PROSPECTS 4

Naruto milik Masashi Kishimoto-sensei

Prospects milik Acya-chan1234:v

Warn!: GaJe, aneh, ide pasaran, Typo(s), crack pair, dll.

•••••

Hari ini seluruh keluarga Hyuuga Hiashi-kecuali Neji- dan beberapa keluarga Sabaku tengah membicarakan sesuatu hal yang serius. Meski Hinata masih terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit, tapi itu bukan penghalang untuk menghentikan pembicaraan yang benar-benar serius ini.

"Jadi Hinata, apa kau tak keberatan jika harus tinggal bersama Gaara?" tanya Sabaku Rei.

"Mengapa aku harus keberatan ayah? Bukankah Gaara-kun adalah tunanganku?" ucap Hinata. Kening Hiashi berkedut mendengar penuturan putri sulungnya. Sebenarnya ia tidak tega menyembunyikan semua ini dari Hinata. Tapi, mungkin ini memang yang terbaik bagi Hinata.

"Baik. Kalau begitu, setelah keluar dari rumah sakit kau akan tinggal di apartemen bersama Gaara." Ujar Sabaku Rei.

"Apa kau bilang?! Apartemen? Gaara dan Hinata akan tinggal berdua?!" tanya Hiashi dengan suara yang cukup keras.

"Iya. Gaara sudah lama berpisah rumah dengan kami. Setidaknya itu bisa membuat Gaara lebih mandiri. Tapi kau jangan khawatir, seingatku di apartemen Gaara ada dua kamar." Hiashi merasakan keningnya semakin berkedut dengan kencang saat mendengar ucapan besannya yang terdengar sangat santai itu. Bagaimana dengan nasib putrinya nanti? Bagimana jika Gaara akan berbuat sesuatu pada Hinata?

"Aku yakin jika anakku tak akan berbuat macam-macam padanya, Tuan Hyuuga." Ucap ibu Gaara yang menghentikan Hiashi untuk mengucapkan sesuatu. Hiashi mendelik kesal ke arah pasangan keluarga Sabaku itu. 'Suami-istri sama aja' pikir Hiashi. Perlahan-lahan semua orang yang berada di ruangan itu pergi meninggalkan ruangan, yang akhirnya menyisakan Hinata dan Gaara yang masih berada di dalam ruangan.

Gaara duduk di atas sebuah banggu di samping ranjang Hinata. Ia mengelus pucak kepala Hinata seraya tersenyum.

"Aku tidak akan menyakitimu." Ujar Gaara yang mampu membuat Hinata melengkungkan sebuah senyuman. Sepertinya ia sangat beruntung mendapatkan seorang tunangan seperti Gaara.

"Gaara-kun, boleh aku bertanya sesuatu padamu?" ucap Hinata.

"Boleh. Kau mau bertanya apa?"

"Bagaimana aku bisa mengalami kecelakaan?" tanya Hinata dan sukses membuat Gaara membulatkan matanya sebentar.

"Kau..." Gaara memutar otaknya untuk berpikir dengan keras, mencari jawaban yang tepat untuk pertanyaan Hinata. Sementara Hinata masih menunggu Gaara untuk melanjutkan ucapannya dengan harapan agar apa yang akan diucapkan Gaara bukanlah sesuatu yang aneh dan mengerikan.

"Kau sedang marah padaku karena aku tak mengizinkanmu membeli ice cream. Saat itu kau sedang flu jadi, aku tak mengizinkannya. Tapi kau malah marah dan berlari menuju arah jalan raya. Saat itu ketika kau hendak menyebrang sebuah mobil datang dengan kecepatan tinggi dan kau harus berakhir disini karena tabrakan itu." jawab Gaara. Hinata mencerna setiap perkataan Gaara. Ia memang merasakan jika saat kejadian itu hidungnya sedang berair. Tapi, sepertinya ada yang berbeda. Ah sudahlah, tak ingin memikirkannya lebih jauh, Hinata menganggap jika apa yang Gaara katakan adalah kebenaran. Ia sedikit malu ketika tahu jika sifatnya begitu kekanakkan.

"Ga-Gaara-kun, ma-maaf telah merepotkanmu..." ucap Hinata seraya menunduk malu.

"Tidak apa, Hinata."

"O-oh iya, handphoneku, dimana handphoneku?" tanya Hinata.

"Sepertinya hilang, atau mungkin hancur saat kejadian itu. Tenang saja Hinata, aku akan membelikan yang baru." Gaara tersenyum lembut membuat pipi Hinata memerah.

'Sepertinya, aku mulai menyukai Gaara-kun. Ah, tidak! Bukankah aku ini adalah tunangannya? Jadi, tidak salah, kan? Jika aku menyukai Gaara-kun. Seharusnya memang seperti itu, kan?'

