Chap. 3
.
By : Nyanmu
Main Cast : Park Chanyeol (a.k.a Kim Chanyeol) and Byun Baekhyun
[ChanBaek]
Support cast : BTS, Apink, Exo, de el el.
Genre : Romance, Humor, Family, Fantasy
Rated : T
Length : Chaptered
Warn! GS! Alur Ngebut!
Luhan tengah berkebun. Berkebun seorang diri tanpa Kyungsoo menguras banyak tenaganya. "Ya ampun, aku baru menyelesaikan setengahnya", gumam Luhan sambil menyeka keringatnya.
Drap! Drap! Drap!
Terdengar suara langkah kaki yang berisik berasal dari samping rumah. Memang untuk menuju kebun belakang selain dengan melewati rumah, bisa juga melalui samping rumah.
"Ah, pemungutan bulanan ya", Luhan mengambil hasil kebun mereka yang memang sudah disisihkan untuk pemungutan bulanan kerajaan.
"Ini hasil kebun", Luhan memberikan mereka dua karung yang berisi hasil kebun mereka. Kyungsoo dan Luhan menanam macam-macam sayur di kebun mereka.
Luhan memandangi lima pengawal yang datang. Mereka berbadan besar dan bertubuh tinggi. Semoga hanya pemungutan bulanan, batin Luhan.
"Kau tinggal dekat hutan, tidak adakah hasil buruan?", sarkasme salah satu pengawal.
"Tidak ada. Kami tidak berburu", ucap Luhan.
"Kurasa kau hanya memakan hasil buruanmu seorang diri", salah seorang pengawal lainnya segera masuk ke dalam rumah.
"Hei hei! Apa yang kau lakukan!", Luhan menyusul masuk ke dalam. Ia takut pengawal yang masuk ke dalam rumahnya itu akan membongkar seluruh rumah dan menemukan Baekhyun.
Bahu Luhan ditahan oleh pengawal lainnya saat Luhan hendak masuk ke dalam dapur untuk menyusul seorang pengawal. "Kau sembunyikan di mana hasil buruanmu?", tanya pengawal lainnya sambil mencengkram kerah baju Luhan.
"SUDAH KUBILANG TIDAK ADA!", Luhan berteriak kesal. Ia benci dituduh.
"Jangan mencoba untuk berbohong", pengawal pertama berucap kembali.
"KALAU AKU BERBURU, AKU AKAN MEMBERI HASILNYA KEPADA KALIAN! UNTUK APA AKU MENYEMBUNYIKANNYA!"
"Dapurnya hanya berisi sayur-sayuran. Tidak ada daging sama sekali", ucap pengawal yang sempat ke dapur.
"Kau tidak berbohong ternyata", pengawal yang mencengkram kerah baju Luhan melempar Luhan hingga Luhan menghantam lemari besar.
Bruk!
"Ayo kembali ke istana. Jangan lupa bawa pemungutan bulanannya", ucap pengawal yang mencengkram kerah baju Luhan tadi.
Luhan sedikit meringis saat berusaha bangkit. Punggungnya terbentur lemari cukup keras tadi.
Drap! Drap! Drap!
"Ada perintah dari Raja", ucap beberapa pengawal yang baru saja datang.
"Ada apa?", tanya pengawal yang paling depan.
"Kita harus mendata setiap penduduk. Kelahiran, atau pun kematian. Jika ada anak perempuan yang lahir, atau pun balita berjenis kelamin perempuan, maka kerajaan akan mengambilnya dengan paksa", ucap pengawal yang baru datang tersebut.
"Periksa rumah ini!", teriak pengawal yang tadi hendak pergi.
Luhan melotot kaget. Pasti Raja tidak percaya bahwa putrinya telah dibunuh, Jongdae sudah tidak dipercaya oleh Raja?, pikir Luhan.
"Hei! Kau tinggal sendirian di sini?", seorang pengawal kembali mencengkram kerah baju Luhan. Membuat Luhan kesusahan untuk bernapas.
"Hanya … berdua–akh!", Luhan berusaha untuk melepas cengkraman pengawal tersebut.
"Di mana yang satunya lagi?", tanya pengawal lainnya.
Bruk!
Luhan dijatuhkan begitu saja. Ia terbatuk karena akhirnya dapat menghirup udara dengan normal. "Dia–pergi ke kota", ucap Luhan masih berusaha menghirup udara.
