"Chanyeol-ah, eotteyo?"

"Johseumnida, sepertinya akan menyenangkan bisa bekerja sama dengan kekasihku sendiri,"

.

.

.

OPPOSITE

©Cheesecake Vega

EXO (ChanBaek as main cast) and SM Family

.

.

.

"Baekhyun-ssi, majayo?" Tanya Hoijangnim padaku, dan ini salah satu hal yang aku benci menjadi jurnalis yaitu ketika tingkat kepo rekan kerjaku meningkat saat menemukan bahan berita, mereka seperti hyena yang menemukan mangsa.

"Animnida, Chanyeol sedang bercanda," bantahku terlampau cepat, membuat mata mereka semakin memicing.

"Baekhyun-ah, sepertinya rahasia kita harus segera diakhiri. Biarkan saja semua orang tahu kalau kita sudah menjadi kekasih, tak baik juga menyembunyikan berita besar," Ucap Chanyeol dengan tenang.

Tak bisakah dia melihat situasi sekarang? Saat ini semua orang seperti mendapat bonus seratus juta won, hal mustahil yang ada di depan mata mereka. Ketidakpercayaan, senang dan lega menjadi satu. Mendapat kabar aku berbaikan dengan Chanyeol saja rasanya mustahil apalagi mengetahui kami berhubungan, tentu saja semua orang merasakan sejuta hal yang bercampur aduk.

"Park Chanyeol shut up!" bentakku padanya, bahkan aku tak sadar telah berdiri dan menggebrak meja, keberadaan Hoijangnimpun kuabaikan karena aku benar-benar marah saat ini.

"Kalau bukan kekasih, mana mungkin semalam kita bisa tidur bersama?"

"MWO?!" celetukan Chanyeol berhasil membuat harmonisasi suara dari semua peserta rapat.

Hilang sudah kesabaranku, kuputuskan untuk meninggalakan ruang rapat dan kembali ke cubicleku. Aku rasa candaan Chanyeol saat ini sudah keterlaluan, aku masih bisa menerima dengan kejailan dia tentang rubahnya jadwal-jadwal atau panggilan-panggilan noraknya untukku. Tapi saat ini dia sudah mempermalukanku dihadapan semua orang, aku sudah tak bisa memaafkannya lagi.

Air mata tanpa terasa terus mengalir, kalau tak ingat deadline yang semakin dekat mungkin saja saat ini aku sudah membolos kerja dan memilih menangis di kamarku. Tapi kalaupun aku terus bekerja, mau aku taruh di mana mukaku. Aku tak bisa mengelak karena memang kenyataannya semalam kami bermalam di tempat yang sama, kalaupun aku mengelak kami tak melakukan apapun pasti tak ada seorangpun yang percaya.

Hidup sendiri di kota dengan tingkat kebebasan yang tinggi seperti Seoul membuat hubungan sex bukan lagi hal tabu, semakin aku mengelak akan semakin banyak berita tak mengenakan tentangku dan Chanyeol beredar. Tapi tak mungkin juga aku membenarkan berita yang bahkan kemunculannya saja bisa membuatku mual.

Kenapa chanyeol harus berkata seperti itu? Sebenci itukah dia padaku? Sebenarnya apa salahku hingga dia mempunyai dendam sebesar itu?

Kudengar gerombolan orang berbicara entah apa, terlalu banyak yang berbicara secara bersamaan sehingga aku tak bisa mendengar apapun. Sepertinya mereka orang-orang yang kembali dari ruang rapat, entah rapat telah selesai atau tertunda karena berakhir terlalu cepat. Yang jelas saat ini aku tak ingin bertemu dengan siapapun terutama mereka yang mendengar perkataan memuakan Chanyeol di ruang rapat.

"Baekhyun-ah, gwaenchanha?" sebuah suara bertanya padaku, itu Luhan.

"Kau bisa melihat sendiri keadaanku yang berantakan," jawabku ketus.

"Chanyeol sedang bercanda seperti biasa, kenapa kau sampai menangis?" tanyanya kembali.

"Bercanda? Itu bukan sebuah candaan, tapi menjatuhkan harga diri. Candaan Chanyeol saat ini sudah keterlaluan, aku tak bisa memaafkannya,"

Aku tak tahu kalau jawabanku sudah berubah menjadi bentakan ketika melihat ekspresi terkejut Luhan, kemarahanku pada Chanyeol membuat emosiku sulit untuk dikendalikan terlebih aku memang orang yang meledak-ledak.

