White Fox
A fiction by dearestnoona
Starring*
Park Chanyeol
Byun Baekhyun
.
.
Chapter 3
.
.
Kali ini pengunjung di sana tidak terlalu ramai. Hanya sebagian lansia yang sudah berlangganan terlihat di sana. Rata-rata dari mereka hanya bermaksud untuk bermeditasi, mengingat manfaat yang terkandung cukup ampuh untuk ukuran seorang lansia.
Di kaki gunung, memang disediakan penginapan. Teruntuk keluarga, atau rombongan yang bermaksud menginap di sana. Hitung-hitung menghabiskan waktu senggang seraya mengamati pemandangan indah.
Villa yang lumayan besar, namun tidak terkesan berlebihan. Di depan villa, terdapat air mancur, yang mana bersumber dari mata air pegunungan tersebut. Di sekeliling villa juga disediakan tempat berupa tingkatan pola lingkaran. Dimaksudkan untuk tempat meditasi jika tidak ingin repot menanjaki gunung.
Pohon-pohon tinggi menjadi pendukung dari keindahan tempat tersebut. Rumput hijau yang menjadi alas di beberapa tempat. Tentunya, diperuntukkan bagi orang-orang yang ingin menginjak tanah beserta rumputnya.
Angin sepoi, membelai setiap insan yang dilewati. Termasuk dua insan yang sedari tadi berjalan beriringan. Tak lupa, mereka menenteng barang-barang yang dibawa; walau begitu, sang pejantan lebih banyak mengambil tugas.
Dirinya tampak berkeringat, walau di suasana sejuk seperti itu. Matahari memang tampak menyengat, hingga membuat siapa saja yang ditaunginya akan menghasilkan ekskresi dari kulit tubuh, terlebih untuk bagian pelipis. Keringat yang dihasilkannya bisa dibilang keringat dengan rasa dingin.
Sepasang bola mata coklat, masih saja menelusuri tiap-tiap langkah yang dilewati. Dirinya merasa lelah, sekaligus takjub dengan pemandangan asri nan indah. Sudah berapa lama, Chanyeol tidak ke sini?
Merasa bosan harus berjalan lama, betina dewasa, tampaknya tak ingin berjalan layaknya siput. Ia memutuskan untuk berlari kecil ke depan, kemudian melepaskan kacamata hitam yang bertengger manis di telinganya. Topi bundar berpita, menjadi pendukung dari penampilan yang manis itu.
Tak ingin melewatkan pemandangan yang ada, Minseok segera merogoh tasnya, kemudian mengambil ponsel kesayangannya. Sebelum memulai aksi, terlebih dahulu, ia merapikan penampilannya, lalu bergaya. Gaya yang biasa dilakukan remaja masa kini, oh, apa Minseok masih dikatakan remaja?
Sesekali ia mengerucutukan bibirnya—bukan untuk merenggut, melainkan, untuk bergaya imut kekinian, katanya. Pipi gembil merona, menjadi nilai lebih dari penampilannya kali ini. Entah, tapi Chanyeol mengakui jika sang Kakak tidak bisa dibilang sebagai perawan tua, melainkan gadis muda yang masih mengalami masa pubertas.
Bahkan, Chanyeol merasa jika dirinyalah yang tertua. Mengenaskan.
"Ish! Lama sekali, sih? Kau itu seperti siput saja," pekik seorang wanita di sebrang sana. Chanyeol harus menarik kata-katanya lagi. Dari segi penampilan, memang, sang kakak memiliki nilai lebih. Namun, jika sudah berhubungan dengan segi kepribadian, Chanyeol lebih memilih bungkam jika masih ingin bernafas.
Tanpa menjawab, Chanyeol menghela nafas kasar. Ia berusaha berjalan lebih cepat, dengan tas yang dipikul, beserta tiga tas lain di tangan kekarnya. Jika seperti ini, Chanyeol lebih terlihat seperti kuli pikul. Sebenarnya, siapa yang berniat pergi ke tempat ini, dan siapa yang mesti menanggung barang bawaan? Lucu sekali. Saking lucunya, ia benar-benar ingin menangis.
