Hai semuanya! ^o^
Maaf banget ya harus nunggu berapa minggu buat menyelesaikan chap terakhir ini.
Mohon maklum karena penulis harus prepare buat UN
Syukurlah semua itu telah kulewati jadi sekarang bisa mulai nulis lagi :D
Selamat membaca ^w^
A Letter to Unknown Chapter 4
Disclaimer: Tite Kubo
Di saat orang yang paling dinantikan sahabatnya datang, Ichigo justru merusak semua.
Padahal selama ini, ia tahu benar bahwa Rukia sangat merindukan Hitsu.
Tapi apakah ia akan membantu mempersatukan mereka kembali atau ia memenangkan perasaannya?
Let's read it!
"Hitsu.. tolong berhentilah. Ini bukan dirimu!"teriak Rukia yang sudah tidak kuat berlari dan ia pun terduduk pasrah.
Hitsu menghentikan langkahnya. Perlahan ia mulai menyadari ini memang bukan dirinya. Mungkin rasa cemburu telah membutakan perasaannya. Ia lalu berbalik dan mendekati Rukia yang tengah terduduk. Hitsu mengulurkan tanganya pada gadis yang selalu membuat hatinya berdebar.
"Maaf Rukia san. Seharusnya aku.."
"Sssts, sudahlah aku mengerti Hitsu. Kamu tahu aku bisa saja menjadi buta gara-gara menangisimu terus. Sebelumnya belum pernah aku merindukan seseorang seperti ini. Hitsu.. aku.."ucap Rukia yang terhenti oleh tangis.
Hitsu lalu mendekap gadis dihadapannya itu dan pecahlah sebuah dinding yang selama ini membuat hadirnya rindu. Bila tidak karena ayahnya mengalami kecelakaan hingga koma, ia tidak akan pulang. Mungkin ini memang takdir yang digariskan Tuhan.
"Kenapa kamu kembali? Katanya kamu akan kuliah di sana selama 5 tahun dan tidak akan pulang sebelum kuliahmu selesai?"
"Ayahku koma. Ayah kecelakaan setelah pulang dari mengantarku ke bandara. Ibu sengaja tidak memberitahuku karna takut mengganggu kuliahku. Tapi mungkin ibu sudah tidak kuat lagi menyimpan beban ini sendirian."
"Aku turut prihatin. Aku ingin sekali menjenguk ayahmu."
"Boleh saja. Tapi lokasi rumah sakitnya jauh dari sini, mungkin butuh 5 jam perjalanan. Kamu juga harus sekolah kan? Kamu berdoa saja semoga ayahku cepat sembuh itu sudah lebih dari cukup,"ucap Hitsu sambil tersenyum.
"Hmm.. baiklah. Aku akan berdoa setiap hari agar ayahmu cepat sembuh."
"Aku antar pulang ya."
Rukia menjawabnya dengan anggukan. Ichigo yang memandang mereka dari kejauhan tersenyum pahit.
"Mungkin ini memang yang terbaik."
"Hitsu"
"Iya,Bu"
"Bagaimana kabar Ichigo temanmu itu?"
"Ichigo? Siapa dia?"
"Kamu tidak mengenalnya? Jangan bercanda!"
"Tidak, Bu."
"Seminggu yang lalu dia datang ke sini menanyakan tentang kamu. Katanya dia teman kecilmu."
"Teman kecil? Dia bertanya apa saja?"
"Banyak sekali. Terutama tentang awal kamu mengenal Rukia. Dia juga yang menyarankan ibu untuk memberitahumu kalau ayahmu sakit. Saat ibu benar-benar bingung masalah biaya rumah sakit ayahmu, ia meminjami ibu uang."
"Jadi ibu kesulitan uang untuk membiayai rumah sakit ayah? Kenapa tidak mengatakan pada Hitsu?!"
"Ibu hanya ingin kamu focus kuliah. Beasiswa itu datangnya juga tidak mudah. Kamu kerja keras belajar sampai larut untuk mengejar beasiswa itu. Jangan sampai kuliahmu drop gara-gara masalah ini."
"Ibu.."ucap Hitsu lalu memluk ibunya sambil menangis. "Apa artinya aku kuliah mengejar mimpiku jikalau ibu di sini sangat membutuhkanku."
"Tidak apa-apa, Hitsu. Ichigo telah membantu banyak. Ia juga pernah menggantikan ibu berjaga di rumah sakit."
Hitsu melepaskan pelukannya dan berkata," Ichigo? Ichigo siapa, Bu?"
"Ichigo siapa? Kamu ini bagaimana?! Dia itu temanmu! Masak kamu sudah lupa!"
"Ibu aku tidak pernah melupakan temanku. Aku ingat siapa saja nama temanku di masa kecil dan tidak ada yang namanya Ichigo. Ah aku tahu. Hitsu pergi dulu ya bu."
Hitsu pun pergi menemui Rukia.
"HITSU!"
"Hai! Apa kabar?"
"Baik. Baik banget malah. Ada apa ke sini?"
"Oh, jadi nggak boleh nih?"
