Title: Tuan Tampan Dan Nona Pemalu
Author: Firenze Firefly
Rating: T
Characters/Pairings: Sasuke-Hinata
Genre: Romance
Warnings: AU. Agak OOC. Selamat membaca cerita ini sebagaimana saya menulisnya. Cerita ini hanya diperuntukkan untuk hiburan semata.
Summary: Naruto terkekeh. "Demi kamu, lho, dia sampai bela-belain tidak istirahat setelah shift malam. Makanya, nanti sambutlah Mister Sasuke Uchiha dengan tangan terbuka lebar.". "Itu artinya memeluk, ya, Pa?" Gaara menimpali ayahnya
. AU

Disclaimer: Sekali lagi, Naruto bukan milik saya.

Chapter 4

.

"Sista, sabun di rumah kita kan tidak kurang-kurang," seru Hanabi takjub. Gadis muda itu melongo melihat banyaknya sabun, baik yang liquid maupun solid, dari tas karton di kamar kakaknya.

Hinata tersenyum masam. Dia merebahkan diri di ranjang, penat. "Aku tidak beli," ujarnya lemah.

Hanabi melirik sang kakak dengan mata usil. "Ah, dari penggemar, ya?"

Hinata tertawa. Hanabi hanya terpaut beberapa tahun darinya. Sama seperti Hinata, si bungsu ini juga kalem dan lembut, namun lebih ceria beberapa level di atas si sulung. Daripada mirip Hinata, si adik ini jauh lebih mirip dengan sepupu mereka, Neji. Hanabi tidak memiliki rambut indigo. Seperti Neji, rambutnya coklat seperti sungai sehabis banjir. Sama seperti keluarga Hyuuga lain, mata mereka unik dan menyeramkan.

"Orang mana, Sist?" cecar Hanabi penasaran. Ketika Hinata pura-pura tidur, dia naik dan menggelitik kakaknya.

"Adik Presdirku," tak tahan dengan geli di pinggangnya, Hinata menyerah. Setelah tertawa sampai lemas, dia menjawab Hanabi.

"Wah, hebat," kata Hanabi. "Bisa bertemu tiap hari, dong."

"Tidak, dia kerja di tempat lain," bantah Hinata.

Hanabi tercenung. "Calon pacar atau sudah pacaran, nih? Kok tidak bilang-bilang, sih?" Hanabi setengah menggerutu.

Muka Hinata semerah sabun batangan yang baru dikeluarkan Hanabi. "Ki-kita teman, kok."

"Teman tapi mesra atau teman-yang-belum-mesra?" kejar sang adik, menyudutkan kakaknya yang tergagap.

"Teman biasa!" balas Hinata, lebih keras dari yang dimaksudnya.

Hanabi cekikikan. "Pasti teman tidak biasa. Habis, kau sampai gagap begitu, Sista," tunjuk Hanabi.

Hinata bangga memiliki adik yang cerdas, tapi kadang kala Hanabi terlalu cerdas sampai-sampai susah mau menyembunyikan sesuatu dari si bungsu itu. "Yah, tidak biasa, sih," kata Hinata mengaku seraya memainkan renda bantal. "Orangnya tidak biasa. Kira-kira tiga tahun lebih tua dariku. Rambutnya tidak lumrah, seperti pantat ayam di peternakan yang pernah kita kunjungi." Hanabi menatap tidak percaya. "Kelakuannya juga tidak lazim. Bisa-bisanya titip sabun ke kakak laki-lakinya. Celakanya, itu Presdirku. Aku malu. Kalau lantai punya mulut, mau, deh, aku terjun," curhat supervisor muda itu.

"Nah, karena tidak lazim itu makanya jadi luar biasa," celetuk Hanabi tergelak.

"Apanya yang luar biasa?"

Kemunculan Mister Hyuuga membungkam gelak tawa mereka. Sang ayah menaikkan sebelah alis, tangannya masih di kenop pintu yang terbuka.

"Ayah!" pekik mereka, terlambat.

"Para gadis, malam sudah larut. Kalau tawa kalian membangunkan tetangga, kalian yang akan Ayah suruh menemui pak polisi yang datang karena komplain tetangga yang terganggu," kata sang ayah kalem.

