Disclaimer:

Naruto © Mashashi Kishimoto

K-on! © Kakifly

Warning: AU, OOC, GaJe, dll

Rate: T

Don't like, don't read.

.

Chapter 4

.

Keesokan harinya, Sasuke datang ke sekolah, sedikit lebih siang dari biasanya. Semalaman tak henti-hentinya ia memikirkan perkataan Sasori yang dilontarkan kepadanya. Saat ia berusaha memikirkan hal lain, selalu terselip perkataan Sasori.

Sasuke mengangkat kedua tangannya dan meremas rambutnya sendiri dengan frustasi. Ia meneruskan perjalanan menuju kelasnya tanpa menghiraukan tatapan bingung dari murid-murid yang melihatnya.

Pemuda berambut seperti pantat ayam itu menghentikan langkahnya, tepat di samping jendela kelasnya. Ia melirik ke dalam kelas. Dapat ia lihat, Mio tampak asyik bercakap-cakap dengan pria berambut merah yang duduk menyamping di atas meja gadis itu. Sasuke memicingkan matanya. Dan tepat setelah itu bel masuk berbunyi.

Dengan segera, ia mengatur kembali ekspresinya. Ia mendengus, kemudian melangkah memasuki kelasnya.

"Ah, Uchiha, kau sudah datang rupanya," pemuda berambut merah yang tadi berjalan keluar dari ruang kelas Sasuke. Ya, dia adalah Sasori.

Sejenak suasana di pintu masuk ruang kelas itu, terasa begitu mencekam. Beberapa murid merasa terganggu dengan dua pemuda tampan yang menghalangi jalan mereka. Tapi, tak satupun dari mereka yang berani memprotes.

Sasuke mendecih, kemudian memutar bola matanya. Tanpa berlama-lama lagi, ia mengambil langkah, meneruskan perjalanan menuju bangkunya.

'Apa-apaan dia itu. Tatapannya. Ia menyatakan perang, eh? Baka.'

.

Bel tanda pelajaran telah berakhir pun berdering. Murid-murid dengan ganasnya berlari dan menghambur keluar kelas mereka. Meski, beberapa dari mereka memilih untuk tetap berada dalam kelas. Sasuke dan Mio, contohnya. Mereka diam di tempat masing-masing. Sama-sama canggung.

Sasuke dan Mio sama-sama ingin mengatakan sesuatu. Tapi, tak ada satupun yang mau mulai berbicara. Sama-sama dikuasai oleh egoisme masing-masing.

Beberapa saat kemudian, Mio melihat seorang gadis dengan rambut pirang yang bergelombang, berjalan melewati kelasnya. Mugi Kotobuki. Daripada berdiam diri dalam kelas, yang dilingkupi rasa canggung, Mio memutuskan untuk keluar dan menghampiri Mugi.

Mio menggeser bangkunya mundur, kemudian bangkit. Namun, lajunya tertahan oleh Sasuke. Dapat ia rasakan, genggaman dari tangan Sasuke yang dingin, melingkari pergelangan tangannya.

Mio menoleh ke arah Sasuke dengan sedikit rona merah di pipinya, ia mengangkat sebelah alisnya.

"M-maaf," ucap Sasuke sambil melepaskan genggamannya dengan salah tingkah.

'Tunggu! Kenapa aku minta maaf? Bodoh! Ini memalukan! Ugh!' Rutuk Sasuke dalam hati.

'Apa aku salah dengar? Seorang Uchiha elit seperti dirinya meminta maaf padaku? Ini benar-benar menjadi hiburan, setelah pelajaran membosankan tadi.' Pikir Mio. Ia menyeringai menahan tawa.

"Kau dengar apa yang Asuma-sensei katakan." Ucap Sasuke, sambil memalingkan wajahnya. Mio mengangguk pelan, masih memasang ekspresi bingung.

"Tsk. Kau ini bodoh atau bagaimana? Asumai-sensei memasangkan kita, untuk membuat makalah tentang bab tadi," ucap Sasuke, ia mendengus. "Harus diserahkan pada hari jum'at. Jadi, mau dikerjakan kapan?"