Sebuah resort besar yang terletak di pegunungan, memanglah pilihan terbaik, apalagi untuk memilih tempat menginap. Mereka memang berencana untuk tinggal di sana selama tiga hari ke depan—tepatnya, Minseok lah yang lebih mengambil keputusan secara sepihak. Dan Chanyeol sebagai adik yang baik, harus banyak-banyak berdo'a untuk diberi kelapangan dada.
Kaki jenjang nan pendek itu, tampak bergerak cepat ketika mencapai bibir tangga menuju pintu masuk. Sementara, Chanyeol menarik nafas lega. Ia, pun cepat-cepat masuk, agar penderitaannya cepat berlalu.
Kini, mereka telah ke bagian resepsionis. Di sana, Minseok lah yang bertanggung jawab atas pemesanan kamar. Chanyeol hanya merenggangkan otot-ototnya sejenak, lalu menenteng kembali tas yang sempat diletakkan di atas lantai.
"Ini kunci kamarmu, beserta kartunya," Minseok berbalik seraya memberikan benda yang harus dibawanya, "Dan cepatlah! Aku tak menyangka memiliki adik lamban sepertimu," sungutnya kesal, dan Chanyeol harus super sabar dalam menghadapi sifat sang kakak yang super menyebalkan.
:::
Chanyeol harus bersyukur karena tempat seperti itu masih memiliki fasilitas lift; yang mana, memudahkan orang lain dalam mencapai lantai yang dituju. Terlebih bagi pengunjung yang harus berjalan jauh sambil membawa barang-barang berat. Sungguh melegakan, batin Chanyeol.
Ting
Pintu lift terbuka, memberi pemandangan lantai yang sama, namun berbeda tingkatan. Kamar yang menjadi tempatnya bermalam, tak jauh dari tempat lift. Sementara, kamar Minseok, ada di sebrang kamarnya. Sebelum masuk ke kamar masing-masing, Minseok menghentikan langkah Chanyeol.
"Hei,"
"Hm?" sahutan pelan, bahkan terdengar sangat pelan. Namun, telinga Minseok saja yang terlalu peka terhadap gelombang suara semacam itu. Walau terdengar, wanita itu masih kesal karena hanya disahut oleh lirihan pelan.
"Menyahut seperti itu lagi, akan kutebas lidahmu," tatapan mata imut, kini berubah menjadi tatapan psikopat yang membunuh. Membuat bulu kuduk Chanyeol merinding. Tak ingin memperkeruh suasana, Chanyeol hanya bisa berdeham.
"Kembalikan barangku," pintanya tak ingin berbasa-basi. Lekas, diberikannya tas berat yang dibawa Chanyeol tadi. Tas coklat, beserta tas berwarna tosca, kini telah berpindah tangan. Chanyeol menatap heran, karena tas yang diberikan, telah cukup. Namun, tatapan itu masih menghantui suasana.
Lirikan mata tajam, kini berpindah ke arah tas gandeng yang bermotif pokemon. Menyadari hal tersebut, cengiran khas terbentuk di wajahnya. Minseok mendesis kesal. Walau barang-barangnya telah berpindah ke tangannya, tetap saja, ia merasa jengkel mempunyai adik semacam Chanyeol di muka bumi ini.
Tak ingin berlama-lama, Minseok malah segera masuk ke kamarnya, dengan gebrakan pintu yag cukup keras. Sampai Chanyeol harus meringis melihat tingkah kekanakkan sang Kakak. Kini, ia memandang ke arah tas yang dibawanya. Hanya dua barang bawaan yang digandengnya. Dan satu matilda yang sengaja dibawa; tentunya sebelum itu semua, Chanyeol telah memberi syarat pada Minseok untuk memperbolehkannya membawa matilda itu. Lagipula, jika Minseok menolak, Chanyeol akan tetap membawanya, toh semua barang dirinya pula yang membawa. Untuk apa merasa pusing, pikir Chanyeol.
Diangkatnya matilda tersebut, lalu bergegas menuju kamarnya. Ketika pintu terbuka, Chanyeol sempat terpesona dengan interior kamar yang super mewah. Sesungguhnya, kata super terdengar hiperbolis jika harus ditelisik kembali. Mungkin untuk ukuran resort terpencil di pegunungan, merupakan hal yang luar biasa. Karena kebanyakan Chanyeol akan menemukan kamar besar yang interiornya biasa saja. Namun tidak untuk yang satu ini. Rasanya ia ingin bertemu dengan sang penanggung jawab, lalu memberikan testimonial ala pengguna jasa online yang sering dilihatnya.
