No one
.
.
.
.
Disclaimer : Mereka semua milik Tuhan
Pairing : YunJae, YooSu
Genre : YAOI, Angst, Hurt/comfort, Romance, Family
Rate : T, M
.
.
.
.
.
.
.
.
.
" Ahh… Lebih cepat Joongiiiehh.. Aaahh"
"Mcckkk… sluuurrppp.."
" Mhhhh… Pintaarrhh.. aaahhh… aaahh…"
" Mcckkk… sshhh…"
" Aaahhh… ngghh… AAHHHH!"
Namja bernama Joongie itu menerima semburan putih yang menurutnya menjijikkan itu. Saat akan melepaskan kepalanya dari benda tumpul itu, namja diatasnya menekan kepalanya agar cairan itu masuk ke dalam mulutnya. Dengan terpaksa namja itu menelannya dan segera melepaskan mulurnya dari benda terkutuk itu.
" Yakin tidak ingin lebih Jaejoongie?" Tanya namja paruh baya itu
" Sudahlah ahjusshi berikan, aku tidak punya banyak waktu!"
" Ck… Arra… Sebentar" Namja paruh baya itu berdiri dan membenarkan celananya kemudian mengambil sebuah amplop coklat dari lacinya dan memberikannya pada namja cantik bernama Jaejoong didepannya
" Yakin cukup?"
" Aku hanya perlu segini Yoo ahjusshi" Ucap Jaejoong kemudian mengambil amplop coklat dari tangan sang Yoo ahjusshi
Kemudian dia keluar dari ruang kerja itu, berjalan pelan menuju kamarnya dan menguncinya. Dia menyandarkan tubuhnya pada pintu kamarnya dan menahan isak tangisnya.
" Hyung…"
Jaejoong membuka matanya dan mendapati sang sepupu ada diatas tempat tidurnya. Jaejoong mencoba tersenyum kemudian mendekati sepupunya itu.
" Suie… Ini, kita gunakan sebaiknya ne?"
" Ne hyung. Gomawo" Ucap Junsu kemudian membuka amplop yang berisi lembaran won itu
" Cheonma"
" Hyung tidak melakukannya kan?"
" Aniya, jika hanya segini aku hanya harus menggunakan mulutku" Ucap Jaejoong kemudian membaringkan tubuhnya diranjang dan menutup matanya " Dan dia memaksaku menelan cairan menjijikkan itu"
" Hyung…" Junsu memanggil Jaejoong lirih
Jaejoong yang mendengarnya membuka matanya dan tersenyum.
" Gwaenchana… Aku hanya menggunakan mulutku walaupun tadi dia meminta lebih"
GREP
Junsu memeluk hyungnya. Dia sangat beruntung karena memiliki Jaejoong dalam hidupnya, jika tidak dia akan menjadi gelandangan diluar sana.
Siapa Jaejoong dan Junsu?
Jaejoong adalah anak yatim piatu yang akhirnya dirawat oleh kakak perempuan dari ibunya. Ahjummanya sudah menikah dengan namja bermarga Yoo. Dan apa yang dilakukannya tadi bersama sang ahjusshi?
Begitulah kehidupannya, dia memang sudah bekerja namun tetap saja kurang untuk membiayai kehidupannya. Saat dirinya baru kehilangan sang eomma dan appanya meninggalkannya kabur entah kemana, sang ahjusshi menawarkan bantuannya dan dengan senang hati Jaejoong menerimanya tanpa berpikiran negatif. Saat itu usinya masih dua belas tahun.
Awalnya sang ahjusshi senang sekali melakukan skinship terhadapnya lama kelamaan Jaejoong jengah juga. Apalagi semenjak istrinya sakit – sakitan, ahjusshinya terang – terangan memperkosanya dan setelah selesai ahjusshinya memberika amplop yang tebal padanya dan mengatakan bahwa Jaejoong tidak boleh mengatakannya pada siapapun.
Jaejoong mengangguk saja karena dia juga malu diperkosa oleh pamannya. Hey, mereka sama – sama namja bukan? Lagipula usianya masih terlalu muda saat itu, empat belas tahun! Mentalnya masih belum siap menghadapi kenyataan yang ada!
Dari situ sang ahjusshi sering mendatangi kamarnya dan melakukannya lagi dan lagi. Walaupun Jaejoong sudah mengunci kamarnya namun percuma, sang ahjusshi memiliki kunci cadangannya.
Dan Jaejoong akhirnya berbuat tegas saat sang ahjusshi masuk ke kamarnya dia menolaknya dengan alasan uang yang diberikan sang ahjusshi masih ada. Dan dia akan mendatangi ahjusshinya itu jika uangnya sudah habis.
Yoo ahjusshi sendiri bukanlah orng dari kalangan biasa, dia seorang pengusaha terkenal dan sangat kaya. Dia memanfaatkan kepolosan yang dimiliki oleh keponakannya itu untuk kepuasannya. Dan hebatnya sang istri tidak mengetahui kebelangan dari suaminya itu! Daebakk!
Jaejoong sendiri bukannya menerima keadaan begitu saja, saat lulus sekolah dia langsung mencari pekerjaan dan pergi dari rumah itu dan tinggal bersama namjachingunya. Namja? Ne… Sejak ahjusshinya memperkosanya orientasi seksualnya berbelok dan dia menyukai namja.
Bersama dengan sepupunya yang merupakan anak 'broken home' dia mencoba membiayai Junsu sekolah juga. Namun dia melihat sang kekasih hendak memperkosa Junsu sehingga Jaejoong memutuskannya dan membawa Junsu pergi dari sana.
Dan… Akhirnya hanya rumah terkutuk itu tempatnya kembali. Empat kali menjalin kasih semuanya gagal. Entah karena selingkuh dengan yeoja dan hubungan mereka tidak direstui oleh kedua orangtua namjachingunya. Hey, siapa yang mau anaknya gay?