"Uh, oh! Ya, err ... " Mio menggaruk pipinya salah tingkah. Sasuke terlihat mulai kesal akan 'kelemotan' Mio. "Ba-bagaimana, kalau sepulang sekolah nanti?"

"Baka. Kita ada kegiatan klub."

"Ehm, bisa dikerjakan di sana 'kan?"

"Berisik."

"Perpustakaan? Err ... Kita gunakan saja waktu kegiatan klub, untuk mengerjakan tugas ini."

"Bolos, begitu?"

"Bu-bukan! Minta izin saja, sama teman-teman yang lain."

Sasuke mendengus. Mio masih berdiri dengan canggung.

"Ck, baiklah." Ucap Sasuke kemudian bangkit dari bangkunya, meninggalkan kelas. Ia tak mau membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya.

Mio menatap kepergian Sasuke. Ia bergumam dalam hati, 'Uchiha hebat. Seharusnya tadi aku yang meninggalkannya dan membuatnya terlihat seperti orang bodoh. Dan sekarang, ia pergi meninggalkanku dengan sok keren begitu. Tch, dasar.'

.

Tak terasa kini sudah waktu pulang sekolah. Mio membereskan barangnya, kemudian melirik Sasuke di sampingnya. Entah kenapa, meja pemuda itu tidak begitu berantakan. Namun, si pemilik meja tidak selesai-selesai membereskannya.

'Apa aku harus menunggunya? Atau duluan saja, ya? Tapi, aku merasa tak enak padanya,' Mio berucap dalam hati. 'Ah, biarlah. Ia sendiri cuek.'

"Sa─"

"Hei, kau. Kutunggu di perpustakaan, kau saja yang yang bilang pada mereka," ucap Sasuke memotong kalimat Mio.

Entah sejak kapan ia selesai membereskan barang-barangnya, dan melengos pergi. Mio membelalakkan matanya, mulutnya ternganga.

'Ap-apa-apaan itu? Sialan, ia membuatku tampak bodoh untuk ke sekian kalinya!' Mio menggerutu dalam hati. Mau tidak mau, ia harus mengikuti kata sang Uchiha ayam itu. Ia meraih tasnya, kemudian beranjak meninggalkan kelas.

'Tunggu,' ucapnya dalam hati. 'Apa tadi aku barusan akan memanggilnya 'Sasuke'? Kurasa selama ini kami belum pernah memanggil nama depan satu sama lain. Ck, kenapa aku berpikir tentang hal yang tidak penting seperti ini, sih?'

"Mio-chan!" seseorang menepuk bahunya. Mio langsung terkesiap dan sadar dari lamunannya. Ia menoleh ke samping dan mendapati seorang pemuda berambut merah−lagi-lagi−muncul secara tiba-tiba.

"A-ah! S-sasori ... san," balas Mio. Ia tersenyum canggung. Bagaimana pun juga, ia masih belum terbiasa dengan laki-laki, mengingat sekolah lamanya, khusus perempuan.

"Haah, Mio-chan, sifat mudah kagetmu itu belum hilang juga, eh?" ucap Sasori sambil memasukkan kedua telapak tangannya ke dalam saku celana. Mio diam saja, tidak tahu mau menjawab apa, meski dalam hati ia menggerutu sedikit.

"Ah, ya, Mio-chan. Kau dan Sasuke berada dalam satu kelas, tapi tidak pernah ke ruang klub bersama. Aneh," ucap Sasori, lebih kepada dirinya.

"Ya, begitulah," tanggap Mio. "K-kau tahu sifatnya memang seperti itu."

Sasori mengangguk-angguk saja. Ia menyeringai tipis, 'Uchiha, kau tidak melakukan pergerakan sedikit pun, eh? Haruskah aku mendesakmu?'