Kamar yang berkonsep perdesaan, namun dibumbui dengan kemewahan. Sehingga, semuanya terlihat sangat menakjubkan. Chanyeol menaruh barang-barangnya di atas ranjang, dan memilih untuk berkeliling kamar; demi memuaskan hasrat penglihatannya.
Merasa puas, Chanyeol segera mengambil handuk kecil, beserta bathrobe. Jujur saja, setelah berjalan begitu jauh, disertai pikulan beban yang amat berat, Chanyeol memutuskan untuk mandi sejenak. Ia benar-benar ingin mengistirahatkan tubuhnya setelah menjadi korban kekerasan batin oleh sang Kakak.
Lantai kamar mandi di sana, memang didesain sedemikian rupa, agar pengunjung dapat merasakan suasana khas perdesaan. Ada batu besar yang konon, berusia ratusan tahun. Dan kini, batu besar tersebut menjadi penghias dari kamar mandinya.
Bathtube yang pada dasarnya digunakan oleh tempat-tempat mewah, malah berbanding terbalik dengan bathtube yang didiami oleh Chanyeol. Keramik dasarnya, bewarna kehijauan, agar suasana alam lebih terasa. Dan pijakan batu yang berada di pinggirnya, menjadikan suasana alam lebih terasa. Bahkan Chanyeol merasa tengah berendam di sungai.
Air hangat menjadi pilihan yang tepat di kala penat menjelang. Peluh di tubuh rasanya tengah meluncur ke luar, dan Chanyeol benar-benar merasa lebih rileks dibanding sebelumnya. Ia menghirup dalam-dalam aroma lavender yang menjadi pengharum kamar mandi. Aromanya bahkan mampu merilekskaan pikiran, beserta tubuh yang telah bekerja seharian.
Sesekali, Chanyeol tersenyum dalam diam. Ia benar-benar terlihat seperti pengamat interior. Tubuh telanjangnya, kini benar-benar hanyut dalam godaan air hangat yang mempesona. Chanyeol rasanya akan terbang, dan melayang menuju alam mimpi, jika saja ponselnya tidak berdering terlebih dahulu.
Chanyeol mendengus ketika melihat nama yang tertera di sana.
Kyungsoo's calling…
Pip—
"Apa?"
"Akhirnya kau menjawab juga. Ish! Kau ini sedang apa? Menonton? Tapi mengapa tidak terdengar suara dari televisi? Oh! Atau kau sedang berenang? Karena sedari tadi ada bunyi percikan air—"
"Ya. Lebih tepatnya berendam,"
"Dimana? Sauna? Jika iya, aku akan segera ke sana!"
"Hey, tunggu! Biasakan sebelum orang selesai bicara, kau harus mendengarkan. Kau tahu? Orang akan langsung menutup telepon jika kau masih senang menyela kalimat orang lain. Dan lagi, aku tidak di sauna. Memangnya hanya sauna yang punya tempat berendam? Aku sedang berada di tempat yang sangaaaaaaaaaat, jauh! Jadi, kau tak perlu mencariku, ya? Selamat tinggal!"
Pip. Chanyeol menutup teleponnya. Ia menghela nafas kasar, kemudian meletakkan kembali ponselnya. Merasa beban kembali menyelubungi kepalanya, lekas direndam seluruh tubuhnya hingga ujung rambut. Ia menenggelamkan diri, bagai batu yang terlempar.
Ya, memang. Sudah saatnya Chanyeol menerimanya, bukan menutup erat pikirannya.
Dan Chanyeol harus bisa membuka hatinya untuk Kyungsoo.
:::
Untuk ke sekian kalinya, Chanyeol harus menghembuskan nafas kasarnya. Guratan kekesalan, seakan tak luput dari pandangan. Walau dirinya tak bersuara sekali, pun orang-orang akan menebak jika Chanyeol memang sedang berada dalam tingkat tak ingin diganggu.