.
.
.
Jaejoong membuka matanya dan mengambil nafas sebanyak – banyaknya. Dia bermimpi saat itu lagi. Saat sang ahjusshi memperkosanya. Dia bangkit kemudian duduk pada sandaran kemudian menoleh, mendapati Junsu tidur dengan lelapnya.
" Kau tidak boleh terjerumus terlalu dalam Suie…" Lirih Jaejoong kemudian mengelus kepala Junsu dengan penuh sayang
Junsu pernah melakukannya dengan Yoo ahjusshi sekali, tidak melakukan sex hanya saja sebatas menghisap dan menelannya saja. Dan Jaejoong yang mengetahuinya sangat marah dan membentak Yoo ahjusshi yang ternyata memaksa Junsu melakukannya.
Junsu menangis sesenggukkan saat itu dan mereka kabur dari rumah sang paman walaupun akhirnya kembali lagi karena uang mereka habis.
Jaejoong tidak pernah mengizinkan Junsu melakukannya walaupun tahu Junsu sama sepertinya, menyukai namja. Dia ingin Junsu hidup lebih baik darinya dan selama enam bulan ini Jaejoong cukup lega bahwa namjachingu Junsu sangat menyayangi Junsu.
Sedangkan dia? Ah… dia juga memiliki seseorang yang istimewa bukan?
Jaejoong dengan segara mencari ponselnya dan membuka kunci layarnya. Terdapat beberapa missed call dan pesan dari namja yang ia kenal ani ani ani… dia cintai.
Jaejoong men-dial nomor tersebut dan menunggu sambungan itu terangkat.
" Yeobesseo?" Suara sebrang sana terdengar lemas seperti baru saja bangun tidur
" Yunie…"
" Ne Boo…"
" Kau meneleponku tadi?"
" Ne… Aku merindukanmu sehingga meneleponmu Boo"
" Oh.. aku juga merindukanmu Yun…"
" Hahahaha… Arra, aku tahu kok"
" Kau berjanji ke Seoul tapi sampai empat bulan kita berpacaran tidak pernah kesini!"
" Mianhae Boo… Aku sedang mengumpulkan uang untuk pergi kesana bukan? Belum lagi eommaku sakit jadi belum bisa Boo"
" OMO! Eommamu sakit?"
" Ah… ne"
" Kau butuh biaya? Aku akan bantu Yun"
" Tidak usah Boo"
" ISH! Bawel, pokoknya aku akan bantu!"
" Ck.. Arraseo… Saranghae Kim Jaejoong"
" Nado Jung pabbo"
" YA!"
" Hahaahhahah.. Nado saranghae Jung Yunie"
" Itu baru benar. Kau terbangunkah?"
" Ne Yun… Tidak bisa tidur lagi"
" Mau aku nyanyikan lagu?"
" Boleh…"
" Hah… padahal aku lebih menyukai suaramu Boo"
" Sudah! Nyanyikan aku lagu"
" Arra…"
Namja disebrang telepon itu menyanyikan lagu untuk Jaejoong sampai akhirnya Jaejoong tertidur karena mendengar suara manis kekasihnya.
.
.
.
.
Jaejoong keluar dari sebuah ruang mesim ATM esok harinya, kakinya melangkah menuju kafe tempat dia bekerja. Sampai disana dia langsung mengganti pakaiannya dengan seragam dan melayani semua tamu dengan baik.
Namun matanya tertuju pada pada pojok kafe. Dan mencoba menajamkan matanya melihat kearah pojok ruangan. Mungkin dia salah lihat.
Pulang kerja Jaejoong melewati jalan yang biasa dia lewati, namun kali ini ada yang berbeda. Di pojok jalan itu seorang namja tengah mencium seseorang dan Jaejoong yakin namja itu adalah orang yang sama saat di kafe tadi.
" Itu Yoochun bukan? Bersama siapa? OMO? Mereka berciuman! Ponsel!"
KLIK
Jaejoong menyimpan foto itu dan dia akan menunjukkannya pada Junsu. Dia harus memberitahukannya! Dia tidak mau sepupunya dipermainkan seenaknya oleh sang kekasih.
.
.
.
.
" Suie… Hyung ingin bicara"
" Hmmm?" Junsu yang sedang asyik membaca komik di atas tempat tidur segera duduk " Soal apa hyung?"
" Yoochun"
" Chunnie? Waeyo?"
" Ini"
Jaejoong memberikan ponselnya membuat Junsu membulatkan matanya dan mamandang kaku foto dihadapannya.
" Yoochunie…" Lirih Junsu
" Tanyakanlah terlebih dahulu"
" Hyung…"
GREP
Jaejoong memeluk Junsu dengan erat. Siapa yang tidak syok melihat foto kekasihnya berciuman dengan ornag lain terlebih Yoochun sudah mengakui bahwa dirinya tidak akan melirik namja lain. Tapi ternyata dia malah mencium yeoja.
Malam ini Junsu tidur dalam pelukan hangat Jaejoong. Jaejoong kembali menangis melihat Junsu seperti ini. Dia dulu pernah mengalaminya dan butuh beberapa bulan untuk bangkit kembali.
.
.
.
Sudah tiga hari sejak peristiwa itu dan Junsu sejak itu Junsu juga menginap dirumah sang kekasih. Padahal menurut Jaejoong hal seperti itu tidak perlu namun Junsu berkata dia akan mencari tahu kebenarannya. Akhirnya Jaejoong mengizinkan saja Junsu seperti itu.
Malam ini Jaejoong bergelung nyaman dalam tempat tidurnya, ahjusshinya sedang pergi Jepang mengurus perusahaannya selama seminggu kedepan. Sedangkan ahjummanya setelah ahjusshinya pergi, ahjumma menginap di rumah sakit karena kondisinya menurun.