"Hehe. Ada apa sih Hitsu?"
"Kamu kenal Ichigo?"
"Dari mana kamu kenal dia?"
"kok kamu malah balik nanya?"
"Maaf aku belum cerita. Selama kamu pergi dia yang selalu menghiburku. Dia tetangga baruku dan karna kehadirannya aku nggak pernah nangis lagi gara-gara.."
"Gara-gara aku?"tanya Hitsu sambil tersenyum ge-er.
Rukia hanya mengangguk.
"Jadi kamu menyukainya?"
"APA?! Enggak sungguh! Dia sahabatku."
"Dia yang membantu ibuku selama ayah dirawat di rumah sakit. Dia juga yang menyuruh ibuku untuk memintaku kembali. Apa kau bisa mengantarku menemuinya?"
"Benarkah?! Kapan dia ke rumahmu?"
"Seminggu yang lalu. Apa bukan kamu yang memintanya?"
"Tidak. Aku tidak pernah memintanya. Aku saja tidak pernah mengajaknya ke rumahmu. Ichigo apa-apan kau ini!"
"Ya sudah tolong antarkan aku padanya."
Mereka pun pergi ke rumah Ichigo yang hanya bersebelahan dengan rumah Rukia. Di sana terlihat sepi seperti sudah ditinggal penghuninya.
Tok..tok..tok..
"Permisiiii. Ichigo kun! Ichigoooo…"
"Kenapa nggak tekan belnya aja?"
"Itu rusak. Ichigo pernah bilang begitu. Katanya dia tidak bisa memperbaikinya. Lagi pula dia malas memanggil tukang."
Tok..tok..tok..
"Ichigooo"Hitsu dan Rukia saling berpandangan, mereka merasa ada yang ganjil. Rukia mencoba mengetuk pintu dan memanggil Ichigo lagi. "Ichigooo! Tanteee! Ichigooo!"
Tok..tok..tok
"Ichigoo.. ini aku Rukia! Kau ada di dalam? Nggak usah mengerjaiku. Ayo keluar!"
"Sepertinya memang tidak ada orang. Kau yakin dia memang tinggal di sini."
"Hitsu, selama ini aku berbicara pada siapa? Aku sering mengirimkan surat lewat balon untuk.."ucap Rukia terputus, hampir saja dia mengatakan hal yang seharusnya menjadi rahasia.
"Untuk siapa?"
"Emmbb.. Ya yang jelas aku sering ke rumahnya. Entah itu main, curhat, atau bantuin dia nyiram bunga-bunga kesayangannya itu."
"Rukia san, lihat ada surat."
Dear : Rukia
Hai jelek!
Mungkin ini pertama kalinya kamu dapet surat dariku. Aku bahagia melihat kamu sudah menemukan senyummu kembali. Kurasa tugasku selesai. Jangan sedih ya, gadis cengeng! Kan udah ada Hitsu yang ada di sampingmu.
Aku bahagia menjadi sahabatmu apalagi kejutan saat ulang tahunku kemarin benar-benar yang paling menakjubkan. Biasanya aku tak pernah dirayakan seperti itu. Hehe :p (maaf ya kalau agak norak). Tapi aku jujur.
Sekarang Hitsu telah kembali dan berganti aku yang pergi. Jadi, kamu jangan nulis surat buat dia lagi! Kan dia udah ada di dekatmu. Tulis buat aku dong! Awas ya sampai nggak nulis! Hehe
Meski kayaknya mustahil tapi aku akan tetap membacanya. Entah kita dalam tempat atau dimensi yang berbeda. Aku akan selalu mendengarkanmu
Rukia pun berlari masuk ke rumahnya. Ia menuju kamarnya dan menyambar selembar kertas dan pena.
Dear: Ichigo
Hai cowok menyebalkan!
Kenapa kamu menghilang? Kenapa kamu tidak pamit kalau pergi? Apa kamu masih menganggapku sahabat? Aku marah!
Maksudmu apa dengan semua ini?! Ini membuatku bingung. Kenapa kamu harus pergi? Beri tahu aku alasannya!:'(
Bagiku kamu memang sahabat terbaik. Saat aku putus asa kamu merengkuhku dan mendekapku. Aku benar-benar rindu salam hangat dari sahabat sepertimu. Meski kamu sering mengejekku tapi kenapa kamu begitu baik padaku?!
Makasih Ichigo. Kamu udah mengembalikan Hitsu.. Apa yang harus aku lakukan untuk membalas semua kebaikanmu? Bagaimana bisa aku membalasmu jika kamu menghilang?
Ichigo, mungkin dengan terus mengirimimu ini kita bisa impas. Ichigo, aku sangat .. amat sangat.. Ratusan orang yang menjadi temanku tak akan bisa menggantikan seorang dirimu.
Sahabat sejati adalah orang yang datang dalam keadaan susah atau pun senang.
Dia tidak akan pernah menilai seberapa besar ia bekorban.
Satu hal yang penting buatnya. Itu adalah kebahagiaanmu ^_^
RnR please! ^w^