"Mianhae Luhan-ah, aku hanya terbawa emosi," ucapku kemudian, aku tak mau permasalahanku dengan Chanyeol menjalar pada hubunganku dengan orang-orang di sekitar kami.

"Nado, aku tak bisa membaca suasana. Meeting pending sampai nanti sore, dan kau di minta tetap datang,"

"Terima kasih untuk infonya, semoga nanti sore suasana hatiku bisa lebih baik," ucapku sembari mencoba tersenyum pada Luhan.

"Geureohji, itu baru Baekhyunku yang selalu tersenyum manis," pujinya kemudian, "Baiklah aku harus kembali bekerja, deadline kita sama-sama sempit."

.

.

.

Kumasuki kantin tempat biasa aku mengisi perut ketika kelaparan melanda, beberapa pasang mata mulai menatap sejalan dengan langkah kakiku. Ada yang menatap dengan pandangan penasaran, dan ada pula yang memandangku dengan pandangan meremehkan.

Bahkan ada yang terang-terangan menyebut kata munafik, kulirik siapa orang tersebut dan ternyata dia adalah salah satu fans Chanyeol yang kuketahui. Dia memang sering melihatku dengan pandangan tak suka, aku berpikir dia hanya iri karena tak bisa dekat dengan Chanyeol. Aku yakin otaknya sedikit bermasalah karena tak bisa membedakan makna kata teman, kekasih dan musuh.

Setelah mengambil makanan, kupilih kursi yang sudah menjadi tempatku menikmati makan siang. Lirikan dan bisikan tentang hubunganku dengan Chanyeol masih terdengar samar di telingaku, tapi aku mencoba mengabaikannya. Sejujurnya aku sangat lapar, tapi bibim guksu tak bisa kunikmati saat ini. Rasanya sangat hambar dan sangat sulit kutelan.

Konsentrasi pada bibim guksu terpecah ketika tarikan kursi di meja yang juga kududuki terdengar. Chanyeol, Luhan dan Sehun yang menarik kursi-kursi tersebut.

Kucoba mengabaikan keberadaan mereka walau bibim guksuku terasa makin sulit untuk ditelan. Keberadaan Chanyeol hanya menambah riuh penggosip di kantin, tak salah mereka menjadi reporter ketika berita besar seperti ini menjadi bahan utama. Andai saja aku dan Chanyeol adalah selebriti, mungkin saja berita tentang kami esok hari mampu menghabiskan semua halaman majalah dan juga koran.

"Baekhyun-ah," panggil Chanyeol yang tentu saja kuabaikan.

Luhan dan Sehun saling melirik canggung satu sama lain, akupun akan bersikap seperti mereka ketika terjebak ditengah pertengkaran orang lain.

"Aku tadi hanya berniat bercanda seperti biasa, aku tak tahu kalau reaksimu akan berlebihan seperti ini," lanjutnya, "Apa perlu aku minta maaf? Biasanya aku tak pernah meminta maaf karena kita sudah terbiasa seperti ini, tapi sepertinya sekarang kau benar-benar marah,"

Apa dia gila? Disaat aku sudah menangis dan bersikap tak sopan pada Hoijangnim bisa-bisanya dia berkata seperti itu, otaknya benar-benar sudah rusak. Adakah diantara kalian yang tahu tempat reparasi otak? Aku ingin mengganti otaknya dengan otak gurita.

"Baekhyun-ah ucapkan sesuatu, tega sekali kau mengabaikan kekasihmu sendiri," rengeknya.

Kucoba fokus kembali pada bibim guksu yang tinggal setengah porsi, terus meyakinkan diri bahwa orang yang sedang merengek padaku ini adalah CD bajakan yang sudah rusak dan sangat mengganggu ketika didengarkan.

Tepat ketika bibim guksuku habis, kubersekan alat-alat makan dan bersiap menyimpannya di tempat pencucian. Sehun dan Luhan masih saling lirik dan tidak bersuara sedikitpun, Chanyeol masih terus memanggil-manggil namaku dengan nada yang semakin menyebalkan.

"Eodi ga?" panggilnya lagi yang kubalas hanya dengan lirikan singkat.

"Ya Byun Baekhyun aku masih belum selesai makan, kau mau pergi ke mana?" teriak Chanyeol saat aku meninggalkan kantin.

.

.

.

Menenangkan pikiran di toilet entah sejak kapan menjadi kebiasaanku, rasanya hanya di tempat ini ketenangan selalu muncul, mungkin karena Chanyeol tak akan bisa muncul di sini. Selain itu aku senang mendengar suara tetesan air, rasanya mampu mengantarkanku ke tempat jauh yang tak bisa dijangkau siapapun, hanya sayang saja saat ini aku di toilet kantor yang semua orang bisa masuk.

