat ini pastilah berat. Berpisah dari orang yang sangat dicintainya dalam keadaan hamil, bukanlah sesuatu yang mudah, apalagi dia baru menyadari perasaannya setelah sekian tahun mengenal pria itu.

Aku ingin marah, ingin juga mengumpat atas keadaan sulit yang menimpanya. Tapi hal itu tak bisa ku lakukan karena bagaimana pun juga, ada campur tangan kami atas cobaan yang di jalaninya saat ini.

Papa dan Mama sangatlah menyesal melakukan hal itu, memaksa dan sempat mengancamnya dengan sebuah perjodohan, hingga dia nekad melakukan berbagai cara untuk menyelamatkan dirinya.

"Hari ini kau ke perpustakaan lagi?" tanyaku sambil meneguk perlahan susu putih yang sudah di siapkannya untukku. Dia menatapku kemudian mengangguk kecil.

Tiga bulan ini, dia menghabiskan waktunya sepanjang hari di perpustakaan kota. Entah buku apa saja yang dibacanya, yang jelas itu jauh lebih baik daripada dia mengurung dirinya di dalam kamar.

Mama akan membekalinya dengan sekotak makan siang dan beberapa makanan kecil untuk dia makan di sela waktu membacanya. Tahu sendiri, wanita hamil sangat mudah lapar.

Sebenarnya, Papa sudah menawari Baekyun untuk bekerja di perusahaan milik keluarga tapi Baekhyun menolak dan kami tak bisa memaksanya.

Pokoknya sekarang ini, apapun yang membuat Baekhyun nyaman, itu yang akan kami lakukan.

Kami tahu, kota yang kami tinggali saat ini tak cukup membuat Baekhyun nyaman, tak juga mampu membuat perasaannya jauh lebih baik. Dia, hhhh... aku tak tahu sejak kapan, tapi ku rasa, dia memang sangat menyukai Korea dibandingkan tanah kelahirannya sendiri atau pun tanah dimana keluarganya tinggal saat ini.

Kalau mengingat hal itu, rasanya ingin sekali membawa Baekhyun kembali ke Korea.

Kami pernah menawarinya hal itu, tapi dia menggeleng lalu dengan lirih berujar "Pada siapa aku akan pulang, kalau rumah yang pernah kumiliki saat ini sudah menjadi milik orang".

Jujur, saat itu aku menangis. Rumah yang dimaksud Baekhyun adalah Chanyeol, suaminya, sahabat yang memeluknya saat duka dan tertawa bersamanya saat suka. Dan yang dikatakannya mungkin saja benar, kalau saat itu dia meninggalkan Chanyeol karena pria itu mencintai Kyungsoo, bisa jadi Chanyeol sudah menandatangani surat cerai itu dan sekarang ini pria itu telah hidup bahagia bersama pasangannya.

Miris.

Cinta mampu melambungkan hati seseorang namun di waktu yang sama, cinta juga mampu membuat seseorang merasakan bumi yang di pijaknya runtuh.

Baekhyunie!

Hatimu, apakah masih sakit?

Luhan POV End

"Nanti appa yang akan menjemputmu sayang." Ujar Hankyung sambil duduk di antara tiga perempuan cantik di dalam hidupnya itu.

"Ani. Aku akan ke gereja setelah makan siang nanti, aku pulang naik taksi." Sahut Baekhyun.

"Ada misa jum'at?" tanya Heechul.

"Ehm. Dan setelah itu, gereja akan melakukan jamuan makan, aku akan membantu para suster menyiapkan makanan."

"Jangan terlalu memaksakan diri, kalau kau lelah, kau harus beristirahat. Aku tak ingin terjadi sesuatu yang buruk dengan calon keponakanku. Arraseo Baekhyunie." Luhan menjulurkan tangannya, lalu menggenggam tangan adiknya dengan begitu erat. Matanya menatap Baekhyun, ingin memastikan gadis yang sama mungil dengan dirinya itu mendengar nasehatnya.

"Aku tahu eonni. Aku akan menjaganya dengan baik, karena dia kesayanganku." Baekhyun tersenyum tipis, lalu dia mengusap perutnya yang semakin terlihat membuncit.

Hmm...

Inilah hal terakhir yang dia miliki, yang di tinggalkan Chanyeol untuknya. Dia berjanji pada dirinya sendiri, bahwa dia akan selalu menjaga buah hatinya itu dengan baik.

