Judul : Nyanyian Rumah Sunyi

Chapter : 4

Author : KyuuGa C'orangan SaWaH

Pairing : Naruhina, SasuSasku.

Semua chara dalam Naruto adalah milik om Masashi ^_^, aku hanya pinjem!

Dari balik dinding kaca Naruto menatap tak percaya pada sepasang pemuda pemudi yang tengah bercanda bersama, tak ada ekspresi sedih atau pun kecewa dari wajah berkulit tann itu. Yang ada hanya kekagetan dan tak percaya terlihat jelas di wajahnya, dia terdiam, terpaku tanpa berbuat apa-apa.

Akh, kenapa? Ada perasaan yang sakit yang menusuk hatinya saat dia mendengar suara Sakura bermanja pada Sasuke? Apa ini hanya sebuah kebetulan? Atau hanya ketakutannya? Dia tak ingin hatinya makin sakit lagi, segera dia membuang wajahnya dari Sakura dan Sasuke yang mulai bergandengan tangan di dalam toko.

Naruto masih berdiri menyembunyikan dirinya dari pandangan Sakura dan Sasuke, entah apa yang dia lakukan disana. Entah apa yang dia pikirkan, entah apa yang dia tunggu di sana. Samar-samar dia mendengar suara Sakura mejauh dari toko, terasa berat dia mengangkat wajahnya untuk melihat mereka, melihat gadis pujaan hatinya menjauh bersama sahabatnya.

Perlahan langkah kaki Naruto melangkah membuntuti –mungkin- sepasang kekasih yang berada didepannya. Sementara gadis trasnparan yang selalu menemaninya tertunduk lesu, dia seperti bisa merasakan perasaan Naruto saat ini, dia hanya menunduk dan mengikuti kemana naruto pergi.

Hujan, tak peduli seberapa deras dan seberapa dinginnya air hujan yang jatuh membasahi tubuh ringkihnya. Rasa dingin yang dia rasakan tak mampu mengalihkan rasa sakit di hatinya, rintikan air hujan pun tak mampu menghapus kesedihannya. Sakit, sedih. Dua rasa yang sangat menyiksa.

Dia tak peduli jika kilat bisa saja menyambarnya, mungkin itu yang dia harapkan agar dia bisa menghilag di permukaan bumi ini. Dia tidak peduli pada berpasang-pasang mata menatap heran padanya, dia terus berjalan di tengah-tengah guyuran hujan mencoba menghapus ingatan yang tak pernah dia bayangkan akan melihatnya, kenyataan yang sangat berat baginya. Dia terus berjalan sampai dia benar-benar letih, akhirnya dia memilih berhenti di taman bermain.

Hujan masih mengguyur bumi, membuat genangan di beberapa tempat dalam taman. Naruto berlari melewati genangan air di dalam taman menyisahkan bayangan gadis bersurai panjang dalam genangan air. Gadis itu terlihat sedih, wajah transparanya terlihat basah.

Akhirnya Naruto menjatuhkan dirinya di bawah ayunan, dia tak menangis atau menggeram kesal. Dia hanya terdiam dengan segala yang dia pikirkan, cukup lama dia terdiam membuat gadis transparan di depannya yang tengah duduk manatap sayu padanya berubah cemas melihat Naruto yang terdiam tanpa ekspresi. Gadis itu takut jika Naruto berniat melakukan ha-hal nekat seperti bunuh diri atau sejenisnya yang bisa saja membahayakan nyawanya.

"Heh, Sakura tak mungkin mengkhianati aku. Dia tak mungkin menduakan ku, aku tahu. Itu, mereka berdua mungkin kebetulan bertemu dan Sasuke tak sengaja meminta Sakura mecarikan Sasuke jeket."

Naruto no baka! Mata dan hatimu memag telah buta oleh kemilau warna pink gadis itu hingga kau tak bisa berpikir normal.

Suasana hening seketika terasa begitu dia memasuki kompleks perumahan Konoha, tak lagi dia dengar suara bising kendaraan yang berlalu-lalang. Wajahnya pun kini terlihat lebih ceria dari sebelumnya, setelah meyakinkan hatinya akan cintanya pada sakura, naruto menepis semua pikiran negatifnya tentang Sakura.

Kondisi baju yang basah dan wajah kusut+pucat Naruto melangkah memasuki perumahan Konoha, seperti biasa perumahan KOnoha terlihat sepi tanpa ada banyak aktifitas dari masing-masing penghuni rumah di kompleks yang rata-rata orang kaya ini.