"Ayah, tawa kami hanya satu oktaf. Aku lagi bercanda sama Kakak, nih," balas Hanabi, tidak gentar dengan ancaman main-main ayahnya. Di depan ayah mereka yang sangat konvensional, Hanabi kembali memanggil Hinata 'Kakak', bukan 'Sista'.

Tentu saja tak akan ada tetangga yang merasa terganggu seberisik apa pun suara dari rumah Hyuuga, karena area rumah itu luas. Tetangga terdekat pun masih beberapa meter dari gerbang.

"Makin besar, kalian makin berisik," imbuh pria itu. Ada seulas senyum di wajah tampannya.

Hinata nyengir.

"Nona-nona muda, tawanya jangan keras-keras, terdengar dari lantai bawah," setelah memperingatkan dan mengucapkan selamat malam, Mister Hyuuga menutup pintu dan turun.

"Ayah tidak segalak saat kita masih kecil," tukas Hinata pelan, dalam hati membandingkan sekarang dan bertahun-tahun lalu.

Hanabi mengangguk. "Maklum, kita tambah besar, sih. Eh, tapi Ayah tetap tidak membolehkanku pacaran, lho."

"Itu karena sebentar lagi kau ujian nasional," sahut Hinata. Dia bangkit dan membereskan sabun-sabun yang berserakan di karpet.

"Kak Neji juga galak. Mungkin kalau tua, dia bakal seperti Ayah," cetus Hanabi sambil memandang langit-langit.

"Mungkin," balas Hinata.

"Eh, Kak, kalau Kak Neji tahu ada yang mendekatimu, kira-kira apa yang bakal dilakukannya?" kata Hanabi tiba-tiba. "Apa dia akan menguji kelayakan adik Presdirmu untuk jadi kandidat pacarmu?"

Hinata membeku. Oh oh, para pria Hyuuga memang menakutkan.

Hanabi tidak bisa menemani Hinata ke taman hiburan yang dituju perusahaan sang kakak. Ada jadwal try out di cram school-nya. Tidak mungkin mengajak Neji karena dia keluar kota. Lebih mustahil lagi mengajak ayahnya. Karena itu Hinata sendirian.

Ada dua bis besar yang disediakan. Bis itu berangkat dari depan rumah Itachi.

"Siapa yang kau ajak?" tanya Iruka. Manager Quality Control itu pria yang sangat menyenangkan. Orangnya masih muda, berkulit sawo matang dan tinggi. Wajahnya biasa saja namun tidak membosankan. Ada segaris luka di hidungnya. Jika ditanya kenapa warna kulitnya kecoklatan, dia menjawab bahwa neneknya berasal dari daerah tropis. Banyak yang rela merogoh kocek dalam-dalam supaya bisa memiliki kulit sepertinya.

"Tidak ada, semuanya sibuk," jawab Hinata, tersenyum kecut.

"Nanti duduk di sebelahku saja," ujar Iruka menawarkan.

"Haik, terima kasih." Hinata tersenyum sumringah.

"Sama-sama," Iruka ikut tersenyum. Senyumnya makin lebar ketika sekelebatan merah berlarian dekat kakinya. "Gaara, tumben tidak pakai baju merah," sapanya.

"Kata Papa, biar nanti tidak panas," balas Gaara datar. "Iya, kan, Pa?" celetuknya nyaring, minta persetujuan.

Naruto berlari kecil. Dia membawa tas bepergian besar. Denimnya membungkus kakinya dengan sempurna. Kaus oranye yang dipakainya tampak menyala. Dari seberang pun tak akan ada yang tidak melihatnya. Naruto ini, batin Hinata, memiliki banyak kasus yang unik. Penampilannya nyentrik. Jika melihat pipinya, orang akan ingat dengan rubah. Warna pakaian yang dipakainya ngejreng, namun sangat serasi dengannya. Apa yang aneh bila dikenakan orang lain itu seolah memang diciptakan hanya untuknya.

"Papa," Gaara mengulurkan tangan. Naruto langsung menyambutnya dan menggendongnya, paham yang dimintanya.

