"Ya, ini aku Jimin"
"Ada apa kau menelpon, huh?" jimin terkekeh pelan mendengar nada ketus yang dilontarkan teman masa kecilnya ini.
"Aku pulang, aku kembali ke seoul"
Hening sesaat, yoongi tak membalas ucapan jimin membuat jimin mengeryit bingung. "Yoon—"
"hiks—" jimin sedikit terkesiap mendengar isakan yoongi. Jimin hendak membuka suara untuk mengejeknya tapi, "Jangan bilang aku cengeng! Kau bilang tak apa menangis jika kita memang menginginkannya kan?" Jimin kembali terkekeh.
"haha iya iya, menangislah"
"jadi, kapan kita bisa bertemu?"
"oioi, aku baru saja sampai, kau sudah ingin bertemu?" jimin lalu mendengar dengusan dari handphonenya.
"aku di undang oleh Arsitek Frank Kim besok untuk menghadiri acara makan makan seperti itu lah. Kau mau ikut?"
"uhm.. besok aku ada acara dengan Seokjin.. tapi, tak apa aku bisa membatalkannya, tapi dengan satu syarat!"
"apa?"
"tanggal 12 kita pergi nonton tengah malam, oke?" Jimin sedikit mengeryitkan dahinya bingung.
"mengapa tidak setelah dari kediaman Frank saja?"
"Tidak mau pokoknya harus tanggal 12 oktober!"
"iya iya, baiklah. Aku tutup ya—" jimin hendak menutup line telpon tapi suara yoongi menghentikannya.
"Tunggu Jimin!"
"Ada apa?"
"Apa warna yang kau sukai? Misalnya antara biru dan merah, mana yang akan kau pilih?"
"Merah.. mungkin"
"sudah kuduga kau akan memilih merah! Yasudah sampai jumpa!" Lalu line telepon pun terputus.
'Merahkan warna kesukaanmu' Jimin membatin dan menggeleng gelengkan kepalanya pelan.
Jimin memasukan handphonenya kedalam kantung dan melihat undangan dari arsitek terkenal berdarah inggris tersebut.
"tak ku sangka detektif ini begitu bodoh" Jimin menolehkan kepalanya kepada Jeon Jungkook–temannya yang sedari tadi menyetir dan mendengar percakapannya dengan yoongi.
"apa maksudmu, hidung besar?" Jungkook terkekeh pelan, ya hidungnya memang besar dia tak perlu merasa tersinggung oleh itu.
"kau bodoh, itu yang aku katakan tuan detektif. Kekasihmu –ups maksudku calon kekasihmu itu ternyata sangat perhatian hingga memilih tanggal 12"
Jimin mengeryit bingung, "Ternyata kau memang benar benar bodoh ya"
.
.
.
"kenapa harus saat ulang tahun jimin?" Seokjin dan yoongi tengah berada di kantin sekolah sekarang. "karena jimin selalu melewatkan hari ulang tahunnya demi kasus kasus menyebalkan itu. Dan sekarang, akhirnya aku bisa merayakannya bersama jimin. Mana mungkin aku menyia-nyiakan kesempatan"
Seokjin mengangguk anggukan kepalanya mengerti, "maka tanggal 12 sebelum tengah malam nanti kau harus menemaniku belanja oke?" Seokjin menganggukan kepalanya dengan lesu, "yaya.. baiklah" Sementara yoongi tersenyum dengan sumringah.
.
.
ESOKNYA.
"aku sudah menunggumu sedari tadi" Jimin berujar setelah melihat yoongi keluar dari taksi. Yoongi mendengus pelan, "yaya maafkan aku"
Jimin lalu merangkul bahu yoongi dengan akrab, "kau.." Yoongi merasa pipinya memanas saat jimin merangkul tubuhnya.
"Semakin pendek" Sedetik kemudian emosi yoongi yang memanas dan segera menendang tulang kering jimin. "Sialan."
Selagi jimin meringis yoongi segera pergi masuk kedalam halaman rumah Frank Kim yang luas. Yoongi melihat sekitar dengan terkagum kagum, "Nee jimin, jika aku berdiri di tengah tengah halaman ini jadi terlihat seperti cermin ya? Bagian kanan dan kiri halaman ini sangat sama persis"
Jimin telah selesai dengan acara meringisnya dan menghampiri yoongi dengan satu kaki yang sedikit mengangkat. Rasanya sangat sakit, man.
"itu adalah bilateral simetri" jimin melihat kearah bangunan di depannya dan kebun kebun disamping kanan dan kirinya. Benar sekali, baik bangunan kebun atau taman kanan dan kiri benar benar sama.
"Tapi, aku tak pernah melihat taman seindah ini!" Yoongi melihat kekiri dan kanan, "Terima kasih atas pujianmu"
Yoongi menoleh kebelakang ada Frank Kim, "ah selamat siang" Yoongi membungkukan badannya lalu sedikit melirik kearah jimin dan segera menarik lelaki tan itu untuk segera membungkuk.
"selamat siang, aku sangat terkesan kau park jimin dengan senang hati mendatangi rumahku bersama.. kekasihmu?"
Yoongi maupun jimin diam sesaat dengan pipi yang memanas, lalu frank sedikit tertawa, "kalian berdua masih muda, pantas jika kalian masih malu malu untuk mengungkapkan hubungan kalian. Yasudah, ayo silahkan masuk"
Frank lalu berjalan menuju taman belakang rumahnya dengan jimin dan yoongi di belakangnya.
