Gadis itu tertunduk tepat di atas meja tulisnya. Menenggelamkan paras yang merah total seperti udang rebus, menahan malu yang memang sebenarnya tak tertahan. Sampai-sampai mau bersikap biasa, ia tak mampu. Bersikap keren, ia juga tak bisa. Sebab, kejadian itu baru saja dilaluinya. Sebab, dalam satu detik saja terlewat, kejadian yang sudah terlanjur terjadi―nantinya tetap―hanya akan jadi sejarah hidupnya. Ia juga menyadari bahwa dirinya bukan ilmuwan, tentu saja waktu akan berlalu dan tak dapat kembali seperti membalikkan telapak tangan. Namun, kala sebuah suara langkah kaki yang begitu terdengar familiar, masuk―melewati daun pintu, ia hanya membuka mata dan mengintip dibalik tumpukan tangannya di meja.

Ia terus menatap kearah orang itu lewat mata ketiga dan keempatnya. Dan dalam sejenak, ia bisa langsung terperangah―heran dengan ekspresi yang orang itu tunjukkan padanya. Oh bukan, tepatnya orang itu sama sekali tidak menolehkan mimik wajahnya. Tapi, tetap saja ia juga bisa sangat mengenal apa yang ia tunjukkan lewat pancaran mata dan bibir tipisnya. Orang itu marah ataukah sedih?!. Apakah orang itu marah dengan apa yang telah dikatakannya tadi? Ataukah benar-benar sedih?. Jelas ini bukan sesuatu yang mudah untuk di tebak. Hipotesisnya hanyalah; ada sesuatu yang tengah dipikirkan orang itu.

Lantas, paras merah Karin pun berubah menjadi biasa. Pancaran matanya membening dan ia menggigit bibir bawahnya dengan kuat. Sebenarnya ia ingin menangis saat melihat ekspresi Sasuke. Namun, jam pelajaran berikutnya akan segera dimulai. Ia harus bisa menahannya. Mungkin jika ia sudah sampai di rumah, ia bisa meluapkan semua perasaannya yang terbalas semu itu.


Drama

By : VQ

Disclaimer : Kishimoto Masashi


Jari-jari Sasuke mencoba untuk menyentuh setiap buku yang berjejer di depannya dan mengamati dengan hati-hati. Hari akhir pekan ini ia berencana untuk mengulang kebiasaannya membeli buku. Jangan salah, seorang Sasuke juga perlu sedikit hiburan. Beberapa manga, novel misteri, atau antologi puisi selalu menjadi sasarannya untuk me-refresh otaknya yang enam hari ke belakang selalu berhasil direnggut dengan buku materi dan soal latihan. Sangat sederhana, Sasuke memang remaja yang baik―lebih memilih buku daripada kegiatan lain untuk menyegarkan akhir pekan―berbeda dengan yang lainnya.

Matanya yang hitam itu sempat melirik beberapa rak lain disekitarnya. Seperti rak nomor 26 dan 27. Namun, ia selalu memastikan bahwa rak di depannya itulah yang isinya memang harus dicari Sasuke. Dugaannya sepertinya benar, ia menemukan buku-buku itu. 2 buah serial manga keluaran terbaru dan sebuah novel thriller mungkin cukup untuk mengakhiri pencariannya di Toko Buku itu. Lantas, ia pun segera menderap ke arah Nyonya Kasir.

Wanita paruh baya yang kebanyakan lemak itu sangat telaten dan pandai. Matanya hanya tertuju pada satu titik namun anggota tubuh yang lainnya bergerak secara multi-tasking. Tak banyak, memang. Seperti mengaktifkan mesin scan, mengantongi, dan menyobek struk belanjaan. Mungkin dengan memeriksa harga juga.

"Semuanya 1500 yen", ujar sang Nyonya Kasir pada Sasuke tanpa menghilangkan pandangan dari sebuah buku tebal di meja kasir.

