Tifa menyediakan sarapan berupa sandiwich, susu dan buah untuk Marlene dan Denzel. Tifa tersenyum melihat Marlene yang terlihat ceria dan berusaha berkenalan dengan Denzel walaupun Denzel masih terlihat malu-malu.
"Denzel-kun, maaf ya. Sarapan nya hanya seperti ini."
"Tidak apa-apa, Tifa-nee. "
"Ayo dimakan. Jangan sungkan padaku, ya.", ucap Tifa dengan ramah.
"Itadakimasu, minna-san", ucap Tifa pada Marlene dan Denzel. Marlene dan Denzel mengucapkan hal yang sama dan mereka mulai makan.
Tifa tak dapat berhenti tersenyum menatap Marlene dan Denzel yang makan dengan lahap. Sejak dulu ia sangat menyukai anak-anak dan berharap dapat menikah dan memiliki anak dibawah usia dua puluh. Namun fakta nya, kini usia nya dua puluh tiga dan ia masih belum menikah. Bahkan, ia pun tak memiliki seorang kekasih.
Setelah selesai makan, Denzel hendak bangkit berdiri dan mengangkat piring nya. Tifa melirik nya dan bertanya, "Kau mau kemana, Denzel-kun ?"
"Mencuci piring."
"Nanti saja. Kita duduk dan mengobrol terlebih dahulu.", Tifa tersenyum kikuk. Bagaimanapun, ia tak membiarkan Denzel mencuci piring walaupun Cloud tidak melarang Tifa untuk menyuruh anak itu melakukan sesuatu.
"Bagaimana sarapan nya ? Apa kalian suka ?", tanya Tifa.
"Seperti biasa, aku selalu suka sarapan buatan Tifa-nee.", jawab Marlene sambil mengambil sebuah pisang.
"Denzel-kun bagaimana ? Oh ya, kau belum memakan buah nya."
Denzel dengan terpaksa mengambil pisang dan mengupas kulit nya. Tifa memaklumi anak itu yang tak menyukai buah maupun sayur.
"Buah itu baik untuk kesehatan, lho. Bila kau tidak makan buah, maka kau mudah terserang penyakit dan terkena sariawan. Sakit itu tidak enak, lho."
Denzel mendengarkan ucapan Tifa dengan sungguh-sungguh dan melahap sebuah pisang. Tifa pun sengaja mengambil pisang dan memakan nya untuk memberi contoh pada Marlene dan Denzel. Bagi nya, untuk mendidik seorang anak adalah dengan memberikan contoh yang baik dan ia meyakini cara itu setelah mempraktikan nya sendiri pada Marlene.
"Tambah pisang nya lagi, yuk.", tawar Tifa sambil mengambil sebuah pisang dan mengupas nya.
"Aku ingin pisang untuk cemilan nanti.", protes Marlene.
"Baiklah, kalau Denzel-kun bagaimana ?"
"Terserah Tifa-nee.", jawab Denzel dengan malu-malu.
"Kok terserah ? Jangan malu-malu.", ujar Tifa.
"Cloud-nii meminta ku agar menuruti ucapan Tifa-nee. Jadi aku tidak boleh meminta macam-macam.", ujar Denzel dengan pelan.
Tifa hampir tertawa. Ia tak tahu berapa usia Denzel, namun anak itu begitu polos. Dan ia tersenyum mendengar ucapan Denzel. Sulit rasanya membayangkan seorang sahabat masa kecil kini mengurus seorang anak.
"Kalau bersama dengan Cloud-nii bagaimana ? Kau juga malu-malu seperti ini ?", tanya Tifa sambil tersenyum.
"Tidak. Cloud-nii bilang untuk menganggap rumah nya sebagai rumah ku sendiri. Katanya, sebentar lagi ia akan mengadopsi ku."
Tifa tak dapat menahan diri untuk tertawa. Ia benar-benar tak bisa membayangkan pria dengan gaya hidup seperti Cloud membesarkan seorang anak hingga ingin mengadopsi. Ia sangat khawatir dengan Denzel, terutama bila Cloud akan bergabung dengan AVALANCHE.
"K-kenapa, Tifa-nee ?", tanya Denzel dengan gugup.
"Tidak. Hanya saja aku ingin tertawa. Rasanya sulit membayangkan seorang teman yang dulu menghabiskan waktu bersama kini menjadi dewasa dan membesarkan seorang anak."
"Maksudnya ?", Denzel mengerutkan kening, pertanda bahwa ia tak mengerti.
"Maksudku, Cloud benar-benar berbeda dengan dulu. Kami sudah lama tak bertemu, dan sekarang aku terkejut karena ia banyak berubah."
"Oh."
"Cloud sudah meminta ku untuk menjaga mu. Maka mulai sekarang, aku juga bertanggung jawab untuk menjaga mu. Anggap saja aku sebagai pengganti Cloud untuk sementara."
"Benar tidak apa-apa ?"
"Ya, tidak apa-apa. Kau tidak melanggar peraturan yang diberikan Cloud untukmu, kok. Tadi aku yang menanyakan keinginan mu, bukan kau yang meminta nya.", Tifa kembali tersenyum.
"Ya. Aku ingin pisang nya untuk cemilan juga.", Denzel memberanikan diri mengucapkan keinginan nya.