Beberapa pengawal melihat-lihat rumah Luhan. Pengawal yang terlihat seperti pemimpin dari pasukan ini melangkahkan kakinya ke lantai atas.
"Periksa semuanya!", teriak pengawal yang sudah berada di lantai atas.
Brak!
Pengawal yang berteriak tadi membuka pintu kamar Luhan dengan kasar. "Di sini kosong", ucap pengawal yang membuka pintu kamar Luhan.
"Di sini juga!", ucap pengawal yang membuka pintu kamar Kyungsoo.
"Apa ini ruangan terakhir?", tanya pengawal yang memiliki badan paling besar di depan pintu kamar Baekhyun.
Kumohon! Jangan!, Luhan menjerit dalam hati.
Cklek!
"Ini gudang", ucap pengawal yang membuka kamar Baekhyun.
"Sudah diperiksa semuanya?!", teriak pengawal yang menjadi pemimpin.
"Tidak ada anak perempuan", ucap pengawal yang lain.
"Kalau begitu kita kembali ke istana". Setelah mengobrak-abrik rumah Luhan dan Kyungsoo, akhirnya mereka pergi.
"Ugh", Luhan menaiki anak tangga dengan perlahan. Benturan tadi membuat kepalanya sedikit pusing untuk sesaat.
"Kyung–Baek", Luhan terdiam di ambang pintu kamar Baekhyun, menunggu respon dari Baekhyun maupun Kyungsoo.
Kriek!
Perlahan, Kyungsoo keluar dengan Baekhyun dalam gendongannya. Tubuh Kyungsoo gemetar karena takut. "Lu, apa kau baik-baik saja?", bahkan suara Kyungsoo hampir menghilang saking takutnya.
Bruk!
Luhan buru-buru menghambur ke arah Kyungsoo dan Luhan. "Aku baik. Aku baik, Kyung! Hiks–", Luhan menangis. Bersyukur karena para pengawal tidak menemukan Baekhyun maupun Kyungsoo. Luhan tidak ingin hidup seorang diri.
"Kyungie? Hannie? Kenapa menangis?", tanya Baekhyun kebingungan. Kyungsoo dan Luhan menangis karena takut. Takut untuk kehilangan Baekhyun yang merupakan tanggung jawab mereka.
.
.
.
"Kyung, apa kita benar-benar harus melakukan ini?", tanya Luhan yang merasa keputusan Kyungsoo tidak benar.
Setelah menangis, mereka bertiga tidur bersama semalaman, dan saat di pagi harinya, Kyungsoo tiba-tiba mengusulkan sebuah ide yang menurut Luhan cukup gila.
Kyungsoo melirik Luhan tidak suka. Ia tidak suka jika idenya ditolak apalagi ditentang. Luhan yang dilirik seperti itu oleh Kyungsoo hanya bisa menggaruk tengkuknya dan berdeham kecil.
"Maksudku–Seokjin pasti berharap memiliki anak perempuan yang tumbuh sebagai anak perempuan, 'kan?", Luhan masih tidak setuju dengan ide Kyungsoo namun mengungkapkannya dengan alasan lain.
"Haaaaah", Kyungsoo menghela napasnya panjang dan merapikan rambut Baekhyun yang telah ia potong.
"Ini demi keselamatan Baekkie, Lu", ucap Kyungsoo.
"Tapi kupikir kau terlalu jauh, Kyung. Kau merubah Baekkie menjadi seorang anak lelaki", Luhan menatap Baekhyun yang memakai pakaian anak lelaki dan memiliki rambut pendek seperti anak lelaki.
"Kita tidak bisa membesarkan Baekkie sebagai anak perempuan sesungguhnya. Kalau kita membesarkannya sebagai anak perempuan sesungguhnya, nyawanya akan terancam", ucap Kyungsoo sambil melihat penampilan Baekhyun.
"Aku anak lelaki?", tanya Baekhyun bingung. Kyungsoo terkekeh mendengar pertanyaan Baekhyun.
"Bukan, Baekkie. Baekkie anak perempuan, hanya berpenampilan seperti lelaki. Kalau Baekkie berpenampilan seperti lelaki, Baekkie tidak akan dicurigai pengawal kerajaan", ucap Kyungsoo senang.
"Jadi Baekkie boleh keluar?", tanya Baekhyun dengan mata penuh harap yang menggemaskan.
