THE DAY I'LL MEET YOU AGAIN

.

Jimin x Yoongi

(MinYoon)

.

.

Rated : T

Genre : romance

.

.

PERHATIAN

Tokoh milik Tuhan YME, agensi dan orang tua mereka. Aku hanya meminjam nama mereka. Cerita dan alur berasal dari pemikiran aku.

Cerita ini hanya fiktif sebagai penghibur untuk para pembaca. Apabila ada kesamaan alur seperti penulis lainnya dan cerita seperti di dunia aslinya, Aku tekankan bahwa itu hanya memiliki kesamaan dan aku tidak melakukan plagiat.

.

.

Selamat membaca!


Kota Seoul mengalami perubahan drastic selama dua puluh tahun ini. Kota yang dua puluh tahun lalu merupakan salah satu kota maju di dunia saat ini menjadi berkali-kali lipat lebih maju. Teknologi berkembang sangat pesat. Semua peralatan elektronik untuk kehidupan sehari-hari maupun untuk kepentingan negara dan penelitian mengalami perubahan lebih maju. Tenaga medis menjadi salah satu yang paling digiatkan di samping teknologi industry.

Bangunan-bangunan pencakar langit menjadi salah satu ajang perlombaan bagi para arsitek dan lulusan teknik sipil. Seperti yang kita lihat di film-film science fiction, bahkan satu negara se-Korea Selatan pun berubah layaknya yang ada di film-film. Hanya dalam kurun dua puluh tahun!

Semua kendaraan menggunakan tenaga surya yang ramah lingkungan, bahkan mulai saat ini tengah direncanakan mobil terbang seperti yang ada di film-film. Perusahaan robot mulai banyak didirikan. Robot dan manusia hidup berdampingan di jaman ini.

Semua terlihat oleh mata kepala Yoongi sendiri. Ia melihat begitu banyak manusia yang melakukan interaksi dengan robot-robot di taman kota siang itu. semua terlihat damai bersamaan dengan teknologi yang berkembang.

"Ada apa, Yoongi hyung?" tanya Jungkook di sampingnya yang membuat lamunan takjubnya buyar. Bahkan ia lupa bahwa dirinya sendiri merupakan sebuah Artificial Intelligence.

"Aku hanya merasa di sini sangat berubah." Jawab Yoongi.

Jungkook tersenyum. Ia melompat-lompat kecil di samping Yoongi dengan senangnya bak anak kecil. "Aku senang Yoongi hyung sudah kembali!"

Yoongi balas tersenyum kecil. "Aku juga. Kau bertambah manis ya."

Jungkook merengut sambil memajukan bibirnya. "Aku tidak manis! Aku ini tampan hyung, semakin tampan. Hyung malah tidak berubah dari dulu, tetap saja manisnya."

Yoongi merona di tempat.

'Dasar bocah! Bisa saja.' Batin Yoongi.

"Bagaimana perasaanmu saat ini, hyung? Akhirnya kau bangun lagi berkat Jimin hyung." tanya Jungkook sambil memelankan langkah kakinya.

Yoongi terdiam sejenak. Ia mengamati danau buatan yang cukup besar di taman kota itu. Di seberang danau itu banyak gedung-gedung tinggi berdiri menjulang. Taman kota ini adalah penyelemat bagi kota itu. Di antara gedung-gedung pencakar langit yang menutupi sinar matahari masih ada sebuah surga di antaranya.

"Entahlah. Ketika aku terbangun rasanya hampa. Terakhir aku ingat sebelum bangun adalah aku sedang duduk di kamar Jimin tapi pikiranku kosong. Seharusnya aku senang saat ini. Tapi aku tak bisa membohongi diriku kalau aku rindu masa-masa sebelum aku mati."

Jungkook mengangguk-anggukan kepalanya. Mereka berhenti di pagar pembatas tepi danau. Di tepi danau itu terdapat penyewaan perahu bebek yang pernah Yoongi lihat dulu.

'Ah, benda seperti itu ternyata masih ada.' Batin Yoongi.

"Di dekat sini ada restoran daging domba yang enak. Kau mau, hyung?" Jungkook menawarkan. Kemudian langsung dibalas dengan anggukan oleh Yoongi.

.

.

.