Jimin dan yoongi dapat melihat banyak orang orang terkenal di sana. Ada musisi, model, ceo, dan banyak lagi.
"Nah, silahkan menikmati hidangan disini"
Semua makanan tertata rapih, dan terlihat lezat. "Cantik, apa semua ini buatan rumah?"
"Tentu, sudah jadi adat untuk menyediakan masakan rumah untuk acara apapun"
yoongi mengangguk mengerti, "Selamat makan!" yoongi lalu menyuapkan kue kecil kedalam mulutnya.
Frank mendekati yoongi dan tersenyum ramah, "Bagaimana?" yoongi menoleh kearah frank, "Kue ini sangat enak!" lalu menunjukan eyesmile nya.
"ah, aku senang mendengarnya"
Jimin juga segera mengambil satu kue dan memakannya, benar ini sangat enak.
"Jika mau, aku ingin mengajak Detektif muda park dan kekasihnya untuk masuk ke galeriku"
"Ah boleh boleh!" Yoongi berseru dengan semangat dan jimin hanya menganggukan kepalanya. Frank lalu memasuki rumahnya, "ayo ikuti aku"
.
.
"Disini, silahkan masuk" Frank masuk galerinya dengan jimin dan yoongi dibelakangnya. Yoongi lalu menddekati foto foto bangunan di dinding, "Eh ini.."
Jimin lalu mendekati yoongi, "Bangunan rumah milik tuan Jung"
"aku mendesain rumahnya saat pertama masuk perusahaan. Aku masih umur 30-an ketika mendesain bangunan yang ada disini."
Jimin lalu melangkahkan kakinya untuk melihat foto hasil arsitek Kim ini, 'wow, dia bahkan pernah mendesain jembatan'
"omong omong, kalian berdua apa ada acara untuk pergi bersama. Hanya saja aku melihat kalian sepertinya sangat cocok untuk pergi bersama"
Yoongi menganggukan kepalanya, "Tanggal 12 nanti tepat ulang tahun jimin kami akan pergi menonton." Yoongi sedikit berbisik pada Frank, namun tetap saja jimin mendengarnya.
'jadi dia keukeuh tanggal 12 karena ulang tahunku'
"Aku rasa berarti kau telah mempersiapkan hadiah untuknya?" Tanya frank. Jimin hanya berpura pura tak mendengar dengan perbincangan mereka.
"Seperti aku, dia suka warna merah, dan untuk bulan oktober, Merah adalah warna keberuntungan untuk kami berdua! Jadi, itu mengapa aku berencana memberinya baju kaos berwarna merah" Yoongi menunjukan eyesmilenya.
Frank tertawa pelan, "Itu hadiah yang bagus"
Yoongi lalu kembali melihat kearah foto, "Eh, ini gedung kota seoul, 'kan?"
"Kami akan menonton film di bioskop seoul satu disana. Kami bertemu di lobi lantai 3 jam 10 malam."
"Ah begitukah, gedung kota seoul adalah salah satu desain kesukaanku. Tak ada gedung yang lebih baik untuk pasangan muda merayakan ulang tahun disana."
.
.
12 oktober
.
"jja, ayah aku pergi dulu ya" Yoongi sudah siap dengan sweater merah, celana jeans dan sepatu converse high berwarna merahnya. Pergi di sore hari bersama seokjin.
.
Jimin tengah berbaring dengan pandangan yang mengarah pada televise, "Kemarin. Bahan peledak berjenis octogen telah dicuri dalam jumlah yang banyak dari gudang perusahaan Kimia Seoul. Polisi telah mengarahkan sekitar seratus petugas untuk menyelidikinya, tapi sejauh ini masih belum ada kabar."
"Kedengerannya seperti kasus besar" Jungkook yang tengah menyeruput kopinya lalu bersuara.
Jimin menoleh kearahnya, "Ya, apalagi oktogen adalah bahan utama untuk membuat bom plastic"
"Kemarin malam di Busan, telah terjadi kebakaran yang sangat besar. Di kediaman Jung Jinyoung mengakibatkan hancurnya bangunan tersebut."
"Rumah itu.. Itu rumah tuan Jung!"
Lalu suara telfon rumah berdering, jimin segera mengecilkan tv dan mengangkat telfonnya, "hallo?"
"Sudah menonton berita di tv?" Suara orang di sebrang itu dipalsukan dan mencurigakan.
"Aku adalah orang yang mencuri bahan peledak dari Seoul Chemical."
"Apa?!" Jungkook melihat kearah jimin dan segera menghampirinya, "ada apa?"
"Aku ingin tahu nomor handphonemu"
"Aku tidak punya alasan untuk memberikan Nomor handphoneku pada orang sepertimu!" Jimin mengabaikan pertanyaan jungkook. Jawaban jimin pada orang di line telfon itu membuat jungkook mengeryit.
"Oh, kau yakin ingin memutuskan kontak denganku yang bermaksud menghubungimu?"
"Baiklah, nomornya.." Jimin segera menyebutkan nomor handphonenya.
"Yosh, bawa handphonemu dan pergi ke dekat sungai han. Aku ingin menunjukan sesuatu yang menarik padamu. Jika kau tidak cepat, anak anak akan mati"
Jimin segera memakai sepatunya dan pergi keluar dengan motornya menuju sungai han dengan emosi yang memuncak.
.
.