"Bo–"
"Tidak!", potong Luhan cepat. Kyungsoo menoleh ke arah Luhan dengan pandangan heran.
"Tidak! Tidak! Tidak! Baekkie tidak boleh keluar. Pengawal kerajaan bisa mencurigainya. Aku sudah bilang kepada pengawal kerajaan bahwa kita hanya tinggal berdua di rumah ini", ucap Luhan penuh penekanan.
Kyungsoo terdiam sejenak. "Luhan benar. Baekkie tetap diam di rumah, ne. Sembunyi kalau ada pengawal kerajaan", nasehat Kyungsoo.
Baekhyun mengangguk patuh. "Mungkin aku akan mengajak Baekkie berburu", ucap Luhan sambil berjalan menuju pintu untuk keluar dari kamar Baekhyun.
"Berburu? Kau sudah lama tidak berburu, Lu. Kau yakin bisa berburu?", Kyungsoo bersusah payah untuk menahan tawanya.
"Tentu saja aku bisa!", kesal Luhan sambil keluar kamar dengan terburu.
"Hey! Hey! Kau serius? Ajari Baekkie bela diri juga", Kyungsoo segera menyusul Luhan karena ingin menggodanya dan meninggalkan Baekhyun seorang diri di dalam kamar.
Setelah ditinggal seorang diri, Baekhyun sibuk memandangi dirinya di cermin. Penampilan barunya sedikit membuat Baekhyun risih. Baekhyun memandangi rambutnya yang telah pendek seperti lelaki.
"Nnnggg", Baekhyun sedikit mendengung sambil memperhatikan rambutnya. Lalu Baekhyun memperhatikan pakaiannya. Baju lengan pendek berwarna krem dan celana selutut berwarna biru gelap. Baekhyun tersenyum lebar saat menyadari penampilannya tidak terlalu buruk.
Baekhyun pun berjalan menuju pintu dan menyadari tingginya bertambah. Sebelumnya, kepalanya tidak lewat dari gagang pintu. Namun, kini gagang pintu sudah sejajar dengan dadanya. Baekhyun turun ke lantai bawah dengan terburu.
"Kyungie!", teriak Baekhyun sedikit heboh.
"Kenapa, Baekkie? Aku sedang menyiapkan sarapan. Duduklah sambil menunggu sarapan siap", ucap Kyungsoo sambil memasak sesuatu.
"Kyungie! Kyungie!", Baekhyun tetap memanggil Kyungsoo.
"Baekkie, duduk di meja makan!", tegas Kyungsoo. Baekhyun cemberut mendengar ucapan Kyungsoo. Baekhyun pun beralih kepada Luhan yang tengah menyiapkan alat makan.
"Hannie!", panggil Baekhyun.
"Ada apa?", tanya Luhan yang baru saja meletakkan piring di meja makan.
"Baekkie tinggi!", ucap Baekhyun semangat menunjukkan bahwa ia sudah lebih tinggi dari kemarin. Luhan pun memperhatikannya.
"Kyung, Baekkie tumbuh dengan cepat", ucap Luhan memperhatikan Baekhyun.
"Memang. Dia 'kan keturunan spesial", ucap Kyungsoo masih berkonsentrasi pada masakannya.
"Tapi Kyung, kalau begini … dua atau tiga hari tinggi Baekkie akan sama dengan tinggi kita", bisik Luhan.
"Memangnya kenapa?", bingung Kyungsoo. Menurut Kyungsoo, itu adalah hal bagus. Jadi, Kyungsoo tak perlu membuatkan Baekhyun pakaian, cukup menggunakan pakaian Luhan atau Kyungsoo.
"Menurutmu–", Luhan mendekatkan diri kepada Kyungsoo.
"–apa anak yang menggantikan Baekkie, Kim Chanyeol setinggi Baekkie sekarang?", bisik Luhan.
"Siapa yang tingginya sama seperti Baekkie?", tanya Baekhyun yang sudah ada di sebelah Luhan.
"Percuma kau berbisik, Baekkie tetap akan mendengarnya", ucap Kyungsoo sedikit terkikik.
"Itu keistimewaanmu, Baekkie? Hebat sekali. Sekarang aku tidak bisa berbisik", sarkasme Luhan sambil bersedekap dada.
"Siapa itu Chanyeol? Hannie? Kyungie? Siapa dia?", tanya Baekhyun.