Ah, untuk sang Kakak, rasa-rasanya mustahil. Tiada hari tanpa menganggu aktifitas sang Adik. Chanyeol bahkan harus menggerutu walau hanya dalam kelirihan nan sunyi. Layaknya suara angin berhembus, dan untungnya indera kepekaan Minseok memang tidak begitu berfungsi saat ini. Jika tidak, mungkin Chanyeol harus segera menyiapkan penutup telinga karena mesti menghalau ucapan pedas sang Kakak.
"Aku tak mau. Bisakah kau tidak memaksaku sedikit saja, Kak?"
"Memang aku pernah memaksamu?" sahut wanita yang masih memilih-milih pakaiannya. Chanyeol benar-benar harus menyabarkan hatinya. Tidak. Tapi dirinya memang terlalu sabar. Semoga Tuhan memberkatimu, Park Chanyeol.
"Kurasa berabad-abad, pun takkan bisa menyelesaikan seberapa banyak paksaan darimu, Kakakku yang cantik," Chanyeol bergerak tanpa niat, seakan-akan ia sudah muak berdebat dengan saudara kandungya sendiri.
"Hiperbolis," Minseok mendecak, "Itu adalah hak, dan juga kewajibanmu, Park,"
"Ya, ya, ya," tampak kehabisan kalimat, Chanyeol memutuskan untuk mengemas barang-barang yang akan dibawanya nanti.
Kaki jerapahnya membawanya ke kamar yang tak jauh dari kamar Kakaknya. Chanyeol mendorong pintu dengan malas, ia benar-benar sudah kehilangan hasrat berliburnya. Ya, memang, bukan liburan namanya jika bersama sang Kakak. Chanyeol sadar betul akan kenyataan pahit yang sudah, atau bahkan sedang dialaminya saat ini.
Sesungguhnya, bukan berarti Chanyeol membenci Kakaknya. Ia tahu bahwa sang Kakak sangat menyanyanginya. Namun, cara yang dikenakannya sangatlah salah, sehingga membuat beberapa (banyak) perdebatan yang tak kunjung selesai jua.
Itulah istimewanya tali persaudaraan. Kau bahkan tidak akan pernah bisa merasakan cinta yang berarti jikalau bukan dari saudara. Dan tidak ada yang palsu dari semuanya. Hanya saja, mereka berusaha untuk tidak terlalu menunjukkan; karena bawaan lahir dan kebiasaan manusia yang memiliki sifat gengsi tinggi, kalau kata Chanyeol.
Mata sayupnya menatap koper beserta tas-tas yang ada di sana.
Bahkan ia belum sempat membereskan semuanya. Chanyeol menghela nafasnya, ia mengambil langkah pertama yang cukup baik; dengan mengambil ransel bermotif hitam putih, ia memasukkan barang-barang yang menurutnya akan dibawa nanti.
Matilda. Oh, tentunya Chanyeol ingat itu. Benda kesayangannya, atau bahkan ia lebih mencintai gitar tua itu dibanding dirinya sendiri. Mengingat Chanyeol sangat menyayangi sang matilda, membuat sang Kakak selalu membuat bahan candaan atau ancaman yang selalu menyangkut pautkan dirinya dan sang matilda.
Chanyeol ingat ketika Minseok sedang patah hati, semuanya dilampiaskan pada Chanyeol. Dimulai dari kesalahan-kesalahan kecil, dan bahkan yang tidak diperbuatnya, pun menjadi bahan amarah sang Kakak. Hingga, puncaknya, sang matilda lah yang menjadi korban.
Chanyeol bahkan harus menghabiskan tabungannya untuk memperbaiki sang matilda akibat ulah Kakaknya. Minseok pernah mencoret si gitar tua tersebut dengan gambar-gambar sarkastik, seakan-akan mencerminkan apa yang tengah sang Kakak rasakan. Dan hampir memutus senar-senar tipis di sana, sehingga membuat Chanyeol mendiamkan sang Kakak selama berhari-hari.
Tetapi, pada akhirnya, Chanyeol juga yang luluh. Ugh, terlebih ketika sang Kakak sudah mulai melakukan hal-hal yang manis seperti memasakkan makanan kesukannya, dan membelikan drum elektronik keluaran terbaru; yang mana sudah diidam-idamkan Chanyeol sejak lama.