"Nah, begitu lebih baik.", Tifa juga mengelus puncak kepala Denzel.
Denzel terkejut dengan sikap Tifa. Namun anak itu tak merasa keberatan dengan sikap Tifa.
…..*…..
Kini, Tifa berbaring sejenak dan memejamkan mata nya. Selama dua hari ini ia tidak akan datang ke bar dan memilih meninggalkan bar itu untuk sementara waktu pada orang yang dipercaya nya.
Usaha bar Tifa berkembang dengan baik dan ia mulai terpikir untuk membuka cabang dan mempekerjakan seseorang yang dapat dipercaya untuk mengurus nya.
Kehidupan Tifa dapat dikatakan hampir sempurna. Ia memiliki tubuh bagus, wajah cantik dan ekonomi yang cukup mapan. Ia memang membuka bar itu dengan bantuan modal dari orang tua nya. Namun kini ia mengembangkan uang itu berpuluh kali lipat dan dapat mengembalikan modal awal.
Hanya saja, belakangan ini ia merasa kesepian. Perubahan di sekeliling nya terasa mendadak, dan ia mulai merasa menginginkan kehangatan seorang pria sejak pertemuan pertama dengan Cloud.
Kini, Cloud yang dulu nya seorang anak laki-laki sok dewasa yang meremehkan orang lain yang dianggap nya kekanakan benar-benar menjadi dewasa. Pria itu bahkan mengadopsi seorang anak dan perlahan menjadi sosok idaman bagi Tifa.
Ya, sejak dulu Tifa begitu mengharapkan dapat menikah dan memiliki suami yang juga menyukai anak-anak seperti diri nya dan membangun keluarga bahagia bersama. Dan ia mulai merasa bila Cloud lah sosok pria yang dicari nya.
'Apa yang kupikirkan, sih ?', batin Tifa.
Terdengar suara ketukan di pintu kamar dan Tifa segera beranjak dari kasur serta membuka nya. Terdapat Marlene yang bersama dengan Denzel yang terlihat menunduk malu-malu.
"Ah, Denzel-kun, Marlene-chan, ayo masuk.", Tifa membuka pintu nya lebih lebar.
"Tidak, Tifa-nee. Aku disini saja."
"Jangan malu-malu. Ayo masuk. Aku akan mengambil pisang dan semangka untuk cemilan kalian."
"Ya, jangan malu-malu Denzel-nii. Tifa-nee tidak jahat kok.", timpal Marlene sambil menatap Denzel yang terus menunduk.
Dengan malu-malu, Denzel memasuki kamar mengikuti Marlene. Terdapat sebuah kotak berisi mainan milik Marlene di kamar Tifa dan Tifa membiarkan Marlene masuk ke dalam kamar nya kapanpun sehingga Marlene bisa meletakkan mainan di kamar Tifa.
"Ne, bila kau bersama Cloud dimana kau tidur ?"
"Di kamar Cloud-nii."
"Eh ? Kau serius ?", Tifa terkejut, tak menyangka bila Cloud dapat membiarkan orang asing masuk ke dalam kamar dan bahkan tidur di kasur bersama nya. Pria itu adalah orang yang sangat menghargai privasi dan tidak begitu suka bila orang lain –kecuali orang yang sangat akrab pada nya- untuk masuk apalagi tidur di kamar nya.
"Ya. Tidak ada kamar lain di rumah Cloud-nii."
Tifa mengangguk maklum. Mungkin ia terdengar konyol, namun ia begitu penasaran akan kehidupan dan kepribadian Cloud setelah hampir satu dekade tak bertemu.
"Ne, bolehkah aku bertanya sesuatu ?"
Denzel mengernyitkan dahi, namun perlahan anak laki-laki itu mengangguk.
"Ah, tunggu sebentar, aku mengambil cemilan dan minuman untuk kalian, ya."
Tifa tak menunggu jawaban Denzel dan Marlene serta beranjak dari ruangan. Ia melangkah menuju dapur dan mengambil dua buah piring serta memotong semangka dan pisang dalam ukuran kecil serta memasukkan ke masing-masing piring. Selain itu, ia juga meletakkan tiga buah tusuk gigi dan gelas berisi air.
Gadis itu kembali ke kamar dan meletakkan piring serta tiga buah gelas di atas meja kecil di samping tempat tidur nya. Marlene tak begitu peduli dengan Tifa dan melanjutkan permainan, sementara Denzel menghentikan aktifitas dan menatap makanan dan gelas yang dibawa Tifa.
"Ayo berhenti bermain dulu. Kalian harus minum dan memakan sedikit buah.", ucap Tifa.
"Nanti saja, Tifa-nee", Marlene merengut manja.
Denzel meletakkan mainan robot milik Marlene ke dalam kotak dan menghampiri piring berisi buah yang diletakkan Tifa. Dengan ragu, Denzel mengambil sebuah tusuk gigi dan mencoba beberapa buah serta meminum air di salah satu gelas dengan tutup berwarna hijau.
"Denzel-kun suka buah nya ?", tanya Tifa sambil tersenyum.
Denzel mengangguk. Marlene tersenyum malu dan menghampiri Tifa serta mengambil buah serta mengambil sebuah gelas dengan tutup berwarna kuning.
