Disclaimer : Naruto bukan milik saya

Don't like don't read

Warning : Bahasa tidak baku, EYD tidak sempurna, karakter OOC

.

CHAPTER 4

.

"Aku selalu saja merepotkanmu, nii-san." Kata Hinata sambil mengemasi barang-barangnya yang berada di apartemen Neji.

"Tak apa, Hinata. Lagipula ini semua bukan salahmu sepenuhnya." Kata Neji sambil berdiri di hadapan Hinata. Kedua tangannya dimasukkan dalam saku celananya.

Sambil menghela nafas berat, Hinata melipat semua pakaiannya.

"Jadi pada akhirnya kau kembali ke rumah itu lagi huh…"

"Lucu sekali bukan." Kata Hinata sambil tersenyum sinis.

"Kau tahu, ayahmu sangat bangga sekali dulu saat kau bisa menikahi Sasuke Uchiha."

Hinata pura-pura tidak mendengar ucapan Neji.

"Perusahaan Hyuuga memang besar, tapi jika dibandingkan dengan Uchiha… itu masih tidak ada apa-apanya."

"Jadi bagi Otou-san perusahaan jauh lebih penting dibandingkan denganku ya?" Tanya Hinata dengan senyuman getir. "Pasti Otou-san juga tutup mata dengan penderitaan yang selama ini kualami saat menjadi istri Uchiha."

Neji menghela nafas berat. "Bukan seperti itu… hanya saja-"

"Tidak apa-apa." Potong Hinata. Toh, bagaimanapun juga ia bukanlah Hinata Hyuuga yang asli, semua penjelasan Neji tidak berguna baginya.

Hinata menempelkan tangan di dadanya. Ia hanya merasa iba dengan Hinata Hyuuga yang asli, bahkan ayahnya tidak sudi membelanya.

"Sasuke Uchiha… dia bukan pria sembarangan."

"Huh?" Hinata menolehkan kepalanya ke arah Neji.

"Saat keluarga Uchiha ditimpa kemalangan dan hanya menyisakan Sasuke, semua orang berlomba-lomba untuk bisa menguasai Uchiha group. Tapi siapa sangka justru Sasuke sendiri yang turun tangan dan memimpin perusahaan Uchiha. Kau tahu, semua orang dulu menghina dan meremehkannya. Bagaimana bisa seseorang yang masih muda dan belum berpengalaman seperti Sasuke justru memegang kendali perusahaan sebesar Uchiha group. Mereka semua… menanti Sasuke untuk jatuh dan terpuruk."

Hinata hanya bisa diam dan mendengarkan perkataan Neji. Ia tidak pernah mengetahui itu semua.

"Lalu?" Tanya Hinata saat Neji tidak kunjung melanjutkan pembicaraannya.

Neji mendudukkan tubuhnya di ranjang. "Tentu saja mereka semua salah. Sasuke tidak jatuh dan terpuruk, ia justru bisa melesat jauh. Dibawah kendalinya, Uchiha group semakin sukses. Orang-orang yang dulu meremehkan dan menghinanya kini bertekuk lutut dihadapannya."

Dari sorot mata Neji, Hinata tahu jika sepupunya itu sangat mengagumi Sasuke.

"Itu… itu sangat hebat." Komentar Hinata.

"Dan juga mengerikan."

"A-apa maksudmu nii-san?"

"Bayangkan saja Hinata… di usianya yang baru menginjak 25 tahun ia berhasil memegang kendali penuh atas Uchiha group. Itu bukan hal yang mudah, jika aku berada di posisi Sasuke aku tidak bisa melakukannya. Seseorang seperti Sasuke memiliki kemampuan dan kecerdasan yang hebat… mungkin juga bisa dibilang Sasuke adalah seseorang yang licik dan manipulatif. Ia juga memiliki koneksi yang luas. Bayangkan seperti apa pengaruh yang dimilikinya… memenjarakanku adalah hal yang sangat mudah baginya. Itulah mengapa paman Hiashi tidak bisa turun tangan, bukannya dia tidak mau, hanya saja dia tidak bisa menandingi pengaruh Uchiha."

