"I'm Sorry For Loving Him [Chapter 4]"
Author : loovyjojong
Genre : Romance
Rating : T
Cast : KrisBaek | KrisTao | BaekKai
.
.
.
.
Normal POV
"Oppa, apakah kau pernah jatuh cinta?" Sore yang hangat itu mengiringi percakapan dua anak manusia yang terpisah jarak ratusan kilometer jauhnya.
"Pernah, tentu saja." Jongin terkekeh. Ini kesempatan bagus, pikirnya.
"Kepada siapa, oppa? Wanita atau pria?" Kejahilan Baekhyun muncul kembali semenjak kedatangan Jongin dalam kehidupannya. Tawa kecilnya yang khas selalu bisa membuat siapapun merindukan gadis mungil itu.
"Mwo?! Apa maksudmu? Babo-ya, tentu saja wanita."
"Aku pikir kau penganut cinta sesama jenis, oppa."
"Tentu saja tidak, aku pria normal."
"Boleh aku tahu siapa wanita yang sedang sial itu?"
"Mwo?! Jinjja, kau akan kaget saat mengetahuinya." Smirk kebanggaan Jongin muncul yang tentu saja tidak akan dilihat Baekhyun.
"Benarkah?"
"Ne, bisa dipastikan pipimu itu akan bersemu merah, jantungmu berdebar, dan senyummu akan merekah sepanjang malam." Kembali lagi Jongin melontarkan kalimat godaannya.
"Sepertinya aku jatuh cinta denganmu." Lanjutnya. Tepat setelah kalimat itu terucap, sambungan jarak jauh mereka terputus karena ponsel Jongin kehabisan baterai.
Pria itu berdecak kesal. Padahal ia ingin mengetahui reaksi Baekhyun. Sebenarnya ia sendiri ragu mengatakan hal tersebut namun entah setan darimana yang merasukinya sehingga mulutnya dengan lantang mengatakan jika ia jatuh cinta pada gadis itu.
Baekhyun tidak bereaksi apa-apa setelah sambungan telepon itu mati. Hanya memandangi ponselnya dan berpikir, secepat inikah takdir mempermainkan hatinya kembali. Ia belum siap untuk jatuh cinta lagi, ia belum siap untuk mencintai lagi. Karena baginya, jatuh cinta lalu mencintai, memiliki resiko untuk merasakan sakit. Bukan sakit secara fisik, namun sakit secara batin yang tidak mudah dicari obatnya.
Ia tidak mau berlama-lama memikirkan perkataan Jongin tadi. Baekhyun segera menuju tempat tidurnya dan bersiap pergi ke alam mimpi. Benar saja setelah memanjatkan doa dan memutar lagu bergenre ballad dari mp3 player kesayangannya Baekhyun langsung terlelap.
Tanpa gadis itu sadari, pria jangkung yang ia cintai sedang berusaha menghubungi ponselnya. Kegiatan rutin yang selalu ia lakukan jika sedang penat atau sedang mencari pelampiasan saat sedang bertengkar dengan pasangannya.
.
.
.
Barisan prajurit keluar dari lapangan upacara setelah selesai melaksanakan kegiatan rutin apel pagi dan mendengarkan arahan dari atasan. Kecuali Jongin yang mendapat jatah untuk bersiaga di pos jaga batalyon. Dengan baret kebanggaan yang tersemat angkuh di kepalanya menambah kharisma yang dimiliki pria berkulit tan itu. Walaupun pangkatnya tidak terlalu tinggi tapi dengan seragam doreng, sepatu dinas lapangan dan baret yang ia pakai saat ini sudah mampu membuat wanita yang ada disana akan bertekuk lutut karena ketampanannya. Ditambah lagi senjata yang ia bawa sebagai pelengkapnya sebagai tentara. Ia mempersiapkan diri untuk melakukan upacara pergantian personil jaga. Tidak begitu lama, setelah penghormatan terakhir Jongin membalikkan tubuhnya dan berjalan dengan langkah biasa menuju gudang persenjataan untuk menyimpan istri pertamanya, masih ingat kan siapa istri pertama dari seorang prajurit? Ya, senapan laras panjang, tentu saja.