Tifa juga ikut mengambil buah dan minum dari gelas yang belum disentuh Marlene maupun Denzel.
"Denzel-kun, kalau boleh tahu bagaimana awal nya kau bertemu dengan Cloud dan tinggal di rumah nya ?"
Denzel terlihat tidak nyaman dan raut wajah nya menegang. Tifa baru saja akan membuka mulut nya untuk meminta maaf pada Denzel ketika Denzel tiba-tiba berkata.
"Sebelum bertemu dengan Cloud-nii, aku bersama dengan gerombolan pemulung anak-anak. Kemudian, suatu saat aku berjalan menuju gereja tanpa tujuan."
"Bersama gerombolan pemulung ? Kasihan sekali. Dimana orang tua mu ?"
"Okaa-san dan otou-san meninggal di sektor tujuh. Tetangga ku merawatku hingga akhirnya ia meninggal dan aku bergabung dengan gerombolan pemulung."
Tifa menatap Denzel dengan penuh simpati, begitupun Marlene yang cukup dewasa untuk dapat mengerti apa yang dikatakan Denzel. Tifa tanpa sadar ikut mengelus surai coklat Denzel dan menepuk punggung nya.
Denzel menatap Tifa dengan binggung dan akhirnya Tifa tersadar serta menghentikan diri nya yang mengelus dan menepuk Denzel.
"Lalu, setelah itu bagaimana ?", tanya Tifa.
"Aku menemukan motor Cloud-nii dan ponsel lupa dibawa nya dan digantung di stang motor nya. Aku sedang menyentuh ponsel nya ketika ia tiba-tiba menghampiri ku. Saat itu aku sangat takut dan mengira ia akan marah."
"Benarkah ? Ia tidak marah padamu, kan ?", Tifa bertanya dengan khawatir.
"Tidak, sebaliknya ia malah ingin mengantarku pulang. Akhirnya, Cloud-nii malah meminta ku untuk tinggal di rumah nya. Ia selalu pulang ke rumah dan menyiapkan makanan walaupun ia terlihat sibuk."
Tifa mengiyakan ucapan Denzel. Namun kini, pandangan nya terhadap Cloud benar-benar berubah. Ia mulai berharap bila Cloud adalah pria yang ditakdirkan bagi nya.
…..*…..
Cloud memacu fenrir nya sedikit pelan. Jadwal pengantaran nya sangat padat dan lokasi nya pun cukup jauh. Tubuh nya sedikit lemas setelah melakukan perjalanan jauh, terutama karena ia hanya sarapan dengan satu cup mie instant dan melewatkan makan siang dan malam.
Cloud melirik ponsel nya yang digantung di stang motor. Biasanya, Cloud selalu mengendarai motor dengan kecepatan tinggi sehingga cukup aman untuk menggantung ponsel di stang motor. Tentu saja, selama tali yang digunakan nya tidak putus dan membuat ponsel nya terjatuh di tengah jalan.
Jam menunjukkan pukul setengah sembilan malam dan Cloud memacu motor nya menuju ke sebuah restaurant cepat saji. Pria itu turun dari motor dan mengambil ponsel nya serta memasuki restoran cepat saji.
Restaurant cepat saji itu tidak terlalu ramai dan hanya terdapat beberapa meja yang terisi pelanggan. Tak ada seorang pun yang datang sendirian dan beberapa gadis yang duduk di salah satu meja terus menatap Cloud, entah apa yang dipikirkan mereka dan Cloud sama sekali tak menghiraukan nya.
Dengan cepat, Cloud memesan dan menerima makanan yang dipesan nya serta membayar nya. Ia risih dengan beberapa gadis yang sejak tadi menatap nya dan kini berbisik-bisik. Cloud memilih duduk di salah satu meja di sudut ruangan dan menikmati cola dan burger ukuran besar sendirian.
Lagi-lagi, Cloud menatap ponsel nya dan menahan diri untuk tak menghubungi Tifa. Ia sangat jarang makan malam sendirian dan kini ia merasa tak nyaman karena makan sendirian. Biasanya, ia akan makan bersama dengan para tentara infantry atau terkadang SOLDIER yang kebetulan ikut misi bersama dan bersedia makan bersama dengan nya. Satu-satu nya saat ia menikmati makan malam sendirian adalah ketika ia sedang libur, itupun biasanya Zack akan menelpon nya dan mengajak untuk makan dan menghabiskan libur dengan berjalan-jalan di kota bersama.
Cloud akhirnya tak dapat menahan diri dan ia mengangkat ponsel nya serta menghubungi Tifa. Terdengar suara Tifa di seberang telepon yang terdengar terkejut.
"Cloud ? Tak biasanya kau menelpon. Ada apa ?", ucap Tifa dengan heran.
Cloud sedikit ragu untuk mengatakan. Tiba-tiba saja ia merasa gengsi dan khawatir bila Tifa akan meledek nya.
"Uh… Denzel baik-baik saja, kan ?"
Terdengar suara tawa yang cukup keras dari seberang telepon dan Cloud sedikit menjauhkan telepon dari telinga nya.