Jimin melihat 2 orang anak yang sedang memainkan pesawat terbang, tidak bukan mereka tapi pesawat yang dimainkan oleh anak anak tersebut. Ada sesuatu yang aneh dibawah pesawat tersebut, "Oy bocah! Berikan itu padaku"
Jimin mendekati bocah tersebut dan hendak mengambil remote control dari anak itu. "Tidak! Aku belum puas memainkannya!" anak itu mencoba menjauhkan remotenya dari gapaian jimin, membuat jimin berdecak kesal.
"Cepat berikan!" Jimin hendak mengambilnya namun remote itu terlepas dengan kasar dan menimpa tanah dan.. hancur.
"Sialan!" jimin segera mengambil remote tersebut. Pesawatnya masih diatas, ini kesempatannya. Jimin menendang remote control tersebut hingga mengenai pesawat tersebut dan meledak.
Membuat para pengunjung sungai han kaget melihatnya, "apa itu kembang api? Atau ledakan dari bom" Resah para pengunjung.
"sial ini bom plastic" Jimin berdesis pelan lalu handphone nya bergetar, "hoho kau berhasil menyelamatkan mereka park jimin." Jimin menoleh kekiri kekanan, dan panangannya terpaku pada orang diatas gedung dengan mantel dan jenggot yang panjang juga rambut yang panjang hingga menutupi wajahnya.
"Selanjutnya.. bom lainnya akan meledak jam 1. Tempatnya di mall depan stasiun seoul. Lebih baik kau segera menemukannya"
"Tunggu!, beri aku clue"
"Dibawah pohon, tapi bukan tertimbun di bawah pohon. Jika tidak cepat seseorang akan membawanya"
Jimin segera memasukan handphonenya kedalam saku dan kembali melajukan motornya menuju stasiun seoul.
.
.
Jimin melihat kearah arlojinya, "Tinggal 10 menit" jimin segera berkeliling mendekati pohon pohon disekitar tapi dia tak melihat apapun. Jimin berdecak kesal lalu masuk kedalam café dekat stasiun dan naik kelantai atas dimana dia bisa melihat keseluruhan disana.
matanya terus melihat dengan dengan teliti dan tajam, pandangannya terkunci pada seorang nenek nenek yang mengambil tempat hewan di bawah kursi dekat pohon. Nenek itu mebukanya da nada seekor kucing putih disana, "pasti itu!"
Jimin segera berlari turun kebawah dan melihat nenek nenek tadi menaiki taksi, "Sial sial sial!" jimin lalu segera berlari kearah motornya dan melajukannya untuk mengejar taksi tadi. Jimin memilih jalan kecil yang hanya muat untuk motor agar memudahkannya mengejar mobil taksi tersebut.
Bagus, taksi itu terjebak macet. Itu memudahkan jimin.
Segera saat taksi itu hendak melaju, jimin menghadang mobil tersebut dengan motornya. Jimin segera turun dari motornya dan membuka pintu penumpang taksi.
"Nenek, boleh aku lihat tempat hewan itu" nenek nenek tadi memberikan tempat itu pada jimin. Jimin segera memeriksanya, "Sial tinggal 16 detik" jimin segera keluar dari taksi. Dia melihat sekitar, taman di samping jalan ini dipenuhi anak kecil, tak mungkin dia meletakan bom disana. Dan memakai motor untuk pergi di tempat yang sedang macet? Bom itu akan meledak di tempat.
Jimin segera berlari, dia menuju sungai di bawah jalan. Hanya sisa sebentar lagi, jimin segera melemparkan tempat hewan itu, dan itu meledak dengan lebih besar dari yang sebelumnya.
.
.
Jimin berada di kantor polisi sekarang, berdiskusi dengan inspektur Kim Namjoon. "bagaimana mungkin dua bom berturut turut. Dan mengapa dia hanya ingin kau yang mengetahui?"
Jimin menggelengkan kepalanya pelan, "aku pun tak mengerti, dia seperti memiliki dendam padaku"
"Dilihat dari daftar kasus yang jimin pecahkan, semua tersangka berada dalam jeruji penjara" Hoseok membuka suaranya sembari melihat kearah daftar tersangka semua kasus jimin.
Namjoon mengangguk anggukan kepalanya pelan, "begitu kah, jadi mungkin ini adalah dendam dari keluarga atau kekasih tersangka"
Siapa sebenarnya dia, dan apa motifnya? Pertanyaan itu terus menerus menghantui fikiran detektif muda ini. Jimin benar benar tak mengerti.
Handphonenya kembali berdering, Jimin segera mengangkatnya dan segera menlaudspek mode.
"Bagus, kau berhasil menjauhkan bom nya dari orang orang" Jimin, namjoon dan hoseok mendengar dengan seksama. "Selanjutnya, aku sudah memasang lima bom untuk keberangkatan kereta pada jam 4. Bom itu akan meledak jika kereta melaju dengan kecepatan dibawah 60km/jam. Dan itu akan berbahaya jika kereta berhenti" Namjoon segera menginstruksi hoseok untuk segera menghubungi pihak Seoul stasion untuk terus melajukan kereta 60km/jam nonstop.
Hoseok pun segera pergi untuk menghubungi pihak Seoul Stasion, "dan jikapun kalian bisa menghindari ledakan, bom itu akan tetap meledak saat matahari terbenam. Good luck"
"Sial dia tak main main" Namjoon berujar dengan geram, "Pertama kita harus mencari tahu dimana bom itu diletakan" Namjoon mengangguk mengiyakan ucapan jimin.
'dan mengapa bom meledak di malam hari'
.
