Note: Sekali lagiiiiiiii, JKT48 bukan punya gue, 48 family juga, teater JKT48 juga, Shania junianatha juga, gomen ne summer juga, semuanya bukan punya gue.

dan karena bukan gue yang punya dan bahkan gue belum pernah menginjakkan kaki gue di sana, jadi maaf ya kalo banyak yang salah dan nggak sesuai kenyataan.

termaksud sifat membernya. maaf bangeeetttt kalo ternyata sifat membernya (kayak Beby, suka cowok. gue gatau dia emang suka cowok-maksud gue kayak suka nyari cowo ganteng gitu-atau engga.) maaf banget kalau ternyata dia oshi lu dan ini mencemarkan nama baik beby atau member lainnya. atau oshi lu Shania, jadi lu engga seneng shania dipasangin sama cowok. maaf banget ya! MAAFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFF

sekali lagi ini cuma fiksi. namanya aja uda fanfiction. maaf banget ya kalo ada yang maksud. silahkan komenkomen lagi yaa thankyou!

Nacchan48: huihuiii thankyou nacchan! rasanya aku jadi kenal banget sama kamu hehe. untuk cinta segitiga semi empat(?) aku belom kepikiran nih dibikin atau enggak. liat jalannya aja ya! arigatou~~ XDDDd

ferdymizu98: makasih yaaaa sudah mau nunggu dan mau baca! hehehee~ maaf kelamaannn...

.

.

.

.

.

Sebelum telapak tangan kami sempat bersentuhan, kami terpana sesaat. Kedua mata itu, kedua mata yang seolah tersenyum kepadaku itu, aku tidak bisa melepaskan pandanganku darinya.

Aku tidak tahu apa yang dia pikirkan, tapi yang ada di pikiranku sekarang adalah perempuan ini benar-benar membawaku ke masa lalu. Selain memiliki nama yang sama, wajah yang sama, dia juga memiliki mata yang sama dengan perempuan itu.

Kehangatan ini, persis seperti yang aku rasakan saat musim panas beberapa waktu lalu dengannya. Aku ingin bertemu dengannya lagi. Aku ingin memandang kedua matanya. Aku ingin menyentuh rambut hitamnya. Aku ingin mencintainya. Aku ingin mencintainya. "Lama tak jumpa," Ucapku begitu menyadari bahwa dia benar-benar wanita yang dulu aku suka. "Shan."

.

.

.

.

.

"Itu siapa, Nju?" Tanya Gaby yang berada disebelah kananku selama tadi hi-touch. "Teman lama, ya?"

"Eh, iya, semacam itu." Jawabku mencoba bersikap wajar, meski kelihatannya gagal sehingga aku jadi semakin dicurigai.

"Temen apa temen?" Cengir Beby kemudian tertawa. "Kamu jahat, Shan. Masa aku yang nemuin itu cowok keren, kamu yang ambil..." ujarnya lagi kali ini sambil purapura cemberut.

"Apaansih beb..." balasku tak peduli, padahal sebenarnya aku peduli setengah mati. "Udah dibilangin, kan kita enggak boleh pacaran..."

"Dih, siapa yang bilang kalian pacaran?" Balas Beby, kemudian diikuti tawanya dan Gaby, yang membuat wajahku semakin memerah. Sialannnnnn.

"Yodahlah, gue mau cari angin dulu bentar." Ucapku kemudian memakai kacamataku dan menutup kepalaku dengan hoodie lalu berjalan ke luar.

"Yaaah, mau kabur dia." Seru Gaby sambil nyengir. "Hati-hati nju, diisengin wota entar!"

"Gakbakaal!" Seruku kemudian meneruskan langkahku, semakin cepat.

Brugh!

"Aduh..." Siallll pake nabrak orang segala, lagi, batinku sambil membenarkan posisi berdiriku. "Maaf ya, maaf banget, saya engga liat."

"Eh, nggakpapa kok, gue yang salah..." Kata pria yang kelihatannya seorang mahasiswa itu. "...Shanju?"

Aku tersentak, kemudian sadar bahwa tudungku yang tadinya menutupi kepalaku kini telah lepas. Mampus dah.

"Shanju ya!? Yaampun enggak pernah ke teater gue sekarang malah ketemu member langsung." Serunya, kemudian berusaha meraih tanganku. Spontan aku menghindar. "Yah, Shan. Masa megang doang gak boleh?"

Mampus gue, mana udah capek banget lagi. "...Apaan, sih..." Balasku ketus.

