Tsunade tampak serius beripikir. Wanita berkuilt putih itu memejamkan matanya dan menghela napas berat. Nukan tidak mungkin apa yang Sakura katakan beberapa saat lalu adalah suatu kebenaran. Walau itu baru sebatas asumsi gadis itu saja tetap saja tidak dapat dibiarkan. Sebenarnya ini sama sekali bukan urusan Tsunade. Tetapi atas nama moral dia tidak bisa begitu saja mengabaikannya.

Dokter ahli saraf tersebut memanggil asistennya yang sedang duduk dilantai merapikan arsip-arsip di kabinet. Shizune segera menghampiri atasan cantiknya. Dilihatnya Tsunade sedang bertopang dagu dan masih memejamkan mata.

"Shizune, tolong cek kebenaran dari hal ini. Hubungi aku secepatnya saat kau menemukan sesuatu disana. Mungkin akan memakan waktu lama tapi berusalah sebaik mungkin".

Disclaimer

Naruto milik Masashi Kishimoto

DLDR

Minatory Scholarship

Chapter 3

Sakura menggerakkan jari-jarinya lincah diatas keyboard laptop berwarna pink yang serasi dengan rambutnya. Sudah pukul sepuluh malam tetapi nampaknya gadis itu masih belum menyelesaikan essay minggu ini. Salahkan Hinata dan anak perempuan Yamanaka yang menyeretnya hang out. Ino Yamanaka adalah teman sekelas Hinata. Dia menjadi akrab dengan Sakura karena Hinata mengajak mereka jalan-jalan bersama. 'Kau harus membuka matamu kearah dunia Sakura, jangan hanya tenggelam dalam buku-buku tebal mengerikan itu!', suara Ino bahkan masih terdengar jelas dikepala Sakura.

Apa salahnya lebih suka dirumah ketimbang menghabiskan uang dan waktu hanya untuk segelas kopi yang bisa dibuatnya sendiri dirumah sih?! Sakura benar-benar tidak mengerti jalan pikir anak-anak populer. Tapi itu lebih baik daripada tidak memiliki teman sesama anak perempuan. Dari Hinata dia bisa belajar bagaimana menjadi wanita anggun, duduk dengan benar di restoran dan menyesap minuman saat dihadapan oranglain. Sedangkan dari Ino dia bisa belajar fashion, mengurus rambut menjadi sesuai dengan bentuk wajah dan berpakaian yang pantas diwaktu serta occasion yang sesuai.

"Masih belum selesai juga Sakura?" suara berat laki-laki membuat Sakura mendongakkan kepala.

Sudah sebulan lamanya semenjak Sakura menjadi murid resmi dokter Senju. Dan mulai saat itu lelaki yang sedang duduk di sofa dan menatapnya sambil tersenyum manis ini mengawasinya. Itachi Uchiha akan berada di flat Sakura tepat pukul delapan malam dan pulang dua jam setelahnya. Sakura sendiri sudah akan berada disana satu jam sebelum Itachi muncul. Membersihkan diri, makan malam dan rehat sejenak sebelum melanjutkan tugasnya sebagai seorang pelajar di kelas khusus.

Sebenarnya Sakura merasa tidak enak harus diawasi saat mengerjakan latihan soal dan essay. Namun kakak dari Sasuke itu bersikeras karena menurutnya memberikan scholarship itu tidak hanya memberikan bantuan dana tetapi juga memberikan pengajaran dan pengawasan. Sakura akui keberadaan Itachi selain membuat dirinya fokus juga sangat membantu terlebih disaat ada persoalan yang tidak bisa ia selesaikan. Itachi juga akan dengan senang hati membantunya memahami teks-teks berbahasa asing tentang ilmu kedokteran.

"Ah, maaf Kak. Karena hari ini Minggu aku jadi seharian bermain bersama teman-teman dan baru mulai mengerjakannya saat Kakak datang," ucap Sakura, ia merasa sangat tidak enak telah membuat Itachi berada lebih lama disana. "Kakak silahkan pulang saja dan beristirahat. Aku janji aku akan menyelesaikannya dan segera tidur" lanjutnya.

