.

Title : When a Deer Meet The Albino

Author : HunHanLoverz

Genre : Romance, Fluff

Pairing :

HunHan/KrisHan

Warning : YAOI! BoyXBoylove

Cast :

- Luhan as Xi Luhan

- Oh Sehun as Oh Sehun

- Byun Baekyun as Byun Baekhyun

- Kim Jongin as Kai

- Wu Yi Fan as Wu Yi Fan/Kris

(akan bertambah seiring berjalannya cerita)

Annyeong readers-nim! Hehe chapter 4 sudah diriliiis. Pada kangen ga nih sama author? :3 *ngga* *oh yaudah sih* Menyesuaikan dengan keinginan readers, author buat chap ini dengan HunHan moment yang lumayan banyak dan sedikit diselingi KrisHan. Tapi... disini HunHan momentnya rada nyesek. Jadi... jangan pada kecewa ya. Pasti penasaran kan sama kelanjutan kisah abang Sehun sama abang Luhan? *dilempar wajan sama readers gara-gara banyak bacot* Langsung baca aja deh~

Happy Reading!


Sehun berlarian kesana-kemari mencari tasnya. Dia mengutuk kemampuan otaknya yang tidak bisa mengingat sesuatu dalam jangka waktu yang lama (read: pikun). Setelah mengobrak-abrik seluruh ruang dance, ia akhirnya menemukan tasnya di bawah tumpukan kostum.

Sehun segera mengambil kotak bekalnya. Sehun berlari ke arah Luhan. Sehun duduk bersimpuh di sebelah Luhan dan dengan hati-hati Sehun menempatkan kepala Luhan di pahanya.

"Ini, makanlah hyung," ujar Sehun sambil memberikan sepotong kecil roti pada Luhan.

Luhan menggeleng. Bibirnya yang biasanya berwarna merah cherry berubah putih pucat.

"Hyung, Jebaaaal. Jangan membuatku khawatir seperti ini.."

"Ss-sakit Ss-sehun-ah.." rintih Luhan.

Sehun ingin membanting dirinya ke lantai sekarang juga. Dia merasa seperti orang paling tidak berguna. Dia tidak bisa melihat orang yang dia sayangi kesakitan seperti ini.

Sehun mengeluarkan handphone dari dalam saku celananya, "Hyung bertahanlah... Aku akan menelepon Baekhyun hyung agar-..."

Luhan meraih handphone Sehun. Sehun membelalakkan matanya kesal karena Luhan mengambil handphonenya.

"Hyung! Kau ini apa-apan? Kembalikan ponselku! Kau mau mati disini hah? Aku harus-..."

"Tidak. Kau tidak harus. Yang harus kau lakukan adalah tetap disini. Bersamaku."

"Hyung, bagaimana kalau penyakitmu makin parah dan kau tidak bisa bertahan? Bagaimana kalau..."

"Aku hanya butuh dirimu... Oh Sehun."

.

.

.

Chapter 4 : Reality

.

.

.

Sehun terdiam lalu ia membentak Luhan, "Kau... apa?! Kau sudah gila hyung. Apa maksudmu kau hanya butuh diriku? Apa hanya dengan melihatku penyakitmu bisa sembuh? Jangan bercanda. Cepat kembalikan ponselku!" bentak Sehun sambil berusaha mengambil ponselnya di tangan Luhan.

Luhan menyembunyikan ponsel Sehun di balik punggungnya. Luhan tersenyum lemah.

"Kau ini berisik sekali. Padahal dua hari kemarin kau begitu mengacuhkanku.." ujar Luhan. Sebenarnya lebih terdengar seperti bisikan.

Walaupun suara Luhan sangat kecil, Sehun masih bisa mendengarnya. Sehun menghapus bulir keringat yang terus keluar dari pelipis Luhan sambil tersenyum miris. Maafkan aku hyung. Aku hanya tidak ingin perasaan aneh ini makin menjadi-jadi.. Aku takut.. aku akan melukai perasaanmu. Kau hanya menganggapku dongsaengmu bukan? Tapi... bagaimana jika aku tidak menyayangimu seperti aku menyayangi Baekkie hyung? Bagaimana kalau aku menyukaimu lebih dari aku menyukai Baekkie hyung? Kau pasti kecewa padaku... Aku tidak mau membuatmu kecewa hyung.

"Sehun..."

Kedua mata Luhan mulai terpejam. Sehun yang sedang melamun tersentak kaget. Sehun menggeleng-gelengkan kepalanya untuk menjernihkan pikirannya dan menepuk-nepuk pipi Luhan pelan.

"Hyung, ireona... Aku tidak bisa melihatmu seperti ini hyung. Sebaiknya kau-..."

Tiba-tiba tangan Luhan melingkar di pinggang Sehun. Luhan menenggelamkan wajahnya di perut ber-abs Sehun.

Sehun terdiam. Seluruh syarafnya seakan tidak berfungsi. Darahnya mengalir begitu cepat sampai jantungnya seperti bisa meledak kapan saja. Sehun berusaha menetralkan detak jantungnya. Ia berusaha melepaskan tangan Luhan yang memeluk pinggangnya erat.

"Kumohon jangan hindari aku lagi Sehun-ah.."

Sehun menatap Luhan walaupun Luhan masih menenggelamkan wajahnya di perut Sehun. Sehun menghela napas dan memejamkan matanya. Kau pikir kenapa aku menjauhimu? Aku tak ingin menyakitimu hyung,

Sehun mengernyit. Pelukan Luhan makin lama makin melonggar. Saat Sehun mengguncang bahu Luhan pelan, tubuh itu langsung tergeletak tak berdaya.

"Hyung? Luhan hyung? Ireona! Hyungg! Ya Tuhan... Apa yang terjadi padanya?"

Sehun langsung menggendong Luhan ala bridal style. Secepat mungkin Sehun berlari keluar sekolah. Sekarang sudah jam enam sore dan sekolah sudah bubar tiga jam yang lalu, jadi tidak ada siapapun di sekolah kecuali satpam yang tertidur di ruang jaga.

Sehun terus-menerus berdoa agar tidak terjadi sesuatu yang buruk pada Luhan. Sehun tidak punya kendaraan pribadi, jadi ia berdiri di pinggir jalan sambil melambai-lambaikan tangannya. Berharap ada kendaraan yang mau berhenti dan memberinya tumpangan ke rumah sakit.