Jongin bergegas mandi untuk melepas penatnya setelah berjaga dan tidak tidur semalaman. Tidak membutuhkan waktu lama untuknya menyelesaikan kegiatan mandi itu. Setelah merasakan hawa segar ditubuhnya, ia memakai baju santai dan merebahkan tuduh tegapnya itu. Ia berpikir menimbang-nimbang apakah Baekhyun sedang memiliki waktu luang agar pria itu bisa mendengar suara tawa riangnya.
Jongin melangkahkan kakinya menuju kantin untuk mengisi perutnya yang sudah meronta sejak tadi. Suasana kantin tidak ramai, hanya diisi beberapa tentara yang sedang bebas tugas sepertinya.
"Selamat pagi, sunbae-nim!" Walaupun sedang bebas tugas, ia tidak melupakan kewajiban untuk menghormati atasan dan seniornya. Setelah mendapatkan jawaban dari seniornya, Jongin segera menurunkan tangannya yang baru saja melakukan penghormatan.
Jongin segera duduk dan makan dengan tenang. Setelah selesai ia berjalan kembali ke barak prajurit. Ia merebahkan tubuhnya yang terasa sedikit lelah. Jari panjangnya terlihat menggeser layar datar ponselnya mencari nama gadis yang sedari tadi ada di pikirannya.
Jongin menunggu dengan sabar. Ya…hanya demi mendengarkan tawa seorang gadis melalui sambungan telepon, maka ia akan sabar. Nada sambung itu berganti dengan suara riang gadis yang dirindukannya.
"Oppa-ya…ada apa menelpon? Tidak bertugas kah? Untung saja aku tidak kuliah jadi aku bisa mengangkat teleponmu."
"Bisakah kau bicara pelan-pelan, sayang? Telingaku sampai berdengung." Suara gadis itu menimbulkan sebuah kelegaan di salah satu sisi hati Jongin. bagaimana dengan sisi yang lainnya? Entahlah, hanya Jongin yang tahu.
"Cukup jawab saja oppa, aku yakin kalau suaraku ini setiap malam terngiang-ngiang di pikiranmu. Benar kan?"
Jongin tersenyum lebar. Ia merasakan geli di perutnya saat Baekhyun menebak dengan benar bahwa setiap malam ia memang memikirkan gadis itu.
"Ne, apakah salah jika aku merindukanmu?"
"Tidak. Itu hak oppa jika ingin merindukan seseorang."
Suara langkah kaki terdengar di telinga Jongin. Ia segera menegakkan badannya saat tahu bahwa yang mendekatinya adalah senior.
"Selamat pagi, sunbae."
"Pagi-pagi sudah melepas rindu saja kau, Jongin-ah. Kali ini, siapa lagi korbanmu?"
"Ah hyung, kau bisa saja. Mana mungkin aku seperti itu." Jongin memang sudah akrab dengan seniornya yang bertubuh lebih pendek darinya.
"Kau kira aku tidak tahu kebusukanmu? Ya! Nona! Jangan mempercayai Jongin. Dia itu playboy." Pria itu tertawa lebar setelah berhasil mengerjai juniornya. Tanpa pria itu sadari, Jongin menutup bagian bawah ponselnya sehingga Baekhyun tidak mendengarkan perkataan sunbaenya tadi.
"Baek, kau masih disana?"
"Ne, oppa. Tadi itu siapa?"
"Hanya seniorku. Baek, kembali ke pertanyaanku tadi. Apakah salah jika aku merindukanmu?"
"Aku sudah menjawabnya, oppa. Itu hak oppa jika ingin merindukan seseorang."
"Lalu bagaimana jika aku jatuh cinta padamu?"
Lagi-lagi nasib sial menimpa Jongin. Setiap kata-kata itu terlontar pasti sambungan itu terputus. Kali ini giliran ponsel Baekhyun yang mati karena kehabisan baterai. Jongin berdecak kesal karena tidak sempat mendengarkan reaksi Baekhyun yang membuatnya hampir mati penasaran.