"Chanyeol-ah! Kau sudah bahagia disana? Aku disini sedang berusaha untuk tegar dan bahagia. Hmm... ada begitu banyak hal yang ingin ku lewatkan denganmu, tapi aku tahu dan cukup sadar diri, aku hanya seseorang yang selalu membuatmu kesulitan. Sakit yang ku rasakan, aku harap kau tak merasakannya. Seperti yang ku katakan pada suratku yang lalu, kau harus bahagia, karena aku juga akan melakukan hal yang sama, aku akan bahagia dengan caraku sendiri. Chanyeol-ah! Aku mencintaimu."

.

.

.

"Chanyeol-ah! Aku mencintaimu."

Chanyeol tersentak dalam tidurnya, dia langsung membuka matanya dan terduduk di ranjangnya. Nafasnya terdengar menderu cepat.

Dia, baru saja dia mendengar suara Baekhyun, membisikkan kata cinta untuknya.

Chanyeol terlihat memendarkan matanya ke segala penjuru kamarnya. Tak ada siapapun di sana kecuali hanya kegelapan.

Chanyeol membuang nafasnya perlahan, dia kemudian menyingkap selimutnya lalu beranjak keluar dari kamarnya.

Pria tinggi berambut ikal itu melangkah gontai menuju dapur. Tak ada yang berubah dari keadaan dapurnya, sejak di tinggalkan Baekhyun empat bulan yang lalu. Surat yang di tulis Baekhyun masih ada di meja makan, begitu pun dengan surat cerai yang sudah di tandatangani istrinya itu. Chanyeol hanya membuka dan membacanya sekali, setelah itu dia tetap membiarkannya berada di sana.

Chanyeol membuka kulkasnya, matanya nanar menatap isi kulkasnya yang tak banyak berubah. Beberapa bahan makanan yang di beli Baekhyun juga masih tersimpan disana. Kalau Baekhyun masih ada di sisinya...

"Chanyeol-ah! Kenapa kau sangat suka menyimpan barang-barang yang sudah kadaluarsa. Kalau kau belanja dan berniat menyimpan semua ini dalam waktu lama, cari yang masa kadaluarsanya masih lama, jangan seperti ini." omel Baekhyun sambil mengeluarkan beberapa makanan ringan dan minuman soda yang sudah lewat masa kadaluarsanya dari dalam kulkas dan membuangnya ke keranjang sampah. "Jadi orang jangan malas membersihkan kulkas." Lanjut Baekhyun.

"Ada kau yang akan selalu melakukannya untukku."

"Kau pikir hidupku hanya mengurusimu? Aku akan menikah suatu hari ini, kau pikir suamiku tak akan cemburu kalau aku selalu mengurusmu bahkan untuk hal-hal sekecil ini?"

"Kalau begitu jangan menikah dengan orang lain. Menikah denganku saja."

"Shirreo! Kalau aku menikah denganmu, aku akan banyak menderita."

Chanyeol meneteskan airmatanya. Obrolan yang melintas dalam pikirannya itu terjadi di awal-awal dia mengenal Baekhyun, menerima limpahan perhatian dan juga kasih sayang dari sahabatnya itu.

"Kau benar sayang, kau menderita menikah denganku. Mianhae Baekhyunie, mianhae." Chanyeol memegang kuat pegangan pintu kulkasnya.

Hatinya terasa begitu sakit mengingat betapa selama ini, begitu banyak hal yang dilalui bersama Baekhyun. Seharusnya dari awal dia sadar, bahwa hanya Baekhyun yang dia butuhkan untuk menikmati segala sesuatu yang di berikan Tuhan untuknya.

Hah!

Chanyeol mengambil air dingin dari dalam kulkas, lalu dia duduk di kursi tinggi di dekat meja dapur.

Empat bulan yang dia lalui tanpa Baekhyun, terasa begitu berat. Hari demi hari dia lalui untuk membujuk Sehun agar bersedia mengatakan padanya dimana Baekhyun sekarang berada. Namun, pendirian Sehun tetap kokoh. Sehun sama sekali tak bersedia buka mulut untuknya, karena bagi Sehun, kehadirannya justru akan selalu menyusahkan Baekhyun.