"Kok apaan?" Tanya cowok itu balik, terlihat tidak senang. Gawat!

"Woi, mau lu apain cewek gua?"

Dheg.

Tiba-tiba aku merasa ada seseorang yang menyentuh bahuku, melindungiku. Tangannya yang lebar itu mendorongku menjauh dar i laki-laki tadi, membuatku kini berada di lindungan si penyelamat. Aku kemudian memberanikan diri untuk melihat ke wajahnya, wajah yang ternyata sangat kukenal.

"Oh, jadi cewek lu, toh? Sori bro..." Kata pria itu yang kelihatan takut begitu melihat wajah laki-laki yang melindungiku, kemudian berjalan menjauh. "Hoki banget lu, punya pacar mirip idol!"

"Terserah." Gumam laki-laki yang tadi menyentuh bahuku ketika wota tadi sudah jauh dari kami. Aku kembali melihat ke arah wajahnya. Tidak salah lagi.

"Makasih, Rio..." Ujarku pelan. "Tapi... kenapa?"

"Ya, gakpapa. Aku bisa pulang sendiri, kok. Lagipula temanku tadi ada urusan, dan aku masih mau disini, jadi dia pergi duluan." Lah, kok gak nyambung?

"Haaah, bukan itu maksudku!" Balasku melas. "Maksudnya, kenapa kamu... mengaku sebagai... tau lah..." Lanjutku terbata-bata.

"Kenapa? Gak pernah punya pacar, "Nju"? Ya, daripada kamu entar diapa-apain sama itu orang aneh..." Balasnya yang membuatku memukulinya. Tetapi bukannya kesakitan, dia malah tertawa kecil.

Aku ingin mendengar tawanya lagi.

"Kamu masih nggak berubah ya, Shan. Masih aja polos kayak gini..." Ucapnya sambil melihat-lihat ke lantai bawah, memperhatikan setiap toko yang sedang menutup toko mereka masing-masing. Aku berjalan pelan dan berdiri di sampingnya. "Gimana kabarmu? Gak kusangka, sekian tahun kita enggak ketemu, kamu malah jadi artis."

"Hehehe..." Ucapku tersipu malu. "Hebat, kan? Dengan begini aku bisa jadi lebih sukses daripada kamu, dong!"

"Iyadeh, iya..." Ucapnya sambil memberi senyuman kepadaku, senyuman yang selama ini aku rindukan.

"Shan, ini jadi kayak flashback gini, ya..." Lanjutnya. "Kangen, deh."

"HH-HAH, K-KKKKangen!?"

"Eh!? M-Maksudku kangen ngobrol bareng kayak gini, loh!" Balasnya sama gagapnya denganku dengan muka memerah. Haah, kirain apaan. Hampir saja aku berharap...

"Hahaha, kirain..." Tawaku. "Aku juga kangen banget. Ingat nggak, dulu kita suka naik sepeda bareng di pinggir pantai?"

"Ingat!" Seru Rio kemudian kembali terdiam, lalu tertawa sendiri. "Ingat nggak, pas aku bonceng kamu waktu hari pertama masuk SMP, habis itu kita hampir jatuh garagara kamu nggak bisa diam?"

"Sial... ahahaha" Balasku sambil ikut tertawa. "Oh iya, iya! Habis itu ingat nggak, pas kita nonton kembang api malam tahun baru, kamu sempat nyasar?"

"Dih, kau yang nyasar kaliii, orang aku sama Lea, kamu yang tiba-tiba ilang, ahahaha" Balas Rio kemudian tersenyum. "Aku inget banget, yang nangis bukannya kamu malah Lea, akhirnya kita berdua beli gulali deh biar dia nggak nangis lagi. Tautau kita malah ikut makan."

"Rakus juga ya, kita!" Ujarku kemudian membawa pikiranku kembali ke masa lalu. "Oh iya, Lea sekarang gimana? Udah besar, ya?"

"Iya, dia udah kelas 6 sekarang. Dia sedih banget, loh, pisah sama kamu. Soalnya pas hari terakhir dia tertidur di mobil jadi gak sempat ketemu kamu."

"Huaaa. Sampaikan salamku, ya! Aku juga kangen adikmu..." Ucapku kemudian melihat ke langit-langit mall. Oh iya, aku masih belum tahu. Lea memang merasa kehilanganku, sih. Aku juga merasa seperti itu. Tapi bagaimana dengan Rio? Aku tidak ingin berpisah dengannya pada saat hari keberangkatannya itu, aku ingin terus bersamannya di pantai itu, menikmati angin musim panas dan deburan ombak, hanya dengannya.