Meski keadaannya terlihat payah Naruto masih saja bersenandug riang mengusir rasa dingin yang menyelimutinya, dia menyanyikan lagu riang mengikuti alunan dari headsetnya. Entah lagu apa yang dia nyanyikan yang pastinya lagu itu adalah lagu riang.

Naruto menahan langkah kakinya, dia berdiri cukup lama tanpa melakukan apa-apa. perlahan-lahan dia memutar kepalanya ke salah satu rumah, rumah yang selama beberapa hari ini selalu mengganggu pikirannya. Rumah itu terlihat sepi, bahkan terlalu sepi jika ada yang tinggal disana.

Angin perlahan bertiup menerpa tubuhnya yang kedinginan membuatnya semakin kedinginan.

Bbrrrrr! Dingin!

Terbang bersama angin. Nayanyian sendu itu kembali terdengar, mengantar sebaris syair rindu yang terpendam. Nyanyian yang akhir-akhir ini sering mengganggu pikirannya, nyanyian yang misterius.

Bulu kuduk naruto yang merinding kini ditambah dengan perasaan lain seolah ada seseorang yang memperhatikannya, tatapannya tertahan pada jendela kamar lantai dua yang terbuka. Suara nyanyian itu sepertinya berasal dari kamar itu.

"Naruto."

Naruto terperanjat kaget saat dia mendengar ada yang memanggil namanya.

"Siapa itu?" tanya Naruto mencoba mencari tahu siapa yang menanggilnya, namun itu sia-sia karena dia tak menemukan siapapun di jalanan yang sepi itu.

Lagi, nyanyian itu terdengar.

Dia kembali menatap jendela lantai dua itu.

"Kenapa nyanyian itu terdengar sedih? Siapa yang menyanyikannya?" tanya Naruto pada dirinya sendiri.

"Apa benar, hanya aku yang bisa mendengar suara nyanyian itu? Kenapa Sasuke dan Neji tidak bisa mendengarnya?" lagi dia bertanya pada dirinya sendiri.

Tak ada yang bisa menjawab pertanyaan Naruto dan dia sendiri pun tak tahu jawabannya, jadi dia hanya terdiam sambil menikmati nyanyian sendu itu.

Lama, cukup lama Naruto berdiri di sana sambil mendengarkan nyanyian misterius itu, hingga suara klakson mobil berbunyi menyadarkan Naruto dari lamunannya.

"WOI! BAKA! Apa kau ingin mati?!"

Naruto terperanjat setengah mati begitu mendengar suara klakson di ikuti suara teriakan seseorang.

"Ne-Neji senpai?!" kata Naruto ketakutan saat dia mengenali siapa yang meneriakinya.

"Kau?!" Neji menatap kesal pada Naruto, "Apa ini hobbymu?!" tanya Neji dengan nada menghina.

Naruto mengerutkan kening tanda tak mengerti maksud pertanyaan Neji. "Hobby? Hobby apa?" tanya Naruto kebingungan.

"Cih! Dasar, otak siput! Sebaiknya kau pergi dari sini atau aku panggil polsis!" lanjut Neji masih dengan penuh tekanan.

"Polisi? Mengapa panggil polisi? Untuk apa?" duh, apa Naruto tak mengerti maksud ucapan Neji?!

"Baiklah, kalau begitu," lanjut Neji seraya memencet ponselnya.

"WOI! Apa kau bermaksud memanggil polisi untuk menangkap ku? Apa salahku? Memangnya apa yang aku lakukan?" tanya Naruto kalang kabut kebingungan melihat Neji memencet ponselnya, dia tak habis mengerti kenapa harus memanggil polisi hanya untuk mengusirnya.

"Tu, tunggu! Aku, aku akan segera pergi!" kata Naruto seraya berlari meninggalkan Neji yang tengah tersenyum puas karena telah berhasil mengerjai Naruto.

"Apa yang menarik dari dirimu, Naruto?" gumam Neji melihat Naruto makin menjauh.

….

Bruak!

Naruto membanting pintu kamarnya dengan kasar, napasnya memburu karena dia berlarian sepanjang perjalanan menuju rumahnya. Dia menyandarkan pungungnya pada pintu dan perlahan-lahan merosot ke lantai karena saking capeknya.

