Setelah proses update yang lebih lama dari chapter2 sebelumnya, akhirnya…

CHAPTER 4 RILIS! So, buat para pembaca yang udah setia ngikutin fic ini, selamat menikmati karena fic ini LEBIH PANJANG dari chapter sebelumnya. Identitas asli Shion mulai terbongkar, tetapi teka-teki lain mulai bermunculan. Teka-teki yang akan membawa Hinata dalam masalah yang lain. Masalah apa itu?


Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto, this fic © by ME, Lyvia Fullbuster

Warning: AU, maybe OOC, typo, slow-plot

Pair: NaruHina for next chapter

Don't like its pair? Then, don't read, 'kay? ;)


Polisi senior bermarga Nara duduk di atas 'singgasana'nya. Sebuah senyum terajut di bibirnya ketika melihat reaksi pemuda Hyuuga yang merupakan 'mantan' muridnya.

"Anda... Seorang polisi?" tanya Neji, dengan wajah terpana.

Nara Shikaku mengangguk. "Maaf membuatmu terkejut. Tampang saya emang nggak cocok dengan profesi saya, ya?"

"B-Bukan begitu! Saya hanya tak percaya, kalau sempat diajar oleh seorang polisi.." kata Neji salah tingkah.

"Apa menurutmu itu sesuatu yang hebat?"

"Y-yaa.., kalau menurut saya sih, hebat. Polisi kan, tugasnya banyak. Saya kagum Anda masih sempat mengajar saya.."

"Neji, tutor itu hanya kerjaan sambilan saya, lho. Kalau kebetulan ada waktu luang, saya menerima tawaran mengajar, tapi kalau tidak ada, yaa, saya tolak," jelas Shikaku.

"Apa tidak kelelahan?" tanya Neji. Dia merasa tertarik untuk membicarakan kehidupan 'mantan' pengajarnya ini.

"Kalau menyukainya, letih pun tidak terasa."

Neji manggut-manggut tanda mengerti. Dipandanginya Shikaku dengan mata berbinar, seperti anak kecil yang menonton aksi superhero pujaannya. Dia hendak mengeluarkan pertanyaan-pertanyaan lain, namun Shikaku keburu 'menunda' keinginannya itu.

"Kau bisa bertanya lagi nanti, Neji. Prioritas kita sekarang membahas hal penting yang berkaitan dengan dirimu, sekolahmu, dan juga..." Shikaku menggantungkan kalimatnya, lalu melirik ke arah Hinata—yang langsung merinding begitu melihat tatapan polisi bermata elang itu. Dia lantas melanjutkan kalimatnya, "... adikmu, Hinata Hyuuga."

Mendengar nama adik sepupunya disebut, Neji langsung merubah sikapnya. Raut wajahnya kembali menjadi tegas dan berwibawa. "Ada apa dengan adik sepupu saya?"

Polisi berkuncir satu tidak melepaskan pandangannya dari Hinata. Matanya memberi sinyal agar Hinata mau menjelaskan insiden yang membuat dirinya menyandang status sebagai seorang 'terduga'. Sedangkan gadis berambut indigo yang mendapat tatapan mata penuh arti dari sang polisi, mau tak mau mengangguk tanda tidak merasa keberatan. Maka, dengan suara bergetar dan mata yang berkaca-kaca, Hinata pun menceritakan segala yang terjadi mulai dari pulang sekolah sampai bagaimana dia bisa sampai di ruang kerja polisi senior bermarga Nara.

Neji, yang mendengar penjelasan Hinata, tidak bereaksi apa-apa selain memasang wajah tak percaya. Ditatapnya sang adik dan polisi bergantian, meminta kepastian atas penjelasan yang baru dia dengar. Mungkin, dia berharap ini semua hanya lelucon.. Lelucon tidak lucu yang biasa dilontarkan pada tanggal 1 April. Tapi, hei, sekarang bukan tanggal 1 April!

"Apa itu… Benar?"

"Aku tidak akan memanggilmu ke sini kalau hanya untuk menceritakan kebohongan," tegas Shikaku.

"Tapi… Adik saya tidak melakukan hal itu, kan? Adik saya tidak membunuh Shion, kan? Dia cuma saksi mata yang kebetulan lewat… Ya, kan? Ya, kan, Hinata?" tanya Neji lagi. Dia menekankan suaranya pada kata 'tidak membunuh'.

