Title : Spring Bakery

Cast(s) : Kyuhyun – Ryeowook – Seohyun

Author : Miyoko's Caramel


KIM YESUNG melepaskan mantelnya saat seorang pria berjalan mendekatinya sambil membawa botol semprot dan sebuah kain kecil bersih. Pemuda bermata sipit itu memperbaiki letak kacamata gayanya sebelum menerima dua benda pembersih tersebut untuk jadwal rutin bergilir. Hari ini, tugas piketnya.

"Dimana Jongjin?" tanya Yesung saat pria dengan rambut coklat yang merupakan salah seorang pegawainya itu hendak pergi. Dan ketika pegawai itu sudah membuka mulut untuk menjawab, suara derap langkah kaki yang menuruni anak tangga disertai suara yang memanggil nama Yesung, membuat keduanya beralih pada seorang pemuda yang mengenakan sweater abu-abu dan jeans hitam.

"Jinjja. Ha! Kau kalah, hyeong. Aku sampai duluan." Jongjin tertawa riuh sambil menunjuk Yesung menggunakan ujung tongkat pel. "Artinya, kau harus membayarku kali ini. Pasta Itali dan Belgian waffle untuk makan siang, itu janjimu," serunya penuh kemenangan.

Yesung mendengus, "Kau selalu cepat dalam urusan seperti ini."

Jongjin tertawa lagi. Ia menyerahkan tongkat pel yang sebelumnya ia gunakan untuk membersihkan lantai dua pada pegawai pria yang masih berdiri di sana sambil meminta untuk diambilkan botol semprot dan kain seperti Yesung.

"Aku tidak peduli. Tepati atau ketenaranmu sebagai fashionista tampan asal Korea di twitter dan instagram lenyap karena aku menyebarkan video konyolmu saat tidur."

Yesung mendelik, tidak suka dengan ancaman 'mematikan' dari Jongjin. Adiknya itu memang mempunyai sebuah rekaman video yang memperlihatkan bagaimana sisi buruknya ketika tidur. Ia mengutuk dirinya yang lupa mengunci pintu kamar hingga Jongjin bisa masuk sesuka hati dan merekamnya.

Ia bersikap tak acuh dan memilih segera bekerja membersihkan permukaan-permukaan meja dari debu yang menempel kafe dibuka. Yesung menulikan kedua telinganya saat mendengar Jongjin menertawainya lebih keras.

"Ayolah. Jangan begitu. Kalau kau marah, aku akan menyebarnya lebih cepat." Jongjin menggodanya sambil menerima dua pembersih yang dimintanya dari seorang pegawai. Ia berjalan mendekati meja di dekat Yesung, dan semakin jahil mengganggu.

"Diam dan bekerja saja, Jong– Uh? Kyuhyun?" Yesung mengernyit saat melihat seseorang yang tidak asing berdiri di depan pintu kafe. Pemuda itu meletakkan botol semprot dan kain pembersihnya sebelum melangkah menuju pintu.

Jongjin mengikuti pergerakan Yesung dan mengangkat satu alisnya. Kyuhyun tampak berdiri di luar kafe yang sepi. Ia melirik jam tangannya yang masih menunjukkan pukul 07.03AM.


Cho Kyuhyun mendongak begitu Jongjin mengantarkan satu gelas hot americano padanya. Ia berucap terima kasih, dan menyesap minuman itu perlahan untuk menghangatkan tubuhnya.

"Jadi, apa yang membawamu kemari pagi-pagi sekali, Kyuhyun-a?" tanya Yesung, langsung ke inti. Ia masih tidak mengerti mengapa tiba-tiba Kyuhyun datang ke kafenya yang belum dibuka. Bahkan, ia sedang bersih-bersih saat melihat Kyuhyun berjalan masuk pelataran kafenya dan mengetuk pintu yang masih tergantung tulisan 'Closed'.

Kyuhyun meletakkan gelasnya di atas meja dan memandang Yesung dengan tatapan yang aneh, antara serius dan ragu-ragu. "Well, aku ingin bertanya padamu tentang Ryeowook dan Seohyun."