"Memangnya apa yang aku lakukan? Aku hanya melihat-lihat rumah itu, tapi kenapa dia terlihat sangat tidak menyukainya? Apa ada sesuatu yang salah pada rumah itu?" tanya Naruto yang masih tak habis pikir kenapa Neji begitu membencinya, padahal mereka tak dekat apalagi beurusan dengannya.

Sementara itu, di atas ranjangnya gadis bersurai panjang tertawa lucu melihat aksi merajuk naruto yang di buat-buatnya.

"Lagian, kenapa memutar lagu aneh begitu di kompleks yang sunyi ini!" gerutu Naruto kesal entah pada siapa.

"Salah siapa, membiarkan jendela kamar terbuka sepanjang hari!" lanjutnya masih kesal seraya merangkak ke ranjanganya, dan—.

"Ahhh, nyaman. Sebaiknya tidur aja, ah. Malas aku mandinya!" kata naruto antara sadar dan tidak sadar dia telah merebahkan kepalanya di atas pangkuan gadis yang selama ini selalu bersamanya.

Awalnya gadis itu terperanjat kaget saat Naruto merebahkan kepala di pangkuannya, tapi itu hanya sesaat karena kepala Naruto melewati menembus pangkuannya, hal itu membuat wajah kagetnya seketika berubah senduh. Gadis itu tahu, dia tidak mungkin bisa menyentuh Naruto ataupun Naruto menyentuhnya, tapi dia ingin sekali membelai surai pirang milik Naruto. Dia ingin merasakan lembutnya helaian surai Naruto, walau dia tahu itu percuma.

Tak butuh waktu yang lama untuk Naruto terlelap dalam keadaan basah itu, dia seolah tak merasakan kedinginan atau merasa gerah karena udara didalam kamarnya yang pengap, yang dia rasakan hanyalah kenyamanan dan kehangatan yang membawa tidurnya menjadi lelap.

Gadis bersurai panjang itu tersenyum riang sambil membelai rambut pirang naruto yang masih basah, dia masih tersenyum menatap seulet wajah berwarna tann di pangkuannya.

…..

Pagi yang cerah, secerah suasana hati Naruto pagi ini.

"WOI! Naruto, kenapa kau lama sekali seperti perempuan saja!" teriak Kiba mulai bosan menunggu Naruto.

"IYA! AKU DATANGG!" balas Naruto dengan volume kandas seraya berlari keluar.

"AYO, KABUUUURRRR!" lanjut Naruto begitu dia muncul di depan pintu.

Shikamaru yang sedang menguap lebar seketika menahan hasratnya untuk menguap, denagn kondisi mulut yang masih terbuka lebar Naruto langsung membawanya lari.

"Jangan melamun, kalau tidak kena timpukan buku!" teriak naruto yang membuat Kiba dan Shino yang tak mengerti hanya mematung di tempat melihat dia membawa lari Shikamaru.

Prak!

Kiba memutar kepalanya dengan gaya patah-patah, wajahnya seketika berubah horror saat dia mendengar suara gebrakan dari dalam rumah.

Bhuuk! Bhuuk!

Iris kucing Kiba membulat, kaca mata Shino melorot saat mereka melihat beberapa buku setebal 10 cm melayang dengan indah ke arah mereka.

"NARUUTTTOOOO!" teriak Kiba tak kalah kencang seraya berlari menghindar dari serangan buku setebal 10 cm.

Bhuuk!

"Kiba, tunggu!" panggil Shino namun sayang satu buah buku tepat mengenai kepalanya membuat dia terhuyung-huyung.

…..

"Hah, hah, hah," Naruto berhenti berlari dan langsung merebahkan tubuhnya yang keletihan di trotoar perumahan Konoha.

"Na, naruto, apa kau gila?!" Shikamaru langsung tepar di jalanan.

"Ha, hah, hah, apa kau berencana membunuh kami di pagi hari ini?!" suara Kiba geram diantara deru napasnya yang sesak.

"Jika salah satu seranggaku mati, kau harus bertanggung jawab. Mereka tak punya asuransi jiwa!" Naruto mendelik heran melihat Shino yang memeriksa serangga-serangganya di dalam seragam sekolahnya.

"Dasar aneh!" gerutu naruto pelan.

"Rasa-rasanya aku tidak kuat ke sekolah," kata Kiba seraya duduk di dekat Naruto.