CEKLEK
Jaejoong bangun dari tidurnya dan langsung disambut tatapan nyalang Junsu. Ada apa?
" Suie wa-"
PLLLAAAKKKK
Jaejoong ternganga kemudian memegangi pipinya yang baru saja ditampat oleh Junsu.
" Suie waeyo? Kenapa menamparku"
" Dasar kau bicth!"
DEG
" Su-suie…"
" Kau merencanakan ini semua bukan?!"
" Merencanakan apa?" Tanya Jaejoong, dia sungguh tidak mengerti maksud Jaejoong
" Kau mencari yeoja untuk mencium Yoochun dan kau memotretnya dan memberikannya padaku agar aku dan Yoochun berpisah!"
" Untuk apa aku melakukannya SUIE!"
" Tentu saja agar kau bisa mendapatkan Yoochun!"
" Mw-mwo?"
Apalagi ini? Jaejoong menatap tidak percaya sepupu kesayangannya. Apa katanya? Mendapatkan Yoochun?
" Kau gila? Aku tidak memiliki perasaan pada kekasihmu!"
" Yayayaya…. Katakan saja itu terus! Yoochun bilang kau menyukainya dan setelah Yoochun menolakmu kau melakukan berbagai cara agar Yoochun mau denganmu bahkan kau menawarkan tubuhmu untuknya?!"
" Ak-aku tidak melakukannya Suie…" Lirih Jaejoong dengan mata berkaca - kaca
" Pembohong!"
" Aniya Suie… Ka-kau sudah bertemu dengan yeoja itu? Ayo kita cari!"
" Tidak usah aku sudah bertemu dengannya sore ini. Aku kira Yoochunlah yang berbohong ternyata kau! Orang yang sudah aku anggap hyung malah berbohong! HIks…." Junsu mengeluarkan isakkannya " Yeoja itu mengatakan kau yang menyuruhnya melakukan itu! WAE?!"
" Suie… Harus aku bilang berapa kali kal-"
PLAAAKKK
Junsu kembali menampar Jaejoong karena menurutnya Jaejoong berbohong. Jaejoong membulatkan matanya namun dia tidak bergeming.
Junsu mengambil tasnya dan mengeluarkan pakaiannya dari dalam lemari dan memasukkannya kedalam tasnya.
" Suie… Kau mau kemana?" Lirih Jaejoong
" Tentu saja pergi! Aku tidak mau tinggal dengan seseorang yang bisa kapan saja menusukku dari belakang!"
" KIM JUNSU, berhenti!" Jaejoong memegang lengan Junsu yang sudah siap pergi dari kamar
" Lepaskan aku!"
" Lalu?! Coba katakana padaku untuk apa aku melakukan hal ini! Terutama padamu?!"
" Molla! Mungkin saja kau iri melihatku mendapatkan namjachingu yang sangat perhatian dan bisa memanjakanku tidak seperti YUNIEMU!"
SREETT
Junsu mendorong Jaejoong hingga Jaejoong terjatuh dilantai. Junsu kemudian tersenyum sinis dan keluar dari kamar itu.
" Suie… Waeyo… Hyung… hyung tidak melakukannya…"
.
.
.
.
Malam itu dihabiskan Jaejoong dengan menangis sampai menjelang pagi seseorang meneleponnya dan dia langsung mengangkatnya.
" Boo… Waeyo? Kenapa menangis?" Tanya Yunho yang mendengar suara isakkan
" Junsu… Junsu menuduhku menikamnya dari belakang…"
" Mwo?"
" kekasihnya memfitnahku hiks…"
" Uljima Boo… ah! Aku punya kabar gembira, semoga ini kabar gembira untukmu"
" Mwo?"
" Aku akan ke Seoul siang ini. Mengurus beberapa pekerjaanku dan bisa menginap disana"
" Jin-jinjja?"
" Ne… Berhentilah menangis dan sambutlah aku Boo…"
" Ne" Ucap Jaejoong, hatinya sedikit menghangat mendengar kekasihnya
.
.
.
Siangnya seperti yang sudah diberitahukan, pukul dua Jaejoong sudah duduk manis menunggu seseorang di salah satu kursi tunggu.
Dia tersneyum malu, ini adalah pertemuan pertamanya dengan Yunho bukan? Memikirkannya membuat Jaejoong merona dan melupakan masalahnya dengan Junsu.
" Kim Jaejoong?"
DEG
Demi apapun… Suara ini… Dia mengenal suara rendah ini dengan baik! Jaejoong mendongakkan kepalanya dan menatapkagum namja didepannya. Namja bermata musang didepannya hanya menggunakan kaos polo hijau dan skinny jins hitam namun auranya sungguh terasa.
" Yu-Yunie?"
" Ah! Aku kira salah…" Yunho duduk disamping Jaejoong
" Wae?"
" Habis kau lebih cantik dari fotonya sih hahahaha" Ucap Yunho membuat Jaejoong berblushing ria
" Go-gombal"
" Eii… Itu benar! Jadi, hari ini kau bisa menemaniku?"
" Tentu saja. Kau mau kemana?" Tanya Jaejoong
" Temani aku mengantar dokumen perusahaan dulu setelahnya kita jalan – jalan. Otte?"
" Baiklah" Ucap Jaejoong kemudian tersenyum lembut
Setelah mengantar Yunho ke perusahaannya, mereka berjalan – jalan disekitar Seoul dan berakhir disebuah kedai. Jaejoong menghabiskan beberapa botol soju dan terlihat sekarang wajahnya merah.
" Kau sudah mabuk Boo…"
" Hahahaha… Lalu?"
" Wajahmu memerah"
" Kau suka? Ngghh?"