Tifa berhasil menguasai diri dan berhenti tertawa serta berkata, "Dia baik-baik saja. Tenang saja, ia tidak bersikap nakal dan kini ia sedang bermain bersama Marlene."
"Ya. Terima kasih telah membantu ku merawat nya."
"Tidak apa-apa, sudah kubilang aku sangat menyukai anak-anak.", jawab Tifa. "Sudahlah, kau tenang saja dan beristirahat. Denzel berada di tangan yang tepat, kok."
Ucapan Tifa membuat Cloud sedikit tenang walau tak sepenuh nya lega. Belum sehari berlalu dan Cloud mulai merasa kesepian tanpa Denzel. Mungkin, inilah yang selalu dirasakan ibu nya ketika ia pergi misi dan tak kembali.
"Tolong hubungi aku bila terjadi masalah pada Denzel. Oyasumi."
"Aku pasti menghubungi mu. Bawel sekali sih, padahal kau bukan nenek-nenek.", keluh Tifa.
Cloud memasang ekspresi tidak suka dan membalas ledekan Tifa yang ditujukan pada nya sebelum Tifa cepat-cepat mengucapkan 'Oyasuminasai' dan menutup telepon.
Tanpa sadar, Cloud tersenyum dan beberapa orang yang duduk tak jauh dari meja nya menatap nya dengan aneh dan berpikir bila pria itu memiliki gangguan mental.
Dengan cepat, Cloud menghabiskan makan malam dan segera meninggalkan restaurant itu. Ia sangat lelah dan berharap dapat beristirahat dengan tenang di rumah.
…..*…..
Terdengar suara dering jam beker dan Cloud memaksakan diri untuk membuka mata dan mematikan alarm yang biasa selalu diatur nya agar berbunyi pukul setengah enam pagi. Kemarin, Cloud lupa mematikan pengaturan alarm sehingga alarm tetap berbunyi seperti biasa.
Cloud menggeliat dan menyentuh tepi kasur. Ia hampir lupa bila Denzel sedang menginap dan kini merasa kasur ukuran queen size milik nya jauh lebih lega dibandingkan biasa nya. Semula, ia berpikir dapat beristirahat dengan tenang karena tak perlu menyiapkan makan untuk Denzel. Namun, kini ia malah terbangun pukul setengah enam pagi dengan tubuh luar biasa letih dan ia tak dapat kembali tidur.
Cloud memaksakan diri memejamkan mata dan ia tertidur selama tiga jam hingga akhirnya sebuah suara kembali membangunkan nya. Kali ini, ponsel nya berdering dan Cloud membuka ponsel flip nya. Dari nada dering nya, Cloud dapat memastikan bila terdapat sebuah telepon masuk.
Terdengar suara seorang pria di seberang telepon dan Cloud mengangkat telepon sambil tetap memejamkan mata.
"Cloud ! Kemarin kau kemana ? Kau dan Tifa tidak masuk kerja, sehingga Yuffie dan seorang gadis bersurai merah mudah bernama Light menggantikan kalian sebagai bartender.", terdengar keluhan putus asa Zack.
"Ya, aku izin kemarin.", jawab Cloud dengan suara serak. Pria itu masih setengah terjaga dan ia tak begitu sadar dengan apa yang diucapkan nya.
"Kukira kau sakit.", ucap Zack dengan pelan. "Hari ini kau masuk tidak ? Gadis bernama Light itu cantik, deh. Walaupun agak tomboy sih."
"Tidak. Kau sudah memiliki Aerith.", Cloud masih tak sepenuh nya terjaga dan ia menjawab dengan asal.
"Ah, kau ini seperti tidak mengetahui sifat dasar pria saja. Kau juga pria, kan ? Seharusnya kau paham.", ucap Zack.
"Sudah, ya. Aku sibuk.", Cloud menjawab dengan asal dan bersiap
menekan tombol.
"Cloud,tu-", ucapan Zack terpotong dan Cloud mematikan telepon serta melempar ponsel ke sembarang arah serta kembali tidur. Belakangan ini ia kurang tidur dan kini ia benar-benar lelah hingga tak bisa beranjak dari kasur. Ia bahkan terus tertidur walau ponsel nya tak berhenti berbuntyi.
…..*…..
Aroma masakan mulai tercium dari dapur. Saat ini Tifa sedang memasak curry dan tempura untuk makan siang dan Denzel serta Marlene ikut membantu Tifa.
Ucapan Denzel mengenai kehidupan nya bersama Cloud membuat Tifa mulai khawatir. Denzel sedang masa pertumbuhan dan pekerjaan Cloud pun cukup berat. Ia tahu bila Cloud bekerja sebagai kurir dan bartender di bar milik nya dan dapat dipastikan bila pria itu tidak dapat cukup istirahat, apalagi bila harus mengurus seorang anak. Cloud dan Denzel jelas membutuhkan asupan makanan bergizi, sementara Cloud seringkali memakan mie instant atau membeli makanan yang tinggal dihangatkan dari supermarket yang tak sehat. Tifa mulai terpikir untuk memasak makanan bagi Cloud dan Denzel.
Tifa mematikan kompor dan memasukkan tempura yang baru digoreng ke atas piring setelah meniriskan minyak. Denzel membantu Tifa meletakkan piring itu di meja makan dan Marlene menyiapkan piring berisi nasi.