"Wow! Dua gadis manis dengan berbeda kepribadian dari Spring Bakery itu, ya?" Jongjin menimpali. Ia mengambil salah satu kursi kosong dan duduk di sana dengan bagian punggung kursi berada di depan dadanya. "Aku sudah lama tak melihat mereka. Bagaimana kabarnya?"

"Kau mengenal mereka?"

"Ya. Aku sering ikut saat Yesung-hyeong pergi membeli roti di Spring Bakery untuk camilan, atau karena titipin untuk acara kecil eomma dan teman-temannya. Jadi, yah... aku cukup mengenal baik mereka. Kim Ryeowook dan Seo Joo Hyun. Tapi akhir-akhir ini aku sibuk, dan Yesung-hyeong sepertinyajuga jarang pergi ke toko itu lagi."

"Kau pikir, hanya kau saja yang sibuk, huh?" Yesung bertanya sinis. "Memangnya ada apa dengan Ryeowook dan Seohyun? Apa kau menerima surat aneh lagi dari sana?"

"Ania."

"Lalu, apa yang membuatmu penasaran seperti ini? Kau bisa bertanya padaku melalui telepon atau pesan singkat jika hanya ingin mengetahui Spring Bakery. Tapi melihatmu datang pagi-pagi, aku yakin ada hal lebih yang ingin kau tahu dariku."

Kyuhyun tersenyum lebar dan Jongjin memandangnya bingung.

"Sesuai perkiraanmu, hyeong. Apa kau tahu lebih jauh tentang mereka? Maksudku... aku yakin, selain 'pelanggan-setia' kau pasti punya 'hubungan' dengan mereka."

Kedua mata Yesung membesar dari balik kacamata bingkai hitamnya, "Kenapa kau seperti sedang bertanya pada selingkuhan kekasihmu? Aku tidak suka pertanyaanmu."

"Hyeong..." Kyuhyun merengek. Semakin membuat tanda tanya menggantung di atas kepala Jongjin yang hanya memperhatikan.

"Serius, Kyuhyun. Apa kau mulai tertarik pada mereka? Hanya karena pesan-pesan aneh itu, kau ikut bertingkah aneh? Tsk~ Jinjja. Kau bahkan pernah menerima banyak surat cinta dari secret admirer saat masih sekolah dulu, tapi kau tidak tertarik untuk mencari tahu siapa pengirimnya. Dan sekarang hanya karena surat berisi; Semoga-kau-suka-roti-ini, kau tertarik? Kepalamu terbentur di mana?"

Kyuhyun meringis, "Hyeong, awalnya aku memang tertarik karena pesan itu. Tapi sekarang, sepertinya bukan hanya karena itu. Dan kepalaku tidak terbentur apapun. Kau yang terbentur. Aku bertanya sekali, kau berkata panjang lebar."

Yesung memiiat pelipisnya. Sedangkan adik laki-lakinya tertawa. Apa mungkin Kyuhyun sedang jatuh cinta?, pikirnya.

"Baiklah. Aku memang bukan hanya pelanggan setia. Tapi teman baik mereka." Cerita Yesung sesaat setelah mengambil nafas. "Aku dan Seohyun pernah menjadi relawan di salah satu desa di Daegu selama enam bulan. Kami menjadi partner."

"Lalu?"

"Lalu? Tentu saja kami berteman sampai Seohyun mengenalkanku pada Ryeowook, kakak sepupunya."

"Eh? Sepupu?" Kyuhyun memotong dengan terkejut. "Mereka saudara sepupu?"

"Ya. Nama keluarga mereka berbeda. Seo dan Kim. Apa kau tidak menyadarinya?" tanya Jongjin, yang hanya dibalas gelengan kecil Kyuhyun. "Mereka adalah saudara sepupu. Kudengar dari Seohyun, orangtua Ryeowook meninggal karena kecelakaan ketika dia masih sekolah dasar. Dan hak asuhnya jatuh pada keluarga Seohyun karena hanya mereka satu-satunya keluarga Ryeowook di Seoul."