Itachi melirik kearah jam tangan wristwatch formal dengan tali kulit berwarna hitam miliknya. "Tidak mengapa Sakura. Kau lanjutkanlah. Toh, hari ini aku membawa mobil" jawab Itachi santai.

"Well, baiklah kalau Kak Itachi berkata seperti itu," gadis itu kembali mengumpulkan fokusnya yang tadi sempat buyar.

Hanya ada suara lembut air conditioner disana. Sakura terlalu larut dalam essay-nya hingga tidak menyadari Itachi sudah tidak berada di sofa melainkan kini berada di dapur flatnya.

"Maaf aku menggunakan dapur dan bahan-bahan yang ada di kulkasmu Sakura," ujar Itachi sambil membawa dua buah mug berisikan coklat panas, "ini minumlah. Supaya energimu kembali!" ia meletakkan mug berwarna merah disamping kanan Sakura.

"Terimakasih Kak. Padahal aku baru saja selesai," kata gadis itu sambil mematikan laptop.

"Ah, kalau begitu aku akan langsung pulang," Itachi mengaduk tas model shoulder bag miliknya, mencari kunci mobil yang tadi ia letakkan disana.

"Eh, sayang sekali coklat panasnya kalau Kakak langsung pergi. Minumlah dulu setelah habis baru nanti Kakak pulang. Ya?" Sakura mengangkat mug merah dan menyesapnya. "Vanila!" pekik Sakura senang.

"Kau suka?" Itachi kembali duduk dan ikut meminum coklat panas buatannya tersebut.

"Hebat. Ini sangat enak. Pernah berpikiran untuk membuat sebuah kafe saja daripada bekerja di perusahan farmasi Kak?" ucap gadis merah muda itu, "tapi akan menyia-nyiakan otak sih ya" lanjutnya sambil tertawa.

"Hahaha. Waktu kecil Sasuke pernah mengatakan seharusnya aku menjadi juru masak karena aku memang suka memasak. Menurutku itu tidak buruk, tapi Ayah malah mengatakan itu adalah cita-cita yang konyol," Itachi mengangkat bahunya dan kembali meminum minumannya.

"Jadi Kakak menjadi microbiologist adalah karena keinginan orangtua?"

"Tidak. Ayah ingin aku menjadi penerusnya menjadi salah satu CEO di perusahan grup Uchiha. Tapi aku tidak menyukai kelas bisnis dan lebih tertarik pada sains. Walau pada akhirnya aku tetap diberikan kepercayaan memegang perusahaan." Ujar pemimpin perusahaan farmasi itu sambil meringis.

Sakura mengaduk mugnya dengan kayumanis yang dijadikan Itachi sebagai garnish. "Tumben Kakak mengenakan tas kecil. Biasanya selalu membawa briefcase," gadis itu baru menyadari tidak ada Michael Kors hitam yang biasa dibawa Itachi.

"Hm… Hari ini kebetulan aku juga pergi bersama beberapa teman, jadi tidak perlu membawa file, kertas atau buku," mata Itachi terlihat berkilat.

Sakura baru memperhatikan penampilan Itachi hari ini. Itachi tidak mengenakan blazer ataupun jas, hari ini ia benar-benar tampak kasual. Itachi mengkombinasikan kaos putih bergaris-garis hitam dan trousers berwarna abu-abu muda. Seketika Sakura merasa sangat jelek. Dia hanya menggunakan piyama lengan panjang berbahan katun berwarna orange pudar karena terlalu sering dicuci. Sakura mencatat dalam hati untuk membeli banyak kaos untuk tidur yang layak karena tampaknya setiap malam dia harus dilihat si sulung Uchiha.

"Hm, kencan ya Kak? Dengan Kak Izumi?" meski Sakura tahu Itachi mempunyai kekasih tetapi tidak sekalipun dia pernah berjumpa dengannya. Pasti wanita yang sangat cantik, ucap Sakura dalam hati.