"Kyung–"
"Jelaskan sendiri", potong Kyungsoo cuek. Luhan menghembuskan napas kesal dan duduk di meja makan.
"Chanyeol itu–anak Yang Mulia Kim", jelas Luhan.
"Yang Mulia Kim?", bingung Baekhyun dengan kepala yang sedikit dimiringkan.
"Baekkie harus belajar dulu, baru Hannie akan memberitahumu siapa Chanyeol itu", ucap Kyungsoo meletakkan masakan yang sudah ia masak di atas meja makan.
"Benarkah? Kapan kita belajar, Kyungie?", tanya Baekhyun tak sabaran.
Kyungsoo mengangkat Baekhyun agar ia mengambil tempat duduk di meja makan. "Nanti setelah sarapan", ucap Kyungsoo disertai senyumannya setelah mengangkat Baekhyun.
"Kau ajari Baekkie apa yang harus dia tahu, aku akan mulai berburu. Musim dingin semakin dekat, kita tidak mungkin berkebun di musim dingin", ucap Luhan yang sudah makan lebih dahulu.
"Kita akan belajar banyak, Baekkie", ucap Kyungsoo semangat. Akhirnya, ia bisa membahas mengenai ilmu pengetahuan bersama seseorang selain Luhan.
.
.
.
Hanya butuh waktu tiga hari bagi Baekhyun untuk mengasai semua buku ilmu pengetahuan yang Kyungsoo miliki. Kyungsoo mengajari berbagai hal mengenai ilmu pengetahuan yang dimiliki manusia pada umumnya. Namun, tidak lupa Kyungsoo menegaskan bahwa mereka ini penduduk Northeen yang berbeda dari manusia pada umumnya.
"Baekkie benar-benar sesuatu", kagum Luhan meletakkan peralatan berburunya di sebuah pintu kecil di bawah tangga. Luhan berburu dari pagi buta hingga petang ini.
"Penciuman tajam, pendengaran tajam, penglihatan tajam, kemampuan menyerap ilmu yang sangat luar biasa, kurasa Baekkie dewi", kikik Kyungsoo sambil menyeruput tehnya. Kyungsoo dan Baekhyun tengah belajar sedikit mengenai perdagangan di depan perapian. Menjelang musim dingin, angin yang berhembus di luar cukup dingin.
"Bukan, aku bukan dewi", celetuk Baekhyun yang sedang menulis sesuatu.
"Kau memang bukan dewa maupun dewi, Baekki. Baekki adalah Baekkie", ucap Luhan bergabung dengan Kyungsoo dan Baekhyun.
"Tapi kurasa, aku juga bukan penduduk Northeen", ucap Baekhyun mengangkat kepalanya. Menghentikan sejenak aktifitas menulisnya.
"Bagaimana bisa? Jelas-jelas kau penduduk Northeen. Kau lahir dan besar di wilayah Kerajaan Northeen", ucap Kyungsoo.
"Secara garis besar, aku penduduk Northeen. Tapi, secara kesitimewaan, aku bukan penduduk Northeen", kesal Baekhyun.
"Jelaskan, jangan berbelit-belit. Aku tidak mengerti", kesal Luhan.
Baekhyun meletakkan alat tulisnya dan mulai menjelaskan. "Aku memiliki penciuman, pendengaran, dan penglihatan yang tajam. Tapi kalian tidak. Pertumbuhanku juga dua kali lebih cepat dari kalian, ditambah–aku tidak memiliki kekuatan fisik seperti kalian dan kecepatan berlari seperti kalian. Apa aku benar-benar penduduk Northeen? Dari mana aku berasal sebenarnya?", kesal Baekhyun.
Kyungsoo dan Luhan tertegun mendengar pertanyaan terakhir Baekhyun. Mereka tahu Baekhyun pasti akan menanyakan hal ini. Namun mereka tidak mengira akan secepat ini.
"Eommamu juga sedikit berbeda dari penduduk Northeen, tapi dia tetap penduduk Northeen. Jangan mempermasalahkan hal yang tidak penting, Baekkie", jelas Kyungsoo.
"Bagaimana kau tahu kalau kau tidak memiliki kekuatan fisik seperti penduduk Northeen pada umumnya?", curiga Luhan.