"Luhan hyung... kumohon bertahanlah.." lirih Sehun sambil terus memperhatikan kendaraan yang berlalu-lalang di depannya.

TIN TIN!

Sehun menoleh ke arah suara. Dia melihat mobil Jaguar F-Type berwarna hitam menepi. Si pengemudi menjulurkan kepalanya keluar.

"Kau butuh tumpangan nak?"

Sehun mengangguk cepat dan langsung menghampiri mobil itu. Sang pengemudi membukakan pintu belakang dan Sehun yang menggendong Luhan langsung masuk ke mobil dan menutup pintunya.

"Gamsahabnida ahjussi..."

"Ne. Sekarang kita akan kemana?"

"Ke rumah sakit terdekat ahjussi."

"Baiklah."

.

.

.

Sehun menatap Luhan yang kini seperti mayat. Bibirnya kering dan pucat. Suhu tubuhnya juga terus menurun. Dingin. Sehun mempererat pelukannya agar Luhan tetap hangat. Sehun mengusap tangan Luhan yang terasa mungil dalam genggamannya. Sesekali ia menyibak poni Luhan sambil mengecup pelan kening namja cantik itu.

Ahjussi yang mengemudi melihat perlakuan Sehun sekilas lewat kaca depan. Ia tersenyum dan kembali fokus menatap jalan.

"Kau terlihat sangat menyayanginya.."

Sehun terdiam sebentar kemudian mengangguk, "aku tak akan memaafkan diriku sendiri kalau sampai sesuatu yang buruk terjadi padanya.." lirih Sehun.

"Kalian sepertinya teman lama. Kau terlihat begitu peduli padanya,"

Sehun tersenyum. Apakah dua hari termasuk waktu yang lama?

"Kenapa dia bisa pingsan?"

"Penyakitnya kambuh..."

"Penyakit?"

"Ya. Dia punya penyakit maag akut."

Ahjussi itu mengangguk pelan,"anakku juga punya penyakit yang sama sepertinya. Penyakitnya akan kambuh kalau dia banyak pikiran dan kelelahan."

Sehun menatap ahjussi itu sekilas, kemudian tersenyum samar. Ia merasa pernah melihat mata itu sebelumnya. Ia yakin sekali, tapi... ia tidak bisa mengingat siapa orang yang memiliki mata itu. Sehun kembali menatap Luhan dan mengelus pipinya lembut.

Setelah itu hanya keheningan yang mengisi perjalanan mereka.

"Oh ya, saya belum tahu nama anda.. Si-"

"Kita sudah sampai."

Sehun melihat ke arah kiri. Benar, mereka sudah sampai. Sehun segera turun dari mobil sambil mengucapkan terimakasih.

"Jeongmal gamsahabnida ahjussi,"

"Ne. Cheonma. Titipkan salamku pada temanmu. Semoga dia lekas sembuh ne?"

"Ne, Ahjussi. Jeongmal gamsahabnida.."

Mobil itu perlahan meninggalkan halaman rumah sakit.

"Aku sepertinya kenal dengan namja yang dibawa anak tadi. Apakah dia?.. Ah tidak mungkin. Dia tidak mungkin berada di kota ini," ujar sang pemberi tumpangan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

.

.

.


"Apa ada anggota keluarga Xi Luhan?" ujar dokter ber-nametag Jung Yunho sambil menoleh ke kanan dan ke kiri.

"Ss-saya bukan keluarganya, tapi saya yang membawanya kesini."

"Oh, baiklah. Siapa namamu?"

"Oh Sehun."

Dokter Jung memperhatikan Sehun dari atas ke bawah. Yang ditatap hanya menatap bingung sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

"Sepertinya kau orang yang bisa dipercaya. Masuklah."

Sehun segera masuk ke ruangan yang ditunjukkan Dokter Jung.

"Ada beberapa hal yang akan saya sampaikan. Harap dengarkan baik-baik karena ini akan sangat berpengaruh pada kesehatannya," ujar Dokter Jung sambil membuka berkas di mejanya.

"Ne, uisa-nim."


Sehun POV

Aku berjalan ke ruangan dimana Luhan hyung dirawat. Aku membuka kenop pintu perlahan agar Luhan hyung tak terbangun. Aku mendekat ke arah tempat tidurnya. Selang infus terpasang di tangan kanannya, juga alat bantu oksigen yang dipasang menutupi bibir manis dan hidung bangirnya. Aku tersenyum miris sambil mengelus pipinya pelan.

Aku duduk di samping ranjang sambil mengamati betapa indahnya ciptaan Tuhan yang satu ini. Matanya yang cantik, kulitnya yang halus.. Salahkah kalau aku ingin memilikinya? Salahkah jika aku egois? Aku belum pernah jatuh cinta sebelumnya. Dan aku juga tidak tau apa yang aku rasakan sekarang ini. Tiba-tiba jantungku berdetak keras jika aku ada di dekatmu, darahku yang berdesir cepat saat kau menyentuhku, aku yang harus berusaha mati-matian untuk tidak ikut tersenyum saat kau tertawa manis di hadapanku..

Kau tau? Aku tak pernah sekali pun berpikir akan jatuh cinta pada seorang namja. Aku yakin aku masih normal. Aku pernah menyukai seorang yeoja saat aku masih di sekolah dasar dan itu membuktikan kalau aku bukan seorang gay. Tapi kenapa saat aku melihatmu... Ah... Entahlah. Sebenarnya apa yang salah disini? Kau yang terlalu cantik untuk jadi seorang namja, atau aku yang sudah tidak waras karena menyukai sesama jenis?

Aku mengelus surai pink-nya pelan, "Luhan hyung... Aku benar-benar tidak tau apa yang sebenarnya terjadi padaku. Tapi aku berjanji akan selalu berada di sisimu jika kau membutuhkanku. Cepatlah sadar hyung, aku... menyayangimu..."

Aku mengecup pelan keningnya dan menarik selimutnya sampai sebatas dagu.

Aku berjalan ke arah sofa dan merebahkan tubuhku yang terasa remuk. Perlahan kupejamkan mataku yang makin lama terasa berat,

"Selamat tidur hyung,..."