"Marlene, tolong tuangkan satu sendok curry ke piring, ya.", Tifa memberikan sendok sayur. "Tinggalkan saja piring di dekat kompor, nanti aku akan membawa nya ke meja."
Marlene mengambil sendok sayur itu dan melakukan perintah Tifa. Tifa mengeluarkan ponsel dan mencoba menghubungi Cloud. Ia berpikir untuk mengundang pria itu makan siang di rumah nya.
Tifa mencoba menghubungi Cloud beberapa kali dan seperti biasa nya Cloud tak mengangkat telepon nya. Tifa memutuskan menyerah dan kembali ke dapur serta tak menemukan piring curry itu. Marlene dan Denzel pasti sudah membawa nya ke meja makan.
Dugaan Tifa benar. Marlene dan Denzel telah menunggu di meja makan dan segera mengucapkan 'Itadakimasu' tepat ketika iris mereka menangkap Tifa yang berjalan mendekat.
"Itadakimasu", ucap Tifa dan ia mulai menikmati makanan. Ia mengakui bila rasa masakan nya tidak terlalu buruk walaupun kini ia mulai mengkhawatirkan apabila Cloud akan makan dengan baik.
"Tifa-nee, apakah Cloud-nii menelpon ?", tanya Denzel.
"Ya. Dia menelpon ku dan bertanya mengenai mu."
"Benarkah ?", iris Denzel membulat seketika.
"Ya, dia sangat memperhatikanmu. Dia bahkan meminta ku untuk segera menghubungi nya bila terjadi sesuatu pada mu", Tifa tersenyum pada Denzel.
Tifa merasa cemburu pada Denzel. Cloud begitu memperhatikan Denzel. Bahkan Cloud masih mengirimkan pesan singkat pada Tifa untuk menanyakan kondisi Denzel walau biasanya Cloud sangat sulit dihubungi. Tifa juga menginginkan perhatian yang sama dari Cloud.
...*…..
Cloud terbangun setengah satu siang dan perut nya terasa lapar. Ia menyalakan ponsel nya dan terdapat banyak panggilan masuk dari Tifa. Seketika, Cloud menekan tombol untuk menelpon kembali. Pasti terdapat sesuatu yang penting hingga Tifa menelpon lebih dari lima kali.
"Moshi-moshi, Cloud.", terdengar suara Tifa di seberang telepon.
"Apakah Denzel baik-baik saja ?", tanya Cloud dengan khawatir.
"Ya, dia baik-baik saja. Aku menelpon mu untuk mengajakmu makan siang bersama anak-anak di rumah ku."
"Makan siang ? Tentu saja aku pasti datang."
Baiklah, aku menunggu mu."
Cloud segera mandi dan mengganti pakaian nya. Karena hari ini ia sedang libur, ia memutuskan untuk mengenakan t-shirt, hoodie dan jeans serta sepatu skeds dan mengendarai motor nya menuju rumah Tifa.
Tifa segera membuka pintu setelah Cloud menekan bel dan menyambut Cloud. Denzel dan Marlene segera menghampiri Tifa dan Marlene segera memberi salam.
"Konnichiwa"
Cloud terkejut mendengar suara Marlene dan tersenyum pada gadis itu.
"Konnichiwa, Marlene-chan.", Cloud tanpa sadar mengacak rambut gadis itu dengan gemas. Tifa tersenyum menatap Cloud.
"Eh ? Onii-san tahu nama ku ?", Marlene balas tersenyum. "Oh ya, onii-san ini kekasih Tifa-nee, kan ?"
Seketika, jantung Tifa berdebar lebih keras dan wajah nya merah padam. Ia memang terbuka pada Marlene dan menceritakan pada gadis kecil itu mengenai perasaan nya pada Cloud. Dengan cepat ia menggelengkan kepala.
"Aduh, dia bukan kekasihku, Marlene-chan.", Tifa meringis dan menundukkan kepala. "Maaf, Cloud."
"Tidak apa-apa. Marlene-chan lucu sekali, ya. Kuharap ia dapat menginap di rumah ku kapan-kapan.", ujar Cloud.
Diam-diam Marlene tersenyum dan ia menarik tangan Cloud. Marlene menatap Cloud dengan tersenyum semanis mungkin.
"Onii-san menginap disini saja hari ini. Disini masih ada satu kamar kosong, kok."
Tifa dan Cloud saling berpandangan dengan canggung. Mereka tak tahu bagaimana harus mengatakan pada Marlene tanpa membuat gadis kecil itu kecewa.
"Sayang sekali hari ini aku tidak membawa pakaian ganti. Mungkin lain kali aku akan menginap.", ujar Cloud sambil mengelus kepala Marlene dengan lembut.
Marlene memonyongkan bibir dan terlihat kecewa. Namun sedetik kemudian ia berkata, "Bagaimana bila onii-san mengambil pakaian di rumah dan kembali lagi kesini ?"
Cloud kembali menatap Tifa. Ia benar-benar tak tahu harus menjawab apa. Ia berharap Tifa dapat membantu nya, namun seperti nya gadis itu juga binggung.
