Big Thanks For : All Readers, Lotus393,Shaquillazeeva,Anggie, Fake.bananas, Staecia, Turtlepoint. You're Rock guys. Thanks for the review.

"Kau siap?",tanya Hermione pada Draco. Tongkatnya mengarah ke arah meja itu. Bersiap menyingkirkan dan membuka pintunya.

"Absolutely",jawab Draco tanpa ragu.

4. They Are Many

Disclaimer : Harry Potter Characters by (Mommy) JK. Rowling

This story is Mine (and Granpa Google, ofcourse)

Sebelum menulis ini, Author benar-benar seperti berburu kisah hantu. Ketika nonton videonya sampe berjingkat-jingkat ngeri. Apalagi mengingat nulisnya jam setengah 12 malam. Hehe... segitu aja curhatnya. Saya kisahkan dalam cerita aja ya. Yang penasaran silahkan google ya. Banyak banget ceritanya. Banyak versi jadi sedikit mempengaruhi cerita. Tapi inti dari kisah ini sendiri saya ambil versi biografinya. Dan sebagian besar ide cerita ini berdasarkan kisah nyata beberapa orang yang (ngakunya)berteman dengan hantu-hantu tersebut. Bagi teman-teman yang meminta link, ya kalian teman2 Author tentu saja, mohon maaf Author tidak menyimpan link tersebut. Coba disearch aja pasti muncul kok. Banyak banget. Enjoy readers. Sorry kalo tidak terlalu horror. Semoga tetap bisa menikmati.

Hermione bersiap mengucapkan mantranya. Tetapi tiba-tiba dia berjengit. Pandangannya beralih pada lelaki disampingnya.

"Draco, kau begitu ketakutan ya?", cemoohnya sambil memelototkan mata sebal.

"Apa?", tanya Draco sambil berkenyit heran.

"Singkirkan tanganmu dari bahuku. Terasa dingin dan tidak menyenangkan. Kau benar-benar ketakutan ya?", Draco hanya menatap Hermione dengan pandangan horror.

"Hermione, tanganku memegang tongkat", lanjutnya kemudian masih dengan suara berbisik. "Tangan kananku masih dalam genggamanmu".

Mereka berdua mendadak merinding. Tak berani menoleh ke arah belakang. Bahkan udara di ruangan itu kini berubah. Tak lagi hangat seperti tadi. Hembusan dingin terasa di tengkuk keduanya. Suasananya lebih muram dan tampak semakin hening.

"Hello, my Dear", sesuatu menyapa mereka dari balik kepala. Berhembus bersama udara dingin melewati celah diantara kepala mereka. White Lady kah?

Sesosok makhluk cantik melayang-layang dihadapan mereka. Tubuhnya tembus pandang. Tersenyum tepat ke arah Draco. Mereka berdua mendelik ngeri. Masih belum sempat mengendalikan diri, tiba-tiba hantu itu memekik.

"Oh, Astaga",pekik hantu wanita itu ngeri. "Margaret, dear?",tanyanya tak yakin sambil memperhatikan Hermione.

"A-apa?", tanya Hermione tanpa sadar. "Aku bu-bukan...".

"Oh, yeah. Tentu saja kau bukan Margaret", cibir hantu itu sambil terkikik menyadari kekeliruannya. "Aku Marry. Lady Marry. Siapa namamu, Dear? Dan kau sangat mirip Margaret. Dan temanmu yang tampan, aku yakin Paula akan senang berkenalan dengannya".

Draco dan Hermione saling bertatapan. Marry? Paula? Siapa sebenarnya mereka?

"Hallo, Miss Marry", sapa Draco dengan Gentle. Tubuhnya menegak kemudian membungkuk sebentar. "Aku Draco Malfoy dan dia Hermione Granger. "Kami berdua berharap bertemu dengan Lady Margaret".

"Oh, Dear", pekik Marry bahagia. Ia kagum melihat Draco memperlakukannya dengan hormat. "Kau sangat mempesona. Andai saja aku masih hidup". Pujinya sambil mengeluarkan kikikan yang lagi-lagi membuat Hermione bergidik.

