Chapter 04

Love on IOI

Problem Solution

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Pairing : SasuHina, ShikaTema

Rated : T

Temari's POV

Kurebahkan tubuhku di atas tempat tidurku. Hari sudah gelap dan aku baru saja pulang menuju kos-kosanku. Sebenarnya aku tinggal di daerah Sunagakure. Tapi sepertinya tidak begitu banyak SLTA disana jadi aku berinisiatif untuk sekolah didaerah Konohagakure yang terkenal akan barometer pendidikan yang sangat aktif.

Tapi tak kukira akan seaktif ini. Kudesahkan nafasku pelan sambil tetap menjaga agar aku tidak ketiduran saat itu. Aku belum mengerjakan PR yang diberi oleh senseiku.

Jadi, aku melepas lelah aja dulu sambil bersiap untuk mandi karena hari itu udaranya panas banget.

"Baiklah" Kataku sambil bangkit dari tidurku dan langsung mengambil handuk menuju kamar mandi yang berada di belakang kamarku.

-0-

"Segarnya" Kataku sambil mengusap-usap tubuhku yang masih basah dengan handuk yang aku pegang. Saat itu aku hanya memakai sebuah kaos oblong berwarna hitam dan celana pendek berwarna pink polos. Aku langsung berjalan menuju kearah laptopku dan mulai menyalakannya. Kutunggu bootskin dan windows muncul di layar komputerku sambil memilih kira-kira pakaian mana yang akan aku kenakan malam ini.

Aku mengambil sebuah pakaian terusan berwarna abu-abu dengan corak hijau dan memakainya sambil melihat layar login berwarna biru. Aku mengetikkan passwordku dengan cepat karena aku sudah hapal dengan password tersebut, bahkan tanpa berpikir pun aku bisa menekannya dengan sempurna.

Kutunggu munculnya wallpaper yang bergambar aku yang sedang narsis-narsisnya. Aku pun mengikat rambutku seperti biasa, kucir empat sambil tetap melihat layar wallpaper tersebut. Selepas mengucir rambutku, aku langsung mengutak-atik laptopku dan membuka dokumen wordku.

Kulihat baris per baris kata yang terbaris dengan rapi di halaman word tersebut. Proporsal untuk kegiatan pensi beberapa minggu lagi, atau lebih tepatnya dua minggu lagi.

"Hhhhh" Kudesahkan nafasku pelan melihat tulisan yang sangat banyak tersebut sambil mengoreksi tulisan tersebut dengan mata yang melotot.

"Uh...! Aku belum mengerjakan tugas Kimiaku" Kataku sambil berjalan menuju rak bukuku dan kemudian mengambil sebuah buku untuk kemudian kukerjakan.

Dulu, aku selalu menganggap diriku sangat cerdas karena serba bisa dalam setiap mata pelajaran. Dan aku juga serba tahu dalam urusan organisasi dan struktur sekolah. Aku selalu menjadi peringkat teratas di kelasku saat SMP, dan aku bangga akan hal tersebut.

Tapi, semuanya berlangsung memudar saat aku bertemu dengan seseorang teman kelasku. Seseorang dengan rambut kehitaman dan bergaya nanas yang biasanya suka menguap dikelas.

Saat pertama kali masuk SMA, kukira pelajarannya akan sangat biasa sekali, seperti di SMP. Saat minggu pertama itu cuma acara perkenalan dan juga acara MOS.

Aku ingin sekali diakui sebagai orang yang paling pintar dikelas itu dengan memperkenalkan diri secara detail dalam pelajaran berbahasa Inggris.

Aku sangat senang karena mereka bisa langsung mengenalku dan memberikan applaus padaku. Termasuk guru-guru yang saat itu mengajarku.

Aku optimis untuk mendapatkan rangking pertama seperti dulu saat di SMP sebelum akhirnya si nanas itu menyerang dengan sangat perlahan.

Meskipun aku berusaha mati-matian untuk memahami materi yang di ujikan, aku selalu kalah dari si nanas menyebalkan yang kerjanya cuman bermain-main aja di tengah pelajaran.

Sampai saat semesteran, aku harus puas menjadi rangking dua di kelas, sementara rangking satunya adalah Shikamaru, nama cowok berambut nanas tersebut.

Aku tidak terlalu akrab dengannya sih, jadi aku cukup penasaran dengan kebiasaannya dan juga cara belajarnya sehingga bisa jadi secerdas itu.

Beberapa bulan yang lalu, dia menyatakan rasa sukanya padaku. Aku hampir tertawa ketika melihat tiga kata keluar dari layar hapeku dengan tulisan pengirim : Shikamaru. Aku suka kamu.

