Standard warning applied. OOC to the max & Typos. Contains some rude cursing word, NC-14. No Chara-Bashing purpose, please be understand.
ENJOY ! (:
Infidelity
Disclaimer :
Character © Masashi Kishimoto, 1999
Story © karinuuzumaki, 2011
CHAPTER 4 : BEAUTIFUL HANGOVER
Sabaku no Temari terbangun dengan rasa tidak karuan dalam dadanya. Ada debar yang tidak wajar, beradu memompa darah dari jantung ke seluruh pembuluh yang akhirnya memaksa keluar sejuta peluh. Dia tidak terbangun di tempat asing atau di kafe tempat dia minum-minum kemarin. Dia dikamarnya sendiri, di flat pribadi miliknya yang tidak jauh dari rumah keluarganya, kediaman sang Kazekage. Mendapati hal itu pikirannya lantas melaju, bukan lagi pada pertanyaan dimana sekarang dia berada, namun bersama siapa.
Belum sempat berpikir lebih lanjut, pening segera menyergapnya. Kepalanya bak dimahkotai kawat, membuat tenggorokannya serasa dicekat. Sejurus kemudian, tonjokkan serasa mengenai perut, membuatnya terpaksa berlari menuju kakus untuk mengeluarkan isinya dari mulut. Isinya hanya cairan, pertanda dia tidak makan apapun semalam.
Perlahan, dia mulai berdiri, berjalan kembali menuju kamar, sembari menahan nyeri dari selangkang. Nyeri yang bikin bulu kuduk berdiri. Bukan, dia bukan takut karena sudah disetubuhi. Dia juga sudah beberapa kali melakukan hal macam ini dengan kekasih yang sebelumnya diceritakan lihai menyakiti. Yang bikin ngeri, lagi-lagi, adalah dengan siapa dia melakukannya kali ini.
Saat kaki telah sampai pada kamar, dia memutuskan untuk segera memunguti pakaiannya yang dari semalam tergeletak pasrah di lantai. Dia tidak berani melempar pandang pada sang lelaki yang sudah berdiri membelakangi―sosok yang menjadi jawaban atas pertanyaan bersama siapa dia menghabiskan satu malam tadi. Tubuh sang lelaki sudah tertutup kain dari bawah perut sampai kaki, tapi tak pernah sampai menutupi bagian dadanya, lagi.
Kata 'lagi' membawanya untuk mengembangkan ingatan, mengulang-ulang lagi sisa memori untuk bisa diolah jadi hal yang bisa dimengerti. Sesekali mencuri pandang, Temari beralih segera memakai kembali terusan model kimono nya yang berwarna hitam itu dalam diam.
Rambut abu-abu, mata merah kehitaman. Tanpa dalaman baju, membuat tubuhnya hanya ditutupi dengan jubah dengan motif awan. Pintu-pintu ingatan terus terbuka lebar. Makin lama, makin mencandu debar, makin membuatnya sadar.
Rasanya, dia lebih ingin muntah sekarang.
•••
Tahu empat kata yang bisa menggambarkan tempat itu?
Bising. Bau. Pengap. Mengganggu.
Suasananya jauh dari kata nyaman, tidak banyak dari penghuninya yang bisa bergerak tanpa tergesa-gesa. Semua kontak terjadi dalam hitungan detik disana. Dari musik bertempo stacatto yang dilagukan kilat, bau feromon pekat, bulir keringat, ataupun mereka yang bercinta cepat-cepat. Tidak ada waktu untuk dibuang. Karena pagi akan segera menjelang, dan mereka harus kembali pulang. Pulang kepada rutinitas yang sangat padat, pulang pada bini yang marah karena pulang terlambat.
Atau,
Pulang pada sakit hati karena cinta yang tak sanggup lagi tertambat
Kembalikan cerita pada dia yang termenung disana. Tidak sepenuhnya termenung, ketika kau melihat banyak gelas hampa yang telah berpindah isinya. Ditangannya, masih ada satu yang terisi penuh. Mata hijau-nya memandang absurd sebelum memutuskan untuk menyesapnya pelan-pelan bak kopi yang bisa bikin bibir melepuh. Sebelum seluruh isinya berpindah ke perut, dia justru makin kalut. Larut. Dalam banyak pertanyaan yang irrasional bagi benaknya, dalam degup-degup yang samar dari perasaannya. Masih menyala-nyala, kalau memang kau ingin tahu keadaannya. Masih untuk ia.
