Sebelum lanjut ke chapter 4, ayo kita bales review~! 'v')/
Rizanami: Hm... kasih tau ga ya..? Kalo dikasih tau entar storylinenya udah ketauan dong... :) Ikutin terus updateannya xD Duh, dia emang spesies setengah onta kok hahaha xD /bukannak
Dark Flame: Well... supaya tahu jawabannya ikuti terus updateannya~! xD /ei Sip, sankyu!
Naomi: Terima kasih banyak atas masukannya, kami akan memperhatikannya lagi xD Sankyu! :3
Raicho S: Owh sankyu! Udah update kok hihihihi xD Ahahaha di tempat Hyocchin juga ada kok, real pula hahahaha XD
Lunette Athella: Wahahaha jawaban tebakan anda... bisa dilihat di chapter ini :3 Ohoho siaaaap xD Salam kenal juga ;)
Rei2518: Aye aye, sir! ^v^)7
Sekian balasan review dari kami. So, enjoy this chapter~
==o0o==
[Mont Amant est Un Vampire]
A collaboration fanfiction of chyorimentum and Tomoko Takami
.
Shingeki no Kyojin © Isayama Hajime
.
Warning(s): possibly typo(s), shounen-ai, alternate age, vampire!AU, school life, reincarnation.
Pairing: Levi X Eren
Enjoy this chapter minna!
==o0o==
Holly shit.
Hanya satu kalimat itu yang terlintas di pikiran Eren saat ini, bagaimana tidak. Kedua objek pembicaraannya dengan Hanji kini malah muncul di ruang OSIS, ditambah pula aura aneh yang menguar dengan dashyatnya dari Petra Ral—selaku wakil ketua OSIS The Sina.
Jika kini didepannya ada sebilah pisau atau sepucuk pistol maka dengan senang hati Eren akan menggunakannya untuk bunuh diri, atau paling tidak, ada sekumpulan serangga Novistador dan sekelompok Armadura dari game Resident Evil 4 yang sering dia mainkan muncul untuk membawanya kabur dari ruang OSIS saat itu juga.
Oke, hentikan khayalanmu, Ren.
Suara baritone milik Levi kembali terdengar di ruangan, "Kau serius, Eren Jaeger?" tanyanya dengan suara tajam yang mengakibatkan Eren membeku di tempat.
Petra yang sedari tadi hanya menonton buka suara, "Eren, kau menyukai Levi?" Tanya Petra curiga. (bercampur cemburu).
Check mate.
Eren mati kutu seketika saat mendengar pertanyaan kedua senpainya, belum lagi aura aneh yang terus menguar dari Petra—yang menyebabkan nyali serta raga Eren menciut seketika. Hanji selaku orang yang sedari menonton bukannya malah membantu menenangkan—gadis pemilik marga Zoe itu malah tertawa terpingkal-pingkal saking gelinya melihat adegan antara Levi-Petra-Eren. Buktinya kini dia sampai menjatuhkan sekaleng permen butterscotch yang dia pegang ke lantai. (untung kalengnya dalam keadaan tertutup). "PFFFFTTTTT! UIHIHIHIHIHIHIHI! AHAHAHAHAHAHA! BRAVOOOO! FABULOUS!" sekarang Hanji tertawa dengan liarnya sampai menggebrak-gebrak meja dengan keras layaknya orang kesurupan sambil bertepuk tangan.
Eren segera berdiri dari tempat dia duduk, "A—aku permisi dulu!" serunya sambil mengambil langkah seribu dari ruang OSIS. Namun Eren tidak menyadari bahwa Petra menatapnya dengan pandangan tidak suka seraya Eren menjahui ruang OSIS.
==o0o==
Sesampainya di lorong kelas dua, Eren segera menarik napas panjang, "Dasar, satu organisasi tidak ada yang waras, yang satu mesum, yang satunya aneh, yang satunya tukang cemburu," maki Eren dengan kesal
"Kau bilang aku apa? Mesum? Berani sekali kamu mengataiku mesum, Eren." mendadak suara baritone Levi menyapa indra pendengaran Eren, spontan Eren bergidik, perlahan dia menoleh ke belakangnya dan menemukan sosok Levi yang kini tengah berdiri di belakangnya, mata oniks ketua OSIS itu menatap Eren dengan pandangan pembunuh, oh. Jangan lupakan aura neraka yang berkobar di sekitar Levi.
Entah kenapa saat ini Eren melihat sosok Levi sebagai sosok iblis yang siap mencabik-cabik tubuhnya kapan saja.
"Ahh… Hai—Levi-senpai," ucap pemuda pemilik tinggi 170 cm tersebut dengan suara tercekat.
"Kau berani juga rupanya mengataiku mesum, kau mau mati ya?" tukas Levi dengan nada seram.
"Ti—Tidak begitu! Bukan itu maksudku, senpai!" kilah Eren panik. Dia mulai menjauhi Levi yang sekarang perlahan mulai mendekat ke arahnya.