Hinata hanya mengangguk.

"Anda lihat, Shikaku-san? Seperti yang saya ceritakan waktu itu, Hinata tak pernah berbohong padaku! Kalau dia mengangguk berarti dia berkata jujur!"

"Aku belum bisa memastikannya karena saat itu aku tidak ada di TKP," jelas Shikaku.

"A.. Apa..? Jadi, Anda masih tidak percaya kalau adik saya tidak melakukan hal keji itu?!"

"Bukannya tidak percaya, tapi belum percaya," jawabnya singkat.

"Belum percaya? Kalau begitu, kapan Anda bisa percaya?!" tanya Neji setengah membentak. Dia sudah mulai kehilangan kontrol atas emosinya.

"Yaah, saya memang belum percaya sepenuhnya pada adikmu," sahut Shikaku, tanpa peduli apakah jawabannya sesuai dengan pertanyaan Neji. Dia melanjutkan kalimatnya, "… Tapi, saya sudah sangat percaya kalau keluarga Hyuuga tidak pernah melakukan hal yang dapat menjatuhkan martabatnya."

Neji terdiam. Hinata juga. Tanpa dikomando, wajah keduanya langsung surprised manakala mendengar kalimat terakhir Shikaku. Apa itu artinya, Nara-san berpihak padaku? batin Hinata.

Sambil memasang senyum misterius, Shikaku melanjutkan kalimatnya, "Tadi sudah kukatakan kalau aku memanggil Neji untuk membahas hal penting yang berkaitan dengan kalian berdua serta sekolah tempat kalian menimba ilmu sekarang ini."

"Shinobi High School?" terka Hinata, yang dibalas dengan anggukan Shikaku.

"Apa ada kaitannya dengan kejadian ini?" giliran Neji bertanya.

"Menurut analisisku, ada. Kaitannya erat sekali, bahkan."

Neji—yang tadinya berdiri—kini duduk di bangku sebelah Hinata. Duo saudara sepupu itu menajamkan pendengaran masing-masing untuk mendengar penjelasan Shikaku.

"Ahahaha, kalian itu asli remaja ya, labil banget! Padahal tadi panik bukan kepalang, sekarang malah jadi sangat penasaran!" ucap Shikaku sambil tertawa kecil.

"Ayolah, Shikaku-san. Tadi, Anda sendiri yang memintaku untuk serius, tapi sekarang, Anda justru mengajak kami tertawa," rajuk Neji.

"O-Oke, aku minta maaf. Tadi itu hanya joke ringan. Mari kembali ke topik."

Duo Hyuuga langsung memusatkan perhatiannya lagi. Shikaku yang melihat perubahan sikap mereka sebenarnya sangat ingin tertawa. Namun, dia berusaha menahan tawanya agar tidak 'diomeli' Neji lagi.

Setelah berdeham, Shikaku pun melanjutkan kalimatnya, "Kalian tahu Shion itu satu sekolah dengan kalian, kan?"

"Ya… Tapi, jujur saja, aku belum pernah melihatnya walau kami satu sekolah," ujar Neji, yang disambut dengan anggukan Hinata.

"Padahal kalian satu angkatan, kan?"

"Ya."

"Bukankah itu aneh?"

Neji dan Hinata saling berpandangan. Dalam hati, mereka mengatakan kalau ucapan sang polisi ada benarnya.

"Apa kalian tahu siapa sebenarnya Shion itu?"

Dua saudara sepupu menggeleng kompak.

Sudah kuduga mereka tidak tahu…, batin Shikaku. Dia hendak meneruskan perkataannya, namun keraguan sekali lagi terbesit di benaknya. Dia masih tidak yakin, apakah menceritakan kebenaran pada remaja yang tidak mengerti apa-apa soal dunia kriminalitas adalah keputusan yang tepat. Tapi… Jujur saja, bahkan orang seperti aku pun masih butuh bantuan dari mereka, karena mereka lah yang tahu keadaan sekolah yang sedang kuselidiki.

Akhirnya, Shikaku memutuskan untuk memberitahu Neji dan Hinata. Dihembuskannya nafas seraya berharap dalam hati, semoga keputusannya itu tak salah.