"Em. Seohyun juga mengatakan kalau sebelumnya Ryeowook adalah pribadi yang ceria, namun karena kecelakaan itu dia berubah menjadi pendiam, dingin, datar dan sering muncul tiba-tiba seperti hantu."

"Seperti kau." Jongjin menunjuk Yesung tanpa ragu. "Lalu tentang Spring Bakery. Itu juga milik orang tua Ryeowook. Tapi, entah mengapa dia malah menyerahkannya pada Ibu Seohyun."

Kyuhyun membulatkan bibirnya.

"Dan sekarang apa informasi yang kau dapatkan sudah cukup? Hanya itu yang kami tahu," ujar Yesung, sedikit menguap. Ia melirik jam tangannya sebentar sebelum mengambil ponselnya yang bergetar.

"Cukup. Terima kasih. Tapi, sebelumnya... Kenapa kau memanggil Seohyun dan Ryeowook dengan tidak formal seperti itu, Jongjin?" Kyuhyun mengangkat alis kanannya saat menyadari Jongjin memanggil dua gadis itu tanpa akhiran –ssi.

"Aku seusia dengan Ryeowook. Sedangkan Seohyun lebih muda dariku. Jadi tidak apa, kan?"

"S-Seusia? Artinya dia lebih tua dariku?"

"Hanya lebih tua beberapa bulan saja, sama sepertiku. Aish~ Aku lapar. Kau mau sarapan bersama?"

"Hei, Kyu." Yesung mendahului Kyuhyun yang baru ingin membuka mulutnya. "Apa kau mematikan ponselmu? Changmin mengirimku pesan, dan bertanya apa kau mampir kemari untuk sarapan."

"Issh~ Aku tidak mengerti. Apa Changmin menyisipkan kamera kecil atau alat penyadap ditubuhku sehingga dia bisa tahu keberadaanku? Tadi dia mengirimku pesan ketika aku berada di pasar, dan sekarang di kafe–"

"Pasar?"

Kyuhyun menoleh pada dua kakak beradik Kim itu. "Ya. Pasar. Wae?"

"Sejak kapan seorang Cho Kyuhyun yang kami kenal, pergi ke pasar?" tanya Jongjin, diikuti tatapan interogasi dari Yesung. Keduanya merasa sesuatu yang penting harus dijelaskan sekarang.

Dan Kyuhyun hanya meneguk paksa ludahnya. Ini akan menjadi pagi yang panjang dan menyebalkan.


Spring Bakery


"Siapa yang pergi bersamamu ke pasar?"

Kim Ryeowook mendongak. Ia melirik pada Seohyun yang bertanya, lantas sambil melanjutkan sarapan paginya, ia menyebut nama Kyuhyun dengan datar.

"Kyuhyun-ssi? Kenapa bisa ada di sini? Apa kau membuat janji dengannya?"

"Tidak ada. Aku bahkan tidak tahu nomor ponselnya."

Seohyun mengangguk mengerti, dan kembali menikmati omurice –sarapan paginya yang tersisa sedikit dipiringnya. Setelah itu, ia beranjak dari tempatnya, "Aku akan membantu Ibuku menyiapkan roti-roti. Nanti kau langsung ke toko, ya."

Ryeowook hanya bergumam dan tetap bersikap 'sibuk' dengan sarapannya sampai ia merasa yakin tidak ada siapapun lagi di ruangan tersebut. Ryeowook merogoh saku celana jeans-nya untuk mengambil sebuah saputangan hitam. Milik Kyuhyun. Ia lupa mengembalikannya pada lelaki tinggi itu.

"Aku yang mendatanginya, atau menunggu dia datang kemari?" tanyanya pelan. Ryeowook melupakan sarapannya dan menatap sapu tangan yang sedikit kotor karena tepung. Wajahnya sedikit memerah ketika mengingat apa yang terjadi di pasar sebelum sapu tangan ini ada padanya.