" Ne…." Jawab Yunho pelan " Boo… Aku belum punya tempat untuk menginap"
" Kita ke rumah ahjusshiku saja… Kajja"
Dengan terhuyung Jaejoong membawa Yunho menuju rumah pamannya yang memang tidak jauh dari kedai itu. Jaejoong membawa Yunho menuju kamarnya.
" Rumahmu besar Boo…."
" Ini rumah ahjusshiku, bukan rumahku… Tidurlah" Ucap Jaejoong kemudian mendorong pelan tubuh Yunho
SREETTT
GREEPPP
Tubuh Jaejoong malah menimpa tubuh kekar milik Yunho. Jaejoong mencoba bangkit namun Yunho malah mengeratkan pelukannya.
" Kau cantik Boo…"
" Aku tampan Jung"
" Aniya aniya…"
Yunho mengelus pipi Jaejoong yang lembut itu lalu perlahan mendorong kepala Jaejoong agar makin mendekat padanya dan terjadilah ciuman itu. Ciuman itu awalnya hangat dan pelan namun lama kelamaan ciuman itu menjadi menuntut dan saling menginginkan lebih. Yang Jaejoong tahu, dia memberikan tubuhnya pada kekasih yang dicintainya dan tidak ada penyesalan saat memberikannya.
.
.
.
.
" Nghhh…"
Jaejoong menggeliat dan kemudian mencoba membuka matanya. Hangat, itulah yang pertama kali dia rasakan. Dia menoleh kebelakang dan mendapati wajah namja yang tadi malam telah menyentuhnya juga jangan lupakan tangan kekar sang namja yang tadi malam memanjakannya kini ada dipinggangnya.
Jaejoong bergerak sedikit dan membalikkan tubuhnya untuk memandangi wajah sang namja yang dicintainya. Tangannya perlahan terulur untuk menyentuh wajah namja itu dan berhenti tepat pada bibir sang namja. Dia meletakkan jari telunjuknya pada pertengahan bibir namja itu, Yunho.
Greepp
Sebuah tindakan menyadarkan Jaejoong. Yunho menariknya agar semakin dekat padanya dan memeluknya erat.
" Yuuunn…" rengek Jaejoong
" Hmm? Kau harum Boo… Aku suka"
" Ya… tadi malam kau terus mengatakannya kok"
" Hehehe… kenyataan kok"
Pagi itu dilanjutkan kedua sejoli yang salah jalan itu dengan merajut cinta meureka kembali. Mengulangi apa yang tadi malam mereka lakukan.
Jaejoong terbangun saat jam menunjukkan pukul sebelas siang, dia segera membangunkan Yunho. Yunho tidak boleh ketinggalan pesawat yang akan membawanya menuju Busan dua jam lagi.
.
.
.
Jaejoong dan Yunho sampai di bandara satu jam sebelum pesawat take off. Jaejoong terus mengamati Yunho yang ada dihadapannya, dia tengah membalas pesan dari teman – temannya.
' Tampan….' Batin Jaejoong kemudian tersenyum malu
Yunho yang menyadari keadaan didepannya mendongakkan kepalanya dan menatap Jaejoong yang tengah tersenyum dengan wajah meronanya.
" Waeyo Boo?"
" Eh? An-aniya"
" Aigo… Jja, sudah saatnya aku berangkat Boo" Yunho berdiri dari duduknya diikuti oleh Jaejoong
" Hati – hati Yun"
" Ne…"
Sebelum pergi Yunho memeluk Jaejoong sebentar sebelum akhirnya berjalan menuju pintu keberangkatan.
" Saranghae Yun…" Lirih Jaejoong
Jaejoong tidak pulang ke rumah terlebih dahulu, dia mampir ke tempatnya bekerja walaupun dia sedang cuti dua hari ini. Di sana dia bertemu dengan teman seperjuangannya yang juga gay.
" Hey… Jalanmu aneh?" Tanya Eunhyuk
" M-mwo?"
" Kau… melakukannya eoh? Dengan Yuniemu itu?"
BLUSH
Pertanyaan langsung itu membuat Jaejoong merona namun kemudian mengangguk mengiyakannya membuat Eunhyuk tersenyum senang.
" Aigo… Pantas saja wajahmu merona tidak jelas begitu"
" YA!"
" Hahahahaha… Hey, kau sudah bertemu dengan Junsu?"
" Hah…" Jaejoong menumpukan wajahnya pada kedua tangannya " Belum… Dia pasti sangat marah padaku Eunhyuk ah"
" Salah dia juga tidak percaya padamu dan malah tidak mencari buktinya. Sudahlah… Biarkan saja"
" Ne… Aku merindukannya"
" Biarkan saja bebek itu menyesal nantinya!"
Jaejoong tersenyum miris, dia sungguh merindukan sepupu tersayangnya yang tengah marah padanya itu. Namun tidak bisa berbuat apa – apa karena Junsu pun enggan bertemu dengannya. Bahkan Jaejoong tidak mengetahui keberadaan Junsu sekarang.
Jaejoong melanjutkan perjalanannya menuju rumah sakit tempat ahjummanya dirawat sejak ahjusshinya pergi keluar kota.
" Ahjumma bagaimana hari ini?" Tanya jaejoong kemudian duduk dikursi samping ranjang tempat ahjummanya dirawat
" Seperti yang kau lihat Joongie"
" Terlihat cantik kok"
" Hahahaha… Kau ini pandai sekali bergurau eoh? Keriput begini darimana cantiknya?"
" Dari mata Joongie tentu saja"
Jaejoong mendekat dan mencium kening sang kakak dari ibunya itu kemudian tersenyum lembut. Tangan ahjummanya menggapai pipi Jaejoong dan mengelusnya lembut.
" Kau sungguh mirip dengan ibumu yang baik dan lembut itu Joongie…." Lirihnya
Jaejoong tersenyum miris, jika saja sang ahjumma tahu apa yang dia lakukan dibelakangnya pasti ahjummanya tidak akan bicara seperti itu.