Saat mendengarnya, spontan Sasuke meraba-raba permukaan celananya yang ditempeli saku. Matanya hampir membelalak karena ia tak bisa merasakan sentuhan apapun yang dikehendakinya. Sekali lagi ia mencoba memasukkan tangannya ke saku, mencari pundi-pundi yen. Sayang sekali, benda itu tak ada. Benar, ia harus menbelakakan matanya dengan total sekarang.

"Summan, ada masalah?", tanya Nyonya Kasir itu dengan ragu. Namun keraguan itu hilang tampaknya dengan senyum ramahnya.

Pemuda itu tak segera menjawab. Ia hanya menampilkan deretan giginya dengan gugup sementara keringat dingin mulai mengucur deras dari dahinya. Sial! Sasuke dalam keadaan gawat!. Mata Nyonya Kasir yang berwarna lavender itu, bahkan ia tak bisa melihatnya. Tanpa pikir panjang, ia mendorong perlahan tumpukan buku yang hendak di belinya itu sambil sedikit membungkuk,

"Sumimasen, sepertinya saya tidak membawa uang."

Namun, saat Sasuke bangkit, Nyonya Kasir menutup bukunya dengan paksa. Senyuman ramahnya seketika berubah menjadi tatapan horror. Wanita itu mem-barito dengan volume keras hingga terpantul di setiap dinding dan rak buku,

"Apa?!"

"Sumimaseeen!"

Sasuke berusaha menderapkan kakinyk dengan kecepatan cahaya dan keluar dari pintu masuk perpustakaan. Sementara wanita itu masih mengeram seperti seekor singa betina yang sama sekali tidak menginginkan setumpuk bukunya―yang sudah masuk daftar struk belanjaan―ternyata tidak jadi dibeli. Menyusahkan saja.

Pemuda itu berlalu dan semakin menjauh. Mata-mata para pembeli masih melongo dan tampak masih tak percaya dengan peristiwa yang baru saja terjadi. Namun diantara mata-mata mereka itu, ada satu mata hijau menyala diantara rak 8 dan 9, mengintip diantara berdirinya buku-buku, dan mencibir,

"Ya ampun !."

xXxXx

"Kenapa orang setampan aku harus ketinggalan uang... "

Sasuke merutuk kearah langit biru sambil menyeka keringat didahinya yang terus mengucur karena habis berlari. Beberapa menit yang lalu, ia sudah menyandarkan punggungnya dengan santai di sebuah kursi taman yang panjang dekat jejeran pohon sakura yang lebat bunganya. Tapi tetap saja, matahari yang terus beranjak naik perlahan dan jarum jam yang terus bergerak tanpa arah kembali membuat lelahnya masih tersisa. Apalagi saat mata hitamnya jadi letih kala menatap muda-mudi sebayanya memasuki Mangekyou Cafe yang berdiri beberapa meter dihadapannya dengan romantis, walaupun tak terlintas di matanya beberapa umbaran afeksi. Ah, dengan hati yang masih labil dan plinplan, Sasuke mana mau berlaku demikian. Toh, kesepian dan keletihan matanya juga akibat dari kesalahannya. Kalau saja ia tidak lupa membawa uang, mungkin kali ini ia bisa membaca manga atau novel. Ah―sekali lagi ia berusaha untuk menenangkan diri menikmati pemandangan indah disekitarnya. Namun dalam beberapa saat saja, tiba-tiba perutnya berbunyi, rupanya cacing-cacing yang bersemayam dalam pencernaannya mulai minta jatah. Dalam waktu seperti ini pula. Ya, ampun ! Bahkan ia juga sampai lupa―ia belum sempat sarapan.

Sasuke memegang perut atletisnya yang tertutup kaos hitam berlengan pendek. Kemudian ia memejamkan matanya, merasa bosan dan merutuk ke arah langit lagi dan lagi,

"Ah, andaikan aku tak lupa bawa uang!―"

Srak!

Sasuke terlonjak dari keluhannya. Dengan segera, ia menatap ke arah samping tubuhnya―ke arah timbulnya suara. Tempat disampingnya memang sempat kosong tadi. Tapi kali ini sudah terisi; sekantong roti, segelas coklat panas, dan sebuah kantong berisi buku tergeletak begitu saja di sana.