Pernyataan Sehun tak sepenuhnya salah, namun tak bisa dikatakan benar semuanya. Dia sanggup membahagiakan Baekhyun saat ini, seharusnya dengan janji itu saja Sehun percaya padanya. Tapi... Sehun adalah orang yang paling menyayangi Baekhyun selain dirinya sendiri, Sehun juga orang yang paling peduli dengan Baekhyun selain dirinya, jadi kalau sekarang ini Sehun bersikap demikian, rasanya tak salah. Siapa yang ingin melihat sahabat terbaiknya selalu bersedih hanya karena seorang pria bodoh yang sama sekali tak menyadari perasaannya. Kalau dia ada di posisi Sehun, mungkin dia juga akan melakukan hal sama. Dia dan lebih memilih banyak menghindar.

Chanyeol menarik nafasnya pelan, dia beranjak dari duduknya, kemudian langkahnya di ayun ke balkon apartemennya. Kepala Chanyeol mendongak dengan kedua tangan di lipat di depan dada. Langit malam ini sangat gelap, nyaris tak terlihat bintang menghiasi dengan sinar kecilnya.

Sepertinya, langit sangat mengerti dengan keadaannya saat ini. Hatinya gelap, karena cahaya yang meneranginya, kini pergi jauh.

"Baekhyunie!" lirih Chanyeol. Nama itu selalu dia lafalkan di setiap saat ketika hatinya terasa begitu kosong.

Sementara itu di sebuah bar, di ruang vvip

Sehun terlihat menunduk dalam di hadapan Kyuhyun, Changmin dan juga Jongdae.

Apa yang terjadi?

Ketiga orang itu, hmm... lebih tepatnya Kyuhyun, sudah tak tahan melihat Chanyeol yang semakin hari terlihat seperti mayat hidup. Tubuhnya memang bisa melangkah kemana saja, berada dimana saja, tapi hatinya... sepertinya ikut dibawa Baekhyun pergi.

Tak ingin aset berharga di perusahaan semakin terpuruk, Kyuhyun mengambil tindakan pada Sehun agar pria itu bersedia memberitahu mereka dimana Baekhyun saat ini berada. Lebih tepatnya berada di kota apa di Amerika sana.

"Jawablah Sehun-ah. Jangan menjadi penjahat untuk kebahagiaan orang lain." Jongdae membuka suaranya. "Aku tahu kau sangat keberatan dengan hal ini, karena kau pikir Baekhyunie sudah bahagia dengan hidupnya sekarang ini. Tapi... apa kau benar-benar yakin dia bahagia di hidupnya saat ini? Mereka tak akan bahagia sebelum di pertemukan kembali, jadi tolong katakan pada kami, Baekhyun dimana? Kalau kau tak mau melakukan hal ini demi Chanyeol, lakukan hal ini untuk kelangsungan hidup orang lain. Baik Baekhyun ataupun Chanyeol, aku yakin saat ini keadaan mereka tak baik-baik saja. Kau ingin melihat keduanya mati perlahan-lahan?" lanjut Jongdae panjang lebar.

"Kenapa jadi aku yang salah disini?" protes Sehun tak terima, setelah menunduk dalam waktu lama, dia akhirnya mau menatap mata ketiga orang yang sedang menghakiminya itu.

"Bukan bermaksud menyalahkanmu, hanya saja... hhhhh... aku cukup kesal dengan sikapmu yang seolah-olah tahu segalanya, tapi tak mau menolong temanmu sendiri yang nyatanya membutuhkan bantuanmu. Kalau kau bersikap seperti itu, apa bedanya kau dengan Jongin dan Kyungsoo. Percaya padaku Sehun-ah, Chanyeol sudah mendapat hukuman setimpal atas apa yang sudah dilakukannya terhadap Baekhyun. Dia menderita, sangat menderita." suara Kyuhyun terdengar gusar.

"Sayang tenanglah." Changmin mengingatkan istrinya untuk tak terbawa emosi.

"Bagaimana aku bisa tenang, setiap hari selama empat bulan ini aku di suguhi pemandangan seseorang yang mati segan hidup pun tak mau. Taruhlah Chanyeol bersalah disini, percayalah padaku Changminie, dia sudah menerima semua hukumannya. Dia menderita saat ini, yang dia butuhkan hanya Baekhyun, nothing else." Kyuhyun nyaris meneteskan airmatanya. Untuk dua orang yang disayanginya itu, boleh dikatakan Kyuhyun sangatlah cengeng.

"Kyunie!" keluh Changmin. Beberapa waktu terakhir ini, Kyuhyun memang banyak menceritakan tentang perubahan sikap Chanyeol. Dan alasan perubahan itu tentulah karena tidak adanya Baekhyun di sisi pria itu.

