Hn.
Ternyata para pembaca sekalian hebat.
Bisa menebak alur ceritaku.
Semua jawaban yang anda tulis nyaris benar lagi.
Selamat!
Lebih baik kita langsung saja...
Disclaimer : Naruto isn't mine. And I'm sure you've known it.
HINATA'S STORY
Gelap…
Pandanganku mengedar ke sekelilingku. Tidak ada apapun kecuali kegelapan yang menyelimuti. Ketakutan merasukiku.
Apakah aku sudah mati?
"…nata…"
Siapa?
"Hi…ta!"
Aku melihat sekeliling.
Suara siapa itu?
Seberkas cahaya muncul di hadapanku. Siluet gelap seseorang di tengah cahaya itu. Mataku berusaha melihat dengan jelas siapa itu.
Rambut pirang?
Aku merasa telah mengenalnya. Siapa?
Mata sebiru langit menatapku.
"Hinata…"
Senyum itu…
Ya… aku mengenal senyum secerah mentari itu.
Dia…
Mataku melebar ketika melihat orang itu berbalik dan berjalan menjauhiku. Seorang pria berambut jingga tiba-tiba muncul di hadapannya dan mengayunkan sesuatu pada orang itu.
Syok menyelimutiku ketika cairan merah kehidupan mengenai wajahku. Aku menyentuh pipiku dan melihat jariku terlumuri cairan itu.
Darah…
Orang itu perlahan jatuh ke tanah. Aku berusaha menggerakkan tubuhku dan berlari menuju orang itu. Tanganku terjulur, berusaha menggapai tubuhnya.
"NARUTO!!!!!!!!!!!!"
###
Mataku terbuka lebar syok. Keringat membanjiri tubuhku. Aku berusaha menghirup udara sebanyaknya, paru-paruku terasa sesak. Aku bisa merasakan rasa sakit menjalar di seluruh tubuhku.
Mimpi?
Aku berusaha bangkit, dan dengan susah payah aku bisa duduk. Aku mengedarkan pandanganku ke sekelilingku.
Di mana ini?
Tembok putih... selimut... bau obat menyeruak...
Rumah sakit?
"Kau sudah sadar, Hinata?" Sebuah suara mengagetkanku. Aku menoleh ke asal suara dan mendapati Sakura berjalan ke arahku sambil memegang sebuah papan dan pulpen.
"Y...a..." jawabku terbata-bata. Suaraku serak. Dia menaruh beberapa bantal di belakang tubuhku agar aku bisa bersandar.
Sakura duduk di kursi di samping ranjang yang kutempati. Dia memegang tanganku seperti dia sedang memeriksa sesuatu. Lalu, dia menulis sesuatu dengan wajah serius.
"Sepertinya kondisimu sudah mulai membaik." Dia berkata sambil tersenyum. "Syukurlah luka-lukamu tidak begitu parah."
Luka-luka?
Aku melihat tubuhku dan menyadari bahwa tubuhku penuh perban.
"A...pa yang ter... terjadi?" tanyaku lemah.
Sakura menatapku aneh. "Kau tidak ingat?"
Ingat apa?
"Kau terluka karena serangan Pain." Sakura menghela nafas. "Kau ini. Aku tahu kau melakukannya demi melindungi Naruto, tapi... jangan seperti ini. Itu namanya nekat."
Na.. ru.. to?
"NARUTO!!" teriakku cemas. Aku berusaha berdiri, tetapi Sakura menghalangiku untuk melakukan itu.
"Jangan! Kau belum sembuh benar! Jangan berdiri dulu!"
"Ta-tapi... Naruto-kun..."
"Naruto tak apa-apa! Jangan khawatir!"
Mendengar itu, tubuhku langsung tenang. Aku kembali duduk dan memandang Sakura penuh kecemasan.
Sakura menghela nafas berat. Dia kembali duduk dan membalas tatapanku. "Naruto tidak apa-apa. Memang, dia terluka parah. Tapi dia masih hidup."
"Terluka parah?"
Sakura mengangguk. "Ya. Tapi bukan karena serangan Pain, melainkan karena dia mengeluarkan lima ekor Kyuubi.