Tentunya, hal tersebut tidak membuat sang Kakak terus berbuat manis seperti itu. Ketika Chanyeol mulai berbicara dengan Minseok, maka sikap sang Kakak berubah menjadi semula.
Kalau begitu caranya, seharusnya Chanyeol marah setiap hari, 'kan? Sungguh suatu penyesalan yang tak berarti.
…
"Kau tidak berusaha menyuruhku untuk membawa barang-barangmu lagi, 'kan?"
Chanyeol bertanya dengan sarkastik ketika sang Kakak menampakkan batang hidungnya. Minseok mendecak kesal, "Aku tidak akan sekejam itu, Tiang," Chanyeol menggelengkan kepala tak peduli. Ia meraih ranselnya, dan menggantungnya di kedua lengan kekarnya. Ia kemudian merogoh kantong celananya, antisiapasi jika barang penting di saku masih ada.
Ponsel, kunci, dan dompet. Sempurna. Ia mengangguk pelan, kemudian melirik ke arah Kakaknya, "Sudah selesai?"
Minseok mengangguk pelan, ia mencoba untuk mengecek apakah barang-barang yang telah ia siapkan ada di tasnya. Seusai itu, ia meraih yoghurt yang ia bawa dari rumah. Oh, apakah aku pernah bilang bahwa yoghurt merupakan kekasih lain seorang Park Minseok?
Kini, mereka siap. Minseok memakai celana pendek bewarna cerah pastel, dan atasan bermotif bunga, dengan pundak yang terekspos. Sedangkan, Chanyeol hanya memakai celana pendek selutut, dengan kaos berwarna coklat. Mereka tampak seperti sepasang kekasih yang tengah berlibur. Pencitraan yang cocok bagi sepasang kakak beradik tersebut.
Di perjalanan, Minseok terus saja menggandeng sang Adik. Seakan-akan ia tidak ingin terlihat sendiri. Mengingat paras Chanyeol yang lumayan, membuat Minseok senang dan tertawa dalam hati.
Ya, setidaknya membuat orang iri dengan keserasian mereka berdua, tidak salah, 'kan?
Tentunya, kisah ini tidak dikategorikan incest, yang mana kedua pihak memiliki hubungan darah dan terlibat masalah percintaan. Tidak, tidak. Membayangkannya saja membuat Minseok bergidik ngeri. Minseok hanya senang menemui fakta bahwa ia setidaknya terlihat menggandeng pria tampan, tanpa dijuluki Si Cantik yang Sendiri. Julukan paling menyedihkan yang pernah didengarnya.
Pemandangan kali ini memang indahnya bukan main. Beberapa kali, Chanyeol harus terpana melihat keeksotisan ukiran-ukiran yang telah dibuat oleh Tuhan. Chanyeol harus kembali bersyukur, mengingat seberapa besar kuasa sang Tuhan yang telah membuat segalanya menjadi lebih indah. Membuat para mahluk di muka bumi ini nyaman dan senang akan lingkungan dan keadaan yang ada.
Sementara, Minseok masih sibuk dengan ponsel pintarnya. Tak terhitung sudah berapa kali ia menjepretkan foto-foto pemandangan beserta dirinya sendiri. Sesekali ia menarik Chanyeol untuk berfoto bersamanya.
"Chan!" orang yang merasa namanya terpanggil itu, langsung menoleh ke arah sumber suara. Suara khas yang taka sing tersebut malah membuat Chanyeol jadi malas menoleh. Ia melirik ke arah Kakaknya yang sudah berjalan duluan di depannya. Gadis itu masih melambaikan tangannya, gesture yang menyuruh Chanyeol untuk segera mendekat ke arahnya.
Dengan malas, Chanyeol menggeret sepasang kaki panjangnya menuju sang Kakak. Jalanan yang dilaluinya, pun agak terjal dan licin, membuat Chanyeol harus menarik nafas kasar untuk mendapatkan udara nan sejuk itu.
"Ada a—" bruk!
Chanyeol mengernyit heran, karena tiba-tiba sang Kakak malah langsung menariknya dengan kasar. Tangan putih nan berisi itu kembali menggandeng lengan kekar sang Adik. Minseok berusaha menyesuaikan mimik wajah agar terlihat menarik dan lucu.