" Tetaplah jadi anak yang periang Joongie"
" Ne ahjumma…."
Jaejoong berjalan lunglai ke dalam rumah milih ahjusshinya. Dia meninggalkan rumah sakit saat sang ahjumma sudah tidur. Dia melangkahkan kakinya menuju kamarnya dilantai dua.
CEKLEK
Jaejoong menoleh saat mendengar suara pintu kamar ahjusshinya terbuka dan menampilkan sesosok namja yang dia rindukan. Sepertinya sang ahjusshi sudah pulang ke rumah sore ini.
" Su… Suie…"
Junsu menatapnya tajam dan berjalan melewati Jaejoong, Jaejoong tersentak kaget saat menyadari keadaan Junsu. Apalagi tadi Junsu keluar dari kamar ahjusshinya bukan? Jaejoong berbalik dan mengejar Junsu kemudian menggenggam pergelangan tangan Junsu.
" LEPAS!" Pekik Junsu
" Ka-kau melakukannya degan Yoo ahjusshi Su?" Tanya Jaejoong degan nada lirih
" Bukan urusanmu"
" Su… Kau tahu bukan aku tidak suka kau.." Jaejoong menghentikan ucapannya dan menatap Junsu dengan sendu
" Tidak ada bedanya kau dengan aku sekarang"
" Aniya Su… Kau…"
" Sudahlah, yang penting aku tidak pernah menikam temanku dari belakang. Aku harus pergi" ucap Junsu kemudian
" Su…" Panggil Jaejoong dengan lirih
Drrttt…
Drrttt…
Sebelum dia mengejar Junsu ponselnya berbunyi dan Jaejoong mengangkatnya.
" Waeyo Eunhyuk ah?"
" …."
" Mwo? Arra! Gomawo!"
Dengan segera Jaejoong mengejar Junsu kearah halte bus dan beruntung sekali Junsu belum beranjak dari sana.
GREP
Jaejoong mencengkram lengan Junsu kembali.
" Lepaskan aku pabbo!"
" Biarkan aku menunjukkan sesuatu padamu baru aku akan melepaskanmu"
" ….."
" Setelah itu aku tidak akan pernah mengganggumu lagi"
Junsu terlihat berpikir sebelum akhirnya dia mengangguk. Jaejoong tersenyum dan membawa Junsu secepatnya kearah tempatnya bekerja.
" Eunhyuk ah!" Panggil Jaejoong
Eunhyunk mendekat dan menyapa Junsu namun Junsu hanya membalas sapaan Eunhyuk dengan senyuman tipis.
" Eodie?" Tanya Jaejoong dengan tidak sabaran
" Mianhae Joongie, baru saja dia pergi"
" Shit! Yoochun sudah pergi?"
" Ne"
" MWO? Apa maksudmu? Kali ini apa yang kau rencanakan? Mengancam Yoochun?"
DEG
" Bukan Su… Aku hanya ingin kau melihat kebenarannya! Dia berbohong padamu!" Ucap Jaejoong pelan
" Kau memang menjijikkan Kim Jaejoong!" Teriak Junsu
Seluruh pelanggan menoleh ke arahnya membuat Jaejoong menjadi pusat perhatian sedangkan Junsu segera berlari meninggalkan sepupunya.
" Kim Junsu! Tunggu!"
Akhirnya Jaejoong mengerjar Junsu.
" Jangan ikuti aku!" Perintah Junsu
" Aniya Su… Jangan seperti ini padaku… Kumohon…" Jaejoong menitihkan airmatanya
" Aku tidak akan terjebak dengan airmatamu lagi"
" Suie ya…"
DEG
Mata Jaejoong tak sengaja menangkap sebuah pemandangan, dia segera menarik Junsu bersembunyi tak jauh dari namja yang sedang duduk disebuah taman bersama seorang yeoja.
" Lihat itu!" Perintah Jaejoong dengan nada pelan
Junsu dengan malas menoleh dan dia membeku mendadak. Didepannya terlihat kekasihnya Park Yoochun tengah mencium ganas seorang yeoja. Bahkan tangannya sudah masuk kedalam kaos sang yeoja.
" Oppaa~~ Lepas!" Ucap sang yeoja yang masih bisa didengar oleh Junsu dan Jaejoong dari balik persembunyiannya
" Hmm? Kau menginginkannya bukan?"
" Tapi kita akan melakukannya dimana? Apartemenmu itu bukankah ada kekasihmu?"
" Ck… Sudah ku bilang dia bukan kekasihku! Dia hanya pelampiasan nafsuku saja!"
" Nghh.. Lalu kita akan kemana?"
" Hah… Kita ke hotel saja, dia juga sedang mencari uang untukku. Hahaha… Kajja… Mudah sekali mengelabui namja polos itu! Bahkan dia tidak mempercayai sepupunya yang bahkan lebih cantik darinya itu dan mempercayaiku begitu saja! Bodoh"
Yoochun bangkit kemudian menggandeng sang yeoja. Junsu yang melihatnya langsung hancur, hatinya dilebur oleh api yang sangat panas.
DEG
Dia teringat Jaejoong, jadi dia telah salah pada Jaejoong bukan? Junsu menolehkan pandangannya dan menatap penuh penyesalan pada Jaejoong.
Jaejoong tersenyum lembut dan Junsu langsung menerjangnya. Dia memeluk erat sepupunya itu.
" Mianhae… Hiks… Mianhae hyung… Mianhae…"
" Gwaenchana Suie ah…"
" Hiks… Huwwaa… Mianhae hyung…"
" Sttt… gwaenchana… Kita dapat melewatinya bersama ne?"
" Hiks…" Junsu mengangguk dalam tangisnya
.
.
.
.
Namun seminggu setelahnya Junsu belum juga bangkit. Dia bahkan tidak menyentuh makanannya tiga hari belakangan. Membuat Jaejoong merasa sangat khawatir karena keadaan sepupunya yang makin lemah.