Yoongi tidak menyangka di antara modernisasi jaman masih ada restoran bergaya tradisional di sini. Ketika mereka memasuki restoran tersebut pelayan dan koki masih menggunakan peralatan pada jaman dahulu. Semua serba tradisional. Cara memasak, menyajikan, melayani dan peralatan makan pun masih menggunakan cara lama.

"Restoran ini bukan satu-satunya restoran tradisional di sini. Tapi bagiku makanan di sini nomor satu dibanding restoran-restoran di kota Seoul. Kau harus mencobanya, hyung." Kata Jungkook.

Yoongi mengikuti Jungkook memilih meja. Ia melihat riasan di dinding restoran yang masih menggunakan ornament kayu jati. Di dinding ada sebuah papan yang isinya sebuah piagam dari walikota bahwa restoran ini mendapat predikat terbaik.

"Eoh? JEON JUNGKOOK?! WOY!"

Tiba-tiba ada suara yang berteriak memanggil Jungkook. Mereka berdua menoleh dan mendapati tiga orang pria sedang duduk melingkar di sebuah meja bundar. Sontak Jungkook balas tersenyum, lalu menarik Yoongi mendekati mereka.

"Wah wah wah! Kok nggak ajak aku kalau makan-makan begini sih?" protes Jungkook. Di meja bundar itu terhidang beberapa makanan olahan daging domba.

"Kau kabur begitu proyek selesai." Kata seseorang dengan senyum kotaknya.

Yoongi memandang tiga pria itu. yang berbicara dengan Jungkook barusan memiliki senyum berbentuk kotak dengan tatanan rambut jamurnya. Sedangkan di depannya ada seorang pria yang terlihat kalem menanggapi mereka semua. Dari wajahnya terpancar kewibawaan. Dan di sebelah si senyum kotak ada seorang pria dengan wajah lonjongnya bak kuda –itu menurut Yoongi.

"Eoh? Yoongi hyung?!" seru si senyum kotak. Yoongi terkejut. Pria itu mengenalinya.

"Oh iya. Perkenalkan ini temanku dan Jimin hyung, juga Taehyung hyung." Ujar Jungkook.

"Emm… Min Yoongi imnida." Sapa Yoongi.

"Waaaah! Manisnya! Darimana asalmu?" tanya si pria kuda.

"Eh? Ehm… anu… aku… aku…"

"Dia sama seperti Taehyung hyung—" Jungkook melirik si senyum kotak yang bernama Taehyung. "—Dia dari Daegu juga. Iya kan Taehyung hyung?"

"Iya. hanya saja kami beda daerah." Kata Taehyung mengiyakan.

"Aku, Jimin hyung dan Taehyung hyung dulu teman satu sekolah. Kami bertiga berteman sejak SMP. Tapi saat kelas sembilan Yoongi hyung harus pindah kembali ke Daegu sehingga kami jarang sekali bertemu. Untungnya Yoongi kembali lagi enam bulan yang lalu." kata Jungkook menjelaskan. Ia melirik Taehyung, memberikan tatapan 'Ayolah iyakan saja'.

"Aku nggak menyangka Jimin punya teman semanis ini. Oh iya, perkenalkan aku Jung Hoseok. Tapi kau bisa memanggilku Hoseok atau J-Hope. Terserahmu sih, itu hanya nama bekenku di kantor." Hoseok memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangannya kepada Yoongi. "Aku juga teman Jimin di kantor."

"Oh, ya. Hoseok-ssi." Yoongi membalas jabatan tangannya. Ia memilih memanggil Hoseok dengan namanya ketimbang panggilan bekennya karena lebih mudah.

"Dan yang sok tampan ini namanya Kim Namjoon." Hoseok memperkenalkan Namjoon.

"Kim Namjoon imnida. Teman dekat Jimin saat kuliah." sapanya dengan kalem.

Yoongi menatap satu persatu pria itu. dari ketiga orang itu yang cukup ia kenali hanyalah Taehyung. Sedangkan dua orang lainnya sangat asing baginya.

"Ngomong-ngomong Jimin mana?" tanya Taehyung.

"Jimin hyung sedang ada pertemuan dengan rekan seprofesinya. Katanya mau membicarakan proyek penemuan baru." Jawab Jungkook.

"Cih, orang itu sibuk sekali." Cibir Hoseok bermaksud bercanda. Pasalnya Jimin jarang kumpul-kumpul bersama mereka karena saking sibuknya.