"Shion adalah.. Mata-mata yang sengaja kami kirim untuk menyelidiki sekolah kalian sejak seminggu yang lalu."

BRAKK!

"APAAA?!" seru Neji, yang secara refleks mendobrak meja di hadapannya saking kagetnya. Hinata—yang sudah dibuat kaget dengan ucapan Shikaku—hampir terjungkal dari kursinya karena terkejut dengan ulah kakak sepupunya itu.

"Yang benar saja?! Jadi, Shion orang kepolisian..?!"

"Ka.. Kak Neji.."

"Tenangkan dirimu, Neji. Kasihan adikmu. Lihat, mukanya jadi pucat karena tingkahmu."

"Hinata, aku minta maaf," ucap Neji, tanpa mengalihkan pandangnya pada gadis berambut indigo di sebelahnya. Perkataan Shikaku sukses membuat perhatiannya hanya terpusat pada mantan tutornya itu.

"Jadi.. Shion orang kepolisian?"

"Ya."

"Kenapa dia dikirimkan ke sekolahku? Atau lebih tepatnya.. Kenapa dia disuruh menyelidiki sekolahku?"

"Ceritanya panjang, Neji. Sebelum aku bercerita lebih lanjut, aku mohon kau menjaga sikapmu, karena akan ada banyak hal-hal mengejutkan yang tak pernah kau sangka."

"Umm, baiklah. Aku minta maaf," ujar Neji, seraya menggaruk tengkuknya tanda malu.

Setelah merasa atmosfir di sekitar mereka sudah lebih tenang dari sebelumnya, Shikaku pun mulai 'bercerita'.

"Kalian tahu, atau paling tidak, pernah dengar soal teroris bernama sandi 'Rosty'?"

"Rosty? Maksud Anda, Robe of Luminosity, teroris berjubah emas yang identitas aslinya tidak diketahui publik sampai akhir hayatnya itu?" tanya Hinata.

"Ya."

"Bukankah dia sudah meninggal lima tahun yang lalu? Kabar yang beredar mengatakan bahwa Rosty menjatuhkan dirinya ke jurang yang langsung menyambung ke perut bumi."

"Nah, itu dia. Semua itu hanyalah berita palsu yang sengaja dibuat agar kerabat dari korban tidak terus menerus dilanda kesedihan."

"Hah, maksudnya..?" Giliran Neji yang bertanya. "Maksudnya… Dia belum mati? Rosty belum mati?"

"Pihak kepolisian belum dapat memastikan hal itu. Tapi, kalau dilihat dari aksi terror via e-mail atau SMS yang belakangan ini marak terjadi, serta surat yang dikirimkan ke pihak kepolisian ini…" Shikaku menggantungkan kalimatnya seraya mengambil 'sesuatu' dari dalam saku jaketnya. Dia lalu meletakkan secarik kertas hitam yang diatasnya tertulis kata-kata bertinta emas di meja.

Hinata dan Neji langsung membaca kata-kata yang tertulis di atas kertas itu. Sedetik kemudian, air muka mereka langsung diliput kegelisahan.

"Hinata.."

"Ya, Kak Neji?"

"Apa kau menyadarinya? Kata-kata di surat ini.."

"Sama dengan kata-kata yang diucapkan Shion sebelum dia jatuh…" lanjut Hinata. Dia menelan ludah setelah membaca surat itu. "Hanya saja.. Kata-kata ini tak ada..." lanjutnya, seraya menunjuk paragraf terakhir di surat itu.

Neji melihat kalimat yang ditunjukkan Hinata, lalu dibacanya kata-kata di kalimat itu. "Terkadang, melihat bintang membuatmu bingung, kan? Kau ingin mengambilnya untuk menjawab kebingungan itu, tapi lebih baik kamu tidak melakukannya. Sebanyak apapun kamu melompat, kau tak 'kan pernah menjangkaunya."

"Apa maksudnya itu?" tanya Hinata pada kakaknya.

"Hmmm.. Aku belum dapat memastikan.. Barangkali Anda tahu, Shikaku-san?"

"Sama denganmu. Aku masih belum mengerti jalan pikiran teroris yang satu ini," jawab Shikaku, yang langsung disambut oleh tatapan penuh kekecewaan oleh Neji.