'Oppa-ya, maafkan aku. Baterai ponselku habis. Kita berkirim pesan saja ya? Aku sedang membantu eomma memasak.'
Selang 10 menit dari putusnya sambungan telepon Jongin dengan Baekhyun, gadis itu mengiriminya pesan agar Jongin tak salah paham.
'Ne, jika aku pulang nanti masakkan untukku juga. Kirimkan salamku untuk ibumu, cantik.'
Jongin hanya bisa menuruti keinginan Baekhyun untuk saling mengirim sms, asalkan itu Baekhyun, maka Jongin rela menuruti apapun yang gadis itu inginkan.
'Pasti oppa. Cepatlah pulang, karena kota kelahiran kita sama maka aku akan menjemputmu dan memasakkan makanan yang enak untukmu. Oppa sedang apa?'
Oh…Jongin terlalu senang sehingga tak sadar jika sedari tadi ia tersenyum sendiri di pinggir kolam ikan yang terdapat di samping barak prajurit.
'Oppa sedang melihat ikan, sayang. Oppa jadi merindukan rumah, merindukan keluarga oppa di sana.'
Hati Baekhyun tersentuh, bagaimana pun juga ia pernah merasakan tinggal berjauhan dengan keluarga dan rasanya sangat menyedihkan. Bahkan ia melewatkan perayaan ulang tahunnya yang ke-17 hanya untuk mengikuti pelatihan olahraga yang diimpikan hampir seluruh remaja di Korea.
'Oppa, bersabarlah. Itu sudah menjadi tanggung jawabmu sebagai tentara. Walaupun kau berjauhan dengan keluargamu tapi kau membuat mereka bangga dengan dirimu yang menjadi pelindung Negara.'
Mau tak mau Jongin kembali tersenyum. Sungguh gadis manis yang perhatian. Oh…bisakah waktu dipercepat hingga pria tan itu bisa segera menemui gadis mungil yang membuatnya rindu akan tawa riangnya?
'Ne, arasseo chagiya. Terima kasih sudah menguatkan oppa di sini.'
Tepat setelah pesan itu terkirim, ada sebuah panggilan masuk dari seorang gadis yang merindukan suara Jongin. Pria itu mengerutkan keningnya karena tak mengenali nomor yang tak tersimpan dalam ponselnya itu.
"Yeobboseyo?"
"Oppa, kau kemana saja? Kenapa mengabaikan teleponku?"
Jongin terkejut karena ia mengenali suara ini. Karena sudah terlanjur maka ia dengan berat hati meladeni pertanyaan gadis itu.
"Maaf, aku sibuk. Apa nomor handphonemu ganti?"
"Anni, aku sengaja membeli nomor ponsel yang baru agar kau mau menjawab teleponku. Apa yang membuatmu sibuk, oppa? Tak tahukah kau bahwa aku merindukanmu?"
"Ne, maafkan aku. Kami sedang mempersiapkan latihan gabungan dengan tentara Singapura." Dengan setengah hati Jongin menjawab rentetan pertanyaan gadis itu.
"Geurae, kuharap kau tidak berbohong kali ini oppa…"
Tepat setelah mengucapkan kalimat itu, Jongin mematikan handphone dan mencabut baterainya. Ia sudah jengah dengan kelakuan gadis itu.
'Sial, kenapa ia menghubungiku lagi…' Batin Jongin kesal.
Sudah tiga hari Tao dan Kris tidak saling mengirim kabar. Mereka masih terlibat pertengkaran karena masalah sepele. Di saat menjalin hubungan jarak jauh, sebuah masalah kecil pasti akan terasa lebih berat. Begitu pula dengan masalah besar pasti akan terasa beribu-ribu kali lebih berat.
Seperti apa yang sedang dialami Tao dan Kris. Meskipun mereka sudah meningkatkan status hubungan dalam pertunangan namun tidak mengurangi keegoisan masing-masing, terlebih Tao. Itu semua ia rasakan semata-mata karena rasa cintanya terhadap Kris dan rasa tak ingin kehilangan orang yang dicintainya.