" Suie… Hyung mohon… Makanlah sedikit saja… Jangan membuat hyung khawatir"
Junsu menggeleng perlahan. Dia tidak ingin memasukkan apapun kedalam mulutnya. Dia hanya ingin berdiam diri entahsampai kapan. Jaejoong menahan tangisnya kemudian keluar kamar itu.
Empat hari yang lalu Junsu akhirnya menghampiri Yoochun dan dengan sinis Yoochun berkata jika dia tidak mengenal Junsu didepan semua orang. Membuat Junsu kembali hancur. Dan hanya ada Jaejoong yang ada disampingnya untuk mendampinginya.
Jaejoong menyandarkan tubuhnya pada dinding dan mengeluarkan ponselnya. Sejak pertemuannya dengan Yunho, namja bermata musang itu tidak sekalipun menghubunginya atau hanya mengiriminya pesan.
Pesan – pesan yang Jaejoong kirimkan juga tidak dibalasnya entah ada apa dengan kekasihnya itu. Jaejoong berjalan pelan menuju taman belakang rumahnya. Ahjusshinya belum pulang kerja dan ahjummanya masih dirawat di rumah sakit. Dia hanya sendiri dirumah.
" Kau kemana Yun…? Bogoshippo…" Lirih Jaejoong
Jaejoong mencoba membuka kontak Yunho dan meneleponnya. Ini sudah panggilan keempat hari ini, dia berharap Yunho mengangkat telepon darinya.
" Yeobosseo?"
DEG
Jaejoong mendengar suara yeoja diujung sambungan. Dia merasakan sesuatu… Sesuatu yang aneh.
" Yeobosseo?"
" Ah, ne… Apa ini nomor Yunho?"
" Eh? Ne… Yunho oppa sedang ke toilet jadi aku mengangkatnya"
" Oh? Ka-kau siapanya?"
" Aku Jung Ahra. Istri Yunho oppa"
JDDEERRRR
Jaejoong merasa seperti disambar petir dan tak sadar air matanya turun dari mata indahnya.
" Is-istri?"
" Ne… Mian aku melihat panggilan tak terjawab atas namamu dari siang. Apa oppa memiliki janji padamu? Karena seharian ini dia menemaniku di rumah sakit karena kandunganku melemah"
Jaejoong memejamkan matanya dan tangannya mulai bergetar. Kandungan?
" Kau sudah hamil berapa bulan?" Tanya Jaejoong menahan suara bergetarnya
" Bulan ini memasuki bulan ke enam"
" Ah… Berarti kalian sudah menikah hmm… satu tahun ya?"
" Ani… Sudah dua tahun…"
Kali ini hati Jaejoong bagai ditusuk ribuan jarum. Dua tahun menikah? Dan sekarang istrinya tengah mengandung enam bulan. Bukankah ini gila? Jaejoong tertawa miris.
" Ye-yeobosseo? Gwaechana?"
" Ah… ne. Tolong katakan saja Kim Jaejoong meneleponnya"
" Baiklah"
" Semoga kandunganmu tidak apa – apa dan cepatlah sembuh"
" Kamsahamdina Jaejoong sshi"
PIK
Jaejoong memutuskan kontaknya sepihak. Jaejoong memejamkan matanya dan mendongakkannya kearah atas. Mencerna kalimat demi kalimat yang diucapkan oleh yeoja yang tadi berbicara pada ponsel Yunhonya, kekasihnya. Apa masih pantas dia berkata seperti itu?
" Hiks… Hiks…"
Jaejoong mengutuk keadaannya yang tidak lebih baik dari Junsu. Dia menangis sesenggukkan di belakang halaman rumahnya. Hatinya sungguh perih malam ini.
Kenapa Tuhan begitu kejam padanya? Apa salah menjadi seorang gay? Bagaimana dia bisa melarang cinta yang datang begitu saja padanya? Apa benar kaumnya tidak bisa menikmati cinta yang diberikan oleh Tuhan? Wae?
Drrttt… Drtttt…
Jaejoong menoleh dan memandang layar ponselnya.
' Yunho is calling…'
Jaejoong harus menghadapi semua ini. Ne… harus…
" Yeobosseo" Ucap Jaejoong dengan nada bergetarnya
" Boo…"
" Jangan panggil aku seperti itu lagi Yun…"
" Mianhae"
" Arra… Kenapa kau tidak mengatakannya? Kenapa Yun?"
" Mianhae"
" Apa Cuma kata itu yang bisa kau ucapkan eoh?"
" Aku…"
" Apa kau tahu bagaimana perasaanku saat ini?! Kau bilang kau belum menikah dan tadi… Istrimu yang mengangkat Yun! Kau tahu bagaimana perasaanku?"
" Mianhae…"
" Apa artinya aku untukmu? Hanya pelampiasan nafsumu saja?"
" …."
" Jawab aku Jung Yunho!"
" Ne… Mianhae"
" Arra… Aku harap semoga kau bahagia dengannya dan istrimu melahirkan dengan lancar"
PIK
Tanpa mendengar jawaban Yunho, Jaejoong mematikan sambungan itu. Tak lama ponselnya kembali bergetar. Dari Yunho kembali namun kali ini Jaejoong tidak mengangkatnya dan bahkan mematikan ponselnya.
" Saranghae Yun… Saranghae! Hiks… Pabbo namja!"
Hari semakin larut dan akhirnya Jaejoong meutuskan untuk masuk ke dalam kamarnya. Dia tersenyum miris saat melihat Junsu tertidur dengan wajah pucatnya.
Jaejoong mendekat, berbaring disampingnya kemudian memeluk Junsu dengan erat. Dia menangis sambil memeluk Junsu.