"Sebagian daging punggungnya hilang karena radiasi chakra yang sangat kuat. Tubuhnya tak kuat menanggung radiasi itu. Tapi, untungnya dia hanya mengeluarkan lima ekor. Kalau lebih dari itu..."
"Ka-kalau lebih dari itu...?"
"Entah apa yang akan terjadi. Mungkin akan lebih parah dari ini."
Mataku terbelalak, mengetahui apa yang dimaksud Sakura dengan 'lebih parah'.
Itu berarti... mati.
"Yah... pokonya, dia sekarang sudah dipindahkan ke ruang inap. Kemampuan penyembuh milik Kyuubi sangat berguna. Jika dia tidak memiliki kemampuan itu – walau disembuhkan dengan ninjutsu medis – dia pasti sudah mati." Sakura bangkit dan berjalan menuju pintu. Sebelum keluar dia berbalik dan berkata, "Aku tahu kau mengkhawatirkannya, tapi untuk beberapa hari kau harus istirahat di sini. Jangan kemana-mana." Dan dia pun pergi. Meninggalkanku sendiri di kamar ini.
Naruto... apa bagaimana dia sekarang?
Aku berusaha untuk tidak memikirkannya. Sakura sudah bilang bahwa Naruto baik-baik saja.
Tapi... tetap saja...
Aku mengkhawatirkannya.
Dan itulah yang menyebabkan aku berjalan tertatih-tatih di koridor sekarang.
Aku berjalan sambil memegang tembok sebagai tumpuanku. Kakiku rasanya lemas. Seharusnya aku menuruti perkataan Sakura... tetap berada di kamar.
Aku melanjutkan perjalananku, mencari kamar dimana Naruto dirawat. Padahal dulu ketika berjalan di koridor ini rasanya biasa saja, tapi sekarang – dengan luka-luka yang kuderita – rasanya sangat berat.
Setelah beberapa lama, akhirnya aku menemukan kamarnya. Aku sangat senang. Dengan perlahan aku menjangkau kenop pintu, sebelah tanganku mengetuk pintunya.
Tak ada suara apapun. Aku memutar kenopnya dan membuka pintunya sedikit.
"Na-Naruto..." panggilku sangat pelan. Aku melihat ke dalam.
Dan apa yang kulihat di kamar membuat mataku terbelalak syok.
**************************
"Ke-kenapa itu?" tanya Suigetsu dan Sakura bersamaan. Ketegangan menyelimuti.
Tetapi, Naruto memecah ketegangan dan keheningan yang terjadi dengan pertanyaan konyolnya. "Hinata-chan, lu ke kamar gw?" tanyanya dengan ekspresi (OoO).
Wajah Hinata langsung merah mendengar pertanyaan Naruto. Sakura yang ketegangannya hilang gara-gara pertanyaan Naruto langsung menggamparnya dengan 'sangat sangat sangat keras'.
"Nah, Hinata." Sakura tersenyum manis, membuat yang lain merinding. "Kecoak udah diberesin. Silahkan dilanjutkan lagi."
Hinata mengangguk. "A-aku me-melihat sesuatu yang sangat membuatku terkejut...
*************************
Mataku terbelalak. Mulutku megap-megap. Aku merasa nafasku tidak beraturan, detak jantungku pun begitu.
Tangan yang memegang kenop mengetat, keringat dingin membanjiri tubuhku. Yang kulihat ini benar-benar...
Aku tak sanggup mengatakan apapun.
Dan saat itu aku merasa kepolosanku telah menghilang. Lenyap tak berbekas.
Aku melihat...
Melihat...
Melihat...
Melihat...
Sepasang tangan menelusuri dada bidang kecokelatan. Keringat membanjiri tubuh kecokelatan itu. Tangan itu membuka kaosnya perlahan dengan sangat sensual dan seksi.
OH...
MY...
BYAKUGAN...!!!
AKU MELIHAT NARUTO MENARI STRIPTEASE DI RANJANG!!!!!!
Tangan itu perlahan membuka resleting celananya. Mataku semakin terbelalak. Aku bisa melihat apa yang ada di dalamnya.
Aku langsung mimisan deras.
Dan kemudian segalanya menjadi gelap.