.
.
.
Flashback
"Oppa, kau sedang apa sayang? Kenapa seharian tidak mengabariku?" Tanya Tao manja.
"Maafkan oppa Tao-ya, seharian ini kami sibuk latihan." Kris menjawab dengan nada yang lesu, bukannya berakting tapi ia memang benar-benar lelah.
"Benarkah? Kau tidak berbohong kan?"
"Untuk apa aku berbohong, sayang? Apa aku pernah berbohong padamu?"
"Pernah, sewaktu kau sibuk dengan Baekhyun, kau sering membohongiku."
"Jebal, jangan bahas masalah yang sudah selesai. Kau tahu jika aku hanya ingin menjaga perasaanmu saat itu. Aku tak mau kau cemburu dan salah sangka."
"Tapi kebohonganmu membuatku berfikiran yang tidak-tidak oppa. Aku takut kau lebih menyayangi Baekhyun daripada aku." Tao merengek saat ia benar-benar merindukan tunangannya seperti saat ini.
'Maaf, aku memang sudah menyayanginya.' Batin Kris menahan perih di hatinya.
"Tapi buktinya kau yang memilikiku saat ini Tao-ya. Sudahlah, itu sudah berlalu."
"Ne, baiklah. Lalu, apa yang akan kau lakukan malam ini oppa? Kita akan mengobrol sampai pagi kan? Aku sangat merindukanmu."
"Maafkan aku Tao, tapi aku sudah memiliki janji dengan rekan-rekanku. Ada seorang sunbae yang dirawat di rumah sakit dan kami akan menjenguknya."
"Oppa, bisakah kau tidak pergi? Kau bisa menjenguknya lain hari."
"Maaf sayang. Aku sudah berjanji dengan teman-temanku."
"Kau berjanji dengan teman-temanmu atau dengan Baekhyun? Kau pasti berbohong lagi padaku kan, oppa?" Jawab Tao dengan emosi dan nada yang meninggi. Sepertinya mereka akan bertengkar lagi malam ini.
"Jebal Tao, jangan bersikap kekanakkan seperti ini."
"Kau lebih memilih aku atau mereka? Sebenarnya apa artinya diriku di matamu oppa? Kenapa aku selalu di nomor duakan?"
"Maaf Tao-ya, aku lelah berdebat denganmu. Aku mencintaimu tapi maaf, aku sudah berjanji dengan mereka. Selamat malam." Tepat setelah mengucapkan salam itu Kris langsung menutup teleponnya karena ia jenuh harus bertengkar dengan tunangannya.
'Setragis inikah kisahku?' Batin Tao sedih.
Flashback End
.
.
.
Sepertinya Tao sadar akan sikap egoisnya sehingga ia mengalah untuk menghubungi Kris terlebih dahulu. Sudah kali kedelapan ia menghubungi ponsel tunangannya itu namun tak kunjung di jawab juga. Hanya peringatan dari operator yang mengatakan jika ponsel Kris sedang sibuk.
'Pasti Baekhyun lagi.' Batinnya emosi.
.
.
.
Bulan sudah menampakkan keindahannya secara penuh. Ditemani ribuan bintang yang membuat siapapun enggan untuk menutup mata karena terpesona oleh keindahannya. Termasuk sepasang mata sipit milik Baekhyun. Gadis itu tak henti-hentinya tersenyum. Kehidupan cinta yang dialaminya membawa banyak dampak bagi kedewasaannya. Entah itu Jongin atau Kris. Semua ia syukuri. Ia tak ingin menyalahkan takdir walau kemarin ia sempat menyalahkannya. Ia yakin semua ini terjadi agar ia mengenal arti ketulusan yang sesungguhnya.
Percayalah disaat kau merasa sakit saat mencintai seseorang, suatu saat nanti akan ada keindahan yang menghampirimu, entah itu cepat atau lambat. Seperti saat ini, bukan berarti Bekhyun sudah menyimpulkan jika Jongin adalah pria pengganti Kris di hatinya. Namun kehadiran Jongin bisa sedikit meringankan pikirannya karena rengekan dan canda tawa dari pria itu mampu mengalihkan rasa rindu Baekhyun terhadap pria yang sering ia panggil dengan sebutan angry bird.