"Izumi? Ah, tidak. Aku bilang beberapa teman Sakura. Teman laki-laki kok," Sakura dapat melihat raut wajah Itachi tampak tidak nyaman membicarakan hal pribadinya. Tapi Sakura harus mencoba lebih keras untuk dapat menjadi akrab dengan Itachi.

"Benarkah? Tapi Kak Itachi seperti bukan jenis orang yang memiliki banyak teman lho. Penampilan memang bisa menipu ya…" Sakura berkata riang, dia berusaha keras agar suara yang ia keluarkan terdengar alami.

"Ah, memang tidak banyak. Hanya itu-itu saja," jawab Itachi. Dulu saat ia di umur seperti Sakura, ia sudah berada di semester akhir kuliah strata pertama. Tentu saja temannya sedikit, Sakura membatin.

"Oh, yang hari ini bertemu itu teman semasa kuliah?" pelan-pelan Sakura, jangan sampai kau terdengar seperti orang yang ingin tahu kisah pribadi oranglain, jeritnya dalam hati.

"Bukan," Itachi menjawab cepat, "sudah semakin larut Sakura. Sebaiknya aku pulang. Kita harus beristirahat, besok Senin".

Itachi berdiri dari duduknya. Memutar kunci mobil di jari telunjuk tangan kanannya dan menyampirkan tas dibahu sebelah kiri. Sudah hampir jam sepuluh tiga puluh malam. Sakura ikut berdiri dan mengantarkan Itachi ke depan pintu flatnya. Sebelum laki-laki itu melangkah keluar ia berbalik menghadap Sakura. Mata dengan iris sewarna jelaga menatap Sakura dengan tatapan yang sulit diartikan. Sedih? Menyesal? Kecewa? Sakura menebak-nebak.

"Yang terpenting adalah jangan sampai berteman dengan seseorang yang jahat, Sakura. Selamat malam," Itachi memasang senyum tertahan. Menyisakan perasaan yang berkecamuk didalam dada Sakura.

.

.

.

Ponsel yang berada disaku jas Sakura bergetar. Terpaksa gadis tersebut melepaskan genggaman tangan teman pirangnya. Hari ini Ino tampak cantik dengan rambut yang diikat seperti Ariana Grande, penyanyi idolanya. Sakura memastikan lagi nama yang baru saja mengiriminya pesan singkat. Uchiha Itachi. Tidak biasanya. Selama ini Itachi selalu menelponnya bila ada sesuatu. Terlebih isinya meminta Sakura untuk menunggu sebentar di gerbang sekolah sebelum pergi ke rumah sakit hari ini.

"Ino, kau pergilah ke halte bus duluan. Aku harus menunggu Kak Itachi sebentar," ujar Sakura.

Ino menggeleng pelan, membuat kuncirnya bergoyang ke kanan dan kiri. "Hinata mengantarkan si pirang bodoh ke tempat mentornya. Dan sekarang kau akan meninggalkan aku karena sponsormu? Tidak Sakura. Aku akan menunggu sampai kau selesai berbicara dengannya lalu kita akan pergi ke halte bersama. Itu keputusanku!" seru Ino sambil berkacak pinggang.

"Hahaha baiklah, baiklah. Tapi jangan protes kalau kau telat tiba di rumah ya!" Sakura menggeleng heran. Naruto disebutnya sebagai pirang bodoh, bukankah rambutnya juga berwarna pirang?!

"Tidak akan! Siapa yang akan protes bila bisa melihat wajah tampan Uchiha Itachi?!" Ino tertawa seraya kembali menggandeng tangan Sakura ringan.

Sudah lima menit berlalu tapi mobil Itachi belum tampak sama sekali. Itachi tidak pernah telat dan sangat membenci orang yang tidak tepat waktu. Sakura mengarahkan pandangannya ke kanan dan kiri gerbang sekolah tapi tidak ada satu mobil pun yang lewat. Hanya ada perempuan dengan rambut berhelaian coklat panjang yang tergerai dengan indah. Dress dengan model warp berwarna hijau tosca melilit pinggangnya yang ramping dengan sempurna. Ketika ia tepat berada di depan gerbang sekolah, Sakura dapat melihat tahi lalat dibawah mata sebelah kanan yang membuat wajahnya terlihat semakin cantik. Wanita itu berjalan perlahan. Dan berhenti tepat setengah meter dari tempat Sakura dan Ino berdiri.

