Hai minna...
Sebenarnya author rada" dilema mau nglanjutin fic ini apa nggak.
Kemarin ada yang bilang "ehem" hambar.
Duh author langsung nangis dipojokan. Haha lebai.
Sepertinya di part ini author mau nyisipin konflik biar ceritanya nggak sedatar dada Sakura. #Dilempar sepatu sama Sakura. Haha.

Yosh, thanks buat semua yang sudah mereview. Banyak yang nyangkut diemail dan gak ke posting, so semoga story ini bisa memuaskan pencinta fic ringan.

Love, Sai Ino n Inojin ( Yamanaka's Family)

Andrea scathatch : Hihi,, sorry gak bisa kilat. Kena WB :)
E12i07G07W05 : Itu Sainya lagiiii... Berusaha hahaha
Bayangan Semu : Huwaaa... Maaf author paling gabisa rayu merayu. Harusnya ambil kursus kilat ke bang Andre dlu mungkin. Hehe maklumin ya
Athena Cheslock : Hehe makasih
Rhein98 : Wkwkwkwk nebak apa Rhein-chan?
Zeilavienenaz96, Lady Hanabi, Himawaarii Nara,Lmlsn, ayakami-chan : Thanks Buat reviewnya. Peluk cium pake ludah, Muwaaahhmuwaahhmuwaahh..
RARA : Ayo kita nyusul SaIno rara-chan :D
Nyonya Besar Gaara : Uwoohh,, itu author juga belum bisa ngebayangin. Hahaha
Saiinolover : Yup" ini saya lanjut. Makasih demonya. LHO?
SAINOJIN : Haha.. Iya Sai tuh.. Ah lupakan.
Catleaf : Terimakasih sudah mampir.

Ein Mikara's Present

PROTES

Ino tidak pernah membayangkan hal ini akan terjadi dalam hidupnya. Dua orang yang sangat ia sayangi kini terlihat seolah menghindarinya. Yah, mereka melakukan aksi protes atas keputusan yang Ino buat.

Dasar mereka itu, apa tidak bisa memikirkan perasaan Ino? Apa mereka tidak mau mencoba mengerti sedikit saja alasan Ino menolak keinginan mereka.

"Satu bulan sudah berlalu dan Touchan membohongiku", gerutu Inojin sambil bersedekap menatap ayahnya sebal.
"Hei, salahkan Kaachanmu yang tidak mau bekerja sama", balas Sai sambil menatap gemas putra kesayangannya.
"Lagipula, bagaimana mungkin satu bulan bisa memunculkan adikmu begitu saja. Kau ini!".

Ino mendengus sebal mendengar percakapan kedua ayah anak itu dari arah dapur. Bibirnya mengerucut sebal. Sai dan Inojin sama saja. Mereka berdua tidak ada yang mau mendengarkan penjelasan Ino.

Merasa tidak bisa membiarkan kedua lelakinya melayangkan aksi protes, Ino memutuskan untuk menghampiri mereka. Langkah kakinya berderap menuju ruang keluarga. Matanya menyalang menatap kedua lelakinya sedang berdiri sambil memalingkan wajah. Menolak melihat satu sama lain.

"Apa kalian sudah selesai beradu mulut?", tanya Ino sambil berkacak pinggang. Matanya menatap Inojin dan Sai bergantian.

"Inojin, Kaachan sedang berbicara padamu. Jangan bertindak tidak sopan", ujar Ino sambil menatap si kecil Inojin yang kini sedang mengkeret takut.

"I-iya Kaachan", cicitnya nyaris tidak terdengar.

"Sai-kun?", tatap Ino sambil mengedikkan bahu kearah suaminya.

"Hn", jawab Sai sembari mengangguk.

"Bagus", lanjut Ino. "Keputusanku tetap tidak. Titik".

Ino membalikkan badan hendak kembali menuju dapur untuk melanjutkan memasak makan siang. Tapi langkahnya terhenti ketika sang anak memegangi lengannya.

"Ta-tapi Kaachan.. Aku ingin bisa main bersama adikku", gumam Inojin ragu-ragu sambil tetap tertunduk.

Tangan Sai terulur mengelus puncak kepala sang Yamanaka kecil. Senyumnya tersungging.

"Touchan tak pernah bilang akan menyerah", ucap Sai mengagetkan sang Istri. "Kau bisa saja menolak, Sayang. Tapi aku akan berusaha membahagiakan putraku".

Ino melihat seringaian itu. Dasar, Sai. Dia benar-benar tidak peka. Percuma memberitahu banyak hal pada suami polosnya itu. Meskipun Sai senang sekali mencatat banyak hal tentang aktifitas orang-orang disekitarnya, lelaki itu tetap saja tidak bisa memahami apa yang dikehendaki Ino.