.
dilain tempat, penumpang kereta merasa kesal, dan cemas yang menyatu karena pengumuman mendadak yang berkata jika ada sesuatu yang mengharuskan kereta berjalan nonstop. Mereka sudah melaju dengan kecepatan 70km/jam selama 30 menit tanpa berhenti.
"untuk para penumpang, mohon mencari sekitar anda jika saja ada barang yang mencurigakan" Penumpang semakin di buat keheranan karena itu. "barang mencurigakan? Apa ada bom disini?"
para penumpang lalu melihat sekitar mereka dengan tergesa gesa dan setelah beberapa jam berlalu. Para penumpang tak lagi dapat menahan emosi dan kecemasan mereka. Mereka mengamuk dan ingin kereta segera dihentikan. Bahkan ada yang niat untuk meloncat dari jendela.
.
Jimin melihat kearah jam. Dia sendirian di ruangan namjoon, selagi namjoon dan hoseok pergi ke stasiun seoul. "matahari akan tenggelam sekitar satu atau setengah jam lagi" desisnya pelan.
Kalau dipikir pikir, bom itu meledak ketika hari gelap. Sangat berbeda dengan skateboard yang dibuat professor kenalan jimin. Skateboard itu hanya bisa digunakan ketika Siang hari. Itu menggunakan tenaga surya, jadi jika gelap, tidak bisa bergerak sama sekali.
"Cahaya matahari.. surya.." jimin terus bergelut dengan otak cerdasnya dan beberapa detik kemudian otak cerdasnya itu mendapat satu titik cahaya.
"aku tahu! Aku tahu!" Jimin segera menghubungi ponsel namjoon, "Inspektur, ini aku jimin."
.
.
"ah jimin, ada apa?"
"Bomnya bukan dibawah kursi, di bagasi, atau dibawah gerbong. Itu berada di antara rel"
"antara rel?!"
"Bomnya diatur agar jika gelap untuk beberapa detik, akan meledak. Ketika kereta melewati bom, cahaya akan terhalang beberapa detik. Satu gerbong panjangnya 20 meter, jadi 10 gerbong adalah 200 meter. Kecepatannya 60 km/jam adalah sekitar 16,7 m/s. Jadi, butuh 12 detik untuk melewati 200 meter. Dengan kata lain, waktu yang tepat untuk mencegah ledakan adalah sama dengan waktu kereta melewati bom pada kecepatan 60 km/jam. Kemudian, tolong alihkan kereta jalur keliling kearah yang berbeda. Sekali mereka melewati jalur berbeda, tidak akan ada ledakan."
"Baiklah"
Namjoon mematikan sambungan telfon, "Pak Jaekyung, seperti yang kau dengar. Tolong alihkan kereta pada jalur yang berbeda."
"Hmm" Jaekyung bergumam rendah lalu segela masuk ruang kendali.
"Dalam 3 menit, kereta nomor 11 akan melaju ke stasiun busan lewat jalur muatan!"
Dalam sekejap para pegawai di ruang kendali dibuat sibuk oleh arahan atasannya. Dan kereta pun melaju sesuai perintah yang diberikan.
Mereka sukses menghindari bom! Namjoon menunjukan senyumnya, "Kita berhasil!"
Dan semua pegawaipun bersorak dengan gembira setelah melewati kasus krisis mereka, penumpang pun juga turun dengan perasaan lega. Namjoon lalu menyuruh semua bawahannya untuk segera mencari bom sebelum gelap.
.
"Baiklah" Namjoon mematikan sambungan telfon dan membalikan tubuhnya pada jimin, "mereka bilang 5 bomnya telah ditemukn dan dijinakkan" Jimin menghela nafas lega.
"sebenarnya, terlalu cepat untuk merasa lega. Kelihatannya bom yang digunakan baru ¼ dari yang dicuri."
"Artinya, pelaku masih memiliki ¾ lagi?" Namjoon menganggukan kepalanya.
Hoseok masuk kedalam ruangan, "maaf terlambat."
"Hei inspektur, dimana tempat bom itu tersembunyi di jalur keliling?" Namjoon menoleh kearah jimin, lalu mengingat kembali.
"Huh? Coba aku ingat.. hanya perumahan biasa. Oh ya! Salah satunya berada tepat diatas jembatan di sumida canal."
Jimin mengeryit, "Di atas jembatan?"
'tunggu, jembatan di sumida canal itu kan jembatan yang dibuat oleh Frank'
Jimin melihat kearah acara berita yang sedang menunjukan berita tentang bom di atas jembata. "jembatan itu, bukankah salah satu desain Frank Kim?"
Namjoon dan hoseok melihat kearah televisi. Namjoon mengeryit bingung, "mungkin saja.."
"Itu benar" namjoon dan jimin menatap kearah hoseok. "Itu desain Frank kim, selesai pada tahun 1983. Ketika itu, jembatan itu sangat disukai daripada yang terbuat dari besi. Jembatan itu terbuat dari batu dengan gaya inggris. Frank kim memenangkan kejuaraan arsitektur masyarakat jepang 'pendatang baru hari ini' untuk kerjanya pada jembatan itu."
"Kau tahu banyak tentang ini ya?" Namjoon bertanya pada hoseok, "aku tertarik dengan arsitektur"
'kalau tidak salah, rumah jung jinyoung juga terbakar, dan bangunan itu juga desain Frank kim'.
.