"Bagaimana, Tifa ?", Cloud berbisik di telinga Tifa yang berada di samping nya. "Kalau kubilang tidak, aku khawatir dia akan kecewa"
"Mau bagaimana lagi ? Masih ada kamar kosong, sih. Kau bisa tidur bersama Denzel di kamar itu.", jawab Tifa dengan pelan.
Tifa sangat sadar bila ia tak dapat lagi tidur di kamar yang sama dengan Cloud seperti dulu. Bukan berarti Tifa tak percaya pada Cloud dan curiga bila pria itu akan melakukan hal-hal yang tak senonoh padanya. Namun, ia sadar bila mereka berdua sudah dewasa dan hubungan mereka tak sedekat dulu. Akan terasa canggung bila mereka tidur di kamar yang sama.
"Baiklah, aku akan menginap hari ini."
"Arigato, onii-san.", Marlene tersenyum dan bersorak kegirangan.
…..*…..
Makan siang telah selesai dan Cloud sangat menikmati masakan Tifa. Sudah lama ia tak mencicipi makanan seperti itu, khusus nya masakan Tifa, dan ia sangat menyukai masakan gadis itu.
Kini, ia duduk di meja makan bersama Tifa, Marlene dan Denzel. Ia menatap Denzel yang sejak tadi terlihat ingin mengatakan sesuatu.
"Uh… Cloud-nii, aku sudah melakukan semua perintah mu selama berada di rumah Tifa-nee.", Denzel membuka pembicaraan.
"Ya, Denzel sangat baik lho. Dia bahkan membantu ku memasak dan membersihkan rumah, hasil pekerjaan nya juga sangat rapih. Kau mendidik nya dengan baik, Cloud.", puji Tifa. Ia terdengar seperti seorang ibu yang memuji putra seseorang.
Cloud tersipu dengan pujian Tifa. Sebagian karena merasa risih karena pujian Tifa yang membuat diri nya terkesan begitu tua dan sebagian karena merasa bangga.
"Ah, tidak. Jangan memuji ku seperti itu.", jawab Cloud dengan tersipu. Ia merasa gugup dan jantung nya berdebar.
Merasa canggung, Cloud bangkit berdiri dan meminta izin pada Tifa untuk kembali ke rumah dan mengambil pakaian nya. Tifa mengantar Cloud sampai ke depan rumah dan berkata, "Kau yakin akan menginap ?"
"Bagaimana, ya ? Aku sudah terlanjur janji pada Marlene."
"Aku bisa membantu mu membatalkan nya, sih."
"Terserah kau, Tifa. Aku tak benar-benar ingin menginap, hanya saja tak ingin mengecewakan Marlene. Namun aku juga tak ingin merepotkan."
"Kau tak pernah merepotkan, Cloud. Kau boleh menginap bila kau mau. Namun bila kau tidak mau aku dapat menjelaskan nya pada Marlene."
"Kalau begitu aku menginap saja. Hanya malam ini dan besok aku akan pulang."
Wajah Tifa merona. Sudah lama ia tak berada di rumah bersama pria dan kini ia malah merasa gugup.
"Ya. Berhati-hati lah di jalan.", Tifa melambaikan tangan pada Cloud yang bersiap menaiki motor.
"Jaa ne, Tifa."
…..*…..
Tanpa terasa kini senja telah berlalu dan Cloud benar-benar kembali ke rumah Tifa. Pria itu menepati janji nya pada Marlene dan sejak tadi Marlene terus menerus mengobrol dengan Cloud.
"Cloud, ini kamar mu dan Denzel untuk malam ini.", Tifa membuka pintu sebuah kamar di samping kamar milik nya. "Maaf bila ruangan nya seperti ini. Seharusnya ini kamar Marlene."
Cloud belum sempat menjawab dan Marlene segera menutup pintu.
"Tidak, Cloud-nii tidak boleh tidur disini. Cloud-nii tidur saja di kamar Tifa-nee dan aku bersama Denzel-nii."
"Tidak boleh, Marlene-chan.", ucap Tifa dengan tegas. "Tadi kau meminta Cloud-nii menginap dan dia menepati janji nya. Karena dia sudah menginap, kau harus meminjamkan kamar mu. Lagipula, biasanya kau selalu ingin tidur bersamaku, kan ?"
"Ya, Marlene-chan. Kami tidak boleh tidur di kamar yang sama.", Cloud tampak kesulitan menjelaskan pada Marlene.
"Lho, kenapa ? Kemarin aku dan Denzel-nii tidur satu kamar."
"Itu… karena kalian masih anak-anak. Kami berbeda", Cloud menolak.
Marlene memberi kode pada Denzel dan anak laki-laki itu mengedipkan mata pertanda bahwa ia mengerti.
"Sejak aku tinggal di rumah Cloud-nii, kau selalu tidur di kamar yang sama denganku. Kau pasti bosan, kan ? Sesekali, tidur saja di kamar Tifa-nee. Aku juga ingin tidur di kamar bersama Marlene-chan.", ucap Denzel.
"Tidak, aku tidak bosan. Kalau aku bosan, aku pasti tak akan menjemput mu, Denzel."
"Kudengar kalian berdua teman masa kecil yang sudah lama tak bertemu. Kalian pasti merasa rindu dan ingin membicarakan sesuatu secara privasi, kan ?", Denzel berusaha menghasut Cloud.