Aku bisa merasakan tubuhku menghantam lantai.
**************************
"Begitulah... da-dan seperti yang dikatakan Na-Naruto-kun... begitu sadar su-sudah ada di sini..." Hinata menunduk dengan wajah merah.
Siiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiing!!!!
Wuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuusssh!!!!
GREP!!!
"KAU MEMBUNUHNYA!!!!!" jerit Sakura sambil mencekik leher Naruto dengan 'sangat erat'. "KAU PEMBUNUH!!!! HOKAGE PEMBUNUH!!!!!!!"
"A... apa... salah... ku....?" engap Naruto.
"PANTESAN GW NEMUIN DIA MATI BERSIMBAH DARAH DI DEPAN KAMAR LU!!!!! DASAR PEMBUNUH!!!!!" bentak Sakura masih mencekik sambil menggoyang-goyangkan Naruto.
"Se... sesekkk..."
"BWAHAHAHAHA!!!! JADI WAKTU ITU KETAHUAN!!!!" Kyuubi tertawa keras.
"Di... em... lu... Kyuu... bi..."
"GYAHAHAHAHAHA!!!!! HOKAGE KETAHUAN STRIPTEASE DI RS!!!!!" teriak Suigetsu ngakak. "Hmm... bisa jadi bahan blackmail yang bagus nih..."
"A... was... ka... lo... lu bera...ni..."
"Dobe... gw nggak nyangka lu hobi gituan..."
"Diem! Lu... pikir... salah... si... apa...?"
"Salah siapa?" tanya semua bersamaan, menatap Naruto penuh kelaparan.
Naruto langsung berpaling.
"Bukan siapa-siapa..."
GREP!!!
"CEPET JAWAB SIAPA!!!!!!!!" bentak Sakura kembali mencekik Naruto. Urat-urat mencuat di dahinya. "DASAR HOKAGE BEJAT!!!!!!!!!!"
"A... ampuuun...."
Sai menepuk bahu Sakura. "Saiai... lebih baik lepasin Naruto sekarang..."
"NGAPAIN!!!!?"
"Nanti dia bisa mati untuk kedua kalinya..." Sai menunjuk Naruto yang sudah teler. Sakura tersentak dan langsung melepasnya. Naruto jatuh dengan liur mengalir di sisi mulutnya dan bermata spiral, lidahnya terjulur keluar.
Hinata langsung lari ke sisi Naruto untuk memberi perawatan, mengesampingkan tatapan dingin dan aura mengerikan yang ditujukan ke arahnya dari sang Uchiha.
"KITA MULAI LAGI!!!!" teriakan Suigetsu mencairkan suasana.
SUUUUUUUUUUUUUUUUIT!!!!!!!!
"ALHAMDULILLAH!!! HALELUYAH!!!!!!! YA TUHAN!!! TERIMA KASIH!!!!! BUKAN HAMBA YANG HARUS BERCERITA!!!!" teriak Suigetsu sambil sujud syukur menghadap kiblat.
"Oh... my... god..." gumam Sakura pucat. "Jangan..."
Sasuke menghela nafas. "Daripada lu-lu pada lebay gitu, mending cepetan mulai."
Sai tersenyum. "Baiklah..."
"JANGAN!!!!!!" teriak Sakura takut. Suigetsu mengurungnya di dalam Suiro no Jutsu.
"Kenapa takut gitu, hem...?" tanya Suigetsu sambil menaik-turunkan alisnya.
"POKONYA JANGAN CERITA!!!!!!"
"Muka robot!! Cepet mulai ceritanya!!!"
Urat mencuat di dahi Sai, masih tersenyum.
"Baik, baka mizu." Senyum Sai menghilang. Tatapan matanya dingin dan serius. Membuatnya sangat mengerikan. "Semua itu dimulai waktu enam tahun yang lalu..."
TBC...
A/N : Hmm...
Kenapa Sai meninggal?
Seperti biasa, tulis jawaban di review.
Maaf bila chapter ini sangat membosankan.
Aku sedang suntuk saat ini. "Mood-Sasuke"ku kambuh lagi.
Jadi, tolong dimaklumi.
With crimson camelia,
-
Scarlet Natsume.