Sementara dia menghirup bir untuk menikmati elegi, sementara itu pula sakit hati makin merajai. Bayangkan, ini sudah masuk gelas yang kelima. Masih banyak yang belum terlupa, tentang sebuah pengkhianatan. Perselingkuhan. Kisah sedih murahan. Bajingan.
Bajingan. Kata itu dilontarkan oleh ibunya dihadapan dia setelah tahu ayahnya menikah lagi. Setelah tahu dikhianati, diselingkuhi, diberi kisah sedih yang tak ada arti. Setelah itu terjadi, yang Sabaku no Temari tahu adalah bagaimana hidup menjadi berpuluh kali lebih sulit untuk dijalani. Ibunya tetap menjadi sosok yang penuh kasih dan dedikasi, disisi lain sikapnya sulit dimengerti. Matanya makin tak punya sorot berarti, makin lama makin mati. Pada awalnya cuma sekadar hati, lalu kemudian betulan mati. Mati dengan cara bunuh diri.
Bukan, tidak separah yang ada dalam benak kalian. Ibunya tidak mati gantung diri atau menyayat urat nadi. Yang dilakukannya hanya menyiksa diri sendiri, memenuhi pikirannya dengan cinta mati yang mengkhianati.
Mati. Mati. Mati.
Kata itu terus terulang dalam benak Temari. Dia tidak mengerti kenapa ibunya memilih untuk menyimpan rasa cinta yang mengantar dirinya sediri pada luka. Kala itu, dia sama sekali tidak mengerti kenapa ibunya memilih untuk pergi. Memilih mati. Membuatnya harus hidup dengan dengan sosok ayah yang dibenci dan dua saudara tiri, sebelum akhirnya cukup dewasa untuk hidup sendiri. Bersyukur dia tidak harus tinggal dengan ibu dari dua saudara tirinya. Wanita itu juga mati. Mungkin, ibunya sengaja memilih untuk mati karena ini. Membawa serta wanita itu bersamanya di liang lahat, menghembuskan nafas terakhir untuk menuntut balas akan dendam kesumat. Sekali lagi masih mungkin, belum fakta.
Kematian sang ibu bagi Temari berarti banyak hal. Dia belajar menoleransi sakit hati, menjadi sosok yang sangat kukuh pendirian pada hal yang telah diputuskan, dan satu yang pasti: berhati-hati dalam mencari lelaki.
Bodohnya, lelaki yang dia jadikan tambatan hati telah mengkhianati. Menyelingkuhi. Memberi elegi. Hal yang paling tidak bisa dia toleransi. Tidak bisa diampuni.
Pada awalnya hanya hati, kemudian betulan mati. Mati bunuh diri. Mati karena ingin menuntut balas setelah dikhianati.
Kali ini, satu pertanyaan tentang ibunya terjawab. Bukan beliau yang mau menyimpan cinta untuk menjadi sarang luka; beliau yang tak pernah bisa lupa.
Tiba-tiba ada yang mendidih tepat sekitar mata, ditambah dengan sakit yang merambat lagi dari hati ke kepala. Sebanding dengan bir yang berpindah ke perutnya. Dia merasa harus menambah lagi jumlah bir yang ditegaknya. Supaya kantuk bisa makin merasuk. Supaya matanya tidak membulat macam beruk. Dia ingin melupakan semuanya. Lupa tentang pertanyaan kenapa dia dikhianati. Lupa dengan sakit yang merayap sampai ulu hati. Lupa untuk menyudahi dengan cara mati.
Dia. Tidak. Ingin. Mati.
Maka dia memesan segelas lagi, kali ini diminum sampai tak ada isi. Bahkan sebelum sempat sisa buih putihnya hilang, dia sudah minta gelasnya kembali diisi ulang. Minum, minum lagi. Isi, isi lagi.
Ini sudah gelas ketujuh!