Seokjin dan yoongi berjalan di trotoar, yoongi sudah menenteng kado untuk jimin di tangannya. "aku juga sudah lama tak bertemu jimin. Aku ikut menonton dengan kalian ah" Yoongi sedikit membulatkan matanya. "Ah, filmnya mebosankan! Jimin juga membosankan.. err.. jadii…"
"Haha, bercanda kok bercanda!" seokjin tertawa melihat reaksi yoongi. Sebenarnya film ini cukup menarik perhatian para remaja akhir akhir ini. Bercerita tentang dua sejoli yang terhubung oleh benang merah hubungan mereka.
"Yasudah, sampai disini saja tidak apa apa?" Yoongi menganggukan kepalanya, "Eum.. hati hati dijalan"
"Jangan lupa memberikan laporan kepadaku, dan pastikan kau mendapat ciuman!" Seokjin berlalu sembari bersuara denan lantang untuk kalimat terakhir membuat yoongi memerah karena malu.
Yoongi berdecak pelan dan segera pergi menuju gedung mall seoul. Yoongi lalu melihat arlojinya, "Jam 9. Tinggal satu jam lagi."
.
.
Sedangkan jimin, namjoon dan hoseok sedang berada di perjalanan menuju rumah Frank kim. Jimin terus melihat keluar jendela, dan matanya melihat lampu jalan yang berjajar.
"Sial, investigasi ini hanya membuang waktu, dan semuanya karena bom sialan itu." Namjoon menyilangkan tangannya dan mendesah frustasi.
.
"Memang itu mungkin serangan acak" Frank menyalakan rokoknya dengan korek api kayu.
"Mungkin kau tahu siapa yang melakukan semua itu?" Namjoon bertanya pada frank, Jimin hanya melihat sekitar dan matanya terpaku pada foto keluarga dengan bigben London sebagai background foto keluarga tersebut.
Frank melihat kearah tatapan mata jimin, "Itu fotoku ketika umur 10 tahun, jimin"
jimin menoleh kearah frank, "Ayah dan ibuku ada dalam foto itu bersamaku."
"Ayahmu orang yang sangat hebat kan?"
"Dia adalah arsitek terkenal di dunia, khususnya di inggris. Aku sangat suka arsitekturnya" Hoseok menjawab pertanyaan jimin.
"Dia sudah meninggal, kalau tidak salah.." hoseok kembali menatap kearah Frank, "15 tahun lalu, dalam kebakaran di vila tempat dia berlibur, bersama ibuku. Sejak saat itu, aku diwarisi rumah ini."
"Itu terjadi saat desainmu mulai menjadi pusat perhatian, 'kan Frank Kim?"
"i…iya, kurasa begitu."
"Tuan kim, kembali ke topic, adakah sesuatu yang bisa kau sebutkan tentang si pelaku?" Namjoon kembali membuka suara. "ah, iya, coba aku ingat."
"maaf, boleh kah aku berkeliling sebentar?" Jimin lalu berdiri, "ya, silahkan Jimin-ssi" Jimin mengangguk pelan dan segera melangkahkan kakinya menjauh dari orang orang dewasa tersebut.
Jimin masuk kedalam ruang galeri Frank Kim, dia lalu berkeliling untuk melihat foto foto yang berada di galeri tersebut.
'desainnya dari umur 30-an mulai dari sini. Rumah Jung jinyoung, Rumah Ahn sang ah, dan rumah Cha jaeryu, rumah Yoo jenny, dan jembatan' Tapi jimin melihat ada yang salah dari bangunan bangunan yang terbakar ini. 'Tidak salah lagi!'
Jimin lalu melihat sesuatu yang ditutupi oleh kain hitam, seingatnya saat dia dan yoongi kesini tak ada barang seperti ini.
"Rencanaku untuk kota baru" Jimin bergumam membaca papan nama yang ada di bagian samping benda tersebut. Lalu jimin menyibakkan semua kainnya.
"Benar benar kota simetri baru yang sempurna" Jimin berguam sembari melihat gambaran kota yang dibuat frank kim.
Tunggu, lampu jalan itu.. itu adalah lampu jalan yang dilihat jimin tadi. "Jadi seperti itu. Pelakunya adalah orang itu. Tapi aku masih belum memiliki bukti. Mau bagaimana lagi, hal yang bisa kulakukan adalah meninggalkan hal hal yang kebetulan"
Jimin lalu masuk kedalam ruangan seperti ruang baca milik frank. Lalu jimin berkeliling untuk mencari sesuatu yang bisa ia gunakan sebagai bukti. "Ah, ini berguna. Selanjutnya aku butuj gunting, dan plester" Itu adalah rambut yang ada pada baju besi pengawal kerajaan.
Jimin mencar gunting dan plester lalu matanya melihat pematik diatas meja, dirinya mengeryit bingung.
.
.
"Begitu, kau tak tahu apapun?" Frank menganggukan kepalanya, "maaf karena aku tak berguna sama sekali."
"baiklah, kalau kau ingat sesuatu, tolong hubungi aku" Namjoon dan hoseok berdiri untuk akan segera pergi berpamitan namun telfon yang berdering dari ponsel namjoon membuat namjoon mengurungkan niatnya.
"permisi sebentar" namjoon mengangkat telfonnya, "oh jimin? Oh, begitu.. semuanya harus berkumpul ke ruang galeri" Namjoon lalu menutup telfonnya. "Tuan kim, bisa kau bawa kamu ke ruang galeri?" Fran berdiri lalu mengangguk "Baiklah, tapi apa kalian tak keberatan jika berhenti dulu keruang membacaku?" Namjoon menggelengkan kepalanya, "Tidak sama sekali"
Frank lalu berjalan terlebih dahulu kedalam ruang membacanya dan mengambil pematik miliknya lalu segera membawa namjoon dan hoseok ke galeri.
ekspresi wajah frank mengeras begitu denah yang dia tutupi oleh kain hitam kina terpangpang dengan jelas. "Yo, kalian sudah berkumpul disini." Lalu jimin masuk kedalam ruang galeri.