•••••

Sasuke berdecak kesal. Jika bukan karena tak sengaja merusak -eh, bukan- lebih tepatnya menghancurkan iPhone milik sang kakak, ia tak mungkin berada di tempat ini. Tempat yang menjual beberapa macam bentuk dan jenis benda kecil yang mampu menghubungkan setiap manusia dengan manusia yang lainnya meski terpaut jarak yang sangat jauh. Seorang pegawai toko tersebut datang menghampiri Sasuke.

"Ada yang bisa saya bantu, tuan?" tanya sang pelayan.

"Saya ingin iPhone 6s plus berwarna rose gold dan memiliki kartu memori internal sebesar 128GB." Jawab Sasuke. Memang, ia harus mengganti iPhone milik Itachi dengan yang benar-benar mirip. Sesaat Sasuke merasa jijik jika mengingat kakaknya memilih warna rose gold untuk iPhone-nya, padahal warna itu identik dengan perempuan.

"Baik, akan saya ambilkan." Pegawai itu pergi menuju sebuah lemari kaca dan mengambil kotak kecil untuk diberikan kepada Sasuke.

"Harganya $750." Ucap si pegawai. Sasuke lantas segera mengambil dompetnya dan hendak memberikan kartu ATM-nya pada si pegawai.

"Berikan aku handphone terbaik yang ada disini." Medengar sebuah suara yang sepertinya ia kenali, Sasuke menghentikan gerakkannya dan menoleh kesamping. Disana, seorang pemuda berambut merah tengah berdiri kalem menatap salah seorang pegawai toko tersebut. Merasa ada yang menatapnya, Gaara pun turut menoleh dan melihat Sasuke yang tengah berdecih menatapnya.

'Cih, ada si setan merah itu?' batin Sasuke. Melihat Gaara yang kini juga telah menoleh padanya, Sasuke segera memberikan kartu ATM yang tadi diambilnya pada si petugas yang ada di hadapannya. Segera setelah sang pegawai melakukan transaksi dari kartu ATM Sasuke, ia memberikannya lagi pada Sasuke dan Sasuke pun segera pergi dari toko tersebut.

"Bagaimana jika anda melihat sebuah smartphone terbaru dari Samsung?" tawar si pegawai yang melayani Gaara dan membuat Gaara kembali memerhatikannya.

"Boleh." Jawab Gaara.

"Tunggu sebentar, saya akan mengambilkannya untuk anda." Ujar si pegawai seraya pergi meninggalkan Gaara sebentar guna mengambil sebuah smartphone yang tadi ia tawarkan pada Gaara. Sesaat setelah sang pegawai meninggalkannya, Gaara dapat melihat Sasuke yang datang menghampirinya.

"Aku lupa membawa ini." Ucap Sasuke datar dan segera pergi sambil membawa kantung plastik yang berisikan iPhone untuk Itachi. Pegawai yang tadi melayani Sasuke dan kebetulan masih di tempat itu, hanya menatap heran ke arah punggung Sasuke atas kejadian tadi.

Alis Gaara terangkat sebelah. Ingin rasanya ia tertawa terbahak-bahak melihat kejadian tadi. Saking kesalnya Sasuke padanya, ia bahkan sampai lupa membawa belanjaannya. 'Benar-benar memalukan' pikir Gaara. Ia tersenyum miring saat mengingatnya lagi.

•••••

Gaara keluar dari toko yang baru saja ia singgahi. Ia tersenyum ketika melihat sebuah kantung plastik yang nanti akan diberikan untuk Hinata. Entah kenapa, tapi ia senang bisa mengenal Hinata. Meski dengan cara yang cukup tidak menyenangkan. Ia tahu jika apa yang telah ia lakukan pada Hinata itu salah, tapi ia hanya berniat baik, sungguh. Ya, semoga saja semuanya berjalan dengan lancar.

"Gaara!"

Gaara menghentikan langkahnya. Ia hafal dengan suara orang yang tadi menyerukan namanya. Ia malas bertemu dengan orang tersebut, maka dari itu ia memutuskan untuk berbelok ke kanan guna menghindari seseorang itu. Namun, bukannya bisa menghindar, Gaara malah dihadapkan dengan koridor buntu(?). 'Cih, mengapa ada jalan buntu di mall seperti ini?' pikir Gaara. Gaara pun segera berbalik dan mendapati seseorang sedang tersenyum di depannya.

"Kena kau, Gaara!" Orang tersebut tersenyum manis dan melihat Gaara yang memalingkan wajahnya.

"Ada perlu apa kau, Ino?" tanya Gaara. Seseorang yang bernama Ino itu menyeringai mendengar pertanyaan Gaara yang to the point.

"Apa kau tidak merindukanku?" Ino bejalan mendekati Gaara. Dan lagi lagi Gaara memalingkan wajahnya.

