THIS STORY BELONGS TO EXOKISS
I'M JUST A TRANSLATOR
PLEASE DON'T REUPLOAD THIS TRANSLATION ANYWHERE
Title: I'm In Love With My Baby Sitter
Chapter 3 : Just a red rose!
Author: ExoKiss
Translator : ChanBaekOnly
Original story : : / / w w w . story/view/661198/1/i-m-in-love-with-my-baby-sitter-drama-romance-baekhyun-chanyeol-baekyeol-chanbaek (without space)
…
…tapi aku masih belum mengerti artinya!
Baekhyun tidak pernah datang ke kampus setelah hari itu. Chanyeol tau dia sedang berusaha menghindarinya. Dia tidak punya nomor ponsel Baekhyun jadi dia tidak bisa menghubunginya.. Chanyeol juga dia pasti sudah keterlaluan pada Baekhyun di hari pertamanya jadi ia memutuskan untuk mencoba tidak menemuinya dan membiarkannya beristirahat selama sehari walaupun kenyatannya dia benar-benar merindukan lelaki yang lebih tua itu dan dia ingin pergi ke rumahnya. Selama dia merasa khawatir dia bisa memberi Baekhyun sehari untuk istirahat karena dia tidak akan berhenti setelahnya. Dia akan memaksa Baekhyun dan lelaki yang lebih kecil itu akan menjadi pacarnya dengan jalan apa saja dan dia tidak peduli pendapat Baekhyun mengenai hal ini.
Tidak, sebenarnya dia peduli, dia ingin perasaan mereka sama dan dia ingin Baekhyun untuk mencintainya dengan sungguh-sungguh.
Dia memikirkan apa yang Baekhyun katakan tentang Chanyeol yang tidak benar-benar mencintainya namun justru hanya tergila-gila. Itu mungkin saja benar tapi saat Chanyeol melihat Baekhyun lagi, dia malah jatuh cinta pada Baekhyun lagi, dia bisa merasakan itu di hatinya. Baekhyun tidak berubah secara fisik; dia masihlah laki-laki yang sama yang memiliki mata mirip manik-manik, cantik tanpa dibuat-buat dengan ciri yang tampan. Suaranya masih sama seperti yang Chanyeol ingat 7 tahun yang lalu. Ya dia mencintai Baekhyun secara fisik dan dia tertarik padanya, tidak ada penolakan. Sekarang dia hanya perlu mengenal Baekhyun secara personal dan mengetahui kepribadiannya. Dia tau tentang kepribadian dari babysitternya saat dia berumur 17 dan dia suka itu walaupun kepribadiannya sangat buruk kadang-kadang. Tapi mungkin Baekhyun sudah dewasa dan kepribadiannya sudah berubah. Cara satu-satunya agar Chanyeol tau yaitu dengan menghabiskan waktu dengan Baekhyun dan itulah yang ia mau. Ia ingin bersama Baekhyun dan dia akan bersamanya.
Sial! Baekhyun tidak juga datang ke kampus pada hari kedua. Chanyeol harus menghabiskan waktu yang sangat membosankan di kelas, menunggu sesuatu yang menarik untuk terjadi. Dia sudah mendapat semua pelajaran tentang hukum-hukum itu di Boston. Dia berada di sini hanya untuk Baekhyun. Dia mencoba melakukan sesuatu, mencari teman-teman Baekhyun, memohon-mohon meminta nomor ponselnya tapi dia tidak mengenal mereka. Kemudian dia menyadari bahwa dia tidak tau apa-apa tentang Baekhyun, lelaki berumur 24 itu dan dia harus memperbaikinya. Maka ia tidur di atas meja kecilnya selama kelas berlangsung memikirkan bagaimana cara mengetahui siapa yang berteman dengan Baekhyun. Dia terlihat seperti anak anjing yang tersesat. Dia tahu Baekhyun berada di bagian mana jadi dia memutuskan ntuk menanya kepada pihak administrasi tentang jadwal Baekhyun. Berbohong dan membujuk bukan masalah untuknya.
Ia memutuskan untuk pergi ke perpustakaan dimana dia melihat Baekhyun pertama kali lagi. Dia memeriksa komputer untuk meminjam buku dan memasukkan nama Baekhyun. Dia tidak terkejut melihat bahwa Baekhyun telah meminjam lebih dari 50 buku sebulan sebelum liburan dan dia belum mengembalikan buku-bukunya. Siapa yang melakukannya? Semua buku itu berisi tentang hukum . Ya Baekhyun sangat menyukai hukum, dia tidak dapat menyangkal hal tersebut. Sungguh kebetulan Chanyeol memutuskan untuk memilih jurusan hukum internasional, dia tau mereka terhubung. Chanyeol dengan mantap memutuskan untuk pergi ke rumah Baekhyun hari ini dan mengeceknya dan akan terus melaksanakan rencana-rencana kecilnya untuk membuat Baekhyun jatuh cinta padanya. Sayangnya ia mendapat panggilan dari ibunya dan dia harus menjemput adiknya dan menemaninya ke mall. Dia tidak bisa menemukan alasan yang logis kenapa adiknya tidak bisa pergi sendiri. Apa anak nakal yang satu itu tau bahwa dia sedang mengacaukan kesempatannya bertemu dengan Baekhyun sekarang ini? Tidak, tentu saja dia tidak tau. Setidaknya Chanyeol punya waktu untuk menelusuri toko-toko dan mencari hadiah. Well, dia bisa bertemu dengan Baekhyun lain waktu. Dan Baekhyun beruntung; Chanyeol memutuskan ia akan berkunjung besok pagi.
…
"Baekhyun tidakkah kau akan bangun hari ini?"
"Baekhyun kau sudah ketinggalan pelajaran selama dua hari! Apa kau pikir kau akan menjadi pengacara yang sukses seperti ini?"
"Baekhyun kubilang kau akan menyesal dan pergi ke kampus hari ini"
Mengomel, marah-marah, mengomel lagi. Samar-samar Baekhyun mendengar ibunya berteriak padanya. Dia berguling di tempat tidur selama tiga atau empat kali, mengacak-acak rambutnya, dan akhirnya duduk di kasur. Saat ibunya menyadari dia sudah bangun dia akhirnya membuka jendela, cahanyanya menyilaukan Baekhyun, membuatnya bersembunyi di bawah selimut yang kemudian ditarik dengan gembira oleh ibunya.
"IBU" dia berteriak jengkel.
"Kau pikir kau sedang melakukan apa Baekhyun? Kau bukan anak remaja lagi. Kau sudah berumur 24, kau tidak boleh bertingkah seperti ini lagi" ucapnya.
"Hanya beristirahat selama dua hari bukan perbuatan kriminal bu" ucapnya mencoba mencari kehangatan lagi di kasurnya yang hilang dengan cepat saat udara dingin menimpa kulitnya. "Bisa kau tutup jendelanya bu? Aku membeku" ucapnya menunjuk pada jendela.
"Kau sudah bangun?! Jadi tutup jendelanya sendiri, kau bukan anak-anak lagi" ucap ibunya.
"Aku tidak pernah bilang aku masih anak-anak karena aku memang bukan anak-anak lagi" Baekhyun berteriak. Sekarang, kapanpun dia mendengar "anak-anak" dia selalu menghubungkan kata itu dengan Chanyeol.
