TIGA BULAN KEMUDIAN

Berkat bantuan Edgeworth, akhirnya Trucy terbebas dari tuduhan pembunuhan ayah angkatnya. Rupanya yang membunuh Phoenix adalah Iris – mantan kekasih Phoenix yang seharusnya sedang dalam masa tahanan namun melarikan diri dari penjara sejak beberapa bulan yang lalu. Ia didiagnosa dalam gangguan jiwa berat karena tekanan di penjara dan entah kenapa memendam kebencian luar biasa terhadap Trucy – mungkin karena iri terhadap Trucy yang diangkat anak oleh Phoenix dan akhirnya ia mengatur segalanya agar tuduhan dijatuhkan kepada gadis kecil yang tidak berdosa itu. Dan setelah diselidiki lebih dalam, rupanya Kristoph Gavin ikut andil dalam rencana pembunuhan itu. ia memanfaatkan hati Iris yang gundah dan rapuh karena Phoenix jarang mengunjunginya lagi di penjara karena sibuk mengurus Trucy. Perbuatan mantan pengacara Gavin & Co. Law Offices itu menyebabkan jiwa Iris terganggu. Edgeworth memutuskan untuk tidak ikut campur terlalu banyak dalam urusan itu karena tugasnya yang paling utama adalah untuk menolong Trucy dari tuduhan pembunuhan, dan yang satu lagi…

THE FEY MANOR – KURAIN VILLAGE

"Nah…kartu yang tadi dipilih auntie Maya adalah…ini!" teriak Trucy lantang sambil menarik sebuah kartu as hati dari topinya. Pearl dan Maya langsung kaget sekaligus kagum dan spontan bertepuk tangan.

"Hebaaat! Kok Trucy bisa, sih?" tanya Maya penasaran.

"He he he, rahasia!"

"Yaaah, beritahu aku, dong!" pinta Pearl sambil menarik-narik tangan Trucy.

"Tidak bisa! Seorang pesulap yang baik tidak akan pernah menceritakan rahasianya!"

Pearl terus meminta, tapi Trucy tetap bersikukuh untuk diam. Akhirnya mulailah mereka kejar-kejaran. Maya tertawa melihatnya. Selagi menonton Pearl dan Trucy kejar-kejaran seperti anjing dan kucing, tiba-tiba seorang acolyte pemula mendatanginya.

"Permisi…Mystic Maya, ada tamu yang ingin bertemu…"

Di belakang acolyte muda itu, berdiri seorang pria yang sangat dikenalnya.

"Mr. Edgeworth!"

Maya spontan memeluk Edgeworth dan mereka saling bertukar sapa, sementara acolyte muda itu beranjak pergi.

"Kapan kau sampai di Kurain?"

"Baru saja…" jawabnya sambil celingukan "Oh ya? Trucy dan Pearl mana?"

"Seperti biasa, mereka sedang kejar-kejaran di Winding Way. Pearl penasaran dengan trik sulap Trucy" Edgeworth menghela napas sambil geleng-geleng kepala "Mereka benar-benar anak-anak yang aktif…"

"Sejak tadi Trucy menghibur aku dan Pearl dengan trik-trik sulapnya. Ia memang berbakat menjadi entertainer, Mr. Edgeworth. Kasihan sekali ia harus mengalami nasib seperti ini…"

"…Yah, sebenarnya aku kesini untuk membicarakan sesuatu yang berhubungan dengan hal itu…"

Belum selesai Edgeworth berbicara, kedua gadis kecil itu sudah berlari masuk kembali dalam hall sambil tertawa-tawa.

"Pearl! Trucy! Ayo jangan lari-lari lagi, ada Mr. Edgeworth!" teriak Maya sambil menepuk kedua tangannya dua kali untuk mengalihkan perhatian anak-anak itu. Mereka berdua langsung berhenti berlari dan begitu melihat Edgeworth, Trucy langsung melompat ke dalam pelukan Edgeworth. Pelukan itu disambut oleh Edgeworth dengan sebuah ciuman sayang di keningnya.

"Hei, Truce…bolehkah aku berbicara berdua saja denganmu?"

"He?"

THE EDGEWORTH MANSION, BEVERLY HILLS, LOS ANGELES, USA

Setelah memasuki gerbang hitam besar bergaya renaissance, mobil Audi R8 V.12 itu akhirnya berhenti di depan sebuah pintu masuk mansion yang besar. Seorang butler dan dua orang pelayan perempuan menyambut dan membukakan pintu mobil. Mereka terkejut begitu melihat seorang gadis kecil tertidur di kursi penumpang. Edgeworth hanya tersenyum dan menepuk pipi gadis kecil itu dengan lembut.

"Trucy…Trucy…ayo bangun. Kita sudah sampai"

Trucy perlahan-lahan membuka matanya dan beranjak dari kursi mobil. Sambil mengucek matanya, ia turun dari mobil sambil berpegangan pada tangan seorang pelayan perempuan karena masih agak mengantuk. Setelah mengucapkan terima kasih pada pelayan itu, ia mengejar Edgeworth yang sudah menunggunya di depan pintu. Edgeworth lalu menggandeng tangan mungilnya dan mengajaknya masuk ke dalam rumah.