"Ahahahaha!" tawa Naruto meledak, serempak ketiga temannya menatap heran plus geram padanya dengan tatapan—dia benar-benar sudah gila— aneh.

"Apa yang lucu Naruto?" tanya Kiba.

"Aku hanya merasa senang, karena sudah lama kita tidak berlari seperti ini setelah mengganggu si ero senin," ucap Naruto sambil tersenyum senang, sementara ketiga temannya masih menatap heran padanya.

Ero senin, atau petapa yang ero. Sesuai dengan gelar yang diberikan oleh Naruto untuk kakeknya yang lebih banyak menghabiskan waktunya di dalam kamar sambil menghayal dan membuat cerita dewasa.

Tatapan heran mereka dan tawa naruto terhenti begitu sebuah motor berhenti tepat di dekat mereka. Sepasang mata bereyeliner menatap dingin tanpa ekspresi dari helm masker yang di gunakan pengendara motor.

"Yo, Gaara," sapa Naruto.

"Apa yang kalian lakukan di tengah jalan seperti ini?" tanya Gaara melihat ke empat temannya tepar di tengah jalan.

"Semua ini karena perbuatan Naruto," gerutu Kiba yang masih kesal.

"Hahaha— ," Naruto masih tertawa mengenang ekspresi kakeknya yang saat ini pasti sedang mengamuk. "Aku hanya ingin menjahili kakek ku, sudah lama aku tak melakukan itu padanya" lanjutnya, dia kembali menatap satu persatu wajah teman-temannya.

"Sasuke, apa yang saat ini dia lakukan? Apa dia sedang menjemput Sakura?" batin Naruto, saat melihat wajah teman-temannya dia teringat pada Sasuke yang entah benar atau tidak, secara tidak langsung menculik Sakura darinya.

"Sayangnya disini tak ada Sasuke dan Sai," lanjut Naruto terlihat sedih.

"Sepertinya kau sedang punya masalah," Shikamaru menebak tepat di intinya.

Naruto tertawa pelan mendengar kata-kata Shikamaru, memang dia sedang punya masalah. Tapi dia tidak ingin membuat Sakura berada dalam masalah, biarlah dia sendiri yang menanggung rasa sakit ini.

Wuish!

Angin mulai bertiup pelan menerpa wajah para pemuda itu.

"Aku? Punya masalah? Yang benar sa—," Naruto tiba-tiba terdiam, semua teman-temannya saling mengerutkan kening mereka.

"Ada apa, Naruto?" tanya Shikamaru.

"Lagu ini—," kata Naruto seraya celingak celinguk kesana kemari tanpa arah yang pasti.

"Ada apa naruto?" tanya Kiba ikutan penasaran.

"Apa kalian tidak mendengarnya?" tanya Naruto lagi mengabaikan pertanyaa yang sama dilontarkan padanya.

"Lagu apa?" tanya Gaara mulai curiga melihat Naruto berjalan ke salah satu rumah yang tak jauh dari tempat mereka nongkrong.

"Rumah itu—."

Semua pandangan langsung mengarah pada rumah yang ditunjuk Naruto.

"Apa kalian mendengarnya juga?" tanya Naruto pada ke empat kawannya, mengingat sudah dua kali dia mendengar nyanyian itu sedangkan sasuke dan Neji tak mendengarnya, siapa tahu salah satu diantara mereka ada mendengarnya. "Suara nyanyian ini terdengar dari rumah itu."

"He, Naruto. Selain otakmu kini telingamu juga tak normal! Tak ada nyanyian apapun yang ku dengar selain suara serakmu itu!" Kiba sudah mulai jengah dengan tingkah Naruto pagi ini.

"Gaara, Shikamaru, Shino! Kalian mendengarkannya kan?!" tanya Naruto, berharap teman-temannya mendengar suara nyanyian itu juga. Namun dia kembali kecewa, karena ke tiga temannya menggeleng pelan.

"Tak ada nyanyian yang kami dengar, Naruto."

"Kiba dan shikamaru benar, dan telinga kami semua masih normal. Mungkin kau sedang berhalusinasi."

Gaara hanya menatap dingin pada Narut o kemudian dia mengalihakan pandangannya ke rumah yang ditunjuk Naruto.