Gadis itu menggeleng-gelengkan kepalanya dan menghela nafas panjang sambil menggaruk pipinya yang tidak gatal dengan jari telunjuk. Kenapa aku jadi seperti orang bodoh?


"Aku pulang. Hoaaaam~"

Lee Sungmin datang dari arah dapur sambil membawa mesin vacuum cleaner. Namja berwajah seperti kelinci itu langsung meletakkan benda itu ke lantai, dan memandang Kyuhyun dengan jengkel dengan kua tangan yang berada di pinggang.

"Kau darimana saja sejak pagi tadi, huh? Kata Changmin, kau sudah tidak ada di ranjang saat pukul empat lebih."

"Hanya mengunjungi teman." Kyuhyun melangkah ke sofa dan menghempaskan tubuhnya di sana. "Jangan bertanya alasan. Dia temanku, jadi aku bebas kapan saja mengunjunginya."

"Tapi, pagi buta? Kau gila. Dan kau pergi hampir selama empat jam." Sungmin memutar kedua bola matanya. Ia mendorong mesin vacuum cleaner menggunakan kakinya, dan memasukkan kabelnya ke dalam stop contact.

"Satu setengah jam terakhir, aku habiskan di kafe Yesung-hyeong dan Jongjin. Aku sarapan di sana," jelas Kyuhyun dengan suara parau. "Memangnya ada apa? Kau sedang butuh bantuanku, hyeong?"

"Ya. Siwon menghubungiku tentang pesta besok. Kita bertanggung jawab untuk menyiapkan makanan manis. Salah satu dari kita harus pergi ke toko dan memesan. Tapi aku terlalu sibuk mengurus kekacauan yang kalian buat di apartment ini."

"Lalu, kemana yang lainnya?"

Sungmin berhenti dan menoleh, "Donghae dan Hyukjae pergi ke upacara pernikahan teman SMA mereka. Changmin harus menjenguk salah satu kerabat dekatnya yang sakit. Mereka bertiga baru akan pulang setelah makan malam. Kau ingat, bukan kalau dua pria cengeng itu punya hutang dengan si perut karet?"

Kyuhyun mengangguk, "Ramen, ya? Eung~ Lalu apa kau berniat menyuruhku?"

"Siapa lagi yang bisa aku suruh, huh?"

"Tidak! Aku lelah sekali hari ini. Lakukan saja sendiri. Lagipula, jika sibuk, kau bisa menelepon, hyeong. Ada buku telepon di sana, dan di dalamnya ada banyak nomor telepon toko kue. Jadi, telepon saja, katakan pesananmu, lakukan pembayaran dan tada.. kue sampai! Selamat tidur!"

Sungmin tidak terkejut, tetapi emosinya cukup bisa naik mencapai ubun-ubun jika ia tidak mengenal siapa itu Kyuhyun. Ia memilih menghela nafasnya dan dengan kesal, melangkah menuju meja telepon setelah mematikan vacuum cleaner. Ia melakukan hal yang Kyuhyun katakan.


"Baiklah, kami akan mengantarnya. Terima kasih sudah memesan, tuan." Seohyun menutup telepon dan menoleh pada Ryeowook yang sedang melayani seorang pelanggan di meja kasir. "Malam ini, sepertinya kita harus lembur. Ada pelanggan yang memesan kue dan roti."

"Kenapa tidak datang kemari saja dan membeli langsung?"

"Entahlah. Tapi kau pasti tahu bagaimana orang-orang di Seoul, bukan? Sibuk."

Ryeowook melirik buku kecil yang digunakan untuk menyimpan alamat-alamat pelanggan yang memesan melalui layanan pesan antar dari telepon. Gadis itu mengambilnya dan membiarkan Seohyun yang bergantian melayani pelanggan di kasir.

"Apartment Kyuhyun," gumamnya pelan namun masih bisa membuat Seohyun mendengarnya. "Ini alamat apartment Kyuhyun."

"Darimana kau tahu, huh?"

"Saat pulang dari supermarket kemarin. Kami satu bus, dan dia berhenti di kawasan apartment ini."

"Lalu, apakah nomor kamar yang di sana, adalah miliknya?"