"Kusarankan kalian tunda dulu keinginan kalian. Margaret sedang merajuk. Tunggu hingga yang lain menenangkannya. Bagaimana kalau berkeliling? Kulihat kalian suka berkeliling. Kami semua memperhatikan kalian ketika siang tadi kalian datang berkunjung. Oh, Dear, kami sudah lama tidak kedatangan tamu semenarik kalian. Dan kalau kalian tidak keberatan, aku akan mengenalkan mereka satu persatu. Mereka pasti akan sangat menyukainya. Sudah lama kami tidak mendapat kunjungan. Penyihir, eh?", Draco dan Hermione mengangguk.

"Kami sempat bertemu anak laki-laki", cicit Hermione merasa janggal berbicara dengan hantu. Lady itu melayang mendekati Hermione lagi kemudian terkikik-kikik. Membuat Hermione dan Draco semakin menegang.

"Oh, Tom yang malang", kikiknya lagi. "Dia butuh teman bermain baru, kalian tau. Kami semua bosan meladeninya. Selalu begitu sejak kurang lebih 2 atau 3 abad yang lalu. Entalah, kami tidak menghitung waktu. Kami melewatinya begitu saja setiap hari".

Dia terdiam beberapa saat sebelum kemudian memutari mereka sekali lagi. "Manor ini menyimpan cerita kelam kejadian selama beratus-ratus tahun yang lalu. Juga tentang Tom yang malang. Sebaiknya kalian memperlakukan anak kalian lebih baik ketika nanti sudah menjadi orang tua", Marry menatap Draco dan Harry dengan mata berkilat penuh minat.

"Apa yang terjadi padanya?", mata Lady Marry berbinar melihat ketertarikan Hermione. Menarik. Gadis ini mudah sekali penasaran.

"Aku bisa mengenalkan mereka pada kalian. Ada banyak cerita menarik tentang mereka yang mau mereka bagi", bujuk Lady Marry sambil melayang mendahului mereka menuju ke bawah. Tempat mereka bertemu Tom tadi.

"Ayo", ajaknya ketika melihat Draco dan Hermione menatapnya ragu-ragu dan masih berdiri di tempat. Keduanya kemudian mengikuti hantu itu menuju ke arah bawah. Lady White sedang merajuk? Haha. Pikir Hermione ironis.

"Mereka itu...", kata-kata Draco menggantung di udara. Lady Marry berbalik sambil menyeringai. Seringaian yang lebih menyeramkan daripada seringaiannya, tentu saja.

"Ya, Dear. Mereka-penghuni Manor Salford Tudor dan Ordsall Hall. We are Many", sahut Lady Marry dengan suara yang menggetarkan udara, memantul-meski tidak terlalu keras.

Mereka melewati tangga. Di ujung tangga terlihat sosok hantu lain sedang berdiri sambil menatap mereka penuh selidik. Hermione makin mengeratkan genggamannya pada tongkat sihir. Paras hantu itu tidak bisa dibilang cantik, seperti Lady Marry. Terlihat jelas matanya sedikit melotot dan berwarna kemerahan meski tubuh mereka sebenarnya hanya berupa bayangan abu-abu tembus pandang.

Draco masih mengekor dibelakangnya. gengangam mereka tidak mengendur. Sama-sama bersikap waspada meskipun Lady Marry terkesan ramah.

"Hallo, Nona", sapa seorang anak yang tiba-tiba muncul disamping Hermione. Keduanya terkejut hampir terjungkal. Lady Marry melayang mendekati mereka sambil terkikik-kikik dengan seru kemudian melayang menjauh menghampiri hantu wanita bermata merah.

Tom, hantu laki-laki yang tadi mengerjai mereka kini berbaur dengan ketiga hantu diujung undakan. Mereka terkikik sambil menunjuk Hermione dan Draco yang masih menekuk muka, sebal.

"Aku rasa cukup", geram Hermione diiringi anggukan Draco. "Kurasa mereka mengelabui kita. Dan mencoba menakut-nakuti kita. Lebih baik kita kembali ke kamar tadi. Penasaranku sudah lenyap. Masa bodoh mereka mati dengan cara apa. Tak ada untungnya aku mengetahui itu semua".