"Aku tidak sedang berhalusinasi, aku benar-benar—," Naruto terdiam, dia tak tahu harus bagaimana caranya membuat teman-temannya yakin kalau dia memang mendengar suara nyanyian itu. dia menggigit bibirnya sebagai pelampias kekesalannya karena tak ada yang mempercayainya.

"Rumah itu sepertinya sudah ditinggali," kata Gaara.

Naruto dan ketiga temannya seketika langsung menoreh ke rumah yang sebelumnya di tunjuk Naruto.

"Yah, aku sering melihat Neji senpai masuk ke dalam rumah itu," balas Naruto kembali semangat, yah meski dia sebelumnya agak kecewa dengan keempat kawannya.

"Neji senpai? Apa yang di lakukan di rumah yang terlihat sepi ini?" tanya Shikamaru entah pada siapa, karena yang lainnya hanya diam saja.

"Sampai kapan kalian akan di situ memperhatikan rumah orang, apa Naruto yang mengajak kalian?"

Mereka yang tengah serius memperhatikan rumah itu terbelak kaget begitu sebuah suara menegur mereka.

"Sasuke!" mereka serempak menyebut nama Sasuke, yang saat ini tengah tersneyum sinis pada mereka.

"Sa, Sasuke—," hanya Naruto yang merasa berat menyebutkan nama Sasuke, kejadian kemarin saat dia bersama Sakura seakan terngiang kembali di ingatannya membuat dia sedikit merasa sakit hati.

"Aku memang sering melihat Neji masuk ke rumah itu dengan sembunyi-sembunyi, sepertinya dia sedang menembunyikan sesuatu."

Shikamaru menyerngitkan keningnya, Kiba memasang tampang inconect, Gaara tetap stay dalam mode nonekspression, Shino gak menunjukan apa-apa, apalagi Naruto. Dia seolah tidak mendengar apa yang dikatakan oleh Sasuke, dia sepertinya masih memikirkan kejadian kemarin.

….

Di sepanjang koridor menuju kelas mereka, Naruto dan kawan-kawannya menghabiskan beberapa menit sebelum jam pelajaran di mulai. Suara canda dan tawa mereka pecah di tengah-tengah keramaian menambah kebisingan yang menggema.

Selain mereka berenam ada seorang gadis transparan yang selalu berjalan di sisi Naruto, selalu tersenyum melihat Naruto tertawa riang bersama teman-temannya. Namun senyumnya segera tergantikan dengan ekspresi sedih saat dia melihat wajah Naruto yang semula ceria kini kembali sedih.

"Sakura," samar-samar naruto menyebut sebuah nama yang membuat mata gadis itu terbelak, kini di depannya gadis pink itu berdiri bersama kedua temannya.

Sakura tersenyum saat melihat keenam pemuda itu berjalan kearah mereka, iris emeraldnya tak lepas dari salah satu sosok diantara keenam pemuda itu.

Naruto yang menyadari maksud tatapan itu bukan untuknya, terasa hancur berkeping-keping dan di tiup angin badai hingga jauh ke ujung dunia, selama ini dia tidak pernah melihat senyum sakura seperti itu, dan Sakura tak pernah memberikan senyum seperti itu padanya. Senyum Sakura hari ini berbeda, ada cinta disana. Tidak seperti seperti senyumnya selama ini pada Naruto.

Sakit, sudah jatuh terimpa tangga pula. Sudah melihat kemesraan mereka, kini dia melihat cinta dimata Sakura pula, dan itu pun bukan untuknya.

Sakit, inikah rasanya jika cinta yang kita jaga dinodai? Tapi cinta ini terlalu besar untuknya, sulit untuk membuangnya begitu saja atau melepaskannya untuk orang lain.

Sakit, bagaimana jika kekasihmu, orang yang kau cintai diambil orang lain? hancur, kecewa dan ingin mati, itulah prasaan yang saat ini Naruto rasakan.

Gadis indigo itu hanya melihat Naruto dengan tatapan sesdihnya, dia tak mampu melakukan apa, atau hanya untuk menenangkannya atau memeluknya. Dia hanyalah sosok yang yang tak nyata dan tak dapat dilihat, didengar ataupun disentuh oleh siapapun.

"Ada apa denganmu Naruto?" suara datar Gaara mengaburkan pikirannya.

"Eh? Ada apa?" tanya Naruto dengan tampang inconnect.

"Kenapa kau tak membalas sapaan Sakura? Apa kalian ada masalah?" lagi Naruto di buat terpaku dengan pertanyaan Kiba.