Hinata kaget setengah mati. Dia megap-megap. "Dia…anakmu?" tanyanya tak percaya.

Naruto nyengir lebar. "Yap."

"Aku anak Papa," tukas Gaara menimpali. Mata hijaunya balas menatap Hinata.

Gadis itu tercengang. Gaara, bocah ini, kira-kira usianya lima tahunan. Wajahnya berbeda sekali dengan Naruto. Gaara berambut merah menyala, matanya hijau. Posturnya kecil. Bocah itu kebalikan Naruto yang ceria dan ceriwis. Mungkin gen ibunya lebih dominan.

"Kau sudah menikah?" tanya Hinata ragu.

Iruka yang mendengarnya tertawa. "Sini, aku bantu membawakan tasmu," ujarnya.

"Trims, Iruka-san. Susah membawa tas sambil menggendong Gaara. Kau tambah berat sih," kata Naruto. Dengan penuh sayang dia mencium pipi Gaara.

"Aku tidak berat, Papa," protes si anak. Tak urung dia tersenyum geli ketika Naruto menggelitik pipinya.

Naruto menoleh pada gadis berbaju ungu muda yang tercengang itu. "Tidak, aku belum menikah," jawabnya sejurus kemudian. "Aku masih single, lho. Masih bujangan, bachelor, available," tukas Naruto bergurau.

Mungkin saja bocah laki-laki itu anak Naruto dengan pacarnya, batin Hinata, masih kaget. Sepertinya tahu apa yang dipikirkan rekan kerjanya, Naruto berbisik, "Aku mengadopsinya."

Mulut Hinata membentuk huruf 'O'. "Pantas, kok," ujarnya tulus.

Naruto tersenyum.

Selama berteman, Naruto tidak pernah menyinggung soal statusnya sebagai ayah. Rasa-rasanya Hinata pernah mendengar nama Gaara disebut, tapi tidak pernah mengira bahwa itu nama anak adopsi Naruto. Meski begitu, Hinata tidak berbasa-basi saat mengatakan Naruto pantas jadi ayah Gaara. Dari gerak-gerik dan bahasa tubuhnya, terlihat jelas bahwa Naruto sangat menyayangi bocah yang walau menggemaskan namun agak menyeramkan itu.

Setengah sembilan, rombongan Uchiha Inc. itu berangkat. Sengaja perusahaan memilih taman hiburan di kota sebelah, namun jaraknya tidak terlalu jauh, hanya dua jam dari Konoha. Karena wisata itu diperuntukkan untuk keluarga, sengaja lokasi yang dipilih adalah taman hiburan.

Hinata tidak masalah meski pun tak ada Hanabi yang menemani. Iruka lawan bicara yang oke. Terlebih, di kursi depan ada Naruto dan anaknya. Bapak muda itu tak hentinya berceloteh seraya menunjuk ini-itu, menerangkan apa yang dilihat pada Gaara.

"Papa tahu banyak, ya," komentar Gaara polos. Walau tidak seceria anak pada umumnya, dia juga seorang anak kecil yang menganggap orang dewasa seperti papanya adalah orang hebat yang tahu segalanya.

"Jelas, dong. Papa kan pintar," sahut Naruto bangga. Tawanya lantang.

Iruka berdecak. "Papa yang congkak," desisnya.

Hinata tertawa. Ternyata di luar jam kantor, teman-temannya lebih unik. Setengah jam berlalu, Hinata mulai capek. Dia menguap. Dia tidak terlalu mengantuk sebenarnya. Hanya saja, menguap rasanya nikmat sekali.

Iruka menoleh. "Tidur saja, Hinata."

"Tidak ah, saya malu," tukas Hinata. Dia duduk dekat jendela. Pemandangan di luar sana bisa untuk mengusir kantuk. Nyatanya itu tidak berhasil.

"Kalau malu, tutup mata," tambah pria berkuncir itu.

Nyatanya Hinata tertidur. Sesekali dia terbangun, tapi kemudian tertidur lagi. Matanya berat.

"Benar kita hampir sampai, Pa?" tanya Gaara keras-keras.

Hinata terbangun mendengarnya.