"Kau harus benar-benar hati-hati dengan caramu berbicara dengan orang tuamu, kau sudah 24 dan masih tinggal dengan kami, kau masih di bawah atap kami dan kami harap kau mengikuti aturan kami" ucap ibunya dengan tenang.
"Jangan pikir aku tidak pernah memikirkan tentang hal itu dan jangan berani-berani bilang aku tidak pernah mencoba untuk pergi. Kau tau, aku mempertimbangkan ide Kyungsoo untuk tinggal dengannya" ucap Baekhyun dnegan cerdas. Dia tau dia masih di rumah orang tuanya bukan karena keinginannya, tapi karena ibunya belum siap untuk melepasnya pergi. Dia terlalu mencintai anak unik berharganya untuk membiarkannya pergi secepat itu. Baekhyun menghemat uang jika ia tinggal dengan orang tuanya, benar, tapi dia tidak berencana untuk membusuk di sini selamanya. Dia hanya sedang menunggu kesempatan yang baik.
"APA KAU BILAN? KAU BERENCANA UNTUK PINDAH? KAU AKAN PERGI?" Ibunya berteriak, benar-benar kuatir.
"Tenang ibu aku hanya bercanda." Baekhyun berkata sambil memandang ibunya.
"Leluconmu sama sekali tak lucu nak" ucapnya, terlihat benar-benar terluka.
"Bu cepat atau lambat aku akan meninggalkan rumah ini. Itu akan terjadi suatu hari nanti"
"Ya aku tau dan itu akan terjadi nanti" ucapnya, merapikan tempat tidurnya untuk anaknya. Dia sudah berumur 24 dan ibunya selalu bersikeras untuk merapikan tempat tidurnya setiap pagi padahal dia sudah bilang ibunya tak perlu melakukan itu. Ya ibunya punya masalah yang nyata dan dia takut pada hari dia harus mengatakan pada pada ibunya bahwa dia dipekerjakandi perusahaan hukum terbaik di kota, karena dia pasti akan dipekerjakan, dan dia akan pindah. Semuanya pasti berakhir di rumah sakit, bisa saja ibunya yang mendapat serangan jantung atau dia sendiri yang akan dirawat di rumah sakit karena ibunya akan mencoba membunuhnya karena mencoba meninggalkan sisinya. Baekhyun mendesah lagi dan menggelengka kepala. Dia sudah punya cukup banyak masalah, sekarang dia punya dua masalah 'tinggi' yang harus diurus. Itu sudah cukup buruk baginya untuk menolak meninggalkan tempat tidur.
"Aku ingin bersiap-siap, bisa ibu keluar?" tanya Baekhyun, memukul bantalnya untuk yang terakhir kali.
"Tentu saja sayang! Dan sarapanmu sudah siap di meja makan. Pastikan untuk makan sebelum pergi" tambah ibunya sebelum menutup pintu.
"Tentu saja" bisik Baekhyun. Baekhyun tidak bisa menunggu ibunya untuk memperbaiki masalah itu sejak insiden tragis itu tapi Baekhyun sepertinya kehilangan harapan.
…
Baekhyun sudah siap. Dia akhirnya memutuskan untuk memakai jeans hitam, kaus putih, dan kemeja putih merah hitam kotak-kotak yang sangat ia sukai dan pernah membuat Kris ketakutan…bagus. Sangat bagus jika dia bisa membuat Kris melarikan diri darinya. Dia mengetahui hal itu dengan baik setelah percakapannya dengan Kris dua hari yang lalu, laki-laki pirang itu masih menempel padanya seperti lem. Baekhyun tidak bisa menyalahkan Kris, dialah yang memintanya saat dia memutuskan untuk menelepon Kris, sekarang dia hanya perlu menanggung resikonya.
Mempertimbangkan cuaca hari ini, ia memutuskan untuk memakai topi beanie abu-abu. Puas dengan penampilannya, bukannya dia peduli karena dia biasanya menghabiskan waktu untuk bersembunyi di perpustakaan, dia akhirnya turun ke bawah dan memakan sarapan lezatnya karena ya, ibunya adalah pemasak terbaik yang pernah ada. Dia akan menyesal karena hal ini saat dia memutuskan untuk pindah nanti. Tinggal 5 menit waktu yang tersisa jika dia tidak mau terlambat untuk kelas pertamanya hari ini. Dia mengambil kunci mobil dan berlari keluar rumah. Di luar sangat cantik. Kemudian Baekhyun melihat mobilnya yang diparkir jarak dua rumah dari rumahnya. Baekhyun mengerutkan dahi; ada noda hitam di kap mobil putihnya yang bagus. Semakin dia berjalan ke arah mobilnya, noda itu semakin berubah bentuk sampai Baekhyun sadar bahwa noda hitam itu adala manusia, dan manusia itu berpakaian serba hitam sangat aneh terlihat seperti… Park Chanyeol. Setelah beberapa langkah ke arah mobilnya, dia sudah melewati rumah pertama dan dia bisa melihat dengan baik Chanyeol sedang terlentang di atas kap mobilnya.
"Oh tidak tuhan tidak tidak tidak" Baekhyun menghentakkan kakinya. Dia ingin melempar tasnya, meninju pohon, dan menendang ban mobil di dekatnya. Malah ia melihat sekitar dan mencari tempat perhentian bus. Dia pasti akan terlambat tapi setidaknya dia tidak perlu menghadapi kehadiran Park Chanyeol pagi-pagi begini. Saat dia melihat sekitar 5 orang menunggu di perhentian bus, akhirnya diputuskan, ia melambai dalam hati pada mobilnya dan mengucapkan selamat tinggal dan berjalan ke arah yang berlawanan ke arah perhentian bus. Dia bisa melakukan ini: dia bisa berjalan cepat tanpa menarik perhatian dan menghindari Park Chanyeol yang sedang merapikan kukunya di mobil Baekhyun.
Chanyeol heran kenapa Baekhyun lama sekali. Dia yakin Baekhyun belum ada di kampus tadi, kelas Baekhyun selanjutnya akan dimulai dalam 20 menit dan mobilnya masih ada di sini. Ya, Chanyeol mencari tau semua jadwal kelas Baekhyun kemarin. Sebut dia mengerikan, tapi dia melakukan semua itu karena cinta. Jadi Chanyeol yakin dia sebaiknya menunggu Baekhyun, jika Baekhyun ingin mengendarai mobilnya hari ini, dia harus berhadapan dengan Chanyeol dulu. Baekhyun akan datang. Untuk baginya, dia memutuskan untuk melihat ke arah rumah Baekhyun pada saat yang sama Baekhyun berbalik untuk berjalan ke arah perhentian bus. Chanyeol dengan hati-hati mengamati laki-laki dengan topi beanie abu-abu yang berjalan dengan sangat aneh seperti dia sedang berjalan tapi seolah-olah berlari. Dia tersenyum dan mengenali tas Baekhyun di punggungnya, lalu melihat ke arah mana laki-laki itu melangkah. Terima kasih pada tinggi badannya, dia bisa melihat tanda perhentian bus dari tempat ia berbaring. Kemudian dengan cepat ia menyadarinya. Laki-laki itu adalah Baekhyun dan dia sedang melarikan diri untuk naik bus dan menghindarinya.