Beberapa saat kemudian, ketika aku akan membalasnya dan sukses mengirimnya. Datang lagi sms dari Shikamaru yang berbunyi.

"Kamu pasti akan menjawab 'terus ?'"

Aku hanya bisa tersenyum melihat sms tersebut yang cocok sekali dengan balasan sms ku padanya saat itu.

Lalu, aku yang mulai risih dengan kehadiran Shikamaru karena tau kalo dia menyukaiku pun mulai merenggangkan hubungan kami.

Sampai suatu saat dia benar-benar membuatku jatuh hati. Seperti sekarang ini.

Aku mengerjakan PR tersebut semampuku sambil tetap mencoba untuk mengerjakan proporsal yang ada di laptopku.

"Lelah banget" Keluhku sambil melemparkan tubuhku keatas ranjang di dalam kamarku tersebut.

Aku memang gak bakat dalam hal kecepatan. Tidak seperti Shikamaru, aku selalu mencoba untuk tetap teliti dan perlahan tapi pasti. Shikamaru selalu tergesa-gesa dan melakukan semuanya dengan cepat-tepat dan akurat.

Pernah suatu ketika aku melupakan sebuah tugas pramuka milikku, disuruh membuat drama tentang kepramukaan. Aku, yang notabene ikut dalam dewan ambalan pramuka tidak bisa membuat drama tersebut karena saking bingungnya. Sedangkan Shikamaru, dengan sangat cepat langsung menyanggupi permintaanku saat aku terpaksa meminta bantuannya dan tugas selesai dalam waktu singkat. Padahal, dia tidak tahu apa-apa tentang pramuka. Bahkan saat ikut kegiatan persami pun dia hanya tidur-tiduran saja.

Kok jadi cerita tentang si nanas itu sih ? Apa aku kangen ya sama dia ? Dia kan udah beberapa hari ini gak masuk kelas karena pelatihan OSN. Bagiku kelas yang tanpa Shikamaru itu hampa, karena tidak ada yang bisa dimintai tolong dan cara cepat dalam mengerjakan soal.

Aku tetap memikirkan Shikamaru dalam benakku sampai aku benar-benar bisa menutup mataku yang sudah tak kuasa kutahan.

-0-

"Hai...! Temari" Sapa temanku yang berambut pink sambil tersenyum riang kearahku. Aku hanya menyunggingkan seulas senyuman lemah sambil membaca buku yang kubawa dengan konsentrasi yang cukup penuh.

Aku tidak begitu konsentrasi dengan ucapan yang dilontarkan oleh Sakura karena aku sedang belajar untuk ulangan kimia nanti. Aku hanya mendengar sekilas tentang si adik kelas yang tampan nan pandai, Sasuke Uchiha. Tampaknya dia juga ikut OSN. Atau tentang gosip yang beredar dari Karin-senpai yang katanya menolak tembakan dari Sasuke. Pokoknya ada saja dech yang bisa digosipin oleh si pinky ini. Sampai-sampai para guru pun tak luput dari gosipannya. Ck ck ck...!

"Ohayou...! Shikamaru-kun, Chouji-kun. Kau meninggalkan pelatihanmu karena ingin bertemu dengan Temari ? Manisnya" Kata Sakura. Beberapa patah kata itu saja sudah langsung membuat konsentrasiku pecah berantakan. Benarkah Shikamaru meninggalkan pelatihannya karena aku ?

"Kudengar ada ulangan hari ini" Kata Shikamaru yang sepertinya cuek juga dibilang seperti itu. Aku juga selalu cuek bila dikata-katai seperti itu sih. Tapi kalo bagi dia, mungkin mustahil kalo dia benar-benar tidak menunjukkan ekspresi sma sekali saat dikata-katain begitu. Aku hanya terus membaca dengan konsentrasi penuh (tapi gak bisa).

"Eh...! Beneran nih" Kata Chouji yang tampaknya cukup terkejut dengan berita tersebut. Shikamaru mendesah malas sambil berjalan menuju bangkunya dan mulai memainkan hapenya. Aneh banget...! Dia aja bisa bersikap dengan tenang seperti itu, bahkan saat ada ulangan dimana materinya benar-benar sulit dan dia belum mendengarkan penjelasan guru. Kalo aku sih, pasti akan panik dan mungkin meminta keringanan untuk mengundurkan ulangan tersebut.

"Heh...! Santai banget dia, bukannya sekarang materinya cukup sulit ?" Tanya Sakura entah pada siapa.

"Entahlah" Kataku asal sambil tetap membaca buku yang berada dalam genggamanku. Aku terus berusaha menyerap setiap kata dalam buku tersebut sampai otakku hampir seperti sebuah disket yang penuh. Aku langsung menutup buku tersebut begitu mengerti kalo mataku sudah lelah dan sepertinya pandanganku sudah mulai buram.