.

.

.

"Nggh..." Luhan menggeliat pelan sambil mengerjap beberapa kali.

Luhan merasa hidung dan mulutnya tertutup sesuatu. Alat bantu oksigen kah? Luhan berusaha bangkit dari tidurnya perlahan. Dan apalagi ini? Selang infus?

"Rumah sakit? Siapa yang membawaku ke rumah sakit?"

Luhan mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Pandangannya terhenti saat matanya menangkap sosok yang sangat familiar sedang tertidur dengan lelapnya. Wajahnya terlihat lelah, dan sepertinya dia kedinginan karena tubuhnya sedikit bergetar.

Sehun?

Luhan turun dari ranjang dengan hati-hati. Ia melepas alat bantu oksigennya dan berjalan ke arah Sehun sambil membawa selimut di tangan kirinya.

Luhan berjongkok di depan sofa dimana Sehun terlelap. Ia memakaikan selimutnya perlahan pada Sehun yang menggigil kedinginan.

"Sehun-ah... terimakasih banyak."

CUP

Luhan tersenyum sambil mengelus surai keemasan yang terasa sangat lembut di tangannya. Luhan berjalan pelan, kembali ke tempat tidurnya. Tidak lama, Luhan sudah kembali terlelap.

Sosok yang Luhan kira sudah tertidur, membuka matanya dan tersenyum. Dia mengelus pipinya yang baru saja dicium oleh seorang malaikat cantik yang sekarang sudah terlelap di ranjangnya.

"Luhan Pabbo."

.

.

.


"OH SEHUN! BERANI-BERANINYA KAU TIDAK PULANG KE RUMAH! KEMANA SAJA KAU KEMARIN?! AKU MENELPONMU BERKALI-KALI DAN KAU TIDAK MENGHIRAUKAN PANGGILANKU SAMA SEKALI!"

"Hyung, dengarkan aku..."

"KAU TAU BETAPA KHAWATIRNYA AKU HAH?! SEMALAMAN AKU TIDAK BISA TIDUR KARENAMU! DAN SEKARANG KAU TIBA-TIBA BERADA DI SEKOLAH DENGAN BAJU LUSUHMU ITU, SEBENARNYA APA YANG KAU LAKUKAN SEHARIAN KEMARIN?!"

"Aku minta maaf hyung, aku benar-benar minta maaf. Ponselku tertinggal di ruang dance jadi aku-..."

"KENAPA PONSELMU BISA KAU TINGGALKAN DISANA?! BAGAIMANA KALAU TERJADI SESUATU YANG BURUK PADAMU DAN AKU TIDAK BISA ADA DISANA SAAT KAU MEMBUTUHKANKU?! DASAR PABBO!"

"Baek, tenanglah sedikit.. mungkin kita bisa mendengarkan pen-.."

"DIAM KRIS! AKU TIDAK SEDANG BICARA PADAMU!" potong Baekhyun sambil menudingkan telunjuknya di wajah Kris.

"KAU MUNGKIN TAK TAU SEBERAPA BESAR AKU MENYAYANGIMU! TAPI AKU TAK BISA KEHILANGAN ORANG YANG AKU SAYANGI UNTUK KEDUA KALINYA! AKU MENYAYANGIMU SEPERTI ADIKKU SENDIRI OH SEHUN! KAU TAU? AKU TIDAK AKAN MEMAAFKAN DIRIKU KALAU SAMPAI DIRIMU TERLUKA! AKU HAMPIR GILA KARENA KAU! AKU... AKU.."

"Hyung, tenanglah. Kumohon jangan seperti ini..." ujar Sehun sambil memeluk Baekhyun yang mulai terisak.

"Aku tau kau sangat menyayangiku, aku tau kau sangat peduli padaku. Tapi aku sudah besar Baekkie hyung, aku bisa menjaga diriku sendiri. Dan satu yang perlu kau ingat. Aku tak akan pernah meninggalkanmu hyung, takkan pernah..."

"Hiks..dasar...Hiks...Pabbo!" ucap Baekhyun terbata-bata sambil memukul dada bidang Sehun.

"Lihat hyungku yang manis ini, kau mengkhawatirkanku padahal kau yang seperti bayi," ujar Sehun sambil mencubit pipi Baekhyun.

"AH.. appo! Siapa yang kau sebut bayi? Aku tidak seperti bayi, Oh Sehun!"

"Menurutku kau memang seperti bayi. Dasar cengeng."

"MWO?! Wu Yifan... beraninya kau!"

Baekhyun memukul-mukul lengan Kris dan berakhir dengan Barazilian kick yang mendarat mulus di bokong Kris.

"YA! BYUN BAEKHYUN! Apa-apaan kau?! Aish... appo." jerit Kris sambil mengusap bokong kebanggaannya dengan sayang.

Baekhyun mendengus sebal. Sehun tertawa kecil melihat kelakuan hyungnya yang kekanakan. Baekhyun bisa menjadi sangat bijak dan dewasa, tapi terkadang dia juga bisa bersikap seperti anak lima tahun yang lucu dan menggemaskan, dan tidak jarang dia menjadi orang yang paaaling menyebalkan dalam hidup Sehun. Namun, bagaimana pun sifat Baekhyun, dia tau. Dia tau Baekhyun sangat menyayanginya dan begitu pula sebaliknya.

"Oh Sehun! Kau berhutang penjelasan padaku," ujar Baekhyun sambil mengamit lengan Sehun.

"Aku tau. Berhentilah mempoutkan bibirmu itu hyung. Kau tak ingin dongsaengmu sendiri mencium bibirmu kan?"

"Yak! Apa yang kau bicarakan?!" ucap Baekhyun sambil memukul lengan Sehun keras.

"Hyung hentikan! Kau tega menyakiti dongsaeng kesayanganmu ini?"

Baekhyun berhenti memukul lengan Sehun. "Baiklah. Ceritakan sekarang!"

"Arasseo, arasseo. Jadi kemarin..."

.

.

.

"Sepulang sekolah nanti, aku akan menjenguk Luhan. Dan kau! Sepulang sekolah, pulanglah ke rumah dan bersihkan badanmu dulu. Baumu sangat mengganggu!"