"Oh Dear, dia tak akan senang menerima tamu malam ini", seru Lady Marry masih dengan kikikan mencemooh khasnya. "Dia tidak pernah senang menerima tamu".

"Kau akan menyesalinya karena membuka kamar itu dengan paksa", sahut hantu bermata merah yang kini melayang mendekati mereka. Auranya lebih dingin dan terasa menyesakkan.

Hermione dan Draco mencoba mengacuhkan hantu-hantu usil itu dan melanjutkan langkah mereka dengan cepat. Angin besar bertiup tepat dihadapan mereka. membuat Hermione buta karena wajahnya tertutup rambut. Draco mencoba menarik lengan Hermione namun gagal. Gadis itu terhempas begitu saja diujung koridor.

BRUAK. Punggungnya menghantam tembok. Tulang ekornya mengenai vas bunga yang berada tepat di ujung koridor atas.

Rasa linu dan panas menjalari punggungnya. Hermione mencoba bangkit ketika tulang ekornya terasa retak. Dia meringis. Mencoba tidak menjerit seperti balita. Tangannya mendorong lantai, berusaha mengangkat tubuhnya untuk berdiri. Tapi sepayah apapun ia tetap tidak mampu menggerakkan tubuhnya. Tangannya terlalu lemas dan bergetar hebat akibat syok, takut, dan ngeri yang ia terima bersamaan.

Sesuatu membuatnya sadar. Draco, dimana lelaki itu sekarang? Mengapa ia tidak membantu Hermione?

Draco mencoba meraih lengan gadis itu. Tetapi semburan udara itu berhembus lagi. Kali ini lebih kuat dari sebelumnya membuat Hall bergetar. Ia menatap ngeri Hermione yang terlempar begitu kuat. Kakinya otomatis bergerak hendak menyelamatkan gadis itu. Tapi ujung jaketnya tertahan dibelakang. Ketika menoleh, Tom-hantu anak laki-laki, memegangi ujung jaketnya dengan pandangan dingin. Wajah anak tidak lagi pucat melainkan terlihat memar dengan bekas darah mengering.

Draco mencoba menyentakan jaketnya, memanterai hantu itu namun gagal. Bibirnya bergetar lebih hebat daripada yang ia sanggup bayangkan.

Sesosok hantu wanita, terlihat lebih muda daripada Lady Marry datang mendekat. Matanya yang hanya berupa lubang kosong itu menatap lekat ke arah Draco. Lelaki itu mencoba menendang Tom, tapi sia-sia. Yang ia tendang hanya angin. Sementara hantu wanita itu semakin mendekat memberikan semacam aura mencekam yang membuat buku-buku jarinya terasa kaku.

"Wanita itu terkutuk", bisik hantu itu dengan suara rendah. "Ia tidak diterima dimanapun. DIMANAPUUUUUN".

Teriakannya membuat ia, bahkan Hermione, menutup telinga. Mereka lenyap bersamaan angin besar yang kembali datang. Namun kali ini angin itu lebih besar dan menyapu para hantu.

Hermione dan Draco ikut terkena hembusan angin besar itu. Membuat mereka terhempas, namun tidak merasa membentur apapun. Lebih terasa seperti melayang-layang diudara.

Dari ujung matanya Hermione bisa melihat cahaya keperakan berpendar dari arah koridor ujung belokan tempat kamar terlarang. Segera ia menutup mata dengan kedua tangannya. Pasrah karena tongkatnya lenyap entah kemana. Sayup-sayup Hermione mendengar suara langkah kaki seseorang mulai bergerak mendekat. Semakin lama semakin keras dan terasa dekat. Hermione sendiri sedari tadi berusaha menutup mata sekeras yang ia bisa dengan menekankan kedua telapak tangannya lebih kuat kerah mata. Takut melihat apa yang menantinya ketika ia membuka mata. Jantungnya berdegup lebih keras. Rasa sakitnya sirna, tidak benar-benar hilang tapi tergantikan oleh sesuatu yang lebih kuat. Ketakutan.

TBC

Please Review ya. Btw postnya emang sengaja tengah malam biar kerasa serem. Kecup sayang Author. Muuuahhh...