"Ini juga salah satu alasan kenapa aku memanggilmu. Aku ingin kau yang cerdas ini membantuku dalam memecahkan teka-teki dari Rosty—atau penerusnya Rosty."

Neji salah tingkah. Bagaimana tidak, sang polisi sekaligus detektif yang amat dikaguminya meminta bantuan padanya padahal dia sendiri tak bisa menelaah maksud dari surat itu. "Maafkan aku, Shikaku-san, tapi aku juga tidak mengerti maksud dari surat ini.."

"Bukannya tidak mengerti, Neji, tapi belum mengerti. Ingat? Aku mengirimkan Shion untuk menyelidiki sekolahmu, tapi sayang sekali, dia gagal. Karena itu, kita akan menggantikannya menyelidiki sekolahmu. Barangkali, kita dapat menemukan petunjuk lain."

"Tunggu. Anda belum menjelaskan alasan Anda menyelidiki sekolah Kami, kan?" desak Hinata. "Jadi, kenapa Anda ingin menyelidiki sekolah Kami?"

Sang kepala keluarga Nara tidak menjawab dengan kata-kata. Dia hanya mengambil senter di laci mejanya, menyalakannya, lalu menyorotkannya ke arah kertas surat yang tengah dipegang Hinata.

"Apa yang Anda lakukan?"

"Tunggu, Hinata!"

Hinata menoleh. Apa kakaknya menyadari yang sedang dilakukan oleh sang detektif?

"Kenapa, Kak?"

"Coba lihat baik-baik kertas ini."

Hinata menajamkan penglihatannya. Ditatapnya lekat-lekat kertas hitam yang dipegangnya itu, berusaha mencari 'sesuatu yang aneh' dari kertas itu. Matanya langsung membulat ketika logo sekolahnya samar-samar terlihat dari kertas itu.

"Kertas ini.. Jangan-jangan, ini kertas ulangan sekolah kita?!" tanya Hinata, seraya menatap sang polisi untuk meminta kepastian.

"Ya, ini kertas ulangan sekolahmu yang digunting dan dicat hitam. Karena itu, pihak kepolisian menyelidiki sekolahmu untuk memastikan, apakah Rosty atau siapapun yang menulis surat itu ada di sekolahmu," jelas Shikaku.

"Tapi, apa surat ini benar-benar dari Rosty? Bisa jadi ini hanyalah surat dari orang iseng, kan?"

"Hmm, itu mungkin saja, Hinata. Tapi, adakah orang yang mampu meniru tandatangan Rosty yang rumit itu?" Shikaku balik bertanya, seraya meletakkan kembali senternya di laci.

"Itu benar, Hinata. Kalau menurutku sih, tidak ada," sahut Neji, sambil menunjuk tandatangan yang tertulis di sudut kanan bawah kertas itu. Sebenarnya sih, itu tidak pantas disebut 'tandatangan'. Kerumitan 'tandatangan' itu membuatnya lebih pantas disebut kaligrafi latin berukuran mini.

"Selain itu, Hinata, belakangan ini sering terjadi peneroran lewat SMS, kan? Mungkin saja, surat ini memang bukan hanya buatan orang iseng. Ya kan, Pak Shikaku?"

"Yaah.. Kami belum dapat memastikannya, sih.. Bisa saja itu surat buatan seniman kurang kerjaan, kan?" canda Shikaku, yang langsung disambut oleh tatapan 'itu-lawakan-yang-tidak-lucu' dari Neji.

Kini, giliran Shikaku yang salah tingkah. "O.. Oke, aku tahu, aku memang tidak bisa melawak…"

"Karena melawak memang bukan pekerjaan Anda, kan?"

Sang pria berkuncir satu mengangguk.

"Baiklah, kembali ke topik… Jadi, apa kalian berdua bersedia membantu pihak kepolisian untuk menyelidiki surat ini?"

"Ya!" jawab Hinata mantap.

"Tentu saja, karena tidak ada alasan bagi kami untuk berkata tidak," tandas Neji.

"Aku senang mendengarnya. Kalian memang anak-anak baik."

"Jadi, kapan kami memulai penyelidikan?"

Shikaku tersenyum. "Jangan terburu-buru, Neji. Sekarang sudah pukul 5, sebaiknya kau dan Hinata pulang. Besok, kau bisa memulai penyelidikan."