"Baekkie hyung! Aku sudah mandi saat di rumah sakit! Enak saja kau mengatakan aku bau," jawab Sehun sambil mengendus-endus badannya. Tidak bau kok, batin Sehun.

"Sebaiknya kau istirahat. Semalaman menjaga Luhan pasti membuatmu lelah." ujar Baekhyun lembut.

"Tidak hyung. Aku tidak lelah. Apa malam nanti aku boleh menemani Luhan hyung lagi?"

"Sebaiknya, malam ini aku yang menjaganya."

Apa? Kris? Menjaga Luhan hyung?

"Ah Kris, aku ingin tanya padamu. Kau mengenal Luhan dengan baik bukan?" tanya Baekhyun.

"Ya. Sepertinya begitu... Kami dulu bersahabat. Dia sahabat yag sangat baik.." jawab Kris sambil mendongakkan kepalanya. Mengingat masa-masa yang ia lalui bersama namja cantik itu.

"Apa dia punya kerabat di sini?"

"Setahuku tidak. Ibunya berada di desa. Ibunya memiliki penyakit paru-paru akut, jadi beliau tidak bisa tinggal di kota. Sedangkan ayahnya... pergi meninggalkan mereka saat ia berumur sepuluh tahun."

"Ah... kasihan sekali. Berarti dia hanya sendirian disini?"

"Sepertinya... mungkin."

Luhan hyung hanya sendirian disini? Dimana ia tinggal? Dan... siapa yang akan bayar biaya rumah sakitnya? gumam Sehun

"Kudengar dia diberi beasiswa penuh. Mulai dari biaya hidup, biaya pendidikan, sampai tempat tinggal. Ah.. Luhan pasti anak yang sangat pintar," ujar Baekhyun.

Ah.. jadi begitu...

"Baek, sebaiknya kita segera ke kelas..." ujar Kris sambil melirik jam tangannya.

"Ah.. kau benar. Sehun aku kelas dulu. Annyeong!"

Sehun mengangguk dan berjalan ke arah kelasnya. Sehun tersenyum samar. Dia tak sabar ingin menjenguk Luhan setelah jam sekolah selesai.

.

.

.


Saat jam sekolah selesai, Sehun bergegas ke ruang dance untuk mengambil ponselnya yang tertinggal. Hah... untung saja ponselnya masih berada disana.

"Albino!"

Sehun menoleh ke sumber suara. Sosok itu bersender di depan pintu dengan gaya *sok* cool-nya.

"Apa?"

"Kemarin ku dengar kau berlatih hingga malam. Bahkan Shim ahjussi sampai ketiduran di ruang jaganya saat menunggumu latihan.. Ckck apa yang kau lakukan eoh?"

"Apa yang aku lakukan? Apa maksudmu?"

Namja itu terkekeh pelan, "Aku tau, kemarin hanya tinggal kau dan namja manis itu yang berlatih sampai malam. Jadi? Apa yang kau lakukan denganya sampai lupa waktu?"

"Kami hanya berlatih. Itu saja, tidak ada yang lain... Yak! berhenti menatapku seperti itu kkamjong! Aku sungguh tidak melakukan apa-apa dengannya! Aish.. kenapa sifat pervertmu makin lama makin parah eoh?" ujar Sehun sambil menggelengkan kepalanya.

Kai tertawa, "Hmm kalau aku jadi kau, sudah ku'habisi' dia di tempat,.."

PLETAK!

"Hei! Apa yang kau lakukan? Hhh.. appo"

"Jaga mulutmu Kim Jongin. Aku tak akan pernah membiarkanmu menyentuhnya SEDIKIT-pun!" ujar Sehun setelah menjitak kepala namja berkulit gelap itu sambil memberi penekanan pada kata 'sedikit'.

"Ckck lihat betapa posesifnya dirimu."

Sehun mendelik tajam pada Kai.

"Sudah, akui saja. Kau menyukainya kan?"

Sehun mendengus pelan sambil menundukkan kepala, "Aku yakin aku masih normal..."

"Bukan salahmu kalau kau jatuh cinta pada seorang namja. Dia sangat cantik dan mempesona.. dan aku yakin bukan hanya kau yang jatuh dalam pesonanya. Aku juga langsung menyukainya saat pertama kali melihatnya. Dia baik, ramah, dan aaah... Apa bisa ada manusia yang begitu sempurna seperti Luhan?"

Sehun terdiam, "Kau juga menyukainya?"

"Ya. Siapa yang tidak suka padanya? Tapi aku tau, rasa sukamu padanya lebih besar dari rasa sukaku padanya."

Sehun mengernyit. Apa iya? Apa ia benar-benar menyukai Luhan dalam konteks lebih dari seorang 'hyung'?

"Katakan padanya Hun."

"Katakan apa?"

"Kalau kau menyukainya."

"Ya, aku menyukainya, aku juga sangat menyayanginya. Tapi sebagai... hyung-ku,"

"Teruslah bohongi dirimu sendiri dan kau akan menyesal seumur hidupmu."

Kai berjalan meninggalkan Sehun yang masih merenung. Bagaimana bisa aku mengatakan pada Luhan hyung kalau aku menyukainya sementara aku sendiri tidak yakin dengan apa yang aku rasakan?

Kai berhenti dan membalikkan badan ke arah Sehun,

"Kau tau? Namja atau yeoja tidak masalah. Hati kecilmu lebih tau apa yang bisa membuatmu bahagia. Cinta tidak pernah salah dalam memilih, Oh Sehun..."

Sehun menatap bingung sahabatnya yang sudah berjalan kembali. Sejak kapan kkamjong pervert itu tau kata-kata puitis seperti itu? Sehun merebahkan tubuhnya sambil menatap langit-langit. Perlahan ia memejamkan matanya sambil menghela nafas.

"Cinta tidak pernah salah dalam memilih, Oh Sehun..."

.

.

.


At Hospital

.

.

"Bagaimana keadaanmu Lu?"

"Ah, sudah baikan. Kalian baik sekali mau menjengukku ke sini..."

"Kita kan teman. Sesama teman harus saling peduli bukan?"

"Kau benar. Terimakasih banyak Baekhyun..." Luhan tersenyum manis sambil berusaha duduk di tempat tidur.