"aku sudah mengetahui kebenaran pembakaran dan pengeboman pada kejadian ini." Jimin berujar dengan santai ekspresi wajah frank kian mengeras melihat si pemuda tan itu.
"Benarkah? Jadi siapa pelakunya?!" Namjoon bertanya dengan terkejut.
"pelakunya adalah sedainer dari semua gedung yang dibakar dan juga jembatannya, yaitu kau, Frank Kim"
"APA?!" Hoseok dan namjoon bersuara dengan keras karena terkejut.
"Frank kim mendapatkan bakatnya dari ayahnya, yang juga arsitek sejak usia muda. Dia mengeluarkan debutnya di arsitektur masyaratak sangat muda di sekitar pertengahan umur 30-an" Jimin menyilangkan tangannya di depan dada dan matanya terus menatap pada foto foto yang berjajar di dinding.
"setelah memenangkan kejuaraan arsitektur masyarakat jepang 'pendatang baru tahun ini' untuk karyanya jembatan jalur keliling.. Frank kim membuat banyak rencana arsitektur yang bagus, tapi tiba-tiba.. tidak, mungkin beberapa saat yang lalu.. Dia ingin menghapus beberapa hasil karyanya."
"baiklah, Inspektur kim dan hoseok. Coba lihat foto foto ini. Pertama Rumah Jung jinyoung, Rumah Ahn sang ah, dan rumah Cha jaeryu, rumah Yoo jenny, dan jembatannya. Semuanya merupakan gaya Inggris klasik tapi apa kau melihat sesuatu yang lain?" Namjoon dan hoseok lalu melihat dengan teliti gambar gambar tersebut, "Ah! Mereka tidak simetris!" Hoseok menemukan hal janggalnya. "Benar sekali! Bagian kanan dan kirinya berbeda. Mungkin itu pesanan pelangga, tapi dia tidak bisa mengkompromikan prinsip arsitekturnya. Sebagai seorang yang professional, ini adalah hal yang sangat mengganggu Frank kim."
"Sampai sekarang, kehidupannya sebagai arsitek berlayar mulus, tapi tiba-tiba dia terlempar bayangan. Rencana untuk kota yang baru telah disepakati waktu penyelesaiannya, Tapi karena penangkapan walikota, proyeknya tidak dilanjutkan." Hoseok lalu melihat kearah gambaran yang dibuat Frank kim.
"Oh begitu.. ini salah satu desain Profesok Kim juga"
"Frank kim menantangku berharap agar bisa mengotori namaku, untuk membalaskan dendamnya. Saat itu, dia juga punya tujuan lain, yang mana untuk mengkamuflase pembakaran empat rumah, rumah jung jinyoung dan yang lain juga bomny untuk jembatan." Namjoon lalu melirik kearah Frank kim yang berdiri kaku tanpa bergerak.
"Ketika waktu pada bom yang ada dalam kotak berhenti, pasti karena berada di dekat lampu gas di taman anak anak.. yang mana merupakan symbol dari kota yang baru. Kau membuatnya seperti lampu dari londonmu tercinta, Benarkan?" Jimin juga kini menatap pada Frank kim.
Frank kim lalu terkekeh pelan, "Analisis yang menarik, Park. Tapi, sayangnya, bagaimanapun, kau tak punya bukti."
Jimin menyeringai, "Oh, ada buktinya kok. Tepat disebelah kanan korak model itu" Frank terbelalak saat melihat wig dan kumis yang dia pakai sebagai penyamaran. "Bagaimana mungkin?! Aku telah menyimpannya di lemari besi ruanganku..!"
"Oh, jadi yang asli ada di lemari besi ruanganmu. Itu hanya wig dan kumis buatanku kok" Jimin tersenyum remeh, "gotcha" gumamnya pelan.
Hoseok lalu mendekati Frank, "Professor frank, aku ingin kau pergi ke kantor polisi" Frank lalu menjauhi hoseok dan mengarahkan pematiknya, "Jangan bergerak! Jika kalian macam macam, aku akan ledakkan bom yang ada di sekitar perumahan."
"Ah untuk pematik itu, batrainya ada padaku lho" jimin menunjukan dua batrei di tangannya, frank lalu membuat tutup batrai dengan tergesa gesa dan tak ada batrai disana. "Ba, bagaimana kau tahu ini remote?!"
"Karena kau menyalakan rokok dengan korek api kayu kan? Bukan dengan pematikmu"
Hoseok dengan segera memborgol kedua tangan Frank Kim. "Jika kalian pikir ini menyelesaikan semuanya, kalian salah besar." Jimin mengeraskan wajahnya mendengar perkataan frank kim.
"ada satu gedung lagi yang ingin aku hancurkan." Jimin lalu melihat kearah foto, ada satu gedung yang tidak simetri. 'Gedung mall kota seoul?!'
"Krisis ekonomi, dan anggaran arsitekturku digorok. Alasan bodoh macam apa itu?! Itu adalah bagian terbesarku, tapi pekerjaanku yang paling mengerikan. Aku yakin kalian tak mengerti estetika ku. Ya, tinggal 1 menit lagi jam 10." Jimin membelalakan matanya, orang yang sangat amat dicintainya berada disana!
.
.