"Sehun-ah! Coba pikirkan baik-baik, awal hubungan mereka mungkin memang salah, tapi mereka disatukan di hadapan Tuhan, oleh Tuhan pula dan hanya Tuhan yang berhak memisahkan mereka. Chanyeol salah, Baekhyun juga bersalah dan semua yang terlibat dalam hal ini juga bersalah. Termasuk kau."

"Hyung!" seru Sehun tak terima atas pernyataan Changmin. "Aku sudah mengingatkan mereka ketika mereka meminta pertimbangan pada kami, tapi kau tahu sendiri bukan, bagaimana keras kepalanya Baekhyun nunna kalau dia sudah menginginkan sesuatu. Aku tak bisa mencegahnya lagi, saat itu aku hanya berpikir, mereka sudah cukup dewasa untuk mengerti akan apa yang sedang mereka jalani. Mereka tahu konsekuensi yang harus dihadapi ketika mereka melakukan semua itu. Kalau pada akhirnya harus seperti ini, semua tentunya sudah mereka pikirkan sebelumnya. Ini akibat dari apa yang mereka lakukan." Sehun membela dirinya. Dia bukan tak mengingatkan, dia sudah melakukannya dan diabaikan.

Kyuhyun menarik nafasnya perlahan, memaksa Sehun dengan kekerasan memang bukan jalan yang baik. Dia harus bisa lebih mengendalikan emosinya dan juga kalimat yang akan keluar dari mulutnya.

"Sehun-ah!"

"Pagi itu, setelah sepanjang malam aku tak dapat memejamkan mata, aku mengantarnya ke Bandara. Dia hanya diam dan meneteskan airmatanya. Aku tahu dia terluika dan kalau aku bisa, saat itu aku ingin mengatakan padanya jangan pergi, kau hanya harus bertahan dan lebih bersabar nunna. Tapi aku tak melakukannya, karena aku tahu, selama Chanyeol hyung belum menyadari semuanya, dia akan tetap terluka dan tetap meneteskan airmata. Dia berantakan saat itu, dia..." tanpa terasa airmata Sehun jatuh membasahi kedua pipinya. "Kau benar nunna, dia tidak baik-baik saja. Selama dia berada di sana, dia tidak baik-baik saja. Setiap kali aku menghubungi kakaknya dan menanyakan keadaannya di awal-awal kepindahannya kesana, jawaban kakaknya akan tetap sama. 'Aku pernah patah hati Sehun-ah, tapi aku tak pernah merasakan patah hati seperti yang Baekhyun alami. Dia terpuruk, dia hancur.' Dengan kalimat itu saja, aku bisa membayangkan bagaimana keadaannya saat itu. Kalau kalian menjadi aku, apakah kalian langsung akan mengatakan pada Chanyeol hyung dimana keberadaannya setelah tahu keadaannya seperti itu? Aku bukan tak ingin memberitahunya, aku hanya ingin dia belajar dan berpikir, bahwa sebagai manusia yang kita butuhkan hanya kepastian dari sebuah hubungan. Kalau dia tak yakin akan keinginan hatinya, untuk apa aku memberitahunya. Bukankah itu sama halnya dengan aku membukakan jalan untuk penderitaan Baekhyun lagi?"

Baik Kyuhyun, Changmin maupun Jongdae hanya bisa menatap Sehun dengan tatapan sendu.

"Baekhyun dan keluarganya tinggal di Kanada. Tepatnya di Toronto. Alamatnya nanti akan ku kirimkan ke ponselnya Chanyeol hyung." Sehun berdiri dari duduknya, dia bersiap pergi dari tempat itu. Sekujur tubuhnya terasa sangat lelah. Dia ingin segera istirahat dan untuk sejenak melupakan masalah yang sedikit banyak membebani hatinya.

"Sehun-ah!"

"Aku pergi dulu!" pamit Sehun sambil membungkukkan badannya dengan sopan.

Kepergian Sehun di lepas dengan tatapan sendu oleh mereka bertiga.

"Apakah kita keterlaluan padanya?" tanya Kyuhyun kemudian.

"Dia memiliki alasan melakukan dan setelah malam ini, semoga semuanya menjadi lebih baik." Hibur Changmin.

"Aku akan menyusulnya." Jongdae berdiri dari duduknya, setelah membungkuk pada Kyuhyun dan Changmin, dia langsung melangkah keluar dari ruangan itu.