Baekhyun menatap Luhan cukup lama. "Hm, Kyungie biasanya membersihkan bawah lemari dan kasur dengan mengangkatnya. Aku mencoba untuk mengangkatnya, tapi tidak berhasil. Aku lemah", Baekhyun mengerucutkan bibirnya.
Luhan tertawa terbahak. Baekhyun dan Kyungsoo pun kebingungan. "Haha! Kenapa kau mempermasalahkan hal tidak penting seperti itu. Kekuatan fisik hanya dimiliki penduduk Northeen pada umumnya tapi kau spesial . Jangan khawatir", ucap Luhan.
"Benarkah?", tanya Baekhyun sedikit memiringkan kepalanya ke kanan. Kebiasaan jika ia ragu.
"Sungguh", Luhan bangkit dari duduknya.
"Kau sudah memperlajari semua yang kau perlu tahu, Baekkie. Tinggimu juga sudah menyamai tinggiku dan Kyungsoo. Besok kau ikut aku berburu", ucap Luhan menambah kayu pada perapian.
Baekhyun menolehkan kepalanya ke arah jendela. Ia melihat ke arah hutan. Ia belum pernah keluar sebelumnya. Jadi, ada perasaan takut hinggap dalam diri Baekhyun.
.
.
.
"Hannie, aku benar-benar tidak bisa", bisik Baekhyun dengan sebuah panah di tangan kanannya dan busur di tangan kirinya.
"Lakukan seperti yang aku contohkan", tegas Luhan sedikit berbisik dan agak menjauh dari Baekhyun.
Baekhyun pun melakukan apa yang Luhan contohkan. Baekhyun berusaha untuk fokus membidik pada rusa yang cukup jauh dari mereka. Namun, jauh di belakang rusa tersebut terdapat seorang anak lelaki yang kira-kira tingginya sebahu Baekhyun.
"Hannie, ada seseorang di–"
"Fokus Baekkie, Fokus", tegas Luhan. Baekhyun pun berusaha untuk fokus. Namun yang ia perhatikan hanya sesosok lelaki yang jauh di belakang rusa tersebut. Baekhyun hampir melepaskan anak panahnya ke arah anak itu, dengan segera Baekhyun sedikit menggeser anak panahnya dan meleset. Anak panah tersebut tidak mengenai rusa bidikannya atau pun sosok lelaki yang jauh di belakang rusa bidikannya.
"Bakkie, apa yang kau lakukan", ucap Luhan menghampiri Baekhyun yang terduduk. Sepertinya beberapa jari Baekhyun terluka karena ketidakfokusan Baekhyun.
"Ada seorang anak lelaki di sana", tunjuk Baekhyun.
"Tidak ada siapa-siapa di sana, Baekkie. Kemarikan tanganmu", ucap Luhan. Baekhyun pun menyerahkan kedua tangannya.
Luhan mengernyit bingung melihat tidak ada jari Baekhyun yang terluka. Seharusnya terdapat beberapa jari Baekhyun yang terluka karena gesekan dengan tali busur. "Kau tidak terluka?", tanya Luhan bingung.
"Sedikit, tapi sudah sembuh", ucap Baekhyun menarik kembali kedua tangannya.
"Regenerasi yang sangat pesat, keistimewaanmu bertambah Baekkie", ucap Luhan kemudian berdiri. Dan aku takut dengan kesitimewaanmu ini kau akan diperbudak, batin Luhan.
"Ya", gumam Baekhyun sambil mengusap kedua tangannya. Pandangan Baekhyun kembali ke tempat anak lelaki tersebut berada. Dia tidak ada?, pikir Baekhyun.
"Mari kembali ke rumah. Besok kita akan kembali berburu sampai kau bisa. Setidaknya kau bisa memancing", Luhan menunjukkan satu kantung penuh yang berisi ikan hasil tangkapan Baekhyun di hulu sungai yang berada di bukit belakang rumah.
Baekhyun dan Luhan pun pulang hanya membawa ikan hasil tangkapan Baekhyun. "Kyung, aku dan Baekhyun hanya mendapatkan ikan", ucap Luhan sambil menaruh sekantung penuh berisi ikan di dapur.
"Kita kehabisan Jamur, Lu", ucap Kyungsoo setelah mencari jamur yang ia butuhkan untuk membuat makan siang.
"Jamur yang biasa?", tanya Luhan sambil memakan apel yang biasa Kyungsoo petik di hutan kalau ia berkesempatan.