"Tidak tahu. Aku tidak pernah masuk ke sana." Ryeowook menggeleng dan menyimpan buku itu.

"Mungkin kita bisa tanyakan pada Yesung-oppa. Dia mengenal Kyuhyun."

Ryeowook tidak menjawab. Gadis itu memilih memperhatikan pemandangan di luar jendela. Dan ketika sudut matanya menangkap sepasang kekasih yang sedang berpelukan di seberang jalan, ia bisa merasakan wajahnya memanas –lagi. Ia memalingkan wajahnya dan merogoh saku celana panjangnya untuk mengambil sapu tangan hitam Kyuhyun.


Spring Bakery


"Bangun, Kyuhyun-a!" Changmin berteriak sambil menarik paksa selimut tebal yang menutupi tubuh sahabatnya itu. "Hei, kau berhutang cerita padaku. Cepat katakan, apa saja yang kau lakukan kemarin?"

"Apa maksudmu? Aku tidak melakukan apapun kemarin," sahut Kyuhyun sambil menyembunyikan wajahnya di bawah bantal. Ia jengkel karena Changmin mengambil selimutnya.

"Hey, kau kencan. Setidaknya beritahu aku siapa gadis itu dan aku mengenalnya atau tidak."

"Bukan urusanmu. Kembalikan selimutku!"

"Aniya! Ceritakan dulu!"

Kyuhyun mengerang. Namja itu beranjak dari ranjangnya dan melempar bantal miliknya ke arah Changmin. Ia berjalan mendekati lemarinya, mengambil beberapa pakaian serta sebuah handuk sebelum keluar dari kamar tidurnya dan masuk ke dalam kamar mandi.

"Issh~ Baiklah! Terserah kau saja! Pelit sekali." Changmin menggerutu sebal diluar kamar mandi. "Aku akan pergi keluar. Sungmin-hyeong pergi ke minimarketdan akan pulang sebentar lagi. Sedangkan dua EunHae itu pergi ke rumah Siwon-hyeong."

"Tenanglah. Tidak perlu berkata seperti itu. Aku bukan anak kecil yang akan merusak rumah ketika ditinggal sendirian."

"Ya, ya. Sesukamu sajalah. Aku pergi!"

Kyuhyun menyahut dengan gumaman keras karena sedang menyikat gigi. Tidak lama, ia mendengar pintu apartment yang terbuka, dan tertutup. Kyuhyun tetap melanjutkan mandinya sepuluh menit kemudian sampai ia keluar hanya menggunakan kaus dalam dan celana pendek santainya sambil mengeringkan rambutnya yang basah menggunakan handuk. Ia berjalan menuju ruang makan, berharap menemukan sarapan di sana. Tapi lelaki itu mendengus saat hanya melihat roti dan selai di atas meja.

Kyuhyun membuka lemari pendingin dan mengambil sebuah susu kotak dari sana. Menuangkannya dalam mug dengan tulisan 'I Love Japan' dan meneguknya hingga suara bel mengiterupsinya. Bukan Sungmin, pikirnya. Kyuhyun masih sempat mengambil selembar roti dan berjalan menuju pintu depan untuk melihat siapa yang datang.

"Ya?"

Hening.

Kyuhyun terpaku melihat siapa yang ada dibalik pintu, dan sang tamu juga mengalami hal yang sama.

"Ryeowook-ssi? A-Ada apa kau kemari?"

"Ini."

Namja itu tersentak saat Ryeowook menyodorkan dua buah kotak kue yang besar padanya sambil memalingkan wajahnya. Ia menerimanya ragu dengan kening yang berkerut saat melihat gadis di depannya itu menarik nafas sebelum kembali menatapnya lurus... dan datar.

"Pesanan atas nama Lee Sungmin," ujar Ryeowook. "Bisakah aku menerima pembayaran sekarang?"

Kyuhyun terdiam sesaat sampai akhirnya Sungmin datang dengan dua kantung plastik ditangannya.

"Oh, sudah datang, ya? Cepat sekali. Berapa yang harus kubayar?"