Perutnya sudah penuh, kerongkongannya sudah serasa melepuh. Tapi luka hatinya tak kunjung sembuh. Nyatanya tidak ada perubahan dalam ingatannya. Masih tentang ia. Sembari menahan tangis supaya tidak pecah sampai ke pipi, dia berhenti minta sang pelayan untuk mengisi lagi. Minum lebih banyak hanya akan mempercepat maut untuk segera memilihnya, sementara dia sedang mencari alternatif lain supaya dijauhi malaikat pencabut nyawa. Diantara kesadarannya yang tak lagi banyak, otaknya mulai menyimpulkan bahwa alkohol tak lagi berguna. Setan, dengan cara apa melupakannya?
Matanya berubah abu-abu. Mungkin akibat keasyikan menegak bir satu-satu atau ada sesuatu. Sesuatu yang tak tampak jelas bagi organ penglihatannya, yang mengubah cahaya yang ditangkap mata didominasi warna kelabu. Sementara dia memilih untuk membisu, selentingan pertanyaan sampai ke gendang telinganya.
"Sendiri?"
Dia hanya mematung. Berusaha melihat lebih dalam, sosok apa yang ada dihadapannya. Mempelajari niat sang siluet abu-abu yang sebenarnya sudah dapat dipastikan hanya ingin melakukan hal-hal tabu. Satu-satunya yang dia bisa tangkap jelas adalah sosok itu mengenakan jubah abstrak yang sudah tak punya pola dimatanya—berwarna hitam-merah, sementara dibaliknya hanya ada kulit belaka. Dadanya terekspos apa adanya, memaksa esterogen untuk berbaur dengan efek depresan dari bir yang diminumnya.
Seulas senyum dari dia tiba-tiba mengembang, otaknya tiba-tiba meruntut suatu cara. Cara yang tidak terpikirkan sebelumnya. Dengan cara ini dia bisa lupa, bisa berhenti memikirkannya. Berhenti mencari jawaban dari rentetan pertanyaan yang tidak bisa dipecahkan logika. Tentu saja yang paling utama, tanpa harus meregang nyawa.
Ketika tiba-tiba saja sentuhannya datang tanpa peringatan, dia sama sekali tak ingin melakukan hal berbau pertahanan.
Temari sama sekali tidak menolak ketika sosok abu-abu itu menggiringnya keluar dari hingar bingar tempat itu.
•••
Apa bedanya dia dengan ia yang menyakiti? Yang sudah melakukan hal ini dengan mengatasnamakan sebuah rasa sakit hati? Perut gadis Sabaku itu bergejolak, seakan-akan berontak. Dia menjadi jijik dengan kelakuannya yang begitu rendah, begitu mual dengan sebentuk dosa yang telah serta-merta dia jamah.
Apa yang telah kau lakukan, Sabaku no Temari? Kau bilang kau mengutuk apa yang disebut perselingkuhan, kau bilang sikap kekasihmu tak termaafkan. Tapi apa yang sudah kau lakukan? Kau perempuan rendahan. Sangat menjijikkan.
Temari yang telah selesai mengenakan kembali pakaiannya hanya berdiri canggung—antara takut dan gelisah—di kamarnya sendiri. Sorot matanya berusaha mengawasi. Terlebih, setelah dia benar-benar sadar bahwa jubah hitam itu menandakan kalau sosok dihadapannya bukanlah orang sembarangan. Tentu masih segar dalam ingatannya bahwa beberapa waktu sebelumya ada dua lelaki yang juga berjubah hitam-merah yang sama datang ke Suna untuk menculik Kazekage dan nyaris memporak-porandakan desa. Lelaki ini bisa saja menjadi ancaman baginya, atau lebih parah lagi, kembali bagi desanya.
Sejauh ini lelaki itu hanya mengamati beberapa benda yang ada di meja letaknya memang bersebelahan dengan tempat tidur yang menjadi alas dari perbuatan nista mereka. Buku-buku administrasi Sunagakure, alat-alat make up berserakan, buku-buku acak, dan beberapa benda standar lainnya. Akan tetapi ada satu barang yang menarik perhatian sosok abu-abu itu, sebuah frame foto. Dimana isinya adalah sebuah potret dari gadis yang baru saja dinikmati tubuhnya, bersama seorang pemuda yang tidak asing wajahnya. Pemuda dengan jaket jounin hijau dan lambang Konoha di lengan kirinya. Pemuda dengan kuciran rambut tinggi, yang telah dia bunuh gurunya. Ah, tiba-tiba saja ia ingat betapa menyenangkan menusuk perutnya kala itu. Lelaki ini begitu yakin, Dewa Jashin pun sangat puas dengan pembunuhan yang satu itu.