"Ya, yang di dekat hulu sungai", ucap Kyungsoo menutup lemari-lemari yang sempat ia buka.
"Kenapa kita tidak membelinya saja di kota? Kyungie hanya membeli rempah-rempah saja di kota", tanya Baekhyun yang mengambil bagian dan duduk di meja makan.
"Jamur yang berada di dekat hulu sungai tidak dijual di kota, ditambah lagi … hasil alam itu gratis", ucap Kyungsoo.
"Lu, ambilkan jamur itu", ucap Kyungsoo. Luhan menggigit bagian terakhir apel yang ia makan dan beranjak untuk pergi.
"Biar aku saja!", ucap Baekhyun berdiri.
"Kau yakin?", tanya Kyungsoo ragu. Baekhyun baru keluar rumah hari ini. Apa Baekhyun mengingat jalan menuju hulu sungai?
"Ya, aku yakin. Lagi pula, ini hanya mencari jamur. Aku bisa. Di hulu sungai 'kan? Aku dan Hannie tadi pagi ke hulu sungai, aku ingat jalannya", ucap Baekhyun seperti bisa membaca pikiran Kyungsoo dan mengusir segala keresahan Kyungsoo.
"Biarkan dia pergi, Kyung. Hitung-hitung penjelajahan kecil, Baekkie tidak mungkin kita kurung di rumah ini selamanya", ucap Luhan santai.
"Tapi, pengawal–kerajaan, budak–", Kyungsoo tak mampu berbicara dengan jelas karena pemikiran buruk jika Baekhyun keluar rumah menghantui pikirannya.
"Tidak akan, Kyung", potong Luhan. "Arah bukit berlawanan dengan kota, pengawal tidak mungkin ada di bukit".
"Hannie benar, Kyungie. Aku akan baik-baik saja", Baekhyun mengambil sebuah keranjang yang biasa Kyungsoo bawa jika ke hutan untuk mengambil hasil hutan.
"Baekkie", panggil Kyungsoo saat Baekhyun hendak menuju pintu keluar. Baekhyun pun berbalik badan dan kembali ke arah Kyungsoo.
Kyungsoo menaikkan tudung mantel yang Baekhyun kenakan hingga sebagian kepalanya tertutup. "Jangan buka tudung ini, untuk berjaga-jaga", ucap Kyungsoo. Baekhyun menanggapinya dengan senyuman kecil.
"Aku pergi", pamit Baekhyun kemudian keluar rumah. Baekhyun mulai merasakan udara yang dingin saat keluar rumah. Semakin mendekati musim dingin, udara di luar semakin dingin. Untunglah Baekhyun mengenakan mantel yang tebal dan panjangnya selutut.
Sesekali Baekhyun mendongak untuk melihat bahwa jalan yang ia lalui sudah benar. Larangan untuk membuka tudung dari Kyungsoo benar-benar Baekhyun patuhi.
Setiap kali Baekhyun menghembuskan napas, hanya asap tipis yang keluar. Semakin ke atas bukit, semakin dingin suhu yang Baekhyun rasakan. Padahal ini siang hari, tapi langit yang mendung dan suhu yang dingin tidak menunjukkan bahwa ini adalah siang hari.
Srek!
Baekhyun berhenti melangkah. Ia mendengar suara pergerakan yang berada lima meter darinya. "Apa itu", bisik Baekhyun pada dirinya sendiri.
Baekhyun mendengar pergerakan itu datang dari belakang Baekhyun. Di balik sebuah pohon besar. Baekhyun mendengar suara detak jantungnya. Manusia, pikir Baekhyun. Tidak mungkin pengawal, pengawal tidak akan ke bukit ini, aku harus cepat.
Baekhyun berusaha menghiraukan suara yang mengganggu pendengaran tajamnya itu. Baekhyun terus melangkah sampai ke hulu sungai. Selama perjalanan, Baekhyun sudah mengetahui bahwa ia diikuti.
"Harus cepat", ucap Baekhyun yang mulai mengambil jamur yang Kyungsoo butuhkan. Sambil mencabut beberapa jamur, Baekhyun menajamkan pendengarannya.
Seseorang yang mengikuti Baekhyun melangkah semakin dekat ke arah Baekhyun. Rasa takut yang berusaha Baekhyun tekan akhirnya tidak bisa ia tahan lagi, Baekhyun berdiri dan berbalik.