"Siapa diantara kalian yang bernama Haruno Sakura?" ucapnya dengan nada mengintimidasi.

"Sa, saya Haruno Sakura…" jawab Sakura pelan. Entah mengapa dia merasa tertekan dengan tatapan tajam wanita didepannya.

Wanita tadi melangkahkan kakinya semakin mendekati Sakura. Suara sepatu peep toe berwarna nude yang dipakainya terdengar seperti dihentakkan. Dengan kasar ia mencengkram wajah gadis remaja itu. Jari-jarinya yang lentik menekan keras pipi Sakura.

"Hei, apa-apaan kau nona?!" Ino berteriak kencang dan mencoba menarik tangan wanita itu menjauh dari Sakura. Tetapi justru tangan Inolah yang ditepis wanita tersebut. Membuat Ino mengaduh kesakitan. Melihat itu Sakura mengayunkan kaki kanannya mencoba menjatuhkan wanita yang menyerangnya dengan serangan tepat di bagian kaki. Sakura terkejut karena wanita itu dengan refleks mundur kebelakang dan melempar wajah Sakura yang tadi digenggamnya.

"Bukan hanya kau yang pandai beladiri, Sakura. Lagipula, dengan jadwal kegiatanmu sekarang, dapat kupastikan kau hanya bisa latihan sebentar sebelum bersiap berangkat ke sekolah," ujarnya tepat sasaran.

"Dengar, aku hanya ingin mengatakan berhentilah mengganggu I-ta-chi-ku!"

Kini Sakura yakin bahwa wanita didepannya adalah kekasih dari Uchiha Itachi, Uchiha Izumi. Mereka satu marga. Mungkin masih sepupu jauh, Sakura tidak begitu yakin. Seperti yang telah Sakura duga sebelumnya. Izumi pastilah wanita yang cantik dan cerdas. Dapat membuat seorang Itachi menyerahkan hatinya pastilah buakn wanita sembarangan.

"Aku tahu dia setiap malam selalu dan selalu saja ada bersamamu bukan? Di flat kecilmu? Sejak kau datang kemari Itachi tidak pernah lagi menemuiku. Dia tidak pernah lagi ada waktu untukku!" Izumi terlihat hampir menangis. Dia mengepalkan tangannya erat, menahan emosinya.

"Anu Kak Izumi… Aku tidak pernah…"

"Sudahlah. Toh, tadi malam semuanya sudah berakhir," Izumi memotong penjelasan Sakura dengan perkataan yang ambigu.

"Berakhir? Maksud Kakak?!" Sakura mengernyit, tidak paham dengan makna perkataan Izumi.

"Hari Minggu kemarin aku mengajaknya kencan. Tapi dia berkata tidak bisa karena harus bertemu dengan temannya yang bahkan aku tidak tahu siapa. Aku mengubahnya jadi makan malam romantis. Aku tahu jadwalnya setiap hari. Dan di malam hari ia harus mengawasimu. Aku percaya dia berada di flat yang kau tempati sampai jam sepuluh malam setiap malamnya. Jadi aku mengubahnya kembali, menjadi kencan menonton midnight movie di bioskop. Tapi sampai filmnya dimulaipun dia tidak datang! Aku menunggunya tapi dia tetap tidak datang! Aku pulang dan mengiriminya pesan bahwa aku ingin mengakhiri hubungan kami!" Izumi menggigit bibirnya, menahan tangisan yang ingin keluar.

"Tapi tadi Kak Izumi kan yang mengirimiku pesan melalui ponsel Kak Itachi? Jadi kalian sudah bertemu?" Sakura bertanya pelan. Bila mereka sudah bertemu kemungkinan Itachi sudah berusaha baikan dengan Izumi, itulah yang Sakura harapkan.