"Aku tidak menyangka bahwa aku telah menghabiskan semalaman dengan seorang putri Suna rupanya," lelaki itu mencibir. Bola mata ruby lelaki itu beralih perlahan, menatap gadis yang berdiri di sudut ruangan dalam kegalauan itu dengan pandangan mata kejam. "Suatu kehormatan bagi saya, Tuan Putri. Semoga apa yang telah saya berikan cukup... memuaskan."
Wajah Temari seakan telah ditampar bolak-balik. Seperti belum cukup kenyataan dia telah berselingkuh dari kekasihnya, kini dia dihadapkan lagi pada fakta bahwa dia seorang putri Suna, putri yang seharusnya menjaga tingkah laku dan martabat keluarganya, kini justru melakukan hal yang sama rendahnya dengan gadis-gadis sundal yang menjajakan kenikmatan tubuh mulus mereka. Bersetubuh dengan orang yang tak dikenalnya, bercinta semata-mata karena nafsu belaka.
"Tidak perlu pasang tampang seperti itu, Nona. Tidak masalah sekali-kali mencari kesenangan." ucap lelaki itu santai sembari menatap lagi pigura di meja itu. Diangkatnya sebentar agar dapat melihatnya dengan jelas, namun kemudian dia menggeletakannya, membiarkan pigura itu tertutup di atas meja. Lantas beranjak mendekati sosok gadis yang masih mematung. "Bukankah... tidak masalah bercinta sejenak karena kekasihmu berada jauh di Konoha? Relaks saja, toh dia juga tak mengetahuinya."
Mata emerald itu kontan terbelalak mendengar apa yang baru saja diucapkan pemilik mata ruby itu. Dari mana lelaki ini tahu, terlebih, apakah lelaki ini mengenal Shikamaru? "K-kau, tahu darimana...?"
"Tentu saja..." sang lelaki itu menunduk dan berbisik tepat ditelinga Temari. Sengaja menyentuhkan tulang rahangnya ke pipi gadis itu dan melakukannya perlahan. "Kalau tidak, untuk apa kau meracaukan namanya ketika bercinta denganku, hah?"
Mau tidak mau, gadis itu kontan melemas. Bahkan hanya dalam sepersekian detik menghirup aroma tubuh lelaki itu, yang jujur saja sangat menggelitik di indra penciumannya, seakan dapat meruntuhkan semua kesetiannya. Menutup sakit hatinya. Dia membutuhkan sentuhan yang lembut itu lebih banyak lagi, lebih intens lagi, dia sangat membutuhkannya. Semata untuk menyudahi luka hatinya.
Tetapi kali ini logika dan nurani masih berperan serta. Sadar posisi semakin berbahaya, gadis itu lantas mundur beberapa langkah, menjauh dari jangkauan nista lelaki dihadapannya. "Kau mengenal Shikamaru..." Kalimat yang dilontarkan Temari tidak kelihatan seperti pertanyaan, namun justru lebih ke arah terkaan. Sementara lelaki itu tergelak, nampak geli sendiri dengan ucapan gadis dihadapannya.
"Semacam," Suara rendah itu kembali menggema di telinga sang putri Suna. Mata emerald nya menatap lelaki itu dengan sorot mata yang jelas menyiratkan ketakutannya. Dia takut, Sabaku no Temari takut. Takut kesetiannya akan kembali dipertanyakan dan sekali ini akan lebih cepat untuk runtuh dengan sendirinya, tanpa pertahanan. "Tergantung saja, apakah karena aku membunuh gurunya di depannya itu sudah bisa dibilang bahwa aku mengenalnya?"
Temari tidak tahu harus sampai kapan jantungnya terus berdetak keras ketika menghadapi semua kalimat yang dilontarkan lelaki ini. Apakah ini yang disebut kebetulan? Atau memang Tuhan sengaja mempermainkan nasib untuknya? Kenapa semuanya menjadi suatu yang berkesinambungan? Di hadapannya, ada sosok yang patut dipersalahkan atas semua kejadian yang menimpa kekasihnya, atas semua sakit hati yang pada akhirnya juga mencabik perasaannya. Namun dia sama sekali tak menyangka bahwa sosok itu pula yang kini menenangkannya, berbagi kenikmatan untuk melupakannya.