Kris dengan sigap membantu Luhan duduk di tempat tidurnya.

"Gomawo, Kris-ah..."

Kris menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.

"Ah... apakah Sehun tadi ke sekolah?" tanya Luhan tiba-tiba.

Senyuman Kris pudar saat Luhan menanyakan keberadaan Sehun. Ulu hatinya terasa nyeri. Kris mengangguk untuk menjawab pertanyaan Luhan.

"Apa?! Apa dia tidak pulang ke rumah? Dia tidak sarapan? Apa dia juga belum mengganti bajunya? Astaga... Di-"

"Ya! ya! Berhenti mengkhawatirkan Sehun! Kau harusnya mengkhawatirkan dirimu sendiri Xi Luhan!" cibir Baekhyun.

Luhan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sambil terkekeh pelan.

"Luhan..."

"Ne Kris?"

Baekhyun yang mendengar nada bicara Kris tau bahwa Kris ingin membicarakan sesuatu yang penting dengan Luhan. Saat Kris menatapnya, dia mengerjap bingung. Ah... aku mengerti apa maksudmu.

"Mmm, Luhan, Kris, aku akan keluar sebentar untuk membeli makan siang. Kau ingin menitip sesuatu Kris?"

Kris menggeleng.

"Baiklah. Kalian berbincanglah dulu, aku akan kembali dalam beberapa menit."

Baekhyun keluar dari ruangan. Sambil berjalan dia bergumam, Apa yang ingin Kris bicarakan sampai aku disuruh keluar segala? Huh.. Dasar menyebalkan

.

.

.

"Luhan..."

"Ne?"

"Xiaolu..."

Luhan terdiam. Itu panggilan sayang Kris untuknya dulu. Tiba-tiba ia merasa dadanya sesak. Ia begitu merindukan panggilan yang selama tiga tahun ini tidak pernah didengarnya.

-Flashback-

"Xiaolu! Ayo berangkat! Kenapa kau lama sekali eoh?"

"Yaaa Kris tunggu sebentar! Aku belum menalikan sepatuku!"

"Hahh.. Aku duluan yaa. Sampai ketemu di sekolah Xiaolu!"

"Kriiiis. Aish... TUNGGU AKU!"

"Kejar aku kalau kau bisa! Hahaha"

.

.

.

"Xiaolu..."

"Hm?"

"Kau tau bagaimana rasanya jatuh cinta?"

"Hmm tidak. Kenapa kau bertanya seperti itu?"

"Tidak apa-apa. Kurasa... aku mencintai seseorang."

.

.

.

"Kris!"

"Xiaolu!"

"Aku ingin mengatakan sesuatu padamu!/Aku mau kau tau kalau..."

"Ahaha. Kau duluan Lu..."

"Mm.. tidak. Kau duluan!"

"Baiklah. Pastikan kau tidak pingsan setelah mendengar ini ne?"

Aku mengangguk

"Tao menerimaku!"

Apa?

"Kau tau Tao kan? Namja yang sering kuceritakan padamu! Dia sekarang sudah menjadi namjachinguku!"

Apa? Apa aku tidak salah dengar?

"Xiaolu.. kau mendengarku?"

"Ah.. Ne. Chukae Kris-ah..."

"Hehe. Terimakasih... Ah iya, tadi kau mau bilang apa?"

Aku mau bilang aku menyu- ah ani. Aku mencintaimu Kris. Aku mau bilang kalau aku mencintaimu!

"Aa-ani. Bukan sesuatu yang penting,"

"Benarkah?"

Apakah apa yang aku rasakan penting untukmu?

"Ne."

.

.

.

"Luhan... Kenapa kau melamun?"

Luhan tersentak saat mendengar suara berat Kris.

"A-ani..." lirih Luhan

Kris menatap Luhan yang terlihat sedih. Perlahan, tangan Kris menyentuh pipi Luhan yang halus. Luhan membelalakkan matanya kaget.

"Ah... aku bahkan lupa kulitmu sehalus ini,"

Luhan menunduk. Entah kenapa ia merasa ingin menangis sekarang.

"Kau tau? Tiga tahun berpisah denganmu... Rasanya seperti mau mati saja."

Luhan mendongak menatap namja di depannya. Wajah tanpa cacatnya menyiratkan kerinduan yang mendalam. Luhan akui, tiga tahun tanpa Kris hampir membuatnya gila. Ia bahkan tak percaya ia masih waras sekarang. Bertemu kembali dengannya, merasakan kembali sentuhan lembutnya,... apa ini bukan mimpi? Tapi perasaannya... Ia tidak yakin perasaannya masih sama seperti dulu.

Luhan menggenggam tangan Kris yang masih berada di pipinya.

"Nado," ujar Luhan sambil tersenyum.

Kris tersenyum lembut, "Aku terbiasa dengan kau yang selalu ada di sisiku. Setiap hari aku melihat wajahmu, tertawa denganmu, melakukan hampir segala hal bersamamu... Dan saat aku meninggalkanmu... Entahlah. Aku seperti kehilangan separuh jiwaku. Aku merasa semuanya terasa salah saat kau tidak ada di sampingku. Dan baru sekarang aku menyadari kalau..."

Luhan menelan salivanya susah payah.

"Aku mencintaimu, Xiaolu..."

.

.

.

"Hhh.. Aku tidak tahu buah apa yang Luhan hyung suka. Tapi semoga dia menyukai buah yang aku beli," ujar Sehun sambil menenteng kantung kresek putih berisi buah apel.

Sehun tersenyum kepada beberapa perawat yang berpapasan dengannya, sambil sesekali mengintip kantung bawaannya yang berisi apel untuk memastikan bahwa keadaan apelnya baik-baik saja (?)

Kamar 97. Kamar Luhan.

Sehun menggenggam kenop pintu dan mendorongnya pelan...

"Aku mencintaimu, Xiaolu..."

DEG

Sehun membeku. Ia kenal suara siapa ini. Ia mengurungkan niatnya untuk masuk dan kembali menutup pintu dengan hati-hati.

.

.

Hening. Tidak ada yang berbicara dalam ruangan itu.

Sehun mengintip ke dalam ruangan. Ia melihat Luhan yang sepertinya shock setelah mendengar apa yang diakatakan namja tadi.