Rumah bergaya klasik-minimalis itu sangat indah dan luas. Trucy hanya bisa menganga sambil celingukan kiri-kanan karena kagum. Setelah menaiki tangga spiral marmer yang besar, mereka berjalan menuju sebuah pintu berwarna putih yang grendelnya berwarna keemasan. Edgeworth lalu membukakan pintu itu, dan terlihatlah sebuah kamar anak perempuan yang sangat indah. Kamar itu luas dan semua barang-barangnya terlihat indah seperti kamar seorang putri dalam buku dongeng. Di ruangan sebelahnya yang dipisahkan oleh sebuah arch door, terdapat sebuah ruangan lagi yang diisi dengan banyak mainan dan boneka. Tetapi yang lebih menarik bagi Trucy daripada rumah Barbie raksasa maupun seperangkat mainan masak-masakan adalah sebuah sudut di kamarnya yang diisi dengan berbagai macam alat sulap dan sebuah panggung kecil. Puas melihat-lihat, Edgeworth lalu memanggil Trucy ke kamar satunya lagi dan menyuruhnya duduk di tempat tidur bersamanya.

"Trucy…kau menyukai kamar ini, tidak?" tanya Edgeworth. Trucy tentu saja mengangguk "Suka! Suka sekali! Aku suka sekali rumah ini! Besar dan luas, dan kamar ini juga sangat indah!" serunya dengan mata berseri-seri.

"Kalau begitu, Trucy mau tidak tinggal di sini?"

Trucy menundukkan kepalanya dan terdiam.

Apa pertanyaan ini terlalu mendadak? Batin Edgeworth dalam hati.

"Ehm…begini, Trucy…sebenarnya Phoenix meninggalkan surat yang mengatakan bahwa jika terjadi sesuatu padanya, maka kau harus tinggal denganku…lalu…"

Trucy masih diam. Edgeworth mulai panik.

Duh…aku harus ngomong apa ya?

"…Aku ingin kau tinggal di sini bersamaku. Ka-karena…rumah ini sangat besar dan rasanya…sayang sekali kalau aku hanya tinggal di sini sendirian…"

Trucy mengangkat wajahnya dan menatap Edgeworth. Lama ia menatapnya, membuat Edgeworth merasa gugup dan takut kalau-kalau ia salah bicara dan membuatnya menangis lagi. Tetapi reaksi Trucy sungguh tidak diduganya: pesulap kecil itu malah memeluknya dengan erat.

"Tru…cy?"

"Baik, aku akan tinggal di sini. Sekarang kau tidak usah kesepian lagi, kan?" katanya sambil tersenyum lebar.

Pelukan itu sungguh hangat dan lembut. Ia tidak tahu bahwa anak kecil yang selama ini diduganya berisik dan hanya merepotkan ternyata mempunyai kebaikan hati tanpa batas.

"Hei, Trucy…"

"Ya?"

"Maukah kamu memanggilku 'daddy'?"

Trucy menatap wajah Edgeworth, lalu memeluknya lagi.

"Tentu!"

Tahun-tahun berlalu begitu saja. Dibawah asuhan Miles Edgeworth, Trucy, yang kini sudah menjadi Trucy Edgeworth, tumbuh besar dengan baik.

Setelah terlibat dalam kasus besar seperti itu, sulit bagi Trucy untuk kembali ke sekolah walaupun ia sudah dinyatakan terbukti tidak bersalah. Akhirnya Miles memutuskan agar Trucy mengikuti pendidikan home schooling. Meskipun tak pernah pergi ke sekolah formal lagi, Trucy belajar dengan rajin dan ia mempunyai teman yang sangat banyak di seluruh penjuru dunia. Ketika harus tugas ke luar negeri, Miles selalu mengajak Trucy bersamanya. Ketika sedang keliling dunia itulah Trucy pasti selalu mendapatkan teman baru. Mulai dari anak-anak yang tinggal di pemukiman kota Venezia sampai putri konglomerat pengusaha minyak Saudi Arabia, Trucy berteman baik dengan mereka semua. Ia juga memperagakan sulapnya di berbagai macam tempat di dunia.

Miles tahu bahwa putrinya itu sangat berbakat dalam sulap, maka Trucy dititipkan pada sebuah pemimpin grup pesulap terkenal di Paris pada saat ia berumur dua belas tahun. Sang pemimpin grup sulap itu tentu saja tidak keberatan, semua orang tahu bahwa putri keturunan Grammarye bukan anak sembarangan. Sejak saat itu, mereka jarang bertemu karena Miles harus tetap keliling dunia karena tuntutan pekerjaannya sementara Trucy belajar sulap di Paris, walaupun kadang-kadang ia juga pergi mengunjungi negara lain ketika ia diajak sang pemimpin grup sulap untuk mengadakan pertunjukan di luar negeri. Walau kadang kesepian dan rindu dengan Miles, setiap hari Trucy terhibur dengan kehidupannya di Paris yang penuh warna, dan mereka masih tetap berkomunikasi lewat telepon dan e-mail setiap hari. Kadang Miles juga mengiriminya berbagai macam hadiah, dan Trucy selalu senang menerimanya. Ketika libur atau ada waktu luang, Miles mengunjungi Paris, atau mengundang Trucy ke negara tempat ia sedang bertugas dan berjalan-jalan bersama. Meskipun mereka terpisah jauh, mereka tetaplah ayah dan anak yang dekat.