"Eh, Sakura? Dimana dia? kenapa kalian tidak memberitahuku? Ah, kalian payah!" entah apa maksud Naruto berkata seperti itu, bukannya tadi sudah melihat Sakura? Dan bukannya dia memang tidak mendengar Sakura menyapa.

Sasuke melihat Naruto dengan tatapan penuh curiga, Gaara mendelik kesal, Shikamaru mendengus kesal, Kiba berdecis dan menggeleng pelan, Shino malah asyik bercapak dengan serangganya(?).

"Apa? kenapa kalian melihatku seperti itu? apa ada yang salah denganku?" tanya Naruto tak suka di lihat dengan ekspresi itu.

"Kau tak perlu berbohong lagi, kami sudah tahu kau sedang ada masalah," ucap Shikamaru seraya berjalan menuju kelas mereka di ikuti Kiba dan Shino, sebelum meninggalkan Naruto dan Sasuke, Gaara sempat melirik mereka berdua.

Sementara Sasuke masih menatap curiga pada Naruto dengan tampang seolah Naruto telah melakukan suatu kesalahan besar.

"Apa yang kau lihat? Aku tak merampas gadismu!" ucap Naruto setengah kesal di lihat seperti itu oleh Sasuke, seharunya dialah melihat Sasuke dengan tatapan seperti itu.

"Dobe!" merasa di sindir dan itu membuat Sasuke semakin kesal. "Apa kau menuduhku telah merebut Sakura drimu?! Jika iya, itu artinya kau meman payah!" lanjut Sasuke.

Naruto terbelak kaget, seolah Sasuke telah menekan tombol on pada bom timer amarahnya. Bayangan saat Sasuke dan Sakura bermesraan dan tatapan cinta Sakura pada Sasuke seakan menjadi pemicu meledaknya timer amarahnya.

"Kau!"

Gadis transparan itu, tersentak kaget saat dia melihat Naruto berlari. Surai indigo panjangnya berayun cepat begitu Naruto melewatinya dengan kecepatan tinggi, saat dia sadar yang didengar adalah suara hantaman yang keras.

Bhuuaak!

Sasuke terhempas ke tanah, wajah stoiknya terlihat kaget dan marah karena serangan mendadak naruto yang diarahkan kewajahnya.

Koridor kelas yang tadi ramai seketika sunyi, semua terpaku melihat adegan jatuhnya sang idola sekolah. Kiba menahan ke empat temannya dan saat dia mendengar suara pukulan.

""NARUTO!" tak terima di pukul seperti itu, Sasuke berdiri dan membalas pukulan Naruto.

Bhuuaak! Naruto terhempas ke lantai.

Naruto tak bergeming saat tinju Sasuke mengenainya, dia sengaja menerima pukulan Sasuke. Sementara Sasuke diantara amarahnya heran karena naruto tak mengelak dari pukulannya yang lambat.

Gadis indigo itu langsung berlari kearah naruto dan mencoba menahannya, namun itu sia-sia untuknya.

Setelah membalas pukulan Naruto, Sasuke kembali terdiam seraya mengatur deru napasnya yang tak beratur karena marah.

"Kenapa? Kenapa kau tak melanjutkan pukulan mu?"

Sasuke mendesis pelan, dia semakin bingung dengan sikap naruto yang menurutnya sudah melewati batas kenormalan seorang naruto dari biasanya.

Kiba ingin melarai mereka namun di tahan Gaara, "Biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka."

"Apa maksudmu, Gaara?" tanya Kiba.

"Sepertinya ini akan semakin membosankan," tambah Shikamaru seraya menguap selebar-lebarbnya.

Sementara itu Sasuke masih menatap marah pada Naruto yang seakan menantanganya untuk berduel tatapan.

"Ada apa denganmu, Naruto?" tanya Sasuke.

"Kau salah bertanya, Sasuke. Seharusnya akulah bertanya seperti itu padamu," kata Naruto dengan senyuman getirnya.

"Aku?" bertanya balik.

"Yah, kau. Aku sudah tahu semuanya, aku sudah tahu kenapa akhir-akhir ini Sakura selalu menjauhi ku. Itu karena mu."

Sasuke terbelak kaget, gadis indigo transparan di sampingnya manatap heran pada Naruto, Kiba seperti baru bangun dari mimpi. Dia melongo kaget.

