Please, Choose Me

Chanyeol dan Baekhyun adalah sepasang suami istri yang bahagia 'dulu'. Ya, itu dulu. Chanyeol yang pada dasarnya seorang playboy, tidak bisa begitu saja meninggalkan kebiasan buruknya mempermainkan hati wanita. Akankah kehadiran seorang anak diantara mereka mampu mengubahnya ?

.

.

.

Cast : Chanyeol, GS! Baekhyun, GS! Luhan, GS! Kyungsoo, Jongin, Daehyun

Tokoh akan semakin bertambah seiring waktu

No flame

No bash

.

Happy Reading~

.

.

.

Aku mematut diriku di cermin. Kemeja kotak-kotak dan jeans hitam yang kukenakan tampak sempurna di tubuhku. Aku terkekeh membayangkan reaksi kekasihku saat melihat kedatanganku yang tiba-tiba. Rona merah yang menjalar di pipinya dan tingkahnya yang malu-malu. Astaga, membayangkannya saja sudah membuatku gemas ingin mencubit pipi gembilnya itu.

Aku menyambar kunci mobil yang terletak di atas nakas dan mengemudikan mobilku menuju mansion milik Baekhyun. Berbagai rencana berputar di kepalaku. Aku tak sabar untuk menghabiskan hari ini dengan kekasih mungilku.

Heh, Jongin pasti akan menyerit jijik melihat ekpresiku jika ia di sampingku saat ini. Ck, mari kita lupakan namja kehitaman itu sejenak dan fokus pada kencanku.

Mansion keluarga Byun yang cukup megah terpampang di hadapanku, aku harus melapor pada satpam yang berada di posnya. Setelah berdiskusi selama beberapa menit aku pun diizinkan masuk.

Aku memencet bel dengan tidak sabaran. Hell yeah siapa yang bisa bersabar saat sedang kebelet berkencan ? Aku menyiapkan suaraku agar terdengar seksi saat Baekhyun muncul nanti.

"Chanyeol-ssi ?"

Aku menyerit heran karena suara ini terdengar sedikit asing. Aku mengangkat wajahku dan menemukan yeoja mungil di hadapanku. Namun ia bukan Baekhyun, itu Luhan.

"Luhan-ssi, apa aku bisa bertemu Baekhyun ?"

"Baekhyun tidak ada di rumah. Kukira ia pergi bersamamu"

"M-mwo ?" aku terkejut mendengar ucapan Luhan, kemana sebenarnya Baekhyun pergi

"Baiklah, terima kasih. Aku permisi dulu Luhan-ssi"

Aku mengemudikan mobilku tak tentu arah, aku tak tahu apa yang harus kuperbuat. Rencana kencanku telah gagal. Mungkin saja Baekhyun sedang mengerjakan tugas kuliahnya, pikirku. Aku teringat pada bocah cilik yang kuanggap seperti anakku sendiri.

Aku memutuskan untuk menjemputnya di panti asuhan dan berniat mengajaknya jalan-jalan. Ia pasti bosan jika terus berada di panti. Tak apalah jika istriku sibuk, aku bisa mengajak anakku hari ini.

"Hei, Park Hyukkie. Kau sedang apa ?" aku membuka pintu kamar Hyukkie dan menemukannya tengah duduk di atas ranjang, posisinya yang membelakangiku membuatku tak bisa melihat apa yang dilakukannya. Ia menoleh dan tersenyum lebar saat mengetahui jika aku datang.

"Appa, lihat. Hyukkie baru saja selesai menggambar"

"Apa yang kau gambar, heum ?" aku duduk di ranjangnya dan menariknya ke dalam pangkuanku

"Ini appa, eomma, dan Hyukkie" Hyukkie menunjukkan gambarnya padaku, aku tersenyum dan mengacak surai kehitaman miliknya

"Hyukkie pintar menggambar rupanya" kutarik pipi gembilnya yang terlihat menggoda itu

"Appo ! Hiks hiks"

"E-eh ? Hyukkie kenapa menangis ?" mataku membelalak kaget mendengar isakan Hyukkie

"Pipi Hyukkie sakit gara-gara appa" ucapnya sesenggukan

"Ugh, mian. Hyukkie terlalu menggemaskan sih. Sini biar appa obati" aku menariknya mendekat dan mencium pipinya bergantian

"Nah, sudah. Apa masih sakit ?" ia hanya menggeleng sebagai jawaban

"Maafkan appa, ne ?" aku menangkup kedua pipinya dan menyatukan kening kami

"Umm" ia mengangguk imut

"Sebagai permintaan maaf, bagaimana kalau kita jalan-jalan ?"