"Ya, tadi pagi kami bertemu. Aku memintanya memilih. Kau ataukah diriku. Tebak dia berkata apa huh Sakura?" Izumi memicingkan matanya, Sakura hanya bisa menggeleng.

"Dia berkata bahwa Sakura bukanlah pilihan. Dia harus menjaga Sakura dan itu mutlak!" Izumi mendengus keras setelah mengatakannya. "Cih, aku tidak tahu sejauh mana yang sudah kau berikan pada Itachi, jalang kecil. Tapi remaja sepertimu hanya akan tumbuh sebagai sampah!"

Sakura tidak melihatnya. Izumi dengan cepat melakukan tendangan pisau kaki. Ujung hak sepatu Izumi sudah berada didepan hidung Sakura. Ino hanya bisa bersyukur dalam hati melihat kaki Uchiha Izumi ditahan oleh seorang Uchiha lain.

"Sasuke! Sedang apa kau disini?" Izumi menarik kakinya dari tangan Sasuke.

"Ini sekolahku Izumi. Seharusnya aku yang bertanya padamu sedang apa kau hah? Membuat keributan di gerbang sekolah!" ujar Sasuke lalu mendecih pelan, "Syukurlah penjaga sekolah sedang ke toilet! Kalau dia ada disini sekarang kau sudah dilaporkannya ke pihak berwajib Izumi!"

Sakura tercengang. Bukan karena ia baru saja ditolong oleh adik dari Itachi. Tetapi fakta bahwa Sasuke bisa berbicara lebih banyak dari biasanya membuatnya sadar bahwa seseorang seperti Sasuke bisa terbuka bila sudah nyaman dengan seseorang.

"Dan kau! Mengapa tidak menemui mentormu hah?" Sasuke membentak Sakura yang masih kaku.

"Hei pantat ayam! Jangan seenaknya memarahi Sakura ya! Wanita ini yang tiba-tiba datang dan menyerang kami tau!" Ino berdiri diantara Sasuke dan Sakura. Lalu menarik Sakura menjauh.

"A, aku permisi. Mentorku sudah menunggu." Ucap Sakura sambil berlalu.

Sasuke menatap kekasih Kakaknya yang sedang menyisirkan tangan di rambut panjangnya. Sambil menghela napas Sasuke menarik paksa tangan Izumi. "Ikut aku Izumi. Jelaskan dengan baik atau kau tidak akan bisa memakai sepatu berhak tinggi lagi!" geramnya.

.

.

.

Ting Tong

Bel flat Sakura berbunyi. Baru jam tujuh tiga puluh, Itachi tidak pernah datang secepat ini. Dia selalu tepat waktu. Tidak pernah terlalu cepat atau lambat. Sakura mengambil cardigan panjang dan memakainya diatas gaun tidur baby doll. Sebelum membuka pintu Sakura sudah memutuskan dalam hati. Dia akan meminta Itachi untuk tidak lagi mengawasinya secara langsung seperti ini. Dia bisa hanya memantau Sakura lewat panggilan telepon atau video call. Tidak perlu sampai datang. Dia menolak tinggal di rumah keluarga Uchiha untuk menghindari hal-hal seperti kecemburuan Izumi, demi Tuhan!

Sakura membukakan pintu flatnya dengan enggan. Dia hanya membuka sedikit celah di pintu dan mengeluarkan kepalanya sebagian.

"Kalau kau membuka pintu hanya sebesar itu bagaimana caranya aku bisa masuk, bodoh?!"

Emerald Sakura membesar. Bukan Itachi yang datang melainkan Sasuke. Mengapa dia repot-repot kemari? Menceramahinya tentang jangan mengganggu hubungan Itachi dan Izumi? Oh tidak sudah cukup dia berurusan dengan Uchiha hari ini. Sasuke mendorong pintu yang ditahan Sakura dengan keras.

"Sopanlah sedikit dengan orang yang bertamu!" bentaknya.

Sakura mengerjapkan matanya. Dihadapannya Sasuke sedang mengamatinya dari atas hingga bawah tubuhnya.

"He, jadi seperti ini penampilanmu menyambut Kakakku jika ia kesini? Pantas saja Izumi marah." ucap Sasuke sambil tersenyum meremehkan.