"Kau benar tidak merindukanku, ya? Padahal aku sangat merindukanmu. Kita 'kan sudah lama tidak bertemu." Ino membelai dada bidang Gaara. Sementara Gaara hanya diam membungkam mulutnya.

"Oh iya, aku mendengar berita jika kau menabrak seorang gadis. Apa itu benar?" tanya Ino. Gaara sendiri malah sibuk memikirkan Hinata. Bagaimana jika Hinata mengetahui kebenarannya? Bagaimana jika Hinata mengingat semuanya? Apakah Hinata akan membencinya? Apa Hinata akan pergi meninggalkannya? Semua pertanyaan itu terlintas di kepalanya. Entah mengapa, ia tak mau kehilangan gadis itu.

Tak kunjung mendapat respon dari Gaara, Ino menjadi kesal. Pria ini sangat mengacuhkannya. Padahal dulu Gaara yang selalu mencari-cari perhatiannya. Tapi sekarang Gaara sangat dingin. Ino melirik ke arah bibir Gaara yang sangat menggoda bagi Ino. Ia pun menjingjitkan kakinya dan berniat mencium bibir Gaara. Namun, sebuah suara megintrupsi kegiatan Ino.

"Ino! Disini kau rupanya? Kami sudah mencarimu dari tadi." Chouji berjalan menghampiri Ino diikuti Shikamaru dibelakangnya. Ino sendiri sangat kesal karena kedatangan Chouji yang mengganggu kegiatannya.

"Baka! Mengapa kau menggangguku, Chouji?!"

"Eh? Kami 'kan mencarimu, Ino." Chouji sendiri tidak sadar jika ia telah mengganggu Ino. Sama seperti Chouji, Gaara juga bingung melihat Ino yang tiba-tiba marah seperti itu. Sementara Shikamaru, awalnya ia juga sedikit bingung namun, karena kejeniusannya ia bisa langsung menangkap apa yang sebenarnya terjadi. Ia tersenyum miring mengetahui Ino yang agresif dan hendak menyerang Gaara.

"Maaf mengganggumu, Ino. Tapi, seseorang sudah menantimu di apartemn." Ucap Shikamaru. Ino memberikan tatapan tajam pada Shikamaru.

"Sepupumu datang mengunjungimu." Lanjut Shikamaru. Ino menghela nafas mendengar hal tersebut.

"Untuk apa dia datang kemari?" tanya Ino. Ia melipat kedua tangannya di depan dada.

"Aku tidak tahu. Tadi dia sudah coba menghubungimu tapi, nomormu tidak aktif. Jadi, ia menelfonku." Jawab Shikamaru.

"Ck, baiklah. Aku pergi dulu ya, Gaara-kun." Ino mengerling manja pada Gaara. Sementara Gaara hanya berdecih dalam hati. Berselang beberapa detik dari kepergian Ino dan teman-temannya, Gaara pun segera pergi untuk kembali mengunjungi Hinata di rumah sakit.

•••••

'BRAK'

"Sasuke, kau sudah pulang? Mana iPhone milikku?" tanya Itachi yang rupanya sudah menunggu Sasuke sejak tadi.

"Cih, merepotkanku saja." Sasuke memberikan kantung plastik yang berisikan pesanan kakaknya itu.

"Siapa suruh kau malah merusak iPhone milikku." Ujar Itachi.

"Dan siapa yang menyuruhmu datang ke kamarku." Sasuke melengos pergi menuju kamarnya.

"Ada sesuatu yang akan aku bicarakan padamu, jadi aku datang ke kamarmu. Tapi karena kelamaan menunggumu, aku jadi pergi ke dapur dulu untuk mengambil air. Aku juga tak sengaja meninggalkan iPhone kesayangan milikku. Dan saat aku kembali, kau malah merusaknya. Dasar adik kurang hajar!" oceh Itachi. Sementara orang yang sedari tadi diomeli hanya diam saja. Bahkan kini Sasuke sudah ada di depan kamarnya. Ia bersiap membuka pintu dan masuk kedalam.

"Oy, Sasuke! Kau mendengarkanku tidak?! Sasuke aku harus membicarakan sesuatu yang penting mengenai Hi - "

'BRAK!'

"...nata." Sayang sekali Sasuke tidak mendengarkan atau mungkin tidak perduli dengan apa yang Itachi katakan. Padahal, ia pasti akn sangat terkejut jika mendengar ucapan kakaknya barusan.

"Dasar, Sasuke! Hah, yasudahlah. Nanti juga dia pasti akan mencariku." Itachi tersenyum miring, lalu pergi menuju kamarnya untuk segera membuka iPhone baru miliknya-_-

•••••

'Clek'

Gaara melangkahkan kakinya menuju Hinata yang kini tengah duduk seraya tersenyum kepadanya. Ah Hinata bahkan mampu membuat Gaara tersenyum, walau sangat tipis sekali.