"Apa eomma akan ikut juga ?"

"Aniya. Eomma sedang sibuk, sayang. Lain kali saja ya kita jalan bertiga ? Sekarang Hyukkie sama appa dulu, ne ?"

"Ne, tapi Hyukkie pakai baju apa ?"

"Biar appa pilihkan" aku berjalan menuju lemarinya yang terletak di sudur kamar, aku tertohok melihat isi lemarinya yang hanya terdiri dari beberapa potong baju. Setetes liquid bening membasahi pipiku. Namun aku buru-buru menghapusnya saat kurasakan tarikan di celanaku.

"Appa, kenapa lama sekali ? Ayo cepat ambilkan baju untuk Hyukkie~"

"Arra arra, anak manja" aku mencubit pelan hidungnya lalu kembali fokus pada lemari. Pilihanku jatuh pada kaos biru muda dan jaket bergambar Mickey Mouse.

"Hyukkie pakai ini saja, ne ?" aku membantunya berganti pakaian, setelah selesai aku menggandeng tangannya menuju lamborgini hijau milikku yang terparkir indah di depan panti.

"Appa ganti mobil ? Woahh mobilnya bagus !" Hyukkie meloncat kegirangan, aku terkekeh melihat tingkah lucunya itu

"Hey hey, jangan loncat-loncat begitu. Kajja kita berangkat" aku membuka pintu mobil dan mendudukkannya di kursi penumpang. Setelah itu aku menghempaskan diriku di kursi pengemudi.

"Kita akan kemana, appa ?" tanya Hyukkie saat aku mulai menjalankan lamborginiku

"Hyukkie mau kemana ?"

"Hyukkie mau makan~" ucapnya pelan sambil memainkan jarinya di depan dada

"Hahaha, arraseo. Kau mau makan apa, heum ?" aku tertawa renyah mendengar jawabannya

"Umm, seafood. Apa boleh, appa ?"

"Tentu saja. Appa akan memberikan apapun yang kau mau" aku mengacak rambutnya pelan

Kami pun bertolak ke sebuah restaurant seafood yang sering kukunjungi. Hanya butuh sekitar lima belas menit untuk sampai ke restaurant itu.

"Kajja, kita masuk" aku menggandeng tangan mungil milik Hyukkie dan mengajaknya masuk ke dalam restaurant

"Selamat datang, Tuan Park. Anda ingin meja nomor berapa ?"

"Aku ingin meja yang terletak di samping jendela itu"

"Baiklah, mari saya antar" pelayan itu mengantar kami ke meja pilihanku

"Appa, mejanya terlalu tinggi" rengekan Hyukkie membuatku memusatkan perhatian padanya. Aku terkekeh melihat keadaannya sekarang. Hanya sebagian kepala dan matanya yang terlihat olehku.

"Bisakah kau carikan kursi yang lebih tinggi ?" pintaku pada pelayan yang berada di sampingku

"Baik, Tuan. Ini daftar menunya. Saya akan kembali dengan membawa kursi pesanan Tuan" pelayan itu berlalu dan meninggalkan kami. Aku melihat deretan menu yang mayoritas berbahan dasar seafood itu, aku mengalihkan pandanganku pada Hyukkie yang tengah serius membaca daftar menu.

"Kau mau pesan apa, heum ?"