Ryeowook menyerahkan sebuah bon yang langsung diterima Sungmin. Lelaki itu mengeluarkan dompetnya dan menyerahkan beberapa lembar uang kertas sesuai nominal yang tertera di atas bon.

"Terima kasih," ucap Sungmin yang hanya direspon bungkukan hormat Ryeowook sebelum ia pergi. "Uh? Dia terlihat pendiam. Sepertinya berbeda dengan yang menerima telepon kemarin," komentarnya sambil terus memperhatikan punggung kecil itu yang menghilang setelah masuk lift. Sungmin berniat melangkah masuk ke dalam apartment, namun Kyuhyun menghalangi pintu.

"Kau memesan roti dari Spring Bakery?"

"Eung? Ya. Wae?"

"A-Ania." Kyuhyun menggeleng dan masuk ke dalam sambil mengapit selembar roti dimulutnya. Meninggalkan Sungmin di belakang yang menatapnya bingung.

"Hey, Kyu. Apa kau baru selesai mandi saat menerima tamu?"

"Ya."

Sungmin melangkah mengikuti Kyuhyun ke ruang makan. Namja itu memasang tampang ragu sambil menunjuk Kyuhyun, "Dengan pakaian seperti itu kau berani menerima tamu perempuan?"

Kyuhyun menegang. Ia menunduk melihat penampilannya sendiri dan mendongak dengan cepat untuk menatap horor ke arah Sungmin. Roti terlepas dari mulutnya, dan sekelabat bayangan ketika Ryeowook memalingkan wajah, kembali mengisi pikirannya.

"JINJJAAAAA~! Tidak mungkin!"


"Ada apa dengan Kyuhyun?" tanya Donghae ketika melihat Kyuhyun duduk di sofa dengan gelisah setelah ia pulang bersama Hyukjae dari rumah Siwon –tidak lama setelah Sungmin kembali.

Yang ditanya tertawa kecil, "Dia sepertinya lupa kalau kita punya interkom hingga tidak mengeceknya dulu sebelum membuka pintu untuk tamu. Kau tahu, pengantar roti yang kupesan kemarin adalah perempuan dan dia menyambutnya hanya dengan menggunakan kaus dalam juga celana pendek."

Hyukjae ikut tertawa. Bahkan lebih keras hingga tidak menyadari raut wajah Kyuhyun yang berubah.

"Hentikan itu, monyet jelek! Bisakah kau bersikap respek padaku? Kau semakin mengacaukanku!"

"Respek? Hahaha.. M-Maaf. Tapi aku tidak percaya kau seperti itu. Bagaimana mungkin kau lupa mengecek interkom sebelum menerima tamu perempuan? Hahahaha.."

"YA! Kubunuh kau, Lee Hyukjae!" Kyuhyun berlari mendekati dan bersiap untuk mencekik leher Hyukjae -yang tentu saja segera menghindar itu. Kyuhyun berusaha meraih pemuda yang lebih tua darinya itu, namun suara Sungmin menghentikannya.

"Apa ini?"

Kyuhyun melihat ke arah Sungmin yang berdiri di dekat meja makan sambil memegang sesuatu dari ditangannya. Sebuah kertas.

Donghae yang duduk di sebelahnya, mengambil kertas tersebut dan membacanya. Keningnya sedikit berkerut membaca tulisan kalimat rapi di sana.

Hai, Kyuhyun-ssi

Aku berharap kau benar tinggal di apartment yang sama dengan Lee Sungmin-ssi supaya ini tidak berakhir ditangan orang lain^^

Saat menerima pesanan kalau kalian memesan sebuah pavlova dan satu lusin kue bulan sabit (croissants), aku berpikir kau sedang membuat pesta seperti waktu itu.

Kau tahu, pavlova adalah kue yang memiliki penampilannya menarik, namun sedikit ketika kau memakannya, kau akan tahu kalau kue itu manis khas krim. Kupikir ini persis dirimu yang terlihat menyebalkan dari luar, tapi ternyata sangat menyenangkan dari dalam.