Perutnya semakin mual.
Tiba-tiba saja lelaki itu meledak tertawa, entah apa yang ditertawakannya. Yang jelas, Temari sudah menerka bahwa tawa itu bukanlah untuk sesuatu yang baik untuknya. "Ada apa, Nona? Kenapa pasang tampang macam itu?" Cibir lelaki itu sambil melempar senyum sinis yang begitu, begitu dibenci Temari. Senyum sinis yang kenyataannya sangat menggoda hati. "Bukankah lucu, kalau ternyata kau berselingkuh dengan salah satu yang menjadi musuh kekasihmu?" Gadis pemilik mata emerald itu belum sanggup merespon apa-apa ketika tawa kembali bergema. "Aku tidak bisa membayangkan betapa kekasihmu itu mengutukku. Sudah kubunuh gurunya, kini kunikmati pula tubuh kekasihnya. Harusnya dia sangat membenciku."
"J-jangan bicara seolah aku yang menginginkan semua ini," ujar Temari terbata-bata sembari mengatur nafasnya. Sakit, sesak. Dia seakan tidak bisa bernafas menghadapi berbagai kenyataan menyedihkan yang begitu tiba-tiba. Banyak fakta yang tak dapat diterima oleh otaknya. "Jangan bicara seakan aku sudah melakukan hal yang sama rendahnya..."
"Apa maksudmu?" Tanya lelaki itu kemudian menatap lurus wajah gadis itu. Membaca situasi yang ditampilkan dari roman muka mengerikan dari putri suna itu.
"Bukan aku, bukan aku..." Gadis itu meracau sembari memegangi kepalanya yang serasa mau pecah. Dia nampak begitu kacau, entah apa yang tengah dipikirkannya. "Kau―kau yang membunuh Asuma... kau yang membuatnya berselingkuh dariku!"
Sebuah hening menyela. Namun selang dua detik, mulut lelaki itu perlahan kembali menggeluarkan desis tawa. Tawa yang jauh lebih membahana dari sebelumnya. Lelaki itu terbahak seakan apa yang diucapkan sang gadis itu lelucon yang memang patut ditertawakan. Sementara gadis itu menatap sosok dihadapannya tidak percaya―apakah lelaki dihadapannya sudah gila?
"Jadi setelah gurunya kubunuh, dia berselingkuh dengan orang lain begitu?" Komentar lelaki itu dengan nada sarkas sembari meneruskan tawanya, entah kenapa kalimat yang baru saja terlontar dari mulut gadis itu sangat menggelikan baginya. "Lalu, kau, tiba-tiba saja menjadi yang terluka diantara semuanya? Yang benar saja, kau benar-benar bodoh. Tidak, bukan hanya bodoh, kau juga sangat menyedihkan."
Temari membuang pandangannya, memilih untuk tidak lagi menatap mata ruby yang makin lama makin menghipnotisnya. Lukanya kembali berdenyut, selaras dengan hatinya yang kalut. Tanpa harus dijelaskan oleh lelaki anonim dihadapannya ini pun dia sudah tahu bahwa dirinya memang bodoh dan menyedihkan. Telah mempercayai bahwa punya kekasih yang memiliki kesetiaan tinggi padahal malah bermain api, butuh bukti apalagi?
Lelaki berambut abu-abu itu lantas menyentuh dagu gadis itu. Menariknya, memaksa mata emerald itu untuk langsung berhadapan dengan bola mata merah darahnya. "Mau tahu kenapa kekasihmu berselingkuh, Putri?" Lagi-lagi dia meletakkan tulang rahangnya bersebelahan dengan pipi sang gadis, mengulik rasa panik yang seketika mendera. Tanpa menunggu persetujuan Sabaku tertua itu, sang lelaki lantas melanjutkan ucapannya. "Kalian, adalah shinobi yang naif dan egois."
Telapak tangan kasap lelaki itu membelai wajah Temari perlahan, seakan kulit lelaki itu sedang menikmati dari setiap inchi kehalusan wajah yang tengah ia sentuh. Sementara bibirnya bergerilya, beringsut tanpa suara menjelajahi bagian leher kiri gadis itu. Meruntuhkan segala keraguan dan logika kesetiaan yang tadinya masih dicamkan. Jantung gadis itu berdebar sangat keras, sementara nafsu dalam dirinya tak sanggup dibendung hingga lepas.