"Tidak", jawab Cloud dan Tifa bersamaan. Mereka saling menatap sejenak dan memalingkan wajah.
Denzel dan Marlene berlari memasuki kamar dan segera mengunci pintu. Cloud dan Tifa berusaha mengetuk pintu dan Marlene maupun Denzel tak berniat membuka pintu.
Tifa dan Cloud akhirnya menyerah setelah lima belas menit mengetuk pintu dan kedua anak itu tak kunjung membuka pintu.
"Tifa, kurasa malam ini aku tidur di sofa saja."
"Jangan, biar aku saja. Kau ini tamu ku."
"Tapi kau adalah seorang wanita. Tak mungkin aku membiarkan wanita tidur di sofa dan aku di kasur."
"Pokoknya kau tidak boleh tidur di sofa, Cloud. Pekerjaanmu berat dan kau pasti pegal bila tidur di sofa."
"Tapi, Tifa-"
"Aku sudah membantu mu merawat Denzel, lho. Kau harus mendengar ucapan ku."
Cloud memutuskan mengalah. Ia malas berdebat dan mengikuti Tifa masuk ke dalam kamar.
Sudah lama sejak kali terakhir Cloud masuk ke dalam kamar Tifa dan ia merasa takjub. Kamar gadis itu sangat berubah, tak ada lagi poster-poster Sephiroth yang tergantung di seluruh bagian dinding. Yang tersisa adalah foto Zack, Sephiroth dan Tifa di Nibelheim serta foto Tifa berdua dengan Sephiroth yang entah kapan diambil nya.
Tifa meletakkan sebuah guling di bagian tengah-tengah kasur sebagai pembatas.
"Cloud, ini batas. Kita berdua tidur di kasur."
"Ya.", jawab Cloud dengan wajah memerah. Ia adalah seorang pria dewasa dan pikiran nya tak lagi sepolos anak-anak. Membayangkan tidur bersama seorang gadis cantik dan sexy seperti Tifa membuatnya membayangkan hal lain yang juga dilakukan di tempat tidur.
Cloud mengganti pakaian nya dengan pakaian tidur dan begitupun Tifa. Tifa sengaja memilih celana panjang kain dengan t-shirt yang agak longgar karena malam ini ia bersama seorang pria di kamar.
"Oyasumi, Cloud.", ucap Tifa sambil menarik bed cover dan mengambil posisi membelakangi Cloud.
"Oyasumi.", Cloud menarik bed cover sisi lain dan menutupi tubuh nya.
Tifa benar-benar tak dapat tidur dengan keberadaan Cloud di samping nya. Ia telah memejamkan mata dan berkali-kali berganti posisi. Ia juga telah menggunakan tips untuk menghitung domba, namun tetap saja ia tak dapat tidur.
Tidur di samping orang yang disukai merupakan hal yang mendebarkan. Setidaknya begitulah yang dirasakan Tifa. Ia tak bisa tidur, namun harus segera tidur.
"Tidak bisa tidur ?", terdengar suara Cloud.
Tifa segera membuka mata dan menyalakan lampu. Ia menatap Cloud yang berbaring di samping nya.
"Ya. Aku tidak bisa tidur. Kau terbangun, ya ?"
"Tidak, aku juga tidak bisa tidur.", ujar Cloud sambil tersenyum. "Rasanya dulu kita sering tidur bersama. Sekarang malah terasa sangat canggung."
"Dulu kita begitu akrab. Aku masih ingat saat orang tua ku sedang pergi berlibur beberapa hari dan aku dititipkan di rumah mu. Saat itu kita tidur bertiga dengan okaa-san mu.", Tifa mengingat masa lalu.
"Ya. Saat itu kau tidur sambil menendang ku. Keesokan pagi nya tubuh ku terasa sakit sekali."
"Huh ? Benarkah ? Rasanya aku tidak memiliki kebiasaan tidur seperti itu. Okaa-san mu saja tak mengatakan apapun."
"Itu karena kau selalu menendang ku. Rasanya menakutkan sekali bersama dengan gadis yang sangat maskulin seperti mu.", ledek Cloud.
"Hey, kalau aku gadis maskulin maka aku takkan merawat anak-anak.", jawab Tifa dengan ketus.
"Memang nya hanya gadis feminine yang bisa mengurus anak ? Bahkan seorang pria seperti ku saja bisa mengadopsi anak,", balas Cloud sambil menyeringai.
"Itu karena kau pria feminine. Aku masih ingat kau terlihat sangat cemburu saat aku mengidolakan Sephiroth. Kau bahkan bertanya, "Apakah aku juga akan terlihat keren bila menjadi jenderal perang seperti Sephiroth ?". Sudah jelas saat itu kau cemburu."
"Aku tidak cemburu, Tifa.", Cloud dengan sengaja menekankan kata 'tidak'. "Aku hanya bertanya karena penasaran."
"Kau terdengar seperti cemburu."
"Tidak."
"Iya. Kau cemburu."
"Tidak. Untuk apa aku cemburu pada Sephiroth ?"
"Kau tidak mau mengakui nya, kan ?"
"Tidak, karena aku memang tidak cemburu."