"Oh tidak Baekhyun jangan hari ini" ucapnya pada diri sendiri. Dia turun dari kap mobil Baekhyun, meninggalkan tasnya di sana dan mulai mengejar Baekhyun.
"BAEKHYUN" dia berteriak.
Baekhyun mendengar namanya; dia tidak perlu menoleh ke belakang untuk melihat siapa yang baru saja berteriak. Dia berhenti berjalan dan mulai berlari lebih cepat dan lebih cepat. Chanyeol sedang mengejarnya, meneriakkan namanya dan segera mungkin orang-orang mulai memperhatikan mereka. Baekhyun tidak bisa melangkah lebih cepat dengan kaki sepanjang 140 cm yang mengejarnya. Chanyeol meraih tasnya, Baekhyun melepaskan sandangannya dari bahunya. Dia pikir itu cukup cerdas dan mulai berlari lagi dengan nafas ngos-ngosan. Beberapa saat kemudian dia sadar Chanyeol sudah tidak mengejarnya lagi tapi malah memasang wajah puas.
"Dan kau pikir bagaimana kau akan naik bus tanpa tasmu? Dompetmu ada di dalam" ucap Chanyeol, dia tidak perlu berteriak. Bahkan dari tempatnya, Baekhyun bisa mendengar Chanyeol dan suaranya yang rendah dan menyebalkan itu. Baekhyun kalah. Pada saat yang sama bus sampai dan berhenti. Semua penumpang naik. Baekhyun tertinggal di sana. Dia meletakkan tangan di samping badan dan mencoba untuk bernafas normal kembali. Inilah akhirnya, dia membenci Park Chanyeol dan dia benci semua orang yang berusaha membuatnya berolahraga pagi-pagi begini. Dia menatap Chanyeol, masih berjalan dengan tangan di samping badan. Saat dia sampai pada laki-laki yang lebih tinggi itu, dia menarik tasnya dari tangan Chanyeol agak kasar.
"Baekhyun…" ucap Chanyeol.
"Shh" Baekhyun mengangkat jari ke udara pertanda bagi Chanyeol untuk menutup mulutnya. Ia tidak mau mendengar Chanyeol sekarang. Baekhyun berjalan ke arah mobilnya dan membuka pintu. Saat dia melihat Chanyeol membuka pintu jok penumpang dan duduk di mobilnya, dia rasa TUHAN sedang mengujinya.
"Permisi, kau pikir apa yang sedang kau lakukan?" tanya Baekhyun.
"Aku perlu tumpangan ke kampus, itulah kenapa aku menunggumu" Chanyeol mengedikkan bahu, berbohong secara terang-terangan dia tak peduli.
Baekhyun tau dia tidak akan bisa memaksa anak arogan ini untuk keluar dari mobilnya maka ia menutup mata dan mendesah. Dia bisa menahannya, lagipula hanya perjalanan 15 menit.
"Peraturan 1, aku tidak ingin mendengarmu, peraturan 2 kau tidak boleh menyentuh apa pun di mobilku, peraturan 3 kau tidak boleh bertanya tentang kemampuan menyetirku dan peraturan 4 jangan coba-coba sentuh aku atau aku bersumpah aku akan mendorong rem tangan ini masuk ke dalam bokongmu" ucap Baekhyun sambil mengambil tempat duduk di kursi supir. Chanyeol mengernyit mendengar ucapan Baekhyun, pasti sedikit sakit.
"Sangat kinky" Chanyeol bercanda.
"Peraturan 5 jangan bercanda terutama jika leluconmu payah seperti yang sekarang ini" tambah Baekhyun sebelum menghidupkan mesin.
Menit pertama sangat tenang; Baekhyun sedang fokus pada jalan. Chanyeol mencoba memecah kesunyian, plus dia bukan tipe laki-laki yang bisa diam lebih dari dua menit. Hal ini sangat sulit baginya terutama saat dia duduk di sebelah Baekhyun dan dia punya banyak pertanyaan untuk Baekhyun. Tapi dia tetap memutuskan untuk mencoba diam.
"Apa kau tidur dengan baik?" tanya Chanyeol tapi tidak ada jawaban.
"Kenapa kau tidak datang ke kampus kemarin? Dan juga sehari sebelum kemarin?"
"Apa kau sakit?"
"Apa kau sedang menghindariku?"
Dan kemudian dia memulai satu series pertanyaan. Saat mereka berhenti di lampu merah, Baekhyun mendesah dan menyandarkan kepalanya pada setir sebelum berbalik ke arah Chanyeol.
"TIDAK BISAKAH KAU DIAM SAJA?" Baekhyun hilang kontrol. "Sudah kubilang aku tidak mau mendengar apa-apa, tidakkah kau mengerti bahwa sekarang adalah waktu paling buruk untuk menggangguku?" ucap Baekhyun dengan putus asa.
"Jadi maksudmu aku harusnya bertanya nanti Baekhyun? Baiklah!" ucap Chanyeol terlalu bersemangat. Baekhyun menggeram dan mengeratkan tangannya pada setir. Dia hampir melakukan pembunuhan pagi ini.
"Baiklah aku berhenti, aku hanya ingin tau karena aku khawatir padamu Baekhyun. Percaya atau tidak aku mencintaimy jadi aku sangat peduli tentangmu Baekhyun"
"Betapa beruntungnya aku" ucap Baekhyun dengan nada sarkastik.
"Kau tau apa masalahmu Baekhyun? Kau terlalu keras kepala. Kau tidak bisa menerima kenyataan dan kau tidak mempercayai orang lain. Kenapa pula aku harus repot-repot mengejarmu jika aku tidak mencintaimu? Aku tidak bodoh" ucap Chanyeol.
"Benarkah? Ijinkan aku untuk meragukan itu. Dan aku tidak butuh kau untuk memberitahu apa yang salah denganku, kau bukan siapa-siapa untukku, aku tidak peduli dengan apa yang kau pikirkan Park Chanyeol. Pergi bermain psikologis dengan orang lain" tambah Baekhyun saat dia memarkirkan mobil. Chanyeol menggelengkan kepala; dia tidak bisa percaya bagaimana orang kecil seperti Baekhyun punya sangat banyak amarah dan kekeraskepalaan di dalam tubuhnya. Baekhyun membuka sabuk pengamnannya; dia hampir membuka pintu saat dia mengingat sesuatu.
"Hal terakhir yang kita perlu sadari Park Chanyeol, aku lebih tua daripada kau, jauh lebih tua daripada kau" mulai Baekhyun.
"Hanya 3 tahun" Chanyeol dengan cepat mengomentari, membuka sabuk pengamannya sementara Baekhyun memandangnya dari atas ke bawah.
"Sebagai konsekuensinya kau tidak bisa memanggilku Baekhyun. Aku ini Hyung mu jadi kau harus memanggilku seperti itu dan tidak dengan panggilan lain" ucap Baekhyun dan dia tidak akan melewatkan ini.