.

.

Hening. Masih tidak terjadi apa-apa.

Hingga akhirnya, Sehun melihat perubahan ekspresi Luhan. Sepertinya, sekarang Luhan sudah lebih tenang. Terukir senyum samar di wajahnya. Sehun mendekatkan telinganya ke pintu dan...

"Aku juga mencintaimu, Kris..."

Sehun langsung menjauh dari pintu. Kantung bawaannya terjatuh dan apelnya menggelinding ke berbagai arah.

Sehun menatap pintu di depannya dengan pandangan kosong. Kris mencintai Luhan. Kris mencintai Luhan... dan Luhan juga mencintai Kris? Sehun memegang dada kirinya yang sakit luar biasa. Ia pernah merasakan ini sebelumnya. Saat Luhan dalam dekapan Kris. Tapi kali ini, rasanya berkali-kali lipat lebih sakit. Sehun jatuh terduduk sambil menatap lantai.

"Chogiyo, apa anda baik-baik saja?"

Sehun menundukkan kepalanya. Tidak, ia tidak baik-baik saja.

"Apakah ini apel-apel anda?" ujar orang itu sambil memungut apel yang berserakan di lantai.

Sehun masih terdiam. Persendiannya seakan copot dari tempatnya. Tubuhnya tak bisa digerakkan sama sekali. Matanya memanas, dan makin lama penglihatannya makin kabur.

Tes

Satu bulir airmata meluncur melewati wajah mulusnya.

Tes Tes

"Apa kau baik-baik saja? Kenapa kau menangis?"

Sehun menghapus kasar airmata yang seenaknya jatuh dari kolam matanya. Sehun mengangguk pelan dan mengambil kantung yang diberikan orang itu.

"Gamsahabnida uisa-nim."

"Ne. Cheon- Hei! Kau? Oh Sehun?"

Sehun mendongak. Kenapa ia bisa tau namaku?

"Ne. Ah... uisa-nim..."

"Kau ini kenapa eoh? Kenapa menangis seperti itu?"

Sehun menggeleng sambil tersenyum.

"Sehunnie!"

Sehun menoleh ke arah suara. Baekkie hyung?

"Kau baru sampai? Kenapa tidak masuk?"

Jung uisanim menatap namja manis di depannya dengan tatapan bingung.

"Ah... kenalkan, dia hyungku. Byun Baekhyun," ujar Sehun

"Siapa ahjussi ini?"

"Dia dokter yang merawat Luhan hyung..."

"Oh... Anyyeonghaseyo, Byun Baekhyun ibnida." ujar Baekhyun sambil membungkuk sopan.

Namja itu tersenyum dan membungkuk, "Jung Yunho ibnida"

"Baiklah, aku masih ada urusan. Mungkin baru nanti sore nanti aku mengecek bagaimana perkembangan Luhan. Permisi..."

Sehun dan Baekhyun membungkuk bersamaan. Setelah Jung uisa pergi, Baekhyun menatap Sehun aneh.

"Ada apa hyung?"

"Kau menangis?"

"A-apa?" jawab Sehun gelagapan.

"Ah ani, kau tak mungkin menangis. Selama empat tahun ini aku bahkan belum pernah melihatmu menangis."

Sehun tersenyum miris.

"Kajja! Kita masuk!"


Sehun POV

"Kajja! Kita masuk!"

Tidak. Aku tidak mau masuk! Bagaimana kalau di dalam mereka sedang berpelukan? Bagaimana kalau mereka sedang berciu-... ah! Tidak! Aku tidak mau masuk!

Tapi, kekuatan Baekkie hyung memang luar biasa. Ia menyeret paksa diriku agar masuk ke dalam.

"Luhaaan lihat siapa yang datang!"

Luhan hyung yang sedang menatap Kris sunbae mengalihkan pandangannya ke arah Baekkie hyung. Otomatis dia juga melihatku.

"Waaaa Sehun-ah! Kau datang lagi? Apa kau rindu padaku?" ujar Luhan hyung bersemangat sampai aku takut dia terjatuh dari ranjangnya karena melonjak terlalu keras.

Astaga. Lihat, dia yang begitu bahagia saat melihatku datang. Lihat senyum manisnya. Lihat badannya yang melonjak kegirangan saat bertemu denganku. Kalian lihat? Bukankah dia sangat manis?

Aku merasa jantungku berdenyut sakit. Kenapa kau sebahagia ini saat bertemu denganku? Kenapa kau membuatku ingin memelukmu? Kenapa kau terlihat seperti... menyukaiku? Hhh.. pada akhirnya aku harus menyerah pada kenyataan. Kau yang disana. Yang membuatku seperti orang gila dua hari ini. Yang sedang tersenyum manis padaku... mencintai orang lain.

Dan yang paling parah, orang itu juga mencintaimu.

Aku menghela nafas pelan. Setelah memalingkan wajah sesaat, aku tersenyum padanya, "Ne. Aku merindukanmu hyung.."

Kris sunbae yang tadi sedang melihat keluar jendela, menatapku sesaat. Dia tersenyum, tapi senyumnya terlihat menyedihkan. Atau perasaanku saja? Entahlah.

Kris sunbae berjalan ke arahku. Ah ternyata bukan. Dia berjalan ke arah Baekkie hyung dan merangkul pundaknya,

"Jadi? Apa yang kau beli?"

"Aa-aku membeli jajangmyeon.."

Kris sunbae mengambil kantung yang dibawa Baekkie hyung untuk melihat isinya.

"Sepertinya enak. Kajja! kita makan diluar.."

"Mwo? Kenapa tidak makan disini saja?"

"Aku bilang aku ingin makan diluar." Kris sunbae menarik Baekkie hyung keluar ruangan.

"Ya! Wu Yifan! Apa-apan kau?! Lepaskan tanganku naga pabbo!"

Dan akhirnya mereka berdua keluar ruangan dengan jeritan Bekkie hyung yang luar biasa mengganggu pendengaran siapa pun yang mendengarnya.

"Sehun-ah..."