"Jangan mengeluh, Sasuke baka !"

Sakura tengah berdiri dengan kerennya tak jauh dari tempat Sasuke berada. Mata hijaunya berkilat, sinis. Mereka bertatapan dalam beberapa detik, sebelum Sasuke memanggil Sakura dengan tidak percaya,

"Sakura?"

"Kau lapar, bukan? Masukkan roti dan coklat panas itu ke dalam perutmu. Cepat !", Sakura meninggikan volume suaranya―membentak Sasuke.

Dan Pemuda itupun tidak bisa menolaknya, ia sudah lapar setengah mati.

Sasuke menyeruput sisa coklat panas terakhirnya dan membuang kemasannya ke tempat sampah dipinggir kursi. Kini ia sudah tidak merasa lapar ataupun merasa kesepian. Sebab, Sakura sudah berada disampingnya. Entah kenapa gadis itu selalu mengerti setiap keadaan Sasuke sekarang ini. Memberi makanan, menemaninya, dan tidak mengajaknya bicara selama makan. Ya, memang itu bagian paling membosankan dari Sakura. Tapi tidak―

"Rupanya hari ini kau sedang sial, ya?", celetuk Sakura.

"Kenapa?"

"Lihat saja dirimu. Kelaparan, tak bawa uang sepeserpun ..., "

Wajah Sasuke memerah. Secepat kilat ia berusaha menjadi sok keren, "Ah, dari mana kau sampai tahu? Kau peramal ya? Atau―"

Sasuke menggantungkan kata-kata, mendekatkan wajahnya menatap intens Sakura, "Kau mengikutiku? Dasar penguntit !,"

Sakura tak segera menjawab. Ia mendorong wajah Sasuke tanpa menatapnya, untuk menjauh.

"Jujur saja ... "

"Ya ampun!. Kenapa aku harus punya rasa kasihan padamu, Sasuke? Sampai aku jadi tak bisa berbohong seperti ini,"

Sasuke menanggapinya dengan tawa kecil yang tampak manis di parasnya, Sebelum Sakura memotong tawanya,

"Ngomong-ngomong, aku baru saja membeli buku terlalu banyak dan aku tidak terlalu membutuhkannya,", Sakura mengangkat kantong berisi buku yang tergeletak diantara Sasuke dan dirinya, "Apa kau mau?"

Mereka berdua bertatapan, Sasuke meraihnya,

"Coba aku lihat,"

Pemuda itu mulai membuka kantong berisi buku tadi. Alangkah terkejutnya ia, saat mendapati buku-buku tersebut adalah buku yang ia pesan pagi tadi. Entah beruntung atau apa yang harus Sasuke akui. Namun ini semua benar-benar kejutan yang luar biasa.

Dengan membuat efek sedikit berdehem, Sasuke melanjutkan pembicaraannya, "Kenapa kau harus membelinya jika kau sama sekali tak membutuhkannya, hm?"

"Itu karena sedikit paksaan ... ", jawab Sakura kalem.

"Ha? Maksudmu?!"

Gadis merah muda itu menghela nafas pelan, mimiknya berubah jadi sedih,"Seseorang dengan tega meninggalkan benda-benda yang sudah discan itu tanpa uang."

Sasuke terlonjak seketika, teringat akan dirinya sendiri. Benar, itu buku-buku yang ingin dibelinya tadi pagi. Dugaannya tidak salah.

Mereka terdiam agak lama. Angin yang berhembus pun mereka biarkan berlalu. Si gadis nampak menikmatinya namun Sasuke rupanya tak begitu. Matanya mengarah kedepan, air mukanya masih memerah dan otaknya masih berfikir. Sakura baik sekali hari ini. Apa ia mulai menaruh harapan padanya atau sekedar berbuat baik?. Ah, pemuda itu hanya berharap jangan sampai Sakura terlalu baik padanya. Sebab, ia tidak pernah tahu apa maksud dari semua yang diberikan gadis itu. Ia kebingungan, terdiam, dan canggung. Lalu, ekspresi apa lagi yang harus Sasuke perlihatkan?. Sebenarnya Sasuke ingin melanjutkan pembicaraan dengan kata-katanya sudah menumpuk diotaknya. Tapi, pemuda itu masih tak bisa melihat wajah Sakura dari dekat. Tapi, mungkin ia akan mencobanya barang sejenak.