Semua yang hendak menonton bioskop terlihat menunggu dengan tenang, sangat tenang. Yoongi lalu menerima telfon pada handphonenya, "YOONGI! PERGI KELUAR SEKARANG!" –terlambat, bom meledak saat itu juga –membuat para pengunjung berlari ketakukan.
.
"aku sudah meletakkan bom di lobi dan pintu darurat. Kesenangan sudah dimulai" Jimin menggeram kesal, dia lalu melihat kertar di saku frank kim, dan jimin segera mengambilnya. "ini kan.. Denah bomnya" Jimin segera berlari keluar, "Tunggu! Aku membuat 3 menit special untukmu. Bersenang senanglah"
Peduli setan! Saat ini yoongi dalam bahaya, dan jimin harus segera pergi.
satu persatu Bom terus meledak di Gedung kota seoul. Bala bantuan pun mulai berdatangan. Jimin, berlari memasuki gedung yang sudah mulai runtuh tersebut.
Yoongi melihat seorang perempuan tengah menangis karena cemas dan ketakutan, "taka pa apa, aku yakin bala bantuan akan segera datang"
Lalu handphonenya kembali berdering, "Aku ada di pintu darurat sekarang, tapi tertutupi oleh reruntuhan" Yoongi mendengar suara jimin dari line telfon pun mulai meneteskan airmatanya, karena sungguh yoongi pun ketakutan dan dia membutuhkan jimin disini.
"aku bisa melewati reruntuhannya sejauh ini, tapi pintuya melengkung.. karena guncangan dari ledakan.. dan aku tidak bisa membukanya." Jimin berbicara dengan nafas yang tersenggal senggal. "Oh iya, apa kau melihat benda aneh di lobi, seperti tas tangan atau koper?"
Yoongi menolehkan kepalanya lalu dia melihat sebuah tas dibelakang kursi. Yoongi berjalan untuk mengambil tas tangan tersebut. "apaan ini? Ini berat sekali dan besar, da nada sesuatu seperti jam digital."
"hati hati! Itu bom!"
"bom?" dengan reflex yoongi bersuara dan membuat orang lain yang berada di tempat berangsung menjauhi yoongi.
'Fank kim sialan, dia meninggalkan yang paling besar disini!'
"Yoongi, berapa waktu yang tersisa?"
Yoongi lalu segera memeriksa waktu yang ada pada bom tersebut, "42 menit 7 detik"
'40 menit ya, itu artinya bom akan meledak 3 menit lewat tengah malam. 3 menit?' tiba tiba jimin mengingat apa yang dikatakan Frank di galeri tadi.
sementara itu dibawah, "bagaimana?"
"tak bisa, semua tangga ditutupi oleh reruntuhan, dan butuh waktu cukup lama menuju lantai 5."
'18 menit lagi. Tidak ada waktu lagi' Jimin melihat kearah arlojinya. "yoongi, kau punya gunting?"
Yoongi lalu merogoh tasnya, "Punya, untuk apa?"
"Kau.. akan menjinakkan bom nya." Yoongi terkejut dengan jawaban jimin, "apa?!"
"dengar, lakukan saja apa yang aku bilang padamu." Jimin mengambil kertas yang dia ambil dari frank kim tadi.
"Tunggu! Aku tak bisa konsentrasi jika berbicara di telepon. Aku akan kesana!"
"Tunggu yoongi!" Jimin memeriksa isi kertasnya, "Bagus, tak ada sensor getaran, tapi pindahkan itu pelan pelan!"
Yoongi menganggukan kepalanya, "aku mengerti" yoongi lalu menutup sambungan telepon dan membawa bomnya mendekati pintu darurat. "kau bisa dengar aku, jimin?"
"Ya, aku dapat mendengarmu dengan jelas" Yoongi lalu duduk dan membuka tas tersebut. Yoongi sedikit menghembuskan nafasnya, "Kenapa yoongi? Kau baik baik saja?" Yoongi mengangggukan kepalanya, "Um.. aku baik"
Yoongi lalu menyiapkan guntingnya, "baiklah, aku siap."
"Bagus, sekarang buka tutup bagian luarnya. Kau harus membukanya keatas dengan hati hati" Yoongi lalu membuka tutup bagian luarnya dengan hati hati, "aku sudah membukanya, jimin"
"baiklah, kita akan memotong kabelnya sekarang. Jika kau memotong kabel yang salah, kita akan mati." Yoongi menganggukan kepalanya, "Pertama, kabel kuning bagian bawah"
Yoongi lalu melihat kearah lilitan kabel kabel dalam bom tersebut. Yoongi mengambil kabel berwarna kuning, "aku potong ya"
"Ya" Yoongi lalu memotong kabel tersebut dan satu bom di lantai bawah meledak.
Yoongi telah memotong satu persatu bomnya sesuai yang diperintahkan jimin. Yoongi lalu mengelap keringat di dahinya. "aku memotongnya"
jimin menghela nafas, "yosh, sepertinya kita berhasil. Yang terakhir potong kabel hitam dan waktunya akan berhenti."
"kabel hitam" yoongi bergumam lalu kembali melihat pada kabel dalam bom, setelah menemukannya yoongi segera memotongnya. "Ji.. jimin? Aku sudah memotong kabel hitam, tapi waktunya tidak berhenti. Yang ada, masih ada 2 kabel lagi, warna merah dan biru"
Jimin membelalakan matanya, "apa?!" jimin dengan cemas terus memeriksa isi kertas tersebut.
"Bagaimana? Aku potong dua duanya?"