"Aku mau baked crab with mayonnaise"

"Permisi, Tuan. Ini kursi pesanan anda" pelayan tadi datang dengan membawa kursi yang cukup tinggi, ia mengganti kursi Hyukkie dengan kursi yang dibawanya

"Apa anda sudah siap memesan ?" ia mengeluarkan pena dan note kecil

"Baked crab with mayonnaise dan grilled squid"

"Minumannya, Tuan ?"

"Orange juice !" pekik Hyukkie penuh semangat dan membuat pelayan itu tersenyum tipis

"Baiklah, dua orange juice"

"Baik, Tuan" pelayan itu berlalu meninggalkan kami

"Hyukkie.." panggilku pelan

"Wae, appa ?" ia menatapku penuh dengan mata bulatnya

"Kau mau kemana setelah makan ?" tanyaku sambil menyangga dagu dengan tangan kiri

"Mmm, Hyukkie tidak tau" jawabnya sambil mengerucutkan bibirnya dan memainkan jarinya di depan dada

"Bagaimana kalau kita ke bioskop ?"

"Ne, Hyukkie mau" ia mengulum senyum, aku menahan diri untuk tidak mencubit pipinya yang menggoda itu

"Permisi" seorang pelayan menghampiri kami dengan membawa troli berisi pesanan kami

Mata Hyukkie berbinar saat melihat kepiting yang ukurannya cukup besar ditambah lagi saus mayonnaise yang meleleh di atasnya. Aku tersenyum tipis melihat ekpresi Hyukkie. Setelah pelayan itu pergi, aku menaruh potongan kepiting di piring Hyukkie dan langsung dilahapnya dengan semangat.

"Hyukkie lapar eoh ?"

"Umm, kepitingnya enak. Appa mau ?" ia menyodorkan sendok berisi kepiting ke depan wajahku, aku memajukan wajahku dan menerima suapannya

.

.

Suasana bioskop yang cukup padat membuatku kesulitan untuk membeli tiket. Yah, kami sedang berada di bioskop saat ini. Hyukkie kecilku merengek menonton film Transformers kesukaanya. Jadi di sinilah aku berada, berdesakan dengan calon penonton lainnya.

Aku menghela nafas lega saat berhasil mendapatkan dua tiket Transformers 4 : Age of Extinction. Well, ini juga film favoritku. Aku menarik tangan Hyukkie untuk memasuki ruangan, bibir mungilnya tak berhenti mengoceh tentang seberapa senangnya ia bisa menonton film denganku.

Kami menatap layar bioskop yang menampilkan persahabatan antara manusia dan robot. Ekor mataku melirik Hyukkie yang tak berkedip memandang layar bioskop.

"Appa, filmnya keren. Seandainya saja Hyukkie punya sahabat seperti Bumblebee atau Optimus Prime" ocehnya saat kami keluar dari bioskop

"Bagaimana kalau kita beli robot-robotan ? Hyukkie mau ?" aku berjongkok untuk mensejajarkan tinggiku dengannya

"Aniya" jawabnya sambil menunduk

"Eh ? Waeyo ?" aku mengusap kepalanya

"Nanti uang appa habis"

Aku terkejut mendengar alasannya. Bagaimana mungkin anak sekecil ini bisa begitu memahami orang dewasa apalagi masalah keuangan. Aku tertawa pelan dan menangkup kedua pipinya.

"Hyukkie tidak usah khawatir. Uang appa tidak akan habis" aku mengedipkan sebelah mataku

Lamborgini hijauku mengantar kami menuju pusat perbelanjaan terbesar di Seoul. Aku menggandeng tangan Hyukkie masuk ke dalam. Aku melirik Hyukkie yang tampak antusias menatap berbagai barang yang terdapat di etalase.

Kami masuk ke sebuah distro yang menjual berbagai macam mainan. Mata Hyukkie dengan cepat menangkap robot Bumblebee juga Optimus Prime. Ia menarik lenganku dan menunjukkan dua robot yang terpajang rapi di dalam kotak.

"Appa, bagus yang mana ?"

"Hyukkie mau yang mana ?"

"Hyukkie bingung, appa. Dua-duanya bagus"

"Ambil saja dua-duanya kalau begitu"

"Tapi.."