Suaranya. Entah kenapa, aku senang dia menyebut namaku. Tapi rasanya sakit sekali. Kenapa dia memanggilku selembut itu? Kenapa dia memanggilku seperti memanggil... kekasihnya? Padahal aku tau, dia menganggapku sebatas DONGSAENG. Ya. Aku dianggap adik olehnya. Jadi, apa aku masih punya harapan? Jawabannya.. Tidak.

Aku menoleh dan tersenyum. Kumohon jangan sekarang. Jangan sampai aku menangis di depan Luhan hyung.

"Ne?"

"Aku lapar..."

"Lalu?"

"Haish... cuma itu yang bisa kau katakan?"

"Memang aku harus bilang apa?"

"Kau bisa bilang, 'Kau lapar? Mau kubelikan sesuatu?' atau 'Ah.. mau kusuapi?' yaa atau apapun. Kenapa kau hanya bilang 'lalu'?" Dia mempoutkan bibirnya sambil melipat tangannya di depan dada.

Aku tertawa. Kalau boleh jujur aku ingin menangis sekarang juga. Kenapa dia begitu menggemaskan dan manja padaku? Kau tau? Kau membuat ini semakin sulit untukku hyung.

"Eoh.. lihat hyung-ku yang manis ini. Minta disuapi hm?"

Dia tertawa kecil dan menganggukkan kepalanya lucu.

Aku mengambil makanan yang sudah tersedia di meja sebelah tempat tidurnya.

"Mmm aku mau menyuapimu atau tidak ya?" ujarku sambil memutar-mutar sumpit di tanganku.

"Ya! Oh Sehun! Baiklah aku makan sendiri kalau begitu. Kemarikan makananku!"

"Aigoo... Lihat betapa lucunya kalau anak rusa sedang marah,"

Bisakah aku melupakan kalau dia mencintai orang lain?

"Berhenti menggodaku Oh Sehun! Cepat kemarikan makananku,"

"Coba ambil kalau kau bisa! Hahaha,"

Kali ini saja. Bolehkah hanya aku yang memilikinya?

"Aaah kau ini. Dasar menyebalkan!"

"Haha. Baiklah, baiklah aku akan menyuapimu. Tapi ada syaratnya,"

"Astaga. Aku sedang sakit Oh Sehun. Dan kau minta imbalan karena kau mau menyuapiku? Kau ini memang benar-benar..."

"Benar-benar apa? Tampan hm?"

"Apa hubungannya kau minta imbalan dengan kau tampan? Dasar pabbo!"

"Sudahlah hyung. Permintaanku tidak susah. Kau ingin cepat aku suapi bukan? Kau mau gara-gara kau telat makan kesehatanmu memburuk?"

"Hhh.. araseo arasseo! Apa permintaanmu?"

Masa bodoh dengan apa yang terjadi. Dia menyukai orang lain? Biarlah. Biarkan aku egois kali ini saja.

"..ppopo,"

"Mwo?!"

"Aish kau tak dengar apa permintaanku? Poppo,"

CUP

Aku tau aku egois. Aku tak peduli dengan apa yang terjadi di sekitarku. Aku tak peduli apa yang aku lakukan ini benar atau salah. Aku tak peduli. Selama kau ada di sisiku.. aku percaya semuanya akan baik-baik saja.

"Sudah. Sekarang suapi aku!"

"Hehe gomawo hyung. Baiklah sekarang buka mulutmu... Aaaa"

"Aaaam. Gomawo Sehunnie~"

"Ss-sehunnie?"

"Wae? Kau tidak suka aku memanggilmu Sehunnie?"

"Bukan begitu hyung, tapi hanya orangtuaku dan Baekkie hyung yang memanggilku seperti itu.."

"Hehe. Kau lupa? Aku ini hyungmu Sehunnie.. Aku juga keluargamu."

Pada akhirnya kenyataan memang selalu menyakitkan bukan? Seberapa egoisnya diriku, sebesar apa pun aku mengacuhkan semuanya, kenyataan itu tetap ada di hadapanku. Kenapa dia terus mengejarku sejauh ini? Kenapa kenyataan pahit itu terus menghampiriku?

"Ah.. Kau benar hyung..."

"Jadi, aku boleh memanggilmu Sehunnie?"

"Tentu saja. Ayo makan lagi, Aaaa..."

"Sehunnie..."

"Ne? Ada apa hyung?"

"Gomawo."

"Untuk apa?"

"Untuk semuanya.. terimakasih."

Aku terdiam sebentar lalu mengangguk. Aku masih terus menyuapinya sambil sesekali mengelap mulutnya yang belepotan dengan tisu.

"Kau seperti anak kecil hyung. Makan sudah disuapi masih saja belepotan."

"Berarti kau yang tidak bisa menyuapiku dengan benar!"

"Kenapa jadi aku yang disalahkan?"

"Karena aku hyungmu. Jadi kau yang salah."

"Baiklah.. Karena kau cantik dan menggemaskan, jadi terserah padamu saja."

"Berhenti mengatai aku cantik. Aku ini namja. Aku TAMPAN."

"Ah... sepertinya aku tidak bisa memanggilmu hyung,"

"Wae?"

"Bukankah kau lebih pantas dipanggil noona? Hahahaha..."

"OH SEHUUUN!"

Jika aku bisa mengendalikan waktu, akan kuhentikan waktu detik ini juga. Dimana suara tawanya bergema di ruangan ini, dimana tangan mungilnya memukul lenganku, dimana dia memanggilku 'Sehunnie'. Aku ingin aku berada di tempat ini, bersamanya, tapi dengan realitas berbeda. Kenyataan dimana aku menyukainya dan dia tidak mencintai siapa pun. Setidaknya itu lebih baik. Karena aku tau, dia tak mungkin menyukaiku.

Rasa sayangnya padaku begitu tulus. Sekalipun kau bilang kau sayang padaku karena kau menganggap aku seperti adikmu sendiri, entah kenapa hatiku menafsirkan itu sebagai perasaan lain. Apa ini efek dari terlalu menyukai seseorang? Terlalu berharap pada seseorang yang bahkan dari awal pun tidak pernah memberi harapan untukmu?

"Sehunnie.. Sepertinya tadi kau membawa sesuatu untukku,"

"Ah ya. Aku membawa apel untukmu. Kau mau hyung?"

"Ne. Kupaskan satu untukku."

"Baiklah princess, tunggu sebentar ne?"