"Semoga mereka bahagia. Semuanya." Changmin tersenyum mendengar kalimat istrinya. Dia kemudian menggenggam tangan Kyuhyun dengan begitu erat.

Ya, mereka harus bahagia.

.

.

.

Chanyeol sudah berada di Bandara Incheon di minggu pagi ini. Pakaiannya rapi, senyumnya di umbar tipis. Satu koper besar berada di sisinya dan satu tas ransel ada di punggungnya. Dia sudah siap bertolak ke negara bagian Amerika, tepatnya Kanada, untuk menjemput kebahagiaannya.

Sehun menepati apa yang dikatakannya di hadapan Kyuhyun, Changmin dan Jongdae. Dia memberikan alamat lengkap pada Chanyeol, alamat tempat tinggal Baekhyun saat ini. Dia juga sudah menghubungi kakak perempuan Baekhyun, memberitahukan kedatangan Chanyeol.

Sehun saat ini tengah duduk di salah satu bangku ruang tunggu bandara internasional Incheon. Berbeda dengan Jongdae, Jongin, Kyungsoo dan Kyuhyun yang tengah berdiri mengelilingi Chanyeol, memberi pesan-pesan untuk pria itu.

"Bawa dia kembali Chanyeol-ah. Aku ingin melihatnya." Ujar Kyuhyun sambil menggenggam tangan Chanyeol.

"Sampaikan maaf kami untuknya hyung." Jongin menepuk pelan pundak Chanyeol.

"Aku juga ingin meminta maaf padanya. Selama ini, dia yang banyak menghiburku ketika aku patah hati setelah ditolak Minseok nunna, tak banyak yang dapat ku lakukan untuk menghiburnya di saat seperti ini, aku menyesal. Hmm... katakan padanya juga, Minseok nunna sudah menerima cintaku."

Chanyeol menatap Jongdae dengan mata membulat lebar.

"Kau tak bohong Jongdae-ah?" tanyanya penasaran.

Jongdae tersenyum malu-malu, lalu mengangguk.

"Dua hari yang lalu dia menerimaku."

"Ya! Kenapa kau tak menceritakan padaku?"

"Kau nyaris tak tersentuh empat bulan terakhir ini hyung. Aku tak ingin bahagia diatas kesedihan yang kau rasakan."

Chanyeol memeluk Jongdae erat. "Maafkan aku. Chukkae Jongdae-ah."

Jongdae membalas pelukan Chanyeol dengan tak kalah erat.

"Dia pasti senang mendengar hal ini." ujar Chanyeol kemudian.

Setelah Chanyeol melepas pelukannya pada Jongdae, Jongin dan Kyungsoo bergantian menyalami Jongdae, memberi selamat pada sahabat mereka itu atas cintanya yang pada akhirnya bersambut. Tak ketinggalan, Kyuhyun juga melakukan hal yang sama.

"Kita harus masuk pesawat sekarang hyung." Ujar Sehun yang sudah berdiri dari duduknya.

Sekedar informasi, Sehun memang ikut dalam perjalanan Chanyeol menuju Kanada. Bukan atas kemauan Sehun sendiri tapi atas permintaan Chanyeol yang merasa takut datang ke rumah Baekhyun seorang diri.

"Iya." Chanyeol menjawab singkat. Dia kemudian menyalami dan memeluk satu persatu sahabatnya.

"Ingat! Bawa dia kembali kesini Chanyeol-ah." Pesan Kyuhyun sekali lagi.

"Semoga semua berjalan dengan baik oppa. Katakan padanya aku sangat menyayanginya."

Chanyeol sekali lagi mengumbar senyumnya. Senyum yang sempat hilang empat bulan terakhir ini.

"Kami pergi dulu!" pamitnya. Sehun membungkuk, dia pun melakukan hal yang sama.

Keduanya kemudian melangkah menuju pintu keberangkatan luar negeri.

.

.

.

TBC

Note : Terimakasih untuk cinta dan perhatian kalian terhadap cerita ini.

Maaf kalau butuh waktu lama untuk saya up date cerita ini.

Jujur, saya berat mau menulis kelanjutan cerita ini, karena apa? Begitu menuliskan adegan per adegan, saya ikut nangis TT

Authornya cengeng...

Ini memang lebih pendek dari chap sebelumnya, jadi sekali lagi maafkan saya ya.

Big Love For You Guys 3

.

.

.

^_^ Lord Joongie ^_^