Mereka pun tenggelam dalam pembicaraan hangat. Namun hanya Yoongi saja yang diam mendengarkan. Ia sibuk melihat pemandangan luar melalui jendela restoran. Di luar sana dunia sudah berubah, tidak hanya Korea Selatan. Ia tidak menyangka sudah tertidur sangat lama hingga melewatkan semua perubahan ini.

.

.

.

Hari beranjak malam begitu cepat. Rasanya Yoongi baru saja sampai di rumah jam empat sore tadi –setelah berjalan-jalan bersama Jungkook dan teman-temannya- sekarang ia sedang menyibukkan diri di dapur menyiapkan makan malam.

Sudah menjadi kebiasaannya bahkan sebelum ia mati dua puluh tahun yang lalu untuk menyiapkan makanan baginya dan Jimin. Walaupun ia hanya sebuah robot dengan segala kecanggihannya, ia bisa memasak layaknya manusia pada umumnya.

Ia tersentak kaget ketika merasakan bahu kirinya memberat. Ia menoleh dan mendapati Jimin sedang menyandarkan kepalanya di bahu si manis. Senyumnya mengembang dengan manis dengan kedua mata terpejam lelah.

"Bagaimana harimu, Yoongi hyung? Apa saja yang kau lakukan hari ini?"

Tiba-tiba saja Yoongi merasakan yang namanya berdebar-debar. Ini adalah pertama kalinya dalam seumur hidupnya menjadi robot. Jimin bertingkah sangat manis padanya saat ini. sangat berbeda dengan Jimin dua puluh tahun lalu yang sifatnya pemalas, manja dan terlalu banyak mengeluh.

Dada Yoongi semakin merasa sesak ketika tangan Jimin melingkar di perutnya, memeluknya erat. Ia bisa merasakan udara panas di sekitar lehernya.

"Menyenangkan. Hari ini aku jalan-jalan dengan Jungkook, Taehyung, Namjoon dan Hoseok." Balas Yoongi.

Jimin menegakkan kepalanya. "Kau kenal dengan Namjoon dan Hoseok?"

Yoongi menggeleng. "Aku baru berkenalan dengan mereka hari ini. Aku dan Jungkook bertemu mereka di restoran dekat taman kota tadi."

Jimin mengeratkan pelukannya lalu kembali meletakkan dagunya di bahu Yoongi. Rasanya sangat nyaman seperti pelukan ibunya. Jimin bahkan sampai lupa kalau Yoongi adalah sebuah robot.

"Jimin, apa ada masalah hari ini?"

"Aku punya banyak sekali pekerjaan. Mungkin malam ini aku nggak tidur lagi. Aku harus menyelesaikan penelitian dari Profesor Jason. Kalau kau ingin tidur kau bisa pakai kamarku."

Yoongi mengangguk saja. Ia tidak begitu mengerti dengan yan dibicarakan Jimin. Tadi siang Jungkook menceritakan pekerjaan Jimin saat ini.

Jimin adalah seorang presiden, pemilik, pendiri dan profesor dari perusahaan J.M Inc yang ia bangun sendiri. Setelah bekerja di sebuah perusahaan robot ia memutuskan untuk mengembangkan ilmunya dan membuat perusahaannya sendiri dengan inovasi yang ia buat sendiri yaitu teknologi di bidang medis dan yang berguna bagi kehidupan manusia. Ia memanfaatkan kemampuan yang ia miliki selama ini sehingga ia bisa menjadi salah satu dari seratus orang di dunia yang berpengaruh dalam teknologi industry.

Yoongi tentu saja bangga. Ia tidak menyangka bocah yang dulunya pemalas, manja, urakan dan suka seenaknya itu menjadi sesukses ini. Yoongi tidak mengerti apa yang membuat Park Jimin menjadi sejauh ini.

"Aku suka berpelukan seperti ini denganmu. Kau hangat dan wangi. Aku suka." Bisik Jimin sambil mengusalkan wajahnya ke leher Yoongi. Hal itu membuat Yoongi merona.

"Lepas, Jim. Kamu nggak mau makan malammu hancur karena ulahmu?"

"Biarkan saja. Lagipula aku bisa memakanmu." Goda Jimin.

'Sejak kapan anak ini jadi perayu ulung?!' batin Yoongi.