" Jangan tinggalkan aku Suie… Hanya kau yang aku miliki… Hiks… Jangan tinggalkan hyung Suie… Hiks…" Jaejoong terus terisak
Sadar tidak sadar Junsu membalas pelukan Jaejoong dengan erat. Mencoba mencari kekuatan yang tersisa dan dia takut ini terakhir kalinya dia dapat merasakan pelukan hangat dan nyaman dari sepupunya itu.
.
.
.
" Ngghh…" Jaejoong menggeliat dan meraba sampingnya. Kosong?
Segera Jaejoong membuka matanya dan memastikan. Dia tidak menemukan Junsu disampingnya. Dia langsung saja duduk dan menolehkan kepalanya ke kanan dan kekiri.
Pandangannya jatuh pada pintu kamar mandi yang sedikit terbuka. Dia menduga Junsu berada disana.
" Suie ah…" Panggil Jaejoong pelan dan dia makin mendekatkan kakinya kearah kamar mandi
" Sshhh…"
" SU?"
" Akkhh!"
" SU?!"
Jaejoong segera masuk kedalam kamar mandi dan seketika dia membulatkan matanya ketika melihat tubuhbpolos Junsu didalam bathup.
" OMO! SU! Apa yangkau lakukan?" Tanya Jaejoong panik kemudian berlutut disamping bathup
" Mian…" Ucap Junsu dengan suara seraknya " Mianhae hyung…"
" Aniya Su… tetaplah sadar! Hyung akan memanggil ambulans" Ucap Jaejoong kemudian hendak beranjak namun Junsu menahannya
" Aniya hyung… Dengarkan aku… hah… hah… aku… Minta maaf atas hah… apa yang aku hah… perbuat padamu… hah… hyung…"
" Hiks… pabbo! Jangan banyak bicara! Aku… hiks… Jangan tinggalkan aku Suie… hiks.."
" Mian hah… hae…" Junsu perlahan menutup matanya
" Su… Suie ya!" Panggil Jaejoong dengan keras " SU! Buka matamu! Buka! Suie!"
Namun Junsu tidak merespon, matanya tertutup. Jaejoong dengan bergetar menyentuh lengan penuh luka iris Junsu. Junsu… mengiris – iris lengannya dan urat nadinya. Dan sekarang dia tenggelam dalam bathup yang dipenuhi air berwarna merah karena darahnya dengan wajah pucatnya.
.
.
.
.
Pemakaman itu berlangsung sederhana. Jaejoong berdiri di depan nisan Junsu dengan terisak keras. Disampingnya berdiri Eunhyuk dan ahjummanya yang memaksakan diri untuk datang ke pemakaman sang keponakan. Dia tidak menyangka Junsu akan mengambil jalan seperti ini untuk hidupnya.
" Joongie… Pulanglah… kau butuh istirahat" Ucap Eunhyuk
" Lalu siapa yang akan menemani Suie? Hiks…"
" Joongie… Suie pasti sedih melihatmu seperti ini…" Ucap Yoo ahjumma
Jaejoong akhirnya mengangguk dan pulang. Jaejoong duduk dipinggir ranjang dan mengambil sebuah foto dari meja nakas. Mala mini hujan turun sangat deras dan membuat Jaejoong terus memikirkan makam Junsu.
Dia menyentuh foto itu dan memeluknya erat. Ituadalah fotonya bersama Junsu saat bermain ditaman bermain dulu. Sekarang? Apa yang harus Jaejoong lakukan sendirian?
CEKLEK
Saat Jaejoong tengah melamun, seorang namja masuk. Dia duduk disamping Jaejoong dan mengelus punggung Jaejoong pelan.
" Ah-ahjusshi…" Ucap Jaejoong kaget kemudian mencoba menjauh
" Ahjusshi menginginkanmu hari ini"
" Mw-mwo? Ahjusshi! Aku masih berduka. Kumohon" Ucap Jaejoong memelas
GREPP
" Akkhh!" Jaejoong memekik sakit dsaat sang ahjusshi menjambak rambutnya
" Kau! Kau kira kau siapa bisa menolakku eoh? Kau tahukan siapa yang membiayai pemakaman hari ini? Siapa?!"
BRUUKK
Dengan teganya sang ahjusshi menindih tubuh lemas Jaejoong. Lemas? Tentu saja! Sedari pagi dia belum menyentuh makanan apapun.
" Ahjusshi… aku mohon…"
PLAKKK
" Puaskan aku!"
" Ahjushhi…" Jaejoong menangis sekarang, dia sungguh mengutuk nasibnya yang sangat sial ini
SRREETTT
Jaejoong tahu kekuatannya malam ini tidak bisa melawan sang ahjusshi yang tengah memandangnya penuh nafsu sehingga akhirnya dia hanya diam dan menatap kosong langit – langit kamarnya.
Bahkan saat berduka pun dia harus mengalami hal seperti ini? Apa sama sekali tidak ada keadilan untuknya?
" AAKKHHH!" Jaejoong memekik sakit saat sang ahjusshi memasukinya tanpa pemanasan
Perih, sakit, kesal, rasa hancur semua menjadi satu dalam otaknya sekarang. Dia merasa dipermainkan oleh Tuhan namun dia sendiri tidak bisa melawan. Jaejoong menangis… dia menangis dalam diam.
" Ahh! Kau nikmat Joongiehhh.."
" …"
" Aahhh~~"
" …"
Sang ahjusshi yang tidak mendapatkan respon dari keponakannya itu menghentikan gerakannya dan menatap tajam Jaejoong.
" Kenapa tidak mendesah?!"
" Aku lelah ahjusshi" Lirih Jaejoong dengan suara bergetar
Ahjusshi yang tidak memperdulikannya akhirnya melanjutkan saja pekerjaannya yang dia pikirkan bagaimana cara mendapatkan kenikmatan secepatnya.
CEKLEK
" OMO!"