Saat ini aku sedang memperbaiki make up di westafel, bumbu bibim guksu tadi sedikit merusak riasanku. Kurasakan seseorang berdiri menyender di samping kaca tempaku bercermin, dia terus tersenyum menyebalkan, kalau aku tak salah ingat dia adalah orang yang menyebutku munafik. Sejujurnya aku tak mengenalnya, yang kutahu dia salah satu staff desain majalah kami sehingga aku jarang berhubungan langsung dengannya.

"Ternyata Byun Baekhyun yang terkenal itu tak lebih dari seorang munafik, kau takut disebut murahan karena bisa tidur dengan siapa saja?" ujarnya dengan nada meremehkan yang kentara.

"Joisonghamnida kita tak saling mengenal, tidak baik menilai seseorang yang tidak kita kenal dengan seenaknya," jawabku ketus.

"Ah majayo, kita tidak saling mengenal tapi aku tahu kau siapa. Kau orang yang berpura-pura bermusuhan dengan Chanyeol supaya bisa tidur dengan Chanyeol tanpa disebut murahan,"

"Aku rasa ini semua tak ada hubungannya denganmu sama sekali, mau aku bermusuhan ataupun kekasih Chanyeol tidak akan merubah hidupmu. Aku rasa semua oarng sudah mempunyai masalah masing-masing dan aku harap kau tidak menambah masalahmu sendiri dengan mencampuri urusanku, akan percuma saja aku menceritakan apa yang terjadi pada wanita yang sudah dibutakan kebencian,"

Aku pergi meninggalkan toilet dengan perasaan yang semakin tak menentu, aku tak ingin menambah musuh terlebih itu rekan satu kantor sendiri. Bayangkan saja bagaimana rasanya bermusuhan dengan orang yang bahkan tak kukenal.

Bukan aku tak ingin menjelaskan permasalahan sebenarnya, tapi rasa tidak sukanya padaku tak akan membuat dia mempercayai apa yang kuucapkan. Semuanya useless dan hanya membuang energy, lebih baik aku gunakan tenagaku untuk bekerja dan melupakan cibiran-cibiran disekelilingku.

.

.

.

Meeting yang tadi pagi tertunda akhirnya harus dilakukan di sore hari, posisi duduk masih sama seperti tadi dan aku berharap tak ada kejadian buruk terjadi lagi. Aku tahu Chaneyol masih mencuri-curi pandang padaku, tapi sebisa mungkin tak kuhiraukan.

"Kita akan meneruskan meeting yang tadi pagi tertunda, semoga kejadian tadi pagi tidak tejadi lagi," ujar Hoijangnim membuka meeting, aku hanya menundukan kepala karena bagaimanapun kacaunya meeting tadi pagi sebagian adalah kesalahanku. "Jinri-ssi, silahkan sampaikan review majalah kita bulan lalu,".

Meetingpun berjalan cukup kondusif, Chanyeol terlihat tak sedikitpun menyela pembicaraanku padahal biasanya dia yang paling menggebu dalam mematahkan ide-ideku, dan begitupun aku yang akan dengan percaya diri menolak semua usulannya.

"Baiklah aku rasa semuanya sudah jelas, untuk tema dan konten apa saja yang akan kita muat di EXO Magz edisi yang akan datang, untuk penanggung jawab aku percayakan pada Tiffany-Ssi," tutup Hoijangnim pada meeting kali ini.

Aku cukup bernafas lega karena bukan aku atau Chanyeol ditunjuk menjadi penanggung jawab edisi depan, karena aku tak tahu harus bagaimana bekerja sama dengannya disaat keadaan sedang panas seperti sekarang. Kami memang menerapkan sistem rotasi dalam menentukan penanggung jawab tiap edisi, hal itu ditujukan agar semua orang merasakan beban yang sama dan tidak ada keirian pada posisi yang sama.

"Ah jamkkanmanyo Baekhyun-ah, Chanyeol-ah, aku lihat kalian belum menyelesaikan masalah kalian, aku tak mau itu berpengaruh pada pekerjaan kalian jadi aku tak mengijinkan kalian berdua keluar dari ruangan ini sebelum masalah kalian selesai, arasseoyo?" tambah Hoijangnim padaku dan Chanyeol.

Kami berdua saling melirik, bedanya Chanyeol menatapku penuh harap sedangkan aku menatapnya dengan tajam, "Ne Algesseumnida," jawab kami kompak.