"Kalian hanya kenal aturan-aturan ortodoks. Tidak kenal disakiti dan juga tidak mau berbagi." Ungkap lelaki itu ditengah keasyikan bibirnya yang sedang menari diatas kulit sensitif itu. "Kenapa salah membunuh orang? Kenapa hanya semata-mata itu orang yang kau cintai, lantas aku tidak boleh membunuhnya?"
Sabaku no Temari sedang tidak dalam kondisi yang dapat berpikir secara rasional, pikirannya mengawang-awang. Dia tak dapat menyanggah ataupun mengomentari apa yang telah diucapak lelaki itu. Karena dosa tengah kuat mencengkramnya, kenikmatan merasuk begitu halus dari tiap sentuhannya. Dia terhanyut begitu saja.
"Kenapa aku tidak boleh bercinta dengan orang yang telah menjadi kekasih orang lain? Bukankah kita diajari untuk berbagi? Kenapa begitu egois?"
Lelaki itu tidak menunggu dua kali sampai akhirnya mendaratkan ciuman utuh ke bibir gadis itu, membiarkan lidah mereka bertaut sampai mencipta desah. Membiarkan bibir merekah itu berwarna sangat merah dan begitu basah. Bibir mereka bersatu dan utuh, seakan begitulah seharusnya mereka sedari dulu. Namun tiba-tiba lelaki itu menyudahinya, melepaskan semua sentuhannya. Sementara Temari tak dapat menutupi adanya kekecewaan dari sorot mata nanarnya. Tak bisa menutupi bahwa dia juga sangat menikmatinya. Lelaki itu membelai bibir Temari dengan ibu jarinya sejenak, sebelum melanjutkan kalimatnya.
"Kenapa kalian menyebut perselingkuhan itu sebagai dosa, padahal kalian sendiri juga sangat menikmatinya?"
Gadis berkucir itu seperti hendak menjawab, namun segera diurungkan niatnya. Dia tidak tahu jawaban yang benar-benar tepat diantara pertanyaan yang telah dilontarkan. Sebut soal norma, bukankah itu tidak lebih dari sekadar formalitas? Bukankah itu hanya menambah cap manusia sebagai apa yang disebut kemunafikan? Temari tidak bisa menjawabnya.
"Pikirkan apa yang telah kutanyakan padamu itu baik-baik, Tuan Putri." Ujar lelaki itu sembari beralih menarik pedang bermata tiga miliknya. Dia kembali menghampiri gadis di sudut ruangan itu dan menatapnya ekor matanya lekat-lekat, meski sang gadis itu sama sekali tidak balas menatapnya. "Kuharap kita dapat bertemu lagi."
"Tunggu," baru dua langkah berlalu, sampai akhirnya sepatah kata lagi muncul dari bibir Temari. Tangannya terulur menarik tubuh dihadapannya agar rapat kembali. Maka untuk pertama kali, mata emerald itu menatap ruby langsung atas dasar kehendaknya sendiri. "Kemana tujuanmu selanjutnya?"
Sambil menyunggingkan senyum bekunya, lelaki itu memutuskan untuk bermain sebentar lagi. Ah, gadis kecil yang patah hati macam ini. Kenapa sangat menyenangkan untuk dinikmati? Ia mendekat, sementara gadis suna itu lantas sadar untuk segera membangun jarak. Sayang dia tidak sempat, karena jarak telah habis untuknya yang terkepung antara dinding dan tubuh si lelaki bekulit pucat. Temari menatap sosok dihadapannya dalam keadaan tercekat. Justru membuat lelaki itu merasa berkuasa atas gadis di hadapannya. Ia sudah semakin lihai 'memainkan' gadis yang jauh lebih muda darinya ini.
"Kalau kubilang Konoha...?" Bisiknya.
"Kono―hnghh..."
Temari tidak menyelesaikan kalimatnya. Karena ciuman telah kembali mengunci bibirnya, membangun lagi desah-desah yang akhirnya terlepas tanpa batas. Lelaki itu sengaja menciptakan jeda sejenak untuk menatap ekspresi gadis kecilnya itu. "Kau bisa saja doakan semoga aku tidak bertemu kekasihmu," ucapnya segera, namun tiba-tiba beralih menuntaskan kecupan mereka. Lama dan begitu panjang.