"Kau bercanda?! Kuharap kau benar-benar bercanda" Chanyeol mengejek dan menyeringai padanya. Dia menarik kaus Baekhyun. "Dengarkan aku Baekhyun, aku tidak akan memanggilmu Hyung. Pertama, kau akan segera menjadi pacarku dan itu akan sangat canggung, kedua, hal ini menggelikan. Apa kau melihatku? Apa kau melihat dirimu sendiri? Aku sangat tinggi dan terlihat jauh lebih dewasa daripada kau hingga tak ada seorangpun yang mengerti kenapa aku memanggilmu Hyung. Jadi tidak, aku tidak mau" ucap Chanyeol tegas.
Baekhyun terkejut. Dia tidak pernah dipandang rendah sekalipun dalam hidupnya dan Park Chanyeol baru saja melakukannya.
"Oh dan kau benar-benar harus menutup mulutmu itu, siapa tau apa yang akan masuk ke dalamnya. Plus, kau terlihat sedikit bodoh. Tapi jangan khawatir kau tetap imut dan aku masih mencintaimu" Chanyeol tersenyum dan keluar dari mobilnya. Baekhyun rasanya tak sadarkan diri seolah-olah seseorang sudah memukulnya dengan panci penggorengan. Dia keluar dari mobil dan mengambil tasnya. Dia pasti bohong jika ia bilang ia tidak sakit hati dengan ucapan Chanyeol. Rupanya Chanyeol merasa Baekhyun tidak pantas mendapat respek yang harusnya ia dapat dari Chanyeol mengingat dia yang lebih tua. Baekhyun menelan salivanya dan berjalan ke arah pintu gerbang. Dia benci daerah berbukit di universitas ini dan dia sudah berolahraga pagi ini, kenapa dia harus memanjat bukit lagi?
Chanyeol menyadari bahwa Baekhyun diam selagi mereka berjalan ke bangunan departemen hukum. Mungkin dia sedikit keterlaluan pada Baekhyun mengenail hal Hyung-Hyung itu. Baekhyun nampak sakit hati dan Chanyeol merasa bersalah sekarang maka dia membiarkan Baekhyun berjalan di depan. Walaupun dia pikir itu adalah ide yang bagus, fakta bahwa dia bisa melihat dengan baik bokong berbentuk sempurna Baekhyun di jeans hitam itu tidaklah terlalu bagus. Dia tidak mau masuk ke kelas dengan penis berdiri. Tapi Chanyeol tidak bisa berhenti menatap; bukan salahnya jika pacar masa depannya memiliki bokong terbagus di bumi. Baekhyun berbalik dan melihat Chanyeol sedang melihatnya dengan aneh dan dia akhirnya mengerti kemana mata laki-laki yang lebih tinggi itu memandang. Baekhyun mencoba menurunkan kausnya dan berhenti berjalan.
"Bisakah kau berhenti menatapi bokongku?" ucap Baekhyun dengan tatapan membunuh.
"Maaf Baekhyun tapi jika ini bisa membuatmu lebih baik, aku harus mengakui bahwa bokongmu sangat sempurna" ucap Chanyeol tersenyum.
"Menjijikkan. Aku tidak bisa mempercayaimu" ucap Baekhyun dengan wajah jijik. "Dan itu adalah terakhir kali bagimu untuk menumpang di mobilku Park Chanyeol" ucap Baekhyun sambil menunjuk pada Chanyeol, masih menurunkan kausnya.
Chanyeol hampir menghentikan omong kosongnya dan minta maaf pada Baekhyun saat mereka hampir memasuki bangunan tapi saat itu juga lelaki pirang tinggi berjalan ke arah Baekhyun. Chanyeol tau persis siapa laki-laki ini dan caranya memeluk Baekhyun di depannya sangat tidak menyenangkan.
"Baekhyun aku mencoba meneleponmu tapi kau tidak pernah menjawab" ucap Kris. Baekhyun sangat terkejut hingga dia tak tau harus berbuat apa lagi jadi dia memutuskan untuk membiarkannya.
"Kris aku merindukanmu" ucap Baekhyun dengan sedikit berlebihan dan Chanyeol tidak melewati itu sama sekali.
"Jadi aku yakin kau dan aku sudah baikan setelah diskusi panjang kita?" ucap Kris tersenyum tanpa henti.
"Seperti yang kau katakan.. Aku yakin kita sudah baikan" ucap Baekhyun seolah-olah dia sedang meminta bantuan. Chanyeol mengamati pertunjukan bagus di depannya. Dia tidak apa jika Baekhyun ingin bermain permainan itu, dia bisa saja tingga di sana dan menonton Baekhyun bearkting dengan bodoh. Yang tidak dia duga adalah ciuman suka rela berikan pada Kris...bahkan laki-laki pirang itu terkejut. Lalu kenapa jika mereka memang sudah baikan? Dia benar-benar berpikir itu akan menghentikan Chanyeol? Baekhyun benar-benar tak mengenalnya.
"Hmm apa kau mengenalnya?" tanya Kris, merangkulkan tangannya di sekitar leher Baekhyun.
Baekhyun diam-diam berdoa agar komedi itu berhenti dan Chanyeol hampir memelintir tangan Kris, dia bisa membayangkan adegan itu di kepalanya.
"Hmm hanya seorang murid baru di jurusan hukum kita" Baekhyun menjawab pertanyaan itu dengan cepat. Chanyeol berpikir bahwa Baekhyun seharusnya bisa berakting lebih bagus, dia sangat kecewa.
"Dan kau" Baekhyun berbicara pada Chanyeol. "Dia pacarku" Baekhyun menunjuk ke arah Kris dan sangat berdoa agar Chanyeol mengerti untuk meninggalkannya sendiri.
"Aku Kris Wu, dari departemen ilmu sosial" Kris mengulurkan tangan padanya tapi Chanyeol tidak menjabatnya, dia terlalu sibuk memeriksa laki-laki itu. Dia tidak bisa mengerti bagaimana Baekhyun bisa mengencaninya sebelumnya karena dia yakin bahwa apa yang baru saja dia saksikan hanyalah sebuah lelucon besar, dia yakin itu ide dari Baekhyun. Dan si pirang yang malang dengan menyerdihkan jatuh ke dalam perangkap Baekhyun. Kris Wu pasti seorang idiot, itulah opini terakhir Chanyeol tentangnya.
"Sayang aku harus masuk ke kelas, telepon aku saat makan siang" ucap Kris sebelum dia meraih pipi Baekhyun dan memberinya ciuman bergairah. Kris Wu pasti seorang idiot tapi sekarang dia sedang mencium Baekhyunnya dan Chanyeol benar-benar mencoba menenangkan diri untuk tidak meninjunya. Saat dia akhirnya pergi, Baekhyun sedikit terguncang dengan cara Kris menciumnya, tapi anehnya satu-satunya yang bisa dia ingat adalah cara Chanyeol menciumnya dua hari yang lalu. Anehnya Chanyeol tidak bicara lagi, dia dengan santai mengamati Baekhyun. Baekhyun sendiri sedang menari kemenangan dalam hati, dia akhirnya menemukan jalan untuk lepas dari Park Chanyeol dan membuatnya terdiam. Jika dia harus bertahan dengan Kris sedikit lebih lama untuk hasil seperti ini, dia pasti akan melakukannya. Dia juga pasti akan menghargai Chanyeol untuk mempertimbangkan usaha-usaha yang dia bersedia lakukan hanya untuk menyingkirkannya. Mereka akhirnya masuk ke kelas dan Chanyeol tidak berbicara padanya selama 3 jam. Walaupun aneh dan tidak stabil, Baekhyun senang dengan ketenangan di sekitarnya sudah kembali dan bahkan lebih cepat dari yang ia duga. Syukurlah.