"Betul, anak pintar." Naruto menaikkan badan dan menatap Iruka dan Hinata. "Oh, Sasuke ikut juga, lho. Dia ada di bis depan," celetuknya ketika mata birunya bersirobok dengan Hinata.

Tubuh Hinata langsung tegak. "A-apa?" ulangnya, tak yakin telinganya mendengar dengan sempurna.

Naruto nyengir. "Dia tidak bilang ya? Ingin memberi kejutan, mungkin." Pria itu terkekeh. "Demi kamu, lho, dia sampai bela-belain tidak istirahat setelah shift malam. Makanya, nanti sambutlah Mister Sasuke Uchiha dengan tangan terbuka lebar."

"Itu artinya memeluk, ya, Pa?" Gaara menimpali ayahnya.

Iruka menutup mulut, menyembunyikan tawa.

"Betul, Boy," Naruto mengacak-acak rambut ikal Gaara.

Kelihatannya Gaara bersuka cita mendengar ayahnya memujinya pintar dan menyebutnya 'Boy' karena kemudian dia merentangkan tangan lebar-lebar. "Seperti ini? Tangan terbuka besar." Dia menghambur memeluk Naruto dengan tangan kecilnya.

"Terbuka lebar, Gaara," ralat Iruka, tawanya lepas.

Hinata berharap kaca jendela bis lenyap supaya dia bisa meloncat keluar. Guyonan para pria –dewasa mau pun anak-anak- ternyata berpotensi besar membuat seseorang bunuh diri. Hinata sudah membuktikannya. Seraya tersenyum karena malu, gadis itu menarik ponsel dari tas selempangnya. Rupanya ada pesan yang masuk. Memang sejak keberangkatan, Hinata menyetel profil 'Silent'. Getarnya tidak terasa. Mungkin pesan itu masuk saat dia tidur tadi.

'Aku ikut ke Suna Central Park.'

Sasuke… Hinata mendesah pelan. Memang sih dia dan si bungsu Uchiha itu hanya berteman, tapi karena digodai terus oleh kawan-kawannya, Hinata jadi agak enggan bertemu Sasuke.

"Papa, bener, lho, nanti kita berenang," tukas Gaara mengingatkan.

"Iya iya. Tapi sebelumnya kita beli pelampung dulu."

Ogah-ogahan Hinata turun dari bis. Naruto dan Gaara di depannya sudah sangat antusias.

"Om Sasuke!" pekik Gaara kencang.

Hinata berjengit. Alamak… sebentar lagi…

….Dan sampailah Sasuke Sang Dokter di samping Naruto.

"Hn."

Sama seperti Naruto dan kebanyakan orang lain, Sasuke berkaus agar tidak gerah. Walau terlihat santai dengan kaus biru tua dan jeans hitam, Sasuke bukan tidak menawan. Warna bajunya yang gelap kontras dengan kulitnya yang putih mendekati pucat. Rambutnya tetap hitam legam di bawah sinar matahari, bukan kemerahan seperti umumnya yang terjadi pada orang berambut hitam. Bahkan ada helaian yang kebiruan ketika tertimpa matahari. Pekat dan putih. Kombinasi ini tampak indah pada Sasuke.

Eh, sebentar. Indah? Hinata takut sendiri dengan penilaiannya.

"Aku tidak demam lagi, Om," cerita Gaara. Dia memandang 'Om Sasuke' dengan tatapan puas seorang anak kecil yang sehat setelah sakit.

"Bagus," puji Sasuke. Dia tersenyum kecil.

"Tapi Tante Berbunga-Bunga ini kelihatannya sakit, Om. Lihat, tuh, wajahnya," celetuk Gaara, menunjuk Hinata yang memakai blus bermotif bunga kecil-kecil.

"Hn, Tante Cantik Berbunga-Bunga ini memang pucat," ujar Sasuke.

Hinata pias. Rupanya sifat blak-blakan tanpa tedeng aling-aling Naruto menurun pada putranya.

"Wajahnya kelihatan seperti orang sakit, Om," lanjut Gaara cuek. Seperti kebanyakan anak kecil, dia tak tahu kata yang pas untuk mendeskripsikan wajah pucat. "Om periksa trus kasih obat, biar sembuh." Niat Gaara baik. Sayangnya dia terlalu polos. Hinata tambah pucat.