"Jangan khawatir. Harganya tidak terlalu mahal kok" aku mengusap rambut Hyukkie dan membawa dua kotak robot itu ke kasir

"Kita mampir ke sana dulu, ne ?" tunjukku pada sebuah distro yang menjual baju anak-anak

"Ne"

Aku memilih beberapa potong baju untuk Hyukkie. Aku tidak tega melihat lemarinya yang hanya berisi sedikit pakaian. Saat sedang seriusnya memilih, aku merasakan tarikan di celanaku.

"Ada apa ?" aku berjongkok di depan Hyukkie

"Hyukkie lihat eomma lewat di sana tadi" telunjuk Hyukkie mengarah ke luar distro

"Mungkin Hyukkie salah lihat" ucapku berusaha meyakinkan Hyukkie dan juga diriku sendiri

Kami keluar dari distro dengan membawa tiga kantong belanjaan. Hyukkie sangat terkejut saat aku memberitahukannya bahwa semua baju ini kubelikan khusus untuknya. Namun beberapa detik kemudian ia mengucapkan terima kasih padaku. Such a polite kid.

Aku menariknya ke sebuah food court. Well, jam sudah menunjukkan pukul dua belas. Hyukkie butuh makan siang walaupun ia baru saja makan beberapa jam yang lalu. Aku memilih tempat yang paling pojok, aku tak begitu suka diperhatikan saat sedang makan.

Aku beranjak menuju stand ramyeon karena Hyukkie ingin makan ramyeon saat ini. Sekitar tiga menit kemudian, aku kembali dengan membawa nampan berisi dua mangkuk ramyeon dan dua gelas orange juice.

Kami makan dengan lahap hingga mataku menangkap sebuah objek yang tak asing lagi. Aku tak lagi bernafsu menikmati ramyeon yang masih mengepulkan uap. Mataku tak lepas dari objek itu. Aku merogoh kantongku dan mengeluarkan ponselku. Aku menekan nomor yang sudah kuingat di luar kepala dan memencet tombol dial. Aku menempelkan ponsel ke telinga, sekitar tiga detik kemudian terdengar suara dari seberang sana.

"Yoboseyo"

"Kau sedang dimana, sa-yang ?" ucapku penuh penekanan

"Aku di rumah Kyungsoo. Mengerjakan tugas kuliah"

"Benarkah ?"

"Umm tentu saja. Apa kau meragukanku ?"

"Kau terlihat begitu serius. Cobalah tengok ke belakang, Baekhyun"

Aku memutuskan sambungan dan memasukkan ponselku ke dalam kantong tanpa melepaskan pandangan dari kekasihku yang sedang makan siang bersama namja lain. NAMJA LAIN !

Maniknya yang dibalut eyeliner menatapku dengan pandangan terkejut. Ia tampak sangat panik, ia berlari ke arah meja kami dan meninggalkan namja itu.

"Chanyeollie, ini tak seperti yang kau pikirkan" ucapnya sambil meremas jemariku

"Kenapa kau tidak memberitahuku jika rumah Kyungsoo berada di mall ?" ucapku sarkastik

"Chanyeollie, kumohon dengar dulu penjelasanku"

"Aku tak butuh. Kita akhiri saja. Selamat tinggal, Baek"

"Chanyeollie !" pekiknya diiringi isak tangis

Aku berusaha menulikan telingaku dan menarik Hyukkie untuk menjauh dari tempat itu. Hyukkie tampak kesusahan menyamai langkahku, aku pun menggendongnya hingga ke tempat parkir.

Hyukkie yang duduk manis di kursi penumpang tampak terlonjak kaget saat aku memukul stir mobil dengan brutal. Tangan mungilnya bergerak menghapus air mata yang membasahi pipiku.

Sakit, sakit sekali rasanya. Aku tak pernah merasakan cinta sebelumnya namun disaat aku merasakannya, disaat itu pula aku merasakan kesakitan. Aku meremas rambutku hingga beberapa helai tercabut dari kepalaku.