"Lelah banget" Gumamku. Mungkin karena aku tidak begitu banyak tidur dan sepertinya malah kekurangan tidur beberapa hari ini karena padatnya aktivitas. Baik karena akan ada UTS ataupun karena akan ada acara pensi beberapa hari kedepan.

Krriiinnggg...!

Bel tanda masuk pun berbunyi cukup nyaring. Aku bergegas membawa bukuku dan masuk kedalam kelas. Jam pertama adalah kimia, dan sepertinya sensei yang satu ini tidak mau berkompromi lagi tentang ulangan yang sudah dia berikan kemarin.

Masuklah seorang guru dengan rambut bergelombang dan mata merah menyala, Kurenai-sensei.

"Baiklah, anak-anak. Kalian buka buku kalian dan keluarkan selembar kertas. Lekas kumpulkan buku catatan kalian, sensei akan segera membagikan soal" Sensei tersebut langsung berdiri dari tempat duduknya. Aku langsung mengambil buku catatanku dan langsung melemparkannya pada Chouji, yang kebetulan duduk di depanku dan kemudian langsung menyiapkan selembar kertas.

"Nanti contekin aku ya" Kata Chouji sambil nyengir dan menyerahkan selembar soal.

Aku membaca sekilas soal pertama dan kemudian langsung tersenyum penuh kemenangan dan kemudian mengerjakan soal tersebut. Kulirik sekilas Shikamaru yang hanya menguap malas sambil membolak-balik kertas dan membacanya sekilas dengan sebuah tatapan ngantuk. Setelah selesai membaca semuanya, dia hanya tersenyum kecil sambil menulis dengan senyuman yang tak lepas dari bibirnya.

Kayaknya dia benar-benar mengerti dech. Biarin aja, toh aku juga mengerti soal yang sekarang sedang kukerjakan.

Kulihat soal kedua setelah aku menyelesaikan soal pertama dan kemudian dahiku berkerut melihat soal tersebut. Gila...! Aku lupa gimana solusinya. Padahal tadi aku sempat ingat dan mempelajari tentang soal ini. Tapi kenapa aku bisa lupa ya ? Ah...! Lupakan saja soal ini dan beralih menuju soal selanjutnya.

Soal ketiga sih mudah, aku langsung mencorat-coret kertas buramku dan menuliskan hasilnya pada kertas jawabanku yang sepertinya sudah hampir penuh selembar. Kulirik kertas jawaban Shikamaru yang tampaknya masih tersisa setengahnya, padahal dia sudah hampir selesai. Gila juga tuh si nanas.

"Temari, kau nomer dua sudah belum ?" Terdengar bisikan pelan dari arah depanku. Aku berhenti sejenak untuk melihat Chouji yang tampaknya sedang melihat guru yang sedang main laptop tersebut. Dia takut kalo-kalo dia ketahuan nyontek jawabanku.

"Belum" Jawabku sambil berpikir keras tentang soal nomer dua tersebut.

Haaaahhh...! Kenapa hal itu tidak terpikirkan olehku ? Aku selalu ingat bagaimana Shikamaru memulai sebuah tes atau sebuah ulangan. Dia membolak-balik kertas soal sambil membaca soal tersebut sekilas sebelum akhirnya dia benar-benar bisa tersenyum puas dan mengerjakan semuanya dengan sebuah senyuman senang. Kenapa aku benar-benar tak ingat hal itu ?

Dia sedang menverifikasi soal untuk menandai adanya soal yang meragukan atau soal yang sulit dan soal yang mudah. Kemudian dia mengerjakan soal yang meragukan terlebih dahulu baru ke soal yang sulit. Siapa tau aja soal yang meragukan itu memiliki petunjuk tentang jawaban soal yang sulit. Setelah itu dia akan menyisakan soal yang paling sulit untuk dikerjakan dan mengerjakan soal yang mudah. Lalu dia akan tidur (pura-pura) untuk mencari sebuah solusi yang meragukan dari soal yang tersisa dan kemudian menghitung nilainya. Benar-benar strategi yang sangat fleksibel dan menghemat waktu. Apalagi dengan itu kita bisa mengetahui berapa nilai minimal kita dan bisa mempersiapkan perbaikan.

Sepertinya dia juga mencatat hal-hal meragukan tersebut untuk di cek di buku LKS. Dengan begitu mungkin akan tau hasilnya nanti.

Aku semakin mengagumimu, Nara Shikamaru.

TBC

Bingung gak nih ? Pake POV yang langsung rangkap empat kayak gini ? Kalo bingung bias review kok.

Happy Read