"Ka, kau sudah tahu?" seakan tahu apa maksud kata-kata Naruto, Sasuke terlihat gugup.

"Aku tidak akan melepaskan Sakura untukmu, jika kau ingin merebut dia dariku. Ini adalah kesempatanmu, jika kau membunuh ku hari ini akan ku iklaskan Sakura untuk mu."

Seketika gadis transparan itu menutup mulutnya akibat efek dari kekagetannya.

Suara bisik-bisik terdengar membahana di sekitar koridor kelas.

"Naruto!" Sasuke membentak Naruto yang sepertinya sudah tidak waras.

Suara bel tanda pelajaran akan segera dimulai terdengar menciptakan suara gaduh yang sempat hilang sesaat karena pertengkaran kecil tadi.

"Aku tidak bermaksud sama sekali merebut Sakura darimu, apa gunanya kau menjadi pacar Sakura jika kau tak tahu tentang pacarmu itu," kata Sasuke seraya berbalik menuju kelasnya mengabaikan Naruto.

"Sasuke, apa maksudmu aku tidak tahu apa-apa mengenai pacarku sendiri?!" tanya Naruto pada Sasuke yang kian menjauh, sementara koridor kelas telah sunyi, anak-anak sudah kembali ke kelas mereka masing-masing. Hanya tinggal Naruto dan gadis indigo transparan yang masih setia menemaninya.

…..

Di atas atap sekolah, Naruto membaringkan tubuhnya. Angin berhembus pelan membelai seulet wajah letih Naruto, iris biru safirnya menatap langit biru yang tak berawan.

"Apa yang tidak aku tahu tentang Sakura-chan? Dan kenapa Sakura tak menceritakannya padaku? Bukankah aku ini pacarnya, bukankah itu yang seharusnya dilakukan pacar kita?" pikir Naruto.

Dia menghela napas panjang, sangat jelas terlihat di wajahnya ekspresi penyesalan. Menyesal karena membiarkan emosi menguasai hatinya, menyesal karena setelah ini Sakura akan semakin marah dan malah semakin mungkin menjauh darinya.

Sementara itu, gadis indigo yang selalu bersmanya hanya berdiam diri sambil memeluk lututnya.

Dia memejamkan matanya, mencoba menenangkan perasaannya yang semakin galau akibat pertengkaran tadi pagi.

"Pasti Sakura sudah mendengar pertengkaran tadi, —sebelum itu akan ku jelaskan padanya apa sebenarnya terjadi—," Naruto menghentikan kata-katanya begitu telinganya mengangkap suara langkah pelan mendekatinya.

"Kau tak perlu menjelaskannya padaku, aku sudah tahu—."

Naruto tebelak kaget seraya bangkit dari tidurnya, dan gadis indigo itu langsung berdiri begitu mereka tahu siapa yang datang.

"Sa, Sakura?"

Sakura melangkah cepat mendekati naruto, wajahnya terlihat tenang-tenang saja meski dia sudah tahu perkara pertengkaran tadi pagi.

"Sakura, aku—."

Plak!

Naruto kaget setengah mati, dia tahu Sakura pasti akan marah. Tapi, kenapa dia ditampar?

"Aku, tahu kau marah. Tapi kenapa kau menamparku, Sakura?" tanya Naruto tanpa membalikan wajahnya kearah Sakura, dia terlihat masih syok ditampar oleh Sakura.

"Jangan pernah kau menyentuh Sasuke!" suara Sakura bergetar menahan tangis, serentak naruto menatap tak percaya pada Sakura.

Apalagi ini?!

"Apa maksudmu, Sakura? Yang seharusnya kau cemaskan itu aku, kenapa Sasuke?" sungguh muatan otak Naruto tak mampu menampung kata-kata Sakura, dia meraih tangan Sakura namun di tepis oleh Sakura dengan lembut.

Sakura membuang wajahnya dari Naruto dan kemudian dia membelakangi Naruto, dia menarik napas panjang yang terdengar berat.

"Mulai sekarang kita putus!" kata Sakura pelan dan datar tanpa tekanan sama sekali.

Seseorang tolong terjemahkan empat kata yang baru saja diucapkan Sakura, mungkin Naruto akan sulit memahami kata-kata itu.

"Sakura!" panggil Naruto seraya mendekati Sakura dan memeluknya dari belakang.

Sakura hanya diam tanpa reaksi apapun, dia hanya menutup matanya seolah tengah mencoba menguatkan hatinya.