Masih dengan nafas yang setengah tersengal dan jarak mereka yang tak ada satu jengkal, Temari berusaha melontarkan satu pertanyaan lagi pada sosok dihadapannya. "Boleh―boleh kutahu siapa namamu?"
Lelaki itu tidak langsung menjawabnya, dia menikmati raut wajah kebingungan, keingintahuan, dan ketakutan di wajah Putri Suna itu sekaligus. Menatapnya begitu tak berdaya dalam sentuhannya, entah kenapa, sangat memuaskan baginya. Setelah melemparkan senyum beku lain pada gadis dihadapannya, lelaki itu akhirnya berbalik, melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda. Temari hendak kembali menghentikannya ketika tiba-tiba lelaki itu angkat bicara.
"Bagaimana kalau kau menanyakannya sendiri pada kekasihmu?" Lelaki itu balas bertanya ketika tangannya sudah memutar kenop pintu. Lantas memalingkan muka untuk melemparkan senyum sinisnya yang begitu tipikal. "Kau akan segera mengaku padanya kalau kau berselingkuh denganku, bukan?"
Matanya besar membulat, sementara rasa sakit kembali merambat. Nafas yang tiba-tiba bersekat membuat dia gagal berbicara apalagi membuat lelaki itu mengurungkan niat.
Blam!
Mata sang gadis masih menyaksikan lelaki berjubah hitam merah itu hingga akhirnya sosoknya hilang dibalik pintu. Ketika itu pula sisa-sisa karbon dioksida dalam paru-parunya baru bisa terlepas. Nafasnya segera memburu, berkali-kali menginjeksikan udara dalam rongga dadanya seakan baru sekali itu dia mendapatkan udara untuk bernafas. Temari masih berusaha menguatkan dirinya, dia meniti langkah setapak demi setapak untuk menuju meja disebelah tempat tidurnya, memeriksa apa yang sebetulnya dilakukan lelaki tadi di depan meja itu.
Namun yang ditemukannya adalah sebuah kalung berantai bundar bak tasbih berwarna hitam, sehitam pedang bermata tiga milik lelaki itu, dengan sebuah bandul lingkaran besar. Dia asing dengan benda itu, tapi toh dia sudah hampir terbiasa dengan berbagai keasingan dalam hidupnya sendiri. Perlahan, dia menyentuhnya, lalu akhirnya tersadar bahwa kalung itu tergeletak diatas sebuah punggung pigura yang tertutup. Gadis itu tidak perlu melihat gambar apa yang ada di balik pigura itu, dia sudah tahu. Lantas menjadi malu.
Kalung itu masih dalam genggaman sang gadis Suna ketika akhirnya dia jatuh meringkuk di lantai beku. Kakinya begitu lemas, bahkan tak punya daya untuk sekadar meyangga berat tubuhnya. Bola mata emerald yang tersimpan di kelopaknya yang membengkak tidak mengeluarkan air mata, hanya saja seperti telah kehilangan sorotnya. Pandangannya nanar terarah pada bulan separuh yang bahkan telah ditelan kabut hitam malam. Bulan menyaksikan segalanya. Menyaksikan dosanya. Menyaksikan dosa ia pula. Di kepalanya teringat akan begitu banyak hal yang terjadi.
Sakit hati. Sentuhan lelaki. Perselingkuhan. Sebuah cumbuan. Mempermainkan hati. Nikmatnya disetubuhi. Tidak mengerti. Tapi mengerti. Dia. Ia. Kita. Mereka. Cinta. Setia! Apa setia? Mana yang disebut setia?
Tubuhnya meringkuk lebih dalam seakan ingin tenggelam, seiring dengan matanya yang tiba-tiba memejam. Dia malu kepada alam, malu kepada bulan, malu kepada Tuhan. Beginikah yang dia sebut hina? Macam ini yang tadinya dia rutuki, yang dianggap tidak punya nurani. Dia sendiri yang melakoni.
Tiba-tiba saja semua yang disentuh lelaki anonim itu berdenyut-denyut dengan sendirinya. Mulai dari bibir hingga hidungnya yang bangir, rambut di kepala hingga rambut pada kemaluannya. Semuanya berubah siksa, merajam kulitnya dan mengerat fana seakan mendera sampai ke dalam sel tubuhnya. Dia sakit. Dia lemah. Dia tidak bisa menghentikannya. Tubuhnya mengakui dosa yang telah diperbuat olehnya. Dia telah berselingkuh dari kekasihnya.