"Arggghh !' raungku sambil kembali memukul stir mobil

"Appa, gwaenchana ? Appa jangan nangis ne ?" Hyukkie merangkak ke pangkuanku dan memelukku erat

"Gwaenchana. Appa antar Hyukkie pulang sekarang ne ?" aku melonggarkan pelukan kami dan mencoba mengulas senyum

"Hyukkie tidak mau pulang. Hyukkie mau sama-sama appa"

"Arraseo, kita minta izin ke kepala panti dulu"

.

.

Mansionku yang biasanya sepi saat malam hari kini menjadi sedikit ramai sejak kedatangan Hyukkie. Sejujurnya aku sangat takut membawanya ke sini dan tidur bersamaku. Suasana hatiku sedang buruk, aku takut jika aku lepas kendali dan menyakitinya.

Mataku menerawang pada sosok kecil yang tengah membuat sesuatu di dapur. Hyukkie kembali dengan membawa nampan berisi teh madu. Ia menyodorkan teh madu itu padaku dengan seulas senyum tulus di bibirnya. Aku meneguk teh madu buatannya hingga tak bersisa.

"Enak ?" tanyanya sambil memiringkan kepalanya

"Enak sekali" aku membawanya ke pangkuanku dan mencium pipinya bergantian

"Appa, Hyukkie mengantuk" Hyukkie menyandarkan kepalanya di dadaku

"Kajja, kita tidur"

Aku membantunya berganti pakaian dengan piyama yang kuambil dari panti tadi. Ia meloncat ke atas ranjang dan berguling-guling. Gelak tawa meluncur halus dari bibirku. Aku berbaring di sebelah Hyukkie dan memeluknya erat.

Mataku perlahan menutup. Setidaknya aku bisa sedikit melupakan masalahku dengan Baekhyun.

"Tuhan, hilangkanlah beban appa dan buat orang tua Hyukkie berbaikan secepat mungkin. Hyukkie tidak mau melihat mereka bertengkar"

Sayup-sayup, aku mendengar doa yang Hyukkie panjatkan. Ia benar-benar anak yang baik. Setetes liquid bening mengalir tanpa izin di pipiku,

.

.

.

Suara kicauan burung dan aroma embun yang menyejukkan menjadi hal pertama yang kurasakan pagi ini. Aku melirik ke samping dan menemukan Hyukkie masih tertidur pulas. Aku melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diriku.

Beberapa menit kemudian, aku keluar dengan handuk yang melingkari pinggangku. Kutatap refleksiku di cermin, di sana tampak seorang pemuda dengan wajah yang masih terlihat kusut. Aku berdecak dan mulai memakai pakaian.

"Appa~" kurasakan sebuah pelukan di kakiku saat aku sedang sibuk membuat nasi goreng kimchi untuk sarapanku dan Hyukkie. Aku melirik ke bawah dan menemukan Hyukkie tengah memeluk kakiku dengan mata tertutup.

"Hyukkie mandi dulu ne ? Setelah itu kita sarapan"

"Umm" ia berjalan sambil sesekali mengusak matanya

Hyukkie berlari kecil menuju meja makan, ia tampak lebih cerah setelah membersihkan diri.

"Selamat pagi, appa~" ia merentangkan tangannya di depanku, aku langsung menggendongnya dan mengecup pipinya

"Selamat pagi, Hyukkie. Kajja kita makan"

"Appa mau pergi hari ini ?" tanyanya saat selesai sarapan

"Ne, appa harus kuliah"

"Appa akan bertemu eomma di sana ?"

"..." aku terdiam, mulutku seakan kaku dan tak sanggup menjawab pertanyaan sederhana itu

"Appa~" ia menyentuh tanganku yang berada di atas meja

"Ne, appa akan bertemu eomma di sana"

"Appa jangan bertengkar lagi sama eomma ne ?"

"Hmm"

"Janji ?"

"Janji"

.

.

Aku tersenyum kecut saat melihat Baekhyun berlari kecil ke arahku. Entah apa lagi yang ingin dia lakukan. Tak ada lagi yang bisa ia hancurkan dari diriku karena hatiku telah hancur berkeping-keping saat melihatnya bersama namja yang kuketahui bernama Daehyun.