"Jika kau marah karena aku memukul Sasuke, aku minta maaf. Jika kau marah karena aku tidak bisa menjadi pacar yang kau inginkan dan bisa kau andalkan, aku minta maaf. Jika kau putuskan aku tanpa alasan yang tepat aku tidak akan memaafkanmu."

Tangan Sakura bergerak perlahan melepaskan tangan Naruto dari tubuhnya, "Maaf, tapi aku tidak punya alasan yang tepat. Itu karena aku sudak tidak menyukai mu lagi, Sasuke adalah cinta pertamaku."

Naruto tersadar apa yang dia lakukan, dia membiarkan Sakura melepaskan pelukannya. Dia tahu percuma menahan Sakura, dia tahu Sakura tidak main-main mengutarakan alasannya.

Angin berhembus pelan membelai surai pirang Naruto, menerpa wajahnya dan menusuk matanya hingga memerah. Waktu seakan berhenti memberikan selang waktu untuk mereka berpikir.

"Apa kau serius memutuskan aku?" tanya naruto terdengar berat dia merasa hatinya terasa sakit,bahkan lebih sakit dari kemarin.

"Terserah padamu, mulai saat ini kita tidak ada apa-apa lagi," balas Sakura seraya berjalan meninggalkan atap.

Naruto terpaku di tempatnya melihat Sakura berjalan menjauhinya, melihat harapan dan impiannya menghilang bersamanya. Cukup lama Naruto terdiam melihat kepergian Sakura, ada perasaan lain yang tiba-tiba menyesakan dadanya membuat dia ingin berteriak tapi tak mampu.

Kepalanya terasa pusing, terlalu sakit jika memikirnya. Terlalu perih jika merasakannya, inikah rasanya kehilangan yang namanya cinta?

Akhirnya ia membuang dirinya ke lantai, tangan kirinya meremas kepalanya yang berdenyut hampir pecah semantara tangan kanannya meramas dada kirinya, meremas jantungnya yang serasa ingin meledak.

Gadis indigo itu tertuduk lemas di samping Naruto, dia mencoba berulang kali memeluk Naruto namun itu sia-sia. Dia ingin menghibur Naruto namun dia tak mampu, dia tidak punya kuasa untuk melakukan itu, akhirnya dia hanya duduk menemani naruto melampiaskan perasaan sedihnya, dia akan terus menemani Naruto hingga dia sadar dan tahu bahwa ada seseorang yang selalu berada di sisinya yang selalu setia menunggunya.

Naruto, janganlah kau bersedih. Kesedihanmu adalah sakitku, tangismu adalah deritaku. Jadi janganlah kau bersedih, kau akan membuatku semakin tak bisa meninggalkanmu. Kau harus kuat, Naruto. Yakin dan percayalah ada cinta yang lebih besar sedang menunggumu, cinta hanya kau seorang yang memilikinya.

Angin kembali bertiup, menerbangkan kesedihan naruto terbang jauh hingga tak berbatas. Angin masih terus datang silih bergangti seolah tengah menghiburnya, angin bertiup berbisik pelan padanya, mengantarkan pesan cinta seseorang untuknya.

Bersama angin perlahan-lahan nyanyian itu kembali terdengar menyapa pendengaran Naruto, menyanyikan nyanyian rindu yang hanya naruto seorang yang dapat mendengarkannya.

"Naruto."

Naruto tersentak berhenti dari tangisannya saat dia mendengar suara yang sama memanggilnya.

….

Sementara itu di sebuah kamar yang mewah dan elit, Neji berdiri di samping tempat tidur king size. Dia menatap sedih sosok yang saat ini tengah terbaring lemah tak berdaya, sosok yang selama ini selalu dia rindukan, sosok yang selama ini membuat dia tidak bisa tenang.

"Aku akan selalu bersama mu disini, jadi kau tak perlu takut sendirian," kata Neji pelan, suaranya bergetar menahan tangis melihat orang yang dia sayangi terbaring lemah di depannya.

….

Sementara itu di depan gerbang sekolah, Kiba masih berdiri menunggu Naruto sambil memegang sekotak bento. Sesekali dia meneguk paksa air liurnya yang tak tahan dengan aroma bento yang sedari tadi menganggunya.

"Ke mana sih Naruto, bagaimana jika aku melahap habis bentonya ini!"

TBC.