Baekhyun berjanji, ia akan menghadapi masalah selanjutnya dengan hati yang lapang. Mau tak mau ia harus rela mengalah karena bagaimanapun wanita itu lebih dulu mengisi hati Kris dibanding dirinya. Ia hanya pengganggu. Kalau ia tak segera menyingkir maka ia sendiri yang akan menerima akibatnya. Satu hal lagi yang bisa ia pelajari, jangan terlalu percaya diri bahwa laki-laki yang ia cintai saat ini akan menjadi jodohnya. Sesuatu hal bisa saja terjadi, ia tak mau menanggung resiko gila karena cinta. Apalagi untuk mengharapkan sesuatu yang tak pasti. Sekalipun Kris bertingkah jika Baekhyun adalah wanita yang spesial, tetap saja posisinya tidak diinginkan disini. Pengganggu hubungan orang. Bersyukur status itu belum berubah menjadi pengganggu hubungan rumah tangga orang.
Dering ponselnya kembali memecah keheningan. Baekhyun berdecak karena belum ada 10 menit telepon dari Jongin berakhir, kini giliran Kris yang menghubunginya.
"Yeobboseyo oppa?" Jawab Baehyun riang.
"Ne, sepertinya ada yang melupakan oppa." Balas Kris dengan manja.
"Aku tidak melupakanmu oppa, sepertinya kau yang melupakanku semenjak kau bertunangan. Iya kan?" Baekhyun sengaja memancing Kris untuk mendengar reaksi dari pria jangkung tersebut.
"Anni, sepertinya kau yang sibuk dengan oppa barumu itu."
"Geurae, apakah salah jika aku dekat dengannya?"
"Tidak, itu hak kalian, saeng." Kris kembali menjawabnya dengan manja. Baekhyun terkekeh geli mendengar reaksi oppanya yang sedang merajuk.
"Wae? Kenapa tertawa?" Tanya Baekhyun lagi.
"Kau lucu oppa. Bagaimana kabar Tao eonni?"
"Tak usah membahasnya. Kami sedang bertengkar."
Oh…seperti biasa…
.
.
.
TBC
Haii semuaaaa…aku balik lagi… maaf ya kalo ada typo trus alurnya berantakan. Jujur aja ni, pada ngefeel gak sih sama Jongin & Kris yang jadi tentara? Aneh ya? hehehe…maaf ya, ini cuma pengalaman pribadi yg mau aku jadiin ff dengan cast exo. Tolong kasih review ya, demi kelancaran cerita, aku butuh pendapat kalian…
Oiya, aku mau bikin ff baru ni.. RATE M loh….RATE M…hahaha. Karena ff official pair yang rate m udah banyak makanya aku mau bikin yang crack pair dan ini GS (aku pecinta GS…hehe), jadi ada saran gak siapa cast yang cocok buat jadi pemerannya? Konfliknya sih gak berat, cuma kisah cinta ringan, tapi bakalan ada adegan esek eseknya…hahaha…(ketauan banget ya aku yadongnya). Kemarin ada adekku yang nyaranin cast cowonya Yixing, trus cewenya Xiumin… ada yang setuju gak? Insya Allah minggu ini juga chapter pertama bakalan aku publish…hehehe
Terima kasih banyak buat yg udah review di chapter kemaren…balasannya ada di bawah ya..
To Bee Coco : terima kasih ya udah baca dan review…ni udah update, ditunggu lagi reviewnya..hehe
To Rnine21 : waahh…kamu reviewnya dari chapter 1 ya, makasih ya udah baca dan review… Sehun udah sibuk sama luhan, jadi gak sempet peluk noonanya…hehe. Lah kok malah didoain putus sih? Kasian atuh kalo putus… hmmm…Baekhyun beneran suka gak ya sama Jongin? hohoho