"Oh… ja-jadi Otou-san bahkan juga segan dengannya?"

"Jika mau, pasti Uchiha sudah menghancurkan Hyuuga sejak dulu. Untunglah Sasuke masih menghargai paman Hiashi sebagai salah satu teman dari mendiang Fugaku Uchiha. Terlebih lagi dengan pernikahan ini… itu membuat Hyuuga masih bisa berdiri kokoh meski dalam kondisi krisis seperti ini."

"K-krisis?"

Neji terkekeh pelan. Matanya menerawang. "Saat ini perusahaan Hyuuga sedang dilanda krisis. Tapi hal ini masih ditutup-tutupi, bahkan aku juga tidak tahu. Itulah mengapa paman Hiashi marah besar ketika mendengar perceraianmu. Paman Hiashi sangat khawatir jika perceraian ini justru akan menghancurkan perusahaan Hyuuga."

Hinata terkesiap. "Ba-bagaimana bisa?"

"Pernikahanmu membuat perusahaan Hyuuga mendapatkan keuntungan besar. Itu memang faktanya. Rival-rival dari Hyuuga merasa enggan jika harus melawan Hyuuga mengingat si Uchiha tunggal adalah menantu keluarga Hyuuga. Mereka tidak mau menjadikan Uchiha sebagai musuh. Sebesar itulah pengaruh Uchiha bagi Hyuuga. Jika sampai tersiar kabar perceraianmu dengan Sasuke Uchiha, maka mereka tidak akan segan-segan menyerang Hyuuga. Mengingat krisis yang sedang dihadapi Hyuuga saat ini maka bisa dipastikan… Hyuuga akan tumbang."

Hinata gemetar. Tumbang? Sampai seserius itukah perceraiannya?

Di novel tidak dijelaskan kehidupan keluarga Hyuuga setelah perceraian antara Sasuke dan Hinata.

Apakah mereka hancur?

Lalu haruskah ia berterima kasih pada Sasuke karena ia telah membuat Hinata membatalkan perceraian ini?

Seperti apakah sosok Sasuke Uchiha yang sebenarnya?

Neji menatap Hinata dengan serius. "Dia adalah pria yang mengerikan. Kau harus berhati-hati dengannya. Jika mau, ia bisa mengancurkan siapapun dengan mudah, termasuk kita."

Bulu kuduk Hinata meremang.

.

.

Tinggal di kediaman Uchiha bukanlah hal yang buruk.

Hinata bisa makan enak tiga kali sehari, tidur nyenyak di kasur empuk, hidup dengan nyaman.

Semua ini tidak buruk juga.

Hinata bisa menghabiskan hari-harinya dengan santai… sampai si pemilik rumah pulang.

Hinata tidak tahu apa isi kepala pria Uchiha itu.

Dan ia juga tidak mau tahu.

Pria itu masih saja memperlakukannya dengan dingin, setidaknya Sasuke sudah tidak lagi melemparkan tatapan tajam ke arahnya. Mereka berdua tidak berbincang-bincang, bahkan bisa dibilang saling mengabaikan.

Hinata tidak mempermasalahkan itu.

Perkataan Neji masih terngiang-ngiang di benaknya. 'Hyuuga akan tumbang'

Meskipun Hinata bukanlah Hinata Hyuuga yang asli, ia tetap tidak ingin jika Hyuuga sampai tumbang. Apalagi jika disebabkan karenanya. Ia tidak mau jika sampai itu terjadi.

Oleh karena itu ia akan bersabar dan tetap melanjutkan 'pernikahan' ini.