Sakura tidak menyadari bahwa cardigan yang ia pasang tidak sempurna menutupi tubuhnya. Akibatnya bahunya masih terlihat dan tentu saja gaun tidurnya tercetak jelas ditubuhnya. Dibawah gaun satin tersebut bahkan Sakura tidak memakai bra.

"Tuntu saja tidak! Ini bukan seperti yang kau pikirkan Sasuke! Kau lihat aku membuka pintu dengan kecil dan hanya melongokkan kepalaku tadi? Kalau Kak Itachi yang datang aku akan segera menyuruhnya pulang! Aku tidak ingin Izumi mejadi lebih salah paham lagi!" seru Sakura sambil menutupi tubuhnya dengan cardigan hitamnya.

Sasuke duduk dikarpet lalu mulai mengeluarkan buku-buku yang berada di ransel biru tua miliknya dan meletakkannya diatas mejaj. Tidak peduli dengan Sakura yang mengomel, mempertanyakan alasan mengapa bungsu Uchiha itu berada disana.

"Aku tidak ingin berada disini Sakura. Tapi ini perintah Itachi, lebih tepat sebagai permohonannya," ujar Sasuke. Ia sudah mulai mencorat-coret buku dihadapannya. Mengerjakan tugas yang juga Sakura miliki.

"Lalu mengapa kau tetap ada disini dan seenaknya memakai mejaku untuk belajar, Sasuke?! Jangan abaikan aku dan jawablah!" Sakura benar-benar geram dengan tingkah seenaknya Sasuke.

"Kau tidak mendengarkanku? Itachi memintaku…" Sasuke masih tetap terfokus pada bukunya.

"Kau bisa menolaknya!" Sakura menghentakkan kakinya kesal.

"Ibuku mengancamku. Selamatkan hubungan Itachi dan Izumi atau uang sakuku melayang!" kali ini ia mengangkat matanya dan menatap Sakura yang tengah menggembungkan pipinya.

"Sulit mendapatkan bus kalau kau pulang nanti!" Sakura berusaha mengusir Sasuke.

"Aku membawa mobil…" jawab Sasuke tenang.

"Kau masih lima belas tahun. Tidak boleh mengendarai mobil!" Sakura kembali menghentakkan kakinya.

"Aku akan pulang jam sepuluh Sakura. Tidak ada pemeriksaan surat izin mengemudi pada jam-jam itu…" Sasuke sudah mengerjakan separuh soal pilihan ganda yang ada.

"Haruno Sakura! Mulailah kerjakan pekerjaan rumahmu atau aku akan semakin malam pulang dari tempatmu!" kini Sasuke menaikkan suaranya. Kesal karena sedari tadi gadis merah jambu itu tidak mau diam dan membiarkannya mengerjakan soal dengan tenang. "Atau kau sebenarnya mengharapkan Kakakku lah yang datang dan mengawasimu huh?! Aku juga tidak sudi berada disini, mengerti?! Jadi diamlah dan kerjakan saja tugasmu!"

Sasuke tidak mengerti akan Kakaknya, Uchiha Itachi. Sakura secara akademik tertulis bahkan lebih baik dari Sasuke. Buat apa mengawasinya agar belajar bahkan sampai meminta dirinya menggantikan?! Sasuke melihat Sakura akhirnya duduk diseberangnya dengan wajah bersungut-sungut. Membuka bukunya dan mulai mengerjakan dengan tenang.

Sakura memang mengharapkan Itachi setidaknya datang malam ini. Setidaknya sebelum ia meminta Itachi tidak usah datang lagi, dia akan bertanya pada Itachi apa maksud perkataannya pada Izumi. Tapi dia belum siap untuk mengkonfrontasi Itachi. Tidak, tidak sekarang.

TBC

Author's note

Selamat hari Senin semua… Terimakasih pada semua yang telah mendukungku yaa… Aku harap kalian suka chapter ini… Chapter depan akan masuk ke perkembangan hubungan SasuSaku… Aku tidak sabar membuatnya hihihi