"Siapa di sana?!", Baekhyun tak bisa mengontrol intonasi bicaranya.
Perlahan, seseorang yang mengikuti Baekhyun sejak tadi keluar dari balik pohon. Itu seorang anak lelaki dengan jubah hitam yang menutupi seluruh tubuhnya–kecuali kepala. Rambutnya berwarna hitam, sorot matanya tajam, hidungnya mancung, dan bibirnya cukup berisi.
Walaupun seseorang yang ada di hadapan Baekhyun ini adalah seorang anak lelaki yang tingginya tak melebihi Baekhyun, tetap saja Baekhyun merasa takut. Dia penduduk Northeen, pastinya kekuatan fisiknya melebihi kekuatan fisikku, pikir Baekhyun.
Wus!
Baekhyun tak tahu apa yang terjadi padanya. Yang Baekhyun tahu, belum sempat ia berkedip, lelaki itu sudah ada di belakangnya dan membuka tudung milik Baekhyun.
"Apa yang–", Baekhyun speechles. Baekhyun perlahan menoleh ke belakang. Anak lelaki itu dengan wajah datarnya menatap Baekhyun.
Setelah kesadarannya kembali, Baekhyun segera menutup kepalanya kembali. Baekhyun segera berlari menjauh dari hulu sungai.
Namun, karena tidak memperhatikan jalan, Baekhyun hampir saja masuk ke dalam sebuah lubang yang cukup dalam. Untung saja Baekhyun memiliki refleks yang bagus. Baekhyun segera melompat ke belakang agar ia tidak terperosok ke dalam lubang tersebut.
Namun, tanpa disangka, Baekhyun justru melompat tinggi. Padahal, Baekhyun hanya ingin melompat satu langkah ke belakang. Kini ia berdiri di sebuah dahan pohon. Tapi karena terlalu tiba-tiba, Baekhyun tidak mempersiapkan keseimbangannya dengan baik.
"Aaaa!", Baekhyun menjerit sambil menutup mata saat tubuhnya jatuh ke belakang. Baekhyun pikir ia akan menghantam tanah berbatu di bawah dengan keras. Namun, nyatanya tak ada yang terjadi padanya.
Baekhyun membuka kedua matanya perlahan dan melihat wajah anak lelaki tadi tengah menahan tubuhnya agar tidak jatuh. Anak lelaki itu menarik Baekhyun agar duduk di dahan pohon.
Baekhyun yang terlalu terkejut hanya bisa memandangi tanah dan anak lelaki itu secara bergantian. Baekhyun bahkan lupa perintah Kyungsoo untuk tidak membuka tudung mantelnya.
"S-S-Siapa kau?", tanya Baekhyun sedikit menjauh dari anak lelaki tersebut. Anak lelaki itu hanya diam. Ia malah sedikit memiringkan kepalanya.
"Apakah kau Baekhyun noona?", tanya anak lelaki itu.
.
TO BE CONTINUED
A/N : Maaf lama. Ada sedikit gangguan (mager, badmood, males, dan kawan-kawan)
~ Balasan Review ~
Chanbaekhunlove : Yang jadi raja member BTS? Hmmm … bole juga hoho. Lanjutnya imajinasimu yang tinggi nak :3 Ini udh next sayang~
manyeolbae : Cahyo (chanyeol) kayak baekhyun? Hmm … kita liat saja nanti :V akan adda SURPRISE! Cahyo muncul di chap 5 atau 6 :V sorry~ Cahyo dipetik dari langit sayang :"
ExoL123 : Iya. Ajaib. Namanya juga fantasy :"D. Sensus penduduk? Wkwkwk. Di chap ini kejawab kok …
exindira : Maaciwww~ Chanbaek ketemuannya nanti kalo Satansoo main pilem di Uttaran :"V
bbkhyn : Copulenya humu? Nggak ayang~ kemungkinan crack pair atau normal :'V/ntuh bocorannya xD
xiuxiumin : Nemu gak yaaa … kyungsoo demennya main petak umpet sih hehe …
yousee : Maaciw udh nunggu next chap~
septianaditya1997 : Baek always unyu … kapan sih si tjabe gak unyu :" syukur deh kalo kau ikut tegang juga. Berarti kau membacanya dg hati :V
#sekian
~Jangan lupa review~