"Kontrol wajah jelekmu itu, Park," ingat Minseok dengan nada kasarnya. Namun, hal tersebut membuat Chanyeol semakin tidak ingin melakukan hal tersebut. Ia malah memasang wajah datarnya dibandingkan memperlihatkan senyuman manisnya di depan kamera milik sang Kakak.
"Kau ini patung atau manusia, sih?" keluh Minseok. Ia kembali melihat foto-foto sebelumnya, dan hanya mendapatkan wajah datar Chanyeol.
"Sepertinya tidak akan ada perusahaan manapun yang mau menerimamu sebagai model mereka," Minseok kembali menyindir Adiknya dengan perkataan pedasnya. Chanyeol seakan-akan telah terbiasa dengan hal tersebut malah lebih memilih untuk pergi dari sana.
Lagipula, tidak ada pentingnya mendengar ocehan sang Kakak, bukan?
…
Sepeninggalannya, Chanyeol berjalan semakin jauh dari tempat penginapan. Ia bahkan tidak tahu dimana ia sekarang. Mungkin rasa jenuhnya ini membuatnya tak sadar sudah seberapa jauhnya ia berjalan, bukan? Namun, apa daya, sepanjang ia terjauh dari sang Kakak, Chanyeol akan merasa sedikit baikan. Ya, setidaknya.
Semakin ke dalam, semakin sulit jalur yang ditempuhnya. Semak-semak belukar sudah ditemuinya. Pohon-pohon tinggi, pun menjadi penghias setiap jalan yang ditempuhnya.
Sesungguhnya, kemana ia akan pergi? Chanyeol, pun juga tidak tahu. Karena ia hanya mengikuti nalurinya, seakan-akan ada sebersit arahan dari tubuhnya secara tidak sadar.
Suara gemuruh air terjun mulai terdengar. Chanyeol pernah mendengar bahwa air terjun di sekitar sana dipercaya dapat mendatangkan keberuntungan. Dan seluruh permintaan yang diinginkan akan terkabul. Mengingat hal tersebut, Chanyeol langsung bergegas mendekati sumber suara. Perlahan, suara tersebut semakin nyaring, dan jelas di telinga. Bahkan, rasanya Chanyeol tidak dapat mendengar suara lain lagi selain air terjun itu.
Sesampainya di sana, Chanyeol melepaskan ranselnya. Ia juga melepas alas kaki yang tengah ia kenakan. Perlahan, ia memasukkan kaki panjangnya ke dalam air di sana.
Dingin, dan sejuk. Itulah kesan pertama yang didapatkan Chanyeol ketika merasakan air tersebut mulai masuk dan meresapi kulitnya. Chanyeol memutuskan untuk mendekatkan tubuhnya di dekat air terjun, dan membasuh wajahnya.
Segar. Oh, bahkan Chanyeol tidak tahu bahwa air saja bisa terasa menyegarkan seperti ini. Ia, pun tidak tahu, apakah faktor dirinya sendiri atau memang air terjun tersebut terasa berbeda dengan air yang lainnya. Yang terpenting, ia dapat menikmati air-air yang melewati dan menyentuh setiap jengkal kulitnya.
Sesungguhnya, ia ingin membasuh seluruh tubuhnya, namun mengingat ia tidak membawa baju ganti satupun, Chanyeol menahan keinginannya tersebut dan memutuskan untuk membasuh bagian tangan, kaki, dan wajahny saja.
Setelah merasa cukup, Chanyeol naik ke atas batu dan membuka ranselnya. Untungnya ia membawa handuk kecil, antisipasi semisal ia merasa kelelahan, setidaknya ia dapat menghilangkan builr-bulir keringat hasil ekskresinya tersebut.
Keadaan di sana sangatlah sunyi. Meski suara air terjun yang memeriahkan suasana, tetap saja, Chanyeol merasakan kehampaan yang mendalam di tempat itu. Chanyeol menarik kaki panjangnya, kemudian menekuknya. Ia terdiam sebentar, berusaha menenangkan jiwanya. Setidaknya kepergiannya ke sini memiliki manfaat yang cukup baik untuknya, 'kan? Walaupun memiliki awalan yang tidak bagus, setidaknya Chanyeol berterima kasih kepada sang Kakak karena telah menyeretnya ke tempat yang menenangkan itu.