Kesadarannya lantas terkapar dikerubungi banyak tanda tanya dalam hati. Dia telah mengerti, sekaligus tambah tidak mengerti. Tepat sebelum menghilang, alam bawah sadarnya mengerang, meski dia tahu kalimatnya takkan sampai ke telinga pemuda di seberang, tapi toh dia mengucapnya jua dengan dasar sebuah penyesalan. Pita suaranya lirih beradu, mengucapkan tiga kata menjadi kalimat padu.
"Maafkan aku... Shikamaru..."
•••
Masih dalam malam yang sama, masih dalam suasana kelam yang tak jauh beda. Bulan separuh, saksi dari semua dosa mereka, menerangi pula langit Konoha. Pemilik malam itu memancarkan sinar yang cenderung remang, namun cukup untuk membuat kamar gelap gulita milik sebuah apartemen yang sudah tidak disewa itu bersorotkan cahaya.
Kamar apartemen itu memang baru saja habis masa sewanya, praktis tiada satupun yang menempatinya. Akan tetapi, ternyata ada seseorang didalamnya. Seseorang yang seakan masih belum percaya dengan apa yang telah dilakukannya di ruangan ini hingga membuat seorang gadis menangis. Belum percaya pada emosi yang merasuk begitu saja dalam dirinya hingga ia melakukan hal diluar kendali. Belum percaya, dia sudah tak ada disini, pergi, karena sebuah dosa yang ia perbuat sendiri.
Pemuda itu menyandar pada rangka tempat tidur sembari menatap bulan yang selama ini menyaksikannya, sembari memutar-mutar puntung rokok menyala diantara jari telunjuk dan jari tengahnya. Ia memang kembali, untuk merasakan sakit hati. Kekasihnya pernah disini, menangis untuknya, bertengkar dengannya, ditampar olehnya. Ia menjadi sedih sekali. Penyesalannya seakan tak akan pernah berakhir di tempat ini. Pikirannya berlari kesana-kemari, sebelum akhirnya ia mengenggam ujung rokok yang menyala sampai hancur di telapak tangannya. Ia telah memantapkan hati.
Ia akan menyelesaikan semua ini.
TBC
Author's Note :
Jadi, kalau mau membunuh saya, dipersilakan. /
Huhuhu, bukan maksud saya kok mengupdate selama ini /nangis/ soalnya saya juga nggak tahu ternyata hidup sebagai siswa SMA, ditambah seorang author yang amatir dan susah cari ide itu bakal seberat ini ;_; Maaf semaaf-maafnya maaf (?) sudah membuat kalian menunggu selama ini /wait, masih adakah yang menunggu?/ /dirajam/ tapi, afterall, YEAH! Chapter 4 hadir lho~ hihihi :3 Ini adalah chapter terpanjang yang pernah dipublish oleh saya selama menulis FFn, 3,721words untuk satu chapter! /itubelomseberapadodol/ /pundung/ Di chapter ini memang ada banyak pikiran-pikiran spekulatif dan kalimat-kalimat (terutama dari si 'Lelaki' itu :3) yang mengusik secara filsafatis ya? Saya maunya sih bikin gitu, tapi kalau emang nggak sampai ke hati pembaca, maaf ;A; Tapi mohon kalimat-kalimat disini jangan ditelan mentah-mentah ya, nanti saya kayak ngajarin sesat (?) wakakak. dan, Judul chapternya saya ambil dari lagunya BIGBANG lhooo! /sokpentingabis/ Ebetewe, buat yang tidak dong, disini Temari adalah saudara beda ibu sama Kankurou dan Gaara. Daaan, ibu mereka sama-sama meninggal gitu ._. Saya tahu emang beda banget sama aslinya, tapi dari pertama saya baca Naruto, saya suka aja nganggep mereka bertiga itu emang siblings tapi beda ibu.
Dan... ada yang bisa nebak lelaki itu? :p dikasih kecupan deeeh /plakplak
self checker : some monotone description and too centered-character. Well, what can I say...
Reviews, Flames, Concrit are welcome and would be very nice nice. So, pretty please, with sugar on top? :9
v
v
v