"U-um, tapi, sekarang aku dan Sa-sasuke, tidak bisa ikut kegiatan klub," tambah Mio. Nadanya terdengar ragu-ragu menyebut nama Sasuke. Sasori bangun dari pikiran liciknya.

"Lha, kenapa?" tanya Sasori.

"Kami mau mengerjakan tugas," jawab Mio.

"Lalu ... kenapa kau berjalan ke ruang klub?" tanya Sasori heran. Ia menatap Mio di sebelahnya.

"Y-ya, ingin minta izin ke teman-teman," jawab Mio, entah kenapa ia merasa bodoh.

"Izin? Kenapa yang minta izin kau sendirian? Jangan bilang si Uchiha yang menyuruhmu," Sasori menatap Mio dalam-dalam dan menghentikan langkahnya. Mio juga menghentikan langkahnya, ia memutar tubuhnya sedikit menghadap Sasori.

"Ba-baiklah, aku tak akan bilang," ucap Mio, dengan ekspresi sedikit datar. Sasori sweatdrop seketika.

"Secara tak langsung, kau bilang 'iya', Mio-chan," Sasori menempelkan telapak tangannya ke dahinya, facepalm. "Haah, kau benar-benar menggemaskan, Mio-chan."

Sasori menepuk kepala Mio, kemudian mengacak-acaknya sedikit. Mio blushing seketika, ia sedikit bingung dengan Sasori yang tiba-tiba bilang padanya kalau dia itu menggemaskan.

"Kalau begitu, biar aku yang urus, kau kerjakan saja tugasmu dengan Uchiha itu. Memang keterlaluan dia menyuruh-nyuruh orang seenaknya," ucap Sasori. Ia melempar senyuman penuh pesonanya pada Mio, dan membuat kaki gadis itu menjadi lemas seketika. Ia menepuk bahu Mio pelan sebelum pergi menuju ruang klub.

'Hmm, Uchiha, kurasa aku akan memberimu sedikit kesempatan lagi. Kalau kau masih menyia-nyiakan kebaikanku, aku yang akan maju.'

.

Sudah sekitar satu jam, Sasuke dan Mio berada dalam ruangan perpustakaan. Hanyut dalam konsentrasi masing-masing pada buku mereka. Memberi stabilo pada beberapa kalimat.

Yah, sebenarnya, mereka tidak sehening ini dari tadi. Mereka terus saja berdebat mengenai tugas ini. Meskipun cara mereka berdebat itu berbeda. Tidak saling berteriak seperti pada umumnya.

'Hanya' saling melempar kata-kata pedas, makian, dan sebagainya. Namun, entah kenapa, tetap terdengar elit. Kekuatan keluarga Uchiha yang lainnya, mungkin? Yah, meski pada akhirnya, pengawas perpustakaan menegur mereka, sekitar sepuluh menit yang lalu.

"Kurasa, selesai sampai di sini dulu." Ucap Sasuke tiba-tiba, memecah keheningan. Ia merapihkan bukunya. "Kita lanjutkan di rumah masing-masing. Aku ketik bagianku, dan kau ketik bagianmu. Kemudian, kau kirim saja lewat e-mail, selebihnya akan ku urus."

Sasuke segera berdiri dari duduknya, meraih buku dan tasnya, kemudian berjalan menjauh. Meninggalkan Mio yang masih terpaku di kursinya.

"E-eh?" Mio mengerjap beberapa kali, sampai benar-benar mengerti apa yang sedang terjadi.

Ia membereskan barangnya asal, kemudian berjalan cepat menyusul Sasuke. Sosok pemuda itu kini telah sepenuhnya menghilang dari perpustakaan.

"Sa-sasuke Uchiha!" Panggil Mio, begitu dirinya keluar dari ruang perpustakaan.

Untung saja, Sasuke masih berada di ujung lorong tempatnya berdiri sekarang. Cowok itu menoleh ke belakang. Mio berlari kecil menghampirinya.