Pagi ini seperti biasanya, Hinata dan Sasuke duduk di meja makan. Hinata selalu memasak sarapan dengan porsi untuk dua orang, terserah Sasuke mau memakannya atau tidak.

Sasuke meminum kopinya sambil sibuk memainkan ponsel di tangannya. Hinata menoleh sekilas ke arah Sasuke, pria itu masih menyisakan setengah porsinya.

Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki mendekat.

Hinata menoleh. Siapa yang datang ke rumah sepagi ini? Bahkan masuk ke rumah ini dengan sesuka hatinya.

"Sasuke-kun, apa kau sudah sarapan?" Tanya Sakura dengan ceria.

Sakura Haruno. Hinata membenci wanita itu.

Senyum di bibir Sakura lenyap seketika saat ia melihat Sasuke yang sedang duduk di meja makan bersama Hinata.

"Sa-Sasuke-kun… apa maksud semua ini?" Mata hijau Sakura terlihat berkaca-kaca.

Dengan perlahan Sasuke menghampiri Sakura.

"Sasuke-kun, mengapa wanita ini masih berada di rumah ini?!"

"Sakura…"

"Apa kau sudah lupa dengan semua yang telah ia lakukan padaku?!"

"Aku tidak lupa."

"Lalu mengapa ia masih ada disini?! Ia selalu berusaha mencelakaiku! Jika tidak ada Naruto entah apa yang akan terjadi padaku…"

Dengan santai Hinata menyuap nasi ke mulutnya. Ah, sarapan sambil ditemani dengan drama~ benar-benar nikmat~

Air mata Sakura mulai berjatuhan. Dengan lembut Sasuke menghapus air mata di pipi Sakura.

"Sasuke-kun, kau tahu jika aku mencintaimu bukan?" Kata Sakura dengan nada sendu.

"Bagaimana aku bisa melupakan hal itu."

"Lalu mengapa kau membiarkan wanita itu masih berada di sisimu?"

"Sakura…"

"Aku tidak ingin kehilanganmu Sasuke-kun…"

Sakura lalu memeluk Sasuke. Pria itu membalasnya dengan mengusap lembut rambut merah mudanya.

Hinata meraih tamagoyaki dan mulai mengunyahnya perlahan. Kisah di hadapannya saat ini benar-benar menarik, lebih menarik dibandingkan dengan drama yang biasa ia tonton.

Sayang sekali ia tidak mempunyai popcorn.

Sakura lalu melepaskan pelukannya. Mata hijaunya terlihat berapi-api

"Sasuke-kun, kau pernah mengatakan padaku jika kau akan menyingkirkan wanita ini dan memulai hidup bersama denganku. Mengapa kau mengingkari perkataanmu?!"

"Haruskah kita membahas ini semua saat ini." Sasuke mulai terlihat jengkel.

"Mengapa tidak?!" Balas Sakura tidak kalah jengkelnya. "Biar saja wanita itu mendengar semuanya!" Kata Sakura sambil menuding ke arah Hinata.

Melihat jari Sakura yang menuding ke arahnya, Hinata tetap kembali melanjutkan sarapannya. Ia kembali menyuap nasi ke mulutnya.

Melihat sikap santai Hinata, Sakura justru semakin jengkel. "Bagaimana bisa kau tetap melanjutkan makanmu di saat seperti ini?"

Hinata mengangkat bahunya. Kini sumpitnya berusaha meraih sayur tumis di hadapannya.

"Aku lapar." Jawab Hinata dengan santai. Kini ia memasukkan wortel tumis ke mulutnya dan mengunyahnya.

"KAU!" Amarah Sakura meledak.

"Tenanglah Sakura." Bujuk Sasuke.

"Sasuke-kun… kau membela wanita itu?!" Tanya Sakura dengan tidak percaya.

"Bukan seperti itu Sakura…"

"A-aku tidak mempercayai ini…" Bisik Sakura sambil melangkah pergi.

"Sakura!"