Entah, tetapi Chanyeol merasa seperti ada sepasang mata yang menatapnya. Chanyeol tak tahu pasti apa itu, tetapi perlahan namun pasti, ia merasakan hawa asing yang cukup kuat di sekitarnya. Atmosfir yang tercipta, pun terasa berbeda dibanding sebelumnya. Chanyeol, pun memutuskan untuk mengenakan kembali alasnya, dan meninggalkan ranselnya di atas batu besar.
Kaki panjangnya, menuntunnya menuju semak-semak yang mengundang perhatiannya. Chanyeol kini, berjalan di atas batu besar yang lain, namun terasa licin, sehingga ia memelankan kecepatan berjalannya. Semak-semak itu semakin bergerak tak karuan, sehingga Chanyeol mempercepat langkahnya, tetapi dengan hati-hati.
"Siapa itu?" Chanyeol mengeraskan suaranya, dan mencoba memastikan apakah yang dibalik semak-semak tersebut manusia atau bukan. Ia memanjangkan kepalanya, berupaya jikasaja ia dapat melihat dengan jelas siapa sosok di balik semak belukar tersebut.
Ya, tidak apa, Yeol. Kau bukan seorang penakut, batinnya berusaha meyakinkan diri.
Dengan perasaan takut-tapi-penasaran, Chanyeol membuka celah-celah dari semak tersebut, guna mendapatkan fakta yang ada.
Satu
Dua
Tiga
Boom!
Kelinci. Seekor kelinci di tengah hutan seperti ini? Sungguh hebat. Mengingat nasib yang akan ditanggung oleh si kelinci putih nan menggemaskan tersebut, membuat Chanyeol prihatin. Bisa saja di masa depan nanti, kelinci tersebut tidak dapat menghirup oksigen yang ada, dan menikmati hidupnya sendiri.
Dengan perlahan, Chanyeol berusaha mengambil si kelinci kecil tersebut. Jarak yanga ada tidak terpaut jauh, tetapi, dengan tempat dan keadaan yang memaksanya untuk tetap ekstra hati-hati. Pelan…, pelan….,
Dapat!
Baru saja Chanyeol memegang bulu putih nan halus tersebut, si kelinci malah melompat menjauhi dirinya. Sontak, Chanyeol yang masih berdiri dan berusaha mengambil kelinci tersbeut, akhirnya langsung jatuh terguling menuju jurang yang cukup dalam.
Sementara itu, si kelinci berlari, dan kemudian berhenti di sepasang kaki putih yang berdiri di sana. Pemilik kaki tersebut berjongkok dan menggendong kelinci tersebut di lengan mungilnya.
"Hei, manis. Kau kemana saja? Kau bisa tersesat nanti," Gadis itu seakan-akan tengah berbicara dengan si kelinci, "Apa? Ada seseorang yang mencoba menyentuhmu?"
Seseorang di dalam hutan? Gadis tersebut langsung membelalakan mata sipitnya, dan menemui sosok jangkung yang tengah terbaring tak sadar di atas tanah.
…
Hari itu, seharusnya ia melakukan jadwal sehari-harinya, seperti merajut pakaian, atau membersihkan halaman sekitarnya. Namun, kali ini, nampaknya ia tengah asyik dengan kegiatan barunya.
Tampak seekor kelinci putih terbaring lemah di atas kain. Dengan luka di kakinya, memungkinkan si kelinci belum bisa berjalan dan melompat seperti biasanya.
Hari itu, Baekhyun memang tidak sengaja menemukan seekor kelinci yang sedari tadi nampak terperangkap oleh perangkap para pemburu illegal. Ya, memang dulu sering ada pemburuan illegal di sekitar hutan, tetapi, semenjak ada mitos tersebut, membuat para pemburu tersebut tidak berani memasuki kawasan hutan.
"Ini pasti perangkap tua yang belum mendapatkan mangsanya," ia bermonolog ria, seraya mengoleskan daun-daun di atas luka tersebut. Gadis itu menium-niupkan luka tersebut, berharap luka itu dapat sembuh dengan cepat.
"Sekarang kau tidak akan merasa kesakitan lagi," ujarnya sambil tersenyum. Matanya menyipit, seperti bulan sabit. Membuatnya terlihat mempesona dengan rambut panjang terurainya.