"Bocah nakal, kau harus dihukum," kata Levi, perlahan Levi mendorong tubuh semampai juniornya ke bangku panjang hingga Eren terjatuh. Eren sempat meronta kencang namun dengan mudahnya Levi mengunci tubuhnya, kedua lengannya kini ditahan oleh Levi. Levi mendekatkan wajahnya ke wajah Eren dan mulai bicara, "Dengan cara apa kau harus dihukum?" ucapnya dengan hembusan napas hangat yang menerpa wajah Eren.
Eren bersumpah bahwa kini dia bisa merasakan degup jantungnya yang cepat saat Levi bicara seperti itu, ditambah dengan aroma Levi yang membuatnya mabuk kepayang, namun Eren tahu bahwa perbuatan ini salah besar maka Eren meronta lebih kencang namun kekuatannya jauh dibawah Levi, Levi sama sekali tidak bergeming saat Eren berontak—padahal tubuh Levi lebih kecil dibanding dirinya. "Lepaskan aku! Senpai mau apa dariku?!" seru Eren panik.
Tanpa diduga, Levi menempelkan bibirnya ke bibir Eren. Permata hijau Eren terbelalak ketika ia sadar bahwa Levi menciumnya untuk yang kedua kalinya, tidak seperti ciuman yang terjadi empat hari lalu, kali ini jauh lebih agresif. Levi menjilat langit-langit mulut Eren dan mengajak lidah Eren untuk berdansa dengan lidah miliknya. "Se—senpai… he—hentikan… kumohon…" bisiknya di sela-sela ciuman mereka namun Levi tidak menghiraukannya dan terus meraup bibir manis juniornya selama beberapa menit hingga Levi melepas pagutannya karena kehabisan pasokan udara di paru-paru.
Levi menyeringai melihat dia keadaan Eren yang kacau balau, "Pftt… dasar bocah polos," kekehnya.
"Nhhh… apa-apaan maksudmu, senpai?!" seru Eren malu bercampur kesal, dengan gusar dia segera mendorong Levi dari tubuhnya namun sia-sia.
"Heh… apa maksudku?" ucap Levi dengan nada sedikit gusar, Levi kembali mendekatkan wajahnya ke wajah Eren—berencana untuk mencicipi kembali bibir Eren.
"Oi… cebol sialan… kau mau berbuat apa, HAH?! MENJAUHLAH DARI EREN!" mendadak Mikasa muncul entah dari mana dan menendang tubuh Levi sejauh mungkin dari tubuh saudara angkatnya yang terancam ternodai oleh tangan Levi. Oho, meski Mikasa seorang gadis manis tapi jangan salah, tubuh Mikasa berotot seperti anak laki-laki—bahkan diduga tubuh Mikasa jauh lebih berotot ketimbang Eren. Sungguh tsuyoi kamu, Mikasa.
"Mi—Mikasa!?" kata Eren terkejut bukan main. Dia merapikan cardigan miliknya yang sudah awut-awutan akibat perbuatan Levi.
"Eren! Kamu tidak apa-apa?! Apa cebol sial itu melakukan sesuatu padamu?!" seru Mikasa sambil memeriksa tubuh Eren seksama. Takut jika Levi sudah menodai tubuh Eren.
"Aku tidak apa-apa, Mikasa! Sungguh!" seru Eren.
Mikasa lalu menatap sosok Levi yang tengah mengaduh kesakitan di ujung lorong, iris obsidiannya memincing sadis. "Oi, cebol sial… kamu mau berbuat apa dengan Eren?!" sentak Mikasa murka.
Sambil mengaduh, Levi menyahut kalimat Mikasa dengan nada marah. "Bocah sial, apa begitu sikapmu dengan orang yang lebih tua darimu?" gusar Levi sambil mengelus punggungnya yang terkena tendangan fabulous Mikasa.
"Biar saja! Jauhi Eren mulai sekarang!" Mikasa menarik tangan Eren untuk menjahui Levi.
Sepeninggal Mikasa dan Eren, Hanji yang ternyata sedari tadi merekam kejadian itu melalui handycam miliknya hanya bisa tertawa sambil menggebrak dinding lorong, "ASEKKKK! GUE DAPET VIDEO TAMBAHAN! KUDU DIJUAL SUPAYA KAS OSIS BERTAMBAH!" serunya bahagia sambil goyang ngebor, kemudian Hanji segera kabur dari tempatnya sekarang untuk segera meng-upload rekaman yang barusan di dapatnya.
==o0o==
Bel pulang sekolah berbunyi, Eren segera membereskan barangnya dan berjalan menuju pintu namun dicegat oleh Mikasa, "Eren, ayo pulang denganku," kata Mikasa cepat.
"Eh?" Hanya itu yang keluar dari mulut Eren saat mendengar kalimat Mikasa, namun Mikasa sudah menarik tangan Eren sambil bergumam sendiri, Eren hanya menangkap sedikit gumaman Mikasa seperti, 'cebol sialan, pedofil mesum, iblis kontet.' Eren hanya bisa sweatdrop.
"Mikasa," panggil Eren.
Mikasa menoleh, "Ya?" jawab Mikasa datar.