Sedangkan roti bulan sabit, aku tidak tahu kata apa yang cocok untuk roti ini selain enak. Tapi yang hanya bisa kuberitahu padamu adalah membuat croissant tidak semudah penampilannya. Kami harus membuat adonan saling terjalin dengan sempurna.

Sama seperti halnya pavlova, apa croissant ini mengingatkanmu pada sesuatu? Kkkk~

Ah-ya! Nikmati ini dan pestamu^^ Semoga harimu menyenangkan!

"Huh? Kyuhyun, apa kau tahu sesuatu tentang– YA!" Donghae berteriak kaget saat Kyuhyun dengan sembarangan merebut kasar kertas itu darinya. Ia mendesis sebal dan memilih membantu Sungmin yang sudah sibuk dengan kantung-kantung belanjaan dari minimarket.

Hyukjae mengintip dari bahu Kyuhyun begitu yakin kalau maknae itu tidak akan berniat mencekiknya lagi. Laki-laki yang dipanggil 'monyet' oleh Kyuhyun itu tertawa kecil membaca pesan itu.

"Biasanya, aku mendengar surat rahasia dalam loker ataupun surat kaleng dalam kotak surat. Tapi... surat dalam sebuah kotak roti, huh? Hahaha.. Itu sangat tidak elit."

"Bukan urusanmu!" Kyuhyun meliriknya sinis. "Sungmin-hyeong, apa kau menemukan kertas semacam ini lagi di kotak roti lainnya?"

"Aniya. Hanya ada satu itu."

Kyuhyun mengangguk. Ia berjalan keluar dari dapur diikuti pandangan tidak mengerti Hyukjae. Namja itu kembali duduk di sofa dan memperhatikan pesan itu.

"Kupikir, Yesung-hyeong benar. Ini aneh. Bukankah seharusnya mereka tidak tahu kalau aku tinggal di sini. Ryeowook memang tahu apartment-ku, tapi dia tidak tahu nomornya. Sungmin-hyeong memesan roti atas nama dirinya. Bukan namaku. Dan..."

"Uh? Dia terlihat pendiam. Sepertinya berbeda dengan yang menerima telepon kemarin."

"Dan ada kemungkinan Seohyun yang menerima telepon kemarin," lanjut Kyuhyun begitu mengingat ucapan Sungmin. "Kotak kue sepertinya baik-baik saja. Artinya surat itu sudah ada sebelum kotak roti disegel. Tapi bagaimana bisa surat ini tertulis atas namaku meski nama pemesannya itu Sungmin-hyeong?"

"Baiklah. Aku memang bukan hanya pelanggan setia. Tapi teman baik mereka."

Kedua mata Kyuhyun membesar. YESUNG!

To Be Continued

Annyeong~~!

Hwaaa~ Maafkan karena keterlambatanku tentang ff ini. Aku sedikit ada masalah sama koneksi dan ide xD *ditabok

Tapi semoga ff yang panjang dan membosankan(?) ini bisa memberitahu kalian kalau aku masih melanjutkan ff ini dengan waktu posting yang tidak jelas. Jeongmal mianhaeyo~~! *bow bareng para cast(?)

Ah ya, karena gak bisa balas komen kalian satu persatu, aku pengin ucapin big thanks untuk yang mau ngikutin sampai part 03 kemarin:

| ryeo ryeong | Guest | Key yoshi | Alif ryeosomnia | yuran212 | oktavannya12 | bryan ryeohyun | RiyantiKWS | Raiaryeong9 | FikaClouds | Oelfha100194 | dhia bintang | nisaaa9 | danislee1133 | sushimakipark | bluerose | Diitactatorlove | Augesteca | wookiewook

Maaf kalau kesalahan ketik nama user atau ada yang lupa disebut atau justru beda user tapi orangnya sama (._.). Pokoknya makasih. Moga jodoh sama bias *walau kayaknya Ryeowook-i yang bakal jadi banyak istrinya xD

[Kesalahan dalam TYPO, BAHASA, EYD mohon dimaafkan]