"Hinata, aku membelikan smartphone baru untukmu." Ucap Gaara seraya memberikan sebuah kantung plastik pada Hinata.

"Terima kasih, Gaara-kun." Hinata mengambil kantung plastik tersebut dan tersenyum manis.

"Oh iya, Hinata, nanti sore kau sudah boleh pulang. Jadi, apakah kau sudah siap untuk tinggal bersamaku?" tanya Gaara.

"Mengapa aku harus tidak siap? Bagaimanapun 'kan Gaara-kun ini tunanganku. Ja-jadi, baik nanti sore atau kapanpun, a-aku pasti akan ti-tinggal bersama Ga-Gaara-kun." Wajah Hinata memerah. Entah dapat keberanian dari mana, ia mampu mengatakan itu semua walau dengan sedikit tergagap.

Gaara tersenyum mendengar jawaban Hinata. Setidaknya hal ini akan mempermudah usahanya 'kan? Hey, tapi sejak kapan Hinata jadi berani seperti ini? Ah, Gaara benar-benar senang melihat wajah Hinata yang merah seperti itu.

"Baiklah, segera persiapkan dirimu. Aku harus pergi ke depan untuk mengurus biaya administrasi." Gaara mengelus puncak kepala Hinata, lalu pergi meninggalkan Hinata yang semakin bersemu merah.

•••••

"Jadi, ada apa kau kemari?" Ino menatap tajam sepupunya. Sedangkan yang ditatap kini malah memerhatikan posisi Ino yang arogant. Dengan satu kaki bertompang pada kaki lainnya, kedua tangan yang dilipat di depan dada, dan sorot mata yang tajam. Tipikal gadis yang sangar.

"Bisakah kau lebih ramah pada sepupumu ini, un?" tanya sepupu Ino.

"Kedatanganmu sangat tidak tepat, Dei. Kau mengganggu kegiatanku bersama Gaara." Ujar Ino. Oh kini sepupu Ino, Deidara, mengerti mengapa sepupunya itu melemparkan pandangan kesal padanya. Deidara hanya tersenyum tipis mengetahui ke-agresifan Ino.

"Baiklah, aku minta maaf. Tapi, ada sesuatu yang akan aku ucapkan padamu, un. Ayahmu memintamu untuk pergi ke Paris. Kau akan bertemu dengan sesorang." Ino memutar bola matanya kesal saat mendengar penuturan dari Dei.

"Aku tidak mau melakukan perjodohan konyol itu!"

"Kau juga tidak akan selamanya tinggal disini 'kan, un? Kau disini hanya untuk liburan. Ingat itu." Deidara menyeringai melihat sepupunya berdecih.

"Aku akan tinggal disini. Lagipula aku sudah menyewa apartemen ini. Chouji dan Shikamaru juga akan pindah kesini. Jadi, aku akan bersama mereka. Dengan ataupun tanpa bantuanmu, aku akan membuat ayah menyetujuinya." Tegas Ino. Terkadang Deidara pusing menghadapi sepupunya yang keras kepala ini. Tapi, ia sudah mengganggap Ino seperti adiknya sendiri. Dan lagi, Inolah yang membantunya untuk mendirikan sebuah bar ternama di Suna. Jadi, mau tidak mau ia harus membantu Ino dalam hal apapun.

"Baiklah, un. Aku akan membantumu. Tapi, aku tidak yakin jika ini akan berhasil." Ino tersenyum penuh kemenangan mendengar ucapan Deidara. Pada akhirnya, sepupunya itu akan menyerah juga 'kan?

"Aku juga akan bersekolah disini. Di sekolah yang sama dengan Gaara." Ino menyeringai membayangkan wajah Gaara yang nantinya akan sering ia temui, bahkan hampir setiap hati. Sementara Deidara hanya menghela napas mendengar hal tersebut.

'Hah, dulu dia sangat mengacuhkan Gaara. Dan sekarang malah dia yang tergila-gila pada Gaara. Dasar, semua wanita itu membingungkan!'

••To Be Continue••

Hallo minna-san!

Maafkan aku yang telah lama menghilangL

Huahhh capter ini hancur sekaliL

Kira-kira Ino itu siapanya Gaara yaaaa?:v

Maafkan ada adegan yang sedikit menjurus ke rate M:D

Efek sering baca FF rate M :'V

Ah aku gatau musti biang apalagi, yang pasti TERIMA KASIH SUDAH MAU MAMPIR(:

Jangan lupa review dan jadikan favorit:v

Mohon saran dan kritiknya. Tunggu chapter selanjutnya yaaa..

Love U minna:*({})