"Sudah, mengaku saja deh."
Cloud dan Tifa tertawa bersama-sama. Sudah lama mereka tidak bertengkar seperti ini. Dan kini mereka benar-benar merasa seolah bernostalgia.
"Saat itu aku memang cemburu sih. Soalnya, kau hampir setiap hari membicarakan Sephiroth dan aku merasa kesal.", Cloud mengaku sambil menatap Tifa.
"Kenapa kau harus kesal ?"
Wajah Cloud memerah. Ia ingin segera mengatakan 'itu karena aku mencintai mu.'. Namun ia menahan diri walaupun ia hampir melontarkan kalimat itu tanpa sadar.
"Kenapa ya ? Aku juga binggung bagaimana menjelaskan nya."
"Oh begitu. Sebetulnya aku penasaran, bolehkah aku bertanya sesuatu ?"
"Ya, silahkan."
"Apakah kau memiliki kekasih ?"
"Tidak. Bagaimana dengan mu ?"
"Aku juga tidak. Tapi, kau pasti pernah jatuh cinta, kan ?"
Cloud merasa heran dengan pertanyaan Tifa. Apakah Tifa sudah mengetahui perasaan nya ? Namun ia tak siap bila Tifa segera mengetahui perasaan nya. Ia merasa belum siap menjadi kekasih gadis itu atau siapapun.
"Pernah. Kau tahu Aerith, kan ?"
"Tentu saja. Dia sudah bekerja lama di bar ku."
"Aku pernah jatuh cinta pada nya, namun aku bertepuk sebelah tangan. Kini, ia bersama dengan Zack. Bagiku, Aerith gadis yang keibuan dan dewasa. Aku suka yang seperti itu"
Deg ! Tifa terkejut. Ia tak menyangka bila Cloud menyukai gadis dewasa yang lemah lembut seperti Aerith. Ia tak merasa lembut dan keibuan, setidaknya dihadapan Cloud.
Tifa merasa seolah hati nya tercabik-cabik. Sudah jelas bila ia bukan tipe gadis yang disukai Cloud. Dan mungkin saja bila Cloud masih menyimpan perasaan pada Aerith walau ia sadar bila ia bertepuk sebelah tangan.
"Ya ampun, kasihan sekali. Lalu bagaimana dengan pertemanan mu dengan Zack ?"
"Baik-baik saja. Bagaimanapun Zack dan Aerith bebas memilih ingin mencintai siapa. Aku tak berhak melarang nya. Lagipula, sekarang aku sudah merelakan nya.",
Cloud tak berbohong, ia memang sempat memiliki perasaan spesial pada Aerith walau tak yakin bila ia benar-benar jatuh cinta pada Aerith. Saat itu ia berusaha melupakan Tifa dan di saat itulah ia bertemu Aerith yang menurutnya memiliki sifat yang keibuan seperti Tifa.
"Benarkah ? Kau sudah bertemu dengan gadis lain yang lebih baik dari Aerith ?"
"Sudah. Gadis itu lebih baik dari Aerith. Aku ingin menyatakan perasaan ku pada nya, namun aku masih ragu karena tak ingin merusak pertemanan kami."
Tifa benar-benar merasa ingin menangis. Hati nya terasa benar-benar sakit. Ia merasa senang saat dapat bersama Cloud, dan di saat yang sama ia mengalami patah hati.
Lidah Tifa terasa kelu dan mulut nya hambar. Ia berusaha keras membuka mulut untuk berbicara pada Cloud.
"Kau harus segera menyatakan perasaanmu sebelum terlambat, Cloud. Bila kau ragu, selama nya gadis itu takkan tahu perasaanmu.", Tifa berpura-pura tersenyum walaupun sebetulnya bibir nya terasa sulit diangkat. Senyum yang seharusnya tulus terlihat bagaikan sebuah senyuman yang dipaksakan.
"Curhat padamu terasa menyenangkan.", ucap Cloud. "Terima kasih atas saran mu."
Cloud hendak menanyakan pertanyaan pada Tifa. Namun Tifa segera mematikan lampu dan berkata, "Sebaiknya kita cepat tidur. Besok kita harus bangun pagi."
Dengan terpaksa, Cloud mengurungkan niat nya dan mulai memejamkan mata setelah mengucapkan 'selamat tidur'. Tifa membalikkan badan dan memunggungi Cloud serta menarik bed cover hingga menutupi wajah nya.
Air mata yang sejak tadi ditahan nya dengan susah payah kini mengalir deras bagaikan sebuah air mancur. Ia berusaha keras menahan isakan agar tak membangunkan Cloud. Kini ia sadar bila patah hati benar-benar menyakitkan. Cinta pertama nya berakhir dengan patah hati dan ia mau tak mau harus menerima tanpa bisa menolak.
Tifa merasa jantung nya seolah ditusuk ribuan tombak dan nafas nya terasa berat. Pertemuan pertama dengan Cloud adalah sebuah kesalahan, dan takdir yang terus menerus mempertemukan mereka juga mentakdirkan Tifa untuk mengalami patah hati dan kehilangan cinta pertama nya yang baru saja kembali bersemi, bagaikan kuncup bunga Sakura yang baru mekar dan harus segera gugur.
-TBC-