PRRAANGG
Jaejoong tersentak kaget mendengar suara lemah itu. Dia segera menoleh dan mendapati ahjummanya berdiri didepan pintu dengan bubur yang sudah jatuh tidak berbentuk lagi.
Sang ahjusshi yang kepergok itu langsung mecabut miliknya dan langsung memakai celananya.
" Ba-bagaimana kalian bisa…" Ahjumma itu menutup mulutnya tak sanggup melanjutkan ucapannya
" Ah-ahjumma" Jaejoong mencoba bangkit dan mengambil celananya yang berada tak jauh dari tempatnya
" Yeo-yeobo dengarkan aku! Ja-jaejoong yang yang menggodaku! Dia yang menggodaku demi mendapatkan uang!"
Jaejoong menoleh kaget dan menatap tajam ahjusshinya.
" Ah-ahjuma ini…"
" Keluar"
" Ahjumma…"
" Keluar dari rumah ini… Kau… Menjijikkan Jaejoong ah…" Ucap sang ahjumma dengan nada datar
Jaejoong terisak mendengarnya. Bahkan ahjummanya tidak mendengarkan kata – katanya?
" Ahjumma…"
" Pergilah dari sini Jae…"
" Hiks…"
Jaejoong kembali terisak sembari memakai celananya. Dia keluar kamar yang selama ini dia tempati, melirik ahjusshinya yang sepertinya tersenyum puas karena sang istri membelanya. Kemudian memandang ahjummanya namun hanya wajah datar yang yang diberikan oleh sang ahjumma.
" Gomawo untuk semuanya ahjumma"
" ….."
Jaejoong keluar dari rumahnya dan berjalan menuju halte bus yang terdekat. Dia mengeratkan jaket yang dikenakannya dan berjalan menerobos hujan yang masih sangat deras.
Meresapi dinginnya hujan malam ini dan dia bahkan tidak tahu akan pergi kemana dirinya malam ini. Jaejoong sampai di halte bus itu dan mendekap erat tubuhnya yang menggigil kedinginan.
Diam menoleh kanan dan kiri namun tidak terlihat seorang pun di halte bus itu. Jaejoong menyandarkan tubuhnya kemudian memejamkan matanya.
Junsu yang meninggal, Yunho yang memiliki istri bahkan ahjummanya sekarang mengusirnya. Setelah ini cobaan apa lagi yang akan mendatanginya?
Dia tidak sanggup lagi menjalani ini semua seorang diri. Apa dia lebih baik menyusul Junsu? Jaejoong tersenyum mengingat janjinya pada Junsu beberapa tahun silam.
.
" Hyung... ayo kita bersama selamanya" Ucap Junsu dengan riang
" Ne... Hyung berjanji... Kita akan bersama selamanya. Hyung tidak akan meninggalkanmu sendirian Suie ah..."
.
" Suie... Eomma... hiks..."
Mata Jaejoong memburam. Dia kemudian bangkit dari duduknya dan berjalan ke pinggir jalan. Haruskah? Jaejoong mengusap kasar wajahnya. Tiba - tiba semua kenangan bersama orangtuanya, Junsu bahkan Yunho terpampang dalam otaknya.
Tap
Tap
Tap
" Eomma... Suie..."
TIIIIIIIIIINNNNNNNN
.
.
.
.
~ END ~
.
.
.
Wahh.. Cho update Hurt duluan... Gantung? Ga ada sekuel ya... Ga terlalu angst kan ya?
Hmmm, cerita ini sebenernya milik temen yang udah Cho anggap kakak. Dia yeoja... Ne... Cerita aslinya YURI tapi karena Cho sukanya Yaoi yah... Cho sesuaikan dengan genre kesukaan Cho.
Dia bener lho, ngalamin semua itu. nama mereka Die dan Jun. kalo Die pacarnya dari luar daerah dateng dan mereka 'ngelakuin'. Pas pacarnya pulang ke tempat asalnya sebulan kemudian Die dinyatain hamil, tau apa kata pacarnya 'Gugurin aja, gw blm mau nikah'. Pengen rasanya Cho hajar tuh cowo kalo deket.
Akhirnya... Dia gugurin T,T
Sedangkan Jun, dia memang sepupunya tapi anaknya nyantai dan tomboy beda sama Die dia bisa feme atau pun butchy ^^. Cho pernah juga kerumahnya yang gede itu, nginep pula dan ga sengaja liat ahjusshi na yang baru pulang kerja pake mobil mahal beud... tampangnya mesum bgt ==" suka ngumbar senyum gitu... Udah gitu kalo nginep sama mereka mesti ati - ati, kalo ga Cho di grepe ==". Die juga pernah nginep di rumah Cho ^^ tapi Cho ga grepe - grepe lho... Cho masih suka bang Mimin, Mas Kris sama bebeb Sungmin kok. kkkkkk... ^^
Jun sendiri konsisten kok pacarannya sama yeoja. Dia sering nginep dirumah yeojachingunya, tapi bedanya Jun itu mlz sekolah ==" kerjaan na maen game online kyk Cho. kkkkk...
Ya sudah, Cho udah lama bgt ga ketemu mereka. Cho berharap bisa bertemu mereka dalam waktu dekat ini ^^
.
Special Thanks :
nickeYJcassie, Rly. C. JaeKyu, nanajunsu, joongmax, nabratz, RedBalloons5 (bnr kan tulisannya skrng? Kkkk...), narayejea, akiramia44, noona, Reanelisabeth, CuteCat88, nidayjshero (ga trlalu angst kan?^^), Clein cassie, D (jiaahhh #plaakkk), para sider, follower, favoriter
.
Okay... Cho tepar karena update 3 ff Cho pagi ini. Saat na Cho bubu cuantiikkk sekarang. Kkkk...
Hmmm... masih mau cerita hurt berikutnya?