"Err… apa ini tidak terlalu berlebihan, Mikasa? Gembok dobel? Password?" kata Eren sambil melirik pintu yang sudah terkunci dengan rantai lapis dua, gembok dobel plus intercom yang dilengkapi dengan password. Jangan tanya Mikasa dari mana dia mendapat barang-barang itu.
"Tidak sama sekali," jawab Mikasa retoris.
"Eren, mau ke mana?"
"Eren, aku ikut."
"Biar aku yang menjawab."
"Itu SMS dari siapa, Eren?"
"Mikasa, kau tidak pulang? Ini sudah malam loh." Eren melirik jam di HP miliknya yang menunjukkan jam enam malam.
Mikasa menggeleng, "Tidak, hari ini aku akan menginap di sini," jawab Mikasa tegas, seakan itu adalah hal biasa.
Eren menganga mendengar kalimat Mikasa, sendok yang berisi sup ayam pun sampai jatuh dan mengotori karpet, "Yang benar saja, Mikasa!" murkanya sambil menggebrak meja, kesal dengan perlakuan Mikasa yang berlebihan. Mikasa yang tidak pernah mendapat perlakuan seperti itu tentu kaget, tanpa sadar air mata mulai menggenang di pelupuk mata obsidian Mikasa, Eren yang menyadari hal itu merasa bersalah, "Mi—Mikasa…?" panggil Eren pelan, dia mencoba untuk menyentuh rambut Mikasa, berusaha untuk menenangkan Mikasa.
PLAK!
Mikasa menepis tangan Eren dengan kasar, tanpa aba-aba apapun Mikasa lari dari apartemen Eren, Eren yang melihat itu segera mengejar Mikasa, "MIKASA! TUNGGU!" seru Eren.
Mikasa tak memperdulikan Eren, gadis itu terus berlari dengan kecepatan super (?) sehingga Eren tak bisa mengejar Mikasa yang melaju. "*Pant* *pant* aduh, itu anak larinya cepat sekali sih?! OIIII! MIKASAAA!" panggil pemuda pemilik tinggi 170cm itu sekali lagi.
Nyutt!
"Ghhhh….!" Eren mendadak merintih kesakitan, dia memegang kepalanya yang mendadak terasa sakit luar biasa, apa akibat aku belum makan sedari pagi? Pikirnya. Tidak, tidak mungkin, akhir-akhir ini aku sering sakit kepala meski aku sudah makan banyak. Batinnya lagi. Rasa sakit itu makin menjadi-jadi hingga Eren terduduk di trotoar karena rasa sakit yang makin menjadi-jadi.
Kring.. kring…
"Hei, kamu tidak apa-apa?" panggil seseorang yang ternyata adalah tukang pos keliling, tukang pos itu menyandarkan sepedanya ke tembok untuk memeriksa keadaan Eren yang terduduk akibat kesakitan. "Nak, jawab aku, kau tidak apa-apa?" Tanya tukang pos itu sambil mengguncangkan badan Eren.
Ketika Eren menoleh ke arah tukang pos dan yang ia temukan ialah hanya kegelapan yang menyelimuti pandangannya.
==o0o==
Disini gelap…
Dimana aku?
Gelap sekali…
Di mana jalan keluarnya?
KRINGGGG!
"HAH?!" Eren membuka matanya ketika dia mendengar deringan alarm, Eren bangun dari kasurnya sambil memegangi kepalanya yang masih agak sakit, beruntunglah hari ini sedang libur jadi Eren bisa bangun lebih siang, "Loh? Sejak kapan aku ada di rumah?" gumamnya saat dia sadar kalau dia berada di kasur, karena seingatnya tadi malam dia mengejar Mikasa untuk minta maaf. "Ah… kepalaku masih agak sakit," ucapnya lirih. Eren berjalan menuju ruang makan untuk sarapan, dia tidak terlalu lapar maka dia memutuskan untuk membuat roti bakar saja.
Ting!
Eren mengambil roti bakar yang baru matang dari pemanggang roti kemudian mengolesinya dengan mentega, Eren mengambil remote TV untuk menonton berita pagi ini.
Pip!
"Selamat pagi pemirsa, pagi ini ditemukan sesosok mayat di daerah XXX, di tubuh mayat ditemukan bekas serangan yang diduga diakibatkan oleh hewan liar. Para warga dihimbau untuk berhati-hati…."
Deg!
Jantung Eren mendadak berhenti, bukan akibat berita yang terpampang di TV namun dia menemukan sesuatu di berita tersebut.
Sepatu sebelah kanannya.
"I—Itu… sepatuku 'kan?" ucap pemuda Jaeger itu tak percaya.
==o0o==
To be continued
A/N: Tomoko disini~ yak, saya minta maaf akan keterlambatan updatenya =_=", maklum, dua-tiga bulan lalu aku sibuk luar biasa karena kebagian jadi pengisi acara perpisahan anak kelas 12. Tapi sekarang aku udah bebas banget jadwalnya~ XD jadi doakan saja fanfic-fanfic di tempatku update cepet, btw akhiran chapter ini kuambil dari komik Kaoru-sensei yang Rose and Bullet. Okay~ nantikan chapter selanjutnya yang bakal ditulis sama Hyocchin~ berikan saran kalian di kotak review~