"Bodoh! Salah satunya adalah jebakan! Itu akan meledak setelah kau memotongnya!"
"t-tak.. mungkin" Yoongi kembali melihat pada bomnya.
'Sial! Yang mana? Merah atau biru?' jimin terus berpikir dengan keras. Lalu suara dentengan jam terdengar dengan keras, itu artinya, telah pukul tepat 12 malam.
"jimin?" Jimin menurunkan kertasnya, "huh?"
"Happy birthday.." Yoongi bersuara dengan lembut dan lemah. Yoongi menyandarkan punggungnya pada pintu, "karena, aku.. aku mungkin tidak akan punya banyak waktu lagi.." yoongi mulai meneteskan airmatanya.
"Y-Yoongi.." Jimin menundukan kepalanya, sama halnya jimin pun juga menyenderkan punggungnya pada pintu yang sama dengan yoongi.
"potong saja.. warna yang kau suka, potong saja."
"tapi, jika aku salah?"
Jimin terkekeh pelan, "Tidak apa apa. Jika telah waktunya, kita akan ditakdirkan untuk mati. Karena itu kau hanya bisa memilih warna yang kau suka.."
"Tapi.. bagaimana jika aku salah?" yoongi melihat pada waktu yang tersisa, Tinggal 2 menit.
"Jangan khawatir, aku akan disini terus sampai kau memotongnya. Jika kita mati, kita mati bersama" jimin tersenyum.
Reruntuhan kembali berjatuhan tepat di atas jimin membuat jimin menjauh dari pintu, dan handphonenya jatuh lalu tertimpa reruntuhan. Begitu pula di atas yoongi, yoongi segera membawa bomnya menjauh dari pintu darurat.
"Apa warna yang kau sukai? Misalnya antara biru dan merah, mana yang akan kau pilih?"
"Merah.. mungkin"
"Seperti aku, dia suka warna merah, dan untuk bulan oktober, Merah adalah warna keberuntungan untuk kami berdua! Jadi, itu mengapa aku berencana memberinya baju kaos berwarna merah"
.
.
Yoongi lalu melihat kearah hadiah yang akan dia berikan pada jimin. Yoongi menautkan halisnya lalu mengangguk dengan pasti, lalu mengaitkan guntingnya pada salah satu kabel.
"Yoon! Yoon! Kau tak apa apa?!" yoongi tak menyahutinya, "sial! Dia tak bisa mendengar aku"
Lalu tiba tiba bala bantuan datang, "oi, ada pemuda disini"
"ah tunggu dulu! Masih ada orang terjebak didalam!"
"eh? Iya kah? Ayo cepat bor reruntuhan ini!"
"baik!"
Jimin berdiri dibelakang orang itu, "hari ini ulang tahun pernikahanku, tapi aku rasa aku tidak bisa menikmatinya." Jimin mengeryit pelan, lagi lagi dia ingat pesan Frank padanya.
'ah! Maksudnya agar aku menikmati ulang tahunku 3 menit! Tunggu dulu, sebelumnya...'
.
"Aku rasa berarti kau telah mempersiapkan hadiah untuknya?"
"Seperti aku, dia suka warna merah, dan untuk bulan oktober, Merah adalah warna keberuntungan untuk kami berdua! Jadi, itu mengapa aku berencana memberinya baju kaos berwarna merah"
.
'Warna keberuntungan..' jimin berpikir sesaat, 'Gawat!' tembok tembok atap kembali berjatuhan.
"Yoon! Jangan potong kabel merah! Potong yang biru! Bukan yang merah! Oi Yoongi!" percuma, yoongi tak dapat mendengar teriakan jimin. Jimin lalu segera ditarik paksa oleh orang tadi.
Sementara itu yoongi yang hendak memotong kabelnya, 'selamat tinggal.. jimin' Dan kabel tersebut terbelah menjadi dua.
Tubuh yoongi bergetar, dan nafasnya berderu. Waktu di bom itu, berhenti tepat dua detik sebelum meledak. Yoongi menjauhkan guntingnya dari kabel tersebut. Dan Yang dia potong adalah, kabel biru.
Semua yang ada dalam ruangan bersorak dengan gembira, dan yoongi hanya tersenyum lalu menghela nafasnya lega.
.
.
Yoongi sudah berada dibawah sekarang, dia berjalan mencari jimin. "hei penjinak bom" Yoongi merasa bahunya di rangkul oleh lengan yang cukup besar. Yoongi menoleh pada orang tersebut, "jimin.." Jimin menunjukan eyesmilenya. "Kau berhasil"
Yoongi menggelengkan kepalanya, "Kita berhasil"
"mengapa kau memotong kabel biru? Padahal kau menyukai warna merah." Yoongi tersenyum kecil, "karena..aku tak mau memotongnya. Benang merah mungkin menghubungkan kita"—mengacungkan kelingkingnya lalu menunjukan eyesmilenya. Yang sumpah, itu membuat jimin kembali terpesona seperti saat mereka Taman kanak kanak dulu.
Jimin menangkup pipi yoongi, dan mengecup lama bibir tipis milik yoongi. "Aku mencintaimu" Yoongi sedikit menundukan kepalanya. "a-aku juga.."
.
.
.
Ssup! Sorry ya, gue lagi sibuk MPLS nih gaes:'v mumpung ada kesempatan gue nulis ini. Next chapter last chap ya. Gue udah nulis 5k+ lho ini:'v
Buat yang ingung umurnya jimin, yoongi, dan jin sekarang itu umur mereka disini 16-17 tahun.