Diusianya yang menginjak 27 tahun, ia merasa harus mulai lebih memperhatikan penampilannya. Ia tak ingin kalah saingan dengan sahabat pinknya. Sakura, tubuhnya terlihat bagus. Tidak tampak tonjolan lemak maupun kulit bergelambir yang menggantung di lengannya. Hinata, meskipun telah melahirkan dua kali, namun wanita Uzumaki itu tidak terlihat kehilangan sedikitpun paras cantik dan tubuh sintal padatnya. Malah, saat ini Hinata terlihat lebih cantik dan kekanakan.

Ck, Ino mendesah dua kali. Ia menatapi kedua lelakinya sambil merengut. Tubuh Sakura dan Hinata berbeda dengan tubuhnya yang mudah melar. Bahkan dulu ketika melahirkan Inojin, Ino membutuhkan waktu lebih lama untuk menurunkan berat tubuhnya. Dan ia enggan mengalami hal itu dua kali.

"Ayolah, kalian itu jangan membuatku frustasi", teriak Ino tak sabar. "Kalian tak tau seperti apa rasanya terlihat gemuk dan menggelikan".

Inojin dan Sai menatap Ino sweatdrop. Jadi alasan Ino menolak hamil hanya karena tidak ingin tampil dengan perut buncit dan tubuh gemuk?

"Kaachan akan terlihat cantik dengan tubuh apapun", ujar Inojin sambil memeluk perut Ino posesif. "Aku tidak tau rasanya menjadi gemuk. Tapi menurutku itu tidak buruk".

Perkataan polos putranya membuat Ino sedikit luluh. Catat, hanya sedikit. Ia tetap tidak ingin terlihat menggelikan. Ia ingin tampil sempurna. Seksi dan mengundang decak kagum orang-orang yang melihatnya. Khas Ino.

"Inojin benar", timpal Sai. "Gemuk ataupun kurus kau akan terlihat sama saja dimataku".

Yak, saat ini Sai sedang mendapat tatapan maut dari sang Istri.

Apa maksudnya itu terlihat sama saja? Batin Ino marah.

Sai bisa merasakan aura istrinya yang tiba-tiba menggelap. Ia segera melanjutkan kata-katanya.

"Tak penting kau gemuk atau seksi Ino", lanjutnya. "Aku mencintaimu dan semua yang ada padamu. Seperti apapun keadaanmu aku tetap mencintaimu. Apa kau meragukanku? Apa karena itu kau takut terlihat buruk?".

Yup, kata-kata Sai sukses membuat aura cerah Ino kembali. Kini Ino sedang menyunggingkan senyum khasnya.

"Aku tau kalian menyayangiku. Sayangnya jawabanku tetap tidak. Sekalipun kau, Sayang", tunjuk Ino pada Sai sebelum melanjutkan kata-katanya. "Meskipun kau mencoba, setiap hari, setiap saat, aku pastikan Sai junior yang lain tidak akan hadir disini".

Inojin menatap Ino sendu, Sai kembali menyeringai.

"Ah, aku tau kau akan melakukan apapun untuk mendapatkan keinginanmu", ujar Sai dengan senyuman misteriusnya. "Sebenarnya aku sama saja. Juga akan melakukan apapun untuk mendapatkan keinginanku. Apa kau ingin Inojin mendapat adik dari Kaachan yang lain?".

EKKKKHHHHH...

Asap menyembur dari kedua telinga Ino. Sai berhasil menyulut amarah sang Yamanaka. Inojin tersenyum getir menatap ayahnya yang tersenyum misterius. Mata birunya berbalik menatap ibunya yang terlihat ingin menerkam sesuatu. Dan sesuatu berwarna hitam dihadapannya itu kini sedang merentangkan tangannya.

"Kemarilah Ino cantik", ujar Sai sambil membuka lebar kedua lengannya. "Akuilah aku sudah menang. Atau aku tidak segan-segan melakukan opsi kedua tadi".

TBC

Tolong jangan tereak bahwa part ini singkat. Tadi pagi sudah terkumpul banyak materi, begitu kerja lupa lagi. Haha. Saat menuangkan isi kepala dam cerita ini, banyak sekali blind spot yang harus saya reka-reka. So, thanks for every reader, silent reader, Reviewer, Follower, Favomania. Thanks, thanks, thanks a lot. Tanpa kalian author bukan siapa-siapa. Dan bagi yang ingin berbagi ide, bisa PM author. Terimakasih...

Like

Comment