"Umm, yaa, baiklah. Rasanya, agak aneh juga kalau aku kembali lagi ke sekolah di saat rapat sudah selesai," Neji melirik Hinata. "Ayo kita pulang, Hinata."

Sang adik sepupu Neji mengangguk. Setelah berpamitan pada Shikaku, mereka lantas meninggalkan ruangan polisi senior bermata elang itu.

Ketika Neji sudah berjalan beberapa meter di depannya, Shikaku menarik kembali tangan Hinata, yang berjalan di belakang. Tindakannya ini membuat gadis berkulit pucat itu terkejut.

"Ada apa, Nara-san?"

"Ini..," ucapnya, sembari meletakkan secarik kertas putih di atas tangan Hinata. "… Mungkin bisa jadi petunjuk untuk penyelidikan kalian. Tapi, jangan beritahu ini pada Neji."

"Eh? Kenapa?"

Sekilas, Hinata melihat raut muka Shikaku diliput keraguan. Namun, Hinata pikir, itu mungkin hanya imajinasinya saja, karena sang polisi menjawab pertanyaannya dengan nada yakin.

"Kalau kau sudah membacanya, kau akan mengerti. Kumohon jangan beritahu Neji. Ini demi kebaikannya juga."

Hinata bingung sekali. Saat dia ingin bertanya lagi, Neji sudah keburu memanggilnya. Mau tak mau, Hinata hanya bisa mengangguk, seraya menyusul kakaknya yang sudah menunggunya di pintu kantor polisi. Ekor matanya berusaha menangkap sosok sang polisi yang kini tengah berbicara dengan dua orang yang terlihat seperti bawahannya.

Apa maksud sebenarnya… Dari semua teka-teki ini? batinnya penasaran.

-to be continue-


Fyuhh, chapter 4 akhirnya selesai. Terimakasih buat Berlian-san yang sudah kasih saran buat kelanjutan fic ini. Sepertinya, saya harus belajar banyak tentang bagaimana cara membuat fic misteri yang baik dari Anda.. (ohya, jangan panggil saya –senpai.. Saya masih newbie disini :))

Dan.. Entah untuk yang keberapa kalinya saya mengucapkan pemohonan maaf karena Naruto (lagi-lagi) belum ditampilkan di chapter ini :(

Sempat ada gagasan untuk mengubah pairnya jadi NejiHina.. Tapi kalau kayak begitu, namanya bukan sekuel, dong? *galau*

Kepada para pembaca.. Kira-kira gimana bagusnya, ya? Saya memang mau menampilkan Naruto, tapi saya tidak yakin porsinya akan lebih banyak dari Neji..

Mohon bantuannya, ya! Kasih pandapat kalian di review atau PM untuk kelangsungan fic ini. Kritik yang membangun amat saya nantikan (saya bilang kritik yg membangun lho, yaa.. Bukan flame).

Sign,

Lyvia Fullbuster

(Terimakasih buat yang udah nge-fav, ngefollow, atau kasih pendapat di chapter2 sebelumnya. Buat yang log-in, balasan buat sebagian dari kalian sudah saya tulis di PM ^_^

Buat flamers BUTA yang ngejek2 saya di chapter 3.. Saya cuma bisa TERTAWA. Ya, TERTAWA! Saya menertawai KEBODOHAN Anda. Sudah tahu pairnya NaruHina, pair yg sangat Anda benci, kenapa masih dibaca? Lagipula, ini fic genrenya CRIME/MYSTERY. Kenapa Anda memberi komentar seolah ini fic genrenya romance? Saya juga sudah memberi peringatan kan, saya menerima KRITIK YANG MEMBANGUN, BUKAN FLAME. Saya tegaskan itu. Anda ini BUTA, atau emang cuma mau ngeflame tanpa baca ficnya dulu? Cuma mau ngeflame karena ini fic pairnya NaruHina?

PENGECUT seperti Anda memang pantas ditertawai. Sudah gak log-in, kasih review yg nggak sesuai sama isi fic pula. Anda mau cari masalah, ya? Oh, silakan saja. Akan saya hadapi bacotan Anda, tapi dengan satu syarat.. Log-in dulu, ya? Jangan cuma ngeflame kalo nggak berani adu bacot! :p)