"Prince. Bukan princess,"

Aku tertawa, "Tatap mataku hyung.."

Dia memiringkan kepalanya, "Kenapa?"

Aku meraih tengkuknya dan mendekatkan wajahnya pada wajahku. Entah karena aku sudah gila atau apa, aku melihat semburat merah muda pada pipinya.

"Kau bisa lihat bayanganmu di mataku?"

Dia menatap mataku dan mengangguk pelan.

"Sekarang kau bisa tau betapa cantiknya dirimu saat aku melihatmu,"

Pipinya memerah bagai kepiting rebus. Aku tertawa. Dia sangat lucu kalau sedang merona. Lalu, aku mengambil buah apel dan mengamati mereka bergantian. Luhan. Apel. Luhan. Apel.

"Kau sedang apa?"

"Mengamatimu dan mengamati apel ini. Kau tau hyung? Sepertinya kalian saudara kembar.."

"Apa?! Saudara kembar? Saudara kembarku adalah sebuah apel?!"

"Lihatlah. Kalian sama-sama manis dan... merah."

Wajahnya makin merah dan dia melempar bantalnya membabi-buta ke arahku. Aku segera berlari menjauhinya sambil tertawa.

Beberapa menit kemudian, aku duduk di kursi di sebelah ranjangnya. Aku mengambil pisau dan mengupas apel untuk Luhan hyung.

"Hyung.."

"Ne?"

"Jeongmal gomawo."

"Mwo? Wae? Harusnya aku yang mengatakan itu padamu."

"Kau sudah mengatakannya."

"Iya. Tapi... kenapa kau..."

"Terimakasih."

Apakah aku harus menyerah pada kenyataan?

"Terimakasih karena sudah menjadi hyung yang baik untukku... Terimakasih."

.

.

.


Di taman belakang rumah sakit, dua orang namja sedang duduk sambil menyenderkan punggungnya ke kursi taman. Mereka berdua memegang mangkuk jajangmyeon yang sudah kosong. Namja yang lebih tinggi seperti sedang memikirkan sesuatu. Pandangannya menerawang jauh. Sedangkan namja satunya lagi terlihat kesal sambil sesekali melirik kea rah namja di sebelahnya.

"Kau mengajakku kesini tapi dari saat kita makan kau tidak mengucapkan sepatah kata pun. Sebenarnya apa yang sedang kau pikirkan eoh? Apa kau lupa aku ada disini?"

Namja yang lebih tinggi tidak menjawab. Dia merentangkan tangannnya dia atas kursi taman sambil memejamkan matanya.

"Hah.. percuma bicara dengan orang sepertimu. Lebih baik aku menemani Sehun dan Luhan di dalam."

SRET

"Yak! Apa yang kau lakukan Wu Yifan? Lepaskan tanganmu dari tanganku!"

Namja itu menyeret Baekhyun dan memberi isyarat pada Baekhyun agar ia duduk di sebelahnya.

"Baiklah Tuan Wu. Sekarang apa yang akan kau lakukan?"

"Sehun.."

"Mwo? Sehun? Ada apa dengannya?"

"Apa dia dekat dengan Luhan?"

"Kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu?"

"Kau hanya perlu menjawabnya Byun Baekhyun."

"Ah.. aku tt-tidak tau. Jangan menatapku seperti itu! Kau ingin aku mati disini gara-gara tatapan dinginmu itu hah? Aku benar-benar tidak tahu. Setahuku mereka baru kenal tiga hari yang lalu. Tapi Sehunnie terlihat peduli sekali padanya, kau tau? Waktu hari pertama sekolah mereka-…"

"Byun Baekhyun?"

"Nn-ne?"

"Aku harus bicara denganmu..."

.

.

.

TBC

Huwaaa maaf ya chapter ini kurang greget. Maaf juga kalo ada yang kurang puas dengan chapter ini, tapi author udah berusaha semaksimal mungkin pas bikin ceritanya. Abang Sehun ngenes banget ga sih? :( Aduuuh udah sini sama author aja kalo Lulunya gamau.. *digampar Sehun* saya sendiri jadi galau. Apakah fic ini akan berakhir dengan HunHan atau Krishan? Menurut kalian gimana?

Ada yang punya ide buat chapter depan? Oh iya, saya mau nanya, kata kalian mending KrisBaek atau ChanBaek? Mohon dibantu milih yaa... Ini saya lagi galaw-_- Kalau kalian punya saran, kritik dan apapun deh yang mau disampaikan ke author, silahkan isi kotak review. Author akan menerima masukan dan kritikan apapun dengan senang hati.

WAJIB MENINGGALKAN JEJAK!

BIG THANKS TO:

HDHH, BaekLuluDeer, Guest, 71088wolf, niyoung, HyunRa, lisnana1, Guest, ssnowish, bubblesalts, Kim Bo Mi, PRINCE ICE OH SEHUN HANDSOME ULALA (Id nya inspiratif sekali XD), dultxo

jeongmal gomawo karena sudah mereview :) dan terima kasih juga buat silent rider yang sudi baca cerita saya~ buat yang punya account udah di PM yaa

BALASAN REVIEW:

Guest : Waah jeongmal? Hehe gomawo :) udah dibanyakin ya HunHan momentnya dan udah diselipin KrisHan juga.. Gomawo sudah mereviw :)

niyoung : Yaaah kamu kurang beruntung.. jadi ga dapet kisseu deh dari author :3 hehe. Udah dibanyakin yaa HunHannya :D Gomawo sudah mereview :)

lisnana1 : Hehe iya udah dibanyakin HunHan momentnya :) Gomawo semangatnya :D Ini udah dilanjut.. Gomawo sudah mereview :)

PRINCE ICE OH SEHUN HANDSOME ULALA : IYA EMANG MEREKA TUH YAH. SAMA-SAMA NGENES T_T tapi author gabisa jauhin mereka sama fansnya, abis mereka terlalu mempesona.. nanti malah author yang disembelih, digorok, dicincang dan dijadiin makanan orang utan._. Udah dilanjuut~ Terimakasih semangatnya :D Gomawojuga sudah mereview :)

bubblesalts : Jeongmal? Aduh author jadi terharu :') udah diupdate niih. Gomawo sudah mereview :)