"Chanyeollie.."

"Ada apa, Baekhyun-ssi ?" aku melihat matanya membelalak dan memancarkan kesedihan saat aku menyebut namanya dengan formal

"Chanyeollie, dengar dulu penjelasanku. Aku dan Daehyun tak ada hubungan apapun, kami hanya berteman. Kumohon jangan pergi"

"Baekhyun-ssi, hubunganmu dengan Daehyun tak ada sangkut pautnya denganku. Dan lagi aku tidak akan pergi jika bukan kau yang meminta"

"Aku tidak pernah memintamu untuk pergi !" pekik Baekhyun diiringi isakan. Ingin rasanya aku memeluk tubuh rapuh itu namun ego membuatku menahan diri dan memasang ekspresi datar

"Kau memintaku pergi secara tidak langsung dengan sikapmu kemarin"

"Tidak. Tidak, Chanyeollie !" ia memelukku secara tiba-tiba, tangisnya belum juga berhenti malah semakin pilu. Aku membiarkannya memelukku untuk sesaat. Tanganku mendorongnya menjauh saat tangisannya tak lagi terdengar.

"Aku harus ke kelas" ucapku dingin walau sebenarnya aku tak ingin bersikap sedingin ini padanya. Hanya saja ingatan dimana ia dan Daehyun makan siang bersama membuat hatiku memanas sehingga membuatku berpikir berkali-kali untuk bersikap hangat padanya.

"Chanyeollie !" ia terus memanggilku namun tak sekalipun aku mencoba untuk menoleh ke belakang. Aku takut jika aku menatap matanya maka semua pertahananku akan runtuh dalam sekejap.

'Kalian membuat jalanku semakin mulus'

.

.

.

TO BE CONTINUED

.

.

.

Maaf aku telat update 'lagi' *bow* Aku sibuk banget minggu ini soalnya tetangga aku nikah alhasil aku ditunjuk jadi pagar besi -eh? Oke lupakan haha

Ngg, chapter ini agak sedikit absurd soalnya aku ngetiknya kilat sih. Maaaaf banget kalau chapter ini hanya menyajikan sedikit moment ChanBaek dan lebih banyak moment antara Chanyeol dan Hyukkie

Tapi insya allah chapter depan moment ChanBaek akan lebih mendominasi. So keep on watching, okay ?

Eh ngomong-ngomong aku seneng banget ada yang ngasih saran kemarin. Makasih buat yang udah review, fav, and follow walaupun aku lebih senang direview dibanding hanya di fav atau follow tapi tak apalah. Gw mah gitu orangnya #plak

Aku bales review dulu ne~

SyiSehun : well, siapa sosok antagonis itu akan terungkap di chapter-chapter klimaks nantinya.. sabar ne ? hehe

ExolArmyvpcy : ini udah lanjut, chagi

Michelle Oh : iya nih udah dilanjut, chagi

exindira : krystal bukan ya ? masih rahasia Tuhan hehe

Yulyul : duh, aku minta maaf nggak bisa update cepat soalnya lagi sibuk.. mianhae, yul-ssi.. untuk tokoh antagonis itu akan terungkap nantinya

zoldyk : arigatou gozaimasu, zoldyk-san

.9 : makasih atas kritik dan sarannya, semoga chap ini lebih baik dari sebelumnya

ibyeori : masih penasaran dengan sudut pandang ya ? hehe ke depannya bakal keungkap kok.. makasih atas kritik dan sarannya, aku minta maaf karena nggak bisa update cepat

ParkByun : ini udah lanjut chagi

ChanbaekShipper : halo, selamat datang.. semoga ceritaku bisa memuaskan kamu

meimei : aigoo, kamu rajin banget review di setiap chapter.. makasih ya.. untuk sosok antagonis itu masih rahasia Tuhan hahaha

Oke cukup sekian dan terima kasih #belajar pidato

Jangan lupa budayakan review setelah membaca, aku sayang kalian *peluk satu-satu*