Apa dia merasakan hal yang sama?

"Um..." Aku memberanikan diri untuk membuka mulutku. "...R-Ri-"

"Njuuuuuuu-eh cowok keren yang tadi!" Tiba-tiba Beby datang dan langsung menghampiri kita berdua, dengan kepalanya ditutup dengan topi juga memakai kacamata hitam. "Ternyata kalian beneran kenal, ya!" Katanya sambil melepas kacamata hitamnya.

"Eh iya, Beb..." Balasku kemudian nyengir kecil ke arah Rio. "Kamu ngapain?"

"Tadinya aku mau menjemputmu, kirain kamu digodain wota, taunya malah kamu yang nggodai wota!" seru Beby setengah tertawa kemudian memukul punggungku.

"Hah? Kuota?" Tanya Rio bingung. "Dan Shan, kok kamu manggil dia pake beb-beb-an segala? Apa gara-gara grupmu isinya cewek semua kamu jadi..."

"Wota Yo, Wota..." Ujarku sambil menepuk bahu laki-laki itu prihatin. "Dan bukan gue sayang-sayangan sama itu cewek, lagipula gue masih normal dan sebenernya ngomong beb ke cewek itu biasa aja, kok. Kan memang namanya Beby..." Jelasku panjang lebar diikuti dengan Beby yang melambaikan tangan ke arah Rio. Yeee genit. "...Masih lamban ya ternyata kau." Lanjutku.

"Beb-Ooh, Beby! Yang Moshinya temen gue!"

Beby dan aku berusaha menahan tawa kami, sementara Rio masih heran dengan tingkah kami berdua. "Oshi, bos. Moshi mah makanan jepang yang ikan mentah itu." Jelas Beby.

"Itu Sushi, jayussssss!" Seruku kemudian mendorong Beby menjauh dari kami. "Udah yok lah, masuk aja. Kita enggak pulang, emang?"

"Yodah yuk. Byebye cowok~" Ucapnya lalu pergi menjauh meninggalkanku. Yaampun, kalau udah capek kayak gini si Beby emang udah ilang malunya kali ya.

"Okedeh Rio. Aku balik dulu ya, kau hati-hati!" Ucapku kemudian mulai berjalan menjauh, ingin menyusul Beby.

Tetapi tiba-tiba aku merasakan ada tangan lembut yang menyentuhku, menahanku dan seakan tidak menginginkanku pergi. "Tunggu, Shan!" Seru si pemilik tangan, membuatku terpana sesaat. Ternyata dia memang sudah berubah. Suara Rio sekarang jadi lebih berat dari suaranya yang kukenal dulu. Genggaman tangannya juga lebih kuat. Dan tatapan matanya...

"Aku minta nomor handphonemu." Katanya menyadarkanku yang sedari tadi masih terpana sambil menyodorkan handphonenya kepadaku. Yeh, kirain mau apa.

Akupun mengetik nomor handphoneku kemudian memberikannya lagi kepadanya. "Emang buat apa, Yo?"

Rio seolah tidak mendengar perkataanku terus memainkan jarinya dengan handphonenya. "Sudah, sekarang cek handphonemu."

Aku meraih handphoneku dari saku celanaku yang sedaritadi ku silent, kemudian membuka kuncinya. Waduh, isinya misscall dari Beby semua! Tapi bodolah, udah lewat ini, batinku dalam hati sambil terus melihat-lihat notification di handphoneku. Ada satu sms dari nomor yang tidak dikenal.

"Itu nomorku." Ujarnya, kemudian meletakkan handphonenya kembali di saku celananya. "Jangan baca smsnya sebelum aku turun eskalator, ya! Dah, selamat malam!" Katanya terlihat panik kemudian berjalan cepat menuju eskalator.

"Ah..." Kini aku hanya bisa memandangi punggungnya. Tapi mana dia tau aku baca smsnya pas kapan, kan? Batinku, kemudian iseng membuka sms yang dia kirimkan tadi.

..

Shan, lama tak jumpa.

Aku sangat merindukanmu. Aku sangat senang bisa bertemu denganmu lagi.

Selamat malam.

Rio

..

Jantungku berdegup kencang. Kini aku mendapati diriku memandang punggung laki-laki itu yang perlahan pergi menjauh. Tanpa kusadari, wajahku memerah.

Gawat.

Apakah ini...

Apakah ini berarti...

...Aku masih menyukainya?

.

.

.

.

tbc.