Setelah menghindari Kris yang dengan putus asa mencarinya dan menghabiskan beberapa waktu setelah makan siang dengan Kyungsoo yang penasaran tentang semua detail untuk episode baru dari "Sang raksasa dan baby sitternya", Baekhyun akhirnya memutuskan untuk pergi ke...perpustakaan. Selama 4 jam menikmati suasana tenang dan fokus hanya pada buku dan bukan pada manusia. Saat dia melihat jam, dia menyadari bahwa saat itu sudah hampir pukul 6 sore tapi hari ini dia tidak harus memberi Kyungsoo tumpangan jadi dia bisa tinggal lebih lama. Setidaknya dia akan menghindari ibunya.
Tapi apa yang Baekhyun pikirkan persisnya? Dia benar-benar berpikir bahwa dia bisa ditinggalkan sendiri sekarang? Dia benar-benar berpikir bahwa Chanyeol akan berhenti membawa kekacauan? Dan tidak menghitung pesan-pesan Kris yang terus datang sekarang?
Sekali lagi harapannya tenggelam saat dia menerima pesan ke 15 dari Kris yang tak ingin ia balas walaupun dia bilang pada Kris bahwa mereka sudah balikan. Yang paling buruk muncul saat Chanyeol memasuki perpustakaan. Dia menunduk di bangkunya mencoba bersembunyi di balik tumpukan buku. Dia tau dia harus tenang; dia tidak bisa membuat seisi perpustakaan itu tanpa diusir dari situ. Baekhyun masih butuh satu menit untuk memperhatikan pakaian Chanyeol. Kaus putih, jeans hitam, jaket kulit hitam dan... kacamata hitam. Apa masalahnya? Ini sudah pukul 6 sore dan di luar sudah gelap, apa gunanya pakai kacamata hitam? Laki-laki ini benar-benar di luar akalnya dan Baekhyun tidak ingin berkenalan dengannya. Tapi tetap, Chanyeol sangatlah tampan seperti ini dan Baekhyun ingin menampar dirinya sendiri karena berpikir seperti itu terutama jika pikiran itu mengingatkannya tentang ciuman panas yang tidak Baekhyun minta tapi rupanya, benar-benar dibutuhkan. Tidak, tidak, tidak pikiran-pikiran itu harus berhenti.
Dia tidak terkejut saat Chanyeol duduk di depannya. Dia menduga Chanyeol datang dengan pengakuan tololnya dan deklarasi bodohnya. Saat Chanyeol tidak mengatakan apa-apa selama 5 menit, Baekhyun menutup bukunya dan menatap Chanyeol.
"Apa? Apa yang kau inginkan?" tanya Baekhyun.
"Terakhir kali kuperiksa Baekhyun, perpustakaan ini bukan milikmu dan kursi yang kududuki sekarang bukan juga milikmu. Jadi aku berhak penuh untuk duduk di manapun yang aku mau. Tapi jika kau bertanya apa yang kumau aku akan dengan senang hati memberitahumu" ucap Chanyeol membuka kacamatanya. Baekhyun bisa melihat dengan baik matanya... sangat cantik, pikir Baekhyun. Sekali lagi dia mengigau. Dia harus fokus sekarang, dia sedang berada dalam peperangan. Pada tahap ini dia yakin dia akan kalah.
"Aku butuh buku ini" Prinsip-prinsip hukum internasional dalam ekonomi modren. "Karena kau meminjamnya tiga minggu yang lalu yang mana tidak diperbolehkan, dan mengingat bahwa aku butuh buku itu untuk belajar, aku ingin kau mengembalikan bukunya jadi aku bisa meminjamnya. Haruskah aku mengingatkanmu bahwa buku-buku di perpustakaan bukan properti mahasiswa? Kontrak yang ditandatangani siswa awal tahun lalu menetapkan dengan jelas dan aku mengutip 'Buku harus dikembalikan dalam 10 hari, jika siswa tidak menghargai perjanjian ini, dia tidak akan diperbolehkan meminjam buku apa pun dalam jangka waktu sebanyak keterlambatannya.' Jadi jelaskan padalu Baekhyun bagaimana ini bisa terjadi dan bagaimana kau masih bisa meminjam begitu banyak buku? Apa kau punya perjanjian dengan wanita tua yang tidak kau beritahu padaku?" Chanyeol memutar kepalanya ke arah pintu masuk dimana nenek tua sedang mencoba mengetikkan sesuatu di komputer. Baekhyun tersenyum dalam hati walaupun dia tidak senang dengan Chanyeol yang begitu usil.
"Aku sudah memeriksanya dan aku punya semua bukti. Kau sudah meminjam 50 buku yang belum kau kembalikan. Siapa yang berakal sehat melakukan itu, serius? Apa yang kau lakukan dengan semua buku-buku itu, apa kau menjualnya? Ayolah, kita sedang membicarakan 50 buku. Aku benar-benar bisa mengerti betapa kau menyukai buku dan hukum, tapi tidakkah itu sedikit berlebihan? Lagipula aku tidak akan bertanya tentang hobi anehmu karena aku benar-benar mengerti itu. Tapi Byun Baekhyun, kau harusnya tau bahwa dalam hidup ini kau tidak bisa hidup dengan begitu egois.
Kau harus adil dan memberikan kesempatan yang sama untuk belajar bagi setiap siswa. Jadi aku akan menunggu buku itu dengan penuh harap untuk dikembalikan. Aku hanya akan memberikanmu waktu sampai besok sebelum aku dengan terang-terangan mengadukanmu ke kantor kesiswaan dan ke pihak administrasi" Chanyeol selesai. Baekhyun mendengus, dia masih tersenyum dan kagum di depan Park Chanyeol, tentu saja dalam hati. Dia tidak akan menunjukkan pada laki-laki yang lebih tinggi itu bagaimana dia kagum dengan cara Chanyeol bicara seperti pengacara sungguhan. Dia benar-benar memiliki penampilan yang mengagumkan dan dia benar-benar menyakinkan pada umur yang begitu muda tapi tetap, Park Chanyeol tidak perlu tau itu. Selama semenit Baekhyun benar-benar lupa dengan Park Chanyeol yang berbicara pada feret tapi dia malah melihat laki-laki muda tampan Park Chanyeol, yang akan menjadi pengacara yang sukses.
"Baik aku akan mengembalikan bukunya besok. Kau seharusnya minta saja, semua adegan tadi sangat tidak penting" ucap Baekhyun mencoba untuk mengubur pemikirannya yang sebenarnya.
"Apa aku keren tadi?" tanya Chanyeol penasaran, dia tidak melewatkan sedikit perubahan di mata Baekhyun saat dia menyampaikan ucapannya. Baekhyun berdeham mencoba untuk menyembunyikan rasa malunya.
"Dimana kau mempelajari itu?" tanya Baekhyun dengan suara pelan tapi tetap penasaran.