Sakura menyadari tatapan Sasuke, ia menoleh, "Kenapa? Ada yang salah?"

Ya, ampun !. Sakura bukanlah tipe gadis yang peka, ternyata, "I-Iyaa bukan apa-apa. Hanya saja aku pikir, kenapa orang itu begitu tega ya?", dusta Sasuke.

"Kau tak bisa jujur, ya?"

Sasuke beku―Gadis itu benar-benar terlalu baik padanya. Sasuke mencoba untuk berbohong, tapi Sakura menyadarkannya. Menyakitkan bukan? Mereka bahkan saling melukai satu sama lain. Dengan kebohongan Sasuke yang menumpuk dan telah diketahui Sakura, pemuda itu tidak bisa bergerak lagi. Bahkan ia juga berharap gadis itu tidak menatap dengan mata hijau miliknya. Ekspresi apa yang harus Sasuke perlihatkan? Sasuke benar-benar tak berdaya. Namun mungkin suatu saat, ia akan tersenyum lebih sinis,

"Bahkan ..., aku tak bisa berbohong didepan seorang Sakura"

Mata mereka saling bertaut dalam jeda yang lumayan cukup panjang. Kemudian Sakura tersenyum manis dan membuat pemuda itu terpesona setengah mati, sebelum akhirnya gadis itu memalingkan tatapannya,

"Daijoubou ..., aku suka pria yang jujur"

DEGG!―jujur?. Rupanya kata itu terulang kembali, terlintas di indera pendengarannya. Pemuda itu jadi teringat akan kata-kata karin dulu. Kata-kata yang menyuruh dirinya untuk jujur itu begitu sulit untuk dimengerti dan sulit untuk dijalani. Didepan Karin, ia bisa berbohong. Tapi disamping Sakura, rasanya berbohong juga tak bisa. Gadis dihadapannya ini selalu tahu.

Tiba-tiba angin berbisik lagi, ada satu kelopak bunga jatuh diatas kepala Sakura, Sasuke ingin menyekanya. Lantas, ia mengulurkan tangan,

"Sakura?,"

Sakura berdehem, mereka bertatapan,

"Jika aku boleh jujur padamu ...,"

"―Aku sangat menyukaimu"

Mata hijau itu tampak membulat total dan kelopak bunga itu berhasil terjatuh―berdebum ke tanah, berdampingan dengan sebuah bunyi langkah kaki yang terhenti,

"Ap-Apa yang kalian lakukan?,"

Muda-mudi itu menoleh kearah sumber suara, tampaklah seorang gadis merah berkacamata dan berbalut dress violet selutut berdiri diantara mereka dengan air muka amat terkejut.

"Karin?!", Sontak, Sasuke pun memanggil namanya.


To Be Continued ...


Terimakasih untuk review chapter lalu, Minna-sama. Bagi yang bingung sama cerita/pair dalam cerita ini, VQ akan menjelaskan sedikit alurnya.

Ini menceritakan tentang Sasuke yang bingung memilih perempuan. Karin sangat mencintainya dan tampak tulus. Tapi Sasuke tidak bisa membalasnya, karena perasaannya hanya untuk Sakura. Dan Sakura juga terlihat masih semu; apakah dia punya perasaan yang sama terhadap Sasuke/tidak. Untuk lanjutan dan jawabannya mungkin ada di chapter-chapter berikutnya.

Perlu di baca, VQ TIDAK MENGAMBIL KEUNTUNGAN APAPUN DARI FANFICT INI. VQ hanya MENUANGKAN IMAJINASI yang terlintas dikepala untuk tokoh Sasuke, Sakura, dan Karin. Masalah laku/tidaknya fanfict ini tergantung pada reader. Jika mereka suka, mungkin mereka akan baca. Jika mereka tidak suka, yaa jangan baca aja.

Keep peace broh. VQ suka kedamaian.