"Ngomong a-apa sih! Memang bisa?" tantang Yoongi.

"Tentu saja bisa." Bisik Jimin. ia memutar tubuh Yoongi secara paksa hingga berhadapan dengan Jimin.

Tubuh keduanya menempel tanpa ada jarak seinci pun. Jimin menatap dalam-dalam mata indah Yoongi, begitu pula Yoongi. Perlahan-lahan Jimin mendekatkan wajahnya dengan wajah Yoongi. Semakin dekat, dekat dan dekat hingga bibir Jimin berada di depan bibir merah Yoongi.

"Ji-Jimin apa yang—mmmphht!" Ucapan Yoongi terpotong ketika bibir Jimin menyentuh kulit sintetis Yoongi.

Mata Jimin terpejam sambil menggerak-gerakan bibirnya di atas bibir Yoongi, melumatnya perlahan. Yoongi hanya terdiam dengan kedua mata yang terbuka lebar. Ia tidak berniat membalas ciuman Jimin sekalipun.

Jimin seakan lupa bahwa yang ia cium saat ini adalah sebuah robot super canggih. Yang ia tahu ia sedang berciuman dengan seorang yang selama ini ia cintai yang bernama Min Yoongi. Ia melupakan fakta bahwa bibir yang sedang ia lumat itu hanyalah kulit sintetis yang dibuat sedemikian rupa menyerupai kulit manusia.

Kedua lengan Jimin merengkuh erat tubuh Yoongi. Sedangkan lengan Yoongi mulai merambati dada Jimin lalu memeluk lehernya erat. Kedua matanya terpejam, menikmati intensnya ciuman yang Jimin berikan.

Kedua belah bibir itu bergerak seirama, sedikit terbuka dan berbagi lumatan ringan. Yoongi tersentak ketika Jimin melesakkan lidahnya ke dalam mulutnya –yang mengejutkan bahwa hampir seluruh tubuh Yoongi didesain sangat mirip dengan manusia bahkan rongga mulutnya sekalipun.

Dalam hidup Yoongi ia tidak pernah berciuman dengan siapapun, apalagi manusia yang seharusnya statusnya menjadi pemiliknya atau majikannya. Robot diciptakan untuk membantu manusia, melayani manusia dan dipekerjakan oleh manusia. Tidak ada sejarah mencatat kisah cinta antara manusia dan robot.

Kedua mata Yoongi terbuka dengan cepat ketika merasakan Jimin bertindak lebih dari ini. Satu tangan Jimin merambat masuk ke dalam bajunya, meraba kulit punggungnya yang mulus.

'Ini salah! Tidak mungkin! Ini salah besar!' batin Yoongi.

Dengan segenap kekuatan Yoongi mendorong tubuh Jimin menjauh. Ciuman mereka terlepas. Jimin menatap heran Yoongi. Sedangkan Yoongi menatap tidak percaya Jimin.

Mereka hampir bertindak di luar batas antara manusia dan robot. Kalau dibiarkan saja bisa berujung di antara keduanya untuk bercinta. Yoongi tidak ingin Jimin menjadi orang yang dianggap tidak waras karena mengajak robot sepertinya untuk bercinta.

"Yoongi, tadi itu—"

Yoongi berlari melewati Jimin. ia berlari naik ke lantai atas, masuk ke kamar Jimin dan mengunci pintunya rapat-rapat. Tubuhnya disandarkan di daun pintu. Dadanya terasa sakit. Ia ingin sekali menangis kencang seperti seorang gadis. Tapi seperti yang sudah ditegaskan bahwa ia tidak dirancang untuk menangis.

Akhirnya Yoongi hanya bisa merosot jatuh dan terduduk di lantai sambil meremat kepalanya yang terasa sakit. Program di tubuhnya bekerja secara acak, semuanya menjadi eror.

Malam itu ia menyendiri di kamar Jimin sambil mengerang menahan sakit, mengabaikan Jimin yang sejak tadi berdiri di depan pintu sambil mengetuk pintunya berkali-kali.

.

.

.

TBC

Cuap cuap penulis!

Akhirnya bisa update lagi!

Terima kasih yg udah meluangkan waktunya buat baca FF gak jelas ini :))

Semoga kalian suka!

Arigatou gozaimasu! Gamsahamnida!

-Hobi hyung-