"Joha. Nah yang lain silahkan kalian pulang dan biarkan Orion dan Scorpius menyelesaikan masalahnya sendiri,"

Satu persatu orang dalam ruangan ini pergi sampai hanya menyisakan aku dan Chanyeol, cukup lama kami masih duduk di kursi masing-masing hingga kudengar helaan nafas berat dan dia mulai berdiri, Chanyeol berjalan mendekatiku, dia duduk di kursi sampingku.

"Baekhyun-ah, kita tak akan pernah bisa menyelesaikan masalah ini apabila kau masih diam seperti ini, setidaknya jawab panggilanku,"

Aku masih tetap dalam mode mogok berbicara, sejujurnya diam dalam satu ruangan dengannyapun aku malas. Terjadi keheningan cukup lama hingga Chanyeol melanjutkan ucapannya.

"Geurae mianhae, aku tahu perkataanku tadi pagi agak keterlaluan, tapi aku tak berniat mempermalukanmu sedikitpun, aku hanya mencoba bercanda seperti biasanya. Bias any kau tak pernah sampai semarah ini. Jinjja mianhae,"

"Kau mungkin mudah berkata maaf tapi tak akan bisa merubah keadaan yang ada, memangnya kau mau besok membuat pengumuman dan mengatakan kalau ucapanmu hanya bagian dari candaan? Dan apabila kau mau melakukannya apa itu cukup meredam gossip-gosip tak enak tentang diriku?" tanyaku bertubi-tubi, air mata yang tadi pagi sempat keluar kembali menetes deras di pipiku. Aku kembali mengingat kejadian di toilet, wanita mana yang tidak sakit hati apabila disebut wanita murahan terlebih oleh orang yang tak kau kenal.

"Neo ureo? Baekhyun-ah uljima jebal, aku tak pernah bisa menenangkan wanita menangis, uljima," ujarnya kelabakan saat melihat air mataku terus menetes.

Bukannya makin tenang, tangisku makin menjadi malah terkesan meraung-raung layaknya anak kecil. Chanyeol semakin panik, dia mulai berdiri dari kursinya dan kepalanya mencari kira-kira benda apa yang bisa mendiamkanku.

"Ya Baekhyun-ah uljima, geumanhae. Kau ingin melihatku menangis juga? Aku benar-benar tak bisa mendiamkan orang menangis."

Sekarang tubuhnya mulai mengitari ruangan, raut frustasi kentara sekali tergambar di wajahnya.

"Aish di sini tak ada balon atau permen, eotteohkkaji?" gerutunya masih bisa kudengar.

"YA! Kau pikir aku anak kecil?" bentakku disela tangisan.

"Lantas apa yang kau inginkan supaya aku bisa menghentikan tangismu?" balasnya seraya duduk kembali di sampingku.

"Sudahlah," jawabku lirih.

Keheningan kembali menghampiri kami, berdua dengannya dalam keadaan sepi seperti ini sangat cangung karena biasa selalu ada hal yang akan kami perdebatkan.

"Apa ada yang menyakitimu? Tak biasanya kau menangis seperti tadi hanya karena kejahilanku, walau aku tahu aku keterlaluan tapi pasti ada faktor lain yang membuatmu menangis," tanyanya setelah beberapa menit berlalu.

"Itu urusanku, sekarang kita hanya memecahkan masalah diantara kita," jawabku.

"Walau aku selalu jahil padamu, aku hanya tak mau ada orang lain yang menangis karena diriku. Kau bisa bilang kalau memang ada orang yang mengganggumu gara-gara perkataanku,"

"Eobseo. cepatlah jangan berbelit-belit, aku ingin pulang dan beristirahat," percuma juga kalau aku adukan perkataan fansnya, karena akupun tak tahu siapa orang tersebut.

"Aku sudah meminta maaf padamu, apa kau mau memaafkanku?" tanyanya kemudian.

"Sebelum itu, aku ingin bertanya sesuatu padamu. Kenapa kau senang sekali menjahiliku?" tanyaku balik padanya, ini pertanyaan yang sedari dulu ingin kutanyakan padanya tapi aku terlalu gengsi untuk bertanya langsung.

"Molla. Setiap kali aku melihatmu, kau seperti anak anjing yang minta diajak bermain maka dari itu aku menjahilimu,"

"MWORAGO?! YA NEO MICHEOSSEO? Na saramiya,"

Apa dia gila? Bagaimana mungkin aku disamakan dengan binatang? Dan yang lebih parah dia menjahiliku karena aku mirip anak anjing yang minta diajak bermain, dia gila, benar-benar gila.