"Apa? Aku sangat inteligen itulah kenapa dan aku belajar dengan cukup cepat" pada menit saat Chanyeol berbicara, seketika Baekhyun menyesal bertanya. Kesombongannya sudah kembali.
"Lupakan apa yang kutanya" ucap Baekhyun menggelengkan kepala dan membuka bukunya lagi.
"Ditambah lagi ayahku adalah seorang pengacara sekarang, aku tidak tau apakah kau tau tentang ini" Baekhyun menggeleng dan mendengarkan Chanyeol. "Aku suka memperhatikannya saat dia berisap untuk menangani kasus, kemudian aku belajar darinya. Jika kau mau, suatu hari nanti aku akan mengajarkanmu" ucap Chanyeol dengan baik.
"Oh begitu.. Terima kasih atas tawarannya tapi kurasa itu tidak perlu" ucap Baekhyun.
"Baiklah tapi penawaranku masih berlaku. Aku akan sangat senang membantumu. Kau tau, seperti saat aku membantumu mengerjakan PR matematikamu dulu" Chanyeol tertawa sedikit.
"Tolong jangan ingatkan aku. Itu sangat memalukan" ucap Baekhyun tertawa dan Chanyeol tertawa bersamanya. Sangat menyenangkan melihat Baekhyun seperti ini, tertawa seperti dirinya sendiri. Berbeda dengan Baekhyun yang selalu curigaan dan defensif. Setelah sunyi beberapa saat, Chanyeol angkat bicara.
"Aku disini bukan karena buku itu, aku ingin memberikan sesuatu padamu" ucap Chanyeol.
"Apa itu?" ucap Baekhyun penuh harap, dia menunggu yang terburuk dari Park Chanyeol. Saat Chanyeol mengeluarkan mawar merah dari tasnya, Baekhyun benar-benar merasa langit jatuh di atas kepalanya.
"Apa itu?" tanya Baekhyun walaupun ia sudah tau bahwa itu adalah mawar merah.
"Bunga mungkin" jawab Chanyeol sedikit jengkel dengan pertanyaan Baekhyun.
"Park Chanyeol kenapa kau menghadiahiku bunga? Kau harusnya memberikan itu pada pacarmu" ucap Baekhyun tak menyangkal bahwa bunga itu sangat cantik dan warna merahnya sangat bergairah.
"Kebetulan sekali dia ada di depanku" ucap Chanyeol serius.
"Chanyeol sudah kubilang aku bukan pacarmu dan aku tidak mengencanimu. Kau melihatku pagi ini dengan pacarku, kenapa kau tidak mau mengerti?" ucap Baekhyun.
"Karena semua itu palsu, kau pikir kau bisa membodoh-bodohiku? Walaupun dia menciummu, itu tidak membuatnya menjadi pacarmu" ucap Chanyeol dan Baekhyun tidak bisa mengatakan apa-apa lagi, dia tidak punya satu katapun untuk diucapkan.
"Jadi kumohon terima saja" ucap Chanyeol tulus. Setelah menimbang-nimbang, Baekhyun akhirnya mengambil bunga itu, dia benar-benar ingin menyentuh dan mencium bunganya.
"Kau tau di Amerika, aku mengikuti kelas botani yang kuambil secara tak sengaja karena aku mengira itu adalah kelas yang lain saat itu. Tapi ternyata aku belajar banyak di kelas itu dan tau banyak tentang bunga" Ucap Chanyeol.
Baekhyun mencium bunga itu dan menghirup aromanya. Dia benar-benar menyukainya. Sebenarnya ini bukan pertama kali ia dihadiahi bunga oleh seseorang dan perasaannya lumayan bagus. Dia lebih suka menerima mawar dari orang lain tapi sayangnya Chanyeol lah yang memberinya.
"Apa kau tau apa arti dari mawar merah?" tanya Chanyeol.
"Gairah, cinta... Yang sama sekali tidak ada diantara kau dan aku. Jadi aku tidak mengerti dengan hadiahmu" ucap Baekhyun.
"Karena kau belum mau mengakuinya. Tapi aku mencintaimu Baekhyun dan saat kau menyadarinya nanti, kau akan mengerti" ucap Chanyeol melihat lurus ke dalam mata Baekhyun. Baekhyun tidak bisa menyangkal perasaan di mata Chanyeol. Apa anak ini benar-benar serius mencintainya? Sekarang Chanyeol membuatnya lebih pusing daripada sebelumnya dan dia tidak butuh itu sekarang.
"Tapi kau benar bahwa mawar itu melambangkan cinta dan gairah tapi juga melambangkan respek diantara sepasang kekasih. Jika aku menghadiahimu sebuah mawar, itu artinya aku menghargaimy Baekhyun. Dan aku ingin minta maaf untuk apa yang terjadi pagi ini. Aku tidak menghargaimu saat kau memintaku memanggilmu Hyung. Aku tau aku harusnya memanggilmu Hyung tapi aku tidak bisa karena aku ingin kau menjadi pacark, bukan menjadi Hyung ku, terlalu terdengar bersaudara untuk seleraku" ucap Chanyeol dengan senym malu. Baekhyun tidak tau bagaimna Chanyeol sadar bahwa komentarnya pagi ini benar-benar menyakitinya tapi dia tidak tersentuh walaupun Chanyeol sadar. Pada umumnya tak ada seorangpun yang bisa melihat perasaan Baekhyun yang sesungguhnya, ternyata Chanyeol bisa. Lagi, ini semakin memusingkan untuk Baekhyun.
Chanyeol mengambil kembali mawarnya. Tanpa sadar Baekhyun menggenggamnya erat, dia tidak mau melepaskan mawar itu dan dia tidak mau Chanyeol salah paham dan mengira dia tidak suka bunganya dan memutuskan untuk mengambilnya kembali. Saat Chanyeol merasakan sedikit perlawanan dia menahan senyum, dia benar-benar berusaha keras menyembunyikannya dan dia berhasil.
"Sebentar saja, aku ingin menunjukkan sesuatu padamu" ucap Chanyeol dan Baekhyun melepaskan bunganya. Pada saat yang sama Chanyeol juga meraih tangan Baekhyun, ia mencoba menarik tangannya kembali tapi sayangnya Chanyeol lebih kuat. Chanyeol sekarang sedang menggenggam tangan Baekhyun menunjukkan telapak tangannya dan dia memegang mawar itu di tangannya yang lain.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Baekhyun.
"Shhht Baekhyun kau tidak akan membuat keributan di tempat yang paling kau sukai di kampus kan?" ucap Chanyeol dan Baekhyun mulai penasaran bagaimana Chanyeol tau mengenai hal itu.
"Sekarang biarkan aku memberitahumu lebih banyak mengenai mawar merah" Chanyeol memulai. "Orang bilang mawar merah melambangan cinta dan gairah, seharusnya menyentuh hatimu dalam" Chanyeol terus berbicara. Baekhyun tidak yakin dengan omong kosong yang akan Chanyeol katakan, tapi dia mendengarkan. "Mawar merah juga melambangkan respek terhadap orang yang kau cintai. Tapi untuk mengerti kau perlu merasakannya, dan rasakan kelembutan kelopaknya yang seperti beludru." Perlahan Chanyeol mengeluskan kelopak mawar itu pada telapak tangan Baekhyun, menjelajahi dari telapak tangan ke ujung jemarinya dan menghasilkan perasaan yang aneh. Ya rasanya geli tapi ada yang lebih dari itu dan Baekhyun tidak mau jawabannya. Dia mencoba menyingkirkan tangannya tapi Chanyeol dengan cepat menggenggamnya erat. Baekhyun menggunakan tangannya yang lain untuk menghentikan tangan Chanyeol menggerakkan bunganya.