Naruto terbelalak menyaksikan tawa Sasuke. Sasuke Yang Tertawa kisarannya satu banding satu milyar. Hiii, Naruto terheran sekaligus bergidik.

"Nanti Om periksa, obatnya adalah…" Sasuke mengerling Hinata yang terdiam tanpa bisa menyela.

"Cinta! Seperti yang selalu Om Iruka bilang," cetus Gaara bangga.

"Oi, Hinata, jangan pingsan!" goda Naruto, geli sekaligus kasihan melihat muka kawannya yang berwarna-warni karena campuran malu, jengkel dan pasrah.

"Kugendong kalau pingsan," Sasuke menawarkan. Nada suaranya tulus tapi senyumnya jauh dari tulus. Senyum seorang pria dewasa yang berpikir yang diinginkan.

"Dari tadi Hinata tidur, lho," kata Iruka. "Dari Konoha sampai Suna."

"Aku juga mau melihat wajah tidur Hinata," Sasuke menimpali. Ada seringai di wajahnya.

Taman hiburan itu super luas. Segala macam permainan ada di situ. Di tengah-tengahnya ada kolam renang super luas, untuk orang dewasa dan anak-anak. Di ujung ada pantai dengan ombak tenang dan air jernih. Naruto dan Gaara menuju kolam. Hinata akhirnya bersama Sasuke. Sejujurnya gadis itu tidak suka pergi ke taman hiburan. Wahana yang disediakan tidak cocok dengannya yang penakut. Mau naik roller coaster? Hinata takut bakal menemui ajalnya karena jantungnya melompat dari mulut. Flying fox? Tidak, terima kasih. Bisa terkencing-kencing dia! Kasihan para turis yang bermain pasir di bawahnya karena ada hujan lokal dengan bau mencurigakan.

Nona Hyuuga dan Tuan Uchiha itu berjalan saja mengelilingi arena permainan. Mereka masuk Rumah Cermin, tertawa melihat penampakan mereka dengan berbagai ukuran. Sarang Perompak masih lumayan, sound-nya terdengar menyeramkan, suasana kapal buatannya menyeramkan. Tapi yang paling menakutkan Hinata adalah ketika mereka masuk Rumah Hantu. Menyesal sekali gadis itu menyetujui usul Sasuke. Pada akhirnya Hinata lebih banyak memejamkan mata rapat-rapat seraya dibimbing Sasuke. Menyerah pada rasa takutnya, Hinata membolehkan Sasuke meraih bahunya. Orang yang tidak mengerti akan menyangka mereka pasangan yang berjalan dengan mesra. Namun jika diamati dengan seksama, orang akan tahu bahwa si pria menyunggingkan senyum maha lebar dengan mata usil dan tampang puas.

"Aduh, tidak lagi, deh, aku masuk Rumah Hantu," keluh Hinata. Dia duduk di bangku kayu. Sasuke mengangsurkan teh dingin yang dibelinya di stan dekat mereka. "Terima kasih."

"Tidak menakutkan, kok," komentar Sasuke. Berbeda dengan Hinata, dia tampak luar biasa gembira.

Karena hari sudah siang, mereka makan di salah satu restoran di sana. Banyak pengunjung yang mencuri pandang ke arah Sasuke. Dokter itu memang tampan sekali. Namun sayangnya, perhatiannya hanya pada gadis sederhana di depannya.

Karena jelas sekali mereka tidak akan menaiki wahana apa pun lagi, mereka memutuskan untuk menyeberangi jembatan dan menuju kebun binatang. Hinata mengira bahwa tempat itu hanya cocok untuk anak kecil dan anak sekolahan, tapi gadis itu berubah pikiran. Memang sudah bertahun-tahun dia tidak mengunjungi suaka untuk hewan itu.

Hinata terpana di depan King Cobra. Walau dia melihat hewan itu di balik kaca, tak urung ular itu masih menakutkan. Tapi, menurutnya, Sasuke yang terlalu dekat dengannya masih jauh lebih menakutkan.