"K-kau belum memberi tahuku alamat e-mail mu," ucap Mio begitu sampai di hadapan Sasuke. Ia tidak melihat langsung ke arah Sasuke. Mukanya memerah entah kenapa.

Ia mengacak-acak isi tasnya, kemudian menggerutu pelan. "Uh, di mana pulpenku, sih?"

Sasuke hanya menatap datar pada gadis di hadapannya itu. Ia menutup matanya, kemudian menghela napas. Setelah membuka matanya, Sasuke meraih pulpennya yang selalu siap di saku kemejanya. Ia menarik tangan Mio.

"E-eh?" Seru Mio, kaget.

"Diam, jangan bergerak." Suara dingin nan datar milik Sasuke, membuat Mio tak bergeming di tempatnya. Ia hanya diam menunggu apa yang akan Sasuke lakukan pada tangannya.

Sasuke mencabut tutup pulpennya, kemudian membalik telapak tangan Mio. Ia menulis alamat e-mailnya.

'Lembut, harum,' itulah yang terlintas di benak Sasuke. Membuatnya tersentak sedikit akan pikirannya sendiri. Semburat merah yang sangat amat tipis muncul seiring degup jantungnya yang mengencang.

Ia berusaha menghilangkan pikiran anehnya, kemudian melanjutkan menulis.

Mio menatap Sasuke. Tangannya begitu dekat dengan wajah pemuda tampan itu, samar-samar, dapat ia rasakan hembusan napas Sasuke mengenai telapak tangannya. Ia blushing seketika.

Jika saja ada yang melihat mereka, mungkin saja, mereka berpikir kalau Sasuke ingin mencium tangan Mio. Posisi mereka memang terlihat romantis saat itu.

Mio memandangi Sasuke dengan raut polosnya. Sasuke yang merasakan tatapan itu menelan ludahnya, entah kenapa.

Setelah selesai menulis, Sasuke melepaskan tangan Mio perlahan. Karena, ia dapat merasakan, tangan Mio yang lemas sepenuhnya, kalau ia lepaskan secara tiba-tiba, tentu akan mengagetkan gadis di hadapannya yang tampaknya sedang melamun.

Dengan segera ia berdehem, kemudian berbalik, pergi meninggalkan Mio yang masih tak bergeming di tempatnya.

Mio mengerjapkan matanya beberapa kali, sambil memandang punggung Sasuke yang semakin menjauh. Masih ia ingat saat Sasuke melepaskan tangannya perlahan dan lembut. Beda dengan sikapnya yang kasar, yang selama ini ia tahu. Ia menarik tangannya sendiri, memandangi alamat e-mail yang tertera di telapak tangannya.

'Tak ku sangka, ia cukup baik dan lembut, ya. Kurasa, aku harus menghilangkan pikiran buruk tentang dia,' gumam Mio. Ia tersenyum, wajahnya menghangat.

Ia berjalan, mencoba menyusul Sasuke. Namun, langkahnya terhenti ketika mendengar suara yang memanggil namanya. Ia menoleh ke belakang, dan melihat Sasori yang berlari kecil ke arahnya.

"Aku baru saja ingin ke perpustakaan, mencarimu," ucap Sasori setelah ia mengatur napasnya.

"E-eh? Kenapa Sasori-san mencariku?" tanya Mio pelan. ia menoleh ke depan lagi, dan mendapati Sasuke yang kini telah menghilang sepenuhnya.

"Aku ingin ... err, Mio-chan, apa yang kau cari?" tanya Sasori heran begitu melihat ekspresi aneh Mio yang seperti berusaha menemukan sesuatu.

"Eh? A-aku? Oh, itu ... ti-tidak ada apa-apa," ujar Mio pelan. Ragu untuk memberitahu apa yang sebenarnya ada di benaknya.

"Oh, begitu, ya." Sasori mengangguk-angguk. "Hey, pulang bareng, yuk."

"Pu-pulang bareng? A-apa rumahmu searah denganku?" Tanya Mio menanggapi ajakan Sasori. Ia melanjutkan, "Apa ... Tidak merepotkan?"