"Hentikan" ucap Baekhyun, nafasnya mulai cepat.
"Biarkan aku menyelesaikan penjelasanku, dan aku akan berhenti" Baekhyun merasa terlalu rentan sekarang.
Chanyeol terus menggerakkan mawar itu di telapak tangan Baekhyun. "Kau harusnya bisa merasakan perasaan tersengat listrik dan regeneratif dari mawar ini melalui kelopaknya" Oh ya Baekhyun bisa merasakannya dan berdoa agar Chanyeol berhenti. Geli, dan cara Chanyeol perlahan dan secara sensual menggerakkan mawar itu di atas telapaknya dikombinasikan dengan suara seksual Chanyeol... tunggu, apa? Ya tuhan dia yakin 100% bahwa Chanyeol harus berhenti sekarang. Tapi Baekhyun membiarkannya lanjut.
"Ketika kau siap Baekhyun... bunga ini akan membuatmu terpesona dan kau akan bisa melihat betapa agungnya bunga ini. Kemudian perlahan kau akan tau apa itu kebahagiaan dan kau akan mengalami sensualitasnya yang lezat dan saat-saat menggairahkan dan Baekhyun... itulah cinta. Kau akan berakhir mengantisipasinya" Chanyeol akhirnya menyelesaikannya, masih memegang tangan Baekhyun. Sekarang perasaan tersengat listrik itu bukan datang dari bunga itu lagi melainkan dari kontak kulit mereka. Baekhyun butuh jarak; dia harus jauh dari Chanyeol dan menyembunyikan masalah kecil di bagian selatan tubuhnya. Dia tidak percaya bahwa anak ini baru saja membuatnya terangsang hanya dengan bunga. Baekhyun hanyut terlalu dalam, dia tidak percaya itu.
"Dan kau bilang semua itu karena bunga? Ayolah Chanyeol" ucap Baekhyun sarkastik. Dia dengan kasar menarik tangannya, menutup buku, dan memutuskan untuk menenangkan diri dengan cara mencari buku lain di lorong bagian hukum. Buku selalu bisa menenangkannya. Chanyeol tidak bergerak seincipun dari posisi awalnya, masih memegang mawar di satu tangan dan mengharapkan tangan Baekhyun di tangannya yang lain. Dia tidak melewatkan kemana Baekhyun melangkah dari sudut matanya. Dia melihat sekitar, hampir pukul 7 malam dan hanya ada 10 orang tersisa di perpustakaan besar itu. Chanyeol meletakkan mawar itu di meja dan berjalan ke arah rak bagian hukum. Dia menemukan Baekhyun sedang mencoba bernafas dengan teratur sambil mencari buku, jelasnya buku tentang hukum lagi. Ia sedang menjinjit mencoba meraih sebuah buku tapi dia tidak bisa. Chanyeol rasa mungkin dia bisa membantu. Baekhyun hampir meraih buku yang ia inginkan saat sebuah tangan meraihnya lebih dulu dan tubuh besar menekan dari belakang hingga dadanya tertekan pada rak.
"Biar kubantu" ucapnya memberikan buku itu pada Baekhyun.
"Beri aku sedikit ruang" bisik Baekhyun.
"Baekhyun kenapa kau melawannya?" ia merendahkan kepalanya dan berbisik di telinga Baekhyun dan di tengkuknya. Dengan refleks, Baekhyun mencoba untuk melindungi lehernya, dia tidak tahan saat orang lain menyentuhnya di sana. Itu sangat sensitif dan Kris tidak pernah berhenti mengatakan bahwa itu adalah titik kelemahannya, maka Baekhyun akhirnya percaya.
"Melawan apa Chanyeol?" tanyanya sedikit marah.
"Ketertarikan diantara kita, aku tau kau menyukaiku tapi kau tidak mau mengakuinya" ucap Chanyeol masih dalam usaha untuk meniupkan nafas hangatnya pada leher Baekhyun untuk mendesaknya ke batas. "Aku tidak main-main Baekhyun. Aku mencintaimu dan sangat dekat denganmu membuatku gila" ucap Chanyeol.
Baekhyun tidak menjawab, ia kira jika ia berhenti bicara Chanyeol akan menghentikan apa yang sedang ia lakukan sekatang. Salah. Saat Baekhyun tak menjawab Chanyeol merendahkan kepalanya hingga bibirnya menyentuh leher Baekhyun. Ia menjilat kulit tipis di sana dan diam sejenak untuk melihat urat-urat halusnya yang nampak sempurna. Chanyeol mencium sepanjang leher sempurna Baekhyun. Dia sadar bahwa laki-laki yang lebih tua itu sudah rileks saat Baekhyun memberinya akses lebih. Dia mencium lehernya lagi sampai dia mencium belakang telinga Baekhyun dan juga daun telinganya. Baekhyun mencoba menahan nafas dan desahan sebisa mungkin tapi sangat sulit. Dia kehilangan akal sehatnya. Dia tidak tau kenapa dia membiarkan Chanyeol menyentuhnya seperti itu padahal dia seharusnya berhenti. Tapi dia tidak bisa memaksa dirinya untuk berhenti, cara Chanyeol membuatnya merasa sangat aneh, dia tidak pernah secepat ini terasang oleh laki-laki sebelumnya.
"Kau sangat cantik" ucap Chanyeol tapi Baekhyun tidak mendengarkan, dia terlalu sibuk berperang mengenai mana yang benar dan salah di kepalanya. Chanyeol menghisap daun telinganya dan batang Baekhyun berkedut. Dia berada dalam bahaya. Tangan Baekhyun mengerat pada rak dan dia membiarkan bukunya jatuh di suatu tempat di balik buku-buku yang lain. Dia tidak tau saat Chanyeol mengangkat kausnya dan mulai mengelusi perutnya yang sedikit berlemak tapi dia tidak pedulu, dia suka perutnya. Ternyata Chanyeol juga menyukainya dari caranya menenggelamkan kukunya dan meremas kulitnya. Chanyeol masih mencium lehernya, membuatnya kewalahan dan membuatnya makin sulit berpikir.
"Berhenti berpikir dan melawan Baekhyun...rasakan saja" ucap Chanyeol menempelkan tubuhnya pada punggung Baekhyun. Baekhyun merasakan sesuatu yang keras mendorong punggungnya dan tanpa berpikir Baekhyun mulai bergerak menggosokkan pantatnya dengan selangkangan Chanyeol malu-malu sampai ia mendengar desahan Chanyeol tertiup ke telinganya. Itu lebih dari sekedar panas dan Baekhyun tidak ingin ia berhenti. Merekea sudah terlalu jauh untuk berhenti. Baekhyun tidak peduli siapa dia, apakah itu Pierre, Paul, Jack atau siapapun. Jika dia tidak berbalik, dia bisa saja menganggap bahwa bukan Chanyeol yang ada di belakangnya.