"Na ara, aku tak bilang kau anak anjing, tapi mirip anak anjing," bantahnya.

"Sama saja, mana mungkin aku yang cantik ini mirip dengan anak anjing? Bahkan aku tak memiliki bulu," ujarku masih dengan nada sewot.

"Ya! Aku tak menyamakan fiksikmu dengan anak anjing, ekspresimu itu yang mirip anak anjing," balasnya.

"Tapi kau tak bisa menyamakannya dengan anak anjing, kau kan bisa berbicara baik-baik kalau ingin main denganku," ucapku.

"Itu tak terencanakan, karena biasanya anak anjing akan mendekat apabila dikerjai maka dari itu aku memilih mengerjaimu. Lagipula aku tak mau kau besar kepala karena orang tampan sepertiku mengajakmu bermain,"

"Dasar menyebalkan," gerutuku, "Lantas sekarang apa yang akan kita lakukan untuk menyelesaikan masalah kita?"

"Sepertinya kita hanya meneruskan peran kekasih kita, bukankah ada peribahasa alah bisa karena terbiasa? Siapa tahu kita akan terbiasa karena terus mencoba saling memahami, aku rasa dengan seperti itu hubungan kita bisa membaik,"

Kalau kupikir, idenya memang tak salah juga. Dia tak membenciku, tapi karena senang menjahiliku akhirnya sifat bertolak belakng kami muncul. Kalau kami mencoba saling memahami, akhirnya sifat pengertian itu akan muncul juga dan akhirnya kami akan berbaikan.

"Baiklah, untuk saat ini aku setuju denganmu. Tapi bagaimana dengan teman-teman di kantor? Mereka sudah terlanjur termakan omonganmu, dan aku yakin itu tidak mudah terlupakan begitu saja," tanyaku kemudian

"Kita hanya perlu jujur pada mereka kalau kita memang kekasih, tapi bukan seperti kekasih pada umumnya. Kita berhubungan hanya ingin memperbaiki hubungan kita, aku yakin mereka lebih mengerti apabila diberi kejujuran,"

Tak pernah ada kebohongan yang baik, seburuk apapun kejujuran adalah yang terbaik. Benar kami harus jujur dan menghadapi ini semua bersama karena bagaimanapun kekacauan ini berasal dari kami berdua, orang diluar sana hanya menyiumpulkan dari apa yang mereka tahu.

Dengan bertemunya jabatan tangan kami, maka semenjak hari ini kami resmi sebagai kekasih dan mencoba membuang image Orion dan Scorpius di antara kami.

.

.

.

_TBC_

.

.

Minal aidin semuanya, Selamat Hari Raya Idul Fitri bagi readers yang merayakannya.

Maaf banget kalau updatenya kepending lama, beberapa minggu kemarin sempet sibuk dan gara-gara sibuk itu aku sampe jatuh sakit, bahkan sampe hari inipun aku gak bisa makan sembarang makanan. Sedih banget disaat semua orang suka cita Lebaran sambil makan-makan aku cuma bisa liatin aja. Ngetik inipun aku cicil tiap hari tiap aku sempet pegang laptop, dan Alhamdulillah banget hari ini selesai malah aku panjangin dari chapter-chapter lalu sebagai THR dan permintaan maaf hehehehe

Oh ya soal akun naver, aku udah relain karena emang gak bisa diapa-apain lagi tapi akun ini insyaallah bakal terus jalan pake email baru.

Dan masalah fans Chanyeol di atas, aku bingung kasih charanya ke siapa jadi itu anonym, dan tenang aja ff ini gak akan aku kasih konflik berat yang artinya gak akan ada orang ketiga ganggu mereka. Ff ini Cuma fokus di hubungan Chanbaek yang awalnya opposite berubah jadi sejalur sepemikiran (?).

Aku mau ngucapin makasih juga buat yang udah follow, favorite ff aku yang judulnya our secret, gak nyangka animonya lebih dari ff ini. Dan saat ini aku lagi ngerjain ff oneshot lainnya, ff itu terinspirasi dari kisah sahabat aku sendiri sekaligus permintaan maaf aku buat dia, semoga aku gak mandek di tengah jalan ngetiknya gara-gara baper hahaha. Tapi Cuma terinspirasi doang, karena hampir keseluruhannya dari ide aku sendiri.

Karena a/n nya udah kepanjangan, akhir kata aku mau ngucapin lagi maaf dan makasih buat semuanya, reviewnya masih aku tunggu loh. Sampai ketemu di chapter selanjutnya.