"Merepotkan? Ahahah! Tentu saja tidak," Sasori nyengir. "Rumahmu yang ada di daerah sebelah kanan dari taman kota, kan? Tadi pagi, aku melihatmu berjalan melewati rumah-rumah di situ."

Mio mengangguk pelan, masih menatap Sasori ragu. Sasori mendesah, masih menampakkan senyumnya. "Rumahku ada di daerah situ juga. Aku tidak akan keberatan. Mana mungkin aku merasa kerepotan, kalau mengantar gadis secantik kamu, ahaha!"

Perkataan Sasori yang frontal itu, membuat Mio blushing seketika. Mio hanya diam dan mengangguk pelan, ia terlalu gugup untuk berbicara.

"Eh, kau mau? Ahahah, ayo, kita jalan!" Ucap Sasori sambil tersenyum senang. Mio berjalan di sampingnya.

Awalnya perjalanan mereka, hanya dihiasi kesunyian. Sasori berusaha memecah keheningan, karena ia perlahan mengerti. Mio tidak akan memulai percakapan dengan seseorang yang belum ia kenal dekat. Dan itu berarti, Sasori harus mulai mendekatinya. Membuat Mio senyaman mungkin saat berada di dekatnya.

Percakapan ringan yang Sasori mulai, rupanya tak sia-sia. Mio perlahan menikmatinya. Walaupun, seluruh percakapan itu didominasi oleh Sasori.

Dan akhirnya mereka berhenti di depan sebuah rumah yang cukup sederhana. Sasori masih meneruskan percakapannya, sampai ia tersadar kalau mereka sudah berhenti berjalan.

"Eh? Kenapa berhenti? Sudah berapa lama kita berhenti di sini?" Tanya Sasori dengan tampang polos. Membuat Mio terkekeh.

"Umm ... Sudah dari 7 menit yang lalu," jawab Mio. Ia melirik jam tangannya. "Kita berhenti karena kau sudah berada di depan rumahku."

"O-ooh, jadi ini rumahmu ya? Rasanya cepat sekali." Sasori menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Suasana mendadak jadi canggung. Mio hanya meringis gugup.

"Hm, kalau begitu sampai jumpa. Besok kita ketemu lagi di sekolah, ya?" Sasori melempar senyum sejuta pesonanya pada Mio. Mio hanya bisa blushing sambil mengangguk kecil. Sasori mengacak rambut Mio sebentar, sebelum berbalik meninggalkan gadis itu.

Mio terpaku di tempat selama beberapa saat, menatap punggung Sasori yang semakin menjauh. Tiba-tiba saja, ia langsung berlari cepat, memasuki rumahnya. Berlari menaiki tangga, dan masuk ke dalam kamarnya. Ia membanting dirinya sendiri ke atas kasur, menutupi kepalanya dengan bantal, kemudian menjerit. Perasaan senang dan malu bercampur jadi satu. Dan ia menghabiskan sore itu untuk ber-fangirling-ria.

T.B.C

A/n: apaan nih? Gaje banget ya? Huwaa~ maaf ga seru. Ane kehabisan ide nih -.-

Yak. Berhubung author lagi UTS, do'ain nilai author bagus ya~ *kedip-kedip* do'ain juga author bisa mengeluarkan ide-ide yang cetar membahana badai halilintar terpampang nyata, mengambang di cakrawala, melintasi garis khatulistiwa. Aaaak! Deeess! *okesip cukup*

Ohiya, ane minta saran buat judul fanfic ini dong ._.a lama-lama rasanya ga enak nyebutin fanfic tak berjudul(?) ini. Huehehehe =w=

Ohiya, makasih ya, yang sempetin review. Setelah ane baca ulang, memang banyak kesalahan, ane sampe gila sendiri bacanya *jongkok di pojok ruangan*

Yak, akhir kata. Sangat dibutuhkan kritik dan saran mengenai EYD, dll. Jadi, mohon reviewnya (lagi)*?* ya ^w^