Hinata melihat Sasuke yang berjalan mengejar Sakura. Meh… jadi dramanya sudah selesai.

Hinata meletakkan sumpitnya dan beralih meneguk air minum.

Sarapan pagi ini enak sekali.

.

.

Waktu menunjukkan pukul delapan malam saat Sasuke kembali ke rumah.

Hinata mengabaikan kedatangan Sasuke. Ia lebih memilih menonton drama yang ada di layar TV.

Hinata sedikit terlonjak kaget saat Sasuke mendudukkan diri di sampinya. Kini mereka berdua duduk di sofa yang berada di ruang tamu sambil menonton drama di layar TV.

Setelah tiga menit berlalu dalam diam, Hinata menoleh ke arah pria yang duduk di sampingnya.

Pria itu menyandarkan pungunggnya ke sofa. Ekspresinya terlihat letih.

"Kau terlihat capek. Pasti karena Sakura huh."

"Urus saja urusanmu sendiri." Kata pria itu sambil memejamkan matanya.

Hinata terkekeh. "A-apa Sakura marah padamu?"

Sasuke hanya diam. Tangannya justru memijat keningnya.

Hinata lalu beranjak ke dapur untuk membuatkan cokelat hangat untuk Sasuke. Meskipun ia membenci si brengsek itu, ia masih sedikit iba padanya. Melihatnya yang lelah sehabis pulang kerja, ia merasa kasihan.

Lima menit kemudian ia menyodorkan secangkir cokelat hangat untuk Sasuke.

"Apa ini?" Tanya Sasuke sambil meraih cangkir yang disodorkan Hinata.

"Cokelat panas." Jawab Hinata sambil mendudukkan tubuhnya ke tempatnya semula.

"Aku tidak suka ini."

"Minum saja, Sasuke. I-itu akan me-membantumu rileks."

Sasuke melirik ke arah Hinata.

"Aku tidak menaruh racun didalamnya." Kata Hinata dengan sedikit tersinggung.

Ujung bibir Sasuke berkedut menahan senyum. Dengan perlahan ia meminum cokelat panas itu.

"Tapi aku menaruh obat perangsang."

"Uhuk!" Sasuke tersedak cokelat panas yang tengah diminumnya.

Hinata tertawa melihat Sasuke yang sedang terbatuk-batuk.

"Hahaha… Aku bercanda." Kata Hinata sambil tetap tertawa.

"Kau pikir ini lucu huh?" Sasuke kini mendelik tajam ke arah Hinata.

Hinata menghentikan tawanya. "K-kau ma-marah?"

"Bagaimana menurutmu?"

"Ma-maaf."

Sasuke kembali meminum cokelat panasnya.

"Hey Sasuke… aku minta maaf dengan semua yang telah kulakukan dulu."

Sasuke menoleh ke arah Hinata.

"A-aku tahu ya-yang kulakukan itu salah. Ti-tidak seharusnya aku menyakiti Sakura. Tapi kau se-seharusnya juga tidak melakukan hal itu padaku. A-aku marah padamu, tapi aku melampiaskan semuanya pada Sakura."

Sasuke meletakkan cangkirnya ke atas meja. Ekspresinya dingin dan kaku.

Hinata kembali melanjutkan perkataannya. "A-aku… a-aku masih belum bisa memaafkan tindakan kalian berdua terhadapku."

"Aku tahu."

Hinata menundukkan kepalanya. Mereka berdua kini membisu.

Suara TV masih setia mengisi kesunyian diantara mereka.

Tiba-tiba perut Sasuke berbunyi nyaring.

Hinata tertawa terbahak-bahak. Sasuke tetap terlihat tenang namun Hinata bisa melihat semburat merah menghiasi pipinya.

"Ma-mau kubuatkan sesuatu?" Tawar Hinata.

Sasuke menghela nafas. "Apapun boleh asalkan jangan ramen."

.

.

Please review ^^