Hinata dan Sasuke merasa lebih senang di kebun binatang dari pada di taman hiburan. Mereka bolak-balik berhenti di depan kandang pelican, buaya, kasuari, dan bangau. Sasuke memotret obyek apa pun yang menurutnya menarik. Sayang dia tak bisa mengambil gambar saat masuk ke rumah burung dan memberi mereka makan karena peraturannya dengan tegas melarang pengunjung membawa barang bawaan.

"Oi," Naruto melambai. Dia menggendong Gaara yang ingin melihat harimau dan singa.

Sasuke balas melambai.

"Papa, aku ingin jadi singa," celoteh Gaara setelah mendengar auman.

"Ya ya," Naruto menimpali. "Asal kau banyak makan, belajar dan pintar."

"Kenapa begitu, Pa?"

Semakin lama semakin banyak pengunjung dari Uchiha Inc. di kebun binatang.

"Presdir tidak mencarimu?" tanya Hinata ketika Sasuke merogoh saku dan mengeluarkan ponsel.

"Aku sudah bilang akan jalan-jalan denganmu dan Naruto. Dia maklum," gerutu Sasuke. "Biar saja dia jalan-jalan dengan orang tua-tua, dan adiknya dengan orang muda-muda."

"Kau masih muda?" gurau Hinata.

Sasuke menyeringai. "Hn. Aku masih dua puluh enam."

Ketika hampir pukul empat, mereka kembali ke bis. Perjalanan pulang itu sepi. Celoteh yang pagi tadi ramai membahana kini tidak ada lagi. Orang-orang lelah.

"Syukurlah Gaara bisa tidur," ucap Naruto pelan.

"Kenapa?" tanya Hinata dari kursi belakang.

"Dia sering insomnia. Lingkaran hitam di matanya membuatku miris," curhat Naruto. Dia melirik kawan-kawannya. "Sasuke juga tidur."

Hinata mengangguk dan tersenyum. "Iya."

"Shiftnya berakhir jam delapan tadi pagi," kata Naruto memberitahu. "Artinya sejak tadi malam dia belum tidur."

Hinata takjub. Ketika menemaninya tadi Sasuke tidak menampakkan tanda-tanda dilanda kantuk sedikit pun. Ketika Naruto tidak lagi menoleh ke belakang, Hinata memandang Sasuke. Wajah tidur pria itu tampak damai. Tapi memang ada tanda-tanda kelelahan di wajah putihnya.

Ternyata, Sasuke yang tertidur juga tak kalah cakep dari saat dia bangun. Hinata tersenyum sendiri. Gadis itu mulai menyukainya.

Hinata berdebar-debar sewaktu Presdir memanggilnya ke kantor pagi-pagi.

Duh, ada apa lagi ini?

Kesalahan apa lagi yang kubuat tiga hari ke belakang?

Lagi-lagi Itachi seperti siap tertawa. Dia memberikan sebuah tas karton. Firasat Hinata sudah tidak enak.

Tidak ada lagi sabun di sana. Yang ada adalah sebuah album besar yang bagus. Isinya foto-fotonya sewaktu di kebun binatang di Suna beberapa hari yang lalu, dengan beragam latar dan pose.

Lagi-lagi Sasuke menitipkan sesuatu pada kakaknya. Saat itu Hinata sungguh luar biasa sungkan, malu pada Itachi Sang Presdir dan geram pada Sasuke.

TBC

Fire's Note : Wow, dua update dalam sehari? Hehe. Anggap saja sebagai kompensasi di muka karena sepertinya saya bakal sibuk selama beberapa waktu ke depan. Semoga ada waktu yang bisa saya curi untuk update. Bukan, saya bukan Arema. Tapi jarak Malang ke rumah tidak begitu jauh. Trims buat kawan-kawan yang menyempatkan diri mampir dan membaca cerita saya. Maaf saya belum bisa membalas review yang masuk. Buat yang mau ujian, semoga berhasil.

Preview untuk chapter depan:

.

.

.

Hoo, tunggu saja. Ada banyak ide di kepala saya, saya timbang dulu mana yang harus didahulukan.