"Kau tunggu di sini sebentar, ya. Aku akan kembali membawa makanan untukmu," Baekhyun kemudian meninggalkan si kelinci yang tengah terbaring lemah di sana. Kaki mungilnya membawanya menuju dapur kesayangannya. Di sana memang tidak ada yang spesial, atau bahkan tidak terlihat layak. Namun, di sanalah Baekhyun menaruh berbagai macam tanaman obat, dan beberapa buah yang sesekali bisa disantapnya jika keturunan ke tujuh cendikiawan itu tidak datang menemuinya.
Di rumah yang terbilang sederhana, dan menyeramkan tersebut lah Baekhyun tinggal. Sepanjang hidupnya ia habiskan di rumah tua tersebut. Seperti menyimpan kenangan yang lalu; kenangan yang takkan pernah dilupakannya.
Ia membuka lemari kayunya, dan di sana terdapat beberapa tanaman yang layak makan. Ia mengambil segenggam, dan ditaruhnya di atas wadah kayu sederhana.
Sesaat ia kembali, kelinci tersebut menghilang. Baekhyun tidak tahu kemana si kelinci pergi. Ia khawatir, karena luka yang ada belum sepenuhnya sembuh. Dan oleh karena itu, Baekhyun harus segera mencari kelinci itu.
Sepanjang perjalanan, Baekhyun terus saja mengawasi setiap jengkal kaki melangkah. Entah, ia juga tidak tahu kemana kakinya akan membawanya pergi, tetapi yang terpenting, ia harus mendapatkan si kelinci.
Cukup lama ia berjalan, dan entah keberuntungan apa yang didapatkannya, si kelinci tiba-tiba menghampirinya. Dengan senang, Baekhyun menarik dan menggendong kelinci tersebut kedalam pelukannya, seakan ia tidak akan melepas kelinci tersebut.
"Hei, manis. Kau kemana saja? Kau bisa tersesat nanti," Gadis itu seakan-akan tengah berbicara dengan si kelinci, "Apa? Ada seseorang yang mencoba menyentuhmu?"
Baekhyun menelusuri sekitarnya, apakah orang-orang itu tidak merasa jera juga? Batinnya kesal.
Namun, yang didapati Baekhyun hanyalah seorang pria jangkung yang tergeletak tak sadarkan diri di atas tanah. Dengan cepat, Baekhyun menaruh si kelinci, dan mendekati pria tersebut.
Pelan…, pelan…, Baekhyun mencoba berhati-hati. Ia takut jika sosok tersebut masih sadar dan melakukan hal yang jahat padanya.
"Hei," nada suaranya sedikit membisik. Baekhyun menyentuh lengan pria tersebut dengan telunjuk jarinya. Dengan penuh kehati-hatian, Baekhyun menggoyangkan lengan tersebut secara perlahan. Mencoba memastikan apakah orang tersebut masih sadar atau tidak.
"Hei, kau tidak apa?" tanyanya setelah tidak mendapati jawaban apapun. Berani, ia mulai menjulurkan tangannya dan mengibas-ibaskan di depan wajah itu.
Melihat tidak ada jawaban, Baekhyun memutuskan untuk membalikkan tubuh sang pria yang bertelungkup.
"Ya, pelan-pelan, Baek..," bisiknya berusaha menyemangati dirinya sendiri.
Dan setelah tubuh tersebut terlentang, memperlihatkan tubuh depan dan wajahnya, Baekhyun hampir pecah dalam keterkejutannya, hingga menutup mulutnya dengan tangan mungil tersebut.
Matanya berkaca-kaca seolah tidak percaya dengan kenyataan ini,
"Chan?"
.
Dan setelah penantian lama ini, kau kembali, Chanxi.
…
A/N
Hi guys! Who's been waiting for long awaits? Lol I really didn't suppose to make yall feel annoyed, bc the wb disease just approached me so I have a bad time recently.
Back then, I'm so thankful to you guys who still waiting this fanfic tho I just postponed it till more than a year /slapped/
So, please, kindly submit your own thoughts about this chapter, so I will take it as a support from you guys and make it such as development for my own self.
See ya in the next chap!
Love,
dearestnoona