"Baekhyun bicara padaku" ucap Chanyeol sensual. Tentu saja anak ini akan bicara untuk menhancurkan rencananya. Sekarang dia tidak bisa menyangkal bahwa Chanyeollah yang sedang menggosokkan balik selangkangannya pada pantant Baekhyun. Dia tidak percaya dia sedang melakukannya. Dia tidak percaya dia akan mengatakannya.
"Sentuh aku Chanyeol" Chanyeol tersenyum tulus, senyum yang tak akan pernah Baekhyun lihat. Dia tidak tau apakah Baekhyun sadar bahwa dia baru saja mendesahkan nama Chanyeol tanpa menggunakan nama keluarganya dan itu adalah hal paling memuaskan untuk Chanyeol. Lebih dari Baekhyun yang menginginkan sentuhannya, karena sudah jelas mereka akan melakukannya. Chanyeol membuka kancing celana Baekhyun dan tangan hangatnya bertemu dengan penis Baekhyun yang lebih mengeras daripada sebelumnya, apalagi saat Chanyeol melingkarkan jemarinya di sekitar penisnya. Baekhyun terhenyak. Pertama karena rasanya begitu enak dan kedua ini sudah lama sejak penisnya disentuh oleh orang lain. Baekhyun mulai mendorong pinggulnya ke depan tapi laki-laki yang lebih tinggi itu menekannya lebih dekat ke perabotan kayu itu menunjukkan padanya siapa yang berkuasa. Chanyeol mengelus penis Baekhyun perlahan sampai Baekhyun mulai meminta lebih dan lebih menyuruhnya diam, mencium pipinya; lagipula mereka sedang di perpustakaan. Satu hal yang mengganggu Chanyeol, dia ingin melihat matanya dan ia ingin Baekhyun melihat Chanyeol memberikannya kenikmatan. Ia berhenti bersandar pada Baaekhyun. Baekhyun merintih, ia mengira bahwa Chanyeol menghentikan permainan kecilnya dan saat ini dia tidak ingin berhenti terutama saat dia hampir klimaks. Tapi Chanyeol hanya membalikkannya agar mereka saling berhadapan. Chanyeol menyandarkan tangannya pada satu rak dan melihat Baekhyun. Dia punya pilihan untuk melihat Chanyeol atau menutup matanya. Dia memutuskan untuk menutup mata. Chanyeol tertawa.
"Baekhyun buka matamu" ucap Chanyeol sambil ia menghampiri bibir Baekhyun dengan berbahaya. Dia ingin memiliki bibir Baekhyun. Anhenya Baekhyun yang membuat kontak di antara mereka. Chanyeol menciumnya tanpa ampun, dengan bernafsu dan Baekhyun menciumnya kembali dengan sedikit liar. Chanyeol tidak membuang sedetikpun wakyi selagi ia terus mengocok penis Baekhyun. Baekhyun ingin mendesah tapi suara mereka sudah semain keas dan bergema di lorong itu. Chanyeol dengan baik menawarkan mulutnya untuk Baekhyun dan laki-laki yang lebih tua itu menyumpal desahannya sambil mencium dengan cepat menggunakan tangannya yang lain untuk menurunkan resleting celananya dan membebaskan penisnya sendiri sambil masih mengocok milik Baekhyun.
"Rasanya sungguh nikmat" Baekhyun memutar matanya dan membiarkan kepalanya mendongak ke atas.
Rasanya main nikmat saat Baekhyun merasakan penis Chanyeol menggesek penisnya. Baekhyun mengangkat kepala, saat pandangannya bertemu dengan Chanyeol dia menolak untuk melihat kebenarannya di sana. Mereka saling menggesek dan Chanyeol berusaha keras menahan desahannya di leher Baekhyun sedangkan Baekhyun sendiri menggigit leher Chanyeol. Tangan Baekhyun melingkar id pinggang Chanyeol dan saat ia merasa akan klimaks, ia mendorong Chanyeol lebih dekat, meraba pantat Chanyeol saat ia benar-benar akan klimakas. Chanyeol sadar akan apa yang sedang terjadi mencepatkan gerakan tangannya, memegang kedua penis mereka bersama. Saat ia merasakan kuku Baekhyun di kulitnya dia tau Baekhyun sedang orgasme dan Chanyeol tak jauh di belakangnya. Chanyeol klimaks sedetik setelah Baekhyun membuat mereka berdua ngos-ngosan. Berat badan Chanyeol bertumpu pada Baekhyun dan walaupun Baekhyun menyukai tubuh hangat itu, kayu di bekangnya sungguh menyakitkan punggungnya. Saat Chanyeol sadar, dia berdiri tegak dan memperbaiki celananya. Dan Baekhyyn melakukan hal yang sama. Saat sudah tak ada nafsu lagi han tubuh hangat di atas tubuhnya, Baekhyun bisa berpkir. Saat dia sadar apa yang baru saja dia lakukan dengan Park Chanyeol dia rasanya ingin menghilang. Dia sangat malu. Chanyeol mencoba memeluknya, percaya bahwa mungkin itu adalah awal untuk mereka. Salah. Baekhyun mencoba melarikan diri.
"Ini sudah malam, perpustakaan akan tutup. Kursasa kita harus pergi. Maksudku kurasa aku harus pergi" dan dengan itu iapin pergi dan Chanyeol tidak mengejarnya kali ini. Dia membiarkannya pergi. Dia sendiri tidak tau bagaimana dia bisa pergi sejauh ini. Ia menginginkan Baekhyun tapi dia tidak berencana untuk melakukan itu secepat ini. Baekhyun kembali ke meja, dia tidak mau tinggal lebih lama dan menyusun semua bukunya. Dia mengambil apa yang ia butuhkan, memasukkan kertasnya ke dalam tas. Dia akan pergi saat ia melihat mawar merah di atas meja. Dia tidak menginginkannya. Tapi itu agak kelewatan kan? Ia meraih bunga itu dan berjalan ke luar. Sebelum meninggalkan perpustakaaan ia melirik pada lorong rak bagian hukum, Chanyeol masih di sana, dia tidak keluar. Ia mendesah dan memberi tanda pada wanita tua. Ia menunjukkan tiga jarinya menandakan dia meminjam 3 buku hari ini. Ia menarik tasnya, mengabaikan ponselnya yang berdering dan berjalan ke mobil. Memikirkan apa yang baru saja ia lakukan sangat mengganggunya, ia tak seharusnya melakukan itu tapi ternyata dia sangat ingin melakukannya. Ia menaiki mobilnya dan pulang ke rumah. Ia ingin beristirahat dan memikirkan resiko dari perbuatannya.
Chanyeol akhirrnya meninggalkan lorong bagian hukum saat dia yakin Baekhyun sudah pergi. Dia pergi ke meja untuk mengambil tas dan pergi saat dia menyadari mawar yang ia letakkan tak ada di sana lagi. Ia tersenyum sesaay dan ia berharap, jika Baekhyun mengambilnya, itu berarti dia masih punya kesempatan untuk mengubah